Fallen (Chapter 10A)

Tittle    : FALLEN – CHAPTER 10 PART A: DI MANA ADA ASAP
Author : @FYEAHZELO_
Main Cast :  -Lucinda Price : Park Gi Eun (OC)

-Daniel Grigori : Xi Luhan (EXO-M)

-Cameron Briel : Wu Yi Fan a.k.a Kris (EXO-M)

-Arriane Alter : Amber Josephine Liu (F(X))

-Pennyweather Van Syckle-Lockwood : Lee Sun Kyu a.k.a Sunny (SNSD)

-Roland Sparks : Roland Sparks (OC)

-Gabrielle Givens : Lee Hyori (OC)

 

Support Cast :        -Sophia Bliss : Kim Hyun Jin—Miss Kim (OC)

-Mary Margaret ‘Molly’ Zane : Choi Jin Hee (OC)

-Randy : Kim Joon-myun a.k.a SuHo (EXO-K)

-Callie : Jung Ji Hyun (OC)

-Todd Hammond : Park Chanyeol (EXO-K)

-Trevor : Trevor (OC)

 

 

Genre  : Western-Life, Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy

 

 

Credit : FALLEN karya Lauren Kate

 

 

Warning : Typo merajalela (?), OOC

CHAPTER 10 PART A:

DI MANA ADA ASAP

“Apa lagi yang kau tunggu?” Sunny bertanya sesaat setelah Luhan pergi bersama Roland. “Ayo.” Ia menarik tangan Gi Eun.

 

“Ke mana?” tanya Gi Eun. Jantungnya masih berdebar karena mengobrol dengan Luhan—dan karena memandangi cowok itu melangkah pergi. Bayangan bahunya yang kekar itu kelihatan lebih besar daripada Luhan sendiri.

 

Sunny mengetuk lembut sisi kepala Gi Eun. “Halo? Ke perpustakaan, seperti yang kukatakan pada pesanku…” Sunny memperhatikan ekspresi kosong Gi Eun. “Kau tidak menerima satu pun pesanku?” Sunny menghentakkan kakinya, kesal. “Tapi aku memberikannya pada Chanyeol untuk diteruskan pada Kris untuk diserahkan padamu.”

 

“Titipan Kilat.” Kris menyelusup ke depan Sunny dan member Gi Eun dua kertas lipat yang dipegangnya dengan telunjuk dan jari tengah.

 

“Yang benar saja. Kurirmu mati kelelahan, ya?” Sunny mendengus marah, menyambar pesan-pesan itu. “Aku memberimu pesan-pesan itu satu jam yang lalu. Kenapa lama sekali? Kau tidak membacanya—“

 

“Tentu saja tidak.” Kris menekankan tangan di dadanya yang bidang, tersinggung. Ia mengenakan cincin tebal berwarna hitam di jari tangah. “Kau ingat, Gi Eun mendapatkan masalah karena saling mengirim pesan dengan Jin Hee—“

 

“Aku tidak mengirim pesan dengan Jin Hee—“

 

“Bagaimanapun,” kata Kris, menarik pesan-pesan itu lagi dari tangan Sunny dan menyerahkannya, akhirnya, pada Gi Eun, “aku hanya melindungimu. Menunggu saat yang tepat.”

 

“Yah, terima kasih.” Gi Eun memasukkan pesan-pesan itu ke saku dan mengangkat bahu dengan gaya pasrah pada Sunny.

 

“Omong-omong soal menunggu saat yang tepat,” Kris berkata, “kemarin aku pergi ke luar dan menemukan ini.” Ia mengeluarkan kotak perhiasan berludru kecil berwarna merah dan membuka tutupnya agar Gi Eun bisa melihat isinya.

 

Sunny mengintip dari balik bahu Gi Eun supaya bisa melihat juga.

 

Di dalamnya, ada seuntai kalung emas tipis yang mengikat liontin kecil berbentuk bundar dengan garis di bagian tengah dan kepala ular kecil di ujungnya.

 

Gi Eun mendongak kearah Kris. Apakah cowok itu mengejeknya?

 

Kris menyentuh liontin. “Kupikir, setelah kejadian hari itu… aku mau membantumu mengatasi rasa takut,” ia berkata, nyaris terdengar gugup, takut Gi Eun tidak menerimanya. Haruskah ia menerimanya? “Aku hanya bercanda. Aku cuma menyukainya. Kalung ini unik. Mengingatkanku padamu.”

 

Kalung itu memang unik. Dan sangat indah, dan anehnya membuat Gi Eun merasa tidak pantas.

 

“Kau berbelanja?” akhirnya Gi Eun bisa berbicara, karena rasanya lebih mudah membahas bagaimana Kris bisa keluar dari lingkungan sekolah daripada bertanya Kenapa aku? “Aku pikir tujuan sekolah anak nakal adalah supaya kita terjebak di dalam sini.”

 

Kris mengangkat dagu sedikit dan kedua matanya tersenyum. “Ada banyak cara kok,” ia berkata pelan. “Suatu saat akan kutunjukan. Aku bisa menunjukkannya—malam ini?”

 

“Kris, sayang,” terdengar suara di belakang mereka. Ternyata Hyori, menepuk bahu Kris. Sebagian kecil bagian depan rambut Hyori dikepang dan dijepit di balik telinga, seperti bandana mungil yang sempurna. Gi Eun menatap rambutnya dengan iri.

 

“Aku butuh bantuanmu untuk penataan,” Hyori berkata manja.

 

Gi Eun melihat ke sekelilingnya dan menyadari hanya tinggal mereka berempat yang ada di dalam kelas.

 

“Akan ada pesta di kamarku nanti,” kata Hyori, menekan dagu ke bahu Kris saat berbicara pada Gi Eun dan Sunny. “Kalian semua akan datang kan?”

 

Hyori, yang bibirnya selalu terlihat lengket dengan  lip gloss, dan rambut pirangnya selalu dikibaskan begitu ada cowok mulai bicara dengan Gi Eun. Walaupun Luhan berkata tidak ada apa-apa di antara dirinya dan Hyori, Gi Eun tahu ia takkan pernah bisa berteman dengan gadis ini.

 

Tetapi, kau tidak perlu menyukai seseorang untuk pergi ke pesta, terutama jika orang-orang tertentu yang kau sukai mungkin ada disana…

 

Atau haruskah ia menerima ajakan Kris? Apakah cowok itu benar-benar mengajaknya pergi diam-diam? Baru kemarin ada gossip di kelas ketika Jules dan Philip, pasangan dengan lidah beranting, tidak muncul di kelas Miss Kim. Kelihatannya mereka mencoba meninggalkan sekolah pada tengah malam, pertemuan rahasia yang jadi kacau—dan kini mereka berada di semacam tempat isolasi yang lokasinya bahkan tidak diketahui Sunny sekalipun.

 

Yang paling aneh, Miss Kim—yang biasanya tidak punya toleransi bagi murid yang berbisik-bisik—tidak membungkam murid-murid yang heboh bergosip selama jam pelajarannya. Nyaris seakan para staf pengajar menginginkan murid-murid membayangkan kemungkinan hukuman yang terburuk karena melanggar salah satu dari peraturan-peraturan mereka yang menyesakkan.

 

Gi Eun menelan ludah, mendongak kearah Kris. Pemuda itu menyodorkan siku, benar-benar mengabaikan Hyori dan Sunny. “Bagaimana menurutmu?” Kris bertanya, terdengar begitu memesona seperti tokoh dalam film klasik Hollywood sehingga Gi Eun lupa mengenai apa yang terjadi pada Jules dan Philip.

 

“Maaf.” Sunny menyela, menjawab untuk Gi Eun dan dirinya sendiri lalu membawa Gi Eun pergi dengan menarik sikunya. “Tapi kami punya rencana lain.”

 

Kris menatap Sunny seakan berusaha menebak dari mana gadis itu tiba-tiba muncul. Kris selalu punya cara yang membuat Gi Eun merasa dirinya orang yang lebih asyik dan keren. Dan Gi Eun selalu menemukan jalan untuk berpapasan dengan Kris tepat setelah Luhan membuatnya merasa sebaliknya. Tapi Hyori masih menunggu di dekat Kris, dan tarikannya Sunny semakin kuat, jadi akhirnya Gi Eun hanya melambaikan tangan yang masih menggenggam hadiah dari Kris. “Ehm, mungkin lain kali! Terima kasih untuk kalungnya!”

 

Setelah meninggalkan Kris dan Hyori yang kebingungan di kelas, Sunny dan Gi Eun keluar dari Augustine. Rasanya menyeramkan berduaan saja di bangunan yang gelap saat larut malam seperti ini, dan Gi Eun bisa mengetahui dari suara sandal Sunny yang terburu-buru pada anak tangga di depannya bahwa gadis itu merasakannya juga.

 

Di luar, cuaca berangin. Burung hantu berkukuk di pohon palmetto. Ketika mereka melintasi jalan di bawah pohon-pohon ek di sisi bangunan, sulur-sulur tanaman Spanish moss yang bentuknya tidak beraturan menyentuh mereka seperti jalinan rambut kusut.

 

Mungkin lain kali?” Sunny menirukan suara Gi Eun. “Apa-apaan tadi.”

 

“Tidak ada apa-apa… entahlah.” Gi Eun ingin mengganti topic. “Kau membuat kita kedengaran seperti kalangan atas, Sunny,” ia berkata, tertawa ketika mereka berjalan dengan susah payah di lapangan. “Rencana lain… kupikir kau senang di pesta minggu lalu.”

 

“Jika kau membaca pesan-pesanku yang terakhir, kau akan tahu kenapa kita punya hal lain yang lebih penting.”

 

Gi Eun mengeluarkan isi saku, menemukan kembali lima butir kacang M&M yang belum di makan, dan membaginya dengan Sunny, yang mengatakan omongan khas Sunny, yaitu berharap kacang-kacang itu berasal dari tempat yang higienis, tapi toh tetap memakannya.

 

Gi Eun membuka surat pertama Sunny, yang terlihat seperti fotokopi salah satu lembaran arsip bawah tanah:

 

Kris Wu

Lee Hyori

Park Chanyeol

Park Gi Eun

LOKASI SEBELUMNYA:

Semua Dari Timur Laut, Kecuali Park Chanyeol (Orlando, Florida)

 

Amber Josephine Liu

Choi Jin Hee

Xi Luhan

LOKASI SEBELUMNYA:

Los Angeles, California

 

Grup Park Gi Eun dicatat tiba di Sword & Cross tanggal 15 September tahun ini. Grup yang kedua tiba di sini tanggal 15 Maret, tiga tahun sebelumnya.

 

“Siapa Choi Jin Hee?” tanya Gi Eun, menunjuk.

 

“Tak lain dan tak bukan Jin Hee yang budiman,” sahut Sunny.

 

“Kenapa ia begitu marah pada dunia ini?” tanya Gi Eun. “Dari mana kau mendapatkan semua ini?”

 

“Aku menggalinya keluar dari salah satu kotak yang dibawa turun Miss Kim hari itu,” jawab Sunny. “Itu tulisan tangan Miss Kim.”

 

Gi Eun mendongak menatap Sunny. “Apa artinya? Kenapa ia perlu mencatat hal ini? Kupikir mereka mencatat tanggal kedatangan kita di arsip kita masing-masing.”

 

“Memang. Aku juga belum bisa menemukan alasannya,” kata Sunny. “Dan maksudku, walaupun kau tiba bersamaan dengan murid-murid yang lain, rasanya kau tidak punya persamaan apa pun dengan mereka.”

 

“Aku tidak punya persamaan sedikit pun dengan mereka,” Gi Eun berkata, membayangkan ekspresi licik yang selalu tampak di wajah Hyori.

 

Sunny menggaruk dagu. “Tapi ketika Amber, Jin Hee, dan Luhan muncul, mereka sudah saling mengenal. Kurasa mereka berasal dari lingkungan yang sama di L.A.”

 

Di suatu tempat ada jawaban untuk kisah Luhan. Pasti ada yang lebih daripada sekedar rumah rehabilitasi di California. Tapi mengingat reaksi Luhan—ketakutan pemuda itu bahwa Gi Eun mungkin tertarik untuk mencari tahu tentang dirinya—yah, itu membuat Gi Eun merasa segala yang ia dan Sunny lakukan sia-sia dan kekanak-kanakan.

 

“Apa maksud semua ini?” tanya Gi Eun, tiba-tiba kesal.

 

“Aku tidak tahu kenapa Miss Kim mengumpulkan semua informasi itu. Walaupun Miss Kim tiba di Sword & Cross pada hari yang sama dengan Amber, Luhan, dan Jin Hee…” kalimat Sunny menggantung. “Siapa yang tahu? Mungkin tidak ada maksud apa-apa. Begitu sedikit yang tercatat tetang Luhan di arsip, kurasa aku akan menunjukkan semua yang kutemukan. Karena itu, lihat bukti B ini.”

 

Sunny menunjuk pesan kedua di tangan Gi Eun.

 

Gi Eun menghela napas. Sebagian dirinya ingin menghentikan pencarian dan berhenti merasa malu soal Luhan. Tapi sebagian dirinya yang penasaran masih berharap tahu lebih banyak tentang Luhan… yang, anehnya, lebih mudah dilakukan saat cowok itu tidak ada di hadapannya untuk memberinya alasan-alasan baru untuk merasa malu.

 

Gi Eun menunduk menatap pesan itu, fotokopi kartu catalog perpustakaan model kuno.

 

Xi, L. Para Pengawas: Mitos pada Abad Pertengahan Eropa. Seraphim Press, Roma, 1755.

Nomor rak: R999.318 GRI

 

“Kelihatannya salah satu nenek moyang Luhan ilmuan,” kata Sunny, membaca dari balik bahu Gi Eun.

 

“Pasti ini yang dimaksud Luhan,” Gi Eun berkata pelan. Ia menatap Sunny. “Dia bilang mempelajari agama merupakan pekerjaan keluarganya. Pasti ini yang dimaksudnya.”

 

“Kupikir ia yatim piatu—“

 

“Jangan tanya,” kata Gi Eun, memotong kalimat Sunny. “Topik yang sensitive untuknya.” Gi Eun menyapukan jari ke bagian judul buku itu. “Para Pengawas itu apa?”

 

“Hanya ada satu cara untuk mencari tahu,” sahut Sunny. “Walaupun mungkin kita akan menyesalinya seumur hidup. Karena sepertinya ini buku yang paling membosankan di dunia. Tetapi,” Sunny menambahkan, menggosokkan buku-buku jari ke kausnya, “aku nekat memeriksa catalog. Buku itu pasti ada di rak. Kau bisa berterima kasih padaku nanti.”

 

“Kau cerdas sekali.” Gi Eun nyengir. Ia ingin segera pergi ke perpustakaan. Jika ada orang dalam keluarga Luhan yang menulis buku, isinya tidak mungkin membosankan. Atau setidaknya begitulah bagi Gi Eun. Tapi lalu Gi Eun menunduk untuk menatap satu benda lagi yang masih ada di genggamannya. Kotak perhiasan beludru dari Kris.

 

“Menurutmu, apa maksud pemberian ini?” ia bertanya pada Sunny ketika mereka mulai mendaki tangga mozaik menuju perpustakaan.

 

Sunny mengangkat bahu. “Perasaanmu terhadap ular—“

 

“Kebencian, penderitaan, paranoid besar, dan jijik,” jawab Gi Eun.

 

“Mungkin seperti… oke, aku dulu takut pada kaktus. Tidak bisa dekat dengan tumbuhan itu—jangan tertawa, apa kau pernah tertusuk durinya? Duri itu menempel di kulitmu berhari-hari. Lalu, suatu waktu, untuk ulang tahunku, ayahku memberikanku sebelas tanaman kaktus. Awalnya aku ingin menjejalkan tanaman itu ke mulut ayahku. Tapi kemudian, kau tahu, aku mulai terbiasa dengan tanaman itu. Aku tidak lagi panic jika berada dekat dengan kaktus. Akhirnya, usaha ayahku benar-benar berhasil.”

 

“Jadi maksudmu,” kata Gi Eun, “hadiah Kris sebenarnya penuh perhatian.”

 

“Kurasa begitu,” sahut Sunny. “Tapi jika aku tahu dia punya rasa padamu, aku tidak akan memercayakan pesan rahasia kita padanya. Maaf ya.”

 

“Dia tidak punya rasa padaku,” Gi Eun berkata, sambil memainkan kalung emas yang berada di dalam kotak perhiasan, membayangkan akan tampak seperti apa kalung itu pada dirinya. Ia belum menceritakan apa pun pada Sunny tentang pikniknya bersama Kris karena—yah, ia sendiri tidak tahu kenapa. Tapi ada hubungannya dengan Luhan, dan bahwa Gi Eun masih belum mengetahui di mana posisinya—atau ia ingin berada dimana—sehubungan dengan salah satu dari kedua cowok itu.

 

“Ha.” Sunny terkekeh. “Artinya kau agak menyukainya! Mengkhianati Luhan. Aku tidak bisa mengikuti perkembanganmu dengan pacar-pacarmu.”

 

“Seperti ada yang terjadi saja dengan salah satu dari mereka,” ujar Gi Eun muram. “Menurutmu, apa Kris membaca pesan-pesan itu?”

 

“Jika ia membacanya, dan tetap memberikan kalung itu padamu,” Sunny berkata, “berarti ia benar-benar menyukaimu.”

 

Mereka melangkah ke dalam perpustakaan, dan pintu ganda yang berat berdebum di belakang mereka. Suaranya bergema ke sepanjang ruangan. Miss Kim mendongak dari tumpukan tinggi kertas yang menutupi mejanya yang diterangi lampu baca.

 

“Oh, halo, anak-anak,” ia menyapa, tersenyum begitu lebar sehingga Gi Eun merasa bersalah lagi karena melamun selama jam pelajarannya. “Kuharap kalian menyukai sesi pelajaranku tambahanku yang singkat!” ia nyaris menyenandungkan kata-katanya.

 

“Suka sekali.” Gi Eun mengangguk, walaupun sama sekali tidak ada yang singkat menyangkut pelajaran tadi. “Kami ke sini untuk mempelajari beberapa hal lagi sebelum ujian.”

 

“Betul sekali,” Sunny menimpali. “Anda menginspirasi kami.”

 

“Bagus sekali!” Miss Kim mengaduk-aduk kertas. “Aku punya daftar bacaan lebih lanjut entah dimana. Aku akan senang sekali membuatkan fotokopinya untuk kalian.”

 

“Bagus,” Sunny berbohong, mendorong Gi Eun pelan kearah rak-rak buku. “Kami akan memberitahu Anda jika kami membutuhkannya!”

 

Setelah meja Miss Kim, perpustakaan itu sunyi. Gi Eun dan Sunny mengamati nomor-nomor saat melewati rak demi rak menuju buku-buku tentang agama. Lampu-lampu hemat energy memiliki detector gerak dan seharusnya menyala begitu mereka melewati tiap lorong, tapi hanya setengannya yang berfungsi. Gi Eun sadar Sunny masih menggenggam tangannya, lalu menyadari bahwa ia tidak mau cewek itu melepaskannya.

 

Kedua gadis itu tiba di tempat belajar yang biasanya ramai, hanya satu lampu meja yang menyala disana. Semua murid lain pasti menghadiri pesta Hyori. Semuanya kecuali Chanyeol. Kedua kaki cowok itu diangkat ke kursi di seberangnya dan ia sepertinya membaca peta dunia yang selebar meja. Ketika kedua gadis berjalan melewatinya, ia mendongak dengan mimic lesu yang bisa berarti benar-benar kesepian atau hanya kesal karena terganggu.

 

“Kalian sore sekali ke sini,” ia berkata datar.

 

“Kau juga,” Sunny menjawab ketus, menjulurkan lidah dengan gaya berlebihan.

 

Ketika sudah ada beberapa rak di antara mereka dan Chanyeol, Gi Eun mengangkat alis kearah Sunny. “Apa-apaan tadi?”

 

“Apa?” sahut Sunny cemberut. “Dia menggodaku.” Ia melipat kedua tangan di depan dada dan meniup sehelai rambut dari matanya. “Seolah aku mau saja.”

 

“Memangnya kau anak kelas empat SD?” goda Gi Eun.

 

Sunny menusukkan telunjuknya begitu kuat ke tubuh Gi Eun sehingga bisa membuatnya terlonjak seandainya ia tidak sedang cekikikan hebat. “Apa kau kenal orang lain yang mau menyelidiki sejarah keluarga Xi Luhan? Rasanya tidak. Jangan ganggu aku.”

 

Saat itu, mereka telah mencapai pojok perpustakaan terjauh, tempat 999 buku disusun dalam rak berwarna timah. Sunny berjongkok dan menyusuri punggung-punggung buku dengan jari. Gi Eun bergidik, seakan ada yang menyapukan jari di sepanjang tengkuknya. Ia menoleh ke belakang dan melihat gumpalan kabut kelabu. Bukan hitam, seperti bayangan yang biasa muncul, tapi lebih ringan, lebih tipis. Sama-sama tak dikehendakinya.

 

 

To Be Continue

 

 

Buat yang udah baca chapter ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

9 pemikiran pada “Fallen (Chapter 10A)

  1. jujur ya aq nggax ngerti dech mksdnya .koq alurnya ngebingungin yaa truz inti cerita nggax jelas terlalu berbelit belit ini ff kan tlong dbkn agak rngkas ya spya mdah mmhmi kyknya novel aslinya kren .

  2. Aku jadi kayak gieun -__- mencari-cari tahu tentang Luhan(?)
    Lanjuutt ya, ngomong” novelnya udah dijual lagi di toko buku, tapi gaboleh beli -__-
    keep writing yaa

  3. Omg kak.. Maaf aku baru komen, aku baru baca ini krna baru tau udah ada chap 10 nya (/-\)

    yehet.. Kali ini panjang 😀
    baca komenan di atas kayanya memang bener.. Tp ya namanya juga novel terjemahan, jd dimalumi..
    Awalnya emang susah di pahami bahasanya, tp aku ngerti kok ceritanya.. Alurnya juga paham, kalo dicermati gak ada yg berbelit… Cuma ini ceritanya rumit dan itu tg bikin selalu penasaran..
    Sipp makasih kak udah mau luangin wwaktu nulis ini novel lagi 😀

Tinggalkan Balasan ke LuMisaki Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s