Fallen (Chapter 9)

Tittle: FALLEN – CHAPTER 9: KEADAAN TIDAK BERSALAH
Author: @FYEAHZELO_
Main Cast:   -Lucinda Price : Park Gi Eun (OC)

-Daniel Grigori : Xi Luhan (EXO-M)

-Cameron Briel : Wu Yi Fan a.k.a Kris (EXO-M)

-Arriane Alter : Amber Josephine Liu (F(X))

-Pennyweather Van Syckle-Lockwood : Lee Sun Kyu a.k.a Sunny (SNSD)

-Roland Sparks : Roland Sparks (OC)

-Gabrielle Givens : Lee Hyori (OC)

Support Cast :        -Sophia Bliss : Kim Hyun Jin—Miss Kim (OC)

-Mary Margaret ‘Molly’ Zane : Choi Jin Hee (OC)

-Randy : Kim Joon-myun a.k.a SuHo (EXO-K)

-Callie : Jung Ji Hyun (OC)

-Todd Hammond : Park Chanyeol (EXO-K)

-Trevor : Trevor (OC)

Genre  : Western-Life, Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy

Credit : FALLEN karya Lauren Kate

Warning : Typo merajalela (?), OOC

CHAPTER 9:

KEADAAN TIDAK BERSALAH

Senin sore, Miss Kim berdiri di balik podium kelas terbesar di Augustine, berusaha membuat berbagai bentuk dengan bayangan kedua tangannya. Pada saat-saat terakhir ia mengadakan pelajaran tambahan untuk murid-murid yang mengikuti pelajaran agama sebelum ulangan tengah semester besok, dan karena ketinggalan satu bulan pelajaran, Gi Eun merasa banyak yang harus dikebutnya.

Itulah sebabnya hanya ia satu-satunya murid yang bahkan hanya pura-pura mencatat. Dan tak satu pun murid menyadari bahwa sinar matahari sore yang menembus jendela-jendela sempit di barat mengganggu panggung cahaya buatan Miss Kim. Dan Gi Eun tidak ingin orang-orang sadar bahwa ia memperhatikan pelajaran dengan berdiri di dekat jendela yang berdebu.

Ketika sinar matahari menyapu tengkuk Gi Eun, ia baru menyadari sudah berapa lama ia duduk di ruangan ini. Ia mengamati sinar matahari timur berkilau seperti surai singa jantai di seputar rambut Mr. Lee yang sudah menipis pagi tadi selama jam pelajaran sejarah dunia. Ia menderita dalam panas matahari yang terik pada pelajaran biologi bersama sang Albatross. Kini sudah hampir malam. Matahari telah mengitari seluruh bagian sekolah, tapi Gi Eun nyaris belum meninggalkan bangku. Tubuhnya terasa sekaku bangku besi yang ia duduki, benaknya setumpul pensil yang habis ia gunakan untuk mencatat.

Untuk apa sih pertunjukan bayangan tangan ini? Memangnya ia dan murid-murid lain bocah berusia lima tahun?

Tapi kemudian ia merasa bersalah. Dari seluruh staf pengajar di sekolah ini, Miss Kim orang yang paling ramah, bahkan kemarin dengan hati-hati ia menjauhkan Gi Eun dari murid lain untuk membicarakan betapa ketinggalannya Gi Eun menyangkut tugas penulisan pohon keluarga. Gi Eun harus berpura-pura terkejut saat berterima kasih karena Miss Kim membimbingnya lagi selama satu jam mengenai pengerjaan tugas itu. Ia agak malu, tapi berpura-pura bodoh jauh lebih baik daripada mengakui bahwa ia terlalu terobsesi pada salah satu teman cowoknya di kelas sehingga tidak meluangkan waktu mengerjakan tugas.

Kini Miss Kim berdiri dalam balutan gaun hitam, dengan anggun mengaitkan kedua ibu jari dan mengangkat tangan, bersiap-siap menampilkan bentuk berikutnya. Di luar jendela, awan menutupi matahari. Gi Eun kembali memperhatikan pelajaran ketika menyadari bahwa kali ini mendadak benar-benar ada bayangan di dinding belakang Miss Kim.

“Seperti yang kalian ingat setelah membaca Paradise Lost tahun lalu, ketika Tuhan memberi malaikat-malaikat-Nya kehendak sendiri,” kata Miss Kim, berbicara melalui mikrofon yang dijepitkan di kerah baju berwarna gading dan mengepakkan jemari lentiknya seperti sayap-sayap malaikat yang sempurna, “ada satu yang melewati batas.” Suara Miss Kim direndahkan dengan gaya dramatis. Dan Gi Eun memandangi saat Miss Kim menekuk jari-jari telunjuknya sehingga sayap-sayap melaikat itu berubah jadi tanduk setan.

Di belakang Gi Eun, seseorang bergumam, “Masa bodoh, itu kan gerakan paling basi.”

Sejak Miss Kim memulai pelajaran, rasanya minimal ada satu orang di dalam ruangan ini yang mempermasalahkan setiap kata yang keluar dari mulut guru itu. Mungkin karena Gi Eun tidak pernah diperkenalkan pada agama seperti yang lain, atau mungkin karena ia kasihan pada Miss Kim, yang jelas ia ingin sekali berbalik dan membungkam si pengejek.

Ia dongkol. Lelah. Lapar. Bukannya keluar kelas untuk makan malam bersama murid-murid lain, dua puluh murid yang mengikuti pelajaran agama Miss Kim diberitahu bahwa jika mereka ikut pelajaran “pilihan”—istilah yang sangat salah, menurut Sunny—makanan mereka akan diantar ke kelas tempat pelajaran itu digelar, untuk menghemat waktu.

Makanan itu—makan malam bukan, makan siang pun bukan, hanya pengganjal perut sore hari yang biasa—merupakan pengalaman aneh bagi Gi Eun, yang sulit menemukan apa pun yang bisa ia makan di kantin yang didominasi daging. Suho hanya mendorong kereta saji berisi beberapa sandwich yang menyedihkan dan beberapa botol air minum hangat.

Sandwich­-nya berisi irisan-irisan dingin sesuatu yang misterius, mayones, dan keju, dan Gi Eun memerhatikan dengan iri ketika Sunny mengunyah satu per satu sandwich itu, meninggalkan bekas-bekas gigitan ketika memakannya. Gi Eun berusaha mengeluarkan daging dari sandwich ketika Kris muncul di dekatnya. Cowok itu membuka kepalan tangannya untuk menunjukkan beberapa tangkai buah ara segar. Kulit buah yang berwarna ungu itu tua itu tampak seperti permata di tangannya.

“Apa ini?” Gi Eun bertanya, menahan senyum.

“Tidak mungkin makan roti saja, kan?” jawab Kris.

“Jangan makan buah itu.” Hyori menerobos, menyambar buah-buah ara dari jemari Gi Eun dan melemparnya ke tempat sampah. Gadis itu lagi-lagi mengganggu obrolan pribadi orang lain dan mengisi tempat kosong di telapak tangan Gi Eun dengan segenggam penuh cokelat M&M isi kacang dari mesin makanan kecil. Hyori mengenakan bandana berwarna pelangi. Gi Eun membayangkan menyentakkan bandana itu dari kepalanya dan melemparkannya ke tempat sampah.

“Dia benar, Gi Eun.” Amber muncul, melotot ke arah Kris. “Siapa yang tahu racun apa yang ia masukkan ke situ?”

Gi Eun tergelak, karena tentu saja Amber hanya bercanda, tapi karena tak ada seorang pun yang tersenyum, ia terdiam dan memasukkan M&M itu ke saku tepat ketika Miss Kim berseru menyuruh para murid duduk di tempat masing-masing

Setelah waktu yang terasa seperti berjam-jam kemudian, mereka masih terjebak di dalam kelas dan Miss Kim baru beranjak dari Hari Penciptaan Dunia ke peperangan di Surga. Mereka bahkan belum sampai pada Adam dan Hawa. Perut Gi Eun keroncongan minta diisi.

“Dan apakah kita semua tahu siapakah malaikat jahat yang menentang Tuhan?” Miss Kim bertanya, seakan membaca buku cerita bergambar pada sekelompok anak kecil di perpustakaan. Gi Eun setengah mengharapkan seisi ruangan serentak menyahut Ya, Miss Kim dengan nada kekanak-kanakan.

“Ada yang tahu?” Miss Kim bertanya lagi.

“Roland!” Amber berseru pelan.

“Tepat sekali,” Miss Kim berkata, mengangguk dengan takzim. Ia hanya agak kurang bisa mendengar. “Sekarang kita menyebutnya setan, tapi selama bertahun-tahun ia menggunakan banyak nama samaran—Mephistopheles, atau Belial, bahkan Lucifer.”

Jin Hee, yang duduk di depan Gi Eun dan sengaja menghantam-hantamkan bagian belakang kursinya ke meja Gi Eun selama satu jam terakhir untuk membuat Gi Eun kesal, dengan cepat melemparkan selembar kertas lewat bahunya ke meja Gi Eun.

Gi Eun… Lucifer… ada hubungan keluarga?

Tulisan tangannya tampak sebal, tebal, marah, dan penuh emosi. Gi Eun bisa melihat tulang pipi Jin Hee yang tinggi terangkat saat cewek itu menyeringai. Dalam keadaan lemas karena kelaparan, dengan marah Gi Eun mulai menuliskan jawaban di balik kertas Jin Hee. Bahwa ia di beri nama seperti Oh Gi-Eun, penyanyi dan pengarang lagu wanita terhebat yang pernah ada. Bahwa salah satu konsernya yang nyaris bubar karena hujan menjadi tempat orangtuanya pertama kali bertemu. Bahwa setelah terpeleset karena gelas plastic, terguling dan tergelincir di lumpur, lalu mendarat dalam pelukan ayahnya, ibunya tak pernah meninggalkan pelukan itu lagi selama dua puluh tahun. Bahwa hanya namanya diambil dari suatu peristiwa romantic dan apa yang bisa diceritakan si banyak mulut Jin Hee tentang dirinya sendiri? Lagi pula, jika di seluruh sekolah ini ada orang yang paling mirip setan, dia bukanlah si penerima catatan, tapi pengirimnya.

Kedua mata Gi Eun menatap tajam bagian belakang kepala Jin Hee yang berpotongan rambut model pixie dan baru di cat merah tua. Gi Eun siap melemparkan kertas yang dilipat dan mengambil risiko menghadapi kemarahan Jin Hee ketika Miss Kim menarik perhatiannya ke kotak cahaya.

Miss Kim mengangkat kedua tangannya di atas kepala, telapak tangan ke atas dan menangkup udara. Ketika ia menurunkannya, bayangan jemarinya di dinding secara ajaib kelihatan seperti tangan dan kaki yang bergerak-gerak di udara, seperti orang melompat jembatan atau gedung. Pemandangan tersebut begitu aneh, begitu suram tapi juga begitu nyata, Gi Eun jadi galau (?). Ia tidak bisa berpaling.

“Selama Sembilan hari dan Sembilan malam,” Miss Kim berkata, “setan dan para malaikatnya terjatuh, makin jauh dan terus makin jauh dari Surga.”

Kata-katanya mengusik sesuatu dalam ingatan Gi Eun. Ia menoleh melewati dua barisan kearah Luhan, yang menatap Gi Eun sesaat sebelum membenamkan wajah dalam buku catatan. Tapi tatapan sekilas itu sudah cukup, dan dalam sekejap semua muncul kembali dalam benak Gi Eun: mimpinya kemarin malam.

Mimpinya pengulangan kejadian dirinya dan Luhan di danau. Tapi dalam mimpi itu, ketika Luhan mengucapkan selamat tinggal dan menyelam kembali ke dalam air, Gi Eun punya keberanian untuk mengejarnya. Air terasa hangat, begitu nyaman sehingga ia bahkan tidak merasa basah, dan segerombolan ikan ungu berenang-renang di sekelilingnya. Ia berenang secepat yang ia mampu, dan awalnya mengira gerombolan ikan itu membantu mendorongnya ke arah Luhan dan menuju tepi danau. Tapi tak lama kemudian kelompok ikan tersebut mulai berubah gelap lalu menutupi pandangannya, dan ia tak bisa melihat Luhan lagi. Ikan-ikan itu berubah menjadi bayangan dan terlihat garang, lalu berenang mendekatinya dan makin dekat hingga ia tak bisa melihat apa-apa lagi, dan ia merasakan dirinya tenggelam, meluncur ke bawah, turun ke endapan lumpur di dasar danau. Masalahnya bukan bahwa ia tidak akan bisa bernapas, melainkan ia takkan bisa muncul lagi ke permukaan. Masalahnya adalah kehilangan Luhan untuk selamanya.

Lalu, dari bawah, Luhan muncul, kedua lengannya terentang seperti layar. Kedua lengan itu mengusir ikan-ikan bayangan dan merengkuh Gi Eun, lalu mereka berdua melesat lagi ke permukaan. Mereka menembus air, makin tinggi, terus makin tinggi, melewati batu dan pohon-pohon magnolia tempat mereka meninggalkan sepatu. Sekejap kemudian, mereka begitu tinggi sehingga Gi Eun bahkan tidak bisa melihat daratan.

“Lalu mereka mendarat,” kata Miss Kim, menaruh tangan di podium, “di neraka yang berkobar.”

Gi Eun memejamkan mata dan mengembuskan napas. Itu hanya mimpi. Sayangnya, inilah kehidupan nyata.

Ia menghela napas dan menumpukan dagu di tangan, teringat pada surat balasan untuk Jin Hee yang terlupakan. Kertas itu terlipat dalam genggamannya. Kini surat itu terasa bodoh dan kasar. Lebih baik ia tidak membalas, lebih baik Jin Hee tidak tahu ia berhasil mengusik Gi Eun.

Pesawat kertas mendarat di tangan kirinya. Ia menoleh ke pojok kiri terjauh kelas, tempat Amber duduk sambil mengedipkan mata dengan gaya berlebihan.

Kuanggap kau tidak menghayal setan. Kabur ke mana kau dan XL Sabtu kemarin sore?

Gi Eun belum sempat mengobrol berdua saja dengan Amber sepanjang hari ini. Tapi bagaimana Amber bisa tahu ia pergi bersama Luhan? Sementara Miss Kim menyibukkan diri dengan pertunjukan bayangan tentang Sembilan lingkaran neraka, Gi Eun memandangi Amber melemparkan lagi pesawat kertas yang diarahkan dengan sempurna ke mejanya.

Begitu pula Jin Hee.

Gadis itu merapat tepat pada waktunya dan menyambar pesawat dengan jemari kurusnya yang bercat kuku hitam, tapi Gi Eun takkan membiarkannya menang kali ini. Ia menyambar pesawat itu kembali dari genggaman Jin Hee, sayapnya robek di tengah dengan suara nyaring, Gi Eun sempat memasukkan pesan yang robek itu ke saku sebelum Miss Kim berbalik cepat.

“Park Gi Eun dan Jin Hee,” ia berkata, mengerutkan bibir dan memegang erat podium dengan kedua tangan. “Aku berharap apa pun yang kalian berdua ingin bicarakan dengan saling melempar pesan dengan tidak sopan begitu bisa diucapkan untuk seluruh kelas.”

Otak Gi Eun berputar cepat. Jika ia tidak segera mendapatkan ide, Jin Hee akan mendahuluinya, dan tidak bisa ditebak bakal seberapa memalukannya tindakan gadis itu.

“J-Jin Hee cuma mengatakan,” Gi Eun tergagap, “ia tidak setuju dengan cara pandang Anda tentang bagaimana neraka menjadi kacau. Ia punya pandangan sendiri.”

“Yah, Jin Hee, jika kau punya pandangan lain tentang neraka, aku benar-benar ingin mendengarnya.”

“Masa bodoh,” Jin Hee bergumam. Ia berdeham dan berdiri. “Yah, Anda mengatakan mulut Lucifer tempat terendah di neraka jahanam, sehingga para pengkhianat berakhir di sana. Tapi bagiku,” ia berkata, seakan sudah menghapalkan kalimatnya, “kurasa tempat yang paling menyiksa di neraka”—ia menoleh ke belakang kea rah Gi Eun cukup lama—“bukan diperuntukkan bagi para pengkhianat, tapi untuk para pengecut. Pecundang yang paling lemah dan paling tidak punya pendirian. Karena menurutku para pengkhianat setidaknya menentukan pilihan. Tapi para pengecut? Mereka hanya berlarian sambil menggigit kuku, benar-benar takut melakukan apa pun. Dan itu jauh lebih buruk.” Ia batuk, “Park Gi Eun!” dan berdeham. “Tapi itu hanya pendapatku.” Ia duduk kembali.

“Terima kasih, Jin Hee,” Miss Kim berkata hati-hati, “aku yakin kita semua merasa mendapatkan pencerahan.”

Gi Eun tidak merasa demikian. Ia tidak lagi mendengarkan pada pertengahan celoteh Jin Hee, ketika ia dilanda perasaan seram.

Bayangan-bayangan itu. Ia merasakan bayangan-bayangan tersebut sebelum melihatnya, menggelegak seperti aspal dari dalam lantai. Tentakel gelap melingkari pergelangan tangannya dan Gi Eun menatap ke bawah dengan ngeri. Bayangan itu mencoba menyusup ke sakunya. Bayangan tersebut mengincar pesawat kertas Amber. Gi Eun bahkan belum membacanya! Ia memasukkan kepalan tangan jauh ke saku lalu menggunakan dua jarinya mencubit bayangan itu keluar dari saku sekuat tenaga.

Sesuatu yang menakjubkan terjadi: Bayangan itu mundur, melesat cepat seperti anjing yang terluka. Ini kali pertama Gi Eun bisa melakukan itu.

Ia bertatapan dengan Amber diseberang ruangan. Amber menelengkan kepala dan mulutnya ternganga.

Pesan itu—ia pasti masih menunggu Gi Eun membaca pesan itu.

Miss Kim mematikan kotak cahaya. “Kurasa sudah cukup neraka bagi radang sendiku malam ini.” Ia terkekeh, mengajak murid-murid yang sudah kram otak untuk tertawa bersamanya. “Jika kalian semua membaca ulang tujuh tugas kritik yang kutetapkan untuk Paradise Lost, kurasa kalian cukup siap untuk ujian besok.”

Ketika murid-murid lain bergegas mengemasi tas dan keluar dari ruangan, Gi Eun membuka pesan Amber:

Katakan padaku dia tidak mengucapkan kalimat norak “Aku pernah disakiti” itu.

Aduh. Gi Eun benar-benar harus bicara dengan Amber dan menyelidiki apa yang diketahui gadis itu tentang Luhan. Tapi pertama-tama…

Pemuda itu berdiri dihadapannya. Gesper perak ikat pinggangnya bersinar sejajar dengan mata Gi Eun. Ia menarik napas panjang dan mendongak menatap wajah cowok itu.

Kedua mata Luhan yang kelabu kelihatan tenang. Gi Eun belum bicara lagi dengannya dua hari terakhir ini, sejak ia meninggalkan Gi Eun di danau. Seakan waktu yang ia habiskan jauh-jauh dari Gi Eun membuatnya lebih segar.

Gi Eun menyadari ia masih memegang pesan rahasia dari Amber yang terbuka di meja. Ia menelan ludah dan mengantongi itu kembali.

“Aku mau minta maaf karena tiba-tiba pergi hari itu,” kata Luhan, terdengar resmi. Gi Eun tidak tahu apakah ia seharusnya menerima permintaan maaf itu, tapi Luhan tidak memberinya kesempatan menjawab. “Kurasa kau berhasil sampai ke tepi danau dengan selamat?”

Gi Eun mencoba tersenyum. Terlintas dalam benaknya untuk menceritakan mimpinya pada Luhan, tapi untungnya ia menyadari itu akan aneh sekali.

“Bagaimana menurutmu tentang kelas tambahan ini?” Luhan kelihatan seperti menjaga jarak, kaku, seakan mereka belum pernah mengobrol. Mungkin ia bercanda.

“Benar-benar siksaan,” jawab Gi Eun. Gi Eun selalu jengkel terhadap gadis-gadis pandai yang berpura-pura tidak tertarik pada sesuatu hanya karena pikir itulah yang diinginkan cowok. Tapi Gi Eun tida berpura-pura; pelajaran tadi memang benar-benar menyiksa.

“Bagus,” kata Luhan, kelihatan lega.

“Kau membencinya juga?”

“Tidak,” Luhan menyahut pelan, dan kini Gi Eun berharap tadi ia berbohong agar lebih tertarik daripada yang sebenarnya.

“Jadi… kau menyukainya,” kata Gi Eun, ingin mengatakan sesuatu, apa saja untuk menahan Luhan di dekatnya, mengobrol. “Tepatnya apa yang kausukai dari pelajaran tadi?”

“Mungkin ‘suka’ bukanlah kata yang tepat.” Setelah terdiam cukup lama, Luhan berkata, “Ada dalam keluargaku… mempelajari hal ini. Kurasa aku tidak bisa mengabaikan perasaan adanya hubungan.”

Gi Eun butuh waktu cukup lama untuk mencerna kata-kata Luhan. Benak Gi Eun melayang ke ruang bawah tanah tua tempat penyimpanan arsip, ketika ia mengamati sekilas catatan Luhan yang hanya satu lembar. Catatan yang menyebutkan Xi Luhan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Rumah Yatim Piatu Wilayah Los Angeles.

“Aku tidak tahu kau punya keluarga,” kata Gi Eun.

“Kenapa kau berpendapat begitu?” Luhan mengejek.

“Aku tidak tahu… Jadi, maksudku, apa kau punya keluarga?”

“Pertanyaannya adalah kenapa kaupikir kau tahu apa pun tentang keluargaku—atau aku?”

Gi Eun merasa perutnya melilit. Ia bagai melihat tulisan Awas: Ada penguntit menyala pada mata Luhan yang terkejut. Dan Gi Eun tahu ia lagi-lagi merusak suasan dengan Luhan.

“Luhan.” Roland muncul dari belakang mereka dan meletakkan tangannya di bahu Luhan yang mengenakan kaus. “Kau mau tinggal di sini untuk melihat apakah akan ada lagi ceramah selama setahun, atau kau akan pergi?”

“Yeah,” Luhan berkata pelan, sambil menoleh sekilas pada Gi Eun. “Ayo kita pergi dari sini.”

Tentu saja—seharusnya—Gi Eun beranjak beberapa menit yang lalu. Seperti, pada saat pertama kali ia ingin mengungkapkan isi arsip Luhan. Orang pandai yang normal akan menghindari pembicaraan itu, atau mengganti topic ke sesuatu yang tidak terlalu menakutkan, atau setidaknya, menutup mulut besarnya.

Tapi. Gi Eun hanya membuktikan dari ke hari bahwa—terutama jika menyangkut Luhan—ia tidak mampu melakukan apa pun yang masuk kategori “normal” atau “pandai”.

Ia memperhatikan ketika Luhan berjalan pergi bersama Roland. Cowok itu tidak menoleh lagi ke belakang, dan setiap langkah yang menjauhkan dirinya dari Gi Eun membuat Gi Eun merasa semakin menjadi orang aneh yang kesepian.

To Be Continue

 

 

Buat yang udh baca chapter ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

2 pemikiran pada “Fallen (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s