The Past (Chapter 1)

 The Past

Author : Arashi (@AngganaRaras30)
Cast : Byun Baekhyun, Yoon Shinyoung | Support cast : Park Chanyeol  | Genre : Romance, Sad | Length : Chaptered | Rating : PG 13

No silent reader,
Do not take anything from here, do not copy my fanfiction. Plagiarism get OUT please, comments are needed.

posted on exo-wish

Capture

—-

Baekhyun berjalan memasuki coffee shop yang berada tidak jauh dari kantor tempat ia bekerja. It’s lunch break, jadi dia bisa pergi keluar kantor beberapa menit untuk sekedar menghilangkan penat dikepalanya. Ia membuka pintu cafe perlahan, kemudian terdengar gemerincing lonceng dan deritan kayu saat Baekhyun membuka pintu kayu itu. Dia memesan frappucino  –jenis kopi favoritnya- dan membawanya ke salah satu sudut cafe. Duduk disana sembari menatap keluar jendela. Hari sangat cerah, matahari bersinar begitu teriknya di luar sana. Baekhyun selalu menyukai hari yang cerah,tetapi tidak dengan hari ini. Hari ini berbeda.

 

Baekhyun menghela nafasnya perlahan, kemudian memejamkan matanya. Mencoba menenangkan dirinya dari segala beban pikiran yang menyerangnya akhir-akhir ini. Dia mencoba mengacuhkan rasa sakit yang terus menghinggapi dirinya. Rasa sakit yang tidak pernah menghilang dari dirinya. Tidak setelah 1 tahun kepergian gadisnya berlalu.

Baekhyun masih memejamkan matanya sampai ketika Park Chanyeol berdiri dihadapannya dan memandangnya dengan tatapan khawatir. Laki-laki berperawakan tinggi itu mengambil tempat duduk dihadapan Baekhyun, tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada laki-laki yang mempunyai marga Byun itu. Baekhyun hanya diam. Dia sama sekali tidak merasa keberatan jika memang Chanyeol ingin duduk disana –selama sahabatnya itu tidak mengganggu aktivitasnya saat ini.

Kembali, Baekhyun memejamkan matanya. Mengingat-ingat dengan persis kejadian 1 tahun lalu yang menimpanya. Sakit. Hati Baekhyun masih terasa sakit karenanya. Nyeri di dalam hatinya tidak kunjung terobati, mungkin karena ia terlalu mencintai gadis itu.

“Kau masih memikirkan kejadian itu ?” Chanyeol menginterupsi dengan nada khawatirnya.

“Begitulah, aku tidak bisa melupakan kejadian itu sampai sekarang”

“Kau menyakiti dirimu sendiri, Baekhyun”

No, i’m not

Yes you are, Baek

Baekhyun diam. Chanyeol memang benar. Dia menyakiti dirinya sendiri dengan cara mengingat serentetan kejadian itu setiap hari selama satu tahun ini. Tapi mau bagaimana lagi ? Baekhyun memang tidak bisa melupakan kejadian mengenaskan itu.

“Aku tidak peduli, yeol. Aku tidak peduli jika memang aku menyakiti diriku dengan cara seperti itu. Itu salah satu cara bagiku agar tetap mengingat gadis yang aku cintai” Ujar Baekhyun santai –mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Kali ini ia tidak terlihat sedih. Dia tidak boleh terlihat lemah dihadapan Chanyeol, begitu pikir Baekhyun. Tapi Chanyeol tidak mau percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya ini.

Oh come on dude, live isn’t about to..

I know yeol, i know. I just can’t forget how that murderer come and stole my girl. He’s kill my girl, yeol..” Lirih Baekhyun, ia memotong kalimat Chanyeol yang belum terelesaikan. Ia tau kemana arah pembicaraan Chanyeol. Dia tau karena Chanyeol selalu mengatakan hal itu beribu-ribu kali di hadapannya.

Happiness.

You’re no fun. Kemana perginya Byun Baekhyun yang selalu ceria di hadapan orang-orang, huh ? Kemana Byun Baekhyun yang selama ini aku kenal ?”

Baekhyun kembali membisu. Dia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Chanyeol karena ia memang tidak berniat untuk menjawab Chanyeol.

I better go now, masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan.Setelah ini kau segeralah kembali ke kantor, mengerti ? See ya’ later

Baekhyun hanya mendengus pelan mendengar perkataan Chanyeol. Dia sedang malas pergi ke kantor untuk saat ini.

Ia kembali memejamkan matanya perlahan, masih dengan kegiatannya memikirkan kejadian itu. Meratapi kisah cintanya yang pilu ketika di tinggal oleh gadis yang sangat ia cintai. Gadis yang meninggalkannya ketika hari pernikahan mereka sudah di depan mata.

—-

Malam itu begitu dingin.
Musim dingin akan segera datang menyelimuti kota Seoul. Baekhyun dengan gadisnya sedang berjalan menuju ke tempat dimana Baekhyun memarkirkan mobilnya. Jalan raya mulai semakin sepi, karena memang sekarang sudah jam 10 malam. Baekhyun dan sang kekasih baru selesai berjalan-jalan di taman kota –salah satu kebiasaan mereka berdua.

Ketika mereka hampir sampai di tempat Baekhyun memarkirkan mobilnya, tiba-tiba ada seseorang yang berjalan gontai sembari membawa botol wine ditangannya. Sepertinya orang itu mabuk berat. Gadis disamping Baekhyun ketakutan melihat pemuda itu. Baekhyun yang merasakan genggaman tangan kekasihnya semakin mengerat pun menoleh ke samping kirinya, mencoba menenangkan gadis itu agar tidak perlu takut.

“Tenang saja youngie, kau tidak perlu takut”

Mencoba mengabaikan orang yang jaraknya semakin dekat dengan mereka berdua, Baekhyun semakin mengeratkan rangkulan tangannya pada bahu kekasihnya. Tetapi orang itu memandang mereka aneh, tatapannya membuat gadis itu semakin takut begitu juga dengan Baekhyun. Ah ternyata orang itu sudah tua, seperti Ahjussi genit yang sering mampir ke club malam yang ada di Seoul.

“Hei nona muda, kau cantik sekali. Bagaimana jika kau bersenang-senang bersamaku ?” Pemabuk genit itu menggoda kekasihnya dan mencoba mendekatinya.

“Maaf, tapi nona muda ini milikku” Ujar Baekhyun ketus. Baekhyun yang melihat hal itu sontak langsung melindungi kekasihnya. Ia menyuruh kekasihnya untuk berlindung dibelakangnya.

“Ah benarkah ? Bagaimana jika aku merebutnya dari mu ? Hei manis, mari kita habiskan waktu bersa..”

BUGH ! Belum sempat pemabuk itu menyelesaikan kalimatnya, satu pukulan keras dari tangan Baekhyun mendarat di pipi milik orang itu. Orang itu marah. Dalam hitungan detik pun Baekhyun dengan si Pemabuk berkelahi. Mereka saling melayangkan tinju kepada lawan masing-masing.

Namun tetap saja, walaupun orang itu dalam keadaan mabuk, baginya tenaga Baekhyun belum ada apa-apanya.

BUGH ! BUGH ! BUGH !

Beberapa kali perut Baekhyun dipukul oleh pemabuk itu. Baekhyun pun terkapar di jalanan. Ia mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Kemudian Baekhyun melihat ke arah si pemabuk tadi. Pemabuk itu mengangkat satu kakinya dan… BUGH ! Kakinya mendarat di perut Baekhyun. Ia pun mengeluarkan darah lagi dari mulutnya. Pemabuk itu berjalan meninggalkan Baekhyun.

Samar-samar Baekhyun dapat mendengar kekasihnya berteriak dan berlari mendekatinya. Gadis itu menangis dan memeluk tubuh Baekhyun yang sedang terkapar lemah di atas aspal yang dingin. Ia pun bisa mendengar kekasihnya marah-marah kepada si pemabuk.

Si pemabuk itu pun kembali berjalan mendekat. Kali ini dengan sebilah pisau kecil -yang entah ia dapatkan darimana. Ia menodongkan pisau itu ke arah gadisnya. Baekhyun tidak terima. Ia segera bangkit namun apa daya ia terlalu lemah saat ini. Sehingga ketika ia mencoba menyerang si pemabuk itu kembali, ia tersungkur jauh ketika pemabuk itu mendorongnya.

Kekasihnya berteriak meminta pertolongan, terus berteriak membuat si pemabuk itu geram. Baekhyun mencoba meraih kekasihnya. Ia masih bisa mendengar teriakan diiringi dengan isakan  yang keluar dari bibir gadisnya yang perlahan-lahan mulai menghilang dari pendengarannya. Tapi kedua matanya semakin berat. Tubuhnya tidak mampu untuk bertahan lebih lama. Perlahan, pandangannya mulai hilang berganti menjadi gelap.

—-

Hal yang selanjutnya Baekhyun ketahui adalah, dia berada di rumah sakit. Terbaring lemah di atas tempat tidur, dengan selang infus dan alat bantu pernafasan yang dipasang pada tubuhnya. Berada di dalam ruangan yang serba berwarna putih dengan bau obat yang menguar dimana-mana. Dia tidak menyukai bau obat. Sejak dulu Baekhyun benci rumah sakit.

Baginya, rumah sakit adalah tempat dimana orang-orang selalu merasakan sakit dan duka cita.

Baekhyun bisa melihat eommanya menangis disampingnya dan mengeratkan genggaman tangannya pada dirinya yang mulai tersadar. Dia juga melihat Appa, kakak laki-lakinya, dan Chanyeol disana yang mulai berhamburan menghampiri dirinya, serta orangtua dan kakak perempuan si gadis yang menatapnya sedih. Tunggu, dimana kekasihnya ?

“Shinyoung..Shinyoung d-dia.. dia..”

Baekhyun mengerti. Tanpa eommanya menjelaskan lebih lanjut pun ia sudah mengerti. Eomma Baekhyun mencoba menjelaskan hal yang paling tidak ingin Baekhyun dengar. Kedua bola mata  milik Baekhyun mulai memanas. Air matanya mengalir di pipinya, menciptakan aliran sungai kecil disana.

Baekhyun menangis sejadi-jadinya saat itu juga.

“Tapi dua hari lagi kami akan menikah eomma.. Kami akan menikah..” Ujar Baekhyun seraya menangis di pelukan sang eomma.

“I know dear, i know. I’m so sorry dear..

—-

“Aku sungguh bodoh. Kau benar-benar bodoh, Byun Baekhyun !”
Baekhyun terus menerus merutuki dirinya sendiri. Kini ia berada di dalam kamarnya, tidak kembali ke kantor sejak selesai lunch break tadi. Masa bodoh dengan pekerjaannya yang menumpuk dikantor saat ini. Masa bodoh dengan Chanyeol yang sedari tadi menelfon dirinya dan mengiriminya pesan singkat, mengingatkan bahwa sang boss akan memarahi Baekhyun jika ia tidak segera kembali ke kantor sekarang juga. ‘Suck for that, Park Chanyeol. Aku hanya ingin menenangkan diriku saat ini’.

Dia membuka laci meja belajarnya, Mengeluarkan sebuah notebook usang berwarna biru muda –warna kesukaan Shinyoung- kemudian ia tatap notebook itu dengan penuh penyesalan. Membuka lembaran-lembaran yang membawanya pada kenangan bahagianya bersama dengan Shinyoung. Baekhyun terus menghayati setiap tulisan yang dirinya dan Shinyong buat di dalam notebook itu sampai pada halaman yang paling terakhir. Hanya tinggal beberapa lembar lagi yang belum terisi oleh tulisan tangannya dengan Shinyoung. Seharusnya lembaran-lembaran kosong itu terisi dengan kisah bahagia yang mereka berdua jalani sampai saat ini. Seharusnya begitu.

Baekhyun mengambil bolpoint yang berada di meja belajarnya. Mulai menggoreskan tinta hitamnya di atas selembar halaman yang berada di paling akhir. Menuliskan beberapa kata yang menggambarkan betapa sakit hatinya saat ini. Menuliskan beberapa kalimat sekedar untuk mencurahkan isi hatinya saat ini.

‘Jika saja aku mempunyai satu kesempatan, aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku dimasa lalu, dan tidak membiarkan kecelakaan itu terjadi. Tidak akan membiarkan Shinyoung pergi dari sisiku. I just want to go to the past and meet Shinyoung again, i’ll save her from the death’

Sejenak, Baekhyun menatap kalimat yang terakhir ia tulis. Dia menghembuskan nafasnya perlahan, seraya berpikir bahwa tidak mungkin dia bisa kembali ke masa lalu. Memang tidak mungkin. Jika dia mempunyai mesin waktu, maka dia akan kembali ke masa itu sekarang juga. Namun sayangnya tidak ada benda semacam itu di dunia ini, dan Baekhyun benci itu.

‘ I Love you Yoon Shinyoung. I will love you for the rest of my life’

Baekhyun tersenyum getir ketika menyelesaikan kalimat terakhirnya. Air mata kembali membasahi pipinya. Entah sudah yang keberapa kalinya dia menangis hari ini. Baekhyun begitu hancur. Dia begitu hancur setelah kepergian Shinyoung dari hidupnya.

Dia tidak mengenal kembali arti kata bahagia setelah seorang bernama Yoon Shinyoung pergi meninggalkannya.

—-

“Baekhyunnie oppa~ palli ireona (cepat bangun)”
Suara lembut itu menggema di telinga Baekhyun. Matanya masih terpejam. Dia mencoba menghiraukan suara yang walaupun sebenarnya sangat ia kenali. Mencoba mengabaikan tangan mungil yang sedang mengelus pelan pipinya kini.

“Baekhyunnie oppa, ayo bangun. Kamu akan terlambat pergi ke kantor nanti”

Ah sial, kalimat ‘ terlambat pergi ke kantor’ tadi berhasil membuat matanya terbuka sangat lebar. Baekhyun membuka matanya lebar-lebar dan dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Dia sangat terkejut ketika menemukan seorang gadis cantik yang sangat ia kenali sedang duduk di sisi ranjang king sizenya. Shinyoung ada disana. Ini mimpi, Baekhyun berpikir ini mimpi.

Baekhyun mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba memastikan bahwa penglihatannya masih normal. Memastikan bahwa dia sudah bangun dari alam bawah sadarnya. Tapi Shinyoung benar-benar disana. Baekhyun ingin menangis, apakah ini hanya ilusi yang ia buat sendiri atau kah benar-benar kenyataan ?

Dirinya dibuat semakin bingung ketika bibir lembut milik gadis itu menyentuh bibirnya. “Morning kiss” gumam Shinyoung pelan dengan senyum yang terkembang di sudut bibirnya. Kembali, sepasang mata milik Baekhyun kini memanas. Dia berusaha untuk tidak mengedipkan matanya agar air mata itu tidak kembali terjatuh. Dia tidak mau menangis dihadapan Shinyoung walaupun dia tidak yakin bahwa perempuan dihadapannya ini benar-benar kekasihnya.

“Oppa kenapa kamu menangis ? Apa aku melakukan sesuatu yang salah ?” Gadis itu merasa bersalah ketika secara tidak sengaja air mata Baekhyun mengalir di kedua pipinya. Shinyoung mengangkat kedua tangannya perlahan, kemudian menghapus air mata Baekhyun dengan ibu jarinya. Kemudian mencium kening Baekhyun agar kekasihnya itu tidak menangis lagi.

“Ini sungguhan kau, Shinyoung-ah ?” Ujar Baekhyun memastikan. Ia tidak mau terlalu berharap bahwa gadis dihadapannya ini benar-benar gadisnya Yoon Shinyoung. Baekhyun memegang tangan kanan Shinyoung yang mengelus pipi kirinya.

“Tentu saja ini aku, memangnya oppa pikir aku ini siapa ?” Ujar Shinyoung pelan. Suaranya terdengar seribu kali lebih lembut dari yang biasa Baekhyun dengar.  Jadi ini benar-benar Shinyoung ? batin Baekhyun.

Sepersekian detik kemudian, Baekhyun berhambur memeluk tubuh gadis itu begitu erat –sampai Shinyoung kesusahan untuk bernafas. Membuat gadisnya ini terheran-heran akan sikapnya. Tapi Baekhyun tidak peduli. Yang dia inginkan sekarang hanyalah memeluk tubuh Shinyoung sepuas hatinya. Betapa Baekhyun merindukan gadis bermarga Yoon di pelukannya kini.

“Baekhyun oppa, kamu membuatku takut” Ujar Shinyoung di sela-sela pelukan hangat yang Baekhyun berikan.

“Aku sangat merindukanmu young-ah. Aku sungguh merindukanmu”

“Tapi kita baru saja menghabiskan waktu bersama semalaman. Kau tidak ingat ya aku menginap di apartemenmu ? Apa kau begitu merindukanku, hm ?”

Baekhyun terperanjat. Dia berpikir keras. Bagaimana bisa Shinyoung menginap di apartemennya ?

Pelukan Baekhyun ditubuh Shinyoung mulai mengendur. Baekhyun melepaskan pelukannya degan Shinyoung. Ia berjalan menuju meja belajar, meraih desk calendar dan melihat tanggal disana. Hari ini tanggal 20 Oktober 2013. Bukankah seharusnya hari ini tanggal 25 Oktober 2014 ?

Sebenarnya apa yang terjadi ?

Baekhyun bingung. Ia masih memandang kalender yang berada dalam genggamannya. Sedikit tidak percaya bahwa dia sedang berada di masa lalu.

“Oppa ? Baekhyunnie oppa ?” Shinyoung membuyarkan lamunan Baekhyun yang berlangsung cukup lama.

“Ah ya, ada apa youngie ?”

“Aku akan menunggumu dibawah. Oppa bersiap-siaplah, kita pergi ke kantor bersama-sama ya ? Aku sudah membuatkan sarapan kesukaanmu”

Baekhyun mengangguk, mengiyakan kata-kata gadisnya tadi. Kemudian pikirannya kembali pada kalender yang masih berada dalam genggamannya. Dia berpikir keras, bagaimana bisa kalimat yang tadi malam ia tulis bisa jadi kenyataan ? Tadinya ia masih berpikir bahwa ini semua hanya bayangannya saja. Hanya imajinasi yang ia ciptakan karena ia terlalu merindukan Yoon Shinyoung.

Laki-laki itu mencari-cari notebook biru mudanya di dalam laci meja belajarnya. Kembali membuka halaman terakhir notebook usang tersebut. Dia kembali terkejut. Kalimat yang ia tulis semalam seperti terjawab oleh dirinya sendiri. Terlebih lagi kalimat yang menyatakan bahwa ia ingin kembali ke masa lalu. Padahal dia tidak pernah menjawab kalimat yang ia tulis sendiri.

Jika saja aku boleh meminta satu permintaan, aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku dimasa lalu, dan tidak membiarkan kecelakaan itu terjadi. I just want to go to the past and meet Shinyoung again’

‘Hari ini tanggal 20 Oktober 2013. I’ve made it. Aku berhasil pergi ke masa lalu ku . Aku harus bisa menyelamatkan Shinyoung dan aku akan tetap berada dimasa ini. Tapi, jika aku tidak bisa menyelamatkan Shinyoung, maka aku akan kembali ke masa dimana aku telah kehilangan Shinyoung

“I-ini, aku yang menulis ini sendiri ? Bagaimana bisa ?” Baekhyun bergumam pelan. Dirinya masih dibuat bingung oleh kejadian yang berlangsung dalam waktu satu malam saja.

Baekhyun menutup notebook itu kasar. Pikirannya berkecamuk memikirkan kejadian yang akan terjadi beberapa hari lagi.

‘Jika kecelakaan itu terjadi tanggal 24 Oktober, maka aku mempunyai 4 hari lagi untuk mempersiapkan diriku’ Ucap Baekhyun dalam hatinya.

“Aku harus bisa menyelamatkan Shinyoung ku. Iya aku harus bisa” Baekhyun berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia bisa menghindari kecelakaan itu. Ya, dia harus bisa, dia memantapkan hatinya.

—-

“Aku akan menjemputmu pukul 5 sore nanti”

“Baiklah, hari ini kita akan melihat gedung kan ? Kyaaa~ aku tidak sabar melihat hasil design interior yang aku buat sendiri” Ujar Shinyoung memekik pelan. Baekhyun hanya bisa tersenyum seadanya di hadapan Shinyoung. Dia masih memeikirkan sesuatu yang akan terjadi 4 hari lagi.

“Kalau begitu, aku masuk dulu ke kantor, okay ? See you at 5 Baekhyunnie oppa” Sahut Shinyoung sambil mencium pipi Baekhyun sekilas. Kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki gedung tempat ia bekerja sebagai salah satu editor novel terkenal di Korea.

Baekhyun menginjak pedal gas mobilnya dan meninggalkan gedung tersebut. Melajukan mobilnya menuju kantor tempatnya bekerja yang terletak tidak jauh dari kantor tempat Shinyoung bekerja. Sembari tetap melajukan mobilnya, dia berpikir kembali tentang tulisan yang ada di notebooknya tadi.

Baekhyun terus bergelut dalam pikirannya yang membuatnya pusing. Dia senang bisa kembali kemasa lalu, tentu saja. Tapi dia tidak tau harus melakukan apa ketika ia berhadapan dengan mobil truk pembawa maut –yeah you can call him like that– itu nanti. Dia butuh saran, dia butuh pertolongan.

Dan satu-satunya orang yang bisa dia andalkan hanyalah Park Chanyeol.

“Aku rasa aku harus bercerita pada Chanyeol”

——

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Baekhyun ?”

Baekhyun dan Chanyeol kini berada di cafetaria kantor yang berada di lantai dasar. Setelah memesan makanan, mereka duduk di salah satu sudut cafe yang berdekatan dengan jendela –salah satu spot tempat favorit Baekhyun.

“Kau tidak akan percaya dengan ini, yeol. Tapi aku harap kau benar-benar bisa menerima hal ini dengan akal sehat”

Just cut the crap ! Kau membuatku penasaran setengah mati Byunbaek”

“Aku mengingatkanmu Chanyeol, jangan bertindak konyol ketika kau mendengarkan pernyataan ku setelah ini”

Baekhyun menghela nafasnya, kemudian menghembuskannya perlahan. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa Chanyeol tidak akan bertindak konyol mendengarkan pernyataannya.

“Aku ini Baekhyun yang datang dari masa depan”

Chanyeol tidak menjawab Baekhyun. Dia justru menaikkan alis sebelah kanannya tanda ia kebingungan. Kemudian dia menggeser posisi duduknya. Menempatkan lengannya di atas meja dan mulai mengangkat bibirnya.

“Jadi kau Baekhyun yang datang dari masa depan ? Hm, menarik sekali-”

Ada sedikit jeda ketika Chanyeol menjawab pertanyaan Baekhyun tadi. Hingga..

“Jadi kau adalah Baekhyun yang datang dari.. MWOHAE ?! KAU BILANG APA BARUSAN ?! Kau Baekhyun yang datang dari mpphhh-”

“Diam yeol ! Bukankah aku sudah bilang kau tidak boleh bertindak konyol ketika mendengar pernyataan ku tadi eoh ?!” Baekhyun menyumpal mulut Chanyeol dengan cupcake cokelat yang tadi ia pesan. Dia menatap namja gila yang duduk dihadapannya sesungutan.

Dan seisi cafetaria itu kini menatap mereka dengan tatapan heran.

Jweseonghamnida, maaf kami mengganggu waktu makan siang kalian. Silahkan lanjutkan makan siang kalian” Baekhyun dan Chanyeol berdiri dari tempat duduknya, lalu membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat untuk meminta maaf.

“Kau serius ? Kau adalah Baekhyun yang datang dari masa depan ? Maksudku, kau datang dari tahun berapa ? Ini hebat sekali..” Bisik Chanyeol penasaran setelah mereka meminta maaf tadi. Baekhyun hanya mendengus, masih merasa kesal dengan tingkah konyol Chanyeol tadi.

“Begitulah, aku sendiri tidak mengerti bagaimana bisa hal ini terjadi. Tapi aku datang dari tahun 2014, tepat empat hari sebelum-” kata-kata Baekhyun menggangtung. Ia merasa berat hati untuk melanjutkan kalimat yang belum ia selesaikan tadi.

“Empat hari sebelum apa ?”

“Empat hari sebelum.. Eungg, sebelum kepergian Shinyoung…” Akhirnya kata-kata itu terucap sudah dari bibir mungil Baekhyun.

“Kepergian Shinyoung, maksudmu ?” Chanyeol masih belum bisa menangkap pembicaraan Baekhyun. Membuat Baekhyun harus merasa sakit kembali ketika menceritakan hal yang seharusnya tidak ia ceritakan.

“Aku dan Shinyoung, tanggal 24 Oktober nanti k-kami.. Shinyoung akan dibunuh oleh seorang..”

MWO ?! DIBUNUH ?!” Chanyeol berteriak histeris kembali sebelum Baekhyun menyelesaikan kalimatnya. Membuat semua pengunjung cafetaria kembali memandang mereka keheranan.

“Siapa yang dibunuh, Chanyeol-ssi ?” Ujar Soojung panik, salah satu rekan Baekhyun dan Chanyeol di kantor mereka.

“Ah tidak, bukan siapa-siapa. Kami hanya sedang membahas review novel terjemahan yang kami baca tadi pagi”

Soojung menganggukkan kepalanya. Kemudian ia kembali pada aktivitasnya mengobrol dengan Jinri –memicarakan beberapa proyek yang akan mereka kerjakan.

“Kita tidak bisa membicarakan hal ini sekarang, Baek. Kau tau aku ini orang yang berisik, aku tidak akan bisa menanggapi ceritamu dengan mulutku yang tertutup”. Ujar Chanyeol berbisik ke arah Baekhyun.

Baekhyun kembali mendengus pelan. Mencoba memaklumi bahwa sahabatnya ini memang orang yang benar-benar tidak bisa di ajak bicara dalam suasana yang sepi.

“Ya, aku rasa lebih baik kita membicarakan hal ini sepulang dari kantor nanti”.

To Be Continued

—–

notes : and finally first chapter one was done ^^

so ? how’s my fanfic ? tell me what do you think by give your comment at the comment box below~ ^^

 

11 pemikiran pada “The Past (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s