Goodbye Tokyo

Title: Gooodbye Tokyo

Cast: Luhan,

Genre: sad romance, Songfic, tragedy

Rating: G

LENGTH: Oneshot

Author: bluehigh (@blue_high17)

Note: read this with listening YUI- Tokyo

Disclaimer: This if songfic, that idea is from me and inspiration from YUI- Tokyo

 

~~~~~~~~~~

Sumi nareta kono heya wo

Dete yuku hi ga kita

Aku melihat apartement yang telah aku tempati selama 2 tahun terakhir, yang menyimpan banyak kenanganku dengannya. Aku masih ragu ragu tentang perjalananku. Tetapi aku mantapkan hatiku, bahwa aku harus menginggalkan Tokyo. Harus. Must. Aku berjalan menuju halte bis, lalu masuk kedalam bis yang akan mengantarkanku menuju statiun.

 

Atarashii tabidachi ni mada tomadotteru

Eki made mukau BASU no naka

 

Ku ketik sms untuk Xiumin, hanya untuk menyatakan keberadaanku dan agar ia tak khawatir dan menjelajahi seluruh Jepang agar bisa menemukanku.Terkadang tingkahnya memang konyol tetapi sebenarnya ia adalah teman yang sangat baik.

 

Ku tatap Tokyo untuk terakhir kali, didepan statiun aku berjanji bahwa sebisa mungkin melupakannya dan tak datang ke Tokyo, ah bukan sebisa mungkin tidak pergi ke Tokyo, tapi meninggalkan Tokyo untuk

                SELAMANYA.

 

Aku masuk kedalam stasiun. Membeli makanan dan memakannya dengan lahap, walaupun aku tak lapar sama sekali. Setidaknya aku harus makan agar penyakit maagku tidak kambuh dan merepotkan orang lain.

 

‘Keberangkatan menuju Osaka, kereta  akan sampai 2 menit lagi, mohon bersiap siap’ aku duduk menunggu kereta, sesekali melirik gitar disebelahku.

 

Tomodachi ni MEERU shita

Asa no HOOMU de denwa mo shitemita

Demo nanka chigau ki ga shita

 

Aku masuk kedalam peron, berusaha menelponnya, tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda, tak seperti biasanya. Aku tahu pasti hal ini akan terjadi entah cepat atau lambat. Ia tak menjawab telponku, lalu aku memasukkan handphoneku kedalam saku celana. Membatalkan niatku untuk menelponnya lagi.

 

Furui GITAA wo hitotsu motte kita

Shashin wa zenbu oitekita

 

Aku tak membawa baju, bekal, atau fotoku satupun, yang kubawa hanya gitar tua disebelahku. gitar tua yang sudah usang tapi menyimpan banyak kenangan antara kami.

 

Nanika wo tebanashite soshite te ni ireru

Sonna kurikaeshi ka na?

 

Apakah dengan meninggalkan Tokyo aku akan menemukan yang kutemukan di Tokyo di Osaka? Apakah sirklus pertama kali aku tiba di Tokyo sampai sekarang akan terjadi lagi di Osaka?

 

Tsuyogari wa itsudatte yume ni tsuduiteru

Okubyou ni nattara soko de togireru yo

 

Seperti dahulu, aku tak pernah berubah, pura pura tegar padahal rapuh. Berusaha kuat padahal lemah. aku ingat akan mimpi mimpiku, mimpi mimpinya, mimpi mimpi kami, yang akan kami lakukan dimasa depan. Aku tahu jika kubiarkan diriku menjadi seorang pengecut, mimpi mimpi itu berakhir, hanya meninggalkan angan angan yang tak akan bisa digapai.

 

Hashiri dashita densha no naka

Sukoshi dake naketekita

 

Mado no soto ni tsuduiteru kono machi wa

Kawara nai de to negatta

 

Furui GITAA wo atashi ni kureta hito

Toukyou wa kowaitte itte ta

 

Kereta yang aku tumpangi berjalan sedikit, dan aku menangis, kenangan kami berputar bagaikan film indah yang kami buat berdua. Aku berharap jalan yang membentang diluar tidak berubah. Terlalu berat meninggalkan Tokyo yang menyimpan banyak kenangan ini. Aku menengok lagi ke gitar tua ini. Ia yang memberikanku gitar tua ini.

Ia yang selalu mengatakan bahwa Tokyo itu sangat menakutkan. Awalanya aku tak percaya, tetapi sekarang aku percaya. Yang ia katakan benar, Tokyo sangat menakutkan, karena itu aku meninggalkan Tokyo yang menyimpan banyak kenangan ini.

 

Kotae wo sagasu no wa mou yameta

Machigai darakede ii

 

Aku sudah tak perduli, aku tak akan mempertanyaan bahwa meninggalkan Tokyo itu keputusan yang benar atau tidak, tak akan menjadi masalah dan tak masalah jika aku membuat suatu kekeliruan.

 

Akai yuuyake ga BIRU ni togireta

Namida wo koraetemo

Tsugi no asa ga yattekuru tabigoto ni

Mayou koto datte aru yo ne?

 

Langit senja yang indah itu terhalang gedung gedung yang cukup tinggi. Aku sebisa mungkin menahan air mataku. Awal dari setiap pagi yang baru bukan untuk membuat orang sedih bukan? hanya itu yang aku tahu, aku hanya ingin memulai hariku yang baru di Osaka. Hanya itu, tak bermaksud memusnahkan sesuatu yang kudapatkan di Tokyo.

 

Tadashii koto bakari erabe nai

Sore kurai wakatteru

 

Aku turun dari kereta, aku sudah sampai di Osaka, aku akan memulai hidupku yang baru disini dengan baik, sama baiknya ketika hidup di Tokyo walaupun tanpanya. Lagipula aku tak bisa hanya memilih yang orang lain fikir bahwa itu hal yang baik, itu yang kutahu. Pemikiran setiap orang berbeda bukan? Hal itu memang cocok untukku tetapi belum tentu baik untuk orang lain bukan? Begitu pula sebaliknya.

 

Sepertinya langit senja sudah berganti menjadi abu gelap. Langit biru yang cerah sudah menjadi  biru kelabu. Aku harus makan malam agar bisa bertahan hidup, aku menuju sebuah cafe di stasiun. Ku pesan semangkuk Sukiyaki. Dan ketika pesananku sampai didepan mataku aku memakannya dengan lahap, dan aku tidak merasakan lapar dari tadi, sejak makan di stasiun Tokyo aku sudah kenyang, ah masa bodoh aku lapar atau tidak, aku harus terus hidup pokoknya!

Tiba tiba ada yang memelukku dari belakang dan menagis dibahuku.

 

dare desu ka? (Siapa itu?)”

 

“Ini aku Lulu-niichan (kakak)” ini suaranya.

 

daijoubu chagi (kamu tidak apa-pa sayang)?”

 

Nande mo nai niichan (tidak kenapa-kenapa)”

 

“Bogosshiposseo? Kau tak merindukanku lulu-niichan?” katanya dengan manja.

 

Iie (bukan), Shinjiru (percayalah) aku merindukanmu setiap saat”

 

“Jinja?” tanyanya dengan semangat.

 

Sou desu ne (begitulah)”

 

Wakarimashita (aku mengerti)” katanya sambil mengangguk.

Aku menengok kearahnya, ia masih menggunakan baju pengantinnya. Dan ia mengejarku dari Tokyo sampi Osaka?

 

kirei na (cantiknya)” kataku kelapasan.

 

Gomen, Moo ichido kudasai (maaf, tolong ucapkan sekali lagi)?” katanya dengan manja

 

kirei na (cantiknya)” ulangku

 

“Jinja niichan? Gomapta”

 

“Tentu saja chagi,”

 

“Mari kita mulai kisah kita dari awal, disini di Osaka bukan di Tokyo”

 

“Ne,Wakarimashita (aku mengerti),” jawabnya sambil mengangguk semangat.

 

“anak pintar” kataku samil mengacak rambutnya. Ia hanya memanyunkan bibirnya sedangkan aku tertawa kecil.

 

“Bagaimana kau tahu aku ada di Osaka?”

 

“Dari Xiumin-nii (kakak), tadi aku menelponnya sehabis kau menelponku, maaf tadi aku kabur dari gereja untuk mengejar lulu-niichan, tadi aku tak sempat mengangkat telepon niichan, gomensai (maaf)”

 

“Gwanchana, yang penting kau sudah ada disini, bersamaku”

-END-

 

 

Gimana bagus enggak? Kalau nggak, mian

Author bikin ff ini ngebut 1 jam jadi

Padalah nggak nyampe 1 jam juga sih

Ah dari pada nungguin author yang telmi

author ucapkan

Khamsahammida yeorobun! For read my fanfiction

Please give a comment, dont be a silent readers please!

 

6 pemikiran pada “Goodbye Tokyo

  1. eummm,,, gomen nasai author,,, penggunaan kata Kirei biasanya untuk pemandangan atau benda mati,, untuk seorang gadis atau manusia,,biasanya “Kawaii”

    selebihnya aku suka,, ni lagu memang keren,, 😀
    lain kli bikin FF dari lagu Scandal donk.. 😀 #maksa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s