Racing Love (Chapter 4)

Racing Love (Chapter 4)

Author : summerkids

Genre  : Romance, Action

Rating  : PG-15

Length : Chaptered

Main Cast        :

–          Sehun (EXO-K)

–          Kang Jung Hee (OC)

–          Lee Seung Jo

Support cast    :

–          Kai (EXO-K)

Note    :

[Publishing places: Summerkids’ blog|High School Fanfiction]

Maaf kalau tidak memuaskan dan untuk typo(s). Seperti sebelumnya saya menerima komen (kritik, saran, dan pendapat). Oh ya, buat yang sadar kalo alurnya kecepatan, saya memang sengaja buatnya begitu. Soalnya saya nggak mau bertele-tele dan senang yang cepat-cepat^-^ Hehehe, thanks sudah baca!

racing-love

“Sudah kubilang jauhi Jung Hee!”

Seung Jo datang-datang langsung memukuli Sehun yang baru keluar dari mobil. Sehun tak terima dan membalas pukulan tadi lebih kuat. “Berhenti! Apa yang kalian lakukan?! HEI!” Jung Hee yang tak tahan melihat darah menyuruh mereka berhenti. Ditarik-tariknya lengan Sehun, tapi tanpa sengaja kepalan tangan Sehun mengenai wajahnya. Gadis itu seketika terhuyung limbung di  halaman rumahnya yang berumput. Sehun dan Seung Jo buru-buru menghampirinya. Wajah mereka kelihatan sangat bersalah, apalagi Seung Jo yang merasa diri adalah penyebabnya.

“Jung Hee, aku tidak sengaja! Sungguh!“

“Jung Hee-ya, mian! Oppa tadi hanya ingin–“

Jung Hee menepis bantuan mereka dengan kasar. Air mata tertahan di pelupuk matanya. “Pergi kalian!” Ia berlari masuk kedalam rumah meninggalkan keduanya. Beruntung di rumah tidak ada orang, bisa-bisa masalah jadi panjang.

 

Pukulan Sehun terasa sakit dan perih saat Jung Hee membasuhya dengan air. Memang darahnya hanya sedikit, tapi lebamnya kelihatan mengerikan. Beruntung setelah beberapa jam dikompres, lebamnya sudah memudar sedikit. Jung Hee kesal sekali dengan dua orang itu. Seharian ia menolak dihubungi, handphone-nya dimatikan, juga tidak mau bertemu siapapun.

Esoknya Jung Hee memaksa untuk ke sekolah, padahal Ibu dan Ayahnya sudah menyuruhnya ijin saja. Mana tega orangtua melihat anaknya pergi ke sekolah dengan wajah begitu, kan? Ayah Jung Hee agak curiga dan sempat bertanya lagi apa penyebabnya, tapi Jung Hee hanya bilang ia terjatuh. Ya ampun, lebam begitu hanya karena terjatuh? Tapi bukan Jung Hee namanya kalau tidak bisa meyakinkan ayahnya, haha.

 

Ditempat lain, Seung Jo mengajak Sehun bicara di restoran. Ia langsung bicara to the point. “Kita taruhan saja. Lama-lama seperti ini hanya akan menyakitinya.” Sehun yang mendengarnya agak terkejut, tapi raut wajahnya masih tenang.

“Apa kau yakin? Terakhir kali kau menantangku, kau kalah jauh,” katanya dengan nada meremehkan.

Tangan Seung Jo terkepal dibawah meja. Ia memejamkan mata sebentar, menelan amarahnya. “Kau hanya beruntung.”

“Apa taruhannya?”

“Kau jauhi gadis itu kalau aku menang. Kujauhi gadis itu kalau kau menang.”

“Apa yang membuatmu sebegitu yakinnya? Pikirkan dulu, kau sedang menantang seorang pemenang.” Sehun menyesap es kopinya hingga setengah. Seung Jo berteriak tidak sabar. “Hei! Aku serius!”

“Baiklah. Kapan dan dimana?”

“Lusa di Jembatan Banpo, Apgujeong.” Sehun langsung beranjak pergi sambil menenteng jaketnya. Ia langsung pergi tanpa tersenyum sedikitpun. Ia bergumam dari jauh, namun Seung Jo masih bisa mendengarnya. “Siapkan dirimu, Bung.”

 

Jung Hee sedang menunggu ayahnya di depan gerbang saat Seung Jo tiba-tiba muncul. Gadis itu membuang muka saat Seung Jo menyapanya.

“Maafkan aku soal kejadian kemarin, Jung Hee-ya…” Suara Seung Jo lembut dan penuh sesal. Diusapnya bekas pukulan di wajah gadis itu. Entahlah, Jung Hee tidak menolak, hanya diam. “Maafkan Sehun juga. Dia begitu karena aku. Akan kulakukan apapun asal kau memaafkanku, ya?” Seung Jo mengulas senyum andalannya yang mampu membuat hati Jung Hee meluluh. Wanita mana yang tahan melihat senyuman orang yang satu ini? Hahaha.

Ekspresi Jung Hee masih datar, tapi ia mulai bicara. “Jangan diulangi lagi. Lihat, pipimu lecet begitu. Huh, kenapa laki-laki itu senang melakukan hal-hal seperti itu!” Mendengar itu Seung Jo tersenyum, ia mengacak kepala Jung Hee pelan.

“Karena sekali laki-laki, selamanya adalah laki-laki.”

“Terserahlah. Aku ingin makan es krim!” seru Jung Hee tiba-tiba, ia memasang wajah manja.

“Baiklah, baiklah! Hahaha,” kata Seung Jo sambil tertawa geli, walaupun ada bagian dari hatinya yang terasa nyeri. Mungkin kalau dia memang harus menjauhi Jung Hee… paling tidak mereka punya kenangan manis untuk dikenang.

 

***

 

Hampa. Jung Hee merasa ada yang kurang karena tidak melihat Sehun. Seakan ada beberapa bagian darinya yang dibawa oleh laki-laki itu. Gadis itu merindukannya tapi ia menepis kenyataan itu. Dilakukannya apa saja, jalan-jalan dengan Seung Jo, menonton televisi hingga larut, hingga memasak yang tidak pernah ia sukai, hanya untuk menyingkirkan Sehun. Dan semuanya sia-sia, karena–mungkin terdengar mengelikan tapi–hatinya benar-benar… me… merindukan ‘mimpi buruk’ itu. Percaya atau tidak, Jung Hee benar-benar sulit mengeluarkan kata-kata roman seperti itu.

Apa terjadi sesuatu dengan Sehun? Pikirannnya melayang-layang.

Alih-alih bertanya pada Seung Jo, Jung Hee malah bertanya pada kakaknya. Ia masuk ke kamar kakaknya lalu menutup pintu. Berjaga-jaga mana tahu ayahnya mendengar. Jung Hee melompat ke atas ranjang.“Wae?”

Eonnie, apa kau melihat… Sehun di arena balapan?” bisik Jung Hee hati-hati. Jin Hee langsung mendongak, matanya menyipit. Lontaran kata-kata langsung saja keluar dari mulutnya. “Kau dan Sehun ada hubungan apa? Kudengar kemarin kalian kencan?”

“K-kami tidak ada hubungan apa-apa! Kemarin itu… itu pemaksaan!”Jin Hee memandanginya curiga. Beruntung Jung Hee bisa mengendalikan sikapnya, menjadi sulit untuk ditebak. “Nah, jadi buat apa kau mencarinya?”

“Ada yang tertinggal. Lihat tidak sih?”

“Lihat. Dia sedang persiapan untuk taruhan besar malam ini di Apgujeong. Nanti malam aku mau pergi, mau ikut tidak?”

“Aku ikut,” jawab Jung Hee langsung. Ia bicara tanpa berpikir, apa ia mampu melawan ketakutannya?

 

Jung Hee berjalan jauh dibelakang kakaknya. Tangannya tidak bisa diam, gemetaran mendengar suara gas mobil yang riuh dan berisik. Dari jauh Sehun tak sengaja melihat Jung Hee, ia mengulas senyum penuh arti. Alih-alih menghampiri gadis itu, ia malah memajukan waktu balapan.

“Mulai sekarang saja.” Kai disebelahnya langsung melongo. Ia memberikan tatapan ‘apa kau yakin’ pada Sehun. Laki-laki itu mengangguk pasti, ia menggerakkan dagu kearah Jung Hee. Kai menggumamkan ‘oh’ tanpa suara, lalu menyuruh seorang gadis memanggil Seung Jo.

“Lihat, mereka mulai!” Orang-orang mulai berlari ke tengah jembatan Banpo dengan pelangi air disekelilingnya. Jung Hee susah payah menerobos kerumunan, dilihatnya mobil Sehun dan Seung Jo terletak berdampingan.

Orang itu berlomba lagi dengan Oppa? Sejenak ia terkejut, gemetarnya menjadi-jadi ketika melihat mereka. Entahlah, ketakutan, tidak, kecemasan tiba-tiba melandanya. Tatapannya berhenti di mobil Sehun, berhenti lama sekali.

Beberapa  detik lagi pelangi air itu hilang, namun dari kaca mobil  Sehun masih sempat melirik Jung Hee, sorot mata gadis itu terlihat khawatir. Sehun berpikir, apa yang orang bilang benar, ia hanya beruntung. Bagaimana kalau… hari ini ia tidak beruntung? Ia memalingkan wajah saat mendengar kata ‘ready’.

 

“Hati… hati,” gumam Jung Hee tanpa sadar saat kedua mobil meluncur cepat.

Lee Seung Jo langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Ducatinya melaju seperti panah, begitu juga dengan Porsche Oh Sehun. Selalu tak mau kalah. Mereka sejajar untuk beberapa detik. Sama seperti waktu dulu, saling kejar-kejaran. Mencoba saling mendahului dan merubah kedudukan barang beberapa detik saja.

Seung Jo berbelok dengan baik kali ini, setidaknya mampu membiarkannya unggul sedikit. Kemudian, Sehun menyusul lagi. Mereka terlihat sangat kontras di malam hari, Porsche hitam dan Ducati putih.

Hitam dan putih, dua warna yang jelas berlawanan.

 

Ditempat awal, sudah 1 jam Jung Hee cemas menunggu. Tak tahu mengapa ia tiba-tiba jadi begitu. Tangannya masih gemetar hebat, tapi ia bisa bernapas dengan baik. Bibirnya melengkung sedikit ketika teringat olehnya Sehun yang berucap kalau ia hanya butuh adaptasi lebih.

Suara mobil Sehun dan Seung Jo luar biasa besar. Mungkin orang-orang akan marah, tapi terserahlah. Bukan waktunya memedulikan itu. Sekarang mereka ada dibelokan terakhir. Sehun tertinggal dibelakang, sungguh kejadian langka yang ia sendiri terkejut menyadarinya.

“Sial!” teriaknya kesal, ia terus menambah kecepatan.

Dari jauh Seung Jo melihat Jung Hee, hanya tinggal beberapa ratus meter lagi. Kakinya segera menginjak rem, tapi mobil itu tidak berkurang sedikit pun kecepatannya. Bahaya! Sehun yang sadar Seung Jo sudah sedekat itu tapi masih melaju cepat. Oh tidak, pasti sesuatu terjadi. Ia secepat kilat menambah kecepatan, ketika sejajar dengan Seung Jo, ia berteriak kencang.

“Apa yang terjadi?!” Sehun ikut panik, apalagi setelah mengingat ada Jung Hee ditengah-tengah sana.

Seung Jo cepat membalas. “Remku tidak berfungsi! Bagaimana ini?!”

“Pindah ke mobilku!” teriak Sehun cepat. Ia membuka pintu dan langsung mengulurkan tangan.

Mereka bergerak secepat mungkin. Tinggal beberapa meter lagi dari tempat Jung Hee berdiri. Orang-orang yang melihat kejadian itu berlari menjauh, kecuali Jung Hee. Ia memandangi kedua mobil itu lekat-lekat.

Seung Jo meninggalkan kemudi hati-hati, ia mencoba meraih tangan Sehun yang terulur. “Lebih dekat!”

Setelah sedikit lebih dekat Sehun menarik Seung Jo masuk kedalam mobilnya. Setelah itu ia melompat ke mobil Seung Jo yang mulai salah arah.

10…

9…

“Injak remnya!”

“Gila! Apa yang kau lakukan?!” teriak Seung Jo dari dalam. Wajah Jung Hee dengan air mata tertahan hampir terlihat jelas dari jarak mereka saat ini. Karena itu, Seung Jo cepat-cepat menginjak rem itu dan berhenti tepat di depan Jung Hee.

4…

3…

Sehun tersenyum pahit dan memandangi wajah Jung Hee sejenak. Di waktu yang tersisa, ia membanting setir ke kanan. Suara benturan keras terdengar saat mobil itu menabrak pagar pembatas. Pagar itu patah, membiarkan Sehun dan Ducati sialan milik Seung Jo terjun bebas ke sungai dibawahnya.

“Jaga dirimu, Gadisku yang Bodoh,” gumam Sehun sambil tersenyum kecil kemudian menutup mata.

 

Jung Hee melihat dengan mata kepalanya sendiri, mobil yang ada Sehun didalamnya meledak dan menyemburkan api. Hangatnya masih tersisa disana. Gadis itu menangis hebat, sambil berlari kearah tempat Sehun terjatuh. Ia mencondongkan tubuh sangat jauh dan hampir ikut jatuh, tapi Seung Jo dan Jin Hee datang memegangi tangannya.

“SEHUN! SEHUN!” Berkali-kali Jung Hee berteriak menyebut nama laki-laki ‘mimpi buruk’-nya itu, mencari-cari mungkin saja Sehun keluar dari permukaan air.

Bebatuan kecil melukai lututnya, tapi ia sama sekali tidak peduli. “Maafkan aku,” ucap Seung Jo. Dibiarkannya gadis itu menangis dan membasahi bajunya. Jin Hee mengusap punggung adiknya pelan.

Penonton ditempat itu juga shock, beberapa dari mereka menangis dan kehilangan. Apalagi Kai, daritadi ia terus memandangi sungai tempat Sehun terjatuh, air disana bergerak tak sabar. Namun, tidak satupun air mata yang keluar. Rasanya itu lebih menyakitkan.

“Sampai jumpa, Kawan,” gumamnya, memaksa tersenyum. Semudah itu.

 

Setelah beberapa hari, Jung Hee berubah drastis, alih-alih murung, ia sering bercanda seolah tidak ada yang terjadi. Sebagian besar hatinya sangat, sangat merindukan Sehun. Namun, ia sadar, dirinya punya hidup yang harus dijalani, dengan atau tanpa ada orang itu, haha.

“Sudah lebih baik?” Jung Hee tertawa kecil, lalu memukul lengan Seung Jo pelan. “Kang Jung Hee dalam keadaan yang super baik hari ini! Tapi Oppa, ada yang ingin kukatakan.”

“Hmm?” Seung Jo tersenyum mengangkat alis.

“Ayah dan Ibu sudah setuju, kalau saat aku bilang ingin pindah bersamamu keluar negeri,” kata Jung Hee serius.

Seung Jo memandang gadis itu shock. “Kau yakin?”

“Sangat yakin.”

***

 

4 tahun kemudian.

 

Sudah setengah jam Jung Hee menunggu Seung Jo di pinggir jalan Busan. Mereka menjalin hubungan, mengisi hari-hari dengan kegiatan layaknya pasangan lain. Itu kedua kalinya Seung Jo terlambat selama 4 tahun mereka bersama. Yang pertama karena mobil Seung Jo tiba-tiba masuk bengkel karena menabrak tiang jalan di Perancis.

Yoboseyo, Oppa? Aku tak masalah pulang sendiri kalau kau sedang sibuk,” kata Jung Hee lewat telepon.

Benarkah? Baiklah, maaf ya, aku usahakan pulang cepat nanti malam.”

“Tidak masalah, hati-hati, Oppa!”

Jung Hee mulai berjalan sambil memandangi laut yang terhampar di pinggir jalan itu. Masih segar diingatannya saat Sehun tiba-tiba memberhentikan mobil dan menyuruhnya menelepon. Siluet-siluet itu muncul jelas diseberang jalan tempatia berdiri. Ia diam saja, memandangi bayangan yang dibuat oleh pikirannya itu.

Bruk!

Sebuah bola membentur tangannya lalu menggelinding ditengah jalan yang kosong. ”Noona?… Bisa tolong ambilkan bola itu? Ibu melarangku jalan ketengah sana…” Suara anak kecil yang jernih. Ditatapnya anak itu dan tersenyum.

“Tentu. Tunggu disini.”

 

 

“Ya, Hyung, hahaha. Kau masih saja tertinggal jauh!”

“Iya, aku tahu Sehun si Raja Balapan yang tak terkalahkan. Berhenti meledekku!” ucap Kai bercanda lalu memutus sambungan telepon. Dilihatnya Sehun yang melaju cepat didepan, semakin jauh semakin mengecil. Sehun masih seperti dulu, cepat dan tidak mau kalah.

Kai senang, tidak ada satupun yang hilang dari Sehun. Beberapa bulan sejak kecelakaan, ia menemukan sahabatnya itu terbangun di sebuah rumah sakit dan hidup. Dan hal pertama yang dikatakannya adalah ‘ayo kita balapan, Hyung’, mendengar itu air mata Kai keluar sendiri. Terdengar suara yang cukup keras saat Kai memeluk Sehun. Mereka tertawa bersama saat Kai bercanda mengatakan ‘kenapa kau tidak mati saja, keluargamu sudah menyelesaikan pemakamannya’.

Tiba-tiba suara Sehun berbunyi lagi. “Hyung, kau jangan lanjutkan. Berhenti disana dan berputarlah. Kita lanjutkan besok!”

“Sesuatu terjadi?”

“Bukan masalah besar. Aku bisa mengatasinya.” Masih Sehun yang dulu, menyuruh orang berhenti tiba-tiba dan menyelesaikan semua sendiri. Terakhir kali Sehun menyelesaikan masalah sendiri, ia terjun ke sungai dan hilang. Karena itu, Kai masih melaju cepat dan menyusul Sehun.

 

To Be Continued

Note    : Hmm, ini jalan ceritanya ketebak banget-_- Oh ya, kalau ada yang bingung kenapa Sehun terjun, dia begitu supaya mobil yang remnya rusak itu gak nabrak orang lain.

Dan, entah berapa kali mau bilang terima kasih atas dukungan dan saran (re: commets) readers yang sudah baca. Senang sekali melihat tanggapan akan ff ini, saya baca semuanya kok walaupun saya tidak pernah balas komen kalian (masalah kesibukan dan koneksi yang kadang super nyebelin).

43 pemikiran pada “Racing Love (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s