Our Love (Chapter 9)

Our Love (Chapter 9)

Author : Choi Nunu a.k.a. Kim Hye Seok

Genre : Romance, Friendship

Length : Chapter

Cast : Kim Hana; Oh Sehun; Park Chanmi; Park Chanyeol; Kim Jong In; Oh Sekyung

Annyeong!! Here it is.. Our Love Chapter 9… Just happy reading and i hope readers will like the story. Don’t forget to leave your comment. Gamsahamnida!! ^^

***

*Kim Hana POV*

“Sehun-ah…” panggilku, membuatnya menghentikan ceritanya.

“Nuguya? Yeoja itu…boleh aku tahu siapa?” tanyaku dengan sedikit keraguan.

Sehun mengangkat alisnya terkejut, menatapku, tapi kemudian tersenyum lebar hingga matanya menyipit sempurna.

“Hm…itu…sebenarnya…”

“Ne?”

“Hm…yeoja itu…” Aku menatapnya penuh harap, sangat penasaran dengan siapa yang disukainya, benar-benar penasaran. Apakah yeoja itu Chanmi? Atau yeoja lain yang dikenal Sehun? Nuguya?

“Hehe…sebenarnya yeoja itu…”

“Ne?”

“Rahasia!” Sehun tertawa lebar dan segera bangkit dari duduknya.

Aku masih terkejut memandang kosong ke depan, hingga aku menyadari Sehun yang mengerjaiku.

“Yak!! Oh Sehun!!”

***

Aku pulang dari kampus sendirian sore ini. Oppa tidak bisa menjemputku karena menemani Sekyung eonnie ke rumah sakit, dan di kampus aku tidak dapat menemukan Chanyeol oppa yang sepertinya memang sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Aku berjalan pelan ketika hampir sampai ke apartemen sambil sesekali meminum milk tea dingin yang sempat kubeli di kedai dekat halte.

Aku masih penasaran dengan cincin yang ditunjukkan Sehun beberapa hari lalu. Umm…dia mau memberikan itu pada siapa ya? Aku benar-benar gila memikirkannya!

“Hana!!” aku menoleh saat suara seorang yeoja memanggilku diiringi deru kendaraan yang berhenti di dekatku. Aku menoleh dan mendapati Chanmi yang melambaikan tangan sambil tersenyum lebar dari belakang Sehun yang mengendarai motor. Sehun membuka kaca helmnya dan matanya melengkung, pertanda ia juga tersenyum lebar. Aku hanya tersenyum malas pada mereka berdua.

“Kenapa berjalan sendiri?” tanya Chanmi yang sudah turun dari motor dan memberikan helmnya pada Sehun. Mengingatkanku pada seseorang dulu… T.T

“Ah, Jong In oppa sedang menemani Sekyung eonnie ke rumah sakit.” aku hanya tersenyum miris.

“Yak! Aku duluan, harus memarkir benda ini dulu.” kata Sehun dan kami, tepatnya Chanmi, hanya mengangguk singkat. Namja itu pun berlalu meninggalkan kami.

Aku hanya menatapnya dari jauh sambil sedikit cemberut. Aku cemburu, jujur saja.

“Hana-ya, kau ada waktu akhir minggu ini?”

Aku menggeleng pelan menjawab pertanyaan Chanmi, lalu kembali meminum milk tea-ku. Kalau dia mau mengajakku pergi bersama, aku rasa aku sedang tidak ingin.

“Hm…sayang sekali. Padahal Sehun mengajakku untuk makan malam, tapi kurasa akan semakin ramai kalau kau juga ikut. Sudah lama kita bertiga tidak berkumpul, eoh?”

Mataku membelalak lebar dan hampir menyemburkan minumanku saat mendengar perkataan Chanmi. Omona! Apa mereka akan berkencan? Ah, Sehun akan memberikan cincin itu pada Chanmi saat mereka makan malam nanti. Ah, setengah diriku, ani, aku, semua dari diriku tidak rela itu terjadi. Aku merutuki diriku sendiri yang menjawab tanpa bertanya lebih dulu. Pabbo!! Tapi otakku juga bekerja cepat mencari solusi.

“Hm…kau benar juga, kita sudah jarang berkumpul seperti dulu. Geuraeyo, aku akan mencoba mengosongkan jadwalku, eotte?” aku memasang senyum lebar dan tidak berhenti berkata dalam hati, ‘Jawab iya. Jawab iya.’.

Anggukan kepala dari Chanmi membuat senyumanku makin lebar.

“Gomawo Hana-ya!” ujarnya ikut tersenyum.

“Ne, itu bukan apa-apa.”

*Kim Hana POV End*

“Wah, kau berdandan hari ini? Mau kemana? Apa mau keluar bersama Chanyeol hyung?” Jong In yang sedang melewati kamar dongsaengnya kembali lagi dan memasuki kamar Hana yang pintunya setengah terbuka. Hana mencibir, menyesali dirinya yang tidak mengunci pintu rapat-rapat tadi.

“Aniyo. Mana mungkin keluar bersama Chanyeol oppa?” jawabnya sedikit kesal dengan kemunculan oppanya.

“Eoh? Aku lupa kau sudah putus dengannya.” Jong In menepuk jidat lalu tersenyum jahil.

“Aku tahu kau hanya mengolokku. Geumanhe oppa!”

Jong In tertawa kecil melihat ekspresi dongsaengnya yang kesal.

“Hehe. Arraseo. Lalu apa kali ini dengan Sehun?”

Hana segera memberikan tatapan tajam pada oppanya yang terkadang sangat ingin tahu itu. Sadar ditatap begitu, Jong In hanya mengangkat bahu santai.

“Aku hanya bertanya.” katanya datar.

“Ne. Ne. Aku memang akan pergi bersama Sehun…” Jong In tersenyum lebar dengan pengakuan dongsaengnya.

“Dan juga Chanmi.” tambah Hana lagi, membuat Jong In tidak hanya tersenyum tapi tertawa.

“Hahah. Cinta segitiga! Geuraeyo, selamat bersenang-senang!” katanya sambil meninggalkan kamar Hana, menghindari lemparan bantal dari dongsaengnya itu.

“Kkamjong Pabbo!!!”

***

Chanmi terlihat cantik dengan pakaiannya malam ini, membuat Hana sedikit malu dengan dirinya sendiri sementara Sehun sepertinya sangat mengagumi Chanmi.

“Hana-ya, aku terkejut saat Chanmi memberitahuku kau akan ikut.” kata Sehun sambil tersenyum.

“Jinjjayo? Aku juga terkejut saat Chanmi mengajakku, kupikir kalian akan berkencan.” balas Hana dengan senyuman aneh di wajahnya.

Chanmi tertawa pelan, “Aku dan Sehun tidak mungkin berkencan.” ujarnya.

Hana tersenyum padanya, lalu menatap Sehun. Namja itu hanya mengangkat bahunya santai.

“Mungkin saja.” katanya pelan.

Mereka memilih sebuah restoran keluarga yang sering dikunjungi Sehun dan keluarganya. Tempat yang nyaman dan teratur, dengan pelayanan yang menyenangkan. Hana dan Chanmi langsung menyukai restoran ini begitu mereka masuk ke dalamnya.

Setelah memesan makanan, mereka sempat larut dalam obrolan seputar kuliah mereka. Hana jadi tahu betapa populernya Sehun saat ini di antara para yeoja di kampusnya, begitu pula dengan Chanmi yang rupanya sangat sibuk dengan segudang kegiatan.

“Aku hanya jadi mahasiswi biasa saja di kampus. Yah, paling tidak sedikit terkenal saat menjadi kekasih Chanyeol oppa.” pikir Hana, dia hanya tersenyum mendengar cerita yang sebenarnya banyak mengalir dari Chanmi.

Yeoja itu terlihat sangat senang dan menikmati perbincangan mereka. Sehun sesekali menambahkan perkataan Chanmi, kemudian mereka tertawa bersama.

Selepas makan malam, mereka kembali mengobrol seru, terutama Sehun dan Chanmi. Ya, merekalah yang saling bicara dan Hana menjadi pendengar yang baik di luar, dan penuh dengan cemburu di dalam hatinya. Setidaknya dia memahami posisi Chanmi dulu saat Hana dan Sehun masih sangat dekat.

“Hana-ya, bagaimana denganmu?” tanya Chanmi tiba-tiba.

“Eoh?”

“Kata oppa setelah putus dengannya kau lebih suka menyendiri di kampus.”

Hana tertawa setengah terpaksa, “Aku? Biasa saja. Memang sejak awal aku paling dekat dengan Chanyeol oppa. Aku tidak memiliki teman dekat di kampus seperti kalian berdua.”

Sehun menatap Hana dan tersenyum tipis, “Kau sangat cerewet, seharusnya jadi pusat perhatian seperti dulu, eoh? Ah, aku jadi ingat kejadian di taman kanak-kanak, kau ingat? Saat perkenalan pertama?”

Hana mengangguk cepat, “Saat kau berkenalan dengan satu kalimat panjang tanpa jeda. Hahah! Itu benar-benar lucu. Kau tahu Chanmi-ah? Namja populer ini sangat gugup di hadapan teman yang lain. Ah, benar-benar pabbo!”

Chanmi  dan Hana tertawa sementara Sehun menatap Hana dengan tatapan merengut.

“Memangnya aku sebodoh itu?”

“Aigoo…sebenarnya kau bukan bodoh Sehun-ah, hanya saja kau sangat penakut saat kecil. Ah, kau bahkan berteriak kencang saat melihat tikus di praktikum biologi, kau ingat?”

Wajah Sehun memerah mengingat hal itu, “Itu… aku hanya terkejut. Sekarang aku tidak seperti itu. Aku tidak takut.” katanya.

“Ne. Ne. Kau memang jadi namja yang keren saat ini.” Hana mengangguk pelan dan tersenyum pada chingunya itu.

“Jinjjayo? Aku keren?” tanya namja putih pucat itu sambil mengulum senyum. Hana dan Chanmi berpandangan sejenak dan tertawa.

“Aish, kalian bahkan tidak menjawabnya. Kalian harusnya mengakui kalau aku ini memang tampan.” gerutu Sehun lagi.

“Ne. Ne. Uri Sehun memang tampan, itu salah satu penyebab aku menyukaimu.” ujar Chanmi, “sebagai teman.” tambahnya cepat.

“Gwaenchana, kalaupun lebih dari itu.” Sehun memamerkan senyuman manisnya pada Chanmi dan dibalas yeoja itu tak kalah manis.

Hana berdehem pelan, “Ehm, apakah makan malam ini sebenarnya punya maksud tersendiri?” tanyanya tiba-tiba.

Sehun dan Chanmi saling pandang sejenak.

“Ne, kau ingat saat aku menanyakan pendapatmu beberapa hari lalu Hana-ya? Kurasa aku akan memberikannya hari ini.” ujar Sehun dengan penuh keyakinan pada Hana lalu berganti menatap Chanmi.

“Bagaimana denganmu, Chanmi-ah?” tanya Sehun lagi. Chanmi hanya mengangguk pelan, “Terserah padamu Sehun-ah.”

Sehun mengambil sesuatu dari sakunya, sebuah kotak biru muda yang Hana kenali sebagai tempat cincin yang tempo hari ditanyakan Sehun. Hana seolah terjebak di antara Sehun dan Chanmi yang malam ini sepertinya akan menjadi sepasang kekasih, yeoja itu menghela nafas sejenak. Kenapa kenyataan menyakitkan seperti ini terjadi di depan matanya? Apa ini karmanya yang sudah membohongi Sehun dulu tentang perasaannya? Hana benar-benar merasa hancur saat ini, dia menyesali dirinya sendiri yang mengikuti ajakan Chanmi untuk ikut makan malam hari ini.

“Apa kau mau menjadi yeojachinguku…?” Hana tidak mau mendengar perkataan Sehun lagi, hanya menyakitinya saja. Dia berusaha keras menulikan pendengarannya.

“Hana-yaaa…” Hana mendongak mendapati lensa hazel itu menatapnya lekat-lekat.

“Apa jawabanmu?” Chanmi mencondongkan badannya ke arah Hana sambil menatapnya ingin tahu.

“Mwoya? Naneun?” Hana yang kebingungan menunjuk wajahnya sendiri dan bergantian menatap Chanmi lalu Sehun.

“Pabboya! Bagaimana bisa aku tetap mencintaimu sampai sekarang? Haah…” Sehun menggerutu pelan, “Tentu saja kau, Kim Hana.”

“Chankaman!! Aku tidak mengerti.” Hana mengangkat kedua telapak tangannya sambil mengernyit bingung. Chanmi tertawa kecil.

“Ayo, ulangi lagi Sehunnie!” kata Chanmi pada Sehun, namja itu menghela nafasnya.

“Kim Hana…saranghaeyo. Maukah kau jadi yeojachinguku? Ah, ani…maukah kau jadi separuh sayapku agar kita berdua dapat selalu terbang bersama kemana pun?” Hana tidak dapat menahan mulutnya yang ternganga lebar mendengar perkataan Sehun.

“Nn…” Hana melihat Chanmi, chingunya itu mengangguk penuh semangat sambil tersenyum, “Nn..Ne. Aku mau Sehun-ah.” ujarnya malu-malu.

Sehun tersenyum lebar, kelegaan terlihat jelas di wajah tampannya, “Gomawo, Hana-ya.”

“Geundae, Chanmi-ah…”

“Stop it. Aku sudah mengubur perasaanku pada Sehun dalam-dalam, jadi kau tidak boleh mengalah untukku lagi Hana-ya.” Chanmi tersenyum tulus pada sahabatnya itu.

Hana memeluk Chanmi, “Mianhe…tto gomawo, Chanmi-ah.”

“Chukkae!!”

“Ahh…rasanya menyenangkan. Aku sudah memiliki yeojachingu sekarang!” Sehun menatap Hana dan senyuman lebar itu tidak sedetik pun lepas dari bibir tipisnya.

***

“Yak!! Kenapa rambutmu jadi seperti itu Sehunnie?!”

“Eoh? Tidak pantas yah? Kupikir ini terlihat bagus.”

“Sebenarnya…memang bagus.” ucap Hana pelan sambil menundukkan kepalanya.

Sehun tersenyum jahil melihat yeojachingunya. Dia mengangkat wajah Hana  menatapnya lekat-lekat sambil tersenyum tipis.

“Aku memang tampan, bagaimanapun juga.”  Sehun berkata pelan sambil mengedipkan sebelah matanya, tak lama ia tertawa melihat wajah Hana yang bersemu merah karenanya.

“Aigoo…lihat wajahmu itu chagiya! Hahaha. Sudahlah, ayo kita berangkat!” Sehun menyalakan mesin motornya, sementara Hana mengikutinya sambil mendengus kesal dengan kelakuan namjachingunya.

“Kenapa mengubah warna rambutmu. Pink pucat, kau jadi makin pucat, neo arra?” protes Hana dari balik punggung Sehun.

“Ah…ini menunjukkan hatiku yang penuh cinta. Bukankah pink itu warna cinta?” jawab Sehun asal.

Hana hanya mencibir, “Pabbo.” katanya pelan yang diikuti tawa lepas Sehun.

“Kalau kau mengantarku setiap hari, lalu Chanmi ke kampus bersama siapa?” tanya Hana. Pertanyaan yang terlintas dalam benaknya sejak beberapa hari lalu, tepatnya sejak Sehun mengantar jemput dirinya ke kampus.

“Chanmi? Dia bersama Chanyeol hyung, waeyo?”

“Hm…apa itu tidak merepotkan? Sehun-ah, kau tidak perlu mengantarku setiap hari, lagipula…” kata-kata Hana terputus karena Sehun menyentuh pelan tangannya yang melingkar di pinggang Sehun.

“Saranghaeyo, Hana-ya.” ucap Sehun pelan tapi cukup terdengar oleh Hana.

“Nado… nado saranghae Sehun-ah.”

***

*Oh Sehun POV*

“Noona, bagaimana perkembangan terapimu? Lusa kau sudah akan berangkat ke Jepang, ne?” aku duduk di bangku meja belajar Sekyung noona sambil membolak-balik buku pelajaran yang tergeletak di meja noonaku, kemudian menatap Sekyung noona. Noonaku tersenyum, senyuman manis miliknya yang selalu kusukai sejak kecil. Senyuman noona yang selalu ceria dan lembut, berbeda dengan senyuman penuh semangat milik Hana.

“Terapiku memang berjalan lancar, tapi dokter Jung menyarankanku untuk mempercepat keberangkatanku di Jepang, menurutnya harapan sembuh lebih besar jika aku menjalani terapi terbaik di sana.” aku tersenyum mendengar penjelasan noona dengan nada suara yang menyiratkan semangatnya.

Aku merasa lega dengan kondisi noona yang saat ini jauh lebih baik daripada saat dia merahasiakan penyakitnya. Noona terlihat lebih bersemangat dan bertekad untuk sembuh, walaupun ada kalanya saat penyakitnya tiba-tiba terasa sangat menyakitkan dia akan terlihat lemah dan pucat.

“Noona, cepatlah sembuh.” aku menggenggam tangan noona, merasakan ringkihnya tubuh noona saat ini. Senyuman yang sama dengan kondisi berbeda.

“Hm…aku akhir-akhir ini semakin cemas untuk pergi ke Jepang, Sehun-ah.” tiba-tiba raut wajah Sekyung noona meredup, aku rasa aku mengerti kekhawatirannya.

“Aku sangat ingin untuk sembuh, tapi aku takut kalau kenyataannya berbeda Sehun-ah…”

“Noona, jangan berkata seperti itu. Kau harus percaya kau akan segera pulih, kau tidak akan kalah dengan semua ini, noona.” aku mempererat genggamanku, menahan noona untuk berpikir lebih buruk lagi tentang dirinya.

“Aku…takut tidak lagi melihat senyummu, eomma, appa…” noona menarik nafas pelan, “Jong In oppa…” matanya berkaca-kaca.

“Noona! Tidak boleh bicara seperti itu!” aku menunjukkan wajah kesalku pada noona, berharap dia benar-benar menghentikan pemikiran buruknya itu.

Noona lagi-lagi tersenyum lembut, wajahnya sedikit lebih tenang dan teduh, tidak lagi muram.

“Ne, mianhe Sehunnie..” noona menggoyangkan pelan tanganku dan tertawa kecil.

“Humm…doakan aku. Aku akan berjuang, karena aku masih ingin memenuhi mimpiku…”

“Hidup bahagia selamanya bersama Jong In hyung?” Noona tertawa lepas saat aku dengan polosnya bertanya.

“Salah satunya. Geundae…aku juga masih ingin melihat kau dan Hana bahagia.” aku ikut tersenyum mendengar jawaban noona.

“Jadi…apakah noona sudah selesai berkemas?” aku bangkit berdiri dan memandang sekeliling kamar noona.

“Aku hanya membawa barang-barang penting Sehunnie.” noona menunjuk dua buah koper di sudut kamarnya yang sepertinya sudah selesai dibereskan.

“Hm…Kau akan sendirian di Seoul dalam waktu lama.” Noona menatapku dengan tatapan sedikit kasihan, aku hanya tersenyum padanya.

“Aku ini namja, tidak masalah untukku noona. Kau bisa percaya padaku.”

“Geuraeyo. Geundae, kau tetap dongsaeng kecilku, Sehunnie.”

*Oh Sehun POV End*

*Kim Hana POV*

“Oppa!” panggilku pada Jong In oppa yang sedang duduk di meja makan sambil memandang kosong. Wajahnya terllihat tidak baik sama sekali.

“Oppa!!” aku mengguncang pelan bahunya, Jong In oppa tersentak kaget.

“Wae?” tanyanya.

“Kau tidak ikut? Kita akan ke bandara, kan? Sehun sudah menunggu.” kataku.

“Ah, ne. Kajja!” Jong In oppa bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.

“Chagiya!” Sehun merangkul bahuku saat aku tiba disampingnya, aku tersenyum, dan melihat Sekyung eonnie yang terlihat cantik walaupun wajahnya pucat.

“Mianhe, kami agak lama.” Jong In oppa tersenyum sekilas kemudian dengan wajah khawatir menangkup kedua pipi Sekyung eonnie.

“Gwaenchana? Kau terlihat pucat.”

Sekyung eonnie mengangguk pelan, “Gwaenchana. Tidak usah khawatir.”

“Kajja, kita berangkat. Hyung, kau yang menyetir ya?” Sehun memberikan kunci mobilnya pada Jong In oppa. Dia duduk di kursi depan, sedangkan aku dan eonnie berdua di belakang. Kulihat dua buah koper sudah tersimpan rapi di bagasi belakang.

Kami sampai di bandara dan pesawat Sekyung eonnie masih akan berangkat sekitar setengah jam lagi. Sepanjang jalan aku memperhatikan raut wajah Jong In oppa, benar-benar tidak baik. Ah, aku jadi mengkhawatirkan oppaku itu.

Sekyung eonnie sempat terbatuk kecil dan dengan sigap Jong In oppa bertanya, “Gwaenchana?” Sekyung eonnie selalu menjawab dengan senyumannya. Senyuman pucatnya.

Aku menghampiri Sekyung eonnie dan berusaha tersenyum lebar ke arahnya, “Eonnie, berjuanglah! Kami akan selalu mendoakanmu.” ucapku menyemangatinya.

Sekyung eonnie tersenyum dan memelukku, “Gomawo Hana-ya.”

“Aku bersyukur karena kau selalu ada di samping Jong In oppa dan Sehun. Aku harap kau mau menjaga mereka berdua untukku.” katanya lagi sambil memegang kedua tanganku.

Aku masih tersenyum dan mengangguk padanya, aku berjanji akan berjuang untuk menyemangati dua namja penting dalam hidupku dan Sekyung eonnie.

“Eonnie, cepatlah kembali, oppaku akan sangat frustrasi tanpamu.” aku mengedipkan sebelah mata pada Sekyung eonnie dan berganti memandang Jong In oppa yang hanya tersenyum masam.

“Ne, noona harus cepat kembali. Ah, katakan juga pada eomma dan appa tidak perlu mengkhawatirkanku, mereka tidak berhenti menanyai keadaanku sejak kemarin.” Sehun membuat wajah sedikit cemberut tapi tak lama tersenyum lebar.

Kami bertiga, aku, Jong In oppa dan Sehun, mengawasi kepergian Sekyung eonnie, dia sudah memasuki boarding gate, membalikkan badannya dan melambai pelan pada kami.

“Eonnie yeoja yang kuat, aku yakin dia cepat kembali.” Aku menatap Jong In oppa yang masih menatap eonnie dengan pandangan sedih.

“Ne.”

*Kim Hana POV End*

Seoul, 9 months later…

“Aaahhh!!! Chanmi-ah!! Chukkae!!” Hana melompat-lompat girang sambil menggenggam tangan Chanmi yang tersenyum lebar.

“Aish, kau ini…” Sehun meringis pelan melihat kelakuan yeojachingunya.

Saking senangnya Hana melupakan mereka yang tengah berada di sebuah caffe kecil dan beberapa pasang mata menatapnya geli. Hana, Sehun, dan Chanmi duduk bertiga di sebuah meja bundar kecil di sudut ruangan caffe.

“Hehe, mianhe, aku terlalu senang.” Hana kembali duduk sambil masih tersenyum lebar, “Chukkae!!” katanya lagi sambil menggoyangkan pelan tangan Chanmi.

“Chanmi yang berpacaran dengan Baekhyun hyung, kenapa kau yang sangat senang?” tanya Sehun.

“Umm? Tentu saja karena dia chinguku! Aku juga harus bahagia kalau dia bahagia. Ah, tapi kabar ini menyenangkan!”

“Ne, tapi sepertinya aku membuat banyak yeoja di kampusmu patah hati, Na-ya.” ujar Chanmi.

“Ei, itu resiko. Hahah. Ah, aku mengatakan ini seperti tidak pernah merasakannya saja. ^^” Sehun mendengus pelan sambil tersenyum tipis sementara Chanmi menunduk geli.

“Geundae, Chanyeol oppa akan sangat kesepian karena sekarang kalau Baekhyun oppa datang ke rumah kalian pasti dia lebih memilih untuk menemuimu.”

“Aniyo…Mereka tetap saja seperti biasa. BaekYeol couple itu tidak akan terpisahkan.” Chanmi memasang ekspresi cemberut tapi sesaat kemudian tertawa bersama Hana dan Sehun.

***

“Ah, perasaanku yang mengganjal tentang Chanmi akhirnya lega juga.” Hana tersenyum simpul dan memandang Sehun yang duduk disampingnya sambil menonton TV.

“Karena Chanmi sudah memiliki namjachingu?” tanya Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari TV.

“Ne.” Hana mengangguk pelan.

Sehun mengelihkan pandangannya dari TV dan memandang Hana dengan ekspresi sedih.

“Waeyo?” tanya Hana sambil mengernyit bingung melihat Sehun.

“Kau tahu, kemarin noona meneleponku, dia berkata ingin segera kembali ke Seoul.”

“Bukankah itu bagus? Berarti keadaannya sudah hampir sembuh, ne?”

Sehun menggeleng pelan, “Justru eomma berkata keadaan noona sangat mengkhawatirkan. Sel kankernya sudah semakin ganas, dokter bahkan tidak menjamin lagi kesembuhannya. Noona juga tidak mau menjalani operasi, hanya kemoterapi saja.” Sehun mengakhiri perkataannya dengan helaan nafas panjang.

Hana menggelengkan kepalanya tak percaya, seharusnya keadaan Sekyung membaik, bukannya seperti yang sekarang malah terjadi. Bagaimana perasaan oppanya, Kim Jong In, kalau sampai mengetahui hal ini? Sehun dan Hana larut dalam diam yang cukup lama, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri yang sedang menerawang.

“Noona… mungkin akan kembali minggu depan.”

*Kim Jong In POV*

“Oppa, kurasa aku ingin kembali ke Seoul secepatnya.” suara Sekyung terdengar dari speaker ponselku. Aku tersenyum tipis, mendengar suaranya saja membuatku makin merindukannya.

“Ne, sabarlah chagi, sampai kau pulih kembali.” kataku mencoba menghiburnya.

Kami terdiam beberapa saat. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak mau membuatnya terbebani kalau aku mengatakan betapa aku merindukannya dan ingin dia cepat kembali. Hal terpenting bagiku saat ini adalah kesembuhan yeoja yang kucintai, tidak ada yang lain.

“Oppa…”

“Ne?”

“Aku ingin kembali ke Seoul minggu depan, maukah kau menjemputku di bandara? Aku sangat merindukanmu.”

“Mwoya?” aku tersentak mendengar perkataannya. Minggu depan? Memangnya Sekyung sudah sembuh?

“Bagaimana dengan pengobatanmu Kyung-ah?”

“Gwaenchana oppa, tidak usah khawatir.” Bahkan dari suaranya aku tahu dia masih dalam keadaan tidak baik. Bagaimana mungkin dia malah ingin kembali ke Seoul?

“Oppa…”

“…”

“Jong In oppa… Jebal. Aku sangat merindukan kalian semua…” aku merasa sakit mendengar suaranya, Sekyung sedang menahan tangisnya, aku tahu itu.

“Minta izin pada doktermu lebih dulu, kalau dia mengizinkanmu aku akan berada di sini untuk menjagamu, ne?” kataku akhirnya.

“Gomawo oppa… Saranghaeyo Kim Jong In.”

“Nado. Nado saranghae Sekyung-ah.”

***

Aku, Hana, dan Sehun sudah berada di terminal kedatangan dan sibuk mencari sosok Sekyung diantara penumpang-penumpang pesawat yang berjalan keluar.

“Oppa!!” aku menoleh dan tersenyum lebar sambil menghampiri yeoja yang kurindukan itu.

“Oppa! Bogoshippoyo!!” Sekyung memelukku, aku dapat merasakan tubuhnya yang ringkih itu, tidak seperti dulu lagi, aku bahkan heran bagaimana dia masih dapat berdiri menopang tubuhnya dengan kondisi selemah ini? Aku memeluknya dengan lembut, berusaha agar tubuh rapuh yeojaku ini tidak kesakitan, sudah cukup semua rasa sakitnya selama ini.

Kulepas pelukanku dan menatap sendu wajahnya. Wajah Sekyung jauh lebih tirus dan sangat pucat. Walaupun dia memang memiliki kulit putih pucat seperti Sehun, tapi Sekyung yang saat ini berada dihadapanku terlihat jauh lebih pucat. Ya Tuhan, hatiku sangat sakit melihatnya seperti ini. Dia tersenyum lebar, tapi sorot matanya terlihat lelah dan sedih.

“Yeppeoda.” Kubelai singkat pipinya dan dia tersenyum menatapku. Aku benar-benar ingin menangis melihatnya saat ini.

“Noona.” Sehun menghampiri kami dan berdiri di samping Sekyung, menatap Sekyung sama sedihnya denganku.

“Sehun-ah! Bogoshippo!!” Sekyung memeluk dongsaengnya itu, “Hana-ya!” panggilnya lagi melihat Hana yang juga datang dengan ekspresi wajah terkejut. Tidak ada yang tidak terkejut melihat kondisi Sekyung saat ini.

“Eomma dan appa dimana?” tanya Sehun.

“Mereka masih di Jepang. Eomma menyusul besok pagi bersama appa.. Eoh!” Sekyung terhuyung dan hampir jatuh, dengan sigap aku menahannya.

“Gwaenchana?” tanyaku dan hanya dibalas anggukan darinya.

“Jangan memaksakan dirimu.”

“Ne oppa.” katanya lagi, tetap dengan senyumannya.

Aku hanya menghela nafas pendek, “Kajja!” kugenggam tangannya erat, berharap itu dapat memberinya sedikit kekuatan untuk bertahan.

*Kim Jong In POV End*

*Oh Sekyung POV*

Genggaman tangan ini, aku sudah merindukannya sejak lama. Tidak kusangka akan memberikan efek besar bagiku ketika ia menggenggam tanganku dan memelukku, benar-benar rasanya sesuatu yang hangat menyelimuti diriku. Ah, Jong In oppa, betapa beruntungnya aku memilikimu… Hanya saja, aku tidak dapat membahagiakanmu seperti kau membahagiakanku, oppa.

“Chagi, kau melamun?” aku terkejut saat tangan hangat Jong In oppa menyentuh lenganku pelan.

“Eoh, oppa? Aniyo.” Jawabku cepat, tidak lupa seulas senyum menghiasi wajahku.

“Noona, bagaimana terapi pengobatanmu? Apa semuanya lancar? Kenapa tiba-tiba ingin kembali ke Seoul?” aku tersenyum mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari namja dongsaengku.

“Sehunnie, kau membuatku bingung harus menjawab pertanyaan yang mana lebih dulu.”

“Sebenarnya pertanyaannya hanya…apakah eonnie baik-baik saja?” aku dapat merasakan tatapan khawatir  dari lensa hitam Hana sama seperti tatapan lensa hazel dongsaengku.

“Nan gwaenchana.” jawabku akhirnya. Jawaban bohong yang akhirnya keluar dari bibirku.

Aku bukan tidak apa-apa, dan aku tidak baik-baik saja. Dokter bahkan sudah memvonis usiaku yang tidak akan lama lagi, hanya tergantung dari seberapa besar dayaku untuk bertahan sedikit lebih lama. Eomma dan appa menangis saat mendengar berita ini. Mereka mengizinkanku kembali ke Korea karena aku memohonkannya sebagai salah satu permintaan terakhirku.

Ya, bagiku berada dekat dengan orang-orang yang kusayangi dan sudah seperti keluargaku ini, juga menikmati hari-hariku bersama namja yang paling kucintai dalam hidupku, bagiku tidak ada keinginan terakhir yang lebih indah daripada ini.

“Cake!! Aku mau  strawberry cake oppa!” aku merengek kecil pada Jong In oppa yang duduk disampingku sambil menyetir. Dia memandangku sekilas lalu mengangguk dan tersenyum.

Jong In oppa memarkir mobil dan menemaniku turun membeli sebuah cake strawberry kecil di sebuah toko kue. Tidak butuh waktu lama dan kami sudah kembali duduk di mobil, melanjutkan perjalanan kembali ke apartemen.

“Ah, aku rindu sekali dengan kota ini.” ucapku sambil memandangi ke luar jendela. Aku memang sangat merindukan segalanya di sini.

“Kyungie-ah, neo… apa benar baik-baik saja?” aku melihat Jong In oppa, dia melirikku sekilas dan kembali memusatkan perhatian pada jalanan di depannya.

“Oppa, jangan khawatir. Aku selalu baik-baik saja, kau tahu itu kan?”

“Noona, kau jangan memaksakan diri. Wajahmu saja sudah sangat pucat.”

Aku menoleh dan menatap Sehun sambil tersenyum, “Bukankah kulit kita memang putih pucat Sehunnie? Sudahlah, kalian terlalu berlebihan.” aku hanya tertawa kecil pada mereka.

***

Sudah satu bulan aku kembali pada hari-hariku yang normal bersama Jong In oppa. Dia selalu menjagaku setiap hari, dan hampir setiap hari pula dia selalu memberikan kejutan-kejutan menyenangkan dengan beberapa hadiah lucu ataupun sekedar menceritakan hal-hal yang menyenangkan padaku. Bahagianya aku menjalani hidup yang bagiku tadinya hanya seakan mimpi. Hanya saja, mimpi indah yang kujalani saat ini juga diiringi kenyataan buruk, tubuhku semakin lama semakin lemah, aku tahu itu. Aku semakin merasakan sesaknya bernafas dan batuk darah. Pantulan wajahku di cermin benar-benar tidak dapat kukenali lagi, wajah yang tirus dan sangat pucat, aku benar-benar lelah dengan semua ini. Terkadang aku berharap segalanya akan segera berakhir, karena aku bahkan sudah terlalu lelah hanya untuk mengkonsumsi obat-obatan kemoterapi yang kurasa hanya sia-sia saja. Tapi aku juga tidak ingin melihat wajah sedih orang-orang yang kusayangi. Ya Tuhan, ini benar-benar sangat berat. Ini hal terberat dalam hidupku.

*Oh Sekyung POV End*

Sehun baru saja kembali dari kampus sore itu. Ia dan Hana sesekali bercanda sambil menaiki tangga apartemen. Baru saja membuka pintu apartemen, Sehun sudah membelalakkan matanya tidak percaya dengan yang dilihatnya.

“Noona!!!” jeritnya dan berlari menghampiri tubuh Sekyung yang terkulai tak bergerak di lantai ruang tengah.

Hana menutup mulutnya tak percaya, ia ikut menghampiri tubuh Sekyung. Sehun menggendong tubuh noonanya yang tidak sadarkan diri.

“Rumah sakit!! Ppaliwa Sehun-ah!” Hana berlari mendahului namjachingunya membukakan pintu dan mereka berlari secepat yang mereka bisa.

“Noona, bertahanlah.”

Kalimat itu terus menerus diucapkan Sehun selama perjalanan ke rumah sakit. Sekyung segera mendapat perawatan di ruang gawat darurat. Hana menghubungi oppanya, Kim Jong In, sementara Sehun menghubungi orang tuanya. Mereka berdua duduk terdiam di bangku rumah sakit, menunggu kabar dari dokter yang menangani Sekyung.

Sehun menghembuskan nafas keras, ia sangat gelisah menunggu kabar tentang keadaan noonanya, Sekyung. Ia terus menerus menggerak-gerakkan tangan dan kakinya gelisah. Hana melirik namjachingunya itu, ia mendesah pelan.

Tangannya bergerak pelan meraih tangan Sehun, dan mencoba tersenyum tipis saat Sehun menatapnya. Jelas sekali kekhawatiran di manik hazel namja itu, namun ia tetap tersenyum tipis membalas Hana.

“Gwaenchana. Semuanya akan baik-baik saja Sehun-ah.” gumam Hana pelan.

“Aku…tidak tahu Hana-ya… Firasatku berbeda dengan pikiranku.” balas Sehun pelan, ia hampir menangis dengan firasat buruk dalam hatinya.

“HANA! SEHUN!” Jong In berlari terengah-engah menghampiri Sehun dan Hana.

“Bagaimana? Bagaimana keadaan Sekyung?!” tanyanya panik.

Hana menggeleng pelan dan memegang lengan oppanya, “Belum ada kabar oppa. Tenanglah dulu.”

“Bagaimana aku bisa tenang?!!” Jong In menyentak lengannya dari pegangan Hana dan mengacak rambutnya frustrasi, “Bagaimana aku tenang kalau Sekyung sedang kritis seperti ini?!” katanya lagi dengan nada putus asa.

“Seharusnya aku tinggal bersamanya hari ini. Seharusnya aku tahu perasaan tidak enak sejak tadi pagi ada hubungannya dengan Sekyung.” Jong In memukul tembok rumah sakit, bahkan tidak dirasakannya sakit pada kepalan tangannya. Ia hanya ingin melampiaskan rasa menyesalnya, itu saja, dan berharap Sekyung akan baik-baik saja.

Semoga Oh Sekyung baik-baik saja, hanya itu yang ada di kepala tiga orang tersebut saat ini.

***

Sekyung mengalami koma, dia belum sadarkan diri dan kondisinya semakin melemah dari hari ke hari. Jong In dengan setia menunggui yeoja itu, menggenggam tangannya lembut, bercerita tentang hal-hal yang disukai yeojanya itu, membelai rambut Sekyung sambil sesekali berbisik memohon yeoja yang ia cintai itu membuka matanya.

Hana tidak dapat menahan air matanya, ia menangis setiap kali melihat oppanya dan Sekyung. Ia tahu betapa oppanya mencintai yeoja itu. Sehun, berusaha untuk tegar dan menguatkan eommanya yang sudah tidak kuat melihat penderitaan putrinya, tapi namja itu juga punya sisi rapuhnya sendiri, tak jarang ia ikut menangis diam-diam saat eommanya ataupun Hana menangis, atau saat melihat Jong In yang begitu setia menjaga noonanya.

Semua begitu mengkhawatirkan Oh Sekyung, namun yeoja itu tetap tidak membuka matanya, hingga hampir dua minggu setelah koma, tangan yeoja itu bergerak sedikit dalam genggaman Jong In. Namja itu terbangun dari tidurnya, ia menatap Sekyung penuh harap.

“Kyungie, ireona…” bisiknya pelan.

“Oo..oppaa..” suara serak yang terlalu pelan itu tertangkap telinga Jong In, namja itu melebarkan matanya menatap lekat-lekat Sekyung yang mulai membuka matanya.

“Kyungie-ah, aku di sini.” Jong In membelai lembut kepala yeoja itu.

“Go..ma..wo.. tto…” yeoja itu bernafas dengan susah payah, “goma..wo..tto.. mian…mianhe…”

“Kyungie-ah…” air mata Jong In tidak tertahan lagi, namja itu menangis.

Sekyung ikut mengeluarkan air mata dari sudut mata sayunya. Lagi-lagi yeoja itu mencoba berbicara, namun rasa sakit tidak tertahan di dadanya justru membuatnya sulit bernafas.

*Oh Sekyung POV*

Oppa… Jong In oppa…

Aku menangis melihatnya menangis. Namja yang kucintai, apa yang sudah melukaimu sampai kau menangis sesedih itu? Akukah yang sudah membuatmu seperti itu? Akukah yang menyebabkan air matamu itu oppa?

Uljima oppa, uljima. Aku bahkan tidak dapat mengatakan apapun lagi padamu, oppa. Nafasku, rasanya sangat sesak, sangat sulit untuk sekedar bernafas oppa, tapi kau tahu? Hatiku lebih sesak, hatiku sesak dan sedih melihatmu menangisiku. Uljima oppa.

Aku rasanya sangat ingin menyentuh pipinya dan menghapus air matanya, kembali membuatnya tertawa seperti biasa, karena aku paling menyukai dia yang tertawa sambil melengkungkan mata indahnya itu. Aku sangat menyukainya yang tertawa lepas, aku menyukainya yang menatapku dengan tatapan penuh sayang, aku tergila-gila padanya yang selalu mencintaiku dengan caranya sendiri. Saranghae. Jeongmal saranghaeyo Kim Jong In.

Kata-kata itu ingin kuucapkan tapi maafkan aku yang sudah tidak berdaya ini. Maafkan aku yang justru ikut menangis, bukannya menghiburmu.

“Sekyung-ah…”

Eomma… Eomma membelai rambutku lembut, sangat lembut. Wajahnya penuh dengan sisa air mata. Eomma, sudah selama apa kau menangisiku? Aku minta maaf padamu eomma.  Appa, aku juga minta maaf pada appa. Aku sangat beruntung memiliki eomma dan appa sebagai orang tuaku. Saranghaeyo eomma, appa.

“Noona… Noona… Andwaeyo…”

Oh Sehun, dongsaengku. Dongsaeng kesayanganku. Aku selalu tersenyum di depanmu, dan menangis di depanmu. Ya, kau adikku satu-satunya. Kau yang selalu mengetahui semua tentangku Sehun-ah, bahkan saat pertama kalinya aku menyadari kalau aku jatuh cinta pada Jong In oppa. Sehun-ah, uljima. Kau sangat tidak pantas menangis seperti itu. Coba perhatikan lensa hazelmu yang sangat teduh itu, aku tidak ingin lensa hazel favoritku itu basah oleh air mata. Jangan buat ekspresi menderita seperti itu Sehunnie. Uri saranghaneun dongsaeng, mianhe, jeongmal mianhe. Aku belum menjadi noona yang baik untukmu.

Hana-ya, aku harap kau mau menjaga Sehun dan Jong In opppa untukku. Hanya kau yang dapat membuat mereka tersenyum, jadi jangan menangis seperti itu, jebal. Kalau bukan seorang Kim Hana, aku tidak dapat mempercayakan orang-orang yang kusayangi pada yang lain lagi. Ah, Hana-ya, seandainya aku bisa mengeluarkan sepatah kata saja, aku ingin mengatakan padamu untuk selalu menjadi Hana yang ceria untuk semuanya.

Aku mencoba mengumpulkan udara sebanyak yang kubisa, benar-benar ada yang harus kusampaikan pada semuanya. Mataku kembali menatap Jong In oppa, tangannya masih membelaiku lembut, dan aku mencoba tersenyum padanya. Kuharap senyumku terlihat manis, karena aku ingat Jong In oppa pernah berkata kalau pertama kali dia jatuh cinta padaku karena senyumanku.

Oppa, apa kau juga ingat? Aku jatuh cinta padamu oppa, sejak pertama melihat lengkungan indah matamu saat tersenyum, jadi kumohon sekarang tersenyumlah lagi.

“Sa…rang…hae… oppa.” kata-kata itu yang sangat ingin kuucapkan padanya, dan dia memelukku, Jong In oppa memelukku. Hangat dan lembut.

Maaf aku tidak dapat membahagiakanmu Jong In oppa. Aku sudah terlalu lelah, jadi izinkan aku tertidur saat ini. Aku memang sangat ingin tidur dalam pelukanmu, karena pelukanmu itu sangat hangat. Jaljayo oppa…

*Oh Sekyung POV End*

“Sekyung-ah!! Andwae!! Andwaeyo!! Ireona Sekyung-ah! Ireona!!” Jong In memeluk tubuh yeoja yang sudah tidak bergerak itu, ia menangis memeluk tubuh kurus Sekyung yang saat ini sudah tidak memiliki nyawanya lagi.

Nyonya Oh terisak dalam pelukan suaminya yang juga ikut berurai air mata, sementara Hana menangis dalam rangkulan Sehun. Akhir yang mungkin terbaik bagi Oh Sekyung, yeoja yang akan selalu mereka kenang dalam ingatan mereka.

***

“Oppa…ayo kita pulang.” Hana menyentuh pundak Jong In dengan sangat pelan, seolah tidak mau mengusik namja itu sedikitpun. Jong In menangis saat pertama kalinya Sekyung pergi, namun hingga pemakaman Sekyung berakhir, tidak ada lagi air mata di wajah namja itu, namun ekspresinya yang kosong menunjukkan seberapa besar rasa kehilangannya.

Jong In bangkit dari posisinya yang semula berlutut di depan makam Sekyung, diusapnya pelan nisan pualam putih dihadapannya.

“Jaljayo, nae saranghaneun Sekyung. Saranghaeyo… yeongwonhi.” ucapnya pelan.

Namja itu berjalan, semakin lama semakin jauh, meninggalkan makam yeoja tercintanya. Mungkin Sekyung sudah tidak lagi ada bersamanya, namun namja itu masih akan mencintai yeoja itu, entah samapi kapan.

–Heaven, namanui saram, geurae nareul jikyeojul saram

Eoddeon seulpeumdo, eoddeon apeumdo, neowa hamkke handamyeon

Eoneu nugudo nan bureopji anha

Ddeollineun du soneul jabajwo

Naega saneun iyu neonikka

You’re my only one way

Ojik neoreul wonhae naega ni gyeote isseume gamsahae

You’re the only one babe

Himdeun sesang soge sarangeul alge haejun

Neo hanaro naneun haengbokhae…

Heaven, heaven, heaven…

Uri hamkkeramyeon we will never cry, never never cry

Heaven, heaven, heaven…

Yeongwonhi duriseo never gonna be alone–

(Ailee – Heaven)

~TBC~

Fuh, jadi sedih. Author niatnya buat ending di chapter 9, tapi rasanya agak tanggung. Jadi, silakan bersabar untuk chapter 10, yang semoga jadi ending yang bagus. *i hope*

Gamsahamnida for reading! Paipai. *teleportasi ke hati Kai*

Iklan

16 pemikiran pada “Our Love (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s