Way to Get Yours (Chapter 6)

Way to Get Yours (Chapter 6)

 

Author: RahmTalks

Genre: Romance, Friendship, School Life

Length: Chapter | Rating: PG-17

Cast: Lee Jihyun (OC) |Park Yoonhee (OC) |Kim Jongin |Oh Sehun

way to get yours-

 

=== WAY TO GET YOURS===

 

Selama tiga hari Yoonhee dirawat di rumah sakit dan selama itu pula Chanyeol selalu berada di sisinya. Tentu saja dengan kehadirannya membuat posisi Kai secara perlahan tersingkirkan. Setiap kali ia akan masuk ke ruangan Yoonhee, selalu ada Chanyeol sehingga ia mengurungkan niatnya dan kembali pulang.

Hal itu membuatnya kecewa, namun ia sudah bertekad bahwa dia hanya akan melindungi Yoonhee dari kejauhan. Melihatnya tersenyum meskipun itu bukan untuknya, melihatnya tertawa meski itu bukan karenanya. Juga melihatnya bahagia di sisi orang yang bukan dirinya. Itu sudah resiko menjadi orang yang keras kepala. Pikirnya.

Keadaan Kai yang semacam itu membuat Jihyun lebih mudah melancarkan perbuatannya. Secara tersirat ia selalu memperhatikan Kai, menjadi teman yang baik untuknya, dan berusaha membuat Kai nyaman berada di dekatnya. Beruntung ia diberkati kemampuan acting yang luar biasa, jadi ia dapat dengan mudah bermuka dua di depan Sehun yang tak tahu apa-apa. Di sisi Kai, ia menerima perlakuan Jihyun yang amat baik padanya. Setidaknya sikap Jihyun yang semakin lama semakin baik dan menyenangkan dapat membuatnya mengalihkan pikirannya yang hanya tertuju pada Yoonhee untuk sementara waktu. Kai tahu bahwa ia tak bisa lagi bersama Yoonhee, secara perlahan dan atas bantuan Jihyun ia mulai berlatih merelakan Yoonhee. Hal itu tak semudah yang ia kira karena meskipun hanya berlatih, hal itu sangatlah sulit untuk dijalani. Semua butuh proses dan entah sampai kapan proses ini akan berakhir karena dalam hati kecilnya ia masih berharap agar Yoonhee kembali padanya.

What does love mean? Love means giving, without asking. Prefer to make sacrifice rather than become arrogant. Better being hurt than hurting. And prefer being abandoned rather than leaving.

If you love someone, let them go. If they’re back, they were always yours. But if they don’t, they never were. That’s how the true love works. So just keep calm and believe that love will never leave you alone and happens eternally in your live.

Bulan demi bulan berlalu dan tak terasa angkatan mereka sudah melakukan ujian. Sebentar lagi mereka akan menjadi seorang siswa perguruan tinggi. Selama itu pula Jihyun masih bermain di belakang Sehun, sementara lama kelamaan ia dan Kai semakin dekat dan hubungan mereka mungkin bisa disebut melebihi teman biasa.

 

“Bagaimana? Kau suka?” tanya Kai.

 

“Ne. Wah… Gomawo. Kau selalu memberiku banyak barang.” Jihyun mengangkat sweeter ungu yang diberikan oleh Kai.

“Asal kau senang aku juga senang.” Kai tersenyum tipis. “Kenakan itu saat makan malam nanti.”

“Kau mengajakku makan malam lagi?”

“Kali ini spesial. Akan kuajak kau ke suatu tempat.”

“Lagi-lagi. Selalu membuatku penasaran.” Dengus Jihyun.

“Sudahlah, menurut saja. Kujamin kau tak akan kecewa.”

 

===

 

Jihyun’s POV

Drrtzz

Ponselku berdering. Panggilan dari Sehun.

“Yeobseyo?”

“Jihyun-ah… Bagaimana kalau nanti malam kita jalan-jalan?” Mana mungkin aku menerimanya, aku sudah terlanjur ada janji dengan Kai.

“Kenapa malam ini? Pasti sangat dingin jika malam-malam keluar rumah.” Kataku beralasan.

“Baiklah, bagaimana kalau hanya makan malam?”

“Mianhae, eonni sudah memasak jadi aku tak mungkin menyia-nyiakan makanannya.” Elakku.

“Arraseo. Kalau begitu besok saja, kau tidak ada acara kan?”

“Mungkin tidak.”

“Baiklah. Annyeong.”

“Annyeong.”

Aku menatap layar ponselku, entah mengapa ada perasaan kecewa saat menolak tawarannya. Maksudku, dia namjachinguku tapi aku malah pergi dengan namja lain. Aku merasa sangat jahat padahal dia sangat baik padaku. Dan percakapan tadi, sungguh itu awkward moment yang kesekian kalinya sejak kedekatanku dengan Kai. Aish jeongmal! Apa aku akhiri saja hubungan kami? Lagipula aku sudah berhasil mendekati Kai, jadi urusan dengan Sehun sudah selesai.

Namun jika kuputuskan dia dan dia tahu aku sangat dekat dengan Kai, maka…. Argghh! Aku tak tega menyakiti perasaannya namun jika aku tak segera, aku takut dia makin terluka ketika suatu saat aku benar-benar meninggalkannya.

 

Kai mengajakku ke tempat yang dulu pernah kudatangi bersama Sehun. Tempat yang sampai saat ini tergambar jelas keindahannya di ingatanku dan perasaan itu entah mengapa seperti telah melekat dalam diriku.

“Dingin sekali.” Gumamku kemudian Kai merangkulku sembari menuju ke satu-satunya bangku yang ada disini. Hatiku ingin melompat saat ini juga. Selalu seperti ini jika ia melakukan skinship denganku. Aish! Kau membuatku gila Kim Jongin! Aku bersyukur akhirnya aku bisa sedekat ini denganmu, semoga kau sudah benar-benar melupakan Yoonhee dan kau mulai menerimaku di hatimu.

“Mianhae. Aku tak mengajakmu di waktu yang tepat, ini memang sangat dingin. Tapi malam ini cerah jadi kupikir tidak ada salahnya jika kita kesini.”

“Ya, malam ini memang sangat indah. Mungkin tempat ini selalu terlihat indah sepanjang tahun.”

“Kau pernah kesini?”

“Ya. Bersama Sehun.” Kai menoleh saat aku mengatakan itu. Aku juga refleks menoleh dan baru kusadari jarak kami terlalu dekat. Hanya terpaut beberapa senti dan nafasnya yang beraturan menerpa wajahku.

“Apa kau mencintai Sehun?” tanyanya berbisik setelah beberapa detik kami berdiam. Aku… Aku belum bisa menjawabnya.

Apakah aku mencintai Sehun? Pertanyaan itu sudah lama menggantung di dalam diriku. Dulu tentu saja aku menjawab tidak, namun saat ini…. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Aku sangat mencintai Kai namun aku juga tak mau Sehun lepas dariku.

Mungkin aku terlalu egois namun Sehun, lelaki itu mempunyai hati yang sangat baik dan tulus. Cintanya padaku begitu tulus dan aku amat menghargainya. Dia tak pernah membuatku merasa spesial, tapi dia selalu mengingatkanku kalau aku sudah spesial dimatanya. Aku menyukai caranya memperlakukanku dengan caranya yang spesial.

Namun Kai… Dia cinta pertamaku. Aku tak bisa melupakannya dengan mudah, bahkan dengan kehadiran Sehun pun aku tetap tak bisa melupakannya. Saat-saat bersamanya merupakan hal yang paling membahagiakan dalam hidupku.

“Jihyun-ah… Saranghae.” Ia mendesah pelan sambil menatap lurus ke mataku. Aku tercekat, apa yang barusan ia katakan? Mencintaiku? Jinjja?!

Apalagi ini? Wajahnya mendekat ke wajahku, semakin mendekat dan aku secara spontan menutup mata. Dia! Kim Jongin! Mencium lembut bibirku. Aku membelalak dan setelah itu aku merasakan sensasi yang luar biasa dari dalam diriku, rasanya semua yang ada di dalam ingin meledak keluar. Mungkin setelah ini aku benar-benar menjadi orang yang tak waras.

Secara perlahan aku ikut menutup mata dan menikmati apa yang ia lakukan. Ia melumat bibirku dan sesekali menghisapnya. Aku dapat merasakan manis di bibirnya. Ia menarik pinggangku hingga tubuhku menempel pada tubuhnya. Tanganku mulai bergerak menuju belakang lehernya dan saat itu juga aku mulai kehabisan nafas.

Aku mendorong pelan tubuhnya dan dia membuka matanya kembali. Aku mengalihkan pandangan, menghindari kontak mata dengannya. Mungkin wajahku sangat merah sekarang. Ia meraih daguku dan menolehkan kepalaku agar berhadapan dengannya.

“Apa kau juga mencintaiku?”

Iya! Iya! Aku mencintaimu… Sangat mencintaimu!

Ingin sekali aku mengucapkan kalimat itu namun tenggorokanku terasa tercekat. Aku tak bisa mengatakannya sekarang. Ada apa denganmu Jihyun! Ia masih terus menatapku, menanti jawaban.

“Y.. Ya.” Aku menunduk malu. Ada rasa lega akhirnya aku bisa mengeluarkan sepatah kata. Ia tersenyum dengan senyumnya yang sangat menawan.

“Maukah kau menjadi yeojaku?”

“Aku… Tapi Aku masih ada hubungan dengan Sehun.” Kalimat itu secara tiba-tiba terlontar dari bibirku. Entahlah, di momen membahagiakan seperti ini aku malah mengingat Sehun. Harusnya tadi aku langsung mengiyakan!

“Ah, iya aku lupa. Mungkin karena aku jarang, ah hampir tak pernah melihat kalian berdua sedangkan hubungan kita sangatlah dekat. Mianhae, harusnya aku tak pernah mengatakan ini. Baiklah, kajja kita pulang.” Ia berdiri dan melangkah meninggalkanku, aku juga berdiri.

Hey! Aku mau! Mengapa kau tak memberiku kesempatan untuk memutuskan Sehun?

“Aku akan memutuskannya.” Kataku spontan.

DEG! Hatiku terasa sedikit sesak saat mengatakan itu. Kenapa? Sebenarnya hatiku ini untuk siapa? Tolong, bereaksilah hanya pada Kai. Kau mencintainya selama tiga tahun dan selama itu pula kau masih setia menunggunya dengan perasaan sakit. Sekarang kau mendapatkannya dan gunakan kesempatan ini sebaik mungkin.

“Aku tak mau merusak persahabatan kami.” Ia menoleh.

“Tapi aku tak mencintainya, aku mencintaimu.”

“Pikirkanlah baik-baik. Aku tak mau nantinya kau menyesal. Tidak usah sungkan padaku, jika kau tak mencintaiku maka tak usah menyakiti dirimu dengan berbohong kalau kau mencintaiku. Itu akan menyakiti diriku dan dirimu juga tentunya. Jangan mencintaiku karena aku mencintaimu, tapi cintailah aku karena kau mencintaiku.” Ia tersenyum sangat tipis.

“Tak pernah menyenangkan jika mencintai orang yang tidak kita cintai. Namun lebih menyakitkan lagi apabila kita berbohong pada orang lain dengan mengatakan bahwa kita mencintainya. Kau tahu kenapa? Karena itu sama saja menganiaya perasaannya dan nantinya menyakiti diri kita sendiri dengan sebuah penyesalan. Seolah pengorbanan dan cintanya pada kita yang begitu besar hanyalah sia-sia dan tak berarti.”

Jleb! Perkataannya bagaikan pisau yang menusuk jantungku. Itu sindiran untukku, ia mengingatkanku pada Sehun. Itulah yang telah kulakukan kepadanya, mempermainkan perasaan pemuda polos itu. Aku diam, tak bisa memberi jawaban apa-apa. Aku masih berdiri mematung sementara ia sudah menunggu di dalam mobil.

Kepalaku pening dan secara perlahan kakiku menyeretku untuk masuk dalam mobilnya setelah sekian lama berdiri dan hanya memandang sepatuku.

 

===

 

Pesta kelulusan sudah berakhir setengah jam yang lalu. Kai memintaku untuk menunggunya di taman belakang sekolah, katanya ia akan mengatakan sesuatu. Setelah kejadian itu, ini kali pertamanya aku berbicara lagi dengan Kai. Kurasa ini sangat penting jadi aku mati-matian berusaha menghilang dari pandangan Sehun. Ya, setelah kejadian itu aku masih bertahan di samping Sehun.

Apakah aku terlalu jahat? Memang. Aku sangat jahat pada Sehun. Kupikir aku tidak mencintainya, tapi aku tak rela kehilangan dirinya.

“Menunggu seseorang?” Itu suara Kai. Aku menoleh ke belakang.

“Ada apa kau menyuruhku kesini?” Tanyaku to the point.

“Emm… Sebenarnya bukan aku yang ingin bertemu denganmu, tapi seseorang.”

“Siapa?” Dia duduk di sebelahku.

“Sebentar lagi dia datang.” Perasaanku jadi tak enak.

Beberapa menit berlalu sedangkan aku dan Kai tak berbicara sepatah kata pun. Ia berbeda sekali dengan kemarin-kemarin yang agak cerewet. Apa mungkin ia gugup sama sepertiku karena kami pernah melakukan… Oh my… Itu first kiss ku! Aku melakukannya dengan first love ku. Aku sungguh beruntung bukan?

Suara langkah kaki mendekati kami, aku dan Kai menoleh ke belakang. Tepat saat itu juga Kai melontarkan sebuah kalimat, “Nah itu dia.”

“Yoonhee?” Aku setengah berbisik.

“Ya? Ini aku.” Jawabnya datar sambil tersenyum.

“Akan kutunggu di mobil.” Kata Kai. Pada siapa? Yoonhee mengangguk, itu berarti terjawab sudah pertanyaanku.

Yoonhee melangkah untuk duduk di sampingku. Ada yang tak beres disini.

“Bagaimana hubunganmu dengan Kai?” tanyanya.

“Apa maksudmu?”

“Sudah sejauh mana kalian?”

“Kami hanya teman biasa.” Jawabku berusaha santai.

“Bohong.” Katanya mengintimidasi.

“Kau ingin aku menjawab apa?” kataku malas.

“Kau menyukainya kan?”

“Jika iya, memang kenapa?”

“Se… Sejak, kapan?”

“Untuk apa kau tahu.”

“Sejak kapan?” Dia menandaskan pertanyaannya.

“Sudah lama. Sejak kalian belum ada hubungan apa-apa.”

“Kau yakin?” Aku malas menjawab pertanyaannya. Sungguh.

“Kau pikir?”

“Benarkah? Mengapa kau tidak pernah bercerita padaku?” Tanyanya.

“Aku tak pernah bercerita padamu? Hei, disini kau yang tak pernah memberiku kesempatan. Ani! Hubungan kalian yang tak pernah memberiku celah sama sekali.” Jawabku ketus.

“Aku tahu saat itu aku benar-benar menyakiti perasaanmu. Aku minta maaf karena aku benar-benar tak tahu. Tapi, mengapa kau harus membalasnya sekarang? Dengan cara sekejam itu.”

“Membalas katamu? Aku hanya berusaha mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Lagipula aku tak melakukan banyak hal karena dengan sendirinya dia mendekatiku.”

“Tentu saja setelah kau menggunakan Chanyeol.” Cih! Rupanya dia sudah tahu semuanya. Akan kubunuh kau Park Chanyeol.

“Em… Tapi jangan pernah melakukan apa-apa pada Chanyeol karena bukan dia yang memberitahuku.”

“Lalu siapa?”

“Kau tak perlu tahu.”

“Apa Kai juga tahu?” tanyaku takut-takut. Dan yang kutakutkan terjadi, dia mengangguk.

“Kami sudah lama mengetahuinya, Jihyun-ah.”

Berarti selama ini…

“Tapi… Tapi kami…” jawabku gugup.

“Mianhae, itu aku yang memintanya. Sebenarnya ia tak mau tapi aku memaksa karena aku ingin membuktikan apakah perkataan orang itu benar karena ini sebenarnya diluar akal sehatku.”

Itu yang sebenarnya terjadi? Semua barang-barang itu? Ajakannya? Dan… ciumannya??

“Kau jahat Yoonhee! Mengapa kau mengatakan yang sebenarnya? Kau tahu itu membuatku bertambah sakit!” dia berusaha meraih tanganku namun aku menolaknya.

“Mianhae….”

“Kau benar-benar wanita iblis!” kataku ketus dan sepertinya dia agak marah dengan perkataanku barusan. Dia menutup mata dan menggigit bibir bawahnya.

Aku menunggu kalimat balasannya namun sepertinya tak ada yang ingin ia katakan. Intinya mereka berdua sudah tahu rencana busukku dan perbuatan Kai kemarin-kemarin adalah balasan mereka untukku. Hebat. Apa aku salah mempunyai perasaan lebih pada orang lain? Apa aku salah jika berusaha mendapatkan yang kuinginkan? Kusadari perbuatanku kemarin memang sangatlah jahat namun… Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku amatlah kecil dimata mereka dan jika aku terus diam maka batinku tambah tersiksa. Aku tahu aku sangat egois namun aku benci hanya menjadi yeoja rapuh yang hari-harinya hanya diselimuti warna suram. Aku juga ingin mendapat kebahagiaan!

Aku sangat ingin menangis tapi perasaan marah yang berkecamuk ini seperti menghalangi keluarnya air mataku.

“Sudah selesai? Aku pergi.”

“Chankaman.” Dia menarik tanganku untuk duduk kembali. Aku menurut namun terus memandangi tasku.

“Sudah cukup Yoonhee. Aku sudah muak melihat dirimu. Apa kau tak sadar? Hidupmu yang amat sempurna itu membuat semua orang iri?! Harta melimpah, wajah cantik dan tubuh sempurna, pintar, dan mempunyai banyak teman. Apa yang kurang dari hidupmu?! Kau mempunyai segala yang tak pernah kumiliki. Hidupmu bagaikan cerita dalam dongeng. Aku tak ingin uangmu, aku tak ingin memiliki wajah secantik dirimu dan otak sepintar kau. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya saling memiliki dengan orang yang dicintai. Itu sudah cukup. Tapi… Tapi kau mengahancurkan semua harapanku! Aku benar-benar membencimu! Salahkah aku yang ingin merasakan seperti apa yang kau rasakan? Apa aku salah?! Apa aku terlalu berlebihan? Kenapa semasa hidup aku tak pernah merasakan kebahagiaan sama sekali? Kenapa Tuhan selalu memberikan semuanya padamu? Kenapa?! Kenapa Ia tak pernah memberiku kesempatan sama sekali! Apa kau bisa menjawabnya?!” Kataku dengan berurai air mata yang entah sejak kapan sudah keluar. Dia tertegun begitupun aku. Aku tak menyangka bisa berkata seperti itu dan rasanya sangat lega bisa mengatakannya.

“Mulai sekarang, aku tak akan menganggu kalian. Aku tak akan mengusik kehidupanmu yang sempurna.”

Aku berbalik dan melangkah namun tiba-tiba Yoonhee memelukku dari belakang.

“Mianhae Jihyun-ah… Mianhae. Aku tak pernah tahu apa yang kau rasakan, aku tak pernah mengerti perasaanmu. Aku benar-benar sahabat yang bodoh.” Dia terisak sama sepertiku.

“Ya, kau memang sangat bodoh. Tapi sebenarnya aku yang lebih bodoh karena terlalu bermimpi mendapat hal yang kuinginkan, padahal itu tak mungkin terjadi. Aku yang terlalu berlebihan dalam bermimpi, mengapa aku harus merusak kehidupan indahmu yang telah ditata dengan apik oleh Tuhan. Bukankah itu sama saja dengan aku melawan-Nya?”

Dia melepas pelukannya dan berdiri di hadapanku. Ia menatapku cukup lama hingga akhirnya berkata, “Tidak Jihyun-ah. Kehidupanku tidak seindah yang kau bicarakan. Kehidupan yang indah sebenarnya tergantung bagaimana diri kita menghadapinya. Semua yang diberikan oleh Tuhan selalu indah dan terbaik bagi kita. Kita hanya perlu mensyukuri apa yang terjadi. Karena hanya dengan bersyukur hal sekecil dan seburuk apapun dapat berubah menjadi hal yang sangat istimewa. Pandanglah sesuatu dengan detil dan carilah kelebihannya meskipun itu tak kasat mata dan hanya seberat debu. Karena dengan percaya bahwa hal itu mempunyai kelebihan, kita jadi lebih menghargainya. Semua hal luar biasa tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kitalah yang harus membangunnya karena Tuhan hanya memberikan pondasi bagi kita untuk berdiri.”

Aku tak tahu itu apa namun setelah ia selesai berkata, aku merasakan adanya energi lebih dari dalam diriku. Aku lupa kapan terakhir kali aku berterima kasih pada Tuhan. Ah iya, itu kulakukan sebelum orang tuaku meninggal. Mereka mengajarkanku untuk selalu berterimakasih pada Tuhan karena Dialah yang memberikan kami kehidupan dan memberi kesempatan untuk hidup berdampingan dengan manusia lain. Namun entah mengapa aku merasa Ia tak lagi di pihakku saat kedua orang tuaku meninggal.

“Apa selama ini aku terlalu menyia-nyiakan hidupku?”

Dia meraih kedua tanganku yang bebas dan menggenggamnya. “Belajar untuk menerima sesuatu dan mensyukurinya, karena suatu saat hal yang tidak kau inginkan itu bisa menjadi hal yang paling esensial dalam hidupmu.”

“Kenapa kau berkata begitu padaku?”

“Karena aku peduli terhadapmu. Aku sangat menyayangimu Jihyun-ah. Aku ingin kau kembali seperti semula. Aku ingin melihat lagi cahaya yang pernah ada dalam hidupmu dan aku rindu pada dirimu yang selalu menghadapi semuanya dengan positif.”

“Aku… Aku tak tahu lagi dimana diriku yang dulu.”

“Dirimu masih di sini. Bukalah mata dan hatimu kemudian pandanglah segalannya dengan cara yang sama seperti dulu.” Dia memegang pundakku.

Aku mengerti apa yang ia maksud, namun aku lupa bagaimana caranya kembali seperti yang ia inginkan.

“Yoonhee, tolong bantulah aku.”

“Pasti Jihyun-ah. Pasti.”

Kejadian ini benar-benar memberiku pelajaran. Mungkin aku memang tak memiliki kesempatan dimana Kai membalas perasaanku jadi lebih baik ku ikuti saja alur dari Tuhan. Suatu saat nanti pasti aku mendapat seseorang yang jauh lebih baik darinya. Mereka saling mencintai. Niatku untuk memisahkan mereka adalah ide yang sangat gila karena itu sama saja melukai perasaan orang yang kucintai dan juga sahabatku.

“Apa lagi yang harus kulakukan untukmu?” katanya menatapku dalam.

“Aku memaafkanmu, aku juga minta maaf karena selama ini sudah sangat jahat padamu. Terima kasih, berkat kalian aku jadi menyadari tindakan bodohku. Kau tak perlu melakukan apapun. Kau hanya perlu melanjutkan kehidupan normalmu dengan lebih baik. Siapa tahu nantinya kau akan mendapat hal-hal yang lebih baik lagi.”

Kemudian kami berpelukan sangat erat. Saat itu juga aku merasakan kehangatan yang selama ini tak pernah aku dapatkan. Bertahun-tahun bersahabat dengannya, baru kali ini aku merasakan perasaan setenang ini.

“Pulanglah, Kai sudah menunggumu.” Kataku.

“Tapi…”

“Ia hanya mencintai kau seorang. Jaga dia baik-baik. Aku akan sangat bahagia melihat kalian bersama.”

“Jihyun-ah…”

“Tak ada gunanya. Sekeras apapun aku mencoba, ia tak akan pernah menyukaiku. Kini satu-satunya hal yang kuinginkan adalah membuatnya bahagia. Dan dia hanya akan bahagia saat bersamamu.”

“Gomawo Jihyun-ah.”

“Pulanglah sekarang, ini sudah sangat malam.”

“Lalu kau?”

“Aku masih ingin disini.” Kurasa ia mengerti kalau aku sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.

Setelah kepergian Yoonhee, aku mencoba merenungi kejadian barusan. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Bukankah seharusnya hatiku sangat hancur setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa perlakuan Kai selama ini hanyalah bohong? Memang tadi aku sangat hancur, marah, dan kecewa namun sekarang sudah tidak lagi. Aku malah lega karena akhirnya aku mengeluarkan semua yang ada dalam diriku yang selalu mengganggu ketenanganku. Aku tahu aku ikhlas dan rela, tapi se rela-relanya hati tak akan bisa berbohong kalau sedang merasakan cinta. Apakah perasaanku pada Kai sudah berkurang? Atau apa karena perkataan Yoonhee tadi? Bukan, tentu bukan.

 

===

 

Aku bangun jam 12 siang karena tadi aku sampai rumah jam 3 dini hari. Rasanya masih sangat ngantuk. Aku beranjak dan mengaca.

“Omo!!” Aku kaget melihat wajahku yang amat menakutkan. Rambut acak-acakan, baju berantakan dan kusut. Mata sembab dan ada lingkaran hitam yang amat jelas di sana. Aku menyisir rambut dan tak sengaja menyenggol ponselku yang ada di atas meja.

Aku tersenyum melihat gantungan yang terpasang di ponselku. Pemberian Sehun yang berpasangan dengan miliknya. Aku jadi teringat kalau besok aku harus bertemu dengannya karena kami ada janji. Apa dia juga tahu masalah itu? Kurasa sudah tahu atau belum, aku akan tetap memberitahunya. Ini bisa menjadi pertimbangan baginya untuk tetap mencintaiku atau meninggalkanku. Lelaki sebaik dirinya tak pantas berada di sisiku.

 

===

 

Aku segera mandi dan menghilangkan penampilanku yang sangat kusut ini. Aku memakai kaos biru favoritku, kupadukan dengan cardigan warna senada dan jeans hitam juga sepatu kets andalanku.

Aku menunggu di cafe tempat kami biasa bertemu. Aku berangkat duluan karena ia tak kunjung menjemputku dan anehnya nomornya juga tak bisa dihubungi. Dia bukanlah orang yang suka ingkar janji jadi kurasa hari ini pun ia tak akan mengingkari janjinya.

Satu jam aku menunggu di cafe yang lumayan ramai ini namun ia tak kunjung datang. Ada perasaan khawatir terbesit di benakku. Ada apa dengannya? Apa dia sudah tahu dan marah padaku? Kuputuskan untuk ke rumahnya dan meminta maaf jika dugaanku memang benar.

Perkataan pembantunya sangat membuatku shock.

“Tuan muda baru saja berangkat ke Canada tadi pagi.”

“Melanjutkan sekolahnya.”

Bukan kalimat itu yang mebuatku tertegun, namun makna tersirat dari kalimat itu.

“Akan ada suatu saat dimana aku akan meninggalkan Korea dan pergi ke seluruh dunia untuk mewujudkan mimpi-mimpiku.”

“Ne. Itupun jika aku sudah tak punya urusan di sini. Namun sepertinya aku tidak akan melakukan itu.”

“Karena aku tak akan sanggup meninggalkanmu, Jihyun-ah…”

Kalimat yang diucapkan Sehun beberapa bulan yang lalu kembali berputar di otakku. Ia bilang tak akan meninggalkanku disini, tapi ia melakukannya. Urusannya sudah selesai? Aku, akulah alasan mengapa ia tak ingin pergi saat itu. Tapi saat ini? Ia melupakanku?

Seketika aku menangis, entah mengapa aku juga tak tahu. Rasanya sakit sekali ketika ditinggal pergi olehnya. Aku sangat merindukannya. Jika aku masih mempunyai kesempatan aku ingin memeluknya sekedar mengucap kalimat perpisahan. Namun itu tak akan pernah terjadi karena ia pasti sudah sangat membenci dan menolakku.

Aku berjalan tanpa memperhatikan langkahku. Tiba-tiba sebuah mobil menyalakan klaksonnya dari belakangku. Aku kaget dan segera minggir ke tepi jalan. Aku baru sadar, sekarang aku berada tepat di depan rumah Yoonhee. Mungkin aku membutuhkan seseorang untuk berbagi.

“Wae? Kenapa dia meninggalkanku?” Aku masih terisak.

“Itu sudah keputusannya, Jihyun.”

“Dia membenciku.”

“Kau tahu dia amat mencintaimu.”

“Sekarang tidak lagi. Aku membuatnya terluka, aku menyia-nyiakan cintanya. Aku bodoh Yoonhee.”

“Tenanglah Jihyun. Dia pasti mempunyai alasan yang lain.”

“Kenapa dia tak mengucapkan kalimat perpisahan padaku? Apa dia benar-benar sudah tak menganggapku? Yoonhee, percayalah aku sudah berniat untuk meminta maaf padanya. Namun itu semua terlambat, aku tak mungkin bisa menebus semua kesalahanku padanya. Kenapa dia tak memberiku waktu?!”

“Dia sudah memberimu waktu yang sangat lama.” Gumam Yoonhee sangat pelan.

“Maksudmu?”

“Apa kau mencintainya?”

“Aku… Aku tak tahu. Aku… Aku hanya merasakan sebuah kenyamanan saat di dekatnya dan aku terluka saat dia pergi dariku. Aku tak bisa menjelaskan perasaanku sendiri Yoonhee-ya.”

“Aku tak tahu ini keputusan yang baik atau tidak, namun akan lebih baik jika kau tahu seberapa besar Sehun mencintaimu.”

“Dia selalu membuatku merasa berharga, namun aku tak tahu seberapa dalam perasaannya. Aku yakin setelah ini dia akan dengan mudah melupakanku.”

“Tolong jangan pernah meragukan perasaannya padamu Jihyun-ah… Apa kau tahu, siapa yang memberitahuku tentang rencanamu?” Aku menggeleng cepat.

“Orang itu… Dia adalah Sehun.” Jantungku serasa berhenti berdetak.

“Mana mungkin? Mengapa ia sama sekali tak menjauhiku sejak saat itu? Kenapa dia tak memutuskanku? Jangan bohong Yoon, ini sama sekali tidak lucu.”

“Aku serius. Ia memiliki hati yang sangat kuat meskipun kadang terlihat rapuh di luar. Setelah ia mengetahuinya, ia memang sangat terluka namun perasaannya padamu tak pernah berkurang. Ia-Tetap-Mencintaimu. Selama ini ia sudah berusaha, ia ingin membuat kau melupakan Kai. Ia tahu kau tersiksa berada di dekatnya jadi ia ingin membantumu mewujudkan keinginanmu, yaitu meraih cintamu namun itu bukanlah hal yang mudah dan hampir tak mungkin ia kabulkan. Ia bertahan karena ia ingin memberikan hatimu waktu untuk dia agar bisa masuk dan menyembuhkan luka di hatimu. Ia memperlakukanmu dengan sangat baik karena ia ingin agar kau berpaling padanya dan melihat ketulusan cintanya.”

Aku terisak lagi. Selama ini aku menyia-nyiakan orang yang sangat mencintaiku dan malah memilih orang lain yang sama sekali tak ada perasaan apapun padaku. Ia selalu memberiku apapun yang tak pernah kudapat dari Kai. Aku sangat menyesal. Sangat menyesal karena aku baru sadar, bahwa aku mencintainya.

 

 

===To be Continued===

 

Yak. Akhirnya si Jihyun sadar. Kemarin pada nyumpahin Jihyun kan ya abisnya jahat banget. Ahahak. Sekarang anaknya udah tobat nih. Gimana? Kurang greget yah pelajaran buat dia? Ahehehe.

Dikomen makasih, gak juga gak papa. Yang penting makasih udah baca.

Saranghae~~

Iklan

27 pemikiran pada “Way to Get Yours (Chapter 6)

  1. pertamanya sih gondok seanterio pelanet.. o_o’

    tapi sekarang yonhee kan dah balikan lagi sama kai.. (yuhuuu.. :D)

    tapi terakhirnya kasihan lihat si jihyun…
    cepat kau pulang nak sehun.. 😀 hahahag…

  2. author~
    annyeong,salam kenal^^
    ceritanya seru,seru banget. dari part 1 ampe sekarang bener-bener menguras emosi dan kadang juga air mataku tumpah.. ahh,jinjja. ceritanya beneran banget dapet fell-nya.
    mian juga,baru komen dipart ini kkk~ ditunggu next partnya yaaaa~~
    akhirnya jihyun sadar juga,walaupun sadarnya telat sih. secara,sehun nya udah pergi.. *kadang gemes juga deh ma jihyun,ingin ngegetok kepalanya gitu*
    terus,ga nyangka kalo yg tau rencana picik jihyun tuh ternyata sehun tehun,bener-bener ga bisa tebak.
    kenapa sehun bisa baik gitu coba? padahal dia udah tau kelakuan picik jihyun?
    ohya thor,mau nanya kenapa si jihyun ga ngerasa canggung ke yonhee? secara dia kan udah kisseu ma kai? emang sih,ini juga rencananya yonhee,tapi kan dia tuh harusnya ngerasa malu.
    tapi akhirnya yonhee ma kai balikan kan? ga tega ngeliat mereka putus kaya gitu.
    huahh,komen aku terlalu panjang ya thor? mian .____.v abisnya gereget sih thor :3 next partnya ditunggu~ ditunggu banget~
    XOXO buat author :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s