Our Love (Chapter 8)

OUR LOVE (Chapter 8)

Author : Choi Nunu a.k.a. Kim Hye Seok

Genre : Romance, Friendship

Length : Chapter

Cast : Kim Hana; Oh Sehun; Park Chanmi; Park Chanyeol; Kim Jong In; Oh Sekyung

Annyeonghaseyo readers!! Fiuh, chapter 8, done. Makin mendekati ending nih… Penasaran endingnya? Author juga penasaran (??) akan berakhir seperti apa *author tados*

Anyway, happy reading!! Don’t forget to leave your comment. Gamsahamnida!!

 

***

 

“Kanker paru-paru hyung.” Sehun akhirnya buka mulut, menjawab semua pertanyaan yang sejak tadi dilontarkan oleh Jong In.

“Mworago?!”

“Noona, mengidap kanker paru-paru, hyung.” Sehun melihat Jong In, matanya berkaca-kaca. Jong In merasa tiba-tiba segala udara di sekitarnya menghilang, nafasnya terasa begitu sesak mendengar perkataan Sehun.

“Maldo andwae…”

“Ne, aku juga ingin ini semua hanyalah kebohongan hyung. Geundae, ini kenyataan… yang menyakitkan…” Sehun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, “Aku harap ini tidak terjadi…” lirihnya lagi.

Jong In menyandar lemas pada kursi rumah sakit, rasa terkejut yang sangat nyata diwajahnya menggambarkan perasaan namja itu.

“Ini alasan yang kau maksud itu?” tanya Jong In, dia menoleh menatap Sehun, matanya penuh ekspresi yang sulit diungkapkan.

Namja itu marah, ia marah karena Sekyung memilih untuk menutupi semua ini darinya. Hatinya sakit, menyesali dirinya yang baru mengetahui semua ini, dan juga sedih, menyedihkan jika hal seperti ini terjadi pada orang yang paling kau cintai.

“Mianhe hyung. Aku pun baru mengetahuinya belum lama ini. Noona menyembunyikan semuanya. Seharusnya terapinya berjalan dengan baik, aku sangat terkejut melihat noonna pingsan seperti tadi.” ujar Sehun murung.

Mereka berdua larut dalam diam selama beberapa saat, hingga akhirnya pintu terbuka, dan dokter keluar dari ruang perawatan.

“Uisanim, bagaimana keadaan noonaku?” Sehun segera berdiri menghampiri dokter itu.

Dokter Jung, yang memang menangani penyakit Sekyung, menggeleng pelan.

“Terapinya selama ini berjalan baik, tapi ternyata kankernya bertambah parah dan saat ini sudah dapat dipastikan kankernya telah masuk stadium lanjut.” Jong In benar-benar hancur mendengar penjelasan dokter, dia tida dapat mendengar lagi apa yang dikatakan dokter berikutnya.

Langkahnya membawa dia mendekat pada Sekyung, namja itu berdiri di samping ranjang Sekyung, menatap wajah pucat yeoja dihadapannya. Yeoja yang ia rindukan beberapa bulan terakhir, yeoja yang sangat ingin ia temui, yeoja yang ia cintai, hingga detik ini. Tangan Jong In bergerak perlahan, diusapnya pipi dan dahi Sekyung dengan lembut, matanya mulai berkaca-kaca melihat wajah yeoja itu yang semakin kurus. Salahnya tidak menemui Sekyung meminta penjelasan lebih, salahnya juga menghindari yeoja itu padahal yeoja yang ia cintai itu sangat membutuhkan perhatiannya.

“Sekyung-ah, mianhe…” lirih Jong In, air matanya turun perlahan. Sekyung tidak memberitahu penyakitnya agar Jong In tidak khawatir, ia tahu sifat yeoja itu, Sekyung tidak pernah ingin orang lain mengkhawatirkannya.

“Hyung.” tangan Sehun memegang pundak Jong In, membuat namja itu segera menghapus air matanya.

“Sehun-ah, bagaimana kata dokter?” tanya Jong In, suaranya serak.

Sehun terdiam sejenak, “Gokjonghajima hyung. Noona masih dapat sembuh.” ucapnya kemudian.

“Kenapa dia tidak memberitahu kita lebih cepat?” tanya Jong In, nada penyesalan terdengar jelas dalam suaranya.

“Noona…kau tahu dia hyung, dia tidak ingin kita semua mengkhawatirkannya.” jawab Sehun.

“Tapi, kalau saja lebih cepat…”

“Noona akan segera ke Jepang.” potong Sehun, “Untuk menjalani perawatan bagi penyakitnya. Aku memintamu kembali padanya, memang karena ini semua hyung. Aku merasa akan sangat baik jika kau ada di sisinya saat ia lemah seperti ini.” jelas namja itu sambil mengusap tangan noonanya lembut.

Ia beralih menatap Jong In dengan pandangan memohon, seolah mengerti Jong In menganggukkan kepalanya pelan.

“Aku akan berada disisinya dan menjaganya, jangan khawatir Sehun-gun.”

 

***

 

“Mwo? Kanker paru-paru? Oppa,kau serius?”

“Kalau suaramu sekeras itu, aku yakin seluruh isi kota ini akan mendengarnya, Hana-ya.” omel Jong In. Hana segera menutup mulut dengan kedua tangannya.

Jong In meneguk teh hangatnya. Ia pulang untuk mengabari Hana, lalu bersiap dan kembali ke rumah sakit, menjaga Sekyung. Kim Hana memandang oppanya sejenak.

“Apa rencana ke Jepang yang pernah dikatakan Chanmi itu…”

“Ne, itu untuk menjalani terapi penyembuhan di sana.” Jelas Jong In.

“Sekyung baru memberitahu orangtuanya juga beberapa hari yang lalu, Sehun yang pertama mengetahui semua ini, tapi dia tidak bisa memberitahu orang tuanya atau siapa pun karena permintaan Sekyung.” ujar Jong In, “Kau ingat saat kau dirawat di rumah sakit? Sepulang menjengukmu, Sehun dan Sekyung bertemu perawat yang dikenal Sekyung dan bertanya tentang jadwal periksa Sekyung. Dari situla Sehun mengetahui semuanya.”

Hana mengangguk pelan mendengar penjelasan oppanya. Berita ini sangat mengejutkan dirinya, dan yang terbayang berikutnya setelah wajah Oh Sekyung ada lan Sehun. Hana tahu kalau namja itu sangat menyayangi noonanya, dan hal ini pasti membuatnya frustrasi.

“Sehun…apa dia baik-baik saja oppa?” Hana tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya.

Jong In tersenyum sekilas, “Ne. Dia berusaha kuat untuk noonanya. Dan kau…” Jong In menunjuk Hana, “Jadilah semangat untuk Sehun.” ucapnya.

“Ne, oppa…”

 

***

 

“Itu sebabnya Sehun jadi pemurung akhir-akhir ini. Aku tahu ada yang tidak beres. Omona…kenapa harus terjadi pada Sekyung eonnie?” Chanmi mendesah pelan, Hana tersenyum tipis mellihat sahabatnya itu.

Park Chanyeol berjalan menghampiri keduanya yang tengah berada di meja makan.

“Lalu bagaimana selanjutnya? Apa Sekyung akan menjalani terapi penyembuhan?” tanya namja dengan suara bass itu sambil mengambil duduk di samping dongsaengnya, dan berhadapan dengan Hana.

“Ne oppa. Eonnie akan segera ke Jepang, entahlah dengan Sehun, yang pasti ahjumma dan ahjussi akan menemaninya.” Jelas Hana, “Aku malah sangat khawatir dengan Jong In oppa.”

“Tentu saja, Jong In juga pasti sangat terpukul mendengarnya. Kita harus membantu mereka, yah, paling tidak menyemangati mereka dan terutama Sekyung.”

Hana dan Chanmi mengangguk bersamaan mendengar perkataan Chanyeol.

“Ini benar-benar mengejutkan…” gumam Chanmi.

“Bukankah kau bisa membantu dengan menyemangati Sehun?” Chanyeol melihat ke arah Chanmi, namja itu menyadari perubahan ekspresi yeojachingunya saat ia mengatakan hal itu pada Chanmi.

“Eoh?” Chanmi agak terkejut dan memandang bergantian oppanya lalu Hana.

“Ne, itu ide bagus Chanmi-ah.” Hana mengedipkan sebelah matanya pada Chanmi, berpura-pura perkataan Chanyeol tidak mengganggunya.

Chanmi hanya mendesah pelan, kepalanya terasa ingin pecah kalau membahas soal Sehun lagi.

 

***

 

*Kim Jong In POV*

Aku duduk di samping Sekyung. Yeoja itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang menghiasi tangan kurusnya. Aku meraih jemari itu dalam genggamanku dan mengusapnya lembut. Yeoja manisku, yang selalu memiliki senyum secerah matahari, saat ini terlihat sangat pucat tanpa rona kemerahan di wajahnya yang biasa kulihat. Kuusap lembut pipinya dan kubelai rambutnya. Aku mendesah pelan, menyesali diriku karena kenyataan yang terlambat kuketahui. Seandainya Sekyung jujur mengatakan segalanya padaku sejak awal, aku pasti tidak mungkin membiarkannya meninggalkanku, dan aku akan berusaha semampuku untuk menemani dan menyemangatinya.

“Hyung.” Aku menoleh saat sebuah tangan menyentuh bahuku. Kepalaku mendongak dan mendapati Sehun memandangku sambil tersenyum tipis.

“Kau sudah makan siang? Sejak kemarin kau terus di sini menjaga noona, hyung.”

Aku tersenyum ke arah Sehun, “Gwaenchana. Aku tadi sudah makan ramyeon, tidak usah khawatir.”

Sehun hanya mengangguk pelan, “Kalau kau sampai sakit aku bisa dimarahi Sekyung noona dan juga Hana, hyung.” ujarnya dengan wajah seperti memikirkan sesuatu.

“Bagaimana orang tuamu? Mereka pasti sangat khawatir. Sejak semalam, ahjumma terus saja menangis.” tanyaku.

Ya, semalam memang aku menginap di rumah sakit bersama orang tua Sekyung. Sehun dipaksa pulang karena harus kuliah esok harinya. Sepanjang malam, ahjumma terus saja menangis, walaupun ia menangis dalam diam, tetap saja rasanya membuat hati sesak melihatnya. Ahjussi hanya dapat menenangkan sebisanya.

“Mereka baik-baik saja. Aku sudah mencoba menenangkan mereka, walaupun eomma tetap saja murung.” Sehun mengangkat bahunya.

Tok! Tok!

Ketukan di pintu membuatku dan Sehun menoleh. Pintu terbuka, memunculkan wajah Hana yang tersenyum, di belakangnya menyusul Chanyeol hyung dan Chanmi.

“Oppa. Sehun-ah.” panggil Hana, dia berjalan ke arahku. Matanya menatap Sekyung yang masih tertidur.

“Bagaimana keadaan Sekyung?” Chanyeol hyung berdiri disampingku dan Hana dan bertanya padaku.

Aku menghela nafas pendek, “Kondisinya masih terlalu lemah hyung. Saat ini dokter sedang berusaha memulihkan kondisinya lebih dulu, kemudian melanjutkan terapinya.”

“Oppa, bersemangatlah!” Hana memegang kedua bahuku.

Kami terdiam cukup lama dan mataku sibuk menatap Sekyung yang masih pulas tertidur.

“Sehun-ah, apa kau sudah makan?” kami serempak menoleh ke arah Chanmi karena mendengar pertanyaannya.

“Ne. Tadi aku sempat makan siang di jalan.” Jawab Sehun diiringi anggukan pelannya. Chanmi hanya tersenyum kaku dan menundukkan kepalanya.

“Uri Chanmi, sangat mengkhawatirkanmu Sehun-gun.” kata Chanyeol hyung tiba-tiba.

“Ne, gamsahamnida. Tidak usah repot-repot Chanmi-ah. Naneun gwaenchana.”

“Eoh, apakah nanti setelah pulih Sekyung eonnie akan terapi ke Jepang?” tanya Hana tiba-tiba, aku menatap wajah dongsaengku itu setengah mengernyit.

“Ne, itu rencananya. Wae?” tanyaku kembali.

“Aniyo, geundae, apa yang akan oppa lakukan?” tanyanya lagi padaku, membuat dahiku semakin mengernyit. Bukan sesuatu yang belum pernah kupikirkan, hanya saja aku belum tahu akan seperti apa nantinya. Aku hanya ingin berada di sisi yeoja yang kucintai hingga ia sembuh nanti.

“Mollayo.” Jawabku akhirnya.

Hana menggembungkan pipinya sebentar sambil mengangguk pelan.

“Eoh, noona!!” kami seketika melihat Sekyung karena teriakan Sehun.

Tangan kurusnya bergerak pelan dalam genggamanku, “Sekyung-ah?” panggilku.

Tak berapa lama matanya mulai terbuka dn mengerjap pelan, memandang sekelilingnya. Mata coklat tua itu membulat seketika saat melihatku.

“…oppa?” suaranya lemah dan sedikit parau.

“Ne, aku di sini. Gwaenchanayo Sekyung-ah?” tanyaku lembut, kuusap pelan keningnya.

Tanpa kuduga air mata yeojaku mengalir perlahan dari sudut mata sayunya.

“Noona, gwaenchana?” Sehun panik melihat Sekyung menangis, begitu pula aku.

“Kurasa kalian butuh waktu berdua, kami akan keluar dulu.” Aku tak berkomentar apapun, yang kutahu Chanyeol hyung mengajak Hana, Sehun, dan Chanmi keluar dari ruangan, meninggalkanku dan Sekyung berdua saja. Air mata Sekyung masih mengalir perlahan, lensa coklat tuanya menatapku dengan pandangan sedih.

“Waeyo Kyung-ah? Apa ada yang sakit? Malhae.” Suaraku sedikit serak, menahan emosiku yang tidak menentu.

Sekyung hanya diam, tapi aku terus menggenggam jemarinya, dan sesekali mengusap keningnya.

“Oppa…mianhe…” isaknya.

Aku tercekat, memandangnya. Kenapa dia harus minta maaf padaku seperti ini?

“Aniyo, kau tidak bersalah, jangan minta maaf.”

“Aku…aku sudah menyakitimu oppa… aku membuat oppa sedih… aku tidak ingin…tidak ingin oppa sedih.” ucapnya sambil terisak.

“Sekyung-ah…” kuusap air matanya selembut mungkin, “uljima..” kataku pelan.

Hatiku sakit melihatmu seperti ini, dan semakin sakit saat kau menangis dan meminta maaf padaku. Semua ini bukan salahmu Sekyung-ah, sama sekali bukan salahmu. Semuanya memang harus terjadi.

*Kim Jong In POV End*

 

*Oh Sehun POV*

Aku menghela nafas pelan dan menuruti Chanyeol hyung yang mengajak kami keluar ruangan. Noona dan Jong In hyung memang butuh waktu untuk berdua, keadaan mereka saat ini mungkin lebih rumit daripada yang aku pikirkan.

“Sehun-ah, gwaenchana?” Chanmi menyenggol pelan lenganku.

Aku sedikit terkejut, dan menoleh ke arahnya sambil tersenyum sebisa mungkin, “Ne.”

“Ah, aku haus. Chagiya, ayo temani aku ke cafetaria!” Chanyeol hyung meraih lengan Hana. “Kalian tunggu saja di sini.” tambahnya lagi padaku dan Chanmi.

“Eoh? Eoh..ne. Ne.” Hana melirik ke arahku dan Chanmi lalu bergegas mengikuti langkah Park Chanyeol.

Aku hanya bisa diam dan kembali menatap kosong lantai rumah sakit. Pundakku disentuh oleh Chanmi, dan kutolehkan lagi kepalaku ke arahnya. Matanya menatapku dengan ekspresi yang tidak dapat kuartikan. Ia mengulas senyum tipis di wajahnya dan aku balas juga dengan senyuman.

“Aku paham perasaanmu saat ini.” ucapnya pelan.

“Ne?”

“Dulu, eommaku juga pernah menderita sakit dan dirawat cukup lama di rumah sakit. Aku hanya bisa menangis dan terus menangis di samping ranjang eomma, berharap eomma cepat membuka mata dan bangun lalu tersenyum lagi padaku. Saat itu Chanyeol oppa yang selalu menghiburku dan mengajakku bermain hingga aku tidak terlalu sedih lagi sampai akhirnya eommaku sehat kembali.” aku mendengarkan cerita yeoja itu dalam diam, Chanmi lagi-lagi tersenyum.

“Kau tahu? Saat eomma pulang ke rumah, Chanyeol oppa yang tidak pernah menangis selama eomma di rumah sakit, akhirnya menangis dengan keras. Hahah, aku selalu tertawa setiap mengingatnya.” Aku ikut tersenyum membayangkan Park Chanyeol, namja yang terlihat manly itu menangis tersedu-sedu di depan eomma dan dongsaengnya.

“Tapi saat itu juga aku baru tahu, oppa bukannya tidak sedih dan tidak menangis saat di rumah sakit, tapi dia berusaha kuat untukku, karena aku selalu menangis. Oppa berusaha menghiburku dan membuatku tertawa, padahal dia juga sedih. Sampai akhirnya dia merasa sangat lega melihat eomma kami kembali sehat dan tidak dapat menahan diri untuk menangis. Ah…aku bersyukur memilikinya sebagai kakakku.”

Aku menganggukkan kepalaku perlahan dan kembali menunduk. Kurasa aku juga harus bisa seperti Chanyeol hyung dan berusaha menyemangati noona.

“Keberadaan orang-orang terdekat yang menyemangatinya sangat penting bagi Sekyung eonnie saat ini.” Chanmi menatapku, “Sehun-ah, kau harus berusaha ceria dihadapannya. Jangan putus asa untuk memberikan dukunganmu pada Sekyung eonnie. Hajiman, saat kau merasa jenuh dan perlu mengeluarkan seluruh beban yang kau simpan…” yeoja itu tiba-tiba meraih tanganku dalam genggamannya, membuatku sedikit terkejut tapi tidak berusaha untuk melepasnya, “Saat seperti itu, aku akan berusaha ada untukmu. Kau bisa menceritakan semuanya padaku… karena aku temanmu, Sehun-ah.”

Chanmi tersenyum tulus padaku, membuatku merasa beruntung memilikinya sebagai sahabatku. Aku balas tersenyum padanya, sebuah senyuman tulus untuk mengungkapkan rasa terima kasihku pada Park Chanmi.

“Gomapda, jeongmal gomawo, Chanmi-ah.”

“Apa kami mengganggu?” suara bass khas Chanyeol hyung membuatku dan Chanmi serempak menoleh. Namja itu tersenyum sambil melihat kami. Hana di sampingnya menunduk memandangi kantung berisi botol minuman di tangannya. Aku melepaskan tangan Chanmi dengan cepat dan mencoba tersenyum sekilas.

“Aniyo hyung. Lagipula tidak ada yang terjadi.” jawabku, mataku beralih dari Chanyeol hyung ke Hana. Dia juga mengalihkan pandangannya ke samping saat aku melihatnya.

“Jinjja? Kalaupun ada sesuatu juga tidak masalah, ne chagiya?” aku mendongak secepat kilat mendengar pertanyaan Chanyeol hyung yang kuyakini ditujukan pada Hana.

Aku menatap Hana yang terlihat bingung dan kaget dengan pertanyaan Chanyeol, tapi tak lama ia mengangkat bahunya dan tersenyum tipis, “Mollayo.” ucapnya.

“Wae? Tidak rela sahabatmu direbut yang lain?” kali ini aku menangkap nada tidak suka dalam kalimat Chanyeol hyung. Kualihkan pandanganku padanya, ternyata dia lebih dulu menatapku lekat-lekat.

Ada apa ini? Namja itu cemburu padaku? Seharusnya aku yang cemburu padanya karena dia yang berhasil memiliki yeoja yang kucintai.

*Oh Sehun POV End*

 

Chanyeol menatap Sehun dengan pandangan tidak suka yang bercampur cemburu. Jawaban Hana benar-benar membuatnya kesal, dia pikir Hana akan mendukung perkataannya dengan tegas, nyatanya yeoja itu bahkan hanya berkata tidak tahu. Apa yang tidak dia ketahui? Hubungan Sehun dan Chanmi atau perasaannya sendiri?

“Oppa, kau ini bicara apa? Jangan membuat suasana tidak enak begini.” Chanmi-lah yang angkat suara pada akhirnya.

“Ne, mianhe.” kata Chanyeol pelan, “Chagiya, maafkan aku.” ucapnya  kemudian pada Hana. Yeoja itu hanya mengangguk sekilas, “Tidak apa.”

Tidak dengan Sehun. Namja itu mengulas senyuman sinis setengah mengejek, “Hyung, apa kau menganggapku sebagai rivalmu?” katanya tiba-tiba. Matanya tajam menatap Chanyeol.

“Sehun-ah…” Hana melotot ke arah Sehun, mencoba menghentikan tindakan namja itu.

Chanyeol menunduk, tersenyum dan mengangkat wajahnya menatap Sehun.

“Kenapa harus begitu? Bukankah Hana sudah memilihku menjadi namjachingunya? Aku percaya pada yeojachinguku.” Seolah menekankan perkataannya, Chanyeol merangkul bahu Hana.

Hana memejamkan matanya sesaat, kesal dengan situasi ini. Tapi tiba-tiba dia melihat Chanmi. Yeoja itu memandang Hana dengan ekspresi yang sulit diartikan Hana, entah sedih, cemburu, atau yang lainnya?

Chanmi menghela nafasnya sejenak, “Kalian semua kenapa jadi aneh seperti ini?” Dia menatap satu per satu Sehun, Chanyeol, dan kembali pada Hana.

“Hahaha. Mianhe saengie.” lagi-lagi Chanyeol tertawa, sedikit dipaksakan kali ini.

“Kekanakan.” Hana terlihat kesal, ia mengulurkan botol minuman dingin di tangannya pada Chanmi, “Untukmu dan Sehun. AKu keluar dulu.” dia melempar tatapan kesal pada Chanyeol dan berlalu.

Sehun baru akan beranjak dari duduknya saat tangannya ditahan Chanmi.

“Oppa, kalau kau dan Hana punya masalah, selesaikan sendiri.” katanya pada Chanyeol. Chanmi memberi tanda dengan gerakan kepalanya agar Chanyeol mengejar Hana.

Chanyeol mendesah kesal, kemudian ikut berlalu menyusul Hana.

“Kenapa menahanku?” Chanmi melihat oppanya berlalu dan tidak menyadari kalau Sehun tengah menatapnya tajam. Yeoja itu menoleh mendengar pertanyaan Sehun.

“Membiarkanmu mengejar Hana dan membuat masalah ini semakin rumit?” pandangan Chanmi padanya membuat Sehun akhirnya memalingkan wajahnya.

“Aku tahu perasaanmu padanya, tapi saat ini dia bersama oppaku. Kuharap kau mengerti situasinya, Sehun-ah.” Chanmi melepaskan tangannya dari tangan Sehun.

“Lagipula bukan hanya kau yang terluka.” ucapnya, sangat pelan, tapi terdengar jelas oleh Sehun.

 

***

 

“Hana-ya!” Chanyeol menahan lengan Hana, tepat saat yeoja itu melangkahkan kaki di taman rumah sakit. Yeoja itu mau tak mau menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Chanyeol kesal.

“Kau marah?”

“Memangnya apa yang baru saja oppa lakukan?” balas Hana.

“Hanya mengatakan kenyataan, kau tidak suka?” Chanyeol menatapnya tajam.

“Hah, kenyataan?” Hana tertawa sinis, “Kenyataan apa oppa?”

“Kalau kau tidak rela Sehun bersama yang lain.” Chanyeol berkata dengan nada datar, tapi sangat jelas membuat Hana tersentak. Yeoja itu membulatkan matanya menatap Chanyeol.

“Apa maksudnya?”

“Kenapa bertanya? Seharusnya aku yang menanyakan padamu, apa maksudnya? Bukankah kau sudah memiliki namjachingu?” Chanyeol berkata dengan nada suara yang lebih tinggi.

Mereka berdua terdiam, saling memandang.

“Geumanhe. Aku sudah benar-benar terganggu dengan ini semua.” Chanyeol memandang tanah dibawahnya, tangannya terkepal erat menahan emosinya yang tidak karuan.

“Mianhe.” Hana masih menatap namjachingunya lekat-lekat. Rasa bersalah, kali ini lebih kuat, menghampiri dirinya. Namja yang sangat menyayanginya, dilukainya dengan cara seperti ini.

“Aku memang yeoja bodoh.”

Park Chanyeol mengangkat kepalanya lagi menatap Hana dengan kedua mata hitamnya. Tangannya bergerak perlahan, membelai lembut kepala yeoja itu.

“Mianhe, aku membuatmu merasa sangat buruk.” ucapnya pelan.

“Aniyo, aku memang bersalah oppa. Kau benar, saatnya kita hentikan semua ini. Aku tidak bisa terus menerus melukaimu oppa. Kau namja yang baik, terlalu baik untukku.” mata Hana terasa panas, nafasnya sesak, seolah semua udara meninggalkannya saat ini. Belaian Chanyeol di kepalanya hanya membuatnya merasa semakin jahat pada namja itu.

“Apa maksudmu, Na-ya?”

Hana memandang Chanyeol lekat-lekat, “Mianhe oppa. Naega jalmutesseo.” Air mata yeoja itu turun perlahan di wajahnya.

“Aku sudah pernah bertanya padamu, bagaimana perasaanmu padaku…juga Sehun, kau ingat?” tanya Chanyeol, Hana mengangguk pelan.

“Kenapa saat itu tidak jujur dengan jawabanmu? Ah, bukan… Bukan tidak jujur, aku yang tidak memberimu kesempatan untuk menjawab, ne?” Hana tidak berkata sepatah katapun, dia hanya terus menatap Chanyeol sedih. Seandainya saat itu ia menjawab kalau ia mencintai Sehun, apa perasaan Chanyeol akan sedikit lebih ringan?

“Kita akhiri saja hubungan kita, Na-ya. Tidak akan ada gunanya lagi kalau tetap seperti ini. Aku tidak mungkin bertahan untuk mencintai yeoja yang tidak mencintaiku sama sekali.” Chanyeol berkata dengan halus, tapi Hana mengerti ketegasan namja itu dalam nada suaranya.

Hana menangis, lagi-lagi dia menyakiti orang lain, orang yang sebenarnya ia sayangi seperti oppanya sendiri.

“Uljima. Apa kau sekecewa itu putus denganku? Haruskah kita tetap berpacaran?” Chanyeol mencoba tertawa. Hatinya sakit tapi ia tetap tersenyum lebar, ia ingin Hana juga merasa lega untuk melepasnya.

“Oppa…kau benar-benar Happy virus! Mianheyo.” Hana memeluk namja itu, Chanyeol tersenyum dan membelai kepala Hana lembut.

Mereka berpelukan beberapa saat, hingga Chanyeol melepaskan pelukannya. Diusapnya air mata Hana dengan senyuman lebar masih terpasang di wajah tampannya.

“Apa aku boleh bertanya?” tanyanya pelan, Hana mengangguk.

“Apa alasanmu melepaskan Sehun? Aku tahu kalau dia sudah lebih dulu menyatakan perasaannya padamu. Sehun berkata kalau kau menolaknya karena aku, tapi kurasa bukan itu.”

Hana terdiam memandang Chanyeol. Alasannya? Alasannya melepaskan Sehun yang ia cintai?

“Karena aku tahu Chanmi mencintai Sehun.” Jawaban yang membuat Chanyeol sedikit terpana menatapnya.

“Kau mengorbankan perasaanmu untuk Chanmi?”

“Tapi aku sudah salah. Seharusnya aku berhenti setelah merelakan Sehun, bukannya melanjutkan dengan melukaimu oppa.” Hana menyesali dirinya sendiri.

“Aniyo, aku bersyukur aku lebih dulu jadi mantan kekasihmu dibandingkan Sehun.” jawab Chanyeol begitu saja.

Hana mengernyitkan dahinya memandang Chanyeol, “Kau memang aneh oppa!” dipukulnya pelan lengan Chanyeol, namja itu tertawa. Tawa yang menggambarkan sakit hatinya, tapi ia rela dengan semua ini.

“Hana-ya, aku tulus melepaskanmu, jadi kuharap kau akan bahagia dengan siapapun nantinya. Satu hal yang harus kau tahu…” Chanyeol kembali menatap yeoja itu serius.

“Cinta itu memang terkadang menyakitkan. Siapapun yang sudah berani untuk jatuh cinta juga harus berani untuk terluka. Aku tidak akan memintamu melepaskan Sehun untuk Chanmi, meskipun dia dongsaengku. Kalau kau memang saling mencintai dengan Sehun, kau harus berusaha mengejar cintamu, bukan malah melepaskannya. Neo…arraseo?” Hana tersenyum kecil saat telunjuk Chanyeol diarahkan ke depan hidungnya. Namja itu menambahkan kedipan sebelah mata pada Hana.

“Aigoo…uri oppa, neomu neomu kyeopta!” Ia tertawa bersama Chanyeol, dan namja itu merangkul Hana sekilas, mungkin untuk terakhir kalinya. Atau mungkin juga hubungan mereka akan jauh lebih baik setelah ini?

 

***

 

Chanmi memandang oppanya yang sibuk tersenyum sendiri lalu murung, begitu terus menerus sejak ia kembali ke rumah.

“Oppa, waeyo? Apa ada masalah?” tanya Chanmi.

Chanyeol menatap yeoja dongsaengnya itu dan tersenyum sekilas, ia menghela nafas panjang.

“Kau tahu? Aku dan Hana sudah putus.”

Chanmi terbelalak kaget menatap oppanya, “MWO?!”

Lagi-lagi Chanyeol tersenyum sambil mengangkat bahunya, “Begitulah.” ucapnya pelan.

Chanmi memandang oppanya tak percaya, ia tahu betapa oppanya itu sangat mencintai chingunya, Hana, bagaimana mungkin oppanya melepaskan yeoja itu?

“Oppa, gwaenchana?” Chanyeol mengangguk pasti.

“Ne, tidak perlu khawatir.”

“Tapi…kenapa?”

Chanyeol mendesah pelan, “Karena aku hanya ingin membuat semua jadi lebih adil, tanpa aku didalamnya.”

Chanmi mengernyit bingung, tak mengerti maksud oppanya.

“Sudahlah, bukankah yang penting aku dan Hana baik-baik saja? Kami hanya putus, dan segalanya tetap berjalan baik. Tidak perlu khawatir.” Chanyeol tersenyum lebar ke arah dongsaengnya,, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia sudah mengambil keputusan tepat. Cinta tidak akan pernah bisa dipaksakan.

 

***

 

“Noona!!” Sehun memasuki kamar Sekyung. Sudah dua minggu berlalu dan Oh Sekyung sudah menjalani perawatan di rumah. Rencananya bulan depan ia akan memulai perawatannya di Jepang. Sekyung menolehkan kepalanya saat dongsaengnya itu masuk. Sehun tidak sendiri, dibelakangnya ada Chanmi yang membawa mangkuk kecil.

“Eonnie, annyeong!” Chanmi tersenyum lebar.

Mereka mendatangi Sekyung yang sedang duduk di ranjangnya, membaca sebuah buku.

“Annyeong Chanmi-ah! Sehunnie, kau sudah pulang?” sapa Sekyung sambil meletakkan bukunya.

“Ini, sup ginseng buatanku. Eonnie harus mencobanya.” kata Chanmi sambil meletakkan mengkuk yang dibawanya di meja samping tempat tidur Sekyung.

“Gomawo Chanmi-ah, maaf merepotkanmu.”

“Aniyo, eonnie tidak merepotkanku.”

“Noona, ini CD musik yang kemarin kau pesan padaku, dan ini…” Sehun mengaduk isi ranselnya lagi, mengeluarkan sesuatu, “titipan dari Jong In hyung.”

Sekyung menerima benda kedua dari Sehun sambil mengernyit bingung.

“Kamus saku bahasa Jepang? Jong In oppa tidak kemari?”

Sehun dan Chanmi saling pandang sejenak lalu tertawa, “Noona, kau merindukannya?” goda Sehun, membuat wajah Sekyung merona merah.

“Ani…”

“Mwo? Jadi eonnie tidak merindukannya?” Chanmi ikut menggoda Sekyung yang makin salah tingkah.

“Ani…maksudku…” Sekyung tidak dapat menjelaskan apapun karena kedua orang itu tertawa geli di depannya.

Jong In berjanji menemaninya belajar bahasa Jepang, tapi kenapa namja itu hanya menitipkan kamus ini pada Sehun?

“Aigoo…uri noona merindukan namjachingunya, Chanmi-ah.”

“Sehun-ah, hentikan. Kasihan eonnie.” Chanmi menyenggol lengan Sehun pelan, “Eonnie, kata Jong In oppa, dia akan datang setelah menjemput Hana di kampus.” kata Chanmi lagi.

Sekyung hanya tersenyum tipis, “Ne.” ucapnya.

Sejak kembali dari rumah sakit, Jong In setiap hari menemani Sekyung. Mereka memutuskan untuk kembali bersama, tepat saat Hana dan Chanyeol malah mengakhiri hubungan mereka. Jong In yang sudah meyakinkan Sekyung untuk tetap bersamanya, namja itu berjanji tidak akan pernah meninggalkan Sekyung sampai kapanpun. Janji manis yang diberikan oleh Jong In hanya pada Sekyung.

“Annyeong!” wajah namja yang ditunggu-tunggu Sekyung muncul dari balik pintu kamar.

“Annyeong!!!” dongsaeng kesayangan Jong In juga ikut memunculkan kepalanya di bawah kepala oppanya. Pemandangan yang menggelikan bagi semua yang berada di kamar Sekyung.

“Heheh, kalian berdua sedang apa? Kemarilah.” Sekyung terkekeh kecil melihat kelakuan kakak beradik itu.

“Bagaimana kondisimu hari ini?” Jong In mendekati ranjang Sekyung kemudian membelai lembut kepala yeojachingunya.

“Sudah jauh lebih baik oppa…”

“Ne, apalagi setelah melihatmu hyung!” potong Sehun cepat, membuat Chanmi dan Hana tertawa sementara Sekyung wajahnya kembali memerah.

“Eonnie, ini sup dari siapa? Hm…baunya enak.” Hana mengendus mangkuk yang berada di meja kecil dekat Sekyung.

“Itu dari Chanmi, dia membuatkannya untuk noona.” Sehun yang menjawab pertanyaan yeoja itu sementara Hana mengangguk-angguk kecil dan memandang kagum pada Chanmi.

“Kau memang daebak!” ucapnya sambil mengacungkan jempolnya.

“Perhatikan air liurmu nona Kim.” Sehun berkata dengan santai dan langsung mendapat death glare dari Hana. Yang lain tertawa melihat dua sahabat itu.

“Geuraeyo, bukankah kita harus melanjutkan pelajaran bahasa Jepang kita? Aku sudah banyak bertanya pada Jonghyun hyung yang bahasa Jepangnya cukup baik.” kata Jong In pada Sekyung dan dijawab anggukan yeoja itu.

“Kalian seperti turis yang mau berlibur saja.” cibir Hana, “Baiklah, kalian belajarlah baik-baik dan oppa jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, arraseo?”

Pletak!

Jitakan manis dari Jong In mendarat mulus di kepala dongsaengnya, “Keluar.” ujarnya datar dan penuh kharisma. Hana memajukan bibirnya protes, tapi sambil melangkahkan kakinya keluar kamar diikuti Sehun dan Chanmi.

“Eonnie, hati-hati pada oppaku!!” teriaknya di depan pintu kamar.

“Yak! KIM HANA!!”

***

 

“Hana? Kau sudah pulang? Apa oppamu di tempat Sekyung lagi?” Nyonya Kim segera saja menanyai putrinya yang baru saja melangkah masuk ke rumah.

Hana mendongak, sangat jarang eommanya sudah di rumah sore hari bahkan sepertinya sudah selesai dengan persiapan makan malam keluarga. Hana dan Jong In memaklumi kedua orang tuanya yang selalu super sibuk itu, bukankah demi mereka berdua juga?

“Ne eomma.” Hana menjawab singkat lalu berdiri di samping eommanya yang sedang menghias masakannya.

“Hm…baunya sedap!” kata Hana senang.

“Hm…tapi hati-hati nanti air liurmu menetes ke sini.” ujar Nyonya Kim diiringi tawa kecil, dia beranjak ke meja makan.

“Eomma…Eomma dan Sehun sama saja. Dia juga tadi berkata begitu padaku. Apa anak eomma ini serakus itu?” gerutu Hana sambil mengikuti eommanya ke meja makan.

“Hahaha. Sehun memang tidak salah mengenalimu.” Hana makin cemberut melihat eommanya yang justru tertawa.

Tapi eommanya benar, Sehun memang sangat mengenal dirinya. Ah, bahkan tidak lebih baik dari Hana mengenal dirinya sendiri. Sehun selalu hafal semua kebiasaannya, tingkah lakunya, hampir semuanya.  Hana jadi tersenyum sendiri karena memikirkannya.

“Na-ya! Kau sedang melamun?” tangan Nyonya Kim yang dilambaikan di depan wajah putrinya itu menyadarkan Hana dari lamunannya.

“Sedikit eomma…”

“Sudah, cepatlah mandi! Nanti malam appa akan pulang awal, kita akan makan malam bersama.” perintah Nyonya Kim.

“Ne!” jawab Hana cepat, “Aku juga akan mengabari oppa!” tambahnya sambil berlalu.

 

***

 

“Oppa, antarkan aku ke kampus, jebal…” masih pagi dan Hana sudah merengek pada oppanya, Kim Jong In.

Jong In yang sedang memakan sarapannya hanya mendecak kesal dengan tingkah dongsaengnya, “Ne. Ne.” jawabnya setengah kesal setelah Hana merengek padanya beberapa lama.

“Kau ini, kenapa tidak bersama Chanyeol hyung saja sih?” rutuk Jong In lagi.

“Aku…dan Chanyeol oppa kan sudah…”

“Putus? Lalu tidak boleh pergi ke kampus bersama lagi?” potong Jong In cepat dan cuek.

Hana menggembungkan pipinya, “Bukan begitu, tapi aku tidak mau merepotkannya, itu saja.”

“Ne, tapi kau sudah merepotkanku. Cepat ambil tasmu, kita berangkat!” Jong In bangkit dari duduknya, dan dengan cepat Hana menyambar tasnya mengejar Jong In.

“Aku tidak perlu menjemputmu kan? Nanti sore aku sudah ada janji.” kata Jong In sesaat setelah mengerem mobilnya di depan kampus Hana.

“Ne. Ne. Janji dengan yeojachingumu eoh? Arra. Arra. Aku pulang sendiri saja.” Hana menjawab santai sambil melepas seatbeltnya dan turun dari mobil.

“Gomawo uri saranghaneun oppa!!” Hana melambaikan kedua tangannya pada Jong In, namja itu hanya menggeleng kesal dengan kelakuan dongsaengnya dan cepat-cepat melajukan mobilnya ke kampusnya sendiri.

“Hana?”

Belum sampai di kelas, langkah Hana sudah terhenti karena dipanggil seseorang. Namja bersuara bass yang selalu menyapanya ramah, bahkan tidak berubah sedikitpun sejak putus dengan Hana.

“Oppa? Annyeong!”

Chanyeol tersenyum lebar, memamerkan deretan rapi gigi putihnya. Namja itu baru saja mengubah model rambutnya, hitam dan pendek. Tampan. Hana sedikit menyesali dirinya sudah meninggalkan namja ini.

“Kau diantar Jong In?” tanya Chanyeol. Hana mengangguk pelan.

“Baguslah. Kau selesai kuliah jam berapa?” tanyanya lagi.

“Umm..sekitar pukul 5 sore. Waeyo?”

“Ah, aniyo. Aku ingin mampir ke toko buku sebentar, kau mau menemaniku? Baekhyun sudah ada janji jadi tidak bisa menemaniku.”

Hana tersenyum, “Geuraeyo. Sampai bertemu nanti oppa.”

“Ne. Gomawo!” setelah mengatakan itu Chanyeol beranjak menuju kelasnya. Hana hanya menghela nafas menatap punggung namja itu.

Terlalu baik…

 

*Oh Sehun POV*

“Sehun-ah, pulang kuliah kau mau kemana?”

Aku menoleh ke arah Chanmi yang baru saja mendudukkan dirinya di bangku kantin. Aku mengangkat bahu pelan.

“Umm…mau menemaniku? Aku ingin membeli beberapa bahan makanan. Sepertinya isi lemari es kami mulai berkurang.” pintanya dengan senyuman khas milik Park Chanmi. Aku hanya mengangguk, mengiyakan permintaannya.

Kuliah terakhirku sepuluh menit yang lalu dan aku melihat Chanmi yang sudah menungguku di tempat parkir.

“Mianhe, tadi dosen Yoon agak terlambat.” kataku sambil menyerahkan satu helm padanya.

“Tidak apa. AKu juga baru saja tiba. Kajja!”

Aku melajukan motorku di sepanjang jalanan Seoul. Sepuluh menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di sebuah pasar swalayan.

Chanmi sudah mengambil keranjang belanja dan mulai mengisinya, aku mengikutinya sambil sesekali melihat berbagai barang yang terpajang rapi di rak.

“Humm…aku harus membeli kimchi yang mana ya?” aku mengalihkan perhatianku dari buah kalengan yang sedang kupegang dan melihat Chanmi yang kebingungan didepanku.

“Ini saja.” Tunjukku pada salah satu dari dua jenis kimchi yang dipegangnya.

“Ah, geuraeyo. Gomawo!”

Chanmi kembali melanjutkan aktivitasnya, dan aku dengan duniaku sendiri.

“Ah, selesai!!” Chanmi mengangkat kantung belanjaannya sambil tersenyum senang, aku hanya tertawa kecil melihatnya.

“Bagaimana kalau kita mampir ke kedai es krim?” ajaknya. Aku mengangkat bahu, terserah.

Chanmi memesan dua es krim rasa stroberi untuknya dan vanilla untukku. Sepanjang jalan ini adalah pertokoan jadi kami menghabiskan es krim sambil berjalan mengelilingi pusat pertokoan.

“Chanmi? Sehun?” aku dan Chanmi sama-sama menoleh mendengar nama kami dipanggil.

Kim Hana berdiri di samping namjachingunya, Park Chanyeol, sambil tersenyum lebar. Mereka menghampiri kami yang berdiri tidak jauh dari toko buku tempat mereka baru saja keluar.

“Wah, kalian sedang apa? Kencan?” aku melirik Chanmi, tentu saja jawabannya iya, kenapa harus bertanya.

“Aniyo! Aku hanya meminta Hana menemaniku mencari buku.” Aku mengernyit karena elakan dari Chanyeol hyung.

“Heheh. Chanyeol oppa sedang ditinggalkan Baekhyun oppa jadi dia tidak tahu harus pergi dengan siapa.” Hana tertawa kecil memandang Chanyeol.

“Aku pikir kalian kembali berpacaran.” Baiklah, kerutan di dahiku makin banyak setelah mendengar perkataan Chanmi. Aku tidak mendapat penjelasan apapun dari Chanyeol hyung ataupun Hana, jadi kuputuskan bertanya.

“Apa maksudnya?” tanyaku lebih kepada Chanmi, karena dialah sumbernya.

“Eoh?” Chanmi memandangku terkejut, dan aku hanya diam menatapnya lalu Chanyeol hyung dan Hana bergantian.

“Neo…belum tahu kalau…”

“Aku dan Hana sudah putus Sehun-gun.” Mataku hampir melompat keluar karena pernyataan Chanyeol hyung.

“Mwo?!” Sebagian diriku melompat senang, hampir hilang kendali, tapi sebagian lagi setuju dengan ekspresiku yang kebingungan.

“Kami putus dua minggu lalu, geundae kami masih berteman seperti dulu, ne oppa?” jelas Hana dan aku masih belum dapat mengendalikan sebagian diriku yang melompat-lompat senang, dalam hati.

“Ooh.” Hanya itu yang keluar dari bibirku, walaupun rasanya ingin berteriak lega. Hana bukan milik siapapun lagi, Chanmi juga sudah tahu perasaanku yang sebenarnya, kurasa ini saatnya aku kembali menyatakan perasaanku yang tetap sama pada Hana.

*Oh Sehun POV End*

 

*Kim Hana POV*

Aku dan Chanyeol oppa baru saja keluar dari toko buku saat kami melihat Sehun dan Chanmi sedang berjalan berdua. Chanyeol oppa memanggil mereka sambil mengajakku menghampiri Sehun dan Chanmi. Sedikit lega karena aku sekarang bebas memiliki perasaan cemburu melihat mereka berdua, tanpa harus merasa tidak enak pada Chanyeol oppa.

“Wah, kalian sedang apa? Kencan?” tanya Chanmi.

“Aniyo! Aku hanya meminta Hana menemaniku mencari buku.” Chanyeol oppa yang menjawabnya, dan aku hanya menambahkan sambil tertawa pelan.

“Heheh. Chanyeol oppa sedang ditinggalkan Baekhyun oppa jadi dia tidak tahu harus pergi dengan siapa.”

“Aku pikir kalian kembali berpacaran.” cetus Chanmi sambil tersenyum.

Hum, mana mungkin. Lagipula Chanyeol oppa sudah tahu kalau aku hanya menyukai Sehun.

“Apa maksudnya?” Sehun tiba-tiba bertanya membuatku dan Chanyeol oppa bertatapan bingung. Tapi aku segera sadar, Sehun sepertinya belum tahu kalau aku dan Chanyeol oppa sudah putus.

“Aku dan Hana sudah putus Sehun-gun.” Aku mendongak menatap Chanyeol oppa yang berkata dengan santainya.

“Mwo?” Sehun terlihat agak terkejut mendengarnya.

“Kami putus dua minggu lalu, geundae kami masih berteman seperti dulu, ne oppa?” jelasku sambil tersenyum memandang Chanyeol oppa.

Aku melirik Sehun yang hanya mengeluarkan “Ooh..”. Hanya sebatas itu? Tidakkah dia merasa sedikit lega seperti perasaanku? Apa perasaannya padaku sudah berubah?

Ah, harusnya aku emmang tidak banyak berharap, aku sudah melukai Sehun sejak awal. Lagipula dengan yeoja sebaik Chanmi disampingnya yang selalu bersamanya, bukan tidak mungkin kalau dia sekarang hanya menganggapku sahabat seperti dulu.

 

***

 

“Hana-ya…kau di dalam?” ketukan di pintu kamar dan suara khas itu segera membuatku terlonjak bangun. Kuletakkan novel yang kubaca dan kulepas headset yang sejak tadi memutarkan lagu-lagu kesukaanku.

“Ne…masuklah!” jawabku setelah memastikan aku duduk dengan rapi di meja belajar.

“Sedang apa?” Sehun memunculkan kepalanya dari balik pintu sambil tersenyum lucu. Neomu kyeopta!! ^^

“Belajar… Wae?” tanyaku pura-pura tidak peduli, dalam hatiku aku hampir pingsan saking senangnya.

Setelah sekian lama, aku dan Sehun hampir tidak pernah lagi bertemu seperti ini. Rasanya menyenangkan melihatnya kembali seperti dulu. Sehun yang menggangguku saat belajar, Sehun yang selalu berceloteh riang sambil mengacak-acak kasurku, Sehun yang akan pergi dengan kesal setelah aku mengomelinya. Aku rindu ekspresi Sehun, aku rindu Sehun, jeongmalyo.

“Kau mau membantuku?” Sehun melangkah masuk kamarku lalu mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidurku.

“Membantu? Apa?” tanyaku memutar badan menghadapnya.

“Hm…sebenarnya aku ingin minta pendapatmu. Ah, biasanya aku menanyakan ini pada noona, tapi dia sedang sibuk bersama Jong In hyung…” Sehun menggantung kalimatnya, aku terus menatapnya menunggu kelanjutan kalimatnya itu.

“Jadi, kau mau membantuku? Hanya memberi pendapat tentang beberapa hal.” Sehun mengangkat alisnya, melihatku, dan aku mengangguk yakin.

“Malhae.” kataku. Saat ini aku benar-benar sudah duduk berhadapan dengan Sehun, menatap wajahnya dari dekat, seperti yang dulu sering kulakukan.

“Tadaa!!” Sehun mengeluarkan dua buah kotak kecil dari saku jaketnya.

Aku membulatkan mata menatap kedua kotak itu, bertanya-tanya apa isinya dan kenapa Sehun ingin meminta pendapatku.

“Aku ingin memberikan hadiah pada seseorang… Hm, seorang yeoja…” aku dapat melihat Sehun yang sedikit malu-malu mengatakannya. Namja itu memang sangat terlihat kalau sedang merasa malu karena wajahnya yang tadinya putih pucat akan segera merona merah.

“Lalu..?”

“Menurutmu, apakah lebih baik aku memberikan ini..” dia membuka kotak berwarna biru muda dan menampilkan sebuah cincin kecil dengan bentuk sayap yang hanya sebagian terukir indah. Aku sedikit terperangah memandangnya. Neomu yeppeoda.

“Atau ini?” Sehun menggantikan kotak berisi cincin itu dengan kotak lain berwarna hijau yang berisi sebuah cincin lain, kali ini dengan bentuk separuh hati, aku merasa ini sangat manis dilihat.

“Eottohke?” tanya Sehun. Diam menyodorkan kedua kotak itu didepanku. Aku menatapnya bergantian dengan kedua cincin itu.

“Aku…harus memilih satu?” tanyaku dan Sehun mengangguk cepat.

Kuamati lagi kedua cincin itu, sebelum akhirnya menunjuk sambil tersenyum.

“Igo. Terlihat lebih manis dan aku menyukainya.”

Sehun tersenyum senang melihat pilihanku.

“Gomawo Hana-ya! ^^ Aku juga merasa ini memang lebih manis. Akan sangat cocok untuknya. Kau tahu? Seperti separuh dari sayap malaikat.” celotehnya panjang lebar.

Sehun bercerita, kurasa tanpa menyadari perubahan raut wajahku. Apa Sehun sudah menyukai yeoja lain? Ah, kurasa begitu. Tidak mungkin dia akan memberikan benda itu kepada seorang yeoja yang tidak memiliki tempat khusus dihatinya. Sehun selalu memperlakukan orang-orang yang disayanginya dengan istimewa, aku tahu itu. Tiba-tiba aku merasa sangat penasaran, siapa yeoja beruntung yang disukai Sehun saat ini?

“Sehun-ah…” panggilku, membuatnya menghentikan ceritanya.

“Nuguya? Yeoja itu…boleh aku tahu siapa?” tanyaku dengan sedikit keraguan.

Sehun mengangkat alisnya terkejut, menatapku, tapi kemudian tersenyum lebar hingga matanya menyipit sempurna.

“Hm…itu…sebenarnya…”

“Ne?”

“Hm…yeoja itu…” Aku menatapnya penuh harap, sangat penasaran dengan siapa yang disukainya, benar-benar penasaran. Apakah yeoja itu Chanmi? Atau yeoja lain yang dikenal Sehun? Nuguya?

“Hehe…sebenarnya yeoja itu…”

 

~TBC~

 

Asiik…TBC lagi!! ~kkk. Mianhamnida.

Bagaimana kelanjutannya? Molla.Molla.Molla. Just wait and read. Gamsahamnida for reading!! Annyeong!! ^^ *bow with Thehun*

13 pemikiran pada “Our Love (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s