Chapter Of Our Life (Chapter 7)

Chapter of Our Life (Part 7) -Final

Author : RahmTalks aka Han Min Ra

Genre : Family, Friendship, Angst

Length : Chapter | Rating: G

Main Cast : Do Kyungsoo, Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support cast: Oh Sehun, Lee Youngra (OC), Cho Seorin (OC)

AN : Okay, this is the final chapter and hope you like it.

chapter of our life-

=== CHAPTER OF OUR LIFE ===

“Aku tidak berbohong. Memang itulah yang terjadi, terserah kalian mau percaya atau tidak. Ah, kepalaku pusing, aku kembali ke kelas dulu.”

“Ya! Sehun!” Seorin noona menarik lenganku dan aku menoleh.

“Tak apa jika kau tak bersedia menceritakannya sekarang, aku akan menunggu sampai saatnya tiba.” Katanya yang sukses membuatku bergidik. Yeoja ini seperti bisa membaca pikiran orang lain.

 

===

 

Kyungsoo’s POV

Kami sudah sampai di China. Kami berangkat tidak hanya berdua melainkan bersama tiga orang laki-laki yang katanya teman Heechul ajusshi.

Di dalam taksi, tidak ada percakapan sama sekali. Suasana diantara kami menjadi berubah sejak kami berada di China. Heechul ajusshi menjadi bersikap dingin.

Taksi berhenti di sebuah rumah kecil yang sederhana.

“Ini rumah siapa?” tanyaku.

“Aku menyewanya. Selama di China, kita tinggal disini.” Kemudian ia langsung masuk ke halaman. Apakah akan selama itu berada di China? Mengapa harus menyewa rumah segala?

 

===

 

Baekhyun’s POV

Aku mulai yakin kalau niat Heechul ke China tidaklah baik. Setelah turun dari pesawat, dia terus diikuti dan seperti dikawal oleh tiga orang yang mencurigakan. Aku khawatir jika mereka golongan mafia atau apalah, pokoknya keberadaan mereka sepertinya merugikan orang lain.

Aku menaiki taksi dan mengikuti mereka. Dan apa yang kulihat? Mereka masuk ke dalam rumah dan Heechul sendirilah yang membuka kuncinya. Berarti itu rumahnya kan?

“Ajusshi…” Eh? Aku lupa, ini di China. Aku harus memakai uang apa untuk membayar? Tadi Chanyeol meminjamiku beberapa uang untuk pegangan, tapi tapi tapi?? Apa gunanya uang ini?

“Umm… bolehkah aku membayar dengan uang korea?” tanyaku pada sopir yang kebetulan adalah orang Korea.

“Tidak bisa. Kau harus membayar dengan yuan.”

“Tapi, aku tak punya…” kataku memelas. Setelah kubujuk dengan berbagai cara, akhirnya dia membiarkanku turun. Bahkan tanpa membayar. Ajaib bukan??

Aku berjalan ke sebuah kedai kecil tak jauh dari rumah sederhana itu. Hanya duduk, karena aku tak punya mata uang negara ini.

Pandanganku kosong ke depan. Apa dugaanku benar? Dia mengajak Kyungsoo tinggal di China dan hidup disini selamanya? Sebenarnya dia jahat atau baik sih? Aku bingung dengan sifatnya. Saat di rumah tadi bisa kurasakan aura di rumah jadi mencekam sejak dia datang dan membanting beberapa barang. Namun kulihat sikapnya pada Kyungsoo baik, terlampau baik malah. Aku takut itu hanya topeng. Mudah-mudahan dugaanku salah, ia benar-benar sudah berubah. Jika memang benar, tak apa jika Kyungsoo hidup bersamanya.

Chankaman! Sejak tadi aku tidak melihat Suji ahjumma. Apa dia benar-benar sakit seperti cerita Sehun dan Chanyeol? Ini juga perlu kucari tahu. Meski sikap mereka begitu, mereka tetap keluargaku kan?

Drrtzz…

From : Park Chanyeol

            Kau sudah di China? Petunjuk apa yang kau dapat?

Aku tersenyum membaca pesan darinya.

“Petunjuk? Seperti detektif saja.” Gumamku.

Tapi bisa juga ya, mengikuti orang bahkan sampai ke luar negeri hanya untuk mengetahui apa tujuannya. Kalau bukan detektif apa namanya? Penguntit?! Ayolah, aku bukan manusia serendah itu.

To : Park Chanyeol

Dia bersama tiga orang berbadan besar. Sekarang dia di dalam rumah yang entah rumah siapa aku tak tahu, tapi dia yang membuka kunci. Jadi, itu rumahnya kan? Bagaimana menurutmu?

Beberapa saat kemudian ponselku berdering nyaring.

“Yeobseyo?”

“Mwo?! Dia punya rumah di China. Tidak salah lagi, ini sudah dipersiapkan. Pasti niatnya buruk.”

“Suaramu keras sekali. Aku tidak tuli! Makanya kau cepat ke China dan kita selidiki bersama.”

“Aku juga inginnya begitu. Pesawatku berangkat satu jam lagi dan sekarang aku sedang menukar uang.”

“Nah, betul. Aku sangat merana disini karena tak punya sepeserpun.”

“Sabarlah, pahlawanmu akan datang.” Aish! Masih sempat ia bercanda.

“Kau ini!”

“Yasudah. Kututup dulu telfonnya.”

“Ne.”

Setelah lama duduk disini dan mengamati rumah yang sama sekali tak ada tanda-tanda mencurigakan, aku mulai bosan. Selain itu, aku juga merasa tak enak dengan pemilik kedai ini, sedari tadi aku menumpang duduk namun tak memesan apapun. Kuputuskan untuk meninggalkan tempat ini dan mencari tempat strategis lain untuk mengintai.

Drrrtzz

Getaran ponsel di sakuku membangunkanku.

“OMO! Kenapa aku bisa tertidur di saat seperti ini?! Jangan-jangan sudah ada pergerakan.” Omelku. Cukup lama juga aku tertidur, buktinya pesan dari Chanyeol mengabarkan kalau dia sudah berada di China.

Tak lama kemudian Chanyeol datang.

“Kenapa bisa tertidur? Apa kau sesantai ini?” dia langsung memarahiku seperti seorang ahjumma.

“Aku juga tak tahu. Aku hanya manusia biasa yang memiliki rasa lelah dan kantuk. Apa itu salah?” balasku.

“Ah, lupakan! Mana rumah yang kau maksud?”

“Disana, di ujung jalan dan berwarna hijau muda. Kelihatan kan?”

“Mengapa memilih tempat pengintaian sejauh ini? Memangnya tak ada tempat lain apa.”

“Aku hanya mencari tempat yang nyaman dan kurasa taman ini cukup nyaman karena teduh.”

“Arraseo. Alasan diterima. Jadi kita harus menunggu disini sampai ada pergerakan?”

“Ne. Semoga saja mereka tadi tidak kemana-kemana atau ada yang datang saat aku tertidur.”

 

===

 

At Night

Kyungsoo’s POV

Sejak sampai di China dan memasuki rumah ini aku sama sekali tidak melakukan aktivitas apa-apa selain nonton TV, makan, dan bermalasan di kamar. Katanya ahjumma ingin bertemu denganku, kenapa justru saat aku sudah disini tidak dipertemukan dengannya? Aku malah dibiarkan bermalas-malasan di kamar sementara Heechul ajusshi bermain kartu dengan teman-temannya.

Rasanya bosan. Biasanya Baekhyun hyung menjadi hiburan tersendiri bagiku. Yahh… sekedar mengobrol atau bahkan mengejeknya menjadi pengusir bosan. Aku jadi merindukannya. Aku ingin menghubunginya, kuputuskan untuk meminjam ponsel Heechul ahjusshi. Aku berjalan menuruni tangga, ruang tengah sepi sekali padahal tadi ada empat orang yang berbicara dan tertawa keras sekali.

Kudengar samar-samar suara Heechul ajusshi di salah satu kamar. Aku mendekati kamar itu. Pintunya tertutup sebagian dan dari celah kecil aku bisa melihat Heechul ajusshi duduk di ranjang memandangi dirinya di depan… Cermin?

“Ne. Aku sudah di China dan aku membawanya.”

“….”

“Lebih cepat lebih baik. Kau tahulah aku sangat membutuhkan uang saat ini.”

“….”

“Besok aku ke tempatmu.”

Heechul ajusshi menutup telponnya dan menekan beberapa tombol di ponselnya. Aku jadi penasaran.

“Yeobseyo, chagi? Kau baik saja disana kan?”

“….”

“Bersabarlah, ini juga demi menutupi tindakan kita. Besok aku akan datang ke tempat itu dan menukarnya. Dan kau tahu apa artinya?”

“….”

“Ne. Mulai besok kita akan menjadi milyarder.”

“….”

“Tentu saja. Anak bodoh itu gampang sekali dikelabuhi dengan tipuan murahan, sampai sekarang saja ia tak menanyakan kau berada di Rumah Sakit mana atau apalah. See, dia tidak peka sama sekali. Tidak salah kita memilihnya, bukan kakaknya.”

“….”

DEG

Apa maksudnya semua ini? Apa dia sedang berbicara dengan Suji ahjumma? Dan mereka membicarakan… aku? Apa yang akan mereka lakukan terhadapku?

“Aku yakin dia sehat. Kemarin aku sudah memberinya makanan yang banyak.”

“….”

“Setelah itu ya? Kita ajak dia tinggal bersama, atau mengusirnya? Menambah beban hidup saja.”

“….”

“Kau benar. Kita kaya juga karena dia, setelah dia operasi kita harus berterimakasih padanya, itupun kalau dia masih hidup. Hahaha…”

Perasaanku mulai tak enak, nada bicaranya terdengar kejam sekali. Berbagai dugaan muncul begitu saja di otakku. Operasi katanya? Untuk apa?

Selama ini perbuatan baiknya kepadaku hanya kedok semata? Sial! Seharusnya sudah kuduga sejak awal. Mereka memanfaatkanku, itu pasti. Dan tadi dia bilang apa? ‘…itupun kalau dia masih hidup’ ? Seketika aku merinding mendengarnya. Jika aku terus berada disini aku yakin hidupku dalam bahaya.

Aku sudah tak sanggup lagi mendengar pembicaraan sekejam itu. Aku mundur beberapa langkah dengan amat pelan, meminimalisasi volume langkah kaki yang kutimbulkan.

KRIET

Pintu kayu tua kamar Heechul ajusshi kini terbuka lebar. Sosoknya yang tinggi dan mukanya yang bengis menghiasi ambang pintu.

“Kau pasti sudah mendengar semuanya.” Katanya sambil mengangkat salah satu alisnya dan tersenyum licik.

“Kau! Benar-benar jahat! Apa yang sebenarnya kau rencanakan?!”

“Hey! Calm down… Duduklah, akan kujelaskan semuanya padamu.”

“Aku tidak suka berbasa basi.”

Ia menepukkan tangannya tiga kali dan ketiga orang temannya datang entah dari ruangan yang mana. Kemudian memaksaku duduk di sofa untuk satu orang. Ia duduk di depanku dan menghela nafas.

“Aku sudah bilang! Berhenti berbasa-basi.”

“Bicaralah lebih sopan, aku ini pamanmu. Kau masih ingat status kita kan?”

“Cih! Aku tidak sudi punya paman sepertimu. Aku manusia dan kau iblis! Tampak luar saja sudah berbeda.”

“Sepertinya uri Kyungsoo benar-benar marah. Baiklah, aku akan langsung ke topik utama.” Katanya dengan nada yang membuatku muak dan ingin memukul wajahnya.

“Kau masih ingat perusahaan appamu yang jatuh ke tanganku dan bibimu bukan? Sesuatu yang buruk telah terjadi, penjualan merosot tajam dan akhirnya kami bangkrut.”

“Kau benar-benar tak punya otak.” Emosiku benar-benar mencapai titik puncak. Bagaimana tidak? Perusahaan itu harusnya menjadi hak ku dan Baekhyun hyung. Namun dengan liciknya ia dapat memanipulasi semuanya dan merebut perusahaan itu dan sekarang ia malah membuatnya bangkrut. Aish! Jinjja…

“Kondisi perekonomian kami benar-benar terpuruk dan suatu hari aku bertemu dengan seseorang dari China yang memberiku penawaran cukup bagus dan sulit untuk kutolak. Dia… emm… singkatnya, kau tidak mempunyai suatu penyakit pada salah satu organ tubuhmu kan?”

“Ada. Hatiku sakit merasakan perlakuanmu yang seperti ini. Dan mataku rasanya sakit karena terus menerus melihatmu.” Perasaanku benar-benar tak karuan.

“Calm down. Sekarang aku hanya memintamu untuk beristirahat dan mempersiapkan dirimu untuk besok karena besok kau akan menjalani operasi.”

“Kau ingin menjual organ tubuhku?!”

“Ani… aku hanya akan menukarnya dengan kebahagiaan.”

“Kau benar-benar jahat! Kupikir kau sudah berubah. Tidak akan kubiarkan kau mengambil suatu apapun dari diriku karena kau tak mempunyai hak atas aku!”

“Sudahlah, kau harus menerima fakta bahwa begini-begini juga aku adalah walimu.”

“Jadi ini semua karena uang?! Kau tahu kalau kau adalah waliku, harusnya kau merawatku dan mendidikku, bukannya malah menjual bagian dariku!”

“Mianhae Kyungsoo-ya, kondisiku saat ini benar-benar terdesak. Perusahaan yang bekerjasama dengan kita terus menuntut ganti rugi atau jika tidak mereka tidak segan membawaku ke kantor polisi. Lagipula, dengan uang kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan bukan? Ayolah, kau tak usah munafik, kau juga membutuhkan uang untuk terus hidup bukan?”

“Jadi, sebegitu pentingnyakah uang bagimu dibanding anak asuhmu sendiri?”

“Bahkan aku rela membunuhmu asal aku mendapatkan uang.”

“Kau akan mendapat balasan atas ini semua.”

“Kita lihat saja nanti. Lebih baik kau tidur dan siapkan fisikmu untuk besok. Arra? Percayalah, ini tak semengerikan yang kau kira.”

Apa dia seorang psyco??! Aku bangkit dan melepaskan lenganku yang masih saja dicengkeram oleh kedua orang besar ini dan berlari menuju pintu keluar.

Sial! Dikunci.

“Kau mau kemana? Seharusnya kau membawa kunci saat mau pergi.”

Mereka mendekat, badanku terlalu kecil jadi aku tak mungkin menang melawan ketiga orang besar ini. Salah satu dari mereka memukul perutku dan menyeretku ke sofa tadi.

“Ternyata kau juga bisa melawan. Bereskan dia!”

Salah satu dari orang ini mengeluarkan jarum suntik dan sebotol kecil cairan entah apa dari dalam sakunya kemudian ia mengarahkan jarum itu ke lenganku.

“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!”

Entah cairan apa yang ia infeksikan ke tubuhku, yang pasti sekarang tubuhku jadi lemas dan mata juga kepalaku terasa berat.

 

===

 

Baekhyun’s POV

“Ini, makanlah. Dari tadi siang kita belum makan.” Chanyeol menyodorkan sebungkus makanan padaku. Aku tak mau melepas pengawasanku begitu saja ke rumah itu karena semakin malam perasaanku semakin tidak enak.

“Gomawo.” Jawabku singkat dan meletakkan makanan itu di sebelahku.

“Hey, makanlah. Aku kasian dengan perutmu.”

“Aku belum lapar.”

“Jika kau benar-benar khawatir, mengapa kau tidak kesana saja, mengetuk pintu, dan berbicara dengannya apa tujuannya membawa Kyungsoo ke China. Bukankah itu akan lebih menghasilkan daripada kita mengintai tidak jelas seperti ini.”

Padahal tadi siang dia semangat sekali tapi sekarang mudah sekali menyerah. Mungkin dia lelah.

“Kau lebih baik istirahat saja, kau pasti sudah kelelahan sejak tadi pagi.”

“Kau tidak menggubris ideku?” tanyanya sewot.

“Bukannya begitu. Kurasa idemu memang tidak buruk tapi, hello world… Apa yang akan dia katakan jika tahu kalau aku mengikutinya sampai ke China? Ingat, dia itu pintar dan licik, salah-salah dia malah yang balik mengintai kita dan membuat perjalanan kita sampai sini menjadi sia-sia.”

“Benar juga. Aku tidak berfikir sampai kesana. Kau jenius.” Katanya sambil memamerkan gigi dan mengacungkan jempolnya.

“Melihatmu begini aku jadi lapar. Kenapa kau hanya beli satu? Untukmu sendiri?”

“Aku sudah makan di kedai itu.”

“Oh, gomawo.”

DEG!

Apa ini? Kenapa firasat burukku semakin menjadi-jadi? Aku tidak tahan ingin segera bertemu Kyungsoo dan bertanya bagaimana keadaannya. Aku ingin sekali melihatnya saat ini.

Chanyeol dan aku sudah memposisikan diri di gazebo yanga ada di taman karena ini hampir pukul 2 dan aku yakin Chanyeol sudah mencapai puncak mengantuk dan kelelahan. Benar saja, baru beberapa menit berbaring dia sudah terlelap. Badanku pegal semua dan minta untuk diistirahatkan, jadi aku berbaring di sebelah Chanyeol dan ingin tidur walau hanya sejenak.

Rasanya baru sedetik aku terlelap, kurasakan sesuatu menyentuh wajahku. Aku berusaha membuka mata yang membuatku menyesali tidakan itu. Apa yang kulihat? Tumit Chanyeol terpampang indah di atas jidatku. Padahal barusan posisinya tidak begini.

“Ya! Park Chanyeol! Singkirkan kaki baumu ini dariku!” dia menggeliat mengubah posisi tidurnya jadi membelakangiku tanpa merasa berdosa sedikitpun.

Suara kicauan burung menyadarkanku akan suatu hal. Ini sudah pagi?! Aish! Baekhyun paboya.

Aku mengambil teropong yang dengan sengaja Chanyeol bawa. Pintu itu masih tertutup. Antara penghuninya belum bangun atau aku yang bangun kesiangan. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatianku, sebuah mobil terparkir di halaman rumah itu.

Sesaat kemudian pintu itu terbuka. Nah, ini yang kutunggu sejak kemarin. Keluarlah sosok dua orang besar yang kemarin kulihat bersama Heechul dan Kyungsoo dan mereka menggandeng Kyungsoo yang berada diantara mereka. Tidak biasanya Kyungsoo memakai kacamata juga topi dan tumben sekali dia mengizinkan orang lain menggenggam lengannya. Setelah itu Heechul keluar dan mengunci pintu.

“Chanyeol! Bangunlah, mereka bergerak!”

“Mwo?” Dia masih setengah sadar.

Akan terlalu lama jika menunggunya mengisi baterai jadi aku mengambil tindakan lebih dulu. Beruntungnya, sebuah taksi lewat di depan taman.

“Yeol! Ppali! Kita tidak punya waktu.” Dengan sigap kubereskan barang-barang dan memasukkannya ke dalam taksi dan terakhir menggelandang Chanyeol ikut masuk.

“YA! Pelan-pelan!” protesnya.

Kami sudah tertinggal lumayan jauh dari mobil itu namun untungnya sopir ini masih muda dan handal mengemudi jadi posisi kami sekarang sudah tepat berada di belakang mobil Heechul.

Mobil itu berhenti di depan rumah besar yang pagarnya tertutup rapat. Setelah mobil itu masuk, pagar kembali tertutup rapat. Bahkan halamannya pun tak dapat kulihat. Ini semacam tempat rahasia atau apa? Keanehan lain, rumah ini adalah satu-satunya rumah disini, kanan-kiri-depan-belakang adalah sawah dan kebun. Sementara pemukiman berada 100 meter dari sini.

“Apa yang kau pikirkan tentang tempat ini? Ini rumah atau semacam markas rahasia?” tanya Chanyeol yang rupanya sepemikiran denganku.

“Nan molla.”

Setelah membayar taksi kami segera mencari tempat yang nyaman yaitu dibalik pohon besar ini karena kami tak bisa berbuat apa-apa untuk menembus tempat yang sepertinya mencurigakan itu.

“Bagaimana kalau kita lapor polisi?” usul Chanyeol.

“What for?”

“Aku mencium hawa jahat disini. Jangan-jangan ini markas mafia, gankster, atau bandar narkoba. Dan Heechul berusaha merekrut Kyungsoo untuk ikut andil dalam hal ini.” aku hanya tersenyum garing mendengar pernyataan atau mungkin khayalan bodoh dari otak Chanyeol.

Tak lama setelah itu, sebuah taksi berhenti di depan rumah itu. Tebak siapa yang turun? Itu Suji ahjumma, bukankah dari cerita Chanyeol dan Sehun ia sedang sakit parah?

 

===

 

At Other Place

Youngra’s POV

Sejak Kyungsoo tak masuk perasaanku jadi tak enak dan tadi pagi firasat buruk itu datang lagi. Firasat ini datang dari dia atau orang lain? Atau justru dariku sendiri yang siapa tahu akan mendapat hal buruk? Mana Sehun belum mau angkat bicara soal kejadian yang sebenarnya.

“Kenapa melamun?” tanya Sehun yang duduk di sebelahku.

“Kau masih belum mau menceritakan yang sebenarnya padaku? Ayolah, cerita saja. Aku sering mendapat firasat buruk akhir-akhir ini. Aku mengkhawatirkan Kyungsoo.”

“Sudah kubilang dia menjenguk neneknya yang sakit. Dia tidak akan kenapa-kenapa kecuali…”

“Kecuali?”

“Kecuali dia tertular penyakit neneknya.”

“Candaanmu kali ini banar benar tidak lucu.”

Lebih baik aku bekerja sama dengan Seorin eonni untuk mencari tahu hal ini.

Sehun’s POV

Rupanya Youngra mempunyai firasat yang sama denganku. Bahkan firasat burukku sudah muncul saat paman Kyungsoo membawanya pergi saat di makam eommanya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu apapun yang buruk menimpa mereka. Namun aku akan tetap percaya pada Chanyeol hyung yang sudah berjanji akan pulang dengan selamat bersama mereka. Aku percaya bahwa Baekhyun hyung adalah hyung yang baik bagi Kyungsoo yang pastinya tak akan membiarkan suatu apapun terjadi pada Kyungsoo. Aku juga percaya pada Kyungsoo yang bisa menjaga dirinya sendiri. Dan aku percaya pada Tuhan yang pasti akan melindungi mereka.

Aku jadi penasaran apa yang sedang mereka lakukan sekarang dan bagaimana perkembangannya.

“Permisi songsaengnim, bolehkan aku izin ke kamar mandi?”

“Ne, silakan.”

Aku masuk ke dalam toilet dan memencet beberapa tombol di ponselku.

“Yeobseyo, hyung?”

“Mwo?” kata suara berat itu.

“Kalian sedang apa? Bagaimana keadaan kalian? Kyungsoo sudah bersama kalian? Hyung, firasatku tidak enak.”

“Kami sedang berada di depan sebuah rumah besar yang kucurigai sebagai markas atau, entahlah. Kyungsoo sangat sulit untuk diakses. Dia seperti dikawal oleh beberapa orang yang berbadan besar. Tenanglah, aku disini juga sedang berusaha mencari tahu niatan mereka baik atau buruk terhadap Kyungsoo.”

“Sepertinya menakutkan. Hati-hati ya… Jika ada apa-apa lebih baik segera lapor polisi daripada kalian repot menyelesaikannya sendiri. Oh iya hyung, tadi pagi appa mencarimu, ingin bicara katanya.”

“Bingo! Aku lupa jika appa juga di China.”

“Ne. Kau juga bisa meminta bantuannya jika ada apa-apa.”

“Lalu, apa yang tadi kau katakan padanya?”

“Aku bilang kau sudah berangkat karena ada jam tambahan pagi.”

“Anak pintar. Mianhae, kau pasti sudah berbohong pada banyak orang.”

“Kau harus tanggung jawab, kau membuat dosaku bertambah banyak.”

“Hehe… Ketika aku pulang, akan kupertanggungjawabkan semuanya dan sebagai gantinya akan kutraktir kau selama seminggu.”

“Jinjja?!”

“No! Haha… seminggu terlalu lama, dua hari saja cukup.”

“Dasar pelit. Baiklah, jaga diri baik-baik disana dan kau harus ingat janjimu untuk pulang dengan selamat.”

“Ne. Doakan aku.”

“Siap hyung.”

“Eh…. Tunggu!”

“Apa lagi?”

“Jika kau bertemu Seorin, jangan beritahu apapun meskipun dia memaksa. Aku tahu dia kepo setengah mati dan pasti mengandalkan segala cara untuk mencari tahu ini itu. Aku tahu ini sulit tapi…. Kau jangan sampai terlena oleh hal itu. Arra?”

“Tenang saja hyung. Semua rahasia aman di tanganku.”

KLIK

Sambungan terputus dan aku kembali ke kelas.

 

===

 

At Other Place

Author’s POV

“Jadi apa yang akan kau tukarkan?”

“Ginjalnya sehat. Kapan transaksi berlangsung?”

“Sabar, setelah operasi berlangsung baru dilaksanakan transaksi. Tapi kau harus melakukan perjanjian dulu.”

“Apa lagi? Aku sudah memenuhi semuanya.”

“Setelah operasi berlangsung dan transaksi sudah terjadi, jika terjadi apa-apa padanya menjadi tanggung jawabmu. Gerakan ini sangat rahasia jadi lebih baik kau turuti perkataanku jika kau masih ingin hidup lama.”

“Kalian meremehkanku? Aku juga bisa bermain seperti kalian.”

“Aku rasa kau cukup mengerikan. Buktinya kau rela menukar organ anak asuhmu dengan uang yang tak seberapa. Memangnya tak ada orang lain apa? O iya, kami kekurangan anggota. Berhubung kami akan memperluas pasar dan jaringan, jika kau berminat untuk menjadi anggota tetap kami, akan kami terima dengan senang hati. Disini juga banyak agen dari Korea jadi kau akan mudah mendapat partner.”

“Akan kupikirkan dan kupertimbangkan.” Heechul tersenyum licik.

“Tentu saja uang yang kau terima akan jauh lebih banyak.”

“Senang berbisnis denganmu.”

“Tuan, pasien yang anda bawa sudah sadar dan sekarang dia mengamuk dan berusaha kabur. Bagaimana? Apa perlu dilaksanakan sekarang?”

“Bagaimana Heechul-ssi?”

“Terserah sajalah.”

Orang tadi berjalan menuju suatu ruangan dimana Kyungsoo ada di dalamnya.

“Anak muda, diamlah. Tak ada gunanya kau berusaha kabur.”

“Bagaimana jika kau menjadi aku sekarang? Apa yang akan kau lakukan? Pasti kau akan melakukan hal yang sama bukan?!”

“Ini tak semenyakitkan yang kau bayangkan. Tak akan mampu menandingi sakit di hatimu.”

“Sebenarnya kau ada di pihak mana?” tanya Kyungsoo meremehkan.

“Aku, aku di pihak mereka tentunya karena mereka membayarku. Saat ini aku sedang menenangkanmu dan membangun mentalmu.” orang itu berkata sejujurnya.

“Ternyata kalian sama saja. Aku yakin orang-orang di ruangan lain di rumah ini adalah orang yang bernasib sama denganku.”

“Kebanyakan memang begitu. Yatim piatu dan berakhir disini. Sudah cukup berbasa-basinya, sekarang kita mulai atau mereka akan memotong gajiku karena terlalu lama dalam bekerja.”

“Tidak akan semudah itu!” Kyungsoo meraih gunting dan mengacungkannya pada orang di depannya.

“Aku sedang tidak ingin bermain anak muda. Lepaskan gunting itu!”

“Kau pikir aku mau?!”

Orang tinggi tersebut keluar dan kembali bersama dua orang besar berkulit coklat. Mereka mencengkeram lengan Kyungsoo membuatnya tak bisa bergerak sama sekali karena badan kecilnya bukan tandingan yang seimbang dengan mereka.

“Tenang anakku, ini tak akan terasa sakit. Saat kau bangun kau akan merasa seolah tak pernah terjadi apa-apa.”

Jarum suntik berisi cairan kembali menginfeksi tubuh Kyungsoo dan tak lama kemudian ia kembali tak sadarkan diri. Dia memulai operasinya dengan sebuah robekan di perut bagian kiri Kyungsoo.

 

===

 

Sebuah mobil yang cukup mewah berhenti di depan rumah yang digunakan sebagai sarang jaringan penjual organ manusia secara illegal. Kemudian keluarlah seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik. Dari penampilannya menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita karir yang sukses.

“Buka!! Cepat bukakan!” Dia berteriak sambil menangis di depan gerbang tinggi itu.

Chanyeol dan Baekhyun yang mulai bosan menunggu kini mempunyai objek untuk diamati.

“Tolonglah… Anakku di dalam. Akan kulaporkan ke polisi jika kalian tak membukakan gerbang!”

“Sebenarnya ini tempat apa? Kenapa dia memakai bahasa Korea? Memangnya anak orang itu tinggal disini? Siapa anaknya? Kenapa dia tak boleh masuk sementara Heechul dan bibimu itu boleh? Dan tadi dia bilang lapor ke polisi? Ada masalah apa sebenarnya?” tanya Chanyeol bertubi-tubi.

“Memangnya siapa yang tahu. Bagaimana jika kita bertanya padanya agar tak mati penasaran disini? Kurasa dia bisa memberi petunjuk.”

“Kajja.”

.

“Ehem… Permisi? Maaf jika kami terlalu ikut campur, tapi, kenapa anda berteriak sambil menangis begini?”

“Tolong bantu aku. Jebal… Anakku di dalam, selamatkan dia…”

“Selamatkan dari apa?”

“Tempat ini, sarang dari jaringan penjual organ manusia secara illegal. Mantan suamiku membawa anakku kesini. Aku takut mereka mengambil salah satu organ anakku.” Wanita itu masih terus menangis dan menggedor-gedor pagar itu dengan kekuatannya yang tersisa.

Seketika Baekhyun mematung.

“Baekhyun… Gwaenchana?”

“Kyungsoo. Dia dalam bahaya!”

“Sepertinya percuma jika kita berteriak karena pasti mereka tidak akan membuka pintu. Aku akan lapor polisi.” Kata Chanyeol namun tak ada tanggapan dari siapapun.

Baekhyun berusaha mendorong dan menggedor pagar besi kokoh itu dengan balok kayu yang tentu saja sia-sia.

“Apa yang kau lakukan? Tenangkan dirimu.”

“Bagaimana bisa aku tenang?! Adikku di dalam sana sedang dalam bahaya dan bisa saja saat ini dia sudah meregang nyawanya. Aku harus cepat sebelum benar-benar terlambat.” Baekhyun benar-benar emosi.

Pagar itu terbuka secara perlahan, Chanyeol menarik Baekhyun yang masih shock dan wanita itu. Namun tangannya tak cukup kuat sehingga ia hanya membawa Baekhyun menghindar dan bersembunyi di semak-semak samping rumah itu.

Chanyeol melihatnya, tindakan yang sangat kejam. Seorang laki-laki berbadan tegap dan seorang lelaki paruh baya menyeret wanita itu masuk ke dalam pagar dengan menjambak rambutnya. Wanita itu memberontak, namun lelaki paruh baya itu malah memukulnya.

Baekhyun sekuat tenaga melepaskan tangannya dari tangan Chanyeol yang mengunci pergerakannya. Ia juga menggigit tangan Chanyeol yang membungkam mulutnya. Namun sia-sia karena Chanyeol mahir akan hal ini.

Setelah keadaan tenang dan pagar kembali tertutup, Chanyeol menghentikan kegiatannya tadi.

“Diamlah! Akan sangat berbahaya jika kau berakhir seperti wanita tadi.”

“Posisiku sama dengannya! Aku harus masuk ke dalam.” Baekhyun berteriak histeris.

PLAK

Chanyeol menampar Baekhyun. Setelah itu keadaan Baekhyun mulai menenang.

“Aish! Heechul ini benar-benar pembuat masalah. Sepertinya aku harus tetap disini menemanimu.”

Chanyeol menekan beberapa tombol ponselnya.

“Yeobseyo, appa? Appa, aku sekarang berada di China, di Baeijing. Kau juga kan? Aku butuh bantuanmu.”

.

Sesaat kemudian…

Nguing nguing nguing nguing

Suara sirine polisi.

“Cepat sekali. Baguslah.” Gumam Chanyeol.

“Kau berhutang sebuah penjelasan padaku.” Kata Jungsoo.

“Yak, nanti saja appa. Keadaan sedang gawat.”

Polisi mengepung rumah itu dan dengan mudahnya dapat menembus pagar nan kokoh itu.

“Hey! Tenangkan dirimu nak, diam saja disini. Percayalah, semua akan baik-baik saja.” Jungsoo mencegah Baekhyun.

“Tapi Kyungsoo…”

“Iya Kyungsoo, dia akan baik saja, serahkan semua pada Tuhan.”

Tiba-tiba dari dalam keluarlah Heechul dan Suji yang berlari menghindari polisi. Namun sialnya, tembakan polisi itu tepat mengenai kaki mereka sehingga melumpuhkan gerakan mereka.

“Heechul ajusshi, ahjumma, ternyata kalian lebih jahat dari yang kukira!”

“Mianhae Baekhyun, kami benar-benar menyesal. Kami…”

BUGH

Baekhyun memukul wajah Heechul dengan penuh emosi dan segera ditarik kembali oleh Chanyeol.

“Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Kyungsoo. Kau akan menjadi orang yang paling kubenci seumur hidup dan aku tak akan pernah memaafkanmu!”

“Sudahlah Baekhyun. Jangan biarkan emosi menguasai dirimu.” Nasihat Jungsoo.

Baekhyun panik dan berlari ke dalam mencari Kyungsoo diikuti Chanyeol dan Jungsoo di belakangnya. Di suatu ruangan dengan pintu yang terbuka lebar, disanalah dia, Kyungsoo tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur dengan bagian perutnya yang berlumuran darah. Baekhyun tak bisa berkata-kata lagi selain menangis dan mengutuki dirinya sendiri.

“Aku gagal! Aku gagal menjaganya! Aku gagal menjadi hyungnya!”

Chanyeol hanya bisa mengelus pundak dan punggungnya untuk menenangkannya.

“Astaga, tubuhnya dingin dan nadinya lemah sekali. Kita bawa ke rumah sakit sekarang.” Kata Jungsoo.

Sementara itu, di luar sudah ada sirine ambulance datang mendekat.

 

===

 

At Hospital

“Jika kau bilang padaku sejak awal mungkin tak akan begini jadinya.”

“Mianhae appa, kami hanya tak ingin membuat repot semua orang karena kami pikir tak akan begini jadinya. Kami hanya menganggap pengintaian kemarin hanya untuk iseng sekedar mencari tahu apa yang mereka lakukan. Itu saja.” Kata Chanyeol.

Jungsoo menghela nafas berat. “Semua sudah terjadi, tak ada gunanya saling menyalahkan.”

CKLEK

“Bagaimana dokter?”

“Orang-orang itu benar-benar keterlaluan. Mereka melakukan operasi secara asal-asalan tanpa prosedur yang benar. Singkatnya, ada luka yang cukup parah di dalam perut kirinya dan itu bisa menyebabkan infeksi yang berakibat fatal.”

“Apa itu bisa disembuhkan? Kumohon, selamatkan dia.”

“Aku akan berusaha. Kalian berdoalah, sebentar lagi kami akan melakukan operasi.”

Dokter itupun berlalu.

“Baekhyun-ah, bersabarlah. Kita hanya bisa berdoa.” Kata Jungsoo dan saat itulah ponselnya berdering.

“Halo?”

“….”

“Kepolisian?”

“….”

“Aku akan kesana sekarang.”

“Baekhyun, kita ke kantor polisi sekarang.” Baekhyun mengangguk.

“Yeol, jika ada apa-apa hubungi aku.” Kata Baekhyun, dan Chanyeol mengangguk pasti.

.

Beberapa jam kemudian….

“Ternyata sudah dipindahkan, kami bingung mencari ruangannya. Bagaimana? Apa operasinya berjalan lancar?” tanya Jungsoo seraya masuk ke menghampiri Chanyeol yang berada di ruang rawat Kyungsoo.

“Ne. Dokter sudah berusaha dan juga berkat doa kita.”

“Sampai kapan dia begini?”

“Kata dokter sebentar lagi dia juga sadar.”

“Syukurlah.”

Baekhyun menggenggam tangan Kyungsoo dan bergumam,

“Rupanya aku terlambat. Mianhae… Harusnya aku tak berbasa basi dengan melakukan pengintaian bodoh itu. Aku menyesal, namun penyesalan tidak ada gunanya bukan? Lalu sekarang? Lihat apa yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa menangis di depanmu, aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menjamin tak akan terjadi sesuatu yang buruk padamu. Mianhae, aku bukan hyung yang baik. Dan aku juga bukan anak yang baik karena tak bisa menjaga amanah appanya agar selalu menjaga dongsaengnya. Masih pantaskah aku berada di dunia ini? Saat kau tersadar nanti kau boleh memarahiku atau menghinaku, akan kuterima.”

“Jangan bicara begitu Baekhyun.” Kata Chanyeol.

“Aku merasa gagal dalam menjalani kehidupan ini, aku membuat semua orang kecewa. Jadi bukankah lebih baik jika aku tak pernah berada di dunia?”

“Lalu kau akan membiarkan Kyungsoo melewati kehidupannya sendirian, tanpamu? Bukankah kau bilang kau akan selalu menjaganya?”

“Tapi…”

“Kehidupan itu untuk dijalani karena hidup adalah karunia terbesar dari Tuhan. Jadi, tidaklah pantas jika kau menyesali pemberian Tuhan.”

“Benar kata Chanyeol, kau jangan menyerah semudah ini. Lebih baik kau berdoa agar Kyungsoo cepat membaik.” Kata Jungsoo.

“Ya, akan kami akan membatumu menghadapi semua ini.”

“Gomawo. Kalian terlalu baik.”

Bibir Kyungsoo bergerak, namun tak mengeluarkan suara. Tak ada yang menyadarinya hingga ia berhasil mengeluarkan suara untuk mengatakan, “Hyung…”

“Kau sudah sadar?” Baekhyun terkejut, begitupun Chanyeol dan Jungsoo.

Perlahan Kyungsoo membuka matanya.

“Hyung…”

“Syukurlah. Gwaenchana? Apa masih sakit?”

“Kenapa kalian bisa disini?” tanya Kyungsoo pelan sekali.

“Ahh… ceritanya panjang…”

……

“Apa kau tidak lelah bercerita sejak tadi? Tadi habis menangis, sekarang malah semangat sekali.”

“Yah… appa, perasaanku sedang cerah karena dongsaengku ini sudah bangun dari tidur cantiknya.”

“Kau tadi menangis hyung?”

“Iya, dia menangis keras sekali seperti orang gila. Apalagi saat di depan rumah besar itu, harusnya kau melihatnya tadi. Ah, sayang sekali aku tak merekamnya.” Goda Chanyeol.

“Aish! Kau jangan membuka rahasia perusahaan. Aku hanya khawatir padanya, itu saja. Aku yakin kau juga akan begitu jika berada di posisiku, lebih parah mungkin.”

“Aku tidak se-mellow dirimu…”

“Sudah-sudah, aku melanjutkan dongengku saja. Jadi, pada akhirnya mereka besok dipulangkan ke Korea dan melanjutkan persidangan di sana. Em… aku diundang dalam persidangan itu jadi, kau disini baik-baik dengan Chanyeol ya. Aku pasti segera kembali.”

“Appa juga ikut? Katanya ada urusan perusahaan?” tanya Chanyeol.

“Iya. Aku sudah menyerahkannya pada asistenku. Hal ini jauh lebih penting daripada urusan perusahaan karena ini untuk menyelesaikan masalah hak asuh.”

“Arraseo. Appa, Baekhyun, fighting! Keadilan harus ditegakkan.” Chanyeol dengan semangat empat lima mengucapkan dialog itu sambil mengepalkan tangannya ke atas.

 

===

 

Pada akhirnya Heechul dan Suji menerima hukuman 25 tahun penjara karena tergabung dalam sindikat penjualan organ manusia secara illegal serta kasus penganiayaan dan kekerasan terhadap anak di bawah umur yang didasarkan pada pengakuan Baekhyun. Sementara hak asuh Baekhyun dan Kyungsoo jatuh ke tangan Jungsoo.

 

===

 

BRAK

“Yak! Pelan-pelan Baekhyun! Kau pikir aku dan Kyungsoo tidak punya jantung apa?”

“Hehe… Aku hanya ingin kalian tahu kalau aku sudah datang.”

“Kau seperti harimau mengamuk saja hyung.” Kyungsoo terkekeh.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Chanyeol penasaran.

“Mereka dihukum 25 tahun penjara. Rasakan! Dan hak asuhku dan Kyungsoo diserahkan pada appa.”

“Yihay!! Eh, ngomong-ngomong mana appa?”

“Mengurusi urusan bisnisnya.”

“Ohh….”

 

===

 

Semakin hari keadaan Kyungsoo makin membaik, hingga pada suatu hari saat hanya ada dirinya dan Baekhyun yang berada di ruangan itu,

“Hyung, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Bicara saja.” Baekhyun masih belum berpaling dari TV.

“Kesini hyung! Aish, apa kau lebih mementingkan acara dengan bahasa aneh itu daripada dongsaengmu sendiri?”

“Ya ya… Ada apa? Kenapa akhir-akhir ini kau manja sekali? Bahkan melebihi Sehun.” Baekhyun mendekati ranjang Kyungsoo.

“Begitu ya?” kata Kyungsoo dengan ekspresi murung.

“Yah… jangan marah, aku hanya bercanda.”

“Aku tidak marah. Aku hanya berhenti sejenak untuk menghirup udara.”

“Arraseo. Terserahlah, apa yang ingin kau katakan?”

“Hyung, menurutmu selama ini aku bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Selama ini bagaimana sifatku? Baikkah? Jahatkah? Aku jahil ya?”

“Emm… Kau selalu jahat padaku karena terus mencari celah untuk menjahiliku. Haha…”

“Aku serius hyung.”

“Arraseo. Kau anak baik, tidak pernah menyusahkan orang lain. Selalu sabar, dan aku sangat menyayangimu. Mengapa kau bertanya tentang hal ini?”

“Aku hanya memikirkan, bagaimana nantinya aku saat dipanggil Tuhan. Aku akan dimasukkan ke surga-Nya atau neraka. Karena kau bilang aku anak baik, aku jadi agak lega dan rasa takutku sedikit berkurang.”

“Perkataanmu membuatku ngeri.”

“Em… aku sangat merindukan Sehun, Youngra, juga teman-temanku yang lainnya. Saat di Korea nanti sampaikan salamku pada mereka ya.”

“Kenapa aku? Kau kan teman mereka, kenapa harus lewat aku?”

“Aku takut aku tidak akan sempat.”

“Nah kan, pembicaraanmu membuatku semakin merinding. Kau sudah sembuh kan? Paling tiga hari lagi sudah boleh pulang. Sudah dulu ya, aku mau melanjutkan nonton TV.”

Kyungsoo menggenggam erat tangan Baekhyun.

“Tanganmu dingin sekali. Omo! Kau harus minum obat.”

“Shireo. Masih ada yang ingin kukatakan.”

Baekhyun menuruti saja karena tatapan sayu dari wajah pucat Kyungsoo membuatnya iba.

“Aku ada permintaan. Aku akan sangat bahagia jika permintaan ini dikabulkan.”

“Apa? Akan kuusahakan karena selama ini kau tidak pernah meminta sesuatu yang sulit kepadaku.”

Kyungsoo menghela nafas panjang. “Jika waktuku sudah tiba, aku ingin dimakamkan di samping makam eomma dan appa.”

“Sudah cukup! Kenapa sejak tadi perkataanmu menjurus ke hal-hal semacam itu?! Kau mau meninggalkanku?!”

“Aku tidak tahu hyung. Tapi perasaan itu tiap hari makin kuat, dan hari ini sepuluh kali lebih kuat dari yang kemarin. Aku takut… ini sudah waktuku.”

“Hentikan! Tuhan tidak akan sekejam itu mengambil nyawamu secepat ini.”

“Tuhan tidak kejam, dia Maha Pengasih. Setidaknya sampai usiaku sekarang ini dia mengizinkanku merasakan indahnya kehidupan, meski hanya sesaat, tapi sudah membuatku bahagia dan merasa beruntung bisa terlahir di dunia ini dan melihat semuanya. Merasakan kasih sayang keluarga, teman, tertawa bersama, bercanda bersama… Semua itu sudah cukup membuatku bahagia.”

“Kau masih akan merasakan kebahagiaan untuk beberapa tahun mendatang. Yang kemarin masih belum seberapa.” Baekhyun mati-matian menahan air mata mendengar dongsaengnya berkata seperti itu. Di dalam hatinya ia merasa amat takut, takut jika ini benar-benar sudah waktunya.

“Aku menyayangi eomma, appa, Jungsoo appa, Sehun, Chanyeol hyung, Youngra, dan kau adalah orang yang paling kusayangi. Karena kaulah, aku bisa bertahan hidup setelah kepergiaan appa.”

“Aku juga menyayangimu. Maka dari itu, tetaplah bersamaku dan menemaniku bermain.”

“Jangan menangis hyung. Aku sedih jika melihatmu seperti ini, berbahagialah untukku. Karena jika kau senang maka aku akan senang, jadi aku dapat pergi dengan tenang.”

Baekhyun menggeleng kuat. Sementara Kyungsoo terdiam cukup lama dan nafasnya mulai tersengal-sengal.

“Mianhae hyung, aku tak bisa. Aku… menyayangimu.”

Detik itu juga, Kyungsoo berpulang ke hadapan Sang Pencipta dengan damai dan dengan senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

Baekhyun yang langsung menyadari bahwa adiknya sudah tak bernafas lagi tak bisa berkata apa-apa. Tak ada sedikitpun suara yang keluar dari bibir mungilnya, yang keluar hanyalah air mata yang sudah menganak sungai sejak tadi bahkan sekarang bertambah deras. Hatinya sakit, apalagi melihat adiknya tertidur dengan wajah damai seperti tak ada beban sedikitpun. Dia memeluk Kyungsoo erat, pelukan perpisahan.

 

===

 

Baekhyun’s POV

Inilah garis takdir yang Tuhan berikan pada Kyungsoo dimana mau tidak mau dia harus menjalaninya. Usianya harus terhenti ketika ia masih harus merasakan masa-masa sekolah dan bermain. Masih sangat muda kan? Beginilah, jika Tuhan sudah menentukan nasib seorang umat, tak ada satupun yang bisa menghindar atau mengelak. Bagaimanapun caranya pasti akan terjadi juga.

Lalu bagaimana denganku? Tuhan memang selalu punya rencana bagi tiap hamba-Nya. Tapi kenapa bukan aku saja yang berada di posisi Kyungsoo? Aku siap saja jika diminta menggantikannya. Tapi aku bisa apa? Tidak mungkin kan jika aku protes? Kehidupanku yang sekarang bahkan jauh lebih baik daripada di rumahku yang dulu, namun tetap saja ada yang kurang karena tak lagi ada dongsaeng terbaik sepanjang masa. Tapi kehidupan terus berlanjut bukan? Kujalani saja skenario dari Tuhan untukku. Mana mungkin aku bisa menentang ataupun menghindar jika akhirnya sama saja, semua manusia juga akan meninggal, hanya cara dan waktunya saja yang berbeda. Mungkin bagi Kyungsoo, cara itu adalah cara paling baik untuknya dan masa tenggang hidupnya memang terbatas hanya sampai sini. Lihat saja dari mukanya, dia malah menunjukkan ekspresi bahagia dan damai sekali. Tidak tahukah bagaimana perasaaanku saat melihat itu? Kau mengejekku yang cengeng ini?

Takdir kehidupan. Siapa yang bisa menduga?

 

===

 

Author’s POV

Beberapa orang berpakaian serba hitam bergerombol di depan sebuah gundukan tanah yang masih basah. Disanalah, tempat peristirahatan terakhir Kyungsoo yang meninggal dengan damai dan tenang.

Setelah beberapa orang mulai meninggalkan tempat itu, ada diantaranya yang masih setia berdiri mematung disana.

“Hei! Kalian jangan menangis! Kyungsoo akan sedih jika tahu kalian menangis.” Kata Baekhyun.

“Mianhae oppa. Aku tak bisa menahannya, aku sangat merindukannya.” Kata Youngra.

“Dia juga merindukanmu. Jangan menangis. Lihat, wajahmu jadi kusut saat menangis. Kau ingin Kyungsoo melihatmu dengan keadaan seperti ini? Dan kau Sehun. Aigoo… kau ini namja, kenapa ikut menangis?”

Sehun secara reflek memeluk Baekhyun.

“Kenapa dia pergi secepat ini? Dia belum mengucapkan salam padaku. Terakhir aku berpisah dengannya di tempat ini. Dan sekarang, haruskah aku benar-benar berpisah dengannya di tempat ini juga?”

“Kau jangan menambah beban Baekhyun. Dia sudah sangat terpukul dengan ini, kau malah menambah bebannya.” Celetuk Chanyeol.

“Gwaenchana. Aku tidak merasa terbebani oleh Sehun. Relakan saja dia, Sehun, dia sudah pergi dengan tenang, jangan buat dia kesusahan karena melihat air mata kalian.”

“Benar yang Baekhyun katakan. Kyungsoo akan sedih jika kalian bersedih, kalian kan sahabat terbaiknya, jadi pasti ia bisa merasakan apa yang kalian rasakan. Jika kalian sedih, dia juga akan sedih disana. Jangan menangis ya…” kata Seorin, padahal dia sendiri sudah mati-matian menahan agar air mata di pelupuk matanya tidak mengalir. Cerita tentang Kyungsoo benar-benar membuatnya merasa iba dan kasihan. Ternyata ada juga kisah semacam itu di dunia nyata.

“Kalau kau mau menangis, menangis saja.” Kata Chanyeol di sebelah Seorin, kemudian ia merangkulnya. Maka tumpahlah air mata itu di dada Chanyeol.

“Yah… malah tambah satu lagi yang menangis. Sudah, cup cup cup.” Baekhyun menepuk punggung Seorin.

“OMO! Gerimis, kajja kita ke mobil.” Perintah Jungsoo dan semuanya segera meninggalkan tempat itu kecuali Baekhyun yang masih terus menatap nisan di depannya.

“Baekhyun-ah… Yang selama ini kau berikan untuknya adalah yang terbaik dari yang kau punya karena kau melakukannya dengan penuh rasa kasih sayang dan tanggung jawab. Tanpa kau duga, kau sudah berhasil menjadi hyung yang sangat-sangat baik, kau bahkan masih setia menjaganya hingga di ujung usianya. Dia pasti bangga mempunyai hyung sepertimu. Relakan saja, buat dia tenang di alam sana. Kau tidak sendirian, masih ada kami.” Kata Jungsoo sambil tersenyum dan menepuk pundak Baekhyun yang dibalas dengan senyuman khas Baekhyun yang seolah-olah mengatakan ‘Terimakasih’. Kemudian Jungsoo melangkah mengikuti anak-anak.

Sesaat kemudian setitik air mengalir di bawah mata Baekhyun. Bukan air hujan, itu air matanya.

“Untuk kali ini saja, jangan melarangku menangis. Bagaimana bisa aku menahan tangis atas kepergianmu? Aku sangat sedih, kau pasti tahu itu.” Baekhyun terisak.

Angin yang berhembus agak kencang sedikit mengacaukan tatanan rambut Baekhyun.

‘Berbahagialah untukku hyung.’

“Suara itu, kau masih disini Kyungsoo-ya?”

Baekhyun menoleh ke segala arah namun tak menemukan sosok yang ia maksud. Ia mengambil nafas dalam, menghembuskannya dengan pelan, menghapus air matanya, dan melangkah dengan pasti mengikuti langkah orang-orang yang nantinya akan mengisi sisa-sisa hidupnya.

“Mungkin itu permintaanmu yang paling sulit untuk kurealisasikan. Namun seperti yang pernah kukatakan, akan kulakukan apapun asal itu untukmu. Karena aku menyayangimu dan sangat sangat menyayangimu. Kau the best dongsaeng ever!”

 

===END===

Maap ya kalo endingnya gak seperti yang diharapkan, cerita monoton dan gak ada gregetnya. Mana cepet banget lagi, masa Kyungsoo tiba-tiba meninggal… Sebenernya agak gak rela juga karakter Kyungsoo dibuat kek gitu. Terkesan rapuh gak sih?? Yah ide juga kepentok di situ. #pasang muka inosen #emang bisa inosen?

Eum… Udah lama banget ya? Mungkin udah pada lupa sama ceritanya hehe. Mau marahin saya? Gapapa kok ehe saya pasrah aja.

Sebenernya udah saya kirim dari dulu tapi kata adminnya gak ada jadi saya kirim dengan jangka waktu yang gak wajar. Maap maap.

Oh iya, makasih buat kalian yang sudah meluangkan waktu membaca ff khayal dengan bahasa yang masih semrawut ini. Makasih juga buat yang bersedia komentar, mungkin ada beberapa yang gak saya bales tapi saya baca semua kok… Komentar kalian sangat membantu.

Finally, thanks for reading~~

Saranghae~

Iklan

16 pemikiran pada “Chapter Of Our Life (Chapter 7)

  1. keren thor.. terharu banget bacanya… sukses ngeluarin air mata ㅠㅠ

    keep writing thor. di tunggu cerita selanjutnya~~

  2. misi thor,aku reader baru disini ‘-‘ tapi cerita ini udah pernah aku baca di tempat lain tapi gak sempet comment :v dan aku baca lagi dari ulang,chapter 7 ini bikin nangis apalagi pas kyungsoo meninggal ㅠ.ㅠ
    Ceritanya keren banget >< ini salah satu ff favorite aku XD
    Keep writing author Rahmtalks ♥

  3. Hai Thor..
    Aku Baru nemu FF ini..
    Buat ff = 👍👍👍
    ( sbnrnya gak rela dg endinya D.O ) tp gak papa FF ini Brhsil buat aku ngeluarin air mata.😭😭😭…
    Keep writing thor….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s