Our Love (Chapter 10)

OUR LOVE (Chapter 10-End)

 

Author : Choi Nunu a.k.a. Kim Hye Seok

Genre : Romance, Friendship

Length : Chapter

Cast : Kim Hana; Oh Sehun; Park Chanmi; Park Chanyeol; Kim Jong In

 

Annyeong readerdeul! After my hardwork, akhirnya FF ini kelar juga..fuhh! *lap keringet pakai handuk Dyo*

No more to say, just enjoy the final chapter and happy reading!! Don’t forget to leave your comment. Annyeong!! ^^

 

***

 

*Seoul, Januari 2014*

“Saengil chukkae hamnida!!!” teriakan riuh dari beberapa orang di sebuah ruang tengah apartemen membuat seorang namja menutup kupingnya walaupun senyuman memang tidak lepas dari wajah tampannya.

“Gomawoyo!” ucapnya sambil tersenyum.

“Oppa! Chukkae! Ini kado dariku dan Sehun.” Kim Hana menyodorkan sebuah kado berwarna biru tua pada oppanya yang sedang berulang tahun, Kim Jong In.

“Hyung, kalau kau tidak menyukainya protes saja pada yeoja ini, dia yang memilihkannya.” tunjuk Sehun pada Hana yang disambut dengan tatapan melotot yeoja itu.

“Yak! Jangan melemparkan kesalahan hanya padaku tuan Oh!” omel Hana.

“Jangan cemberut, nanti kau jadi jelek calon nyonya Oh, kau tahu?” goda Sehun sambil mencubit pelan pipi Hana dan mereka saling melempar senyuman bodoh.

“Yak! Jangan bermesraan di depan umum begitu!” terdengar gerutuan dari sebuah suara bass yang sudah akrab di telinga mereka semua.

“Chanyeol oppa!! Kau datang?” Hana tersenyum lebar melihat kedatangan namja itu. Park Chanyeol tersenyum lebar memamerkan giginya yang putih dan berbaris rapi.

“Tentu saja. Dan aku tidak sendiri.” katanya bangga sambil menggeser posisi berdirinya, memunculkan seorang yeoja manis di belakangnya.

“Annyeonghaseeyo! Choi Hye Seok imnida. Bangapseumnida!” ^^

“Ini tunanganku, Hye Seok.” jelas Chanyeol.

“Jinjjayo? Aah!! Chukkaeyo oppa!! Annyeong eonnie!!” Hana kembali tersenyum lebar.

“Hyung, chukkaeyo!” kata Sehun dan Jong In hampir bersamaan.

“Ini kado dari kami, saengil chukkaehamnida, Jong In-ssi.” Hye Seok tersenyum dan menyodorkan sebuah kado berpita silver pada Jong In.

“Gamsahamnida, noona.”

“Pernikahan mereka tiga bulan lagi, kalian harus datang.” Park Chanmi yang sejak tadi bergandengan dengan Baekhyun ikut menimpali, “Dan namja disampingku ini akan patah hati dengan pernikahan oppa dan eonnie. Kisah indah pasangan BaekYeol berakhir sudah..” tambahnya sambil menyenggol pelan lengan Bekhyun, namjachingunya, dan menyeringai.

“Aniyo! Aish, kau ini!”

Mereka tertawa melihat wajah Baekhyun yang cemberut karena ejekan yeojachingunya.

Jong In tersenyum lebar, ia senang melihat semua orang bahagia, terutama di hari ulang tahunnya ini. Namja itu menghela nafas pendek. Ingatannya kembali lagi, setiap kali banyak orang berkumpul dan tertawa ceria seperti ini, di kepalanya hanya muncul sebuah ingatan tentang seseorang. Seorang yeoja yang senyumnya selalu ia rindukan, bahkan setelah lima tahun berlalu.

Saat yang lain tengah menikmati makanan yang dihidangkan nyonya Kim di ruang makan, Jong In memilih beranjak dari keramaian, dan berdiri di balkon, menatap kosong langit di atasnya.

“Hyung.” Ia menoleh dan mendapati Sehun berdiri disampingnya.

“Sehun?” Jong In tersenyum sekilas pada namja itu.

“Kenapa keluar? Teman-teman lain menunggumu, ayo kita makan bersama.” ajak Sehun, namun ia sendiri ikut memposisikan dirinya di balkon dan memandangi langit, sama seperti Jong In.

“Menurutmu, apa yang dia rasakan sekarang?” tanya Jong In dengan pandangan menerawang.

Sehun menghela nafas, “Dia pasti sedih hyung. Kau tahu? Dia sangat sedih sampai-sampai tidak dapat tersenyum lagi.”

Jong In menoleh dan mengernyit menatap calon adik iparnya itu, “Kenapa seperti itu?” tanyanya pada Sehun.

Namja berkulit pucat itu mengangkat bahunya santai, “Itu mudah. Aku sangat mengenal mendiang noonaku. Senyumannya adalah senyumanmu hyung, dan dia akan berwajah masam kalau kau sehari saja tidak tersenyum padanya. Hah, menurutmu, bagaimana dia dapat tersenyum saat ini kalau kau bahkan murung di hari ulang tahunmu?”

Jong In tersentak mendengar pernyataan Sehun. Apa yang dikatakan namja itu benar, Jong In memang sudah sangat jarang tersenyum dan tertawa ceria seperti dulu semenjak kepergian Sekyung. Apakah saat ini justru yeoja itu sedih melihatnya?

“Sekyung-ah, mianhe…” lirih Jong In. Sehun menoleh mendengar bisikan lirih namja disampingnya.

“Hyung… kau harus melanjutkan hidupmu. Sekyung noona juga pasti akan bahagia jika kau bisa kembali seperti dulu. Aku tahu kau mencintainya, dan percayalah kalau seumur hidupnya, namja yang dicintai noona hanya kau, hyung.” Sehun menghela nafas pelan, “Geundae, saat ini noona sudah bahagia di tempat lain, jadi cobalah juga untuk mencari kebahagiaanmu di sini hyung.”

“Lagipula…” Sehun membalikkan badannya ke arah pintu kaca dan melihat sosok seorang yeoja yang tengah tertawa di dalam, “Yeoja yang kucintai tidak akan mau menikahiku sebelum kau menemukan seorang yeoja untukmu hyung. Itu masalah besar, kau tahu?”

Jong In segera saja tertawa mendengar keluhan calon adik iparnya itu. Dia menepuk pelan pundak Sehun.

“Tenang saja, setidaknya dia masih mau menikah denganmu kan, Oh Sehun?”

“Yak!!! Oppa!! Sehun!! Kenapa malah di sini? Ayo kembali ke pesta, kita akan bermain Truth or Dare!” teriakan Hana yang menghampiri mereka membuat Jong In dan Sehun beranjak dari balkon, tidak ingin teriakan dari yang lain ikut menyusul.

 

***

 

“Oppa, kau rapi sekali? Apa hari ini akan ke kantor?” tanya Hana yang sedang mengolesi rotinya dengan selai coklat.

“Mm.” Jong In mengangguk pelan, masih sibuk mengunyah makanan di mulutnya.

“Oppa kau baru saja tiba di Seoul seminggu yang lalu, sekarang sudah akan sibuk bekerja, apa kau tidak lelah?”

“Yak, kenapa kau sangat cerewet Kim Hana? Aku heran Sehun bisa bertahan denganmu.”

“Aish, oppa! Kau ini, sudah bertahun-tahun di London tetap saja seperti itu. Menyebalkan.” Hana mencibir kesal.

“Sudahlah, aku berangkat dulu. Jangan cemberut lagi, nanti kau terlambat.” Jong In bangkit dan mengacak pelan rambut dongsaengnya.

“YAK!! OPPA KAU MEMBUAT RAMBUTKU BERANTAKAN!!!”

*Kim Jong In POV*

“Perhatian! Mulai hari ini, Kim Jong In akan menjadi salah satu anggota tim kita di riset dan pengembangan produk. Kuharap kalian bisa membantunya dengan baik.” aku tersenyum ke arah karyawan lain di ruangan tempat aku berdiri sekarang bersama ketua tim riset, Lee Donghae, yang sedang memperkenalkan aku pada yang lainnya.

“Annyeonghaseyo, joneun Kim Jong In imnida.” aku membungkuk ke arah mereka.

“Annyeonghaseyo Jong In-ssi. Selamat bergabung, kami harap kau dapat bekerja sama dengan baik di perusahaan ini, terutama tim kita. Ah, joneun Lee Taemin imnida.” Kata seorang namja yang kelihatan lebih muda dariku.

“Annyeonghaseyo! Joneun Park Young Mi imnida.” seorang yeoja berkacamata melambai dari belakang komputernya sambil tersenyum ramah.

“Jong In-ssi, ini mejamu dan rekanmu yang akan membimbingmu itu… Ah, dimana orang itu?” Ketua Lee tampak mencari-cari sekitarnya, aku hanya menatapnya diam.

“Taemin, apa dia terlambat lagi?” tanya ketua Lee, sementara Taemin hanya mengangkat bahunya tersenyum lebar.

“Aish… Jong In-ssi, kau harus sedikit bersabar dengannya, memang seperti itulah partner kerjamu, dia…”

“Annyeong!! Aaahh!!!”

Belum selesai Ketua Lee bicara dan kami semua dikejutkan dengan suara melengking seorang yeoja yang membuka pintu dan sialnya, dia menabrakku.

“Eoh, jweisonghamnida! Jweisonghamnida!” dia membungkuk berkali-kali dan aku hanya tersenyum sambil meringis pelan.

“Ne, gwaenchanseumnida.”

“Song Jae Hee! Apa yang kau lakukan sebenarnya?” suara menggelegar Ketua Lee membuat yeoja itu terpaku di tempatnya. Ia memandang pias pada Ketua Lee yang berada disampingku.

“Ketua Lee… Jweisonghamnida!” dia membungkuk dalam-dalam.

“Ck…ah sudahlah. Ini, rekan kerja barumu, Kim Jong In. Kau harus membimbingnya, arraseo?”

“NE!!!”

“Baiklah, Jong In-ssi, kalau ada pertanyaan kau bisa bertanya pada Jae Hee atau rekanmu yang lain.”

Aku tersenyum lagi dan mengangguk, “Ne.”

Ketua Lee meninggalkan ruangan kami, kembali ke ruangannya. Aku melirik sekilas yeoja bernama Jae Hee itu dan ternyata dia sedang menatapku sambil terpaku.

“Annyeonghaseyo, Kim Jong In imnida.” kataku berusaha membuka pembicaraan, dan dia masih terpaku.

“Jong In-ssi, sudahlah. Yeoja itu memang sedikit bermasalah.” ujar Taemin santai, aku hanya tersenyum kaku.

“Kau…”

“Ne?” aku hampir berjalan ke mejaku dan yeoja itu bersuara. Segera kubalikkan badanku melihatnya. Dia tersenyum lebar ke arahku, wajahnya seolah baru menemukan harta karun yang dipendam selama berabad-abad.

“Aku…menyukai senyummu… Jong In-ssi.”

Dia tersenyum ke arahku, dan yang membuatku tak habis pikir adalah aku seperti menemukan senyuman Sekyung di wajah itu. Wajah yang berbeda, namun dengan yakinnya aku merasa itu adalah senyuman Oh Sekyung. Ah, kurasa otakku yang sedikit bermasalah di sini.

*Kim Jong In POV End*

 

“Menurutmu, apa yang terjadi pada Jong In oppa?” Kim Hana menyenggol pelan lengan namjachingunya, Oh Sehun. Namja itu hanya mengangkat bahunya pelan sambil melirik Jong In yang sedang sibuk melamun di depan laptopnya sambil sesekali mengulum senyuman.

“Kenapa tidak bertanya langsung padanya?” tanya Sehun.

Hana menghembuskan nafas panjang dengan muka masam, “Dia hanya akan berceloteh panjang lebar tentang aku yang terlalu cerewet.”

Sehun tertawa mendengar perkataan yeojachingunya itu dan mengusap pelan kepala Hana.

“Yak! Kalian berdua sepertinya senang sekali.”

Sehun dan Hana serempak menoleh dan mendapati Jong In sudah mendudukkan diri di hadapan pasangan itu.

“Hyung, dongsaengmu sedang bertanya-tanya apa yang terjadi padamu.” ujar Sehun kalem tanpa menghiraukan senggolan lengan Hana padanya.

“Wae?” Jong In mengernyit, menatap bergantian Hana dan Sehun.

“Kau terlihat sedang senang oppa, apa ada hal yang membuatmu tersenyum begitu?” tanya Hana akhirnya, dia tidak dapat menahan rasa ingin tahunya lebih lama.

“Na? Umm…aku hanya sedang senang.” Jawaban yang mengambang dari Jong In membuat Hana mencibir kesal.

Ponsel Jong In tiba-tiba berdering membuat namja itu cepat-cepat bangkit dari duduknya dan berniat mengambil ponselnya yang diletakkan di samping laptop, namun Hana dengan kecepatan penuh mendahuluinya dan segera mengangkat telepon masuk itu.

“Yoboseyo!”

“Yak! Kim Hana! Apa yang kau lakukan?!” seru Jong In. Tangannya hampir menyambar ponsel yang dipegang Hana tapi yeoja dongsaengnya berkelit lebih cepat.

“Ne? Jong In oppa? Dia sedang ke toilet. Nuguseyo?”

Hana bersembunyi di balik Sehun sementara Jong In melotot kesal pada dongsaengnya.

“Ah… Jae Hee eonnie?” Hana mengeraskan suaranya sambil tersenyum jahil pada Jong In.

“Aku Kim Hana, adik Jong In. Apa ada pesan yang ingin disampaikan?” Hana melirik oppanya yang hanya menatapnya kesal tapi pasrah. Dia merasa kasihan melihat wajah oppanya yang tidak tahu harus berbuat apa.

“Ah, eonnie, ini dia. Bicara saja langsung padanya, ne.” Hana akhirnya menyodorkan ponsel Jong In kembali pada oppanya itu. Jong In menyambar dengan cepat.

“Yoboseyo!”

 

***

 

“Chagi-ah, ppaliwa!” seru Sehun dari atas motornya, sementara Hana sibuk merapikan tasnya dan berlari kecil menghampiri namjachingunya.

“Ye…”

“Aigoo, rambutmu berantakan.” Sehun merapikan rambut Hana sekilas dan memberi tanda pada yeoja itu untuk naik ke atas motor.

Hari ini mereka berencana untuk ikut serta menemani pasangan Chanyeol dan Hye Seok yang sedang melakukan fitting baju pengantin mereka, atas permintaan Chanmi.

“Annyeong!! Maaf kami terlambat!” Hana masuk dengan riang ke ruangan fitting sambil menggandeng Sehun disampingnya.

“Annyeong! Kalian sudah tiba, akhirnya.” Chanmi menghampiri pasangan itu dan menyeret Hana menjauh, “Kita harus melakukan tugas kita di sini, Na-ya.” bisiknya pada Hana.

“Yak! Kau mau bawa kemana yeojachinguku, Chanmi-ah?” protes Sehun, tapi ia sudah lebih dulu ditahan Baekhyun.

“Kajja! Calon pengantin prianya di sebelah sini, dan dia masih sibuk memilih warna dasinya. Aigoo…Park Chanyeol jadi sangat menyebalkan karena ini.” Baekhyun membawa Sehun bersamanya sambil menggerutu pelan.

Hana terperangah menatap Choi Hye Seok yang tengah merapikan pinggiran gaunnya. Yeoja dalam gaun putih itu tersenyum lebar saat melihat kedatangan Hana.

“Annyeong Hana-ya.” sapanya sambil melambaikan tangannya bersemangat.

“Eonnie…neomu yeppeoda!!” seru Hana.

“Geundae… dia sejak tadi bermasalah dengan renda pada gaunnya.” gerutu Chanmi sambil melipat tangannya di depan dada dengan wajah masam.

“Chanmi-ah… aku tidak suka renda ini. Ini sangat aneh dan menyebalkan. Aku mau gaun yang sebelumnya saja. Lagipula…ini sedikit terlalu terbuka…”

“Setuju!” tambah Hana sambil mengangguk cepat, “Kurasa gaun yang satu itu lebih cocok dengan Hye eonnie.” tunjuknya.

Chanmi berdecak kesal, “Seharusnya aku tidak meminta bantuanmu Na-ya. Ternyata kalian satu selera.”

Hana dan Hye Seok berpandangan sekilas lalu tertawa bersama.

“Yak, bagaimana keadaan di sini?” kepala Sehun muncul dari balik tirai, mengintip ke ruangan tempat para yeoja.

“Yak! Oh Sehun! Mesum! Kau mau mengintip ya?!” Hana melemparkan sebuah bantal sofa tempat ia duduk dan tepat mengenai wajah Sehun.

“Aku hanya bertanya, Na-yaaa…”

“Aigoo, Sehun, jangan duduk di sana!” suara Chanyeol terdengar dan tak lama ia sudah masuk dari balik tirai dengan memakai jas putih yang membuatnya lebih tampan dari biasanya.

Namja itu menghentikan langkahnya menatap calon pengantin wanitanya, Hye Seok, dan terperangah sejenak.

“Yeppeoda.” gumamnya pelan.

“Haa…oppa!! Wajahmu memerah! Kyaa…kyeopta!!” Chanmi dan Hana langsung heboh melihat wajah Chanyeol yang merona. Sehun muncul dari belakang namja itu sambil berdecak kesal.

“Kenapa kalian tidak mengusir Chanyeol hyung? Dasar pilih kasih.” Namja berkulit pucat itu menyeruak ke tengah mereka semua dengan wajah ditekuk.

“Tidak usah cemberut begitu chagi.. tidak sengaja.” bujuk Hana.

“Kalian berdua juga…bagaimana kalau menikah secepatnya?” Hana dan Sehun serempak menoleh ke arah Hye Seok yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu.

Yeoja itu balas memandang bingung, “Bukankah kalian sudah lama berpacaran?”

“Itu…” Hana melirik Sehun, salah tingkah karena semua menatapnya tak terkecuali kekasihnya itu.

“Aku…” ujar Sehun dengan nada mengambang.

Hening sesaat di ruangan itu, beruntung Baekhyun muncul sambil sibuk mengomeli Sehun dan Chanyeol yang mendadak kabur ke ruangan Hye Seok dan meninggalkannya sendirian. Chanmi dan Hye Seok hanya tertawa melihat Chanyeol yang menyeringai pada Baekhyun. Hana melirik Sehun sekilas, namja itu terlihat santai dan ikut memasang senyum bersalah pada Baekhyun, sementara Hana menghela nafas pelan. Bukannya dia tidak ingin bersama Sehun, tapi ada sesuatu yang harus dipastikan terlebih dahulu olehnya.

 

*Kim Hana POV*

“Makan siang!” sebuah kantung kertas mendarat di depan wajahku. Aku terpaksa mengalihkan mataku dari layar komputer dan beralih pada kantung kertas itu dan terakhir wajah tersenyum seorang namja yang menurutku sangat manis.

“Myungsoo oppa?” aku memasang wajah cemberut, pura-pura kesal padanya.

“Yak, kau terlalu serius bekerja, coba lihat sekarang sudah hampir lewat jam makan siang.” omelnya.

Aku hanya tersenyum lebar mendengar kecerewetannya yang sangat mirip dengan seseorang itu. Kim Myungsoo, seniorku di redaksi majalah tempat aku bekerja yang merupakan fotografer handal, sekaligus sahabatku dan terkadang benar-benar seperti oppaku sendiri.

“Aku harus segera menyelesaikan tulisan ini, atau aku akan dimarahi lagi nanti.” ujarku pelan sambil mengambil kantung yang ia sodorkan.

“Hotdog?” aku menatapnya.

“Hanya itu yang bisa kudapatkan di sekitar sini.” Dia hanya mengangkat bahu dan tersenyum.

“Geundae…gomawoyo oppa!” ucapku lagi. Myungsoo oppa mengacak rambutku pelan.

“Cheonma!”

Aku segera memakan hotdog darinya, ternyata Myungsoo oppa benar, perutku baru saja berbunyi sebagai tanda protes karena sejak tadi tidak diisi.

“Oppa, kau sudah makan?” aku berhenti sejenak dari kegiatanku melahap makanan, Myungsoo oppa mengangguk, dan aku kembali makan.

“Hana-ya, sabtu ini kau ada acara?”

Myungsoo oppa menatap lurus ke arahku, sementara aku memandangnya sejenak, mengingat acaraku akhir pekan ini kemudian menggeleng cepat.

“Waeyo?”

“Temani aku, eoh? Ada yang harus kubeli, dan kurasa kau harus menemaniku.”

“Umm…” aku berpura-pura berpikir.

“Aku tidak menerima penolakan.” Ucapnya singkat sambil berdiri dari duduknya, “Kutunggu sabtu pukul 10. Bye!” katanya sambil berlalu.

“Aish, seenaknya saja!”

 

***

 

Pagi ini aku baru saja akan keluar rumah untuk bertemu Myungsoo oppa, saat bel pintu berbunyi. Pintu kubuka, dan Sehun berdiri dihadapanku sambil tersenyum lebar.

“Sehun-ah?”

“Kau…mau pergi?” tanyanya, matanya menatapku.

Aku mengangguk, “Aku berjanji menemani… temanku.”

Mata Sehun menyipit, seolah mencurigaiku. Aku tidak akan pernah mengatakan kalau aku akan keluar bersama Myungsoo oppa atau aku akan berakhir dengan pertengkaran bersama Sehun. Entah kenapa Sehun selalu merasa terganggu tentang aku dan Myungsoo oppa.

“Nugu?” tanyanya, membuat aku menahan nafas sesaat.

“Eung…kau tidak mengenalnya. Dia editor baru di kantorku.”

“Jinjja?”

Ah, aku memang tidak pandai berbohong. Eottokhe?

“Ye.”

“Geurae. Tadinya aku ingin mengajakmu pergi hari ini, tapi sudahlah. Aku juga tidak bisa memaksamu. Josimhae.” Sehun tersenyum dan mengusap kepalaku pelan.

Aku hanya mengangguk dan menggumamkan maaf padanya. Maaf sudah tidak jujur padamu, Sehun.

*Kim Hana POV End*

 

*Oh Sehun POV*

Aku berbalik kembali ke apartemenku dan menjatuhkan diri di sofa. Menyebalkan! Seharusnya hari ini aku bisa berkencan dengan Kim Hana, kekasihku. Bukan hanya itu, seharusnya hari ini berakhir dengan sesuatu yang romantis dan aku dapat memberikan cincin ini padanya sekaligus melamarnya. Aku memutar-mutar kotak kecil di tanganku. Cincin yang kupersiapkan untuk melamarnya sejak beberapa bulan lalu, tapi belum juga menemukan saat yang tepat. Perkataan Hye Seok noona dua minggu lalu cukup menyentakku. Aku memang sudah lama berpacaran dengan Hana.

Sayangnya, sejak kepergian Sekyung noona, yang ada dalam kepala Kim Hana hanya bagaimana mengembalikan kebahagiaan oppanya, Kim Jong In. Aku memang bisa mengerti kondisinya karena aku pun merasa prihatin dengan Jong In hyung yang sikap dan sifatnya berubah total setelah kepergian noonaku. Tapi Jong In hyung sebulan terakhir ini sudah mulai kembali seperti dulu, dan kurasa karena itu saat ini adalah saat yang tepat bagiku untuk menanyakan kesediaan Hana menjadi calon istriku.

“Aaahh…” aku menghela nafas kesal.

Kuambil kunci motor yang tergeletak di meja dan beranjak pergi, mungkin sekedar berkeliling sepanjang kota Seoul bisa mengurangi kesalku.

 

***

 

“Gamsahamnida.” ucapku sambil mengambil bubble teaku dan beranjak pergi dari kedai kecil penjual bubble tea.

Baru saja melangkah ke seberang jalan mataku terpaku pada sepasang sosok di dalam sebuah toko kamera. Aku memfokuskan penglihatanku, mencoba memastikan yang kulihat. Hana sedang berdua dengan seorang namja. Kutarik nafas pelan, mencoba menahan emosiku yang langsung muncul. Apa Hana berbohong padaku demi keluar bersama Kim Myungsoo?

Ya, aku mengenal namja itu. Kim Myungsoo, fotografer di majalah tempat Hana bekerja. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai Myungsoo, mungkin karena kedekatannya pada Hana yang menurutku tidak biasa. Agak seperti Chanyeol hyung dulu, tapi dalam kondisi yang berbeda, maksudku, aku namjachingu Hana sekarang.

Aku ingin melangkah mendekati mereka, tapi yang kulakukan justru sebaliknya. Aku mengamati mereka dari jauh seperti seorang penguntit, Hana dan namja itu berjalan ke sebuah restoran dan aku tetap terpaku melihat pemandangan di depanku. Tak lama mereka belum juga keluar dan aku memutuskan berbalik dan berjalan menjauh. Nanti, aku akan memastikannya sendiri pada Hana.

*Oh Sehun POV End*

 

“Kamera ini bagaimana?” Myungsoo mengangkat sebuah kamera, bertanya pada sang pemillik toko.

Sementara pemilik toko itu menjelaskan panjang lebar pada Myungsoo, Hana menatap mereka dari sudut toko itu dan menghela nafas panjang.

Menemani Myungsoo di toko kamera seperti ini sangat membosankan. Harusnya dia pergi bersama Sehun saja hari ini, tapi tidak mungkin membatalkan janjinya pada Myungsoo begitu saja.

“Kau bosan, eoh?” suara Myungsoo mengejutkan lamunan Hana.

“Ah, aniyo. Oppa sudah selesai?”

Myungsoo mengangguk sambil tersenyum, dan mengangkat kotak di tangannya.

“Kajja! Aku akan mentraktirmu makan sekarang. Kau mau apa?”

“Apa saja.” Hana tersenyum dan mengikuti Myungsoo yang berjalan keluar.

Mereka berjalan beriringan ke salah satu restoran tak jauh dari toko kamera itu.

“Hana-ya, apa kau masih bersedia menemaniku dan membantuku?”

“Eoh?” Hana mengangkat kepalanya menatap Myungsoo, dan mengangguk pelan.

Wajah Myungsoo sedikit merona dan namja itu menundukkan kepalanya. Hana dapat melihat namja itu mengulum senyuman.

“Waeyo oppa?”

“Aku…ingin kau menemaniku membeli cincin.”

“Cincin?”

“Umm..aku ingin melamar seseorang.”

 

***

 

“Yak, kemana saja kau seharian?” Jong In melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam ke arah Hana yang baru saja memasuki apartemen mereka.

“Oppa! Kau mengagetkanku.”

Hana masuk ke kamarnya dan meletakkan tasnya di atas meja. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan menghela nafas panjang.

“Kau ini, apa kau tahu kalau sepanjang sore tadi Sehun menunggumu?” Jong In duduk di samping dongsaengnya.

“Jinjjayo? Kenapa dia tidak meneleponku saja? Lagipula tadi pagi juga aku sudah memberitahunya kalau aku akan pergi.” Hana memiringkan kepalanya sambil mengernyit.

“Pabbo! Kau ini tidak berpikir, eoh? Dia mencemaskanmu karena kau tidak memberitahunya dengan jelas kau pergi kemana dan dengan siapa.” Jong In menyentil pelan dahi yeoja dongsaengnya.

“Oppa…” Hana merengut.

“Sudahlah, cepat ganti bajumu, lalu temui Sehun.” Jong In bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar Hana.

“Oppa! Aku…tadi perg bersama Myungsoo oppa. Aku tidak ingin Sehun marah jika dia sampai tahu.”

Jong In menghentikan gerakan tangannya membuka kenop pintu dan berbalik melihat Hana. Namja itu tersenyum tipis.

“Pabbo, kau seperti tidak mengenal Sehun saja. Apa dia akan seperti itu kalau kau memberitahunya? Menurutku, justru dia namja paling sabar yang selalu bisa menahan emosinya untukmu. Sebaiknya kau cepat temui dia dan minta maaf, arrachi?”

Jong In menutup pintu kamar Hana, meninggalkan yeoja itu terpaku di tempat. Jong In benar, seharusnya Hana katakan saja tadi pada Sehun, kenapa harus disembunyikan? Dia juga bukannya memiliki perasaan khusus pada Kim Myungsoo.

“Haaahh…Pabbo.” gumamnya.

 

***

 

“Sehun-ah..” Hana memanggil namjachingunya pelan. Matanya mencari keberadaan Sehun di apartemen namja itu.

“Sudah pulang?”

Hana terlonjak kaget ketika Sehun mendadak muncul dibelakangnya.

“Eoh! Kau mengagetkanku.”

Sehun hanya diam dan duduk di sofa, dia menatap Hana sekilas, namun tetap dalam diamnya.

“Sehun-ah, kata Jong In oppa kau menungguku sepanjang sore tadi? Mianhe.” ucap Hana, menatap Sehun dengan pandangan bersalah.

“Gwaenchana.” Sehun hanya menyahut singkat dan memberi senyuman tipis ke arah Hana.

“Eung…sebenarnya, ada yang harus kukatakan padamu.”

Sehun menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan perkataan Hana.

“Tidak ada yang perlu kudengarkan. Aku ingin keluar sebentar, kau pulang dan istirahatlah.” tukas Sehun dingin

“Mwo?” Hana terkesiap dengan kata-kata Sehun.

“Ge..geundae.. Sehun-ah…”

Sehun berlalu menuju pintu depan dan mengambil jaketnya, namja itu memakai sepatunya, meninggalkan Hana yang terpaku di tempatnya.

“Mian, aku harus pergi sekarang.” Sehun mengangkat wajahnya menatap Hana.

“Eodi?”

Sehun mendengus pelan sambil tersenyum, “Apa aku harus selalu melaporkannya padamu, Hana-ya?”

Dan namja itu segera berjalan keluar pintu. Daun pintu menutup di depan Hana yang masih menatap kosong tempat Sehun baru saja berdiri. Matanya terasa panas. Sehun marah padanya, dan rasanya sakit melihat namja itu pergi begitu saja.

“Mianhe Sehun-ah.” Air mata Hana jatuh bebas, ia merosot terduduk di lantai apartemen yang terasa dingin.

Di luar apartemen Sehun berdiri terpaku, ia mengatur emosinya perlahan dan tak lama isakan Hana sampai ke telinganya. Bahunya menegang, Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat mencoba menahan rasanya dan mengabaikan isakan Hana.

 

*Kim Hana POV*

Kakiku lemas seketika melihat Sehun meninggalkanku begitu saja, dan disinilah aku, terduduk menangisi kebodohanku. Aku tidak pernah berniat membohongi Sehun apalagi menyakitinya.

“Mianhe…” rasanya aku ingin menahan Sehun. Aku tak ingin dia pergi dariku. Kajima, Sehun-ah..

Bruk!!

Pintu apartemen terbuka kasar dan aku mengangkat wajah melihat siapa yang datang, tapi pandanganku terhalang orang itu, dan dia memelukku dan aku mengenali siapa dia.

“Sehun-ah… Sehun-ah…” aku memeluknya erat, “Mianhe, jeongmal mianhe.”

“Uljima.”

Satu kata darinya membuatku makin terisak dalam pelukannya dan Sehun mengusap pelan kepalaku.

“Uljima.” ucapnya lagi sambil melepaskan pelukannya. Tangan lembutnya mengusap pipiku, menghapus air mataku.

“Kajima…” ucapku lirih, setengah menahan isakanku.

Lagi-lagi Sehun menarikku ke dalam pelukannya, membuat wangi khasnya menyeruak ke dalam hidungku. Wangi Sehun. Satu-satunya namja yang kucintai.

“Yeoja pabo. Aku benar-benar merasa kesal, neo arra?” Sehun meletakkan secangkir coklat hangat di depanku dan dia sendiri mendudukkan diri disampingku setelah aku berhenti dari tangisku.

“Jeongmal mianhe. Aku sudah berbohong padamu, tapi aku hanya tidak ingin kau marah padaku…”

“Dan kau tidak berpikir kalau aku justru akan sangat kesal karena kau berbohong?” pertanyaan Sehun membuatku menggigit bibir, merasa bodoh. Dia benar.

“Sudahlah, aku tidak akan membahas masalah ini lagi.”

Aku terdiam, memegangi cangkirku dan menatap kosong cairan coklat kental di dalamnya.

“Myungsoo oppa… memintaku menemaninya. Dia mencari cincin untuk tunangannya, mereka akan segera menikah.” ucapku pelan, berharap Sehun tak lagi cemburu pada Myungsoo oppa.

“Kau tahu apa yang membuatku sangat kesal hari ini?” tanya Sehun tiba-tiba.

Aku mendongak memandangnya dan menggeleng pelan. Sehun menghela nafas perlahan, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.

*Kim Hana POV End*

 

Hana masih memandangi namja itu, otaknya sibuk memikirkan hal apa yang membuat Sehun sangat kesal hari ini selain karena dia yang pergi diam-diam bersama Myungsoo?

“Karena hari ini, aku ingin berkencan seharian denganmu, dan mengakhirinya dengan memintamu menjadi istriku, Hana-ya.” Sehun membuka kotak kecil yang diambilnya dari sakunya dan membukanya tepat di depan Hana.

Hana menganga tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya saat ini.

Sehun berlutut di lantai dan menghadap Hana, tangannya menyingkirkan gelas coklat di tangan Hana lalu memegang kedua tangan yeoja itu sambil menatapnya serius.

“Aku tahu ini sedikit terlalu lama. Aku ingin menanyakan ini lebih cepat padamu, tapi aku juga mengerti kalau sejak kepergian Sekyung noona, kau lebih memikirkan kebahagiaan Jong In hyung dan aku tidak keberatan dengan itu.” Sehun terdiam sejenak, dan Hana masih terhipnotis tatapan dalam namjanya itu.

“Sekarang, Jong In hyung sudah kembali seperti dulu, dan kurasa ini saatnya kita berpikir untuk masa depan kita Hana-ya. Jadi sekarang, aku ingin mengatakan bahwa aku serius. Aku mencintaimu dan ingin kau ada disampingku, setiap hari, setiap saat. Membangun keluarga yang bahagia bersamamu dan menikmati setiap waktu yang kita miliki bersama hingga akhir.”

“Kim Hana, maukah kau menikah denganku, dan menjalani sisa umur kita bersama?”

Hana menatap terharu pada Sehun, ia tak dapat membendung air matanya yang sekarang mulai jatuh perlahan. Air mata dari perasaan bahagia yang tak terhingga dalam dirinya.

“Aku mau. Aku mau Sehun-ah..” yeoja itu mengangguk mantap.

Sehun tersenyum lega dan melepaskan genggamannya pada tangan Hana. Perlahan dipasangkannya cincin yang ia siapkan itu di jari manis Hana.

“Gomawo, chagiya.” Sehun mengecup pelan puncak kepala yeojachingunya dan hanya tersenyum lega sementara Hana menangis terharu dipelukannya.

 

*Few years later…*

 

“Eommaa!!!” seorang gadis kecil dengan ranselnya berlari dengan semangat ke arah seorang yeoja yang menantinya dengan tangan terbuka.

“Chagiya, bagaimana sekolahmu hari ini?” tanya sang yeoja memeluk gadis mungilnya itu.

“Hahah. Senang sekali eommaaa!” dan yeoja mungil itu mulai bercerita panjang lebar pada eommanya sementara sang eomma hanya tersenyum melihat tingkah putrinya sambil menuntunnya ke dalam mobil.

“Eomma, apa kita akan ke taman sore ini?” tanya sang gadis mungil setelah eommanya memasang seatbeltnya.

“Ani. Hari ini kita ke tempat yang lebih menyenangkan Kyungie.”

“Eodiya?”

“Rumah sakit.”

Kyungie kecil wajahnya mendadak tegang mendengar eommanya menyebut kata ‘rumah sakit’. Eommanya menyadari ekspresi putri kecilnya segera tersenyum lembut.

“Kita ingin melihat aegi, kau suka?”

“Aegi?! Johaeyo!!” serunya kegirangan dan sang eomma masih tetap menyetir sambil tertawa kecil melihat tingkah putrinya.

Tidak butuh waktu lama dan pasangan ibu dan anak itu sudah menelusur koridor rumah sakit setelah menanyakan ruangan tujuan mereka pada perawat.

“Annyeong eonnie!” sapanya pada yeoja lain yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan ranjang bayi disampingnya.

“Hana-ya? Wasseo?” sapa sang yeoja yang berada di ranjang.

“Eoh, inikah aeginya?? Kyeopta!!” seru Hana di dekat ranjang sang bayi, “Kyungie-ah, lihat ada aegi. Lucu sekali eoh?” Hana menggandeng putrinya yang sedang berjinjit melihat bayi mungil itu.

“Kalau lucu cepatlah buat satu lagi untuk menemani Ha Kyung.” Suara namja yang tak asing lagi muncul dari arah  pintu kamar.

“Samchun! Jong Deok oppa!” Ha Kyung berlari cepat ke arah paman dan sepupu kesayangannya.

Jong Deok menghampiri Ha Kyung yang hanya lebih muda dua tahun darinya lalu ber-high five dengan sepupunya itu.

“Geurae, geurae. Nanti saja oppa. Lagipula, kalau Kyungie dan Jongie oppanya sudah berkumpul seperti ini, berarti tinggal menunggu seorang anggota geng lagi.” Hana mendecak kesal pada oppanya sambil bergantian melihat putrinya dan keponakannya yang sibuk kembali melihat bayi mungil di ranjangnya.

“Maksudmu, anggota yang ini?” Choi Hye Seok masuk ke dalam kamar rawat dan membawa namja mungilnya yang seumuran dengan Ha Kyung, sementara di belakang mereka Chanmi dan Baekhyun muncul berdua.

“Annyeonghaseyo!” namja kecil itu membungkuk sopan ke arah semua orang yang tak lama membuat semuanya ingin mencubitnya gemas.

“Sungyeolie!! Lihat, aegi!!” Jong Deok dan Ha Kyung sibuk melambaikan tangan mereka sementara Sungyeol hanya tersenyum simpul lalu melihat eommanya seolah meminta izin mendekati teman-temannya.

“Aigoo, Sungyeolie, benar-benar baik, eoh? Aku jadi iri padamu eonnie.” gumam Hana.

“Bukankah Ha Kyungie menirumu Hana-ya?” canda Chanmi yang disambut tawa mereka semua.

“Yak, kenapa kau hanya sendiri? Dimana Sehun?” tanya Hye Seok.

“Sehun akan datang sebentar lagi. Dia harus menyelesaikan sesuatu di kantor lebih dulu.” jelas Hana.

“Jae Hee, Jong In, chukkaeyo!”

“Appa!” Sungyeol berlari menghampiri appanya yang baru saja tiba.

Chanyeol menggendong putra satu-satunya itu dan mendekati ranjang bayi.

“Aigoo, lucunya. Tidak mirip denganmu Jong In?” komentarnya. Jong In mencibir.

“Itu justru bagus oppa!” tambah Hana.

Tak lama mereka semua sudah sibuk bercanda dan mengagumi bayi baru dari Jong In dan Jae Hee, seperti reuni kecil dari masa lalu mereka.

 

*Sehun POV*

Aku baru saja tiba di rumah sakit dan bergegas mencari kamar Jae Hee noona. Langkahku terhenti di luar pintu. Melalui jendela kecil di pintu aku dapat melihat istriku dan putri mungilku berada di antara sahabat-sahabat kami. Entahlah, aku ingin menghentikan waktu sejenak, menikmati pemandangan ini. Bagaimana putri mungilku, Ha Kyung, bermain dengan sepupu dan sahabatnya, juga istriku yang tertawa lepas bersama mereka semua.

Mataku beralih pada Jong In hyung. Wajahnya sangat bahagia, dan itu belum pernah aku lihat hingga kelahiran Jong Deok tujuh tahun lalu. Senyuman Jae Hee noona mengingatkanku pada mendiang noona.

“Sekyung noona, bagaimana menurutmu? Bukan hanya Jong In hyung yang tersenyum bahagia, tapi semuanya. Ah, noona, bogoshippoyo, geundae, beristirahatlah dengan tenang. Aku yakin kau tak lagi risau mengenai kami.” gumamku.

“Sehun! Sedang apa? Ayo masuk!” tepukan di pundakku mengagetkanku.

Orang tua Hana yang juga mertuaku sudah berdiri di belakangku sambil tersenyum.

“Ne, abeonim.”

Kubuka pintu dan masuk ke dalam, “Annyeonghaseyo!” sapaku.

“Appa!!” Ha Kyung kecil berlari mendapatiku dan memeluk kakiku.

Kuangkat dia ke dalam gendonganku dan berjalan mendekati ranjang Jae Hee noona.

“Noona, chukkaeyo.” kataku, “Kau juga hyung!” aku menepuk bahu Jong In hyung pelan.

“Ah, setelah ini kita harus mengadakan pesta di rumah, ne eomma? Appa?” Hana menggandeng lengan eommanya dan usulannya mendapat persetujuan semua orang di ruangan ini.

“Umm…ada satu hal lagi.” Kami menoleh ke arah Chanmi, menatapnya ingin tahu.

“Um..aku dan Baekhyun oppa akan segera menyusul kalian.” ucapnya pelan dengan wajah sedikit merona merah.

Ruangan sejenak hening, termasuk aku yang mencerna kata-kata Chanmi.

“Maksudnya…kau juga akan segera memiliki aegi?” aku menoleh pada Hana yang membulatkkan matanya tak percaya.

“Na-ya, kau tidak memperhatikan perutku yang sedikit lebih besar ini?” Chanmi cemberut pada sahabatnya dan aku hanya tersenyum.

“Aegi? Lagi? Eodi? Eodi?” Ha Kyung berteriak kesenangan sambil memegangi tanganku.

“Appa! Ha Kyung juga ini ada aegi. Eomma! Ha Kyung ingin aegi!”

Aku dan Hana saling pandang. Err…itu…

“Kyungie, kau memenag cerdas! Hahaha.” Aku tersenyum janggal ke arah eomma dan abeoji yang menatapku dan Hana dengan geli.

Ah, apapun itu, aku menyukai dan menikmati hidupku saat ini. Permohonanku hanya semoga aku dapat membahagiakan keluarga kecilku ini hingga akhirnya aku harus meninggalkan segalanya.

Hana, Ha Kyung, saranghae~.

 

*END/Kkeut*

 

Gamsahamnida readerdeul who read this FF until the end. Gomawoyo, nae chingudeul who always gives me inspiration and spirit to finish this FF. See you on next FF. Annyeong!! ^^

 

27 pemikiran pada “Our Love (Chapter 10)

  1. Happy ending!!! Daebak thor ceritanya! Like it banget :’3
    Smuanyanya bahagia… Sehun-hana chanyeol-hye baek-chanmi jongin-jaehee

    Ditunggu next ff’a !! Fighting!!!!!

  2. aaaaaaaa~ gue teriak² gaje (tapi ketahan) soalnya ini udh malem kkkkk~ takut di timpukin tetangga… hoho happy ending bangettt greget deh ↖(^▽^)↗
    di tunggu next ff lainnya thor ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!

  3. Wahh neomu daebak thor!! Sumpah ini keren,ngena bangettt ❤ huhuhu feel nya dpt bgt, pokoknya bagus thor!! 🙂 terus berkarya thor;)

  4. Wahhhh daebak thor..😃
    Suka bgt sm ff ini. Alurnya nggak kecepetan dan akhirnya happy ending… Wwihhhhh…😃 kerennnnnn👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s