Cappuccino

[Ficlet] Cappuccino

 cappuccino2

|| Main Cast : Park Chorong – Kim Junmyeon || Duration : Ficlet || Genre : Romance, Fluff? || Rating : PG || Scriptwriter : ranabilah || Disclaimer : Para cast milik Tuhan, cerita ini milik saya. ||

Summary

Secangkir Cappuccino yang dipesannya pada Rabu sore ialah kali pertama aku dan dia berjumpa.

Inspired by some pictures of Ranz Kyle Viniel.

®

 

Pemuda itu datang lagi, lengkap dengan setelan jas kantor yang membalut tubuh sempurnanya. Entah ini sudah bulan keberapa ia mengunjungi café tempatku berkerja sejak kedatangan pertamanya.

Aku masih ingat kala itu, hari Rabu di salah satu minggu pada bulan Nopember. Untuk pertama kalinya ia mendatangi café di mana aku bekerja, dia tidak sendiri, namun datang dengan beberapa teman kerjanya. Aku menyambut kedatangan mereka dengan ramah, lalu memersilakan duduk dan memberikan daftar menu pada mereka.

Pandangan kami sempat bertemu pandang dalam waktu yang cukup lama disaat beberapa temannya sibuk berdiskusi tentang menu yang akan mereka pesan, lantas dengan spontan aku mengalihkannya, berusaha untuk menyembunyikan semburat merah yang merona di pipi karena dirinya.

 

Waktu itu pun aku hanya berani melihat sosoknya dari arah counter yang lumayan jauh dari tempat mereka berada, dimana aku memberikan menu pesanan kepada Eunji.

Namun aku salah, tatapannya masih mengikutiku, bahkan hingga saat ini.

 

 

Suara dehaman seseorang berhasil membuyarkan ingatanku akan dirinya, aku menoleh ke sumber asal.

“Bisakah aku memesan sesuatu?” Aku mengangguk mantap tatkala mendapati dirinyalah yang bersuara. Aku pun melangkah ke arahnya, rasa gugup menyelubungi diriku was-was. Sedikit khawatir akan …

 

Dia tersenyum, disaat aku hampir mendekati mejanya, merupakan salah satu hal yang paling kutakuti. Jantungku hampir saja meloncat keluar melihat guratan indah tersebut, sepertinya kini rona merah sudah menguasai seluruh permukaan pipiku.

 

Aku memberikan daftar menu padanya, dia menerima dan langsung membolak-balik setiap halaman. Jika daftar menu yang kupegang tak kuberikan padanya pun aku sudah tahu, bahwa ia akan memesan secangkir cappuccino beserta pancake kesukaanya.

Dia mendelik padaku, lalu tertawa renyah.

“Kau pasti sudah tahu,” ucapnya dengan nada santai yang langsung disetujui olehku dengan anggukan kepala. Aku pun pergi menjauhinya, diiringi dengan degupan jantungku yang berdebar-debar keras. Ah, andai aku mengetahui namanya sedari awal.

 

®

Hari ini ia datang lagi, namun dengan penampilan yang berbeda. Ia hanya mengenakan kaos putih polos dan jeans. Aku terkesima, melihatnya dalam pemandangan yang casual seperti ini sungguh amat langka, raut wajahnya pun jauh terlihat lebih segar, dan muda.

 

“Mau memesan secangkir cappuccino dan sepiring pancake ‘kan, tuan?” tanyaku memastikan, namun ia menggeleng.

“Kali ini aku mau memesan tiga cangkir,” ujarnya yang membuatku setengah terkejut, aku hanya mengiyakan ucapannya, lantas berbalik.

 

“Tunggu, Chorong-ssi.” Aku menoleh gugup tatkala dia menyebut namaku, dari mana ia tahu?

“Aku sedang tidak ingin makan pancake,” ucapnya kemudian yang membuat diriku semakin terkejut, menyebabkan kedua alisku saling berpaut, bukankah itu pesanan favoritnya? Namun gelak tawanya yang khas itu segera menyadarkanku kembali, dia sempat menggeleng beberapa saat.

“Kuharap kau tidak lupa ya,” ucapnya lagi yang membuat wajahku merah memanas. Ucapannya terkesan mengejek namun seperti mengingatkan, dengan langkah yang berdebar pula aku segera berlalu dari mejanya.

 

Aku kembali ke tempatnya dengan membawa nampan berisi pesanannya. Aku sedikit tidak mengerti, baru kali ini ia memesan diluar kebiasannya, dan oh

Bagaimana dia tahu namaku pun turut patut untuk dipertanyakan.

 

 

“Kau bisa menemaniku?” Cangkir pesanannya yang terakhir itu hampir saja terjatuh jika dia tidak dengan segera membantuku. Aku terkejut bukan main mendengar pertanyaannya barusan, dan keterkejutan itu semakin bertambah disaat aku menyadari tangannya yang kini sedang mencengkeram pergelangan tanganku.

“M-maaf..” kataku refleks, kali ini gantian ia yang menatapku bingung. Dengan hati-hati, kurenggangkan cengkeramannya untuk membebaskan pergelanganku. Ia terkesiap, lalu menunduk.

“Apa kau masih bersedia untuk menemaniku?” tanyanya ulang sembari memandangku. Kali ini bibirnya tersungging manis, semakin menambah desiran hangat dalam tubuhku. Aku melirik ke sekeliling sebentar, hari ini café sedang tidak ramai pengunjung. Tawaran itu kuterima.

“Baiklah,” jawabku gugup lantas menduduki kursi di hadapannya.

 

Aku duduk di depan pemuda ini dengan sedikit canggung sembari menundukkan kepala. Belum pernah seumur hidupku, aku dapat berada lebih dekat dengannya. Setelah sekian lama kami saling bertukar pandang disaat kami bertemu di tempat ini, sejak berbulan-bulan terdahulu.

Aku pun sama sekali tak berani untuk menatapnya intens, melihatnya dari jangkauanku begini saja ia sudah terlihat sangat tampan, terlampau sangat malah.

 

Ah ya! Perkenalkan, namaku Kim Junmyeon, atau kau bisa memanggilku Suho.” Aku mendelik dengan cepat, tebaran senyumnya yang menawan itu hadir masuk dalam kedua manik bola mataku. Dalam waktu yang tidak sebentar, aku telah terhipnotis karenanya.

“Kau pasti, umm.. Park Chorong, ‘kan?”

Aku tersentak sadar, dan ditanggapi dengan senyuman kecilnya.

“Jadi.. kau mendengarku tadi?” Aku menggaruk-garuk tengkukku beberapa saat, lalu mencoba untuk kembali bertatapan langsung dengannya yang kini sibuk menyesap cairan Kopi dari cangkir pertamanya tersebut.

“N-namaku Park Chorong, C-chorong saja sudah cukup,” kataku dengan sedikit terbata, ia tersenyum puas.

“Kau selalu menggunakan nametag-mu itu, Chorong-ssi,” katanya yang langsung mencipratkan semburat merah yang menjalar di permukaan wajahku sambil mengarahkan telunjuknya ke letak nametag di samping kanan saku kemejaku.

“Panggil saja aku Suho,” ujarnya lagi sembari mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat denganku. Kuterima tawaran itu dengan senang hati, tak luput dengan satu untaian senyum yang tulus dariku. Jadi, namanya Suho?

 

 

®

“Jadi, kau memesan tiga cangkir cappuccino tersebut karena itu?” tanyaku hati-hati, tatapannya masih beradu denganku.

“Sebenarnya aku hanya memesan dua, satunya lagi untukmu,” ucapnya santai yang segera membuatku melotot penuh kaget padanya. Ia mengangkat bahu sesaat, lalu tertawa ringan-mungkin- karena melihat ekspresi yang berlebihan dariku.

“Aku benar-benar sedang lelah dengan semua pekerjaanku belakangan ini, pulang larut malam begitu menyebalkan,” tuturnya seraya menyodorkan secangkir cappuccino padaku. Aku membalas dengan senyuman singkat beserta menerimanya halus, lalu menyeruput pelan isi dari cangkir tersebut.

“Kurasa kau juga butuh cokelat,” ujarku setelah meletakkan kembali satu cangkir tersebut di atas meja. Ia mengernyit sejenak, lalu mengembangkan senyumannya yang selalu kutunggu setiap saat.

Segera ku keluarkan satu batang Coklat yang terselip dalam saku rok kerjaku. Dia sempat terlihat bingung dalam beberapa detik, namun ekspresinya berubah kembali setelah melihat Cokelat yang terpajang di hadapannya.

“Kau selalu membawanya kemanapun?” tanyanya penuh selidik. Aku tersenyum menanggapinya lantas mengangguk, kusodorkan sebatang coklat yang terbungkus rapi itu padanya.

“Dia teman yang pandai dalam menghilangkan stress, merupakan salah satu Moodbooster yang handal; menurutku,” terangku masih sambil melihatnya. Tak kusangka, ia pun membelah satu batangan coklat itu menjadi dua lalu memberikannya padaku; selalu dengan senyuman hangat yang menutupi raut letihnya.

“Aku tak ingin kau jadi ikutan stress karenaku.” Aku tertawa mendengar itu dan sejurus kemudian tawanya melebur menjadi satu dalam tawaku. Tatapan kami bertemu pandang; lagi. Dan aku akan selalu suka, dari bagaimana caranya ia memandangku dengan senyum yang selalu menghiasi.

 

“Chorong-ah..” teriakan dari arah counter menabrak suasana antara aku dengannya, aku menoleh ke arah sumber suara, mendapati Eunji tengah melambai padaku.

“Kau ditunggu atasan di ruangannya,” katanya setengah berteriak, hingga aku mampu mendengarnya samar-samar. Aku kembali melirik Suho, dia hanya menyunggingkan kedua sudut bibirnya, sebelumnya, aku menunduk pamit padanya lalu bergegas pergi ke ruangan atasan. Mungkin ini hanya sekadar untuk membahas project baru café ini untuk bulan depan.

®

Setelah hampir satu jam penuh aku berada di dalam ruangan sempit bermandikan AC tersebut, aku pun keluar dan langsung megampiri meja dimana aku dan Suho bersama tadi. Namun tampaknya ia benar-benar kelelahan, hingga ia pun pergi sebelum aku selesai dengan urusanku.

“Dia sudah pulang?” tanyaku mendesak Eunji. Eunji mengangguk, kuedarkan pandanganku lagi ke tempat duduk kami tadi, baru tersadar olehku bahwa ia melupakan sesuatu di sana.

 

“Apa ini?” Aku bertanya-tanya dalam hati ketika menemukan masing-masing sobekan kertas  berukuran lumayan kecil dan sedang. Di sampingnya masih ada Cokelat yang tersisa, sisa milikku mungkin?

Dengan rasa penasaran, kubuka dengan perasaan sedikit gundah carikan kertas yang kecil. Dan entah mengapa pula, jantungku berdegup kencang, dilengkapi dengan irama desiran darah yang mengalir dalam tubuhku.

Harus kuakui, mungkin saja penampakan wajahku kali ini jauh lebih memalukan dengan guratan rona kemerahan yang memulas seluruh lapisan kulit wajahku. Tatkala aku membaca dengan perlahan dalam hati isi dari kertas tersebut yang berupa…

 

 

 

 

“You know what is Beautiful?

 

 –Read the first word again.

Jantungku benar-benar akan meloncat jika saja Suho masih berada disini, debaran dalam dadaku benar-benar sudah melampaui batasnya. Dan aku sama sekali tidak mengerti, bagaimana caranya aku dapat menghentikan ini?

Ketika sorot mataku menangkap kembali sobekan kertas yang lain, dadaku semakin berdegup tak karuan. Desiran aliran darahku pun semakin menjadi disaat aku baru menyentuhnya. Kuberanikan diri untuk membukanya dengan tangan gemetaran. Oh tuhan! Mengapa kau mengharuskannya menjadi penyebab utama kegilaanku ini?

 

Disaat aku benar-benar telah membuka dan membacanya, rasanya aku hendak menjerit sekaligus bertanya tak tentu arah.

Kubaca kembali isi dari sobekan kertas sedang tersebut dengan saksama. Dan harus benar-benar aku akui, aku semakin menjerit keras dalam hati lantaran terlampau senang akan goresan tinta hitam yang mengotori halaman putih tersebut.

 

 

 

 Tiga cangkir cappuccino yang kupesan padamu sore ini ialah kali pertama kita semakin dekat, ditemani dengan sebatang cokelat yang kau berikan padaku.

 

.

Bisakah kau menemaniku kembali dilain waktu? ”

®

 

A/N : Gatau, sumpah gatau ini ff apaan, akhirnya aja gaje-_- tapi ada yg bisa menebak maksud dari endingnya?

kebetulan juga ide beserta castnya muncul tiba-tiba pas dikasih foto Ranz dari seseorang yg penting /ohok/ pas nulis cerita ini pun yang ada di kepalaku cuman si Ranz itu._. /lah

 

Ini nih fotonya XD dia member Chicser dari Filiphina 😉

Cakep ya, mwahaha 😀

Oiya, terimakasih juga untuk Dhiloo, Zuky, dan Nida (sahabat di RL) yang mau meluangkan waktunya untuk me-review/memberi masukan lebih baik untuk ff ini sebelum di publish J thanks a lot! J

 

Jangan lupa tinggalkan review/komentar dari kalian ya ^^

 

Iklan

41 pemikiran pada “Cappuccino

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s