Please, Stop The Time (CHAPTER 4B)

Title : Please, Stop The Time (PROLOG)

Author : Hayamira (HayashiMirai)

Genre : Romance, Friendship

Rating : G (General)

Length : Chaptered

Cast :

Jung Na Eun/Nana (Ocs)

Kris (EXO-M)

Oh Se Hun (EXO-K)

Kim Jong Hyun (SHINee)

Choi Min Ho (SHINee)

Other cast will be appear soon ~~ XD

 

Sebelumnya, ff ini (Please, Stop the Time) udah pernah dipublish di situs ff yang lain (ffindo.wordpress.com) tapi authornya sama, Hayamira(HayashiMirai) sendiri (temen yang publishin, parkhyerinn). Jadi, bukan plagiator :D it’s originally my FF, not the others.

6a

Krystal sedang menikmati minumannya, lalu mendengar teriakan seorang namja dari arah dekat jendela.

“TAPI SEKARANG DIA SEDANG DIPERMAINKAN! DIA TIDAK PANTAS UNTUK ORANG BANGSAT ITU!”

“DENGAN SIKAPMU SEPERTI INI, NANA JUSTRU SEMAKIN SAKIT HATI, BODOH”

“LALU KAU AKAN MEMBIARKAN NANA DIPERLAKUKAN SEMACAM INI TERUS MENERUS, OLEH KRIS BANGSAT ITU?”

 

Tunggu dulu, telinga Krystal tidak salah dengar, kan? Kris Li? Jung Na Eun? Oh Tuhan, bukan hanya orang yang dia temui di pesta kemarin, yang bernama Jung Na Eun. Namun, hanya Kris yang memiliki nama Kris Li, setahu Krystal karena dia keturunan China-Kanada yang menetap Di Seoul.

 

“BERTINDAKLAH SEDIKIT DAN PIKIRKANLAH NANA, JUNG NA EUN !”

“SUDAH CUKUP, AMBER! KRIS LI SUDAH SANGAT KETERLALUAN. AKU MENYAYANGI JUNG NA EUN. DIA ADIKKU.”

 

Mereka kembali beradu pendapat. Feeling Krystal mengatakan bahwa Kris Li yang mereka bicarakan adalah Kris nya, setidaknya Namja yang dia kejar-kejar. Nalurinya berkata untuk menelpon salah satu dari komplotan Kris. Jong Hyun.

 

Krystal mengambil handphonenya, sambil terus mengamati dua orang yang kini sedang terduduk, namun terlihat masih berdebat.

 

“Jong Hyun oppa?”

“Apa, Krystal?”

“Ada hal yang ingin kutanyakan, bisa kau datang ke sini? El Clasicco Cafe, sekarang”

“Baiklah”

 

Perhatian Kris tetap tertuju pada mereka, namun 5 menit setelah mereka bertengkar, mereka keluar dari kafe tersebut. Berselang itu, Jong Hyun datang. Sial sekali

 

“Hai”Jong Hyun melambaikan tangannya. Dia beranjak duduk di samping Krystal.

“Oppa terlambat~”ujar Krystal memutar matanya kesal.

“Aku kenapa?”

“Ada yang ingin kutanyakan. Oppa tahu kan, Kris Li”

“Pastinya. Kenapa?”jawab Jong Hyun santai.

“Jung Na Eun itu siapa Kris Li?”

 

Seketika Jong Hyun memusatkan perhatian pada Krystal.

“Darimana kau tahu dia?”

“Aku bertemu dengannya di pesta kemarin. Katakan dia siapa Kris”pinta Krystal manja. Jong Hyun menatap Krystal sekilas,

“Kau belum tahu? Dia istri Kris. Mereka adalah suami-istri”jawab Jong Hyun.

 

Krystal kaget mendengar jawaban Jong Hyun. Suami-istri katanya? Tidak mungkin, pikir Krystal. Selama ini dia tidak tahu kalau Kris telah menikah. Tidak, lelakinya hanya boleh menikah dengan Krystal.

 

“Bukannya… Dia suka padaku?”jawab Krystal penuh percaya diri. Dia yakin Kris menyukainya.

“Sederhana, Kris menikahinya karena kami bertaruh. Dan, seperti yang kau lihat sendiri, jadi aku tidak perlu menjelaskan terlalu panjang kepadamu”

“Aku tidak mengerti hubungan mereka. Kris tidak marah melihat Na Eun dengan Se Hun… tapi aku melihat mereka… berciuman”ujar Krystal malas. Jong Hyun membentuk ‘O’ di mulutnya,

“Jadi Kris mungkin sudah-jatuh-cinta-betulan dengan Nana ya”gumam Jong Hyun.

“Bukankah dia menyukaiku?”tanya Krystal mendelik kesal. Jong Hyun mengangkat bahu

“Entahlah. Kan kau yang mengejarnya dulu. Kalau soal nikah, Kris menikah karena taruhan. Jadi aku tidak tahu perasaannya ke Nana. Tapi sepertinya… Kris mulai menikmatinya. Kau tahu maksudku, kan?” Jong Hyun berbicara panjang.

 

Sial. Umpat Krystal dalam hati, mendengar Kris telah menikah. Sungguh, dia tidak mengetahui apa-apa tentang itu semua. Dan kali ini, Krystal tidak akan segan-segan mengambil langkah untuk merebut sesuatu.

 

Merebut Kris dari Na Eun. Apapun caranya, asalkan Kris dapat menjadi miliknya.

 

***

#NANA POV#

Setelah lewat jalan-rahasia yang aku masih hapal belok-nbeloknya, akhirnya kami sampai dirumah Baekki-chan. Aku lebih suka memanggilnya Baekki-chan daripada Baek Hyun. Rumahnya masih seperti yang dulu, sederhana dengan taman bunga seluas 4×5 dipekarangan rumahnya. Berbagai bunga ditanam ibu Baekki-chan. Sudah lama aku tidak bertemu Baekki-chan.

 

“Umma, Aku pulaaaang~” teriak Baekki-chan membuka pintu rumah. Sesosok ibu yang terlihat masih segar datang tergopoh-gopoh ke pintu. Wajah ibu itu langsung sumringah melihat siapa yang dia temui.

“Baek Hyun. Akhirnya kau pulang juga, anak nakal”ujar ibu itu menjitak kepala Baekki-chan.

“Aduh, sakit Umma. Umma, eh Umma masih kenal Nana-chan tidak?”kata Baekki-chan kepada ibunya. Ibu Baekki-chan terlihat berpikir sejenak

“Gadis yang sering bersamamu itu kan? Gadis yang polosnya minta ampun, aduh serasa ibu ingin mengajarinya dan mendandaninya. Wajahnya cantik sekali tapi dia tidak tahu cara berdandan.”cerita Ibunya sontak membuatku menahan tawa.

 

Baekki-chan menarikku kesampingnya.

“Umma kenal siapa dia, ingat tidak? Cantik kan” goda Baekki-chan.  Aku terkekeh, menyikut perut Baekki-chan sambil memandang sebal. Ibu Baekki-chan terlihat mengamati wajahku,

“Iie, Umma tidak tahu. Pacarmu, ya Baekki-chan? Ngomong-ngomong, Wanita ini cantik sekali” kata Ibu Baekki-chan. Sontak sajaaku membulatkan mataku, lalu tertawa. Baekki-chan tersipu, lalu menelungkupkan tangannya ke arah Kris, maksud meminta maaf. Kris hanya mengangguk.

 

“Umma, ini Nana-chan. Masa umma tidak mengenalnya, sih”omel Baekki-chan menarikku kehadapan Ibunya. Aku tersenyum, membungkuk “Ini aku, bi. Nana”

 

Ibu Baekki-chan meraba-raba wajahku, memerhatikan sambil mengingat mungkin. Aku terus tersenyum melihat ibu Baekki-chan. Seketika ibu Baekki-chan kaget dan..takjub? entahlah

“Demi Tuhan… Ini Nana? Astaga… Kau tumbuh menjadi wanita cantik, Nana”ujar ibu Baekki-chan takjub melihatku, yang aku sendiri tidak tahu karena apa. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

 

“Umma, biarkan Nana-chan masuk dan mencicipi sukiyaki juga sushi dan nasi kepal tuna buatan Umma, aku juga lapar sekali”kata Baeki-chan lalu berjalan masuk ke rumah.

 

“Mari masuk Nana-chan… eh, kau siapa?”Ibu Baekki-chan menunjuk ke Kris.

“Saya suami Nana-chan, salam kenal nama saya Kris Li”Kris membungkuk.

“Nana-chan, kau memiliki suami yang tampan sekali. Tampannya mengalahkan anakku lagi”gurau ibu Baekki-chan. Baekki-chan melirik ibunya kesal.

 

Ada sebersit rasa senang menyelimuti mendengar Kris memperkenalkan dirinya dengan menyebut suaminya. Bibirku mengulas senyum lebar, lalu aku dan Kris juga ibu Baekki-chan masuk ke rumah.

 

***

“Sukiyaki datang anak-anak”seru ibu Baekki-chan membawa panci berisi sukiyaki, di atas meja makan sudah tersedia panci untuk memasak kuahnya. Ada kuah pedas kesukaanku, air liurku rasanya menetes. Kali ini ayah Baekki-chan menemani kami.

 

“Kris, jangan malu-malu. Makan sepuasmu. Nampaknya Nana sudah tidak sabar menyantap sukiyakinya, Haha”ejek Baekki-chan. Kris tersenyum simpul. Dimeja tersedia sukiyaki, nasi kepal tuna, tempura dan suhsi. Astaga, harummnya membuat perutku semakin lapar.

 

“Itadakimasu”ujar kami lalu makan hidangan yang tersedia. Sesekali aku berebut tempura udang dengan baekki-chan, lalu ibu baekki-chan memberingan kami tempura udang yang sama. Ayah Baekki-chan juga seringkali menimpali kami. Kami terlihat seperti keluiarga, padahal aku bukan anggota keluarga.

 

“Kris, Nana, kalian telah menikah berapa alam?”

“2 Tahun, paman”jawabku setelah menyesap teh hijau. Kami telah selesai makan, sekarang menikmati teh hijau juga kue-kue kecil.

 

“Bagaimana malam pertama kalian”celoteh ibu Baekki-chan. Teh hijau yang kuminum langsung tersedak. Untung kutahan, kalau tidak mungkin akan menyembur keluar. Itu sangat tidak sopan jika beran-benar terjadi.

“Uhuk…Uhuk…”

 

Baekki-chan malah menertawakanku.  Kris tersenyum sinis melihatku tersedak

“Malam pertama kami belum kami lewati, bibi”ujar Kris santai.

“Kalau begitu harus kalian lewati sekarang dong~ Sayang kan, gadis secantik dan sebaik Nana-chan ”goda ibu Baekki-chan. Aduh, aku semakin tersedak. Baekki-chan semakin tergelak menertawakanku.

“Begitu kah Bi? Tenang saja aku akan menghabiskan malam pertama kami dengan berarti”celetuk Kris. Wajahku memerah mendengar jawaban Kris.

 

“Kris, sudahlah, kasihan Nana-chan kau goda terus, lihat dia sekarang tersedak., Hahahaha”tawa Baekki-chan puuas melihatnya.

“Baekki-chan”

 

“Nak Kris, Nana-chan ini adalah primadona di sekolah Baekki-chan loh. Setiap hari ada saja lelaki yang mengganggu Nana-chan, pulang Baekki-chan pasti babak belur”goda ibu Baekki-chan. Kris tertawa mendengarnya.

 

“Sudah bi, sudah…”aku yakin wajahku seperti udang matang saat ini. Merah padam.

 

#AUTHOR POV#

 

Taman bunga yang ditanam Bibi Byun, nama ibu Baek Hyun memiliki konsep artistik yang indah dan siapapun yang melihatnya akan merasa ketenangan . Pohon Sakura yang ringkih, berdiri kokoh disamping luar taman kecil rumah itu. Sayangnya ini bukan musim semi, seandainya musim semi, maka pasti akan semakin indah dengan semburat pink kelopak kecil bunga sakura.

 

Di Tamannya ditanam berbagai bunga, bunga matahari bunga mawar, juga bunga irish. Perpaduan warna kontrast dipadu gemercik danau kecil di sudut taman, membuatnya semakin menenangkan.

 

“hey Bro”sapa Baekhyun menepuk pundak Kris. Kris menoleh, Baek Hyun juga sedang memperhatikan bunga-bunga yang ditanam ibunya.

 

“Cantik, ya?”celetuk Baek Hyun basa-basi. Kris mengangguk. Baek Hyun menyentuh sekuntum bunga, yang Kris tidak ketahui itu apa, lalu Baek Hyun menghirup aromanya.

 

“Ini bunga kesukaan Nana-chan. Namanya Lily, dari kecil Nana suka sekali bunga ini, selain sakura tentunya”ujar Baek Hyun memandangi bunga Lily yang bergerak sendayu karena angin.

 

“Lavender, Mawar. Lily, Irish, Matahari, Sakura, dan pinus. Tanaman yang Nana sangat sukai. Namun taman ibuku tidak bisa menanam Pinus, Haha”celetuk Baek Hyun lagi, memainkan bunga Lily itu. Kris menatap Baek Hyun.

 

“Nampaknya kalian, Kau-nana, sangat akrab”gumam Kris.  Baekhyun mengangguk cepat

“Ya begitulah. Dia sudah kuanggap adikku sendiri. TK, SD, SMP dan SMA, kami selalu bersama. Kami SMAdi Tokyo, karena kami mendapatkan beasiswa, bahkan beasiswa itu pun kami dapat bersama. Hebat bukan?”pamer Baek Hyun. Dari nadanya, Baek Hyun terlihat ingin memamerkan keakrabannya dengan Nana.

 

“Namun, Nana harus kembali ke Seoul, kota kelahiran ayahnya, untuk melanjutkan kuliah di universitas impiannya. Ya Paman Jung juga memanggilnya sih. Bibi Kana sibuk dengan kebun dan bisnis menjahitnya di Hokaido, lalu menemani Na Mi  saat itu sedang kuliah juga.”celoteh Baek Hyun seperti menjelaskan sesuatu kepada Kris.

 

“Bisa kau ceritakan apa yang kau tahu tentang Nana?”jawab Kris, duduk ditepi taman.

“Ayah Nana meninggal pada waktu Nana masuk di semester pertama. Lalu dia harus hidup sendiri di Seoul. Itu terjadi sesaat setelah aku debut. Aku tidak ingin mengganggunya, maka aku tidak memberitahukannya. Itu saat terberat buat Nana. Namun aku merasa gagal sebagai sahabat karena tidak bisa menemaninya. Sial  “

 

“Nana adalah wanita yang paling lembut dan paling berhati besar yang pernah kukenal. Dia menyukai manga, novel, drama, kopi, teh hijau, dan banyak hal. Dia mampu membuat orang-orang disekelilingnya tersenyum jika melihatnya tersenyum. Tapi akan membuat orang sekelilingnya merasa suram jika dia suram. Dia Moodbusterku. Aku jujur, dia itu gadis impian setiap orang, aku juga sih”

 

“Lalu kenapa kau dan dia tidak menikah saja kalau kau suka padanya”seru kris, sedikit cemburu dengan Baek Hyun. Baek Hyun tersenyum simpul.

 

“Kau cemburu ya? Haha. Siapa tidak ingin bersanding dengan Nana. Baik hatinya, lemah lembut, sopan sekali, pintar dalam akademis dan masak pula. Namun, dia tidak mau membuka hatinya untuk siapapun, berpuluh laki-laki menyatakan cinta, memberinya cokelat bahkan membuntuti dia, dia tetap kukuh tidak mau pacaran. Prinsipnya, kalau ada kata menikah kenapa harus pacaran, hanya membuang waktu dan perasaan. Seharusnya kau beruntung, bisa menikah dengan gadis seperti Nana-chan”

 

Ada sedikit semburat rasa bahagia, istrinya ternyata seperti itu. Namun, dulu Kris menganggapnya idiot karena selalu tersenyum, apapun yang terjadi.

 

“Alasan Nana selalu tersenyum, apa?”tanya Kris. Kris berpikir, Baek Hyun seperti kamus untuk mencari segala hal tentang Nana.

 

“Dia tidak ingin menyakiti siapapun, akan selalu tersenyum, dan satu sifat yang tidak kusuka dari nana. Dia berpikir, dia harus selalu mengalah pada apapun itu. Tipikal orang yang tidak egois, menurutku, gampang dipermainkan”ujar baek Hyun lagi. Kris tersentak, apakah Baek Hyun menyindirnya?

 

“Ya, seperti itulah Jung Na Eun. Soal aku kenapa tidak bersamanya, aku ini sahabatnya dan aku tidak mau merusaknya. Lagian, Nana sudah punya dirimu, kan. Aku bisa sedikit lega, karena ada yang akan melindunginya dari apapun itu. Yaitu Kau”tunjuk Baek Hyun ke Kris.

 

Hati Kris menciut tiba-tiba mendengar Baek Hyun yang memujinya beruntung. Selama ini, justru dia selalu menyakiti, membuang, dan tidak peduli pada Nana. Hanya bisa membuat Nana menangis dalam hatinya, dan selalu tersenyum kepadanya dengan mengatakan “ Aku Tidak apa-apa, Kok”

 

Tiba-tiba semuanya menjadi sakit. Semuanya kembali berputar. Taruhan, ego, gengsi. Apakah Kris tipikal seorang laki-laki yang rela mempertaruhkan Nana demi itu semua?

 

“Aku merasa tidak bisa menggantikanmu, Baek Hyun”gumam Kris tersenyum sinis. Baek Hyun menepuk pundak Kris

“Kaulah pilihan Nana. Kau yang dipercaya menjaga dirinya, Nana mempercayaimu dan aku yakin Nana sangat mencintaimu”ujar Baek Hyun

 

“Aku sering menyakitinya” Kris membatin.

 

“Aku percayakan sahabat terdekatku, Jung Na Eun kepadamu Kris. Jaga dia, awas kalau kudengar kau membuatnya menangis”ancam Baek Hyun lalu diselingi tawa. Kris merasa Nana dilindungi, apa dia pantas masih berada disisinya?

 

Setidaknya iya, sebelum semuanya terbongkar.

***

 

“Bibi Byun, makasih atas semuanya”

Nana membungkuk. Kris mengikutinya dengan membungkuk.

 

“Tidak mau diantar, Nana-chan. Udaranya panas, ini siang hari. Kasian dirimu kalau mau jalan kaki”ujar Paman Byun.

 

“Udara tidak terlalu panas, Bibi, Paman. Aku bisa jalan kaki, kok. Lagipula, sekalian reuni Hihi”Nana menghindar untuk diantar. Baek Hyun tau maksudnya apa, hanya bisa tersenyum melihat Nana.

 

“Yasudah. Salam sama Na Mi, ya”ujar Baek Hyun. Nana mengangguk. Setelah pamit, mereka pun berjalan keluar rumah Baek Hyun

 

#NANA POV#

 

Hanya butuh 10 menit, kurang lebih, untuk sampai dirumahku. Sudah tidak sabar ingin melihat rumah yang kutinggalkan 4 tahun itu. Pasti jam segini Ibu sedang memasak untuk makan malam, dan Na Mi yang sibuk dengan pekerjaannya. Meja dapur, taman, teras, pohon besar depan rumahku, juga kamarku. Ah, kamarku masih seperti dulu kah?

 

“Kenapa harus jalan kaki? Sepertinya rumahmu jauh. Sanggup?” tanya Kris melihatku. Aku tersenyum lebar

 

“Sanggup tentu saja. Akan ada pemandangan indah di jalan nanti”jawabku, sambil terus berjalan riang. Kris terlihat mengeluh, lalu berjalan gontai disampingku.

 

Tiba-tiba tangan Kris meraih tanganku, menautkannya dan kembali berjalan. Langkahku terhenti.

“Apa?”tanyanya. Aku menggeleng. Sekarang, aku yakin langkahku tidak seeperti tadi. Sepanjang jalan itu kami bergandengan tangan. Pohon rindang seakan bersiul dengan gemerisik daunnya, seperti menggodaku yang merah padam diperlakukan seperti ini. Aduh.

 

Diam mengiringi langkah kaki kami. Kris terlihat santai, berjalan sambil menggenggam tanganku. Seumur hidup aku melakukan seperti ini hanya dengan Baekki-chan. Itupun dia sahabatku. Ini, beda dan jantungku berdebar tak karuan.

 

Itu dia. Yang kunanti. Aku setengah berlari, sambil menarik Kris secara tidak langsung tentu saja, ke tepi jembatan beton itu. Dibawah jembatan Beton itu mengalir sungai kecil yang maish terlihat jernih. Ah, aku merindukan tempat ini.

 

“Kenapa kita berhenti?”Kris bertanya-tanya.

“Ini tempat spesial untukku. Disini biasanya aku menyendiri, dan disini pula aku bertemu si anak laki-laki cengeng itu, dan berbagi bandul dengannya. Bodohnya, aku tidak menanyakan nama anak itu”

 

[flashback]

Nana kecil sedang terduduk dengan memeluk kakinya. Hari ini Baekhyun tidak datang kesekolah. Nana kecil merasa kesepian. Terlebih, Nana kecil lupa membawa payung, dan sekarang sedang hujan keras. Dia meringkuk ditempat favoritnya, kolong jembatan dekat rumahnya.

 

Nana kecil harus menahan rasa dingin, ketika tiba-tiba lamunannya buyar oleh suara tangis anak laki-laki. Dengan melawan segala rasa dingin yang menusuk, Nana kecil berjalan pelan kearah anak itu. Anak laki-laki yang meringkuk juga, dibalik batang pohon tumbang besar dekat ujung kolong jembatan itu. Baju dan jaket biru tua yang dipakai anak itu basah, dia meringkuk dengan tasnya yang sudah lusuh. Wajah anak laki-laki itu tidak seperti anak jepang biasanya. Terkesan kebarat-baratan namun tetap lebih kental kesan asia. Matanya tidak sipit, kulitnya putih. Matanya sekarang memerah sembab.

 

“Hiks…Hiks….”

 

Nana kecil jongkok lalu melihat wajah anak itu.

“Kau kenapa?”tanya Nana kecil. Anak lelaki itu mengangkat wajahnya yang sembab, memandang Nana kecil aneh dan asing.

 

“kau kenapa ada disini?”kata anak laki-laki itu, mengucek-ngucek matanya.

“Ini tempatku. Kau anak baru, ya?”

“tidak. Aku sudah lama tinggal disini. Kau jangan menggangguku !” bentak anak laki-laki itu. Nana kecil tersentak kaget

 

“Kau kasar sekali…”gumam Nana kecil menunduk. Anak laki-laki itu merasa bersalah, kemudian berdiri. Sambil sembab dia berdiri

“Maafkan aku”katanya. Tangannya terulur untuk menyalami Nana kecil. Nana kecil tersenyum, lalu membungkuk hormat

 

“Tidak apa-apa kok”senyum Nana lebar, menampakkan lesung pipit kecilnya. Pipi anak laki-laki itu langsung menjadi semburat merah, tersipu malu.

 

“Kau cantik sekali…”ujar anak itu. Nana kecil pun tiba-tiba jadi tersipu sendiri, lalu duduk disamping anak itu. Anak itu pun duduk, mereka berdua terdiam menatap langit mendung.

 

“kenapa kau menangis tadi?”tanya Nana kecil.

“Orang tuaku harus pindah darisini, tapi aku sudah nyaman disini. Banyak teman teman yang ramah… Kei…Kenta….Ai…. aku bosan berpindah tempat terus…”isak anak laki-laki itu. Nana memeluk lututnya, memperhatikan anak laki-laki itu.

 

“jadi…aku lari kesini…. supaya….mereka….tidak….pindah….aku…tidak…mau..pindah…”

 

“Tapi, orangtuamu repot nantinya… Kamu tinggal sendirian, nanti sadako keluar dari TV lalu menerkammu? Bagaimana?”tanya Nana polos

“Aku melempar bawang”

“Sadako tidak mempan bawang… nanti Rokurokubi datang dibalik jendelamu…hiiy”

“kenapa kau jadi menakut-nakutiku…”

“Ayah Ibumu pasti kecewa dan khawatir kau begini… nanti sadako memakanmu…”

“berhenti…hua”anak itu kembali menangis. Nana kecil terbahak mendengarnya

 

“aku bercanda. Jangan bersikap seperti itu. Ibumu dan Ayahmu pasti khawatir. Lagipula, kau bisa mengirim surat, seperti yang kulakukan dengan nenekku”ujar Nana kecil. Anak laki-laki itu mengangguk setuju, lalu menyeka air matanya.

“Benarkah?” kata anak laki-laki itu.

“Nenekku tinggal di Seoul. Aku sering merindukannya, jadi sering mengirim surat untuknya.”

 

“Kata Nenekku, kita harus jadi anak yang berbakti dan taat pada Orang Tua. Kalau tidak, Rokurokubi memakan kita”

 

“Baiklah. Aku harus jadi anak yang baik untuk orang tua”ujar anak itu semangat, berteriak seperti berjuang. Nana kecil terkesan dengan sikap anak itu.

 

“Hujannya sudah reda”kata Nana Kecil berdiri mengadah ke langit, saatnya dia untuk pulang. Ibunya pasti khawatir sekali, pikirnya.

 

Sayup-sayup, Nana kecil mendengar suara yang memanggil, dan anak laki-laki itu menoleh. Sepertinya anak laki-laki itu akan pergi, mungkin kembali ke orang tuanya.

 

“Ibuku sudah menemukanku”kata anak kali-kali itu beranjak berdiri. Nana kecil tiba-tiba melepas sesuatu dari lehernya.

 

“Ini untukmu”kata Nana kecil tersenyum. Nana kecil melepas bandul kalungnya, dan seperti memotong bandulnya menjadi dua. Kini, bandul bunga itu seakan terbagi dua. Nana kecil memberikan bagian dari bandul bunganya kepada anak laki-laki itu

 

“Aku suka berteman denganmu. Suatu saat kita bisa ngobrol di masa depan nanti. Bandul ini yang akan membuat kita bertemu nanti”kata Nana.

“Kalau ada samanya?”

 

“Bandul ini tidak akan bisa menyatu dengan bandul yang lain kecuali bandulku ini. Kata kakek, ada kait khusus dan magnet khusus yang cuma bersatu kalau dengan bandul pasangannya”Nana tersenyum. Anak laki-laki itupun tersenyum

 

“Aku akan selalu mengingatmu, karena aku menyukaimu”kata Anak laki-laki itu berlalu.

 

[FLASHBACK END]

 

Aku tersenyum mengingat anak laki-laki itu. Aku merindukannya, apakah sekarang dia masih terlihat seperti dulu? Dengan pipi kemerahan dan kulit putih pucat?

 

#Author POV#

 

Wajah Nana yang sedang termenung… Entah mengapa mengingatkan Kris akan seseorang yang telah lama dia nanti dan membekas dihatinya. Nana masih tetap tersenyum dengan tatapan matanya kedepan, seakan menonton film yang hanya Dia yang bisa melihatnya.

 

Kris mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Nana, membuat Nana tersadar dari lamunannya kemudian tersenyum lebar, lesung pipitnya yang dalam terlihat jelas.

 

“Maaf. Sekarang, kita jalan lagi? Sudah jam 2 siang” Nana berjalan didepan Kris. Kris masih termenung melihat Nana tadi.

 

Nana menoleh, melihat Kris yang masih diam berdiri ditempatnya tadi, Nana lalu melambaikan tangan ke Kris  “Hey Kris” teriaknya lagi. Kris lalu melangkah.

 

Perasaannya mengatakan, dia akan menemukan ingatan nya dulu, lagi.

 

***

Sebuah rumah mungil disudut jalan, dinaungi pohon cemara yang mengelilingi rumah itu telah nampak di mata Nana dan Kris. Nana berbinar melihatnya, lalu seraya berlari kecil dia menghampiri rumah itu. Kris mengikutinya dari belakang.

Nana mendorong pagar yang tidak terkunci itu. Nana melangkah masuk ke pekarangan rumahnya. Tak dapat dielakkan, wajahnya berseri sekali. Nana lalu mengetuk pintu rumah itu, satu kali. Dua kali. Tiga kali. Dan langkah kaki dengan serua “ya, siapa?” datang dari dalam rumah.

 

Kris melihat Nana yang teramat senang, ikut senang juga. Oh, mungkinkah Nana punya virus menular, sehingga apapun yang dia lakukan selalu Kris rasakan dan ingin ikut juga? Atau ini karena…Cinta?

 

Pintu rumah itu terbuka. Nampak seorang wanita muda yang muncul, melihat Nana dan seperti teroeranjat juga kaget.

 

“Eonni…”lirih Nana terharu. Yang dipanggil Eonni juga sama terharunya. Sedetik, mereka berpelukan erat sambil tertawa dan terisak bahagia.

 

Yang Kris herankan, wajah wanita ini… sangat mirip dengan wajah Nana. Bentuk wajah, terutama mata dan senyumnya. Teramat mirip.

“Nana-chan… Kau kembali”lirih orang yang dipanggil Eonni itu sambil merengkuh wajah Nana.

“Tadaima”

“Okairi, Nana-chan”

 

Mereka pun kembali berpelukan. Sesaat telah melepas kangen, wanita itu menoleh kearah Kris, dan tersenyum tipis. “Kau pasti Kris. Halo” sapa wanita itu. Kris membungkukkan badannya lalu menatap wanita itu.

 

Sebenarnya, Kris masih bingung. Siapa wanita ini. Apakah dia Jung Na Mi? Kakak Nana yang terkenal sebagai seorang Designer terkenal di Tokyo.

 

“Iya, Aku Kris” ujar Kris. Wanita itu memperhatikan Kris sesaat, lalu membungkukkan badannya. “Aku Jung Na Mi. Kakak Nana” Na Mi memperkenalkan dirinya.

 

“Eonni-a, Okaa-san mana? “Nana bertanya mencari ibunya. Belum sempat Na Mi menjawab, seorang wanita setengah baya datang seakan tergopoh-gopoh kearah Na Mi “Na Mi, siapa yang datang?” seru wanita setengah baya itu.

 

Sekali lagi, wanita setengah baya ini persis seperti Nana. Lebih mirip daripada kakak Nana, Na Mi. Kris bergumam, dia adalah ibu Nana. Bagaimanapun juga, dia pernah melihat ibu Nana di resepsi pernikahannya.

 

“Okaa-san” Nana menghambur kepelukan ibunya. Ibunya terlihat kaget melihat anak yang telah lama berpisah darinya, lalu membalas pelukan Nana. “Anakku, Anakku Nana”ucapnya memeluk Nana.

 

“Okaa-san, aku merindukanmu”Nana menatap ibunya penuh rindu. Ibunya membelai rambut panjang Nana “Okaa-san juga, Nak”

 

***

Untuk apa Kris dan Nana menikah, hanya karena taruhan? Apa Nana mengetahui hal ini? Oh bagaimana mungkin seorang Kris Li melakukan hal sekonyol itu. Bukankah tipikal Kris Li cenderung lebih menikmati masa lajangnya daripada harus terikat dalam suatu ikatan pernikahan yang merepotkan itu.

 

Krystal menghela napas panjang. Dirinya telah mengetahui semuanya tentang pertaruhan konyol yang dilakukan Jong Hyun, Min Ho dan tentu saja, Kris. Tapi, yang Jong Hyun dan Min Ho minta hanyalah berkencan. Kenapa sampai Kris mau menikah. Menikah. “Oh sial”Krystal memijit kepalanya yang pusing memikirkan hal rumit ini.

 

Krystal jalan mengelilingi kamarnya, berusaha berpikir apa yang bisa membuat kris berpikir menikah muda. Dia menggigit jemarinya. Galau, mungkin. Lalu tanpa berpikir, dia menghubungi seorang teman yang dekat dengan keluarga Kris.

 

“Halo?”suara dieberang sana menyapa. Krystal balik menyapa “Halo”

 

“Ada apa?”

“Kau tahu, sesuatu, tentang Pernikahan Kris Li?”

“Oh. Itu. Ya, tentu saja. Mereka menikah, bukan?”

“Iya aku tahu. Tapi…”

“Ahhh…. aku ingat, orang tua Kris berencana menikahkan Kris menurut gosip, mungkin karena tidak mau maka Kris menikahi Na Eun secepatnya. Bukannya mereka sepasang kekasih?”

 

Klik. Krystal memutuskan hubungan telepon. Senyum lebar tersirat diwajahnya. Ternyata, alasan Kris itu untuk menghindar dari perjodohan dirinya dengan orang lain.

 

Tidak ada alasan bahwa mereka menikah karena saling mencintai. Krystal yakin

 

***

 

Nana, Na Mi, dan bibi Kana memang sangat mirip satu sama lain, itu yang Kris bisa lihat sampai saat ini. Namun, Nana lebih terkesan polos dibandingkan Na Mi. Na Mi memiliki rahang pipi yang kuat, terkesan tegas juga berwibawa. Namun, mata mereka sangat mirip. Besar, seperti mata boneka yang berbinar.

 

Kris meletakkan barang bawaan Nana dan dirinya didalam kamar Nana. Kamar yang berbau, lagi lagi, bunga sakura. Bakat Nana yang seorang furniture and room designer terlihat jelas dari kamarnya.

 

Kris berjalan melihat-lihat lagi kamar Nana. Tempat tidur ukuran king size, rak buku, lemari pakaian dan sebuah kamar mandi di pojok kamar. Jendela besar yang bisa digeser membuat cahaya yang masuk dikamar Nana cukup. Udara di balkon kamar Nana sejuk. Kris menyibak horden biru yang menggantung di jendelanya.

 

Entah apa, namun Kris merasa nyaman ada di kamar ini. Kris beranjak duduk diranjang, ketika Nana masuk membawa vas bunga yang berisi bunga dan air.

 

“Apa itu?”tanya Kris. Nana yang seakan tidak menyadari Kris, tersentak kaget lalu menoleh, memandangi Kris yang duduk santai di ranjangnya. Wajah Nana lalu kembali bersemu merah, semerah bunga yang dia pegang sekarang.

 

“i-ini bunga. Bu-bunga mawar merah dari bibi Byun”jawab Nana tergagap. Tangannya terlihat gemetar ketika meletakkan vas bunga itu. Kris tersenyum melihatnya. Nana grogi, salah tingkah dan itu terlihat lucu dimata Kris. Karena ingin menggoda Nana, Kris mendekati Nana yang sedang berjongkok.

 

Kepala Kris condong kedepan, tiba-tiba Nana berdiri tanpa diduga, membuat tubuh mereka bertabrakan kecil. Tubuh Nana hampir jatuh, kalau tangan Kris tidak melingkari pinggang Nana dan menahannya.

 

Mereka hanya saling diam. Saling menatap wajah orang yang didepannya. Namun ada yang aneh dari Kris. Detak jantungnya berdetak lebih cepat. Napasnya seakan tercekat. Waktu serasa berhenti disaat itu juga.

 

Nana merasakan nya. Detak jantung Kris…lebih cepat. Sama sepertinya. Dan wajahnya tersirat semu merah.

 

“sa-sampai kapan – kita begini?”ujar Nana setelah sadar mereka telah saling berpandangan lama. Kris segera memeluk Nana untuk membetulkan posisi gadis itu, lalu memegang bahunya dan menatap mata berbinar Nana.

 

“A-ada apa kau menatapku seprti itu?”Nana berusaha menghindari tatapan Kris yang membuat frekuensi denyut jantungnya meningkat. Wajahnya memanas, astaga. Kris tetap menatap Nana intens, membuat Nana membeku ditangan Kris. “Dimana kamar mandi?”

 

Dan napas Nana seakan jatuh ke bumi.

 

***

Kris terduduk diranjang Nana dengan perasaan yang tak karuan. Dimana kamar mandi. Haruskah dia bertanya seperti itu, sementara didepan matanya terpapar jelas pintu kamar mandi? Apa yang dipikirkan Kris. Gara gara jarak yang dekat dengan Nana, dia jadi tak karuan. Sikapnya tak wajar. Wajahnya memanas. Terlebih jantungnya. Berdetak cepat sekali.

 

Dimana kamar mandi. Padahal yang ingin dia katakan banyak sekali. Tapi… kenapa hanya kalimat konyol yang keluar dari mulutnya? Sial.

 

Tidak pernah sekalipun dia merasa seperti ini. Tentang berdekatan dengan wanita lain, dia selalu begitu bukan? Banyak wanita yang ia dekati, namun baru kali ini dia mengalami hal yang … memalukan. Seperti bukan dirinya.

 

Ini karena Jung Na Eun. Kris tidak bisa… didekat Nana jika dia harus seperti itu lagi. Malu, dia menutupi wajahnya dengan handuk, dan mengacak-ngacak rambut basahnya. Memikirkan Nana saja sudah membuatnya salah tingkah.

 

“Ah, hentikan. Bodoh. Sial. Hentikan ini, Akh”pekiknya

Namun, di lubuk hatinya, kehadiran Nana membuatnya senang. Sangat senang juga bahagia.

 

“Huh, dasar. Tunggu. Aku ini kenapa… Sepertinya…Akh!”pekiknya lagi disela senyumnya.

 

“Kau kenapa, Kris?”sebuah suara menyapanya. Membuat tubuh Kris terkontak, kaget lalu menoleh. Dia Jung Na Eun, orang yang membuat Kris menjadi seperti ini.

 

Kris menggeleng, “Aku tidak kenapa-kenapa”pekiknya menutupi rasa malu dan canggung. Nana berjalan ke arah balkon kamarnya, sepertinya untuk menjemur handuk. Nampaknya, dia baru saja mandi dikamar mandi yang lain. Rambutnya tergerai panjang, baru kali ini Kris melihat rambut Nana yang biasanya diikat atau disanggul, terurai. Sekali lagi, detak jantung Kris berdebar melihatnya.

 

Dia cantik kalau rambutnya tergerai desis Kris. Rambut Nana yang sedikit kering, tergerai, membuat Kris bersemu padam. Untung ada handuk. Rasanya Kris berutang budi pada handuknya.

 

Baju gombrang dan celana kain longgar, tidak terlalu menampakkan lekuk tubuhnya. Nana lalu menoleh ke Kris yang sedang menatapnya, sontak mata mereka bertemu. Kris bisa lihat pipi Nana yang bersemu, lalu Kris memalingkan mukanya. Dia tersenyum melihat Nana seperti itu.

 

“Mau kubuatkan Ocha? Ibu sedang masak makan malam”kata Nana, memalingkan muka pula. Kris mengangguk, matanya tak sengaja tertuju pada jari manis Nana. Tersemat cincin pernikahan mereka. Kris kembali tersenyum, memandangi Nana yang keluar kamar dengan perasaan berbunga-bunga,

 

“Aku sepertinya sedang jatuh cinta. Bukankah ini sudah lama…?”

 

Ya, ini sudah lama. Bahkan diawal pernikahan mereka, Kris sering, selalu, selama 2 tahun ini merasakan hal seperti itu. Namun, dia menyembunyikanya. Konyol. Baru kali ini dia membebaskan apa yang dia rasa tersirat diwajahnya.

 

“Nana”

Nana menoleh. “Ng? Apa?”

“Te Amo”

 

 

***

Makan malam di rumah Nana sungguh mengesankan. Ibu Nana selalu melontarkan celotehan yang membuat mereka terbelak tawa. Ditambah Na Mi yang terkesan cool tapi tetap saja jadi korban. Selain melucu, mereka juga bercerita banyak hal. Tentang kebiasan Na Mi yang suka memake up boneka Nana, sampai Nana meraung-raung. Atau tentang Nana yang sering pulang dengan tubuh penuh becek sehabis bermain dengan Baek Hyun. Kris tertawa mendengar banyak fakta Nana yang konyol.

 

“Kris, apakah Nana jadi istri yang baik?”tiba-tiba ibu Nana celetuk. Wajah Nana sontak kaget, matanya membulat diselingi gerakan bibir yang berbisik ibu-kenapa-bertanya-seperti-itu.

 

Kris mengulum senyum. “Tentu saja, Ibu”jawab singkatnya. Ibu Nana kembali mengangkat alisnya.

 

“Adikku memang yang terbaik, Okaa-san tidak pernah berhenti bertanya tentang apakah Nana bisa mengurus suaminya bla bla bla sejak pulang dari pernikahan kalian”Na Mi berceloteh sambil merebut mochi Nana. Nana mendelik Na Mi datar, mochi terakhirnya diambil.

 

Lalu mata Nana beralih ke ibunya. “Benarkah demikian, Okaa-san? Aku kan sudah bilang, aku bisa mengurus diriku sendiri, buktinya ini”tunjuk Nana pada dirinya. Kris ikut menimpali dengan mengangguk

 

“Saya sangat beruntung mendapatkan seorang istri seperti anak Ibu, Nana ini”kata Kris menggenggam tangan Nana. Nana yang mendengar kalimat barusan, bagai tersengat listrik membeku di tempat.

 

“Nana, jangan tegang begitu…”bisik Na Mi sontak membuyarkan lamunan Nana. Nana mencubit Na Mi dan mengelak dari tuduhan salah tingkahnya tersebut.

 

Nana kemudian berdiri “aku ingin tidur. Oyasumi”kata Nana lalu berjalan kaku ke kamarnya. Terdengar tawa dari Na Mi. Kakaknya puas menertawakannya malam ini, gumam Kris yang menyusul Nana ke kamar.

 

Pintu kamar Nana Kris buka, dan terlihat Nana sedang duduk dimejanya menatap keluar, melamun. Kris melangkah pelan, berusaha agar lamunan Nana tidak buyar.

 

Wajah ketika melamun itu… terlihat lembut. Tatapan matanya yang seakan melihat sesuatu, ekspresinya yang datar, membuatnya tampak polos.

“Kau melamunkanku?”bisik Kris ditengkuk Nana, Nana yang sedang asik melamun tersentak kaget sambil mengatakan kalimat “Oh Tuhan Astaga” lalu menoleh ke Kris,

 

“Kau mengagetkanku…” Nana menatap Kris yang sedang tersenyum lebar gemas. “berani-beraninya kau….”lalu dia bangkit dari duduknya dan mencubit lengan Kris. Kris mengerang kesatikan,  “Ampun, Ampun, Ahahaha ampun, ampun Sayang”

 

Sayang… Cubitan Nana berhenti. Sekali lagi, dia membatu mendengar kalimat itu. Nana langsung membelakangi Kris, memegang dadanya yang berdebar itu.

 

Sepasang tangan meraihnya dan merengkuh Nana dalam pelukan Kris. Kris memeluk Nana dari belakang, menyandarkan dagunya di pundak Nana. Tangannya membelai rambut Nana yang tergerai, sesekali mengecup puncak kepalanya dan menghirup wangi rambut istrinya itu.

 

Tubuh Nana perlahan tidak setegang tadi, lagi.

“Aku baru tahu kalau malam di Hokaido sangat indah”gumam Kris pelan.

“Karena itulah aku suka malam, terutama Malam dikamarku”

 

“Hmm”Kris menggumam, jemarinya kembali membali lembut rambut Nana.  Terdengar sayup-sayup ada yang memanggil nama Nana, Nana lalu melepaskan pelukannya dari Kris dan berbalik “Ada yang memanggilku”ujar Nana , berjalan keluar namun tangan Kris menahan dan menariknya kembali ke dekatnya.

 

Wajah Nana nampak heran memandangi Kris.

“Kau tidak mau menemaniku malam ini?”ujar Kris pelan. Nana terbius mata Kris, dia tidak menjawabnya.

 

Kris mendekatkan wajahnya ke wajah Nana. Oh, apakah Kris akan melakukan pada malam pesta dansa itu? Dan hati Nana berdebar. Jarak wajahnya dari wajah Kris semakin dekat. Tangan Kris merengkuh pipi Nana, lalu menempelkan bibirnya di bibir Nana.

 

Oh apa yang harus kulakukan? Baiklah. Pejamkan matamu, baik pejamkan matamu gumam Nana memejamkan matanya. Kris mencium Nana intens, tangannya merengkuh wajah Nana. Perlahan Kris melumat bibir nana pelan, menikmati setiap inci bibir Nana.

 

Tangan Nana memegang tangan Kris. Perlahan, Nana menikmati setiap perlakuan Kris. Kini mereka duduk diatas ranjang, tanpa melepaskan ciuman mereka.

 

Kris memeluk Nana erat, pelan tangan Nana melingkari pundak Kris. Mempererat ciuman mereka.

 

“Nana” panggil seseorang dari luar, mengetuk pintu kamar Nana. Kris masih mencium Nana dan memeluknya.

 

“Nanaaaaaa” panggil seseorang, sontak Nana melepaskan pelukan Kris, bangkit dari posisi tidurnya “Maaf” kata Nana tersenyum lalu membuka pintu.

 

Na Mi, yang melihat Nana yang berdiri dibalik pintu dan Kris yang terduduk diranjang, tersenyum jahil. Dengan bantal dan ekspresinya yang polos

“Nana, tidur di kamarku, ya?”ujar Na Mi.

 

Nana mengangguk, Kris mendengus kesal.

 

2 pemikiran pada “Please, Stop The Time (CHAPTER 4B)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s