Hello Precious (Chapter 9)

FF EXO|[HELLO PRECIOUS!]|#9 Into Your World

 

Title : Hello Precious!

Subtitle : Into Your World

Author : @bbymomoo

Genre : Romace, Drama, Fluff, Sad

Rating : T – PG17

Length : Chaptered

Main Cast :

Ahreum (T-ara—ex)

Kai (Exo-k)

Suho (Exo-k)

Krystal (f(x))

D.O (Exo-k)

Naeun (A-pink)

Sehun (Exo-k)

Support Cast :

Luna dan Suzy as Krystal’s friends

Shindong, Kangin, Jung

Jessica

Kang Sora as Jung Sora –has die-

 

WARNING: Typo(s)

A/N : Happy Reading!

newcoverpart9_

Krystal mengedarkan pandangannya. Tenggorokannya mulai haus berkeliling sana-sini untuk berbelanja. Namun, tak disangka ia malah mendapati siluet tubuh Ahreum yang berada di antrean panjang salah satu wahana di sana—bianglala. Ia memfokuskan pandangannya lagi. Ahreum terlihat membawa dua bubble tea di tangannya dan memberikannya satu pada seseorang di sana. Tangannya juga menenteng beberapa belanjaan.

“Kai?”kaget Krystal bercampur rasa ingin tahu. Pemuda itu terlihat menerima bubble tea dari Ahreum dan meminumnya. Kai juga menepuk kepala Ahreum lalu mengacak rambut depannya.

9th

==========

HELLO PRECIOUS!

========

I wanna be your favorite hello…

…and your hardest goodbye

.

.

 

Aboji?”

Jessica bangkit dari duduknya begitu sadar kalau tangan Yunho mulai bergerak. Matanya yang menutup mulai terbuka perlahan. Jessica menghapus sisa air mata di sudut matanya. Tak lupa Jessica menekan tombol di dekat ranjang Yunho untuk memanggil Dokter.

                “Aboji gwaencaha?”

Yunho mengedarkan pandangannya. Kepalanya sedikit berdenyut nyeri. Yang dilihatnya hanya langit-langit kamar dan ruangan serba putih. Lalu matanya menangkap manik mata Jessica. Gurat kekhawatiran terlihat di wajah wanita itu.

Tak berapa lama seorang dokter dan suster datang ke ruangan itu. Jessica minggir mempersilakan sang dokter untuk memeriksa. Dokter itu memulai dengan mendengarkan degup jantung Yunho lalu memeriksa mata pria tua yang telah bercucu tersebut. Jessica bernapas lega karena dokter muda itu tidak meunjukkan raut-raut cemas.

“Sudah merasa lebih baik?”tanya dokter itu pada Yunho.

Yunho mengangguk, “Iya, kurasa begitu.”ujarnya dengan nada parau. Kesehatanya belum pulih seutuhnya.

“Jangan terlalu memikirkan masalah yang berat, tuan Jung,itu bisa membuat jantung anda kambuh seperti tadi.”jelas dokter itu.

                “Gamshamnida uisanim.”ujar Jessica sambil membungkukkan badan. Dokter muda itu tersenyum canggung. Ini kali pertamanya menangani pasien yang lebih tua darinya.

“Ah, tidak perlu seperti itu, nyonya. Bukankah begitu tugas seorang dokter.”ujarnya.

Jessica terperangah. Kemudian ia tersenyum—menyampaikan rasa terimakasihnya. “Kalau begitu aku keluar dulu, nyonya,”pamit dokter itu.

“Jung Sooyeon..”panggil Yunho.

Jessica langsung menoleh. Mendekat ke tepi ranjang ayahnya. Ia sudah mengetahui mengapa penyakit ayahnya kambuh mendadak seperti ini. Sedih memang, namun Jessica seperti mendapat lampu hijau karena bisa memanfaatkan momen tersebut.

“Ada apa aboji?”tanya Jessica.

“Aku tidak akan dirawat lama di sini kan?”tanya Yunho. Jessica mengangguk pelan.

“Mungkin, tapi kalau pun aboji dirawat lama aku bisa menelpon Yonghwa untuk menggantikan aboji mengurus perusahaan di sini.”jawab Jessica.

Perusahaan keluarga Jung bergerak di bidang Industri dan pasar swalayan organik. Namun yang paling menonjol adalah jasa pelayaran dengan kapal-kapal pesiar keluarga Jung yang mewah. Sementara perusahaan di Korea ditangani oleh Yunho—dan perusahaan di China-Jepang ditangani oleh Yonghwa—menantunya atau suami Jessica.

“Tidak perlu, dia cukup repot menangani krisis ekonomi perusahaan di China dan Jepang, kan?”

“…”

“Tinggalkan aku untuk istirahat.”ujar Yunho.

“Baiklah, aboji. Aku akan pulang dulu. Ehm, Shindong-ssi akan menunggumu di sini.”ujar Jessica sebelum akhirnya berlalu meninggalkan ruangan serba putih itu. Yunho menghela napasnya, lalu memejamkan mata.

Jessica mengendarai mobilnya menuju Seoul. Ia benar-benar kesal karena Yunho masih saja mendatagi makan Sora. Mengingat Sora, ia langsung terbayang wajah gadis kecil bernama Lee Ahreum itu.

“Kenapa dua orang itu terlihat sama?”batinnya.

Jessica kembali mengingat-ingat kejadian yang tak pernah ia lupakan. Seumur hidupnya sampai saat ini. “Mokpo? Bukankah Shindong dan anak gadisnya itu berasal dari Mokpo?”

Seperti mendapatkan clue, ia lagsung meraih tasnya dan mengambil ponsel. Menelpon seseorang yang dia rasa bisa membantunya.

Yobeoseyo?”

“Nona Jung?”ujar seseorang di ujung telepon.

“Aku mau kau menyelidiki sopir keluarga Jung dan anaknya yang bernama Lee Ahreum.”titah Jessica.

.

Hello Precious

.

                “Kau mau kemana?”tanya Sehun begitu melihat Ahreum hendak beranjak keluar kelas. Ahreum memandangi pemuda itu heran. Tidak biasanya nada bicara Sehun seperti itu. Terlihat tidak seperti bertanya—malah terkesan melarangnya pergi.

“Aku akan makan siang.”jawab Ahreum polos. Tentu saja ia menunggu jam makan siang—untuk makan siang bersama Suho.

“Ikutlah makan di kantin,”Sehun memohon. Ia sekarang sudah hafal kalau Ahreum sering makan siang sendiri karena gadis itu membawa bekal dari rumah.

“Tidak bisa, aku..”

“Siapa?” Sehun menebak. Tebakan yang sangat tepat. Ahreum menelan ludahnya susah.

“Bagaimana bisa kau tahu?”Ahreum balik bertanya.

“Kau pikir?”

“Aah..”Ahreum membuang napasnya. “Jangan katakan pada Naeun, aku makan siang dengan Suho oppa.”

Ahreum menyatukan telapak tangannya lalu mengangkatnya ke atas, seolah memohon pada Sehun. Sambil mengeluarkan puppy eyes miliknya. Sehun bingung, sebenarnya bukan ke arah itu yang ia bicarakan. Tapi pemuda itu bernapas lega.

“Baiklah, pergilah sebelum jam makan siang selesai.” Sehun bangkit dari duduknya dan langsung keluar kelas. Ahreum tersenyum malu. Ia ikut menyusul Sehun keluar kelas.

Sambil membawa bekalnya, Ahreum berjalan menuju ruang osis lagi. Namun ia berjalan cepat sambil sedikit menyembunyikan wajahnya. Ia takut Gahee sonsaeng akan memergokinya lagi. Bisa-bisa ia dihukum membersihkan seluruh toilet di sekolah.

Ahreum melongok ke dalam ruang Osis yang pintunya terbuka. Kosong. Yang ia dapati hanya sebuah ruangan besar dan penuh dengan berkas-berkas di setiap mejanya—tidak begitu jauh dari ruang guru. Hanya saja ada meja rapat dan meja ketua Osis. Seperti kantor umum saja.

Puk

Seseorang menepuk pundak Ahreum dari belakang. Gadis itu membulatkan matanya was-was. Jangan sampai itu Gahee sonsaeng yang selalu berkeliaran di koridor osis kelas 11. Atau bahkan Kai yang akan menjadi perusak harinya? Perlahan ia membalikkan badannya.

“Oppa! Kau membuatku kaget..” Ahreum menghembuskan napasnya lega. Setidaknya bukan Kai atau Gahee sonsaenim, tapi Suho dengan senyuman malaikatnya.

“Mencariku atau?”tanya Suho yang membuat rona merah di pipi Ahreum.

“Eung.. tentu saja, Oppa sudah janji untuk makan siang bersama, kan?”ujar Ahreum. Tsk! Ia langsung merunduk. Merutuki kebodohannya. Hello, itu sama sekali bukan seorang Lee Ahreum.

“Haha..”Suho tertawa lalu mengacak rambut Ahreum. “Baiklah ayo, kau pasti belum pernah makan siang di greenhouse sekolah kan?”

Greenhouse?”Ahreum mengerjapkan matanya imut. Suho tersenyum miring lalu segera menarik tangan gadis itu agar mengikuti langkahnya. “Eo? Bukankah itu kawasan kelas ipa?”batin Ahreum.

Suho terus menarik tangan Ahreum. Greenhouse SMA Hanlim tidak begitu besar. Hanya saja ada banyak jenis tanaman dan beberapa hewan yang menghiasi rumah kaca serba hijau itu. Mulai dari tanaman hias bahkan sampai tanaman obat tradisional. Di sana juga terdapat hewan-hewan seperti burung, ikan, dan sebagainya untuk bahan penelitian. Tempat ini berada di lantai dua, jadi Suho dan Ahreum bisa memandangi indahnya langit dari sini.

Suho melepaskan tangan Ahreum begitu mereka sampai. Ada beberapa bangku di sana. Bangku yang biasa digunakan pada saat penelitian atau pengamatan tanaman tempat tersebut.

“Wah kenapa aku baru tahu kalau greenhouse sebagus ini?”ujar Ahreum takjub. Benar-benar segar berada di tengah-tengah tanaman seperti itu. Suho tersenyum.

“Ini tempat favoritku di sekolah.”ujar Suho. Pemuda itu sudah duduk di salah satu bangku kayu di sana.

Tempat favorit, artinya tempat kesukaan. Ahreum jadi ingat tempat favoritnya di belakang sekolah. Tepat di bawah pohon apel, tempat favoritnya sebelum ada pemuda jangkung menyebalkan yang sekarang kakaknya sedang bersama dirinya. Lupakan soal pemuda itu, Ahreum! Batinnya.

Mokgo kajja*!” (*Mari makan)

Ahreum langsung duduk di sebelah Suho sambil membuka kotak bekalnya. Begitu juga dengan Suho. Mereka makan berdua sambil sesekali bercanda.

Kimbab buatanmu enak sekali,”puji Suho.

Jinjja? Tapi bukan aku saja yang membuat. Tadi pagi Oppa juga membantuku.”Ahreum mengelak.

“Hanya sedikit.”

Suho mengambil ipod dan earphone dari sakunya. Memutar salah satu lagu kesukaannya di playlist benda berwarna putih itu. Tangan Suho terulur untuk memasangkan salah satu earphone itu ke telinga Ahreum—agar keduanya bisa sama-sama mendengar.

“Eo?”kaget Ahreum lalu menatap Suho.

“Dengarkan saja.”

Lagu ini. Ahreum mendengarkannya dengan seksama. Ke dalam duniamu.. Sebagai pelindungmu, akan ku halau semua angin kaku, meskipun orang berpaling kepada mu, aku bisa menjadi orang yang bisa menghapus air mata mu pada hari yang melelahkan..

Lagu yang dinyanyikan Suho, D.O dan Baekhyun saat final camp di Jeju waktu itu. Ahreum berhenti mengunyah. Ia menatap Suho lalu tersenyum. Lagu yang indah, batinnya. Angin yang masuk melalui celah-celah ventilasi dan jendela menerpa keduanya lembut. Membuat rambut Ahreum yang tergerai sebagian menjadi terbang-terbang.

Suho tertawa melihat itu. Bukan. Bukan karena angin yang menerpa rambut Ahreum. Tapi karena sisa makanan di sudut bibir gadis itu. Ahreum malah ikut tertawa bersama Suho. Pemuda langsung menghapus noda belepotan di sudut bibir Ahreum dengan ibu jarinya. Gadis itu berhenti tertawa seketika.

“Kau ini kan sudah besar, Ahreum-ah. Makanmu seperti anak kecil saja.”ujar Suho lalu merogoh sakunya—mengambil sapu tangan.  Dan kambali membersihkannya lagi.

“Hehe.”Ahreum tertawa canggung. Ia menunduk. Tidak berani menatap Suho karena sudah pasti wajahnya memerah sekarang.

Tanpa mereka Ahreum sadari, bahkan ada seseorang yang tengah mencarinya untuk makan siang. Siapa lagi kalau bukan Kai.

.

Hello Precious

.

                Ahreum hampir kehilangan jantungnya melihat Kai sudah berdiri di depan kelasnya saat pulang sekolah. Bagaimana tidak, Ahreum berencana segera pulang ke rumah siang ini. Dan, begitu keluar kelas ia mendapati pemuda tinggi itu sedang bersandar di dinding dengan tangan yang dilipat. Belum selesai Ahreum menetralkan napasnya—Kai malah langsung menariknya.

“Ya!”protes Ahreum. Entah mengapa ia berpikir kalau kemiripan Kai dan uho adalah—kenapa mereka sama-sama hobi menarik tangan seperti ini?

Semua pandangan murid di sana tertuju pada Kai yang menyeret Ahreum. Percuma saja melepaskan diri dari Kai—percuma. Jadi Ahreum memutuskan untuk menghiraukan tatapan menusuk siswa-siswa Hanlim yang notabenenya banyak yang menjadi fans Kai.

“Hei asisten Lee, kemana saja kau jam makan siang tadi?”tanya Kai kesal. Mereka berada di depan mobil pemuda jangkung itu saat ini.

“E.. itu aku..”Ahreum mencoba menyusun kata-kata yang tepat. Kai memutar bola matanya malas.

“Sudahlah. Kau ini, sekarang ikut aku.” Kai memerintah Ahreum untuk masuk ke dalam mobilnya. Ahreum menurut. Terserah saja kemana Kai akan membawanya, ia sudah tidak peduli. Ia benar-benar lelah dengan tingkah Kai yang seenaknya.

Selama perjalanan, Ahreum dan kai saling diam. Diam yang berbeda. Ahreum diam karena benar-benar takut—sebab Kai mengendarai mobilnya brutal. Dengan kecepatan yang Ahreum kira seperti kecepatan mobil di pertandingan piala Piston. Semntara Kai hanya terfokus pada jalanan.

“Hei asisten!”ujar Kai yang melihat wajah Ahreum hampir pucat pasi. Tangannya memegangi seatbelt erat-erat.

Tuk

Ahreum menjitak kepala Kai. Pemuda itu meringis sambil memegangi kepalanya.

“Ya! Kau mau membunuhku ya?”

Kai yang sadar arah pembicaraan Ahreum langsung tertawa terpingkal-pingkal. Padahal Kai sudah biasa mengendarai mobil seperti itu.

“Hahaha.. Kau ini sangat berlebihan.”tanggap Kai.

“Kau pikir itu lucu? Jantungku hampir keluar kau tau! Bodoh!”umpat Ahreum. Ia lalu melihat berada dimana mobil Kai berhenti sekarang. Lotte?

“Untuk apa kita kemari?”tanya Ahreum. Kai berhenti tertawa.

“Ah, aku ingin makan malam di rumah. Bisa tidak kau memasak makanan rumah?”

“Itu mudah.”

“Ayo turun kalau begitu.”

Kai dan Ahreum turun dari mobil. Mereka menuju mall Lotte. Kai langsung berjalan ke arah supermarketnya. Ia tahu benar di rumahnya sudah kehabisan persediaan makanan sehat. Ia pun langsung mengambil troli belanja.

“Nah, terserah kau mau belanja apa asistenku, asalkan jangan brokoli.”ujar Kai sambil merangkul Ahreum yang lebih pendek darinya.

“Singkirkan tanganmu!”

Keduanya lantas mendorong troli bersama. Baru ketika berbelok ke arah stan sayur-sayuran, Ahreum berjalan mendahului Kai—membiarkan Kai mendorong troli itu sendiri sementara ia sibuk memilih. Ahreum memasukkan lobak dan sawi hijau ke dalam troli.

“Apa ini?”tanya Kai.

“Sawi.”jawab Ahreum singkat.

“Tapi warnanya hijau, aku tidak mau.”Kai mengembalikan sawi itu ke tempatnya. Ahreum memandang Kai kesal. Ia langsung mengambil lagi sayuran bernama sawi hijau itu. Kai mengembalikannya lagi.

“Ya! Taruh di troli atau aku ganti dengan brokoli?”ancam Ahreum sambil berkacak pinggang.

“Tsk!”Kai berdecih, Ahreum mengambil sawi itu lagi dengan senyum sumringah. “Sebenarnya asisten disini dia atau aku sih?”umpat Kai pelan. Ia kembali mengikuti langkah kaki Ahreum menyusuri stan sayur-mayur dan buah-buahan disana.

“Buah apa yang kau suka?”tanya Ahreum. Di tangannya memegang sekotak buah anggur dan pisang.

“Apel.”jawab Kai. Ahreum segera mengembalikan buah yang tadi ia pegang dan mengambil buah apel.

“Haah, kau ini memang tuan Apel ya?”ujar Ahreum namun tidak didengar Kai. Pemuda itu mengedarkan pandangannya. Matanya langsung bersemangat begitu melihat ada sebuah promosi.

“Hei, ayo kita ke sana!”ujar Kai. Ahreum lantas menoleh ke arah yang di maksud Kai. Sebuah promosi panggangan dan daging sapi. Gadis itu tersenyum lalu keduanya pun menuju tempat promosi itu.

“Selamat siang, ada yang bisa dibantu?”ujar bibi pedangang di sana. Bibi itu sedang memanggang beberapa daging dagangannya sebagai promosi.

“Ah, iya bibi, boleh kami coba daging ini? Kelihatanya enak.”ujar Ahreum.

“Ne, silakan nona.”ujar bibi paruh baya itu sambil memberikan sumpit pada Ahreum. Mata Kai berbinar melihat daging-daging sapi yang dipanggang itu berubah warna menjadi cokelat tua.

“Ahreum, biarkan aku mencobanya dulu.”pinta Kai mirip seperti anak kecil. Ahreum tidak menanggapinya dan malah menyumpit sepotong kecil daging sapi tersebut untuk dirinya sendiri. Kai memandangnya sebal. “Jangan curang!”

“Hehe..”Ahreum tertawa lalu mulai menyumpit lagi. Kai membuka mulutnya. Ahreum memasukkan daging itu ke mulut Kai—menyuapinya.

“Eoh, ini enak sekali!”ujar Kai sambil mengunyah daging itu. Ahreum tersenyum geli melihat tingkah Kai saat ini. Bagaimana kalau fans-fansnya atau Krystal tau ya? Pikirnya.

“Sudah kan? Ayo,”ajak Ahreum.

“Tambah satu daging lagi, ya?”Kai menawar. Ahreum membulatkan matanya. Lalu meminta ijin lagi pada bibi itu. Dengan sedikit sungkan dan malu-malu ia kembali menyuapi Kai. Bibi itu malah tersenyum senang melihat Kai dan Ahreum.

“Nah, kajja!”Kai berjalan duluan meninggalkan Ahreum.

Gamshahamnida eommonim*, maafkan kelakuannya tadi ya?”ujar Ahreum sambil menunjuk-nunjuk Kai. “Dia memang seperti itu.”lanjut Ahreum. (*bibi)

“Tidak apa-apa, kalian pasangan yang serasi,”ujar bibi itu. Wajah Ahreum memerah.

“Eoh?”kaget Ahreum.

“Hei, Lee Ahreum cepatlah!”teriak Kai. Ahreum segera membungkuk dan menyusul pemuda itu. Ia mengusap-usap pipinya. Bagaimana bisa bibi tadi menganggapnya berpacaran dengan Kai.

“Daging yang tadi enak sekali, kau masak itu saja nanti.”ujar Kai.

“Ah, iya baiklah.”balas Ahreum.

Setelah selesai berbelanja bahan makanan, Kai mengajak Ahreum untuk berjalan-jalan sebentar ke wahana Lotte. Setelah sebelumnya menaruh barang belanjaan makanan di mobil Kai—keduanya berjalan berdua layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan.

“Katamu hanya berbelanja bahan makanan saja, dasar menyebalkan! Otak burung!”ujar Ahreum melihat Kai yang sudah keluar-masuk beberapa toko di mall Lotte. Entah toko baju, toko olahraga bahkan toko alat musik dan aksesoris. Eh.

“Ya! Ya! Kau ini kan asistentu, dilarang mengeluh seperti itu asisten.”ujar Kai sambil tersenyum. “Ini bawakan!”perintahnya sambil memberikan beberapa kantong belanjaannya.

“Bersambarlah Lee Ahreum, huuft..”Ahreum hanya bisa menghela napas sambil tersenyum paksa. Ia mengekor di belakang Kai yang sedang mengamati beberapa toko yag mereka lewati. Ia melihat wahana yang ada di sana, sebuah biang lala yang terlihat dari jendela mall besar itu. Seandainya ia datag kemari bersama Suho—pasti akan jauh lebih menyenangkan

“Kau mau naik itu?”tiba-tiba suara berat Kai membuyarkan lamunannya. Pemuda itu berdiri di sampingnya sekarang.

“Eo?”

“Kalau begitu ayo kita coba.”Kai segera menarik tangan Ahreum untuk mengantre ke wahana tersebut.

“Aku kan tidak bilang iya.”protes Ahreum begitu mereka sudah sampai di antrean.

“Matamu kelincimu berkata lain,”ujar Kai sambil menjulurkan lidahnya. “Ah, aku haus sekali.”keluhnya.

“Salah mu sendiri berlari ke sini.”ledek Ahreum.

“Kau kan asisten, cepat belikan aku minum!”Kai menunjuk salah satu stan kecil yang menjual bubble tea. Lagi-lagi Ahreum membuang napasnya.

“Baiklah tuan Kai, aku segera kembali.”

Ahreum segera ke tempat bubble tea sementara Kai mengantre. Pemuda itu tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai Ahreum. Ia melirik jam tangannya. Sudah hampir sore. Lalu ia melihat keterangan wahana itu. Durasi: Lima sampai sepuluh menit. Bianglala ini memang besar ya walau tidak sebesar London eye.

“Ini.”Ahreum kembali dengan dua bubble tea di tangannya. Lalu menyodorkan salah satu dari minuman itu pada Kai. Kai mengambilnya lalu mengacak rambut Ahreum.

“Kau memang asistenku yang terbaik!”ujarnya. Ahreum memutar bola matanya malas lalu meminum bubble tea miliknya. Tangannya juga masih setia membawakan barang belanjaan Kai. Namun, Kai dan Ahreum sama-sama tidak sadar kalau mata onyx Krystal tengah memandang mereka dari kejauhan.

Terlihat sekali Krystal memandang Kai dan Ahreum cemburu. “Kai?”gumam Krystal. Tangannya mengepal menahan amarahnya. Ia pun langsung melenggang pergi meninggalkan Luna dan Suzy yang memanggil-manggil namanya.

“Krys!”panggil Luna. Namun Krystal malah semakin menjauh.

“Ada apa sih dengannya?”tanya Suzy. Luna mengendikkan bahu. Hanya sebuah jawaban yang bisa ditangkap keduanya jika Krystal tiba-tiba berubah mood menjadi seperti itu. Kim Jongin, tunangannya.

Krystal terus berlari menjauh. Gadis itu segera keluar dari Lotte. Memanggil taksi dan bergegas pulang.

                Sementara itu, Kai tersenyum melihat Ahreum yang tengah melihat takjub pemandangan dari balik kaca bianglala yang mereka naiki. Mulut gadis itu tidak berenti berkata ‘Wah’ melihat kota Seoul dari ketinggian. Meski awalnya Kai tahu kalau Ahreum sedikit takut dengan wahana yang menurutnya tidak menegangkan sama-sekali.

“Lihatlah! Mataharinya hampir terbenam.”ujar Ahreum. Ia menempelkan telapak tangannya ke keca jendela. Membuatnya seperti anak kecil yang baru pertama menaiki bianglala.

“Seharusnya kita naik putaran berikutnya agar bisa melihat sunset.”balas Kai.

“Benarkah?”takjub Ahreum. Pasti akan sangat indah. “Aku juga mau naik ini lagi bersama Suho oppa! Kkk~”Ahreum bergumam sambil mengepalkan tangannya. Sedetik kemudian ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan fantasinya.

“Kau membayangkan naik ini bersama Suho hyung?”tebak Kai yang membuat Ahreum langsung membulatkan matanya. Kaget dan panik.

“Eoh?”responnya.

“Tsk!” Kai berdecih. Selalu saja sama. Dari dulu tak ada yang berubah. Selalu saja Suho yang lebih ‘dilihat’ daripada dirinya. Selalu saja Suho yang paling disadari tapi ia merutuki kenapa bukan hyung-nya itu yang dijodohkan dengan Krystal? Kenapa harus dirinya? Hidup benar-benar tidak adil bukan?

Begitu selesai menaiki wahana itu, keduanya langsung berjalan keluar—menuju tempat parkir. Kai hanya diam. Tidak mengoceh, menggoda Ahreum tau membuat gadis itu jengkel. Ahreum jadi sedikit bingung. Perubahan raut wajah Kai embuat Ahreum mengurungkan niatnya untuk bertanya. Baru setelah perjalan Kai baru membuka mulut.

“Dimana rumahmu?”tanya Kai.

Dahi Ahreum berkerut heran. Bukannya pemuda ini tadi menyuruhnya memasak makan malam? Ia bahkan masih bisa melihat barang belanjaannya tadi—sayuran dan bahan makanan—masih ada di jok belakang mobil Kai.

“Dimana?”tanya Kai lagi.

“Di perumahan, beberapa blok dari rumah nona Soojung.”jawab Ahreum. Kai langsung memutar balik arah laju mobilnya menuju tempat yang dimaksud Ahreum.

Gadis itu memandang Kai di sampingnya. Wajahnya berubah dingin. Untungnya pemuda itu tak mengendarai mobilnya brutal. Ahreum pun akhirnya lebih memilih diam—memikirkan apakah ia ada salah bicara dengan pemuda ini. Pamuda yang merubah kehidupannya, sedikit.

Lima belas menit berlalu. Tak terlalu jauh dari kawasan mall tadi. Ahreum meminta Kai menurunkannya di gang depan blok rumahnya.

“Turunkan aku disini saja.”pinta Ahreum. Tanpa protes seperti yang biasa dilakukannya, Kai pun menurutinya. Ahreum melepas seatbeltnya pelan-pelan. Menunggu apa Kai akan mengatakan sesuatu; seperti menyuruhnya datang pagi ke apartemennya atau membuatkannya bekal dan.. Kai tak menunjukkan sinyal-sinyal untuk mengatakan hal itu.

“Terimakasih sudah mengantarkan aku,”ujar Ahreum. Gadis itupun turun dari mobil Kai. Perlahan, mobil itupun melaju. Ahreum masih berdiri disana hingga mobil Kai menjauh dan menghilang di tikungan.

“Haaah.. Kim Jongin itu benar-benar aneh!”ujar Ahreum bermonolog. Ia melangkahkan kakinya untuk pulang.

.

Hello Precious

.

 

Eomma!”

Teriak Krystal dan langsung menghempaskan tubuhnya di samping Jessica yang sedang asyik membaca majalah fashion minggu ini. Jessica lantas menutup majalahnya.

“Ada apa?”tanya Jessica. Ia tahu kalau wajah Krystal kesal seperti ini pasti ada masalah.

“Aku melihat Ahreum dan Kai berkencan di Lotte siang ini.”ujar Krystal. Ia merengek manja sambil memajukan bibirnya kesal.

“Lalu?”tanya Jessica lagi.

“Aahh, eomma bagaimana bisa eomma hanya bertanya lalu?”kesal Krystal. Begitu melihat Ahreum dan Kai tadi, ia langsung meninggalkan Luna dan Suzy disana. Jessica memijat pelipisnya pelan. Perasaannya berkecamuk. Krystal dan Sehun tentu belum mengetahui kalau kakek mereka ada di rumah sakit.

Chagi, dengarkan eomma. Eomma sedang menyelidiki tentang gadis itu. Kau hanya perlu mendekati Kai saja, otte?

“…”

“Percayalah pada eomma..”Jessica meyakinkan Krystal.

Gadis cantik itu mengangguk pelan. Namun dalam hatinya ia bersumpah akan membalas Ahreum.

Drrt Drrttt

Ponsel Jessica bergetar. Ada sebuah panggilan masuk yang membuat senyumnya merekah. Ia lantas mengangkat panggilan telepon itu. Krystal memandang ibunya bingung. Ia langsung menyandarkan punggungnya di sofa. Masih memikirkan apa benar Kai mengajak Ahreum berkencan? Bukankah Luna dan Suzy bilang Kai menyuruh Ahreum menjadi pembantunya?

Tak lama setelah berbincang di telepon, Jessica langsung memamerkan senyumnya pada Krystal. Membuat wajahnya semakin cantik. Namun siapa mengira ada sebuah kelicikan di baliknya.

Wae?”tanya Krystal bingung.

Eomma akan pergi dulu, sebentar.”jawab Jessica. Ia langsung mengambil kunci mobil pribadinya. Meninggalkan Krystal dengn pandangan sejuta tanya.

Jessica tersenyum puas memikirkan telepon yang barusan ia dapat. Sebuah informasi yang ia butuhkan saat ini. Apalagi, ia menyuruh Shindong untuk menunggu Yunho di rumah sakit. Tentu lebih memudahkannya menjalankan rencana yang tengah ia lakukan.  Jessica mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal. Sampai di tujuannya, wanita itu membelokkan mobilnya ke sebuah gedung perusahaan. Perusahaan milik keluarga Jung.

Ia langsung berjalan masuk ke gedung pencakar langit tersebutbegitu mobilnya terparkir—Jessica lebih senang memarkir mobilnya sendiri daripada menyuruh satpam. Wanita cantik itu berjalan cepat menuju ruangan salah satu manajer perusahaan. Tanpa mengetuk pintu ia memasuki ruangan tersebut. Seorang lelaki tengah merapikan beberapa berkas di sana.

“Manajer Kim! Dimana data itu?”tanya Jessica to the point. Ia adalah wanita yang tidak menyukai basa-basi.

Manager Kim langsung menyerahkan sebuah map cokelat pada Jessica. “Aku menyuruh anak buahku menyelidikinya. Dan.. aku yakin semua data itu adalah benar, nyonya Jung.”jelasnya.

Dengan cepat Jessica membuka map tersebut. Jantungnya berdebar, aliran darahnya semakin cepat. Tangannya bergetar begitu ia membaca salah satu berkas paling penting di sana. Mulutnya membuka menandakan wanita itu benar-benar shock.

“Tidak mungkin..”gumamnya sambil menutup mulutnya dengantelapak tangan kanannya. Kepalanya menggeleng lemah. Sementara manajer Kim hanya diam melihat ekspresi Jessica. Wanita itu meremas kertas di tangannya. Matanya memanas, memorinya mengkilas balik beberapa kejadian tak terlupakan di hidupnya. Sepertinya, Jessica akan semakin membenci Ahreum.

.

Hello Precious

.

                Tok Tok Tok!!

Shindong langsung bergegas ke ruang tamu begitu mendengar ketukan pintu rumahnya. Ketukan keras dan kasar.

Tok Tok Tokk!!

“Sebentar!”teriak Ahreum dari dalam rumahnya. Ia heran, siapa pagi-pagi seperti ini sudah bertamu. Padahal ia masih menyiapkan keperluannya dan ayahnya. Apalagi cara mengetuk pintu yang sama sekali tidak bisa dibilang sopan.

Klek

“Nona Soojung?”kaget Ahreum. Ia langsung memasang wajah ramahnya.

“Mari, silakan masuk nona.”ujar Ahreum sambil tersenyum manis seperti biasa. “Ah, Appa memang belum berangkat karena ini masih jam setengah enam,”ujar Ahreum. Ia menduga Krystal datang karena Shindong belum menjemputnya.

Krystal memasang wajah angkuhnya. Sangat terlihat dari sorot matanya yang tajam. Memandang Ahreum dengan seragam sekolahnya—namun belum memakai blazernya.

“Tidak. Urusanku bukan tentang hal itu!”ujar Krystal. “Tentu kau masih ingat kejadian di Jeju kan, Lee Ahreum?”nada bicara Krystal benar-benar tidak enak. Ahreum berdebar. Mana mungkin ia melupakan kejadian itu begitu saja. Bahkan jas milik Suho masih ada padanya karena kejadian itu.

“…” Ahreum diam. Menatap Krystal takut-takut.

“Apa yang kau lakukan bersama Kai kemarin siang?”tanya Krystal penuh penekanan.

“Apa?”

“Jangan pura-pura bodoh!!”bentak Krystal. Gadis cantik itu benar-benar muak. Ia muak pada Ahreum, Kai dan bahkan dirinya sendiri. Ia muak kenapa Kai tidak pernah memandangnya seperti pemuda itu memandang Ahreum. Kenapa tatapan calon tunangannya itu berbeda?

“Maafkan aku nona—aku tidak bermaksud.. Itu tidak seperti yang kau lihat..”

“Ada apa Ahreum?”teriak Shindong. “Nona muda?” Shindong ikut kaget melihat Krystal ada di depan rumahnya.

“Nona muda silakan masuk dulu, tidak enak bukan bicara diluar.”lanjut Shindong dengan sopan. Lelaki itu menyadari walaupun masih remaja Krystal adalah majikannya. Ia juga pernah mengasuh gadis cantik itu sewaktu gadis itu masih kecil. Cantik dan polos, berbanding terbalik dengan diri Krystal yang sekarang.

“Tidak perlu, urusanku sudah selesai paman.”jawab Krystal.

“Urusan?”heran Shindong. Lelak tambun itu memandang Ahreum-Krystal bergantian.

“Tolong beritahu pada Ahreum agar tidak mendekati Kai! Calon tunanganku! Aku bisa saja mengadu pada eomma untuk memecat kalian berdua,”ancam Krystal sebelum benar-benar berlalu dari rumah kecil Shindong dan Ahreum.

Begitu Krystal pergi Shindong langsung menatap Ahreum yang diam.

“Apa benar itu?”tanya Shindong selidik. Ahreum malah menunduk.

“Jawab Appa, Ahreum!”ujar Shindong.

“Aku hanya membantu Kai belanja untuk makan malamnya Appa, lagi pula dia yang memintaku.”jelas Ahreum. Shindong menghela napas kecewa.

“Sekarang kau tahu kan? Jangan ulangi lagi atau nona muda Soojung akan melakukan ancamannya pada kita.”ujar Shindong. Ahreum hanya mengangguk. Sekarang Shindong sudah mengetahuinya. Seharusnya Ahreum tidak mengindahkan permintaan bodoh Kai yang memaksanya menjadi asistennya selama dua minggu. Dan seharusnya Krystal tahu kalau ia melakukan itu hanya agar dapat bertemu Suho bukan Kai.

.

Hello Precious

.

                Krystal kembali ke rumahnya setelah dari rumah Ahreum tadi. Ia sengaja bangun lebih awal untuk memberi peringatan kedua—sebelum ia melakukan tindakan nyata kepada Ahreum. Sekarang ia harus menjadi gadis manis karena ayahnya sengaja datang jauh-jauh dari Jepang ke Korea, untuk mengambil alih jalannya perusahaan Jung di Korea.

“Krystal? Kau dari mana chagi?”tanya Jessica yang sedang sibuk membantu pelayan dapur keluarga Jung menyiapkan sarapan.

“Eh, bersepeda pagi mencari udara segar.”bohong Krystal dengan senyum manisnya. “Berapa menit lagi Appa datang, eoh?”tanya Krystal mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin sepuluh menit, kau panggilah Sehun.”perintah Jessica.

Krystal mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya menaiki tangga. Menuju kamar Sehun di lantai dua. Semalam, Jessica sudah bercerita kalau Yunho dirawat di rumah sakit. Agenda keluarga Jung hari ini adalah menjenguk tetua keluarga bangsawan tersebut—Jung Yunho.

“Sehun-a!”panggil Krystal tepat di depan pintu kamar Sehun. “Cepatlah turun, kita akan sarapan bersama!!”teriak Krystal diakhiri sebuah gedoran di pintu kayu tersebut.

“Jangan berteriak aku bisa mendengarmu.”

Klek

Sehun langsung membuka pintu kamarnya. Pagi ini, Sehun terlihat tampan dari biasanya. Mungkin juga karena akan menjenguk Yunho nanti—sepulang sekolah. Rencana Sehun adalah mengajak Ahreum ikut bersamanya.

“Ya sudah. Ayo turun.”ajak Krystal lalu berjalan mendahului Sehun. Kembali turun ke ruang makan rumah megah itu.

Krystal dan Sehun lantas duduk di bangku mereka biasanya. Sementara Jessica dan beberapa pelayan di sana sibuk di ruang tamu—untuk menyambut Yonghwa datang.  Tak lama, sebuah mobil warna hitam berhenti di halaman rumah tersebut. Yonghwa sudah tiba. Jessica memamerkan senyum sumringahnya.

“Well, welcome to Korean.”ujar Jessica sebelum menghambur ke pelukan Yonghwa. Lelaki itu tersenyum.

“Aku rindu segalanya.”ungkapnya sambil membalas pelukan Jessica.

“Ayo kita sarapan, Krystal dan Sehun sudah menunggu.”

Jessica langsung mengajak Yonghwa masuk untuk sarapan. Di belakang Yonghwa, manajer Oh mengekor. Jessica juga mempersilahkan manajer Oh untuk makan bersama. Manajer Oh adalah pengasuh Sehun saat di Jepang. Sampai-sampai Sehun mengira marganya adalah Oh, dan sebenarnya ia menyukai hal itu.

Appaaaa!” Krystal langsung bangkit dari duduknya, berlari lalu menghambur ke pelukan Yonghwa. “Aku sangat merindukanmu!”ujar Krystal sambil mempererat pelukannya.

“Kau pikir Appa tidak?”balas Yonghwa. “Wah, Krystal kecil sudah semakin cantik sekarang.”lanjut Yonghwa. Krystal melepas pelukannya hanya untuk tersenyum pada yahnya itu.

Sehun juga ikut bangkit dari duduknya untuk memberi salam hormat.

“Sehun, kau juga tampan, seperti aku.”puji Yonghwa yang membuat beberapa orang di sana tertawa.

Lalu acara sarapan pun dimulai. Jessica tampak mendominasi percakapan di meja. Begitupula dengan Krystal. Awalnya Sehun tak begitu acuh hingga akhirnya Jessica membuat keputusan sepihak. Membuat Sehun ingin pergi dari sana saat itu juga.

“Uhm, Sehun-a, aku berpikir bagaimana kalau kau kembali ke Jepang lagi? Dengan kau masuk kelas D, itu membuat pamor keluarga Jung agak menurun.”jelas Jessica. Alasan yang tidak masuk akal sebenarnya.

Sehun menghentikan makannya saat itu juga. Memandang Jessica sengit. Jessica malah memicingkan matanya—melihat manjer Oh.

“Aku sudah membicarakannya denganmu juga kan, Oh-ssi?”lanjut Jessica. Sehun ganti memandan manajer Oh dengan pandangan penuh tanya. Sementara Krystal malah memasang senyum kemenangannya.

“Iya, nyonya.”balas manajer Oh pelan. Sehun membanting sendok dan garpunya.

“Bukankah sebentar lagi masih ada ujian kenaikan kelas?”Sehun mengelak.

“Ya, setelah ujian kenaikan kelas, kembalilah ke Jepang.”tegas Jessica.

-ToBeContinued:)-

18 pemikiran pada “Hello Precious (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s