Love Is Hurting Us (Chapter 2)

Title                 : Love Is Hurting Us (2/2)

Author             : rtnysv
Cast                 :

1. Kim Jongin (EXO-K Kai)

2. Choi Jinhye (OC)

3. Park Chanyeol (EXO-K Chanyeol)

4. EXO members

Genre              : Romantic, Friendship, Sad.mungkin
Rating              : PG-15
Length             : Twoshoot

Love Is Hurting Us
Note                : WARNING! BERCETAK MIRING-FLASHBACK

WARNING! DON’T LIKE THE CAST? DON’T READ! ONCE AGAIN. WARNING!!!

Love Is Hurting Us.

“TIDAK MUNGKIN! BAGAIMANA BISA GADIS YANG KUSUKAI SEKARANG SEDANG PERGI BERDUA BERSAMA DONGSAENGKU SENDIRI? HUHUHUHU… HIKS”

“Yeolli-ah, kau tak boleh egois seperti ini”

“Hyung, kalau ini demi kebahagiaan Jongin, kau harus rela”

Chanyeol mulai luluh hatinya mendengar nasihat dari para teman sedormnya itu. Mungkin lebih baik begini, pikirnya.

Love Is Hurting Us.

“Jongin-ah, kenapa kau melakukan ini?”

“Aku… tidak tahu”

“Kau masih mencintaiku, kan?”

“Aku tak yakin”

“Bagaimana kau tak yakin? Ini hatimu sendiri” tangan orang itu mengarah ke dada Kai lembut. “Jadi kau pasti mengerti dengan isi hatimu”

“Dan ini hatiku” lanjutnya. “Siapapun tak bisa mengerti isi hatiku. Hanya aku.

Tapi asal kau tahu, yang hatiku rasakan saat ini hanya…

Aku tak ingin kau pergi sekarang”

Love Is Hurting Us.

“Mimpi lagi?”

Kai mengangguk. Entah mengapa selama tiga hari berturut-turut ia memimpikan hal yang sama. Tentang kekasihnya. Tepatnya mantan. Dan Chanyeol juga selalu diam dan sinis dengannya. Seperti sekarang ini, bertanya dan pergi sebelum Kai melontarkan kata-kata.

Chanyeol juga jadi tidak pernah pergi ke mini market di pusat perbelanjaan. Kecuali manajer hyung atau Suho yang menyuruhnya, ia langsung mengajak Baekhyun atau Sehun dan menunggu di dalam mobil. Sedangkan orang yang ia ajaklah yang masuk ke dalam mini market.

Dorm kini terlihat sangat sepi. Tak ada kicauan lagi dari Chanyeol. Tak ada tangisan lagi dari Sehun karena dimarahi Kai. Tak ada pertengkaran lagi antara ChanBaek. Semuanya berjalan sangat datar.

“Hyung, kau tak perlu memendam semuanya”

Kai menoleh dan mendapati Sehun menatapnya serius.

“Kita ini seumuran. Hanya saja aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan ‘hyung’. Hey, kalau kau memendamnya, wajahmu akan terlihat lebih tua dariku. Lagipula, kau memang harus dipancing kan agar bercerita?”

Lagi-lagi Kai hanya menatapnya datar. Walau Sehun bisa melihat kepedihan yang amat dalam pada mata Kai. Dan itu artinya Kai sudah tidak kuat lagi menahan semuanya sendirian.

FLASHBACK

“Kau benar-benar Kim Jongin?”

Kai mengangguk sambil terus menyetir mobil milik gadis di sebelahnya. Dirasakannya kerinduan yang amat sangat, setelah bertahun-tahun tak bertemu dengan gadis itu.

“Jinhye-ah, kau tak pernah datang ke konserku”

“Aku pernah datang” Kai menatap ke gadis di sebelahnya sekilas.

“Tapi sekali” lanjutnya.

“Kapan? Apakah dia yang menyuruhmu?”

“Dia?” Jinhye menatap bingung ke arah Kai. Setelah mengetahui siapa yang dimaksud ‘dia’, Jinhye berdeham.

“Ya, dia yang menyuruhku. Ada masalah?”

Kai terkekeh pelan. Dia baru sadar, Jinhye sangat sensitif jika menyangkut dengan mantan kekasih Kai.

Love Is Hurting Us.

“Kau ingat taman ini?”

Kai dan Jinhye duduk di kursi tempat dimana mereka sering berteduh.

“Iya, dulu kau, aku, juga dia sering kemari. Membawa roti keju, dan kalian asyik sendiri”

Lagi-lagi pernyataan Jinhye membuat Kai terkekeh. Entah kenapa rasanya Kai senang sekali membuat Jinhye sensitif dan selalu melibatkan mantan kekasih Kai dalam tiap kata-kata yang ia lontarkan.

“Jinhye-ah… aku rindu”

Terlihat semburat merah di pipi Jinhye yang langsung ia tutupi dengan kedua tangannya.

“Padanya” Jinhye melirik Kai tajam. “Juga padamu” Lanjut Kai.

“Aku juga rindu pada kalian”

Kini mereka hanya bisa menatap ke arah langit, mengenang masa-masa lalu mereka. Senyuman yang terukir dibibir Kai membuat Jinhye mendadak terkejut.

“Kau bisa tersenyum?” Kai menoleh ke arah Jinhye dengan tatapan bingung.

“Kau… Jongin-ah, kau bisa tersenyum! Tadi, tadi aku melihatnya! Setelah setahun lamanya akhirnya kau bisa tersenyum!”

Jinhye berteriak kegirangan, melupakan perasaan yang ia pendam selama ini untuk Kai, ia memeluk Kai erat. Kai tidak membalas pelukannya. Ia hanya menikmati harum shampoo. Harum shampoo yang sama dengan mantan kekasihnya.

“Kau memakai shampoo bekasnya, huh?”

Mendengar pertanyaan Kai, Jinhye langsung melepaskan pelukannya. Ia menggerutu sendiri.

“Dari dulu shampooku memang ini.

Dia yang mengikutiku. Selera fashion, shampoo, gaya foto, sampai selera lelakipun dia mengikutiku”

Kai menatap lagi ke arah Jinhye. Kali ini tatapannya kaget, bingung, tapi tetap datar seperti biasanya.

“Apa? Apa maksudmu?”

Jinhye menggeleng pelan. Tiba-tiba air matanya mengalir pelan. Ia tak bisa lagi memendam perasaannya bertahun-tahun. Ia sudah tidak kuat lagi merelakan semuanya pada mantan kekasih Kai.

“Maksudku? Mencintaimu, Kim Jongin. Aku… Selama ini aku menyukaimu, menyayangimu, bahkan mencintaimu. Aku tak bisa memendam semua ini lagi aku…”

“Jinhye-ah…”

“Tidak. Dengarkan aku, Jongin-ah. Aku selalu mengalah padanya. Saat ulang tahunmu, saat dia tak membelikan hadiah untukmu, tapi dia menyatakan perasaannya padamu. Kau tahu? Hatiku hancur saat itu. Aku tak bisa memberikan hadiah yang kubeli padamu, karena aku tahu kalian resmi berpacaran saat itu. Dan selama ini aku tetap menahan perasaan untuk mengubahmu.

Jongin-ah… terserah kau akan memilih siapa. Pilih aku atau mantan kekasihmu itu. Jika kau pilih aku… aku… ciumlah aku.

Tapi… jika kau memilihnya… pergilah”

Sesaat seperti waktu tak berputar saat Jinhye mengutarakan semua yang ia rasakan. Saat itu juga Kai memeluk Jinhye. Ia tak bisa membohongi perasaan yang ia rasakan sekarang. Bahkan sampai saat ini pun Kai masih belum bisa melupakannya.

“Jinhye-ah, maafkan aku”

Love Is Hurting Us.

Kai berjalan membawa sebuket bunga ke tempat mantan kekasihnya. Entah perasaan apa yang akan ia rasakan jika nanti mereka bertemu. Entah apa yang Jinhye rasakan saat ini, saat Kai baru saja menolaknya.

Kai berhenti dan mendudukkan dirinya. Buket bunga itu kini ia berikan pada mantan kekasihnya.

“Hey… Kau lihat? Nyatanya sekarang aku masih mengingatmu”

Kai mengelus lembut batu dihadapannya, tertera nama mantan kekasihnya.

“Saat kau benar-benar pergi, aku baru bisa merasakan isi hatiku.

Apa saat ini isi hatimu sama seperti dulu?”

Kai kembali menundukkan wajahnya. Ia tak bisa membendung perasaannya sekarang ini. Ia benar-benar lelaki yang cengeng. Lelaki pengecut.

“Walau kita terlihat seperti pasangan yang aneh, tapi aku tak pernah merasa cintamu padaku itu aneh”

“Aku merasa kau yang membawaku dalam kebahagiaan saat bersamamu”

“Tawaku juga yang selalu muncul saat kau menatapku penuh cinta”

“Tapi entah saat bersama Jinhye, aku juga bisa tertawa”

Kai mengusap air matanya perlahan, dan kembali mengelus batu di hadapannya.

“Aku telah memenuhi kemauanmu. Aku tak akan pergi”

FLASHBACK END

Love Is Hurting Us.

“Jongin-ah, kau tahu? Roti keju ini seperti cinta kita”

“Apa?”

“Rasanya asin. Cinta kita juga seperti ini. Tak akan manis”

“Apa maksudmu? Jangan bicara yang tak penting”

“Tidak, Jongin. Aku hanya ingin memberitahumu. Jika suatu saat aku dijauhi mereka, kau pasti akan pergi meninggalkanku dan…”

“Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu”

“Kau bisa berjanji? Saat ini dan sampai nanti. Jangan pergi, Jongin-ah”

Love Is Hurting Us.

“Kau mau kemana, hyung?”

“Bukan urusanmu”

BRAAKK!

“Ya! Siapa yang menutup pintu sekeras itu?!”

Suho keluar dari kamarnya, mendapati Sehun menangis di ambang pintu.

“Uri maknae, wae? Kau dimarahi Kai lagi?”

Tiba-tiba Baekhyun berlari ke arah Suho dan menangis sekeras mungkin disusul oleh dongsaengnya, Sehun. Suara lembut sang leader memang selalu menenangkan hati mereka.

“Yeol…yeolli, hyung”

“Chanyeol hyung yang memarahiku, hiks hiks”

Suho menatap bingung ke arah dua dongsaengnya ini. Kenapa tiba-tiba Chanyeol bisa semarah itu sampai membuat orang lain menangis? Tak biasanya seperti ini.

“Ceritakan padaku”

Pundak Baekhyun ditepuk-tepuk Suho pelan. Sedangkan Sehun sudah mulai tenang dan sekarang sedang mengambilkan minum.

“Yeol…yeolli, hendak menghajar Jongin”

Love Is Hurting Us.

“TIDAK MUNGKIN! BAGAIMANA BISA GADIS YANG KUSUKAI SEKARANG SEDANG PERGI BERDUA BERSAMA DONGSAENGKU SENDIRI? HUHUHUHU… HIKS”

“Yeolli-ah, kau tak boleh egois seperti ini”

“Hyung, kalau ini demi kebahagiaan Jongin, kau harus rela”

BRENGSEK! Siapa yang egois, huh? Kebahagiaan apa? Jelas-jelas lelaki itu yang menolak gadis yang kusukai, sampai membuatnya menangis. Aku tak segan-segan menghajarnya saat menemuinya. Tunggu aku, Kim Jongin.

Dengan kecepatan tinggi Chanyeol melajukan mobil sport hitamnya menuju tempat Kai berada. Tentu saja sekarang pasti Kai sedang membawakan buket bunga dan memberikannya lagi pada mantan kekasihnya seperti saat setelah ia menolak Jinhye.

Chanyeol berlari tergesa-gesa, keinginannya kali ini hanya satu, menghajar dongsaengnya itu sampai ia mengakui kesalahannya. Demi orang yang ia cintai, Chanyeol tak segan-segan merusak wajah dongsaengnya sendiri.

“Kim Jongin!”

Kai mendengar namanya diserukan. Dengan cepat ia menghapus air matanya dan menoleh ke arah sumber suara.

BUUGHH!

Chanyeol mendaratkan satu kepalan tangan ke pipi mulus Kai. Tapi kali ini dia belum puas.

BUUGHH!

Satu lagi untuk pipi kiri Kai. Kai sudah merasa kesakitan, ia hendak membalas perbuatan Chanyeol, tapi tangan Chanyeol bergerak sangat cepat.

BUUGHH!

Ini yang ketiga, mendarat tepat di perut Kai. Kai sudah tidak tahan dengan perbuatan hyungnya itu. Apalagi ini di tempat mantan kekasihnya.

“Yeolli! Hentikan!”

Tiba-tiba Baekhyun menarik lengan Chanyeol dengan kasar dibantu Sehun. Chanyeol masih saja mengeluarkan amarahnya saat menatap Kai. Tapi saat itu juga Suho membawa Kai keluar dari tempat itu disusul oleh member yang lain.

Love Is Hurting Us.

“KALIAN BODOH!? ITU MAKAM! DI MAKAM! YA! PARK CHANYEOL, KAU BODOH, HUH? BISA-BISANYA MENGHAJAR ORANG DI TEMPAT PEMAKAMAN. KAU JUGA JONGIN, BODOH! KENAPA KAU MENOLAK GADIS YANG HYUNGMU SUKAI? YA! KALIAN BENAR-BENAR BRENGSEK!”

“Hyung, sudahlah. Jangan terlalu mengamuk seperti ini”

Sehun menenangkan Suho untuk keempat kalinya yang sedang berteriak-teriak ke arah Chanyeol dan Kai. Baekhyun hanya duduk di belakang Suho, menundukkan wajahnya. Ia benar-benar tak berani menghadapi lelaki yang sedang marah. Padahal ia juga lelaki.

“KALIAN JUGA SEKARANG SUDAH MENJADI PUBLIC FIGURE! BAGAIMANA KALAU ADA YANG MELIHAT KALIAN? MEMASUKKAN KALIAN DALAM BERITA? MANAJER HYUNG AKAN SUSAH! PIHAK MANAJEMEN JUGA AKAN SUSAH! TERLEBIH KALIAN JUGA AKAN DICAP MENJIJIKKAN OLEH MASYARAKAT! BODOH!”

“Suho hyung, hentikan!” Kali ini Baekhyun yang angkat bicara.

“Mereka sama-sama bodoh, puas? Kau juga bodoh hyung! Bagaimana bisa Jongin menerima gadis yang hyungnya sukai? Bukankah Chanyeol akan lebih merasa sakit hati?”

Sehun masih saja menenangkan Suho. Tapi kali ini ia juga menenangkan Baekhyun.

“Maafkan aku” Suho membungkukkan badannya di depan para dongsaengnya itu.

“Maafkan aku sudah menjadi leader yang tak berguna. Sekali lagi maafkan aku”

Love Is Hurting Us.

“Tadi Jinhye lucu sekali saat memakai pita di rambutnya! Dia sangat-sangat cantik, Jongin-ah”

“Kau juga cantik, chagi”

“Kau merayu? Kau ini bodoh ya?”

“Apa yang kau pikirkan? Bukan wajahmu yang cantik”

Orang di hadapan Kai mengerucutkan bibirnya kesal.

“Jika cintamu tak secantik hatimu, aku tak akan mau bersamamu, chagi”

Love Is Hurting Us.

Sehun masih menata meja makan bersama Baekhyun. Suho mengambil pesanan makanan mereka dan segera menuju ruang makan. Disusul Chanyeol yang merangkul pundak Kai.

Jangan tanyakan bagaimana mereka saling memaafkan. Leader yang baik hati seperti Suho pasti tahu bagaimana caranya untuk mengakurkan mereka.

“Aigoo~ Kenapa kau memesan makanan seenak ini saat sarapan hyung? Saat makan siang kau juga harus pesan yang lebih enak” Chanyeol memakan makanannya dengan lahap diikuti senyuman dari Suho.

“Ah ya, Chanyeol hyung. Tapi kemarin bagaimana kau tahu Jinhye menolak Jongin?”

Orang-orang yang sedang makan langsung menyemburkan apa yang ada di dalam mulut mereka, kecuali Sehun dan Kai. Chanyeol dengan segera membersihkan makanan yang jatuh ke meja, takut jika Suho akan memarahinya lagi.

“Saat aku ke mini market, aku melihatnya, matanya bengkak. Lalu aku ajak ke cafe terdekat untuk bercerita”

“Ya! Kau ini genit sekali dengan gadis hantu itu!” Baekhyun mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal. Keempat kalinya, ia imut sekali. Tapi kakinya sudah bergetar hebat, ia benar-benar takut dengan hal-hal yang berbau mistis. Apalagi Baekhyun pernah melihat Jinhye melayang, itu pikirnya.

“Baekhyun hyung, kurasa waktu itu kau salah lihat” ucap Kai masih dengan makanannya.

“Kau kira waktu itu kau sedang melihat bayangan saja kan dalam rok panjangnya? Dia itu sering sekali memakai kaus kaki dan sepatu hitam polos. Jadi mungkin itu sebabnya kau mengira ia hantu” lanjut Kai. Tapi di sebelahnya, Sehun mengernyit heran.

“Apa itu masuk akal?” tanya Sehun.

“Yah, kuharap begitu” Baekhyun melanjutkan makannya lagi.

“Setelah di dalam cafe, Jinhye bercerita bahwa… dia sudah ditolak oleh Jongin. Selesai”

Chanyeol meneruskan ceritanya tanpa menunggu aba-aba orang di sekitarnya. Itu kebiasaannya.

Love Is Hurting Us.

Kai menapakkan kakinya di tempat mereka bertiga biasa berkumpul. Dulu, dulu sekali mereka memang sering berkumpul.

“Jongin-ah, Jinhye-ah, ayo kemari!”

Kai dan Jinhye berlari ke sumber suara. Mereka berdua berteman sejak kecil. Tapi setelah memasuki Junior High School, pertemanan mereka menjadi tiga orang.

“Ah kami hanya membawa dua roti keju. Jongin-ah, bagaimana kalau kau makan bersamaku?” ucap Jinhye, alibi. Dia bermaksud menunjukkan perasaannya secara tak langsung.

“Ah tidak. Aku makan roti keju ini saja bersamanya”

Setelah itu Jinhye hanya bisa melihat dua orang temannya makan bersama di sampingnya sambil tertawa senang.

“Jinhye-ah?”

Jinhye menoleh, mendapati Kai sedang tersenyum ke arahnya. Dengan cepat Jinhye menghapus jejak-jejak air matanya yang sedari tadi menetes, karena mengingat masa lalunya. Jinhye tersenyum, walau terkesan memaksakan.

“Untuk apa kau tersenyum? Bukankah kau sedang menangis?”

Jinhye memang paling tidak bisa menyembunyikan perasaannya, apalagi di depan Kai. Tanpa ragu lagi, ia menangis, dalam pelukan Kai. Kai hanya bisa mengusap-usap kepala Jinhye dengan lembut. Itu memang sudah biasa ia lakukan sejak kecil.

“Aku ingat kau… juga dia lagi” Jinhye masih terisak dalam ucapannya. Dia mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Kai, dan bersikap seperti biasa. Ia tak mau luka hatinya terbuka untuk kesekian kalinya hanya karena seorang Kim Jongin.

“Tapi aku tak menyuruhmu untuk mengingat kami”

Perkataan Kai memang terkesan dingin dan tajam. Tapi Jinhye sudah kebal menghadapinya. Ya, mereka memang sudah bersama sejak dulu.

“Dan aku juga tak menyuruhmu datang kemari” ucap Jinhye kesal. Ia malah ingat disaat Kai menolaknya.

“Untuk apa kau menemuiku? Kau sudah memilih untuk pergi ke tempat mantan kekasihmu. Bagaimana? Bahagia?”

Kai hanya terkekeh pelan lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling taman. Kali ini dia benar-benar ingin menjahili Jinhye.

“Aku sangat bahagia dengannya. Karena itu aku ke sini untuk mengenang masa lalu kami”

“Juga tentunya bersamamu” lanjut Kai penuh arti.

“Jongin-ah, kumohon. Jangan buat aku seperti ini”

Kai menoleh ke arah Jinhye. Tatapan mereka bertemu dalam radius 10 senti dan itu sudah membuat jantung Jinhye berdegup kencang. Ia benar-benar tak akan pernah bisa melupakan perasaannya pada Kai.

“Aku tak ingin merasa bahwa kau menganggapku spesial, menganggapku lebih dari seorang teman. Kau sendiri yang lebih memilih mantan kekasihmu. Dan kau sendiri yang membuat pilihan di antara kita. Aku memang lebih dulu mencintaimu, tapi kenapa dia yang mendapatkan cintamu? Seolah aku ini hanya pengantar seminya cinta kalian dan setelah kalian bersama aku tak dibutuhkan lagi. Tapi saat dia meninggalkanmu, kau mencariku lagi hanya untuk berpaling. Jongin-ah, kau tahu? Aku ini selalu kesal saat diantara kalian. Aku selalu menahan malu saat bersama kalian. Aku tak suka saat kalian bersama. Dan aku menye…”

“Kau bilang malu? Kesal? Baiklah. Untuk apa kau mengutarakan perasaanmu itu sekarang pada orang yang jelas-jelas sudah pergi! Kau… Aku tak percaya ternyata kau sepicik itu”

Kai pergi meninggalkan Jinhye yang kini tengah menangis. Bukan hanya Jinhye yang menangis, tapi pasti mantan kekasihnya juga ikut menangis, pikir Kai. Kai pun juga sedang menahan air matanya menuju tempat mobilnya terparkir.

“Jongin-ah… Aku belum selesai” lirih Jinhye. “Dan aku menyesal telah merasakan itu semua. Aku benar-benar menyayangi kalian. Sungguh”

Love Is Hurting Us.

“Jinhye-ah, kemarin Jongin anak kelas A mencarimu”

“Benarkah? Gomawo, Sica-ah”

“Iya. Tapi aku sedikit ngeri melihatnya jalan bersama orang itu”

“Siapa?”

“Yang selalu bersama kalian itu. Kau tak malu jalan bersama mereka, Jinhye-ah?”

“Tidak. Aku… tidak tahu”

Love Is Hurting Us.

Sudah satu setengah tahun semenjak kejadian itu, Kai tak pernah lagi datang ke taman itu. Dia tak habis pikir bagaimana nanti yang ia rasakan jika bertemu dengan Jinhye. Ia tak ingin terlihat sebagai lelaki yang cengeng.

Kini Jinhye juga sudah menghentikan berlangganan roti keju di mini market pusat perbelanjaan Seoul, menyebabkan Chanyeol tak bisa lagi menemuinya. Seiring berjalannya waktu, Baekhyun tak lagi ingat saat-saat dia melihat Jinhye sebagai hantu. Chanyeol masih sering melamun, walau tak sesering dulu, sampai menangis 3 hari suntuk. Sehun tetap menjadi maknae yang berbakti pada sang leader.

Dan sudah selama itu… mantan kekasih Kai sendirian menanti kedatangannya.

Love Is Hurting Us.

“Jadi di konser spesial kita ini, kita harus bersungguh-sungguh”

Suho sebagai leader EXO-K menyemangati member lain, termasuk member EXO-M. Tegang luar biasa, tapi tetap saja ini sudah biasa.

Penampilan mereka diawali dengan single terbaru mereka, lalu disusul dengan lagu-lagu album pertama, kedua, dan penampilan solo mereka. Di tengah acara, memang sudah biasa ada sesi perkenalan juga sesi tanya jawab dengan world fans. Sampai pada sebuah video, yang membuat Baekhyun bergidik ngeri.

“Annyeong haseyo, Choi Jinhye imnida. EXO oppars, apa kalian mengenaliku? Ah tidak, Chanyeol oppa, kau masih ingat aku? Kita pernah berebut roti keju di mini market. Kau juga yang mengajakku ke Cafe saat aku sedang bersedih. Baekhyun-ssi, kau ingat aku? Kau yang mengira aku itu hantu, haha, lucu sekali. Chanyeol oppa yang bercerita”

Baekhyun menyenggol lengan Chanyeol dengan wajah sok kesal. Chanyeol hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Jongin-ah, kau masih ingat aku, kan? Kai. Kau ingat Jinhye, sebagai orang picik yang kau kenal selama ini? Saat itu, kau sudah pergi padahal aku belum menyelesaikan kalimatku. Ah, jika kau mendengarkan sampai selesai, mungkin kita tak akan seperti ini sampai satu tahun delapan bulan lamanya. Ah iya, bukan saatnya mengenang masa lalu tapi, di sesi pertanyaan ini, aku sebagai fans darimu, Jongin. Kai oppa”

Manajer hyung dari kejauhan menelan ludahnya berkali-kali. Kenapa video dengan perkenalan aneh ini yang terpilih? Pikirnya.

“Ini tentang mantan kekasihmu”

Semua member EXO langung menoleh ke arah Kai yang sekarang sudah berkeringat dingin. Seperti biasa, Sehun langsung mengeluarkan tissue dari kantong celananya, tapi kali ini bukan tissue basah lagi.

“Bagaimana kalau kau kembali ke taman biasa? Ada hal yang ingin aku bicarakan tapi jika itu membuatmu sulit…”

“Ya! Jonginnie! Kau mau kemana!?”

Teriak Suho setelah Kai berlari meninggalkan panggung pada saat itu juga. Manajer hyung yang dari tadi menelan ludah langsung berdiri hendak mengejar Kai. Tapi Chanyeol bersama Sehun sudah menahannya terlebih dahulu. Baekhyun terlihat cemas bersama member EXO-M lainnya. Mereka sudah siap menerima hukuman, demi kehidupan cinta Kai.

“Ah! Videonya belum selesai!” teriakkan Luhan membuat member lain juga para penonton seisi ruangan diam memperhatikan video di layar kaca.

“Jongin-ah jangan terburu-buru. Jika itu membuatmu sulit, aku bisa mengatakannya disini. Walau kau masih mencintai mantan kekasihmu yang memang benar-benar cinta abadimu, walau kau masih menanti mantan kekasihmu yang tak akan kembali, walau sekarang kau benar-benar menyesal telah meninggalkan mantan kekasihmu demi karirmu, tapi… tapi… tapi… tapi…”

“Hei, video ini rusak!” teriak seorang staf dari dalam membuat semuanya menangis kecewa.

Love Is Hurting Us.

“CHOI JINHYE!”

Terlihat seorang wanita berbalut gaun, membawa sebuket bunga menoleh ke arah Kai yang kini tengah berlari. Dengan nafas yang memburu, Kai mendekati wanita itu. Wanita itu hanya menunjukkan senyum simpulnya, dan menyodorkan buket bunga yang ia bawa.

“Lihatlah. Bagus kan? Tak kalah dengan buket bunga yang sering kau berikan pada mantan kekasihmu itu”

Kai tertawa. Ia senang, ia masih bisa melihat teman masa kecilnya. Setidaknya ia tak akan kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.

“Tenang saja. Aku tak akan mengikuti mantan kekasihmu itu.

Aku… akan hidup bahagia…”

Kai tersenyum. Saat ini Jinhye terlihat sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari biasanya.

“Bersama pria lain”

Kebiasaan, Kai memperlihatkan ekspresi wajah datarnya. Padahal hatinya sudah berkecamuk dengan apa yang sedang dibicarakan oleh wanita di hadapannya ini.

“Tapi… tapi aku… aku…”

“Sudahlah. Menangislah”

Kai memeluk tubuh teman kecilnya itu erat, sangat erat. Seakan ia tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, sama seperti kehilangan mantan kekasihnya. Jinhye tengah menangis dalam pelukan Kai. Sesekali ia menarik baju depan milik Kai. Ia benar-benar tak percaya bahwa ia akan hidup bersama pria lain, pria yang tidak ia cintai, pria yang sama sekali bukan Kim Jongin.

“Aku dijodohkan… oleh appa. Setengah bulan yang lalu.

Aku terima dengan lapang dada. Lagipula, lelaki yang dijodohkan denganku begitu baik, setia, juga tampan. Apapun lebih darimu”

Kepala Jinhye yang diusap pelan oleh Kai kini diacak-acaknya. Kai pura-pura kesal akan pernyataan Jinhye barusan. Ia tertawa. Untuk kesekian kalinya, Kai tertawa karena Jinhye.

“Yah, walau aku akan hidup dengan pria lain, aku tak akan melupakanmu sebagai teman kecilku”

Jinhye menarik tubuhnya dari pelukan Kai. Ia langsung menatap ke benik mata milik lelaki yang selama ini ia cintai.

“Juga sebagai cinta abadiku” lanjut Jinhye.

Bukan ekspresi datar lagi yang Kai perlihatkan, kini ia benar-benar kaget. Hatinya seakan tertusuk akibat pernyataan Jinhye. Jantungnya kini berdetak lebih kencang dari biasanya, lebih kencang daripada saat ia sedang bersama mantan kekasihnya. Ah, sudah terlambat.

“Ah, sepertinya aku harus kembali, Jongin-ah. Aku takut mereka akan mencariku”

“Mereka? Siapa?” tanya Kai kebingungan.

“Kau tanya siapa? Pastinya keluargaku juga keluarga calon suamiku. Kau pikir aku dikejar oleh polisi sebagai teroris, huh?” Kai terkikik.

“Asal kau tahu saja ya, aku ini berhasil kabur dari pernikahanku sendiri demi menemuimu. Makanya kau jangan berlagak!”

“Kau bodoh, huh!?”

Teriak Kai sembari memukul kepala Jinhye. Jinhye mengaduh kesakitan lantas memberikan buket bunga yang ia bawa pada Kai.

“Ini untukmu. Berikan padanya ya. Oh ya, calon suamiku namanya… Lee Taemin”

Jinhye segera pergi meninggalkan Kai. Kai hanya bisa tersenyum menatap buket bunga pemberian dari Jinhye, kini ia benar-benar kehilangan.

Tapi ia bahagia. Bagaimanapun juga, ia akan selalu menjadi teman masa kecil Jinhye, menjadi cinta abadi Jinhye sama seperti ia menganggap Jinhye dan kini ia mendapat sebuket bunga dari Jinhye bersamaan dengan pesan kecil khusus untuknya. Semua ini sebagai rahasia diantara mereka, tak seorang pun yang mengetahui, termasuk mantan kekasih Kai.

Dearest my best friend,

And

My eternity love

Kim Jongin.

Love Is Hurting Us.

Setelah mendapat hukuman habis-habisan dari manajer hyung juga pihak manajemen, member EXO kini dinyatakan boleh beristirahat dengan tenang. Tidak, bukan meninggalkan dunia. Hanya saja, jika tidak diberi kata ‘tenang’ itu artinya masih ada keributan seperti cekcoknya ChanBaek couple, kemarahan Suho terhadap Chen karena telah merusakan i-Padnya satu setengah tahun yang lalu, atau keirian Chanyeol pada Kai yang menemui Jinhye setelah beberapa tahun tidak bertemu.

“Jonginnie, kau mau kemana dengan baju bagus seperti itu? Kau tak mau istirahat?”

“Tidak, hyung. Aku hanya ingin menemuinya. Untuk yang terakhir kali. Sampai jumpa”

Para member hanya menampakkan ekspresi bingung mereka setelah Kai keluar dari dorm.

“Dia? Jinhye? Jinhye kan sudah… sudah… menikah… Hiks”

“Yeolli, tenang. Kalau Jinhye menikah dengan Jongin, pasti kau menangis lebih parah dari saat ini”

“Apa maksudmu!? Huhuhu hiks…”

“Mungkin Kai akan menemui mantan kekasihnya lagi”

Orang-orang yang ada dalam dorm langung menoleh ke arah sumber suara, Kris, leader EXO-M.

“Yah, berarti dia belum normal juga”

Sehun pergi setelah mengatakan itu, disusul dengan tatapan aneh dari para member.

Love Is Hurting Us.

Di awal musim semi, Kai menapakkan kakinya untuk yang pertama kali di tempat yang sudah satu setengah tahun tak pernah ia kunjungi. Seperti biasa, ia membawakan buket bunga. Tapi kali ini lain, buket ini ia bawa dari pemberian Jinhye, bukan ia beli seperti biasanya.

Kai menaruh buket itu pelan di atas gundukkan tanah, dan mendudukkan dirinya sambil mengusap penuh sayang batu nisan di hadapannya. Tangannya mengambil secarik kertas yang sedari pagi sudah ia siapkan matang-matang untuk ia berikan pada pemilik nisan ini. Ia menaruh kertas itu dalam buket, seraya pergi meninggalkan mantan kekasihnya sendirian.

Ah sepertinya aku tak bisa menepati janjiku.

Aku kini mencintai orang lain selain dirimu.

Orang yang selalu aku cintai selama ini.

Dan orang itu malah menikah dengan pria pujaannya yang lain.

Cinta itu rumit.

Aku… ingin melanjutkan karirku saja.

Aku juga akan mencari penggantimu.

Tak apa kan? Aku juga sudah bosan jika dikatai gila oleh Sehun karena sering berbicara sendiri di atas gundukan tanahmu.

Aku tak pernah malu atau sedih karena pernah bersamamu.

Itu akan menjadi kenangan indah bagiku, pasti juga bagimu.

Aku tak ingin menyesal lagi seperti saat kau meninggalkanku, juga Jinhye.

Aku hanya ingin mendapatkan yang terbaik, tanpa harus melibatkanmu di dalamnya.

Maafkan aku.

Bukan maksudku untuk melupakanmu, chagi.

Tapi kupikir ini yang terbaik untukku sekarang ini.

Tentunya terbaik untukmu juga. Kan kau yang pernah mengatakannya.

Mungkin aku yang selama 5 tahun bersamamu telah salah mengartikan perasaanku.

Sepertinya cinta abadiku bukan untukmu. Kau pasti sudah tahu, bukan?

Kau salah saat kau bilang hanya aku yang tahu apa isi hatiku.

Nyatanya aku tak bisa mengerti, bahkan kaulah yang mengerti isi hatiku sampai akhirnya kau tahu bahwa sebenarnya orang yang kucintai selama ini bukan kau.

Sekali lagi, maafkan aku.

Mungkin pada saat itu, aku menganggapmu sebagai kekasih, tapi bukan kekasih yang semestinya.

Aku menganggapmu bukan sebagai cinta abadiku.

Walau kau tetap mantan kekasihku.

Terakhir kalinya, aku minta maaf.

Semenjak cinta abadiku meninggalkanku, aku semakin bisa mengerti isi hatiku.

Dan ternyata isi hatiku sekarang tak pernah berubah. Bagaimana denganmu?

Apa kau masih mencintaiku?

Sebaiknya kau melupakanku. Jadikan aku kenangan. Masa lalumu.

Cari yang lebih baik dariku di sana ya.

For you,

My beloved hyung,

My couple from EXO,

DO KYUNG SOO

Love Is Hurting Us.

FLASHBACK

Love Is Hurting Us.

“Hyung, aku salah. Aku sudah salah memutuskan hubungan kami sehari sebelum kita showcase kemarin. Aku tak menyangka ia benar-benar melakukannya.  Aku menyesal hyung. Aku ingin ia kembali hyung. Aku ingin akhirnya tak jadi begini”

“Jonginnie, semua sudah berlalu. Dan kau sudah melakukan yang terbaik. Tapi diluar dugaan, hiks, dongsaengku sendiri lebih memilih untuk meninggalkan dunia daripada kau tinggalkan. Dia terlalu mencintaimu, Jongin-ah”

Suho menghapus air matanya sambil menenangkan main dancer dari EXO-K itu. Diselingi tangisan dari member EXO lainnya, kini partner kerja mereka benar-benar tak akan kembali.

Love Is Hurting Us.

“Pemirsa, terlihat di lokasi kejadian, dimana banyak para fans mengantri untuk mendoakan idola  mereka yang baru saja debut dengan grup rookie terbaik di Seoul. Hari ini memang banyak tangisan, teriakan, kekecewaan dari para gadis remaja, sampai para lelaki yang menjadikan grup ini sebagai trendsetter mereka. Kematian korban diperkirakan terjadi pada malam hari, dan jasad baru ditemukan esok harinya, tepatnya tadi pagi pukul 8 KST. Sebagai penutupan terakhir, saya hanya bisa berdoa untuk kelancaran grup yang ia tinggalkan, juga kebaikkan untuk dirinya di alam sana. Sekali lagi, saya bersama rekan stasiun televisi K mengucapkan berduka cita untuk main vocal dari boyband EXO, Do Kyungsoo”

Love Is Hurting Us.

“Jinhye-ah, kumohon. Datanglah ke showcase pertamaku, juga Jongin. Aku yakin dia mengharapkan kedatanganmu”

Jinhye yang sedang memainkan ponselnya hanya menatap datar pada lelaki di hadapannya.

“Bukankah dia sudah bersamamu? Dia yang menyuruhmu untuk menjauhiku. Sudah sekian lama kalian training bersama di manajemen terkenal itu dan aku tak mengetahuinya. Kalian memamerkan kemesraan kalian padaku lewat layar tv setelah kalian menjadi orang terkenal. Lalu sekarang, untuk apa kau menemuiku hanya untuk mengatakan hal bodoh semacam itu?”

Kyungsoo menelan ludahnya. Semua yang dikatakan Jinhye, teman masa kecil Kai memang sepenuhnya benar. Tapi Jinhye tak mengetahui dengan kenyataan yang sebenarnya.

“Kau tak mengetahui sepenuhnya, Jinhye-ah. Aku menemuimu karena aku ingin membuat kalian berdua bahagia, kau bersama Jongin. Aku ini lelaki, tapi bisa-bisanya mencintai sesama jenis. Aku memang tak normal. Aku memang menjadi pengganggu untuk perasaanmu selama ini pada Jongin”

“Semua sudah terlambat, oppa. Kami tak mungkin bersama”

“Apakah itu akan menjadi mungkin bila sebenarnya aku dengan Jongin sudah putus tadi sore?”

Love Is Hurting Us.

“Kyungsoo hyung, aku benar-benar tak bisa mempertahankan semuanya”

Dua lelaki yang sedari tadi duduk di taman dekat dorm tempat mereka tinggal, hanya terdiam sebelum salah satu di antara mereka, lelaki berkulit tan, membuka percakapan.

“Kau benar-benar tak bisa denganku lagi?”

Lelaki yang bermata bulat menatap kekasih di sampingnya dengan wajah sendu. Wajah yang akhir-akhir ini ia perlihatkan saat mereka sedang berdua.

“Maafkan aku”

“Tidak. Aku tidak bisa melepasmu, Jongin-ah. Jebal, kembalilah”

Lelaki itu kini mulai menggenggam tangan milik kekasihnya, Kim Jongin. Kekasih yang sudah bersamanya selama 5 tahun.

“Aku tidak bisa. Sekali lagi maafkan aku, hyung”

Kai meninggalkan D.O dengan tatapan seakan ia telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Tapi ini memang sudah menjadi keputusannya sejak mereka debut bersama.

“Aku tak bisa melihatmu pergi, Jongin-ah. Aku tak rela. Jebal… Jangan pergi begitu saja”

Kai tetap tak menghiraukan teriakkan dari kekasihnya itu, Kyungsoo. Ia merasa selama ini telah berada di jalan yang salah. Tapi selama itu juga ia merasakan kebahagiaan saat bersama lelaki yang satu tahun lebih tua darinya.

”Jongin-ah, maafkan aku. Aku memang egois. Tapi kau perlu tahu, hatimu lebih egois untuk kebahagiaanmu. Apakah jika aku menepati janjiku, kau akan benar-benar bahagia?” lirih Kyungsoo yang masih dengan air matanya.

Love Is Hurting Us.

Kai menatap kekasihnya lembut, seraya mencium keningnya sekilas. Dia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya lantas ia berikan pada kekasihnya, Kyungsoo.

“Apa ini, Jongin-ah?”

“Buka saja” ucap Kai lembut, lalu mengalihkan pandangannya dari hadapan Kyungsoo.

Kyungsoo membuka kotak yang tadi diberikan Kai, ia menatap satu-persatu apa yang ada di dalamnya. Tiba-tiba ia mengernyitkan dahi, kenapa barang-barang yang pernah ia berikan pada Kai sekarang ada dalam kotak ini?

“Jongin-ah, kenapa kau memberikanku ini?”

“Selamat ulang tahun. Terima kasih, kau selalu membuatku tertawa”

“Jawab pertanyaanku dulu, Jongin-ah. Kenapa kau memberikanku ini, huh?”

Kini wajah Kyungsoo sudah tak secerah tadi, tak sebahagia saat Kai menggandengnya menuju taman ini, saat Kai mencium keningnya.

“Maafkan aku hyung. Aku tak bisa denganmu lagi”

Pernyataan Kai bagaikan pisau yang menusuk hati Kyungsoo yang paling dalam. Ia tak yakin dengan apa yang barusan ia dengar. Kai memutuskannya?

“Jongin-ah, kenapa kau melakukan ini?” tanya Kyungsoo menahan tangisnya.

“Aku… tidak tahu”

“Kau masih mencintaiku, kan?”

“Aku tak yakin”

“Bagaimana kau tak yakin? Ini hatimu sendiri” tangan Kyungsoo mengarah ke dada Kai lembut. “Jadi kau pasti mengerti dengan isi hatimu”

Wajah Kyungsoo memang sangat tenang saat bersama Kai, tapi saat ini tubuhnya sudah bergetar hebat.

 “Dan ini hatiku” lanjutnya. “Siapapun tak bisa mengerti isi hatiku. Hanya aku.

Tapi asal kau tahu, yang hatiku rasakan saat ini hanya…

Aku tak ingin kau pergi sekarang”

Kai menatap Kyungsoo sekilas, lalu membuang mukanya sembari menghirup udara banyak-banyak. Ia sudah yakin untuk melakukan ini, memutuskan kekasihnya. Tapi ia tak yakin dengan apa yang akan ia katakan.

“Baiklah, hyung. Aku tak akan pergi meninggalkanmu sekarang. Tapi maafkan aku jika suatu saat aku akan memintamu untuk berpisah dariku”

Kyungsoo tersenyum penuh haru. Lebih baik ia bisa bersama dengan Kai dengan waktu sedikit lagi daripada mereka harus berpisah sekarang.

“Aku bisa berjanji. Lebih baik aku yang meninggalkanmu, daripada aku harus melihatmu yang meninggalkanku, Jongin-ah. Terima kasih. Aku sangat mencintaimu”

Love Is Hurting Us.

Jam istirahat setelah mereka berlatih, Kai dan Kyungsoo selalu menuju ke taman dekat dorm walau berangkat secara terpisah, tanpa ada yang tahu mereka menuju ke tempat yang sama. Sebelum itu, mereka selalu membeli roti keju di mini market. Ini sudah kebiasaan mereka sejak Junior High School, mereka memang satu sekolah.

“Chagi, roti ini enak sekali. Daritadi aku menahan lapar saat berlatih gerakan yang memang sungguh sulit”

Kyungsoo tertawa melihat Kai yang kini memakan roti kejunya dengan lahap. Kai memang terlihat sangat kelaparan.

“Jongin-ah, kau tahu? Roti keju ini seperti cinta kita”

“Apa?” Kai mengehentikan acara makannya sebentar, lantas menatap kekasih di sampingnya.

“Rasanya asin. Cinta kita juga seperti ini. Tak akan manis”

“Apa maksudmu? Jangan bicara yang tak penting” Kai melanjutkan makannya. Kali ini dia tak ingin mendengar ucapan Kyungsoo yang memang seringkali pesimis dengan hubungan mereka.

“Tidak, Jongin. Aku hanya ingin memberitahumu. Jika suatu saat aku dijauhi mereka, kau pasti akan pergi meninggalkanku dan…”

“Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu”

“Kau bisa berjanji? Saat ini dan sampai nanti. Jangan pergi, Jongin-ah”

Kai tersenyum menatap Kyungsoo. Ia sering merasa detak jantungnya berpacu jika menatap Kyungsoo sedekat ini.

“Aku benar-benar mencintaimu, chagi. Dan aku sudah membuktikannya di hadapan semua hyungdeul juga Sehun saat di dorm kemarin, bukan?”

Love Is Hurting Us.

“Kau berhubungan dengan Kyungsoo hyung!? Apa kau gila, huh!? Kalian itu sama-sama lelaki! Salah satu dari kalian bukan perempuan! Dan, jika kalian menikah pun mana ada yang bisa melahirkan anak! Kau tak normal, Jongin”

BUGHH!

Kai mendaratkan bogem tepat di hidung teman seumurannya itu. Suho langsung berlari ke arah mereka diikuti member lain. Sehun menahan rasa sakitnya, sedangkan member lain kini sudah memisahkan mereka, tanpa Kyungsoo. Sebenarnya Kyungsoo mengintip kejadian itu dari balik pintu kamarnya bersama Kai. Ia sudah mendengarkan semua hinaan dari Sehun yang ditujukan untuknya juga Kai.

“Kau tak mengerti! Kalau kau yang merasakannya, kau juga akan melakukan yang sama denganku. Aku dengan Kyungsoo hyung juga saling mencintai, kau tak usah mencampuri urusan kami berdua!”

Teriak Kai sebelum ia pergi meninggalkan segerombolan penghuni drom tersebut.

“Hyung, apakah kau pikir Kai itu benar-benar tak normal?”

Luhan yang sedang mengompres bengkak di hidung Sehun hanya tersenyum.

“Cinta itu takdir. Mungkin memang takdir seorang Kim Jongin, diciptakan untuk hidup bersama Do Kyungsoo”

Love Is Hurting Us.

“Chagi, mulai sekarang kita pasti akan disibukkan dengan waktu training yang bertambah. Lagipula, waktu yang kita tempuh dari sekolah juga lumayan lama. Jadi, kita pasti tak akan ada waktu lagi untuk berkumpul dengan Jinhye di taman biasa”

Kyungsoo menatap kekasihnya itu seraya memiringkan wajahnya.

“Apa aku perlu memberitahunya? Dia juga belum tahu kita dijadikan sebagai trainee oleh salah satu manajemen terkenal di Seoul. Jika ia tahu, pasti ia akan bangga”

Kai lagi-lagi memegangi dadanya yang kini tengah bergemuruh. Detak jantungnya selalu lebih cepat saat ia dengan Kyungsoo membahas tentang teman masa kecilnya itu, Choi Jinhye.

“Tidak perlu. Lebih baik kau tak usah berkomunikasi dengannya lagi”

Kai takut secara tiba-tiba jantungnya akan meledak jika ia terus-terusan membicarakan tentang Jinhye, apalagi bertemu secara langsung.

Love Is Hurting Us.

“Saengil Chukkae Hamnida, Uri Jongin~”

“Jadi kau menyuruhku ke taman ini hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun, hyung?”

Kyungsoo mengangguk senang mendapati Kai sudah menepati janjinya, menemui Kyungsoo pada malam ulang tahunnya, sesuai dengan surat yang Kyungsoo tulis khusus untuknya.

“Lalu? Apa ada kado untukku?”

Kyungsoo menggeleng cepat. Kai kecewa. Hari ini ia belum mendapatkan apapun, termasuk dari teman masa kecilnya. Dan kini temannya pun juga tak membawa kado sama sekali.

“Tapi aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu”

“Apa? Aku sudah tidak sabar lagi”

Kyungsoo mendekatkan wajahnya pada Kai dan… CUP! Bibir Kyungsoo secepat kilat menyambar bibir yang pemiliknya berada di hadapannya. Kini pipi dua orang itu tengah memerah.

“Jongin-ah, aku menyukaimu. Aku tak tahu bagaimana aku bisa seberani ini, tapi aku menjadi lebih yakin saat kau bilang pada Jinhye bahwa kau menyukaiku. Juga saat kau menyelamatkanku dari hinaan teman-teman yang lain. Sekarang kau sudah tahu kan? Orang yang kusukai itu kau. Apa kau mau bersamaku? Bukan. Bukan sekedar teman. Tapi… sepasang kekasih, mungkin? Ah aku jadi bingung apa yang sedang aku bicarakan”

Kyungsoo mengusap tengkuknya yang kini ia benar-benar salah tingkah. Di awal ia memang pesimis, tak mungkin seorang Kim Jongin sama tak normal sepertinya sehingga menerima pernyataan cintanya. Tapi setelah ia mengungkapkan semua isi hatinya, ada rasa lega yang ia rasakan sekarang.

“Boleh” Kai menjawabnya singkat masih dengan rona merah di pipinya.

Love Is Hurting Us.

“Kau menyukai Jongin!?”

Terdengar nada kaget dari sumber suara, apalagi menyangkut seseorang bernama Kim Jongin. Kyungsoo sudah berkeringat dingin sejak Jinhye mengajaknya untuk berbicara, berdua.

“Sayangnya, dia menyukaimu… haha”

Kyungsoo tak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya untuk yang kedua kalinya. Matanya kini terbelalak hebat. Dihadapannya, Jinhye, kini tengah menahan tangisnya.

“Semoga bahagia”

Jinhye menepuk pundak Kyungsoo sekilas dan langsung berlari pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih dengan ekspresi kagetnya.

Love Is Hurting Us.

Jinhye tengah duduk menerawang di halaman rumahnya saat tiba-tiba Kai mengagetkannya.

“Apa yang kau lakukan bodoh!? Aku bisa mati disini karena terkena serangan jantung” teriak Jinhye sambil memukul kepala Kai. Kai hanya terkekeh geli sembari duduk di sebelah Jinhye.

Sebuah kotak berukuran sedang terbungkus kertas berwarna perak dengan rapi tengah diperhatikan sepasang mata dengan keheranan.

“Apa itu?” tanya Kai sambil menunjuk sebuah kotak di tangan Jinhye.

“Ha?” Jinhye gelagapan. “Ini… ini kotak kan” dengan cepat Jinhye menyingkirkannya dari pandangan Kai.

“Apa isinya? Untuk siapa? Ah… kurasa untuk kau berikan pada hari ulang tahunku nanti”

“Bodoh! Ini untuk lelaki lain. Jangan sembarangan!”

Jinhye pergi meninggalkan Kai dengan wajah memerah. Tangan Kai pun terlambat untuk mencegahnya pergi.

“Padahal aku mengharapkan hadiah darimu, Jinhye-ah”

Love Is Hurting Us.

“Kau ingin hadiah apa?” Kai menatap Jinhye heran sembari meletakkan buku yang sedang ia baca.

“Kau tak ingin memberiku surprise saja, huh? Tenang saja, aku akan menerima apapun yang kau berikan, Jinhye-ah” Kai mengerling genit membuat pipi Jinhye merona.

“Bodoh! Bukan… Bukan aku. Temanku yang ingin memberimu hadiah, dia yang menyuruhku menanyakan ini padamu. Cepat jawab!”

Mata Kai jelas-jelas berubah sendu. Ia kecewa dengan jawaban yang barusan dilontarkan Jinhye.

“Tidak. Tidak perlu” ia memasang wajah kesal. Membiarkan Jinhye yang langsung mendengus kesal juga.

“Huh kau ini keras kepala. Tapi temanku itu… temanku itu menyukaimu!” teriak Jinhye. Yang pasti hanya karangannya belaka. Tak mungkin dia mengungkapkan perasaannya pada Kai sekarang.

Sakit. Itu yang dirasakan Kai. Jinhye memang tak peka, pikirnya. Saat ini ia ingin mendengar bahwa Jinhye yang akan memberinya hadiah pada saat hari ulang tahunnya. Itu saja.

“Tapi aku tak suka dengannya” Kai masih cuek dan terus melanjutkan membaca buku pelajaran sejarahnya. Maklum ia ada test mendadak besok.

“Lalu?”

“Apa?”

Jinhye menggigit bibir bawahnya. Bingung akan bertanya pada Kai atau tetap memendam perasaannya mencari tahu siapa yang disukai oleh Kai.

“Siapa yang kau suka? Ini termasuk pertanyaan yang diajukan temanku itu”

“Kyungsoo hyung” jawab Kai asal dan langsung meninggalkan Jinhye. Kai pergi menahan tangisnya. Menahan rasa sakit di dadanya. Ia bukan lelaki cengeng. Tapi entah kenapa ia merasa sangat sedih saat Jinhye tak peduli juga cemburu dengan temannya itu. Yang artinya Jinhye tak menyukainya.

Jinhye langsung memegang dadanya yang terasa sesak. Ternyata perasaannya selama ini pada Kai hanya cinta sepihak.

Love Is Hurting Us.

“Permisi. Apakah ibumu ada, nak?”

“Siapa kau? Ibu! Ibu!”

Mendengar panggilan dari anaknya, ibu separuh baya berlari menuju pintu rumahnya. Wajahnya sumringah saat melihat siapa yang tengah berdiri di ambang pintu bersama anaknya.

“Nyonya Choi? Apa kabar? Wah wah akhirnya sudah pulang dari negara sebelah. Siapa ini? Lucu sekali” ucap ibu itu setelah bersalaman penuh rindu dengan tamu yang datang ke rumahnya.

“Iya Nyonya Kim. Ini anakku. Ayo Jinhye, perkenalkan dirimu”

“Annyeong, Choi Jinhye imnida. Umur 6 tahun” gadis kecil yang sedari tadi berdiri bersama ibunya di depan pintu rumah Nyonya Kim akhirnya bersuara dan tersenyum lebar dengan jari-jarinya yang membentuk angka 6.

“Manisnya. Ah, anak saya juga berumur 6 tahun. Jongin…”

“Kim Jongin. Kau bisa memanggilku Jongin” ucap anak lelaki yang tiba-tiba muncul di balik pintu. Wajahnya yang cuek tanpa senyum dibalas senyuman lembut dari putri kecil Nyonya Choi.

“Jongin-ah. Salam kenal” Jinhye mengulurkan tangannya sambil tersenyum yang dibalas oleh Jongin.

“Ayo kita berteman”

Love Is Hurting Us.

| E N D |

9 pemikiran pada “Love Is Hurting Us (Chapter 2)

  1. cinta itu rumit,bahkan kita tak kan pernah tahu kapan dan siapa yang kita cintai sebelum cinta itu pergi meninggalkan kita.Cinta itu hanya narkoba yang menjadikan kita kecanduan dan ketagihan dalam waktu yang sama.Hidup tanpa cinta mukin terlihat nyaman,tapi hidup tanpa cinta membuat kita tidak tahu apa itu arti dunia sebenarnya..

    nice ff,tetep semangat ya author…
    Sorry juga udah coment yang nggak asik ini ^^V

  2. daebakk thor 😀 terharu juga bacanya :” apalagi yang bagian flashback kai sma d.o. semangat thor!ditunggu ya ff selanjutnya 🙂

  3. thor sampai nangis bacanya . pas bagian terungkapnya ternyata d.o jadi surprise bgt . ceritanya bagus bgt ^^ ++++++ deh buat ff nya

  4. Ceritanya seru, gak ketebak, sedih :’)
    Tapi aku jadi bingung sama jalan ceritanya huh seseorang tolong jelaskan dong:’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s