Loving You Like Crazy (Chapter 9)

Loving You Like Crazy [Part. 9]

new-poster

Title: Loving You Like Crazy [Part. 9]

Author: nune

Main Cast: -Park Chanyeol

-Baek Jisun

Other Cast: -Kai

-Shin Yeonhwa

-Baek Eunjo (Jisun’s uncle)

-Do Kyungsoo

-Kim Hyesun

Length: Multichapter

Genre: Drama, Romance, Marriage Life

Ratting: PG-15

*****

Chanyeol berjalan lunglai melewati lautan orang-orang yang sedang berseok-seok mengikuti dentuman musik yang cukup keras. Sesekali banyak gadis-gadis yang bergelayut manja dilengannya seperti lintah. Sayangnya dia tidak punya minat untuk itu, Chanyeol berjalan kesamping pojok dan duduk disana.

“Pesan minum apa, tuan?” tanya si Bartender. Bartender itu menatap Chanyeol lekat, merasa ini kali pertama dia melihat pelanggan yang satu ini. Oh Tuhan apa jadinya mahasiswa seteladan Park Chanyeol datang ketempat seperti ini untuk melepaskan stress-nya?

Tidak menyangka ia akan datang lagi kemari. Terakhir kali saat ayahnya divonis tidak tertolong lagi, tepatnya setahun yang lalu.

“Apa saja! Kau boleh campuri semua minuman disini agar aku bisa cepat mati!” seru Chanyeol datar.

Si Bartender itu mengernyitkan alisnya “Maaf?”

Chanyeol menghela nafas panjang. “AKU BILANG CAMPURI SEMUANYA!!”

“Ah, nde! Algeseubnida” Lalu Bartender berlalu pergi.

Entahlah… siapapun yang mengajak Chanyeol bicara terlihat begitu menyebalkan baginya. Apa mereka tak mengerti bahwa Chanyeol sekarang tidak ingin diajak bicara apalagi ditanya?

“Silahkan, tuan.” Ujar Bartender sambil menyuguhkan minuman di gelas kecil –yang tanpa  Chanyeol ketahui itu hanya campuran dari minuman Vodka dan Wine saja– Kadar alkoholnya tidak cukup ganas.

Chanyeol meminumnya dalam sekali teguk.

“Berikan aku 10 gelas lagi!”

Si Bartender itu sedikit tertegun. Namun apa boleh buat? Bukankah pembeli adalah raja?

Sebelum itu Chanyeol memberikan secarik kertas berikut nomor telepon dan alamat rumahnya. Jadi jika ia sudah mabuk berat si Bartender tak perlu kerepotan, ia hanya perlu mengantar Chanyeol ke taxi dan memberikan alamat tersebut kepada si supir.

Sambil menunggu pesanannya datang, Chanyeol menangkupkan wajahnya dikedua tangannya yang terlipat. Sakit… Rasa sakit itu masih tercetak jelas disana, padahal kejadian itu sudah tiga jam berlalu. Apa yang harus ia lakukan? Sungguh Chanyeol tak menyangka bahwa kepulihan Jisun membawa petaka menakutkan untuknya.

Bagaimana jika Chanyeol hidup tanpa nya? Bagaimana jika Jisun lebih memilih Myungsoo daripada dirinya? Rasa tidak rela, dan sesak memenuhi relung hatinya. Chanyeol sangat membutuhkan Jisun saat ini… sekarang…

Apa begini rasanya? Apa begini rasanya patah hati? Apa dulu Jisun juga sering merasakan ini saat Chanyeol menyakitinya? Chanyeol merasa bersalah, Jisun ternyata sudah banyak menderita karena-nya.

Rasanya seumur hidup Chanyeol tidak pernah merasa sekosong ini. Haruskah Chanyeol menyerah dan enyah dari pandangan Jisun selamanya?

*****

Keesokan harinya~~

 

Tok… Tok… Tok…

“Anyeong, Jisunie~~”

“Jisunie?!”

“Jisunie!!!!”

“JISUN!”

“OY, BAEK JISUN!”

Jisun terhentak dari lamunan-nya saat mendengar teriakkan menuntut dari seseorang.

Samchun?! Sejak kapan samchun berada diruang rawatku?!” seru Jisun sambil mengusap dadanya. Ia sedikit terkejut atas kehadiran paman kecil nya ini, Baek Eunjo.

Baek Eunjo hanya menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalian lihat? Ternyata sembuhnya Jisun dari amnesia-nya malah membuat keadaan memburuk.

“Aku sudah memanggilmu lima kali! Dan kau tidak dengar? Tch…” Baek Eunjo menghampiri Jisun yang sedang duduk-setengah-terbaring.

Jisun hanya mengulum bibirnya, merasa tak enak hati juga pada samchun-nya itu.

“Mobil Hyung yang ringsek sudah dibenarkan, lalu ia memberikannya padaku! Ugh menyebalkan sekali mengapa aku selalu dapat yang bekas-bekas-__-“ keluh Baek Eunjo.

Mianhaeyo, samchun. Lain kali aku tidak akan ceroboh lagi. Jeongmal mianhaeyo~

Jisun merasa tak enak hati karena terlalu banyak merepotkan orang lain setelah kecelakaan yang ‘pernah’ membuatnya Amnesia ini.

Neon waegurae? (kau kenapa) ” Baek Eunjo mendorong pundak Jisun pelan. Biasanya Jisun akan membalas perkataan maupun ejekan Eunjo dengan bersikeras. Tapi sekarang? Rasanya ada yang tidak beres. Apa Jisun sedang ada masalah?

“Eung?? Tidak. Tidak ada apa-apa, samchun.” Jisun menggeleng, meyakinkan paman-nya bahwa ia baik-baik saja. Lebih tepatnya, pura-pura baik baik saja. Saat ini topeng –aku-baik-baik-saja terpasang apik diwajahnya

TOK TOK TOK…

Mereka berdua –Jisun & Eunjo- mengalihkan perhatiannya pada daun pintu, dan mendapati Kai dan Yeonhwa disana.

Yeonhwa dan Kai memberi hormat salam pada Baek Eunjo. Setelah itu Yeonhwa duduk disamping Jisun, menggenggam tangan Jisun erat. “Apa kabar, Jisun-ah? Maaf aku baru mengunjungimu ><”

“gwaenchana… Kalian pasti punya kesibukan masing-masing.” Ujar Jisun seraya melemparkan senyuman hangat pada mereka.

“Aku senang besok kau sudah dipulangkan Jisun-ah~” sambar Kai. Hmm… Sebenarnya akhir-akhir ini fikirannya sedikit kacau dan kalut. Besok Jisun akan dipulangkan dari rumah sakit ini, namun apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Kemana Jisun harus pulang?

Haruskah Jisun tetap tinggal di Apartment itu bersama… Errr Chanyeol? Jangan bercanda! Sejak tadi pagi Jisun tidak melihat kemana namja jangkung itu pergi. Hal ini membuat Jisun merasa sangat sedih dan selalu bertanya-tanya… Apa perbuatannya ini sudah keterlaluan?Tapi akan kah kejadian kemarin membuat seorang Park Chanyeol tergoncang? Rasanya tidak, bagi Jisun sampai saat ini Chanyeol masih mengunci hati itu untuknya.

Lalu, kemana ia akan pulang? Ke rumah orang tua-nya? Rasanya tidak mungkin. Satu atau dua hari Jisun menetap disana pasti mereka akan menyuruh Chanyeol untuk menyusulnya dan membawanya ke Apartment, tempat seharusnya Jisun menetap. Huh sama saja.

“Ya, aku sangat bersyukur.”

Baek Eunjo tertegun. Ah hampir saja dia lupa! Sejak kemarin ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Jisun. Ia pun merogoh sakunya dan mengeluarkan seutas Bracelet “Aku menemukan ini di Dashboard mobil Hyung. Apa ini punyamu?”

DEG!

Jisun terenyuh saat melihat sebuah Bracelet yang mengait indah dijari Baek Eunjo. Itu adalah… Bracelet Couple yang ia punya bersama Chanyeol!!

“Hanya untuk hari ini. Oppa memakainya hanya untuk hari ini. Setelah itu oppa boleh membuangnya atau terserah apa yang ingin oppa lakukan pada Bracelet itu.” (Loving You Like Crazy -Chapter 3-)

Tiba-tiba Jisun teringat akan kalimat yang pernah ia lontarkan saat itu. Tidak! Tidak seharusnya Jisun memikirkan namja yang seharusnya ia lupakan! Jisun tidak boleh melanggar keteguhan hatinya untuk yang kesekian kali. Kejadian itu sudah lama berlalu, jadi artinya Chanyeol sudah membuang Bracelet itu sejak jauh jauh hari ‘kan?

“Itu hanya sampah. Buang saja.” Jisun mengalihkan pandangannya ke lain arah, agar semua orang disini tidak melihat cairan yang ingin jatuh dari sudut matanya.

“Bukankah itu Bracelet Couple yang kau punya bersama dia, Jisun-ah?” tanya Yeonhwa.

Kai dan Eunjo saling bertemu pandang. Mereka jelas tahu siapa yang Yeonhwa maksud.

Yeonhwa tahu semuanya karena Jisun membeli Bracelet tersebut saat mereka berdua mengunjungi Festival kembang api di Namsan Tower.

“Jangan ungkit aku dengannya lagi, Yeonhwa-yah”

Kai mengernyitkan alisnya “Ada apa Jisun-ah? Kau ada masalah dengannya? Kalian bertengkar?”

“Aku hanya tak ingin berurusan lagi dengannya.” Balas Jisun dengan wajah datarnya. Jauh didalam sana, hatinya berteriak tak rela. Walaupun Jisun sudah mendorong keras Chanyeol untuk pergi dari hidupnya, namun rasa cinta itu masih tetap ada.

“Mwo? Kalian sudah terikat pernikahan. Bagaimana bisa?!” pekik Baek Eunjo.

“……” Jisun hanya terdiam

“Tolong jangan seperti ini, Jisun-ah. Fikirkan lagi matang-matang! Pertengkaran suami-istri itu adalah hal yang biasa.” Himbau Yeonhwa.

“Jangan seperti ini, Jisunie. Kalian saling mencintai, bukan?” tanya Eunjo.

Jisun menggeleng “Sampai gambus tenggelam pun dia tidak akan pernah mencintaiku.”

Hening…

“Ternyata anak itu masih saja menutupinya. Kau masih belum sadar juga, Jisun-ah?” Kai berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya.

Jisun menatap Kai seolah berkata ‘apa-maksudmu-Kai.’

Kai menghela nafas panjang. Baiklah ini saatnya mengungkapkan apa yang tidak seharusnya dirahasiakan. “Sebelumnya aku minta maaf. Dua minggu sebelum pernikahan kalian aku memukulnya! Aku memaksa dia untuk menjauh darimu karena aku takut kau akan menderita lagi. Aku terus menekannya! Tanpa ku kira dia berlutut dihadapanku dan memintaku untuk merelakanmu. Karena dia telah sadar bahwa hatinya telah tertuju padamu, Jisun-ah. Dia mencintaimu!”

Jisun sangat tertegun atas apa yang Kai ceritakan. Apa Kai tidak salah bicara? Chanyeol berlutut pada Kai untuk melepasnya? Benarkah jika Chanyeol mencintainya? Benarkah harapan kosong yang ia punya selama ini sudah menjadi nyata?

Yeonhwa tersenyum tipis dan menyambung pembicaraan Kai “Bukan hanya itu, Jisun-ah. Chanyeol rela menghabiskan waktunya yang berharga untuk mendekorasi kamarmu untuk malam pertama kalian.”

“B…Bagaimana kau tahu?” tanya Jisun. Ia heran mengapa Yeonhwa bisa tahu bahwa kamar malam pertama mereka terdekorasi.

Yeonhwa terkekeh “Dia menghampiriku dan bertanya banyak tentangmu! Bertanya apa bunga kesukaanmu, wewangian macam apa yang kau sukai, warna apa yang kau sukai. Dia hanya ingin membuatmu bahagia, Jisun-ah. Cintanya untukmu begitu tulus.”

Jisun memekik tak percaya, benarkah seorang Park Chanyeol rela menghabiskan waktu untuknya? Jadi tataan indah yang sesuai dengan seleranya malam itu sudah terencanakan dari awal? Rasanya semuanya sudah terbukti.

Perasaan Jisun berkecamuh antara sedih dan bahagia. Bahagia karena ia tahu bahwa akhirnya Chanyeol membalas perasaannya, dan sedih karena takut semuanya akan terlambat. Pantaskah ia menyesali perbuatannya sekarang?

Kai tersenyum penuh arti “Lalu apa yang kau lakukan dengannya saat malam pertama, Jisun-ah? Kekekeke—Auww” Kai mengaduh kesakitan atas cubitan pedas yang Yeonhwa berikan. Baek Eunjo hanya terkekeh geli melihat mereka berdua.

“…Kami tidak melakukan apa-apa.”

Kai yang aneh, disaat kalut seperti ini masih saja bertanya hal semacam itu.

“Itu hal gawat, Jisun-ah! Kau mungkin tidak menggairahkan untuknya. Artinya dia tidak menginginkanmu,” kata Baek Eunjo dengan senyum usil.

Jisun hanya mendecih dan menatap sinis Eunjo.

Eunjo menggapai puncak kepala Jisun, lalu mengelusnya. “Paman hanya bercanda, cantik. Fikirkanlah dulu sebelum melakukan sesuatu, jangan sampai kau menyesal! Saat kalian sudah bercerai namun kau masih mencintainya, bagaimana? Apa kau siap menanggung rasa sakit seumur hidup?”

Perkataan mereka bertiga benar-benar membuat pendirian Jisun untuk melupakan Chanyeol runtuh. Ya, Jisun harus bicara pada Chanyeol. Harus!

“Apa kalian tahu dimana dia sekar—“

Tok Tok Tok…

Eh? Siapa lagi yang datang?

DEG! Mereka………

“Anyeonghaseyo Kim Hyesun imnida…” Jisun membalas tundukan gadis itu dengan kikuk. Kim Hyesun? Sepupu Chanyeol? Bagaimana dia bisa tahu jika Jisun dirawat disini?

“Anyeonghaseyo, Kyungsoo imnida…” kata namja yang berada disebelah Hyesun.

“Ah! Anyeonghaseyo…” balas Jisun. Tunggu dulu! Hyesun bersama Kyungsoo? Setahu Jisun ia adalah teman terdekat Chanyeol di kampus. Tapi benarkah mereka kemari hanya untuk menjenguk Jisun saja?

“Ternyata kau sedang ada tamu, maaf menganggu ketenangan kalian.” kata Hyesun ramah.

“Anniyo… Terimakasih sudah menyempatkan diri menjengukku. Sini masuk,”

Melihat Kim Hyesun seperti ini membuat Jisun mengingat lagi kebodohan yang pernah ia lakukan. Saat itu, Jisun pernah cemburu buta pada gadis ini! Saat itu Jisun melihat Chanyeol dan Hyesun tengah suap-suapan ice cream di sungai Han. Jisun sangat sedih dan frustasi, karena ini baru pertama kalinya ia melihat Chanyeol bermesraan dengan yeoja.

Setelah mengurung diri dikamar selama satu minggu tanpa makan dan minum, akhirnya Jisun jatuh sakit! Saat itu rasanya cahaya hidup Jisun sudah meredup, semuanya sudah tak berguna lagi baginya! Oh Hani dan Baek Seungjo sangat bersedih dan ikut stress memikirkan anak semata wayangnya yang sedang dilanda depresi berat.

Sampai akhirnya orang tua Chanyeol menjenguknya bersama Chanyeol dan Hyesun. Jisun semakin lemas dan tak berdaya. Fikirnya mereka akan memperkenalkan Hyesun sebagai calon menantu mereka. Namun hal yang mengejutkanpun terjadi! Hyesun memperkenalkan dirinya sebagai sepupu Chanyeol, dan memanggil appa Chanyeol dengan sebutan “Samchun”.

Setelah itu Jisun jadi semakin optimis dan membangun lagi harapan yang sempat hancur karena salah faham itu. Ya, ya, ya. Jisun memang sangat bodoh dan ceroboh. Tapi karena kejadian itu, hubungan mereka berdua (Jisun-Hyesun) sekarang jadi jauh lebih baik.

“Bagaimana keadaanmu, Jisun-ssi? Apa Amnesia mu sudah pulih total?” tanya Hyesun.

Jisun tersenyum “Sudah, Hyesun-ssi. Besok pagi aku sudah dibolehkan pulang.” Hyesun mengangguk mengerti.

“Syukurlah. Kau pulang ke Apartment Chanyeol, kan?” Tanya Kyungsoo kali ini.

Jisun terdiam…

“Ah, keuromnyo (Tentu saja)” sambar Baek Eunjo yang diikuti anggukan dari Kai dan Yeonhwa

“Tidak. Aku tidak pulang kesana.” Pekik Jisun.

Seisi ruangan tampak terkejut. Hmm sepertinya masalah mereka berdua memang serius. Eunjo mulai memikirkan rencana agar pasangan bodoh ini tetap menyatu.

“Tolong jangan seperti ini, Jisun-ssi. Chanyeol oppa sangat membutuhkanmu. Oppa meninggalkan kuliah akhir-akhir ini karena sibuk mencari pekerjaan! Untuk mengobati Amnesia-mu yang tak kunjung sembuh. Tapi syukurlah kau pulih sekarang.”

Hari ini, sudah tak terhitung berapa orang yang menyuruh Jisun untuk mempertahankan hubungannya dengan Chanyeol. Karena gemas, Kyungsoo akhirnya menceritakan semua alasan mengapa saat itu Chanyeol tidak pulang dan meninggalkannya begitu saja. Kyungsoo menceritakannya dengan detail, seperti tak ada satupun hal yang terlewatkan.

Perlahan air mata itu turun dari matanya, melewati pipinya. Jisun merutuki dirinya sendiri, ia adalah orang yang terbodoh! Jisun harus bertemu dan menjelaskan semuanya. Meminta maaf pada Chanyeol tentang hal kemarin. Jisun ingin kembali ke pelukannya dan memulai semuanya dari nol! Jisun sangat menyesal sekarang. Ya Tuhan tolong kabulkan harapannya kali ini, ia berharap agar semuanya belum terlambat.

“Aku ingin menemuinya! Dimana dia sekarang?!”

*****

            Hari ini akhirnya Jisun dipulangkan dari rumah sakit. Ia memutuskan untuk segera menemui Chanyeol di Apartment, tapi sayangnya Jisun tidak bisa masuk semudah itu, Chanyeol memblokir kunci otomatisnya, mungkin saat ini Chanyeol tidak ingin menerima tamu dulu. Ponselnya juga tidak pernah aktif, Kyungsoo maupun Hyesun-pun selalu mengedikkan bahu jika ditanya sedemikian. Yaaahhh tidak heran, Chanyeol memang sangat tertutup sejak dulu.

Mau tidak mau Jisun menginap dirumah Yeonhwa untuk beberapa malam, dan memutuskan untuk menemui Chanyeol besok. Jisun harap Chanyeol ada disana dan mau bicara dengannya.

~Ruang keluarga, kediaman Baek~

“Hyung, kita harus melakukan sesuatu!” pekik Baek Eunjo sambil menggerakan kakinya dengan gelisah.

“Ada apa?” Baek Seungjo mengalihkan pandanganya dari buku yang tengah dibacanya. Setelah itu Oh Hani menuangkan secangkir teh hangat untuk mereka berdua dan ikut duduk bergabung bersama mereka.

“Sepertinya Jisun dan Chanyeol sedang bertengkar hebat! Akan sulit untuk mereka bicara. Bagaimana, hyung?”

Baek Seungjo memutar bola matanya, berfikir.

“Bagaimana bisa? Bukankah Jisun sudah pulang ke Apartment bersama Chanyeol?”

Baek Eunjo berdecak “Tidak, hyung! Sejak kemarin Jisun menginap dirumah Yeonhwa. Setahuku besok ia akan mengunjungi Chanyeol!”

“Mwo? Dasar anak itu…” keluh Baek Seungjo. Tak habis fikir ternyata Jisun sudah berbuat sejauh ini. Hening sejenak… mereka tengah bergelut dengan fikiran masing-masing.

Oh Hani tersenyum penuh arti “Tenang saja. Aku punya senjata ampuh. Beritahu aku jam berapa Jisun akan menemui Chanyeol besok!”

*****

Keesokan Harinya, @ Sun-Yeol Apartment~

Piiipp

Pintu itu berbunyi setelah Jisun menekan enam digit password disana. Artinya pintu itu sudah berhasil terbuka. Jisun kira Chanyeol masih memblokirnya.

Haruskah ia masuk sekarang? Ya, Jisun harus masuk saat ini juga! Jisun melangkah masuk dan menutup pintunya kembali. Rasanya aneh, setelah satu minggu tidak menginjakkan kaki kesini, Jisun seperti menyelinap kerumah orang lain.

Jisun mengamati isi Apartment ini dengan jeli. Tidak ada yang berubah, semua furniture ditempatkan pada posisi yang sama. Tapi keadaan Apartment ini seperti ditinggal penghuninya pulang kampung selama berbulan-bulan. Terlihat sangat kotor dan tak ter-urus! Banyak debu yang menempel dilantai maupun dipermukaan meja, terdapat banyak piring kotor yang didiamkan begitu saja di dapur, dan baju-baju habis pakai yang berserakan dilantai. Ditambah lagi bau busuk dari tempat sampah yang belum sempat dibuang.

“Aneh. Bagaimana bisa?” gumam Jisun bingung. Jisun tahu betul bahwa Chanyeol sangat tidak betah dengan keadaan yang seperti ini.

Jisun mendelik pada jam dinding didekat ruang tamu, jam tujuh pagi. Baiklah, Jisun memang sengaja datang sepagi ini untuk memantau keadaan Chanyeol dan memasak untuknya. Melihat keadaan Apartment yang sekotor ini membuat Jisun gemas ingin menyapu habis seluruh kotoran hingga ke sela.

Oke! Sebelum Chanyeol bangun, keadaan Apartment sudah harus bersih seperti sedia kala! Jisun harus menjalani salah satu kewajibannya sebagai istri, yaitu membersihkan rumah. Jisun menyingsingkan lengannya keatas sikut dan mulai beraksi.

Two Hours Later~~

Chanyeol terbangun karena ada sesuatu yang menyengat hidungnya sejak tadi, sesuatu yang berupa aroma pedas yang cukup tajam, yang membuat hidung dan lehernya sedikit gatal. Dengan setengah nyawa Chanyeol berjalan gontai menuju dapur, berniat untuk mengambil segelas air.

Langkahnya terhenti dan matanya terbuka lebar saat melihat sosok yang ia rindukan dalam diam. Sosok itu tengah membelakanginya, mengaduk Ddeok Ppokgi pedas yang aromanya semakin menguat diatas kompor. Jadi aroma ini yang membuatnya terbangun? Ah itu bukan hal penting! Maksudnya, sejak kapan Jisun berada disini?

Apa ini sungguhan? Atau ini semacam halusinasi efek Hangover dari mabuknya semalam? Tapi mungkinkah jika Hangover ini terlalu kuat sehingga sosok itu terlihat sangat nyata? Ugh… Chanyeol harus mengetess-nya!

“Jisun-ah?” gumam Chanyeol dengan nada rindu yang berlebihan.

Jisun terhentak saat mendengar suara itu. Apa Chanyeol sudah tepat berada dibelakangnya?

“Tunggulah di meja makan, aku akan segera menyiapkan Ddeok Ppokgi hangat untuk opp- untukmu.” Jisun berusaha bersikap sebiasa mungkin. Ia tak ingin kegugupannya terlihat.

Chanyeol terdiam. Dia masih waras! Ternyata ini semua bukan halusinasinya!

Masihkah ada kesempatan untuk mereka mengulang dari nol lagi? Apa semangkuk Ddeok Ppokgi hangat ini bisa mempengaruhi Chanyeol untuk memaafkannya?

“Simsalabim… Semoga kau memaafkanku.” Jisun seolah mengucapkan mantra pada Ddeok Ppokgi yang sudah tersaji diatas piring besar.

Chanyeol duduk di kursi ruang makan sambil mengusap wajahnya dengan gusar. Ia menghela nafas pelan saat melihat keadaan Apartment yang sudah sangat bersih dan rapih. Mengingat bahwa dirinya jarang berada di Apartment, Chanyeol lebih memilih keluar mencari kesibukan lain agar otaknya tidak lagi memikirkan hal yang menyangkut tentang gadis itu. Ya, setiap malam Chanyeol pergi ke club untuk menghapus penatnya.

“Makanlah,” Jisun menyajikan sepiring Ddeok Ppokgi hangat dihadapan Chanyeol. Hmm… Sejak Jisun dirawat dirumah sakit, pola makan Chanyeol jadi tidak teratur. Chanyeol terlihat agak kurus, Jisun tahu itu.

Chanyeol mencicipi sesuap dan meletakkan sendoknya ketempat semula.

“Pulanglah. Aku ada kuliah,”

“Hari ini hari minggu.”

“Aku ingin merendam baju kotorku.” Elak Chanyeol lagi

“Sudah kulakukan.”

“Aku ingin tidur.”

Jisun menghela nafasnya. Sedih… Ternyata Chanyeol masih sulit diajak bicara. Tidak heran sih, tentu saja Chanyeol masih marah padanya. Tapi sampai kapan? Haruskah besok Jisun datang lagi kemari sampai Chanyeol siap diajak bicara?

“Baiklah aku pulang. Habiskan, ya!” pesan Jisun seraya menyembunyikan rasa kecewanya. Ia mengambil Hoodie-nya dan berlalu pergi.

Chanyeol menghempaskan tubuhnya diatas sofa, ia mengacak rambutnya gusar. Rasanya kepalanya ingin meledak sekarang juga! Sebenarnya apa sih yang ada difikiran gadis itu? Setelah menghempasnya, gadis itu datang lagi seakan menyusun lagi harapan lama yang sudah sirna. Jika ditarik ulur begini Chanyeol tidak bisa tinggal diam. Lama-lama Chanyeol bisa gila karenanya!

Piiiip… Terdengar lagi suara pintu terbuka.

“Gawat!” Entah sejak kapan Jisun sudah berada dihadapan Chanyeol –yang masih merenung-, Jisun berjalan kesana kemari dengan resah.

“Wae??”

Jisun mengatur helaan nafasnya yang tak beraturan dan beralih menatap Chanyeol “Halmoeni dan Haraboji sedang menuju kesini!!”

“Mworagu? (Apa kau bilang)” pekik Chanyeol.

“Aku berpapasan dengan mereka saat ingin menaiki Lift! Akghh Bagaimana in—“

Ting Nong… Ting Nong…

Mereka saling bertatapan. Sudah bisa ditebak itu pasti Halmoeni dan Hraboji!

“Bersikaplah biasa-biasa saja.” ujar Chanyeol dingin. Jisun menundukkan kepalanya sambil bergumam setuju.

Chanyeol membuka pintu bersama Jisun yang berada disampingnya.

“Anyeonghasimika, Halmoeni Haraboji.” Salam Jisun dan Chanyeol bersamaan disertai bungkuk hormat mereka. (Readers masih inget kan omoni dan aboeji-nya Baek Seungjo -Playful Kiss- yang baik hati dan tidak sombong itu? ^^)

Halmoeni masih tetap saja terlihat sama, cantik dan murah senyum seperti dulu. Walau rambutnya sudah hampir memutih, dan terdapat kerutan diwajahnya, aura keibuannya masih tetap melekat padanya.

“AAAAAAAAAAAAAAA URI JISUNIE, BOGOSHIPOYOOO…” teriak Halmoeni sambil memeluk Jisun erat, melompat-lompat kegirangan, sampai membuat Jisun sesak.

“Silahkan masuk,” seru Chanyeol pada Haraboeji yang tidak ada bedanya seperti dulu, terutama postur tubuhnya yang ‘bulat’.

Ya benar, mereka kemari atas dasar kerjasama yang disusun oleh Baek Brothers (Baek Seungjo-Baek Eunjo) dan Oh Hani. Mari kita lihat apa yang akan mereka lakukan pada Jisun dan Chanyeol.

Sandiwara mereka pun dimulai…………

*****

“Maaf, ya kalau dagingnya tidak hangat lagi. Kalian tahu sendiri kan, perjalanan dari Wangshibli ke Seoul memakan waktu 4 jam? Hehehehehe…” Halmoeni menaruh potongan daging -yang dibekalkan dari Wangshibli- ke mangkuk Jisun dan Chanyeol sambil tersenyum lebar.

“Tak apa, Halmoeni…” tanggap Chanyeol. Jisun menatap sendu pada Chanyeol yang duduk disebelahnya, mengapa namja ini terlihat santai-santai saja? Padahal Jisun sendiri merasa awkward karena duduk bersebelahan dengannya.

Tapi yang paling Jisun khawatirkan adalah bagaimana jika Halmoeni dan Haraboeji mengetahui bahwa mereka sedang bertengkar?

“Makanlah yang banyak Chanyeol-ah!! Agar kau bisa kuat dan perkasa ditempat tidur.”

Chanyeol tersenyum tipis setelah mendengar kata-kata itu dari Haraboeji. Bagaimana bisa mereka melakukan ‘itu’, jika saat ini mereka sedang tidak ‘Harmonis’?

Jisun yang tak mengerti hanya diam saja.

“Iya. Kapan kalian akan memberikan kami cicit?”

Chanyeol spontan menjatuhkan sumpitnya, Jisun terbatuk-batuk dan menggapai segelas air didekatnya. Mengapa pembicaraan mereka bisa sejauh ini?

“Kau satu-satunya harapan kami, Jisunie. Kau satu-satunya cucu kami!” pelas Halmoeni dengan wajah sedih yang berlebihan. Jisun dan Chanyeol mendadak Speechless. Entah di dunia nyata maupun di dunia drama, peran si nenek pasti menuntut cicit dari cucunya yang baru menikah. Ironis.

“Kami masih berusaha,” kata Chanyeol pelan.

“Iya. Kami masih berusaha.” Jisun menundukkan kepalanya. Jisun tak tahu lagi harus menjawab apa, selain berbohong seperti yang Chanyeol lakukan.

Setelah jamuan makan siang selesai, Jisun merapihkan piring kotor bekas makan siang mereka, sedangkan Chanyeol pergi sebentar ke kamar kecil.

“Kau tidak keberatan kan jika kami menginap disini untuk semalam, Jisunie?”

Jisun tertegun, spontan menghentikan aktifitasnya yang tengah menumpuk piring menjadi satu.

“Nde, Tentu saja!” Detik berikutnya Jisun tersenyum renyah, berusaha sebisa mungkin menutupi rasa gugupnya.

Oh Tuhan, apa yang harus dilakukannya?

*****

SunYeol’s Apartment. 20:00 KST.

 

Mentari sudah menuntut rembulan untuk menggantikan tugasnya. Tak terasa musim dingin akan segera tiba, semua orang menyiapkan pakaian terhangat mereka dan enggan untuk keluar di cuaca yang seperti ini.

Hmm… Musim demi musim telah berlalu… Terhitung sudah hampir tiga bulan Jisun menjalani status sebagai istri dari pria pujaannya, Park Chanyeol.

Jisun melemparkan senyum hangatnya pada Halmoeni dan Haraboejinya yang sedang tertawa menonton Happy Together diruang keluarga.

“Ingin aku buatkan teh hangat?” tanyanya lembut. Halmoeni dan Haraboeji menoleh ke cucu tersayangnya dan mengangguk pelan.

*

Chanyeol haus, ia pun meraih gagang kulkas yang berada didapur. Mengambil air mineral disana dan meneguknya hingga tandas. Chanyeol menatap nanar pada istrinya yang sedang membelakanginya, bergelut dengan perlatan dapur disana.

Tanpa harus membalikan badannya, Jisun tahu bahwa Chanyeol sedang berdiri dibelakangnya.

“Halmoeni dan Haraboeji akan menginap disini.” Tukas Jisun dengan hati-hati.

“Aku sama sekali tidak keberatan.” Tanggap Chanyeol

Jisun-ku yang aneh. Mana mungkin aku mengusir mereka pulang, eoh? Chanyeol membatin.

Jisun menggigit bibir bawahnya dengan resah. “Tapi…”

“Apa?”

“Terpaksa kita harus tidur satu kamar ‘kan?”

Ya, seharian ini Jisun tak tenang karena memikirkan ini. Bukannya Jisun merasa keberatan, ia akui Jisun juga rindu pada Chanyeol. Tapi… Bagaimana bisa mereka tidur satu kamar dengan tentram, sedangkan mereka masih saling diam seperti ini? Jisun jadi merasa canggung, sangat!

Chanyeol menghela nafas panjang.

“Jika Halmoeni dan Haraboeji sudah terlelap, aku akan tidur di sofa ruang tengah.” Balas Chanyeol akhirnya. Ada sedikit rasa kecewa yang berkabung di hatinya. Apa maksudnya ‘Terpaksa’ harus tidur satu kamar? Apa yang salah disana? Mengapa Jisun merasa terpaksa? Bukankah tidur disatu ranjang yang sama merupakan kewajiban sepasang suami-istri? Aish… Memikirkan hal kecil ini membuat hatinya jadi gundah.

Jisun mengangguk dan menaruh teko dan beberapa gelas diatas nampan. Sialnya, beratnya isi teko yang sedang ditampahnya diatas nampan tidak seimbang dengan lengannya kini. Dan…

PRAAANGGG…

Chanyeol dengan sigap menarik lengan Jisun untuk menjauh dari teko dan gelas yang berjatuhan dilantai.

Baek Jisun… Kau ceroboh sekali.

“Gwaenchanha?” tanya Chanyeol padanya. Jisun membalas tatapan Chanyeol dan menggeleng pelan. Ia mendelik pada jari kelingking Chanyeol yang memerah. Kelingkingnya terkena siraman teh panas saat Chanyeol menarik lengannya.

‘Bodoh. Jelas-jelas, dia sendiri yang terluka’  Jisun membatin.

“Kelingkingmu……” gumam Jisun.

Chanyeol menggepalkan tangannya dengan tujuan menyembunyikan luka itu dari Jisun. Ah ayolah ini bukan luka yang harus dibesar-besarkan. Ini belum seberapa dengan rasa sakit yang sudah Jisun berikan tempo hari padanya.

Halmoeni berlari kecil ke dapur diikuti dengan Haraboeji dibelakangnya

“AIGOO… ada apa ini?” pekik Halmoeni membelalakan matanya melihat dapur yang sedikit berantakan.

“Jisun-ah, Chanyeol-ah. Kalian tidak apa-apa?” tanya Haraboeji.

“Gwaenchanseubnida.” Chanyeol menunduk dalam dan pamit pergi ke kamarnya.

*****

~23:00 KST~

Jisun menyalakan penghangat di kamar tamu dan menghampiri tempat tidur dimana Halmoeni dan Haraboeji-nya tengah terbaring.

“Jisun-ah. Kalian berdua, berbahagialah. Sayangilah anak dan cucu kalian kelak. Itu permintaan dari Halmoeni mu yang rendah ini.” kata Halmoeni dengan lembut.

Jisun tersenyum hangat, ia menaikkan selimut sampai ke bawah dagu mereka. Ternyata hanya Haraboeji yang sudah terlelap.

“Tentu saja, halmoeni. Selamat tidur.”

Jisun mematikan lampu kamar dan melangkah pergi.

‘Berbahagia bersama dengan Chanyeol?’ Ia sudah memikirkan hal ini untuk yang keseratus kalinya. Dan Jisun berjanji pada dirinya jika ia tidak akan pernah mengecewakan Chanyeol seperti waktu itu lagi.

*****

@ Sun-Yeol’s BedRoom~ 23:00 KST

Jisun duduk disudut tempat tidur yang berukuran King Size itu sambil matanya menerawang ke sekelilingnya. Padahal baru satu minggu ia tidak tidur disini, tapi rasanya terasa asing. Jisun seperti masuk ke kamar orang lain. Entahlah… baginya hawa ruangan ini sudah terasa berbeda.

Ia menatap sebuah foto besar yang terpajang ditembok. Foto pernikahannya dengan Chanyeol, di foto itu dirinya hanya memasang wajah datar dan begitupun juga Chanyeol. Ia tersenyum kecil mengingat kenangan itu, bagaimana jadinya jika pernikahannya dilangsungkan sebelum Amnesia sialan itu terjadi? Pasti Jisun akan tersenyum selebar-lebarnya sampai rahangnya pegal hanya untuk foto pernikahan mereka. Tidak seperti ini, datar.

“Ada yang ingin ku bicarakan.” Seru Chanyeol tiba-tiba saat keluar dari kamar mandi.

Jisun berdecak. Padahal itu adalah perkataan yang ingin Jisun ungkapkan. Namun sayang, Chanyeol sudah lebih dulu mengucapkannya.

“Aku juga.” kata Jisun singkat. “…Kau duluan.” Desis Jisun padanya.

Chanyeol menatap Jisun sebentar lalu ia berjalan kearah nakas yang tepat berada disebelah Jisun terduduk. Chanyeol membukannya, mengambil Map hijau disana dan menutupnya lagi.

“Surat cerai.”

DEG!

Chanyeol menghempaskan Map Hijau itu dipermukaan tempat tidur.

Jisun terdiam tak berkutik. Ia kira Chanyeol sedang mencekiknya sekarang, tapi ternyata tidak! Realita lah yang tengah mencekiknya sampai tenggorokannya tercekat, bahkan saliva yang ditelannya itu terasa pahit sekali.

Ini…sungguhan?

“Kita akhiri saja~ Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Lagipula aku tidak enak pada Dokter Baek dan Suster Oh. Dan juga pada Halmoeni dan Haraboeji-mu.”

“……” Jisun masih terdiam.

“…Mereka terlalu menaruh harapan pada kita. Jika kita seperti terus, yang ada malah mengecewakan mereka semua nantinya.” Lanjut Chanyeol lagi.

Jisun merutuki air mata yang tanpa seizinnya jatuh begitu saja. Benarkah hal itu yang menjadi alasannya? Rasanya tidak. Tuhan bisa mendengar hati Chanyeol yang sedang berteriak-teriak sekarang ini. Tapi apa gunanya pernikahan, jika mereka tidak bisa membahagiakan satu sama lain?

“Dan kelihatannya kau bernafsu sekali mencium Myungsoo kemarin. Kalian cocok,” Ujar Chanyeol dengan sinis. Tau kah engkau bahwa Jisun sama sekali tidak menikmatinya?

Perkataan itu bagaikan garam yang bertaburan diatas lukanya sendiri. Bukannya membuat Chanyeol puas, tapi malah membuat lukanya semakin membusuk.

Jisun mengerti, Chanyeol ternyata masih sangat marah padanya. Walau Jisun sangat menyesalinya, ia tak bisa berbuat apa-apa untuk membangun kepercayaan Chanyeol kembali.

Bagaimana ini? Dari dulu sampai sekarang, Jisun tak bisa menghirup oksigen dengan benar tanpa adanya namja itu. Tidak bisa!

Air mata yang Jisun tahan ini malah memberikan efek buruk dihatinya. Hatinya terasa sesak dan membuatnya sulit bernafas. Ia takut jika perceraian itu akan benar benar terjadi.

Chanyeol berdecih “Ah, ya. Aku lupa! Aku tak berhak berbicara begini pada calon ‘mantan istriku’. Aku baru tahu kau semurah ini, Jisun-ah.”

Akhrinya setelah sekian lama, ia menerima lagi perkataan pedas dari mulut namja itu. Tapi kali ini berbeda! Biasanya Jisun akan menganggap perkataan menyakitkan namja itu sebagai angin lalu, tapi kali ini tidak! Perkataan itu menyayat habis kekebalannya.

Apa dia bilang? Murah? Apa baginya Jisun semurah ini?

Jisun memejamkan matanya sebentar untuk mengkontrol perasaannya. Jisun menghela nafas panjang untuk menghempas semua racun yang kini tengah menggerayangi hatinya.

“Aku juga tak seharusnya tidur dengan calon ‘mantan suamiku’!!” desis Jisun dengan tajam. Ia menggulung Bed Cover dengan asal lalu membawanya.

Jisun berencana untuk tidur di sofa ruang tengah, namun ia baru ingat bahwa Halmoeni sudah mengunci mereka dari luar! ARKGHHHHH… Baiklah tak ada pilihan lain!

Jisun menghentakkan kakinya menuju pintu balkon lalu membukanya. Detik itu juga angin malam yang dinginnya sampai menusuk ke tulang itu menyambutnya dengan segera. Jisun tak peduli! Ia mengamparkan bed cover itu sebagai alas tempat tidurnya di lantai balkon.

Terserah lah jika mobil dan motor yang berlalu lalang dibawah sana melihat ada gadis aneh yang tertidur di balkon seperti ini.

Gretakan gigi Jisun semakin terlihat jelas setelah beberapa menit ia terbaring, ini baru pertama kalinya ia merasa takut bahwa angin bisa saja membunuhnya! Ah sial~ Tidak ia kira bahwa angin musim dingin bakal seperti ini. Persetanlah dengan ini semua! Jisun lebih mementingkan ego-nya, ia tak peduli jika ia harus tidur di hamparan balkon semalaman.

Chanyeol menghampirinya sambil melemparkan bantal dan guling ke arahnya.

BRAAAAK…

Lalu menutup pintu balkon dengan kasar, membiarkan Jisun yang terbaring kedinginan disana.

Jisun menangis dalam diam, padahal jauh dilubuk hatinya ia berharap Chanyeol akan menggendongnya ke dalam! Ah, Tidak! Paling tidak Chanyeol menarik Jisun kembali kedalam kamar yang hangat itu, bukan membiarkannya tertidur layaknya gelandangan seperti ini.

Prediksinya benar, kembalinya Jisun yang dulu membuat Chanyeol berbuat semena-mena lagi padanya. Lalu apa perkataan Kai, Yeonhwa, Hyesun dan Kyungsoo semuanya bohong? Tidak mungkin, mereka tidak akan bercanda sejauh ini padanya. Jisun berada disini atas karena dorongan mereka semua, namun apa yang ia dapat sekarang? Map hijau sialan itu?

“Nappeun namja.” Desisnya.

Jisun menangis lagi. Ia mengingat perjuangannya mendapatkan Chanyeol hingga sejauh ini, waktu cepat berlalu seperti mimpi, tidak terasa. Rasa sakit yang Jisun terima juga tak terhitung lagi banyaknya. Apa semua itu akan berakhir sia-sia?

Mengapa cekikan realita itu masih terasa? Hatinya terasa teremas dan penderitaan itu semakin menjeratnya. Namun yang ia tahu, itu semua hanya Chanyeol yang bisa menyembuhkannya

Jisun memejamkan mata sambil menahan dinginnya malam yang bahkan membuat bulu-bulunya berdiri. Ia sudah tak tahu lagi harus berbuat apa, dan rasanya ia juga harus mengakhiri ini semua.

……Haruskah?

*****

Keesokan harinya. 7:00 KST~

Jisun menyikat giginya sambil menatap pantulan dirinya pada cermin. Ah sial matanya terlihat sangat bengkak! Tidak heran jika wajahnya akan jadi seperti ini, karena ia menangis sampai tertidur semalam.

Tapi yang sedang ia herankan adalah… Ada apa dengannya? Dengan jelas tadi malam ia tertidur di balkon. Namun saat ia membuka matanya kembali, ia mendapati dirinya tengah terbaring ditempat tidur yang hangat itu! Apa mungkin Jisun berjalan saat tidur? Setahunya dia tidak pernah berbuat hal seaneh itu seumur hidup.

Ia menyeret tubuhnya yang lemas menuju dapur. Jisun mendapati Chanyeol yang sudah berpakaian rapih sedang membelakanginya, Chanyeol sedang membuat secangkir kopi.

“Aku baru saja mengantarkan Halmoeni dan Haraboeji ke stasiun.” Kata Chanyeol dingin. Jisun sedikit terhentak, ternyata Chanyeol menyadari keberadaannya.

Entah keberanian dari mana… Jisun berjalan mendekat dan memeluk Chanyeol dari belakang, ia bisa mengukur bagaimana kurusnya Chanyeol sekarang, dan bagaimana hangatnya punggung namja itu. Jisun… Sangat… Merindukannya.

“Gomawoyo.” gumamnya

Jisun merasa tersentuh atas kepedulian Chanyeol terhadap semua keluarganya.

Chanyeol masih terenyuh disana, merasakan kehangatan yang Jisun salurkan. Jantungnya berdetak hebat dan darahnya berdesir disana. Sangat menyenangkan.

“…Dan atas semua kesalahanku, aku minta maaf. Jeongmal mianhaeyo.”

‘…Aku minta maaf karena mencium Myungsoo dan banyak berbuat hal-hal bodoh. Aku minta maaf karena mengusirmu dan melemparmu dengan jeruk tempo hari’ Jisun membatin.

Chanyeol yang mendengar penuturan Jisun hanya bisa terdiam. Chanyeol bisa memahami semua perkataan Jisun tanpa harus diperjelas. Intinya, Jisun meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat ‘kan?

“Rrr… Semalam sepertinya aku Sleep-walking (berjalan saat tidur). Soal itu aku juga minta maaf.” Desis Jisun. Tapi kali ini suaranya jauh lebih halus.

‘Aku yang menggendongmu ke dalam, bodoh!’’ Chanyeol membatin. Chanyeol membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.

Chanyeol menatap Jisun lekat.
Jisun berjinjit sebelum bibirnya menyentuh permukaan bibir Chanyeol. Mata Chanyeol membulat sempurna, lalu detik berikutnya ia ikut memejamkan matanya sebelum menarik pinggang Jisun untuk semakin mendekat padanya. Mereka menikmati Morning Kiss mereka yang pertama. Jisun merasakan sensasi yang sangat berbeda kali ini, Chanyeol menciumnya dengan dalam tapi penuh dengan sensasi kehangatan. Mereka saling menyalurkan hasrat rindu yang selama ini terpendam.

Akhirnya Jisun yang sebenarnya dapat mencium Chanyeol seperti ini. Dalam hati, Jisun berharap bahwa ini bukan yang terakhir untuknya. Ciumannya, sentuhannya… Segalanya…

Jisun melepaskan tautan bibir mereka secara sepihak, bahkan sapuan saliva Chanyeol di bibir Jisun masih jelas terlihat. Kening mereka masih bersentuhan dan haluan nafas hangat Chanyeol masih bisa dijangkaunya. Jisun menggepalkan lengannya agar air mata itu tidak kembali terjatuh.

“Aku sudah memikirkan semuanya.” Desis Jisun yang terdengar sangat menggoda untuk Chanyeol.

“Ayo kita bercerai.” Lanjutnya.

Chanyeol tertegun dan menautkan kedua alisnya. “……Jisun-ah~”

*To Be Continued*

READ THIS PLEASE!

Anyeong Readersdeul, bagaimana komentar kalian di chapter ini? Ah aku mohon maaf kalau ngirimnya agak telat, aku banyak tugas sekolah dan ujian akhir semester bakal semakin deket TT—TT Ah iya, Chapter 10 bakalan jadi chapter terakhir dari Fanfic ini. Btw, boleh dong minta saran kalian sedikit tentang apa yang bakal aku tulis di chapter 10 nanti. Kalian bisa bantu aku kan? Kita saling ngebantu aja ya^^ Leave Your comment + suggestion guys 😀 See you later.

Iklan

140 pemikiran pada “Loving You Like Crazy (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s