JOAH-Beautiful voice (Chapter 2)

Title                       : JOAH –Beautiful Voice “Chapter Two”

Author                  : Miss Fox

Main Casts          : Park Chanyeol (EXO-K)| Choi Jieun (OC)

Support Casts    : Find by your self ^^

Genre                   : Romance

Length                  : Chapter

Rating                   : Teen

Author Note      : Maaf gag bisa balas komen-komennya. Ini  Chap 2nya. Aku gag tau kalo dipublishnya cepet. Jadi baru sempet kirim lagi. Hehe ^^

JOAH- Beautiful Voice

Warning              :

Typo yang mungkin akan menggangu. Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD. Beberapa kesoktahuan tentang SM Familly khususnya EXO. Dan, bahasa asing yang mungkin tidak sesuai penulisannya.

Recommended to read JOAH the series.

-Chapter Two-

Aku tidak tahu reaksi apa yang seharusnya aku tunjukan  sekarang. Apakah aku harus terkejut karena ternyata Jongin mengenal Jieun? Apakah aku harus kesal  karena ternyata Jongin berbohong tentang membantu Taemin? Atau Apakah aku harus pura-pura tidak tahu dan melupakan apa yang aku lihat sekarang? Aku tidak bisa memilih. Aku kebingungan.

“Kenapa memandangku seperti itu?” tanya Jongin ragu.

Jieun tersenyum, “Tidak ada… lama tidak bertemu.” Mata Jieun memperhatikan Jongin dengan seksama. “Kai  the sexy  dancing machine. Wow… aku beruntung bisa melihatnya dalam wujud yang nyata.”

Aku tidak yakin Jongin tersipu malu atau  tidak karena hanya punggungnya yang terlihat dari tempat persembunyian ini. Yang pasti terlihat adalah dia bergerak canggung dan sesekali menggaruk tengkuknya. Dia salah tingkah. Tidak seperti Jongin yang biasanya.

“Itu hanya peran yang harus aku jalani,” jelasnya.

“Peran?” Jieun mengangguk seperti mengerti sesuatu. “Aku tahu. Aku tahu bagaimana seorang Kim Jongin.”

“Emm… selalu  sok tahu,” Jongin tertawa kecil. “Sudahlah, kita akan mengobrol lebih  banyak lagi dalam perjalanan pulangmu.”

Jieun menautkan alisnya. “Bagaimana? Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat. Tidak perlu mengantarku.”

Anii… aku akan tetap mengantarmu,” Jongin terdengar serius.

“Baiklah…,” Jieun mengalah dengan mudah. “Jangan menatapku seperti itu, membuatku takut.”

“Maaf, kajja!”

Jongin tidak perlu meminta izin untuk menggenggam pergelangan tangan Jieun. Jieun pun tidak menolak. Dia hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Dia terlihat menikmatinya, maksudnya tidak ada kecanggungan atau apalah istilahnya. Aku tidak berani menebak ada hubungan apa dia dengan Jieun. Tidak. Selain Jieun ada satu gadis lagi yang sepertinya memiliki hubungan rumit dengannya. Jongin sungguh populer.

Lagi-lagi aku diberi pilihan.  Apakah aku harus senang karena mereka memilih keluar melalui pintu belakang perusahaan dan tidak menemukanku yang tengah menguping? Atau apakah aku harus kesal karena tidak bisa mengetahui lebih jauh lagi hubungan mereka melalui percakapan mereka?   Kepalaku hampir pecah memikirkan itu semua.

Mataku masih jeli memperhatikan bayangan mereka yang semakin mengecil di ujung lorong sana. Beruntung sekali mereka bisa bercanda dengan lepas tanpa akan ada yang memelototi. Lantai lima sangat sepi sekarang karena para karyawan dan trainee telah pulang. Kenapa aku harus iri?

Sial. Aku lupa tujuanku sebenarnya sebelum terdampar di sini. Youngjun Hyeong akan membunuhku. Ternyata tidak perlu menunggu lama untuk menunggu hukuman matiku. Tepat saat aku akan melangkahkan kaki menuju ruangannya, ponselku berdering. Nama dan nomor telepon Junmyeon Hyeong tertera  jelas di layar ponselku.

“Oh…Ne,Hyeong. Aku dalam perjalanan kembali,” bohongku.

-Chapter Two-

Langit malam nan gelap hampir kembali terang. Detak  jam dinding terdengar begitu kencang seolah begitu dekat dengan gendang telingaku. Posisi tubuhku tidak pernah tetap selama lebih dari  sepuluh detik. Terkadang aku akan turun dari tempat tidur dan berjalan-jalan di sekitar kamar. Aku tidak  bisa tidur. Ini  semua bukanlah kebiasaanku. Apa yang terjadi padaku?

Waktu menunjukan pukul  empat pagi saat aku memutuskan menuju dapur untuk mendapatkan seteguk air. Aku melangkah perlahan saat akan kembali ke kamarku –kamar kami berempat. Hampir saja aku berteriak, suara kunci pintu dorm yang terbuka membuat jantungku hampir melompat dari tempatnya.

Aku memutar tubuhku perlahan sembari menahan napas. Lampu di depan pintu menyala sehingga menunjukan dengan jelas makhluk yang berdiri di sana. Kim Jongin, dia baru saja pulang. Tubuhnya terlihat begitu letih namun wajahnya tidak menggambarkan keletihan itu dalam ekspresi yang benar. Wajah itu terlihat begitu bersemangat.

Hyeong? Mengapa belum tidur?” dia berjalan ke arahku  dengan sempoyongan.

“Aku tidak bisa tidur,” jawabku enggan, tentu saja tidak aku tunjukan dengan jelas di hadapannya.

“Oh… tidurlah Hyeong. Besok kita masih harus  bekerja.”

Aku tidak berniat menuruti perkataannya dengan segera. Aku bahkan tidak memperhatikan celotehannya sekarang. Bibirnya terlihat bergerak menutup dan membuka tanpa henti.  Tetapi telinga ini tidak menangkap suara apapun. Otakku terlalu terfokus pada  satu hal. Haruskah aku bertanya tentang kebohongannya itu atau tidak?

Hyeong…,” Jongin mencolekku. “Mengantuk? Tsk… Hyeong sedikit pun tidak memperhatikan ceritaku.”

Aku tidak mengerti maksudnya. Apakah dia menceritakan sesuatu tadi dengan tujuan agar aku mendengarkan? Bodohnya, aku secara tidak sadar merespon semua ucapannya dengan senyum idiot dan mengangguk kencang layaknya anak kecil. Tidak lucu jika dia ternyata menceritakan sesuatu yang  tidak pantas mendapat anggukan dan tawaku. Dasar bodoh.

“Jongin-ah… apa yang kamu lakukan dengan Taemin hingga malam begini?”

Akhirnya aku bertanya juga. Mataku sudah  siap untuk menangkap ekspresi ‘tertangkap basah’-nya. Apakah dia telah mempersiapkan sebuah jawaban? Aku akan mencari  celah untuk membongkar kebohongannya. Bukannya karena aku membenci Jongin  sehingga harus membuatnya terpaksa mengaku atas kebohongannya, tetapi aku hanya  ingin  dia tidak membiasakan diri melakukan kebohongan seperti itu. Kami bekerja dalam tim, dan dalam sebuah tim harus ada kejujuran dan kepercayaan satu sama lain. Aku mengutip beberapa dari kata-kata Sooman Sosaengnim dan Leetuk Hyeong.

Morago?” Jongin menegak  air yang baru saja diambil dari lemari pendingin.

“Apa yang Taemin butuhkan darimu hingga baru pulang sekarang? Apa dia tidak sadar bahwa kamu capek dan butuh istirahat?”

Jongin tersenyum nakal, “Aku tidak melakukan apa-apa dengan Taemin. Semua itu hanya akal-akalanku agar diberi izin pulang terlambat.” Suaranya semakin mendekati ke arah berbisik. “Aku harus bertemu teman lamaku.”

Wajahku pasti terlihat begitu lucu sekarang. Jongin saja sempat cekikikan karena ekspresi berlebihanku atas pengakuan tanpa remnya. Tidak kusangka dia akan mengaku. Aku pikir dia akan terus menyembunyikannya. Ya. Inilah kejujuran  dan kepercayaan.

“Teman lama?”

Jongin tersenyum manis, mungkin mendekati tersipu. “Emm… teman spesial yang sangat aku rindukan,” dia tertawa renyah memamerkan deretan giginya. “Aku mau tidur, Hyeong. Kajja…  waktunya beristirahat!”

“Oh…”

“Aku duluan,  Hyeong.”

Aku kembali mengangguk untuk membalas ucapannya. Aku masih terkejut  dengan pengakuannya. Bukan bagian di mana dia mengaku bahwa  dia telah berbohong sebelumnya, tetapi lebih karena alasan dia harus melakukan kebohongan itu. Teman spesial yang dia rindukan? Berarti ‘teman spesial’ itu bukan hanya ‘teman’  bagi Jongin. Ada  perasaaan-perasaan lain yang mengiringi. Teman spesial, mungkinkah yang dimaksud Jieun?

-Chapter Two-

Sejak matahari baru saja mengintip dari balik gunung  sana, kami sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sebenarnya yang kami lakukan hampir sama, yaitu menyiapkan beberapa barang yang akan kami perlukan di Beijing nanti. Tidak hanya kaum hawa yang suka ambil pusing dalam memilih barang bawaan mereka. Kami pun tidak mau kalah. Dan kesibukan itu masih tetap berlanjut walaupun kami telah berada di perusahaan.

Satu jam lagi sebelum keberangkatan kami ke Beijing sebagai bagian promosi kami untuk wilayah China. Kepalaku mulai  pusing melihat para coordi dan  manajer bolak-balik tidak tentu arah. Mereka sibuk  memindahkan beberapa barang keperluan panggung kami. Sedangkan Hyunkyun Hyeong –manajer yang ditakuti Kris Hyeong- beberapa kali terlihat seperti mengabsen kami dengan tatapan tajam dan wajah galaknya.

“Bagaimana bisa dia membatalkannya begitu saja?!!” bentak Hyunkyun Hyeong sesaat setelah menerima telepon.

Dia terus mondar-mandir di hadapan kami layaknya model yang tengah melakukan cat walk. Aku memperhatikan dengan seksama wajahnya. Dia memang terlihat kesal dan cemas. Seperti terjadi sesuatu yang diluar rencana dan  hal itu buruk. Rasa penasaranku membimbingku untuk mencari tahu. Aku berjalan perlahan melewati Hyunkyun Hyeong menuju tempat Kris Hyeong melakukan hal yang hampir sama denganku –mengawasinya.

“Apa yang terjadi?” tanyaku begitu berada di dekat member EXO-M.

“Sepertinya ada masalah  serius,” analisis Jongdae.

“Sudah pasti,” timpal Lay Hyeong.

Tao menyipitkan matanya. Dia rupanya mencoba membaca gerak bibir Hyunkyun Hyeong. Dia memang cukup pandai melakukan itu, hanya saja kalau sang target berbicara dalam bahasa  mandarin. Seolah mendapat jackpot, Tao bertepuk dengan kencang.

“Ah… salah satu penerjemah yang telah dimintai bantuannya mengundurkan diri. Sekarang hanya ada dua penerjemah. Seorang dari sini dan satu lagi menunggu di Beijing. Penerjemah yang bersama kita dari sini akan  ikut penerbangan selanjutnya karena suatu alasan. Jadi, tidak ada penerjemah yang akan ikut rombongan pertama,” jelas Tao panjang lebar.

Aku bertepuk tangan pelan sebagai bentuk sanjungan atas kehebatan Tao. Dia hanya  nyengir kuda mendapat pujian dariku dan member EXO-M yang lain selain Kris Hyeong. Melihat respon kami, Kris Hyeong terlihat tersenyum kecil penuh arti. Tao mengabaikan saja senyum Kris Hyeong itu . Pujian kami membuat dia begitu bangga dan tidak mau ambil pusing dengan arti senyum Kris Hyeong.

“Hentikan… bukankah kamu tahu itu semua dariku?” Kris Hyeong tersenyum mengejek.

Gege… bisakah biarkan aku menikmati ini semua?”

Kris Hyeong menggeleng kencang, “Aku mendengar Youngjun Hyeong dan Seunghwan Hyeong mendiskusikan masalah ini beberapa saat lalu. Hyunkyun Hyeong baru saja tahu. Sepertinya mereka belum menemukan penggantinya.”

“Ah…!” respon kami kompak kecuali Tao  yang terlihat kesal.

Karena ulah jahil –mencoba menipu kami- dan kekanak-kanakan serta soknya itu, Tao menjadi bual-bualan kami. Kami terus mengungkit tanpa henti kelakuan-kelakuan anehnya dan mencemoohnya. Bisa dikatakan semua cemoohan itu berasal dariku. Oleh sebab itu dia terus menerus memelototiku dan mengancam akan tak acuhkanku selamanya. Huang Zitao tidak mungkin sanggup  seperti itu. Dia hanya bercanda.

“Chanyeol-ah!” Suara Hyunkyun Hyeong mengintrupsi  cemoohanku selanjutnya untuk Si Kungfu Panda itu.

Ne, Hyeong,” aku berlari kecil menghampirinya yang berdiri di depan pintu lift.

“Bisakah  kamu menjemput seseorang di lantai lima? Aku tidak bisa  menghubunginya sejak tadi. Kata Manajer Jin, dia ada di lantai lima,” Hyunkyun Hyeong terdengar tidak bersemangat.

“Baiklah… siapa yang harus aku jemput.”

Yeodongsaeng-nya Manajer Jin, namanya Choi Jieun kalau tidak salah.  Kamu bisa bertanya pada trainee  di sana jika tidak mengetahui orangnya. Cepatlah bawa dia kemari.  Katakan Manajer Jin dan Youngjun yang menyuruhnya. Dia harus ikut kita ke Beijing sekarang.”

Nde?” aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.

“Cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu. Paksa saja dia  jika menolak. Semua orang sedang sibuk. Jadi aku mohon bantuanmu kali ini,” Hyunkyun memasuki lift begitu saja tanpa menunggu jawabanku.

Rasanya aku baru saja tersambar halilintar. Bagaimana mungkin aku memaksanya begitu saja? Kami mungkin tidak mengenal satu sama lain. Maksudku, kami hanya mengenal sebatas nama dan wajah. Apakah sopan memaksanya mengikuti kehendakku? Aku juga masih enggan untuk bertemu dengannya karena  kejadian tempo hari.

Mau tidak mau aku harus melakukannya sendiri. Junmyeon Hyeong dan yang lain tidak mau membantuku menjemput –paksa- Jieun. Mereka tengah sibuk  mengingat beberapa script dan mengecek schedule saat di Beijing nanti.  Apa yang harus aku lakukan?

Otakku bekerja keras menemukan cara menyampaikan maksud dan tujuanku menemuinya. Aneh, mengapa menjadi seperti ini? Aku tidak pernah merasa gugup jika harus bertemu orang, walaupun aku  tidak mengenalnya. Ini pasti karena beberapa kesan aneh yang aku tunjukan padanya di hari kami pertama kali mengetahui nama masing-masing.

Benar kata Hyunkyun Hyeong, para trainee mengenalnya dengan baik. Mereka tahu betul di mana Jieun berada detik ini. Mereka memang benar, aku menemukannya tengah tertawa di salah satu sofa yang bertengger pada pusat lantai lima –sebut saja lobinya lantai lima. Tertawa lepas dengan dua orang pemuda yang biasanya dianggap saudara kembar karena kemiripan  bibir mereka dan keahlian mereka.

“Oh… Chanyeol-ah!” panggil pemuda dengan status termuda di timnya itu.

“Hosh…,” jawabku dengan semangat.

“Ada apa Hyeong?” mengapa dia menatapku  begitu?

Aku menggaruk tengkuk, wujud rasa gugupku. “Aku ada urusan dengan Jieun-ssi.”

“Aku? Ada apa?”

Lihatlah cara mereka memandangku. Aku ini seolah pengganggu acara mereka. Apalagi Jieun, tatapannya seolah berkata bahwa aku pemuda sok tahu tempo hari. Sebaiknya aku abaikan saja prasangka-prasangka mereka. Aku memiliki tujuan yang lebih penting dibandingkan menebak ekspresi wajah dan arti tatapan mereka. Hyunkyun Hyeong lebih menyeramkan jika harus di samakan dengan tiga anak manusia ini.

“Jieun-ssi, Hyunkyun Hyeong memintamu untuk  ikut kami ke Beijing hari ini,” ucapku datar.

Jieun terkejut, “Nde? Aku ikut ke Beijing? Mengapa aku?”

“Aku tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. Mungkin kamu bisa bertanya pada yang berwewenang nanti.”

“Tetapi…aku…,”  Jieun kebingungan.

Noona, ikutlah kami. Mereka pasti kekurangan penerjemah makanya meminta Noona untuk ikut membantu,”Jongin membantuku meyakinkannya.

Taemin tersenyum, “Betul… lagian selain jadi penerjemah, Jongin membutuhkanmu sebagai penyemangatnya. Dia sering uring-uringan jika berada di tempat asing.” Taemin tertawa kecil.

“Taemin-ah… hentikan!” Jieun memukul pelan perut Taemin yang tepat berdiri di sebelahnya.

Wae? Bukankah kenyataannya memang begitu. Kkamjong ini berhenti marah padaku awal debut SHINee lalu karena nasehatmu. Dia hanya mau mendengarkanmu,” tambah  Taemin tetap dengan senyum nakalnya. “Jika kamu bilang ‘bertahanlah di China selamat seabad’, dia akan melakukannya.”

Jongin sama sekali tidak merespon percakapan Jieun dan  Taemin yang  menjadikan dia topiknya. Dia hanya ikut tersenyum dan menjadi penonton yang baik. Apakah itu berarti penuturan Taemin ada benarnya? Ada apa di balik hubungan Jongin dan Jieun.

“Auw… sakit! Berhenti meninju perutku,” pekik Taemin.

Jieun menatap dengan garang, “Hentikan bualanmu atau aku akan membantingmu. Aku tidak peduli  kamu artis atau tidak. Jin Hyeong tidak akan memarahiku karena memberimu pelajaran.”

“Maaf, Nona.” Taemin memperhatikan wajah Jongin dengan seksama, “Yak… mengapa wajahmu memerah?”

“Oh… mungkin karena udaranya sedikit panas,” Jongin nyengir kuda.

Panas? Aku merasakan hal yang berbanding terbalik dengannya. Jelas sekali bahwa gedung perusahaan besar ini memiliki sirkulasi udara yang baik dengan pendingin ruangan di mana-mana.  Seluruh penjuru ruangan di perusahaan ini mendapat predikat ‘sejuk’. Lalu, dari mana udara panas  itu datang?

“Bagaimana? Kita harus berangkat sekarang,” aku memotong pembicaraan mereka.

“Aku tidak masalah ikut. Tetapi, aku belum bersiap-siap. Aku juga tidak membawa passport-ku.”

Passport-mu di sini,” Jin Hyeong berjalan ke arah kami. “Jangan  banyak alasan. Berangkat sana! Semuanya sudah menunggu di lobi.”

Jieun mengerucutkan bibirnya, “Oppa… bagaimana Oppa bisa masuk ke kamarku? Dan juga aku tidak mungkin pergi tanpa membawa baju ganti.”

“Ini… aku membawakannya juga,” Jin Hyeong mengangkat tas jinjing berwarna biru, mirip dengan yang biasa digunakan Kris Hyeong. “Ponselmu juga,  seenaknya saja meninggalkannya di rumah. Dasar pikun.”

Omo… bagaimana Oppa membuka lemariku? Aish…,” Jieun segera merebut tasnya dari tangan Jin Hyeong. “Sudah berapa kali aku bilang, jangan masuk kamarku seenaknya dan membuka lemariku!” bentaknya. “Ponsel ini tidak tertinggal tetapi sengaja aku tinggal.”

Aku tidak menyangka gadis ini begitu pemarah dan galak. Dia terlihat begitu lugu dengan penampilan seperti itu dan juga caranya berbicara. Suaranya memang terdengar aneh, serak yang hampir memekakan telinga.  Tetapi, dia mengeluarkan suara itu dengan pelan. Lalu kini, dia mengomel sekenanya tanpa peduli bahwa suaranya akan mengganggu orang lain.

“Berhenti mengomel dan segera pergi. Apa kamu mau aku membongkar rahasia di balik kamar terkunci rapat dan juga lemari itu?”

Jieun membungkam mulutnya seketika. Ancaman Jin Hyeong berhasil membuat dia bertingkah seperti biasanya –seperti yang aku jumpai pada pertemuan pertama kami. Jin Hyeong menariknya menjauh dari kami dan sepertinya akan memberi beberapa pengarahan tentang tugasnya. Sedangkan aku yang ingin pergi lebih dahulu menuju lobi dihalangi Jongin.

“Ternyata Jieun tidak berubah. Dia masih Noona-mu yang galak dan pemarah,” Taemin kembali membuka pembicaraan.

Jongin terkekeh, “Setidaknya dia tidak lagi mengomeliku karena menggunakan ruang seni untuk latihan saat dia dan teman-temannya akan berlatih Pansori dan Changgeuk.”

“Bukankah kamu memang sengaja melakukan itu?”

Ne… dan dia sering mengejarku sampai perusahaan untuk memberiku pelajaran. Aku tidak ingat berapa kali dia memukulku sejak pertama kali menginjak SOPA.”

Aku merasa menjadi bagian dari benda mati di sini. Mereka tak acuhkanku. Mereka tidak memberiku akses untuk ikut menyambung obrolan. Mereka memang tidak melarang atau memotong omonganku. Hanya saja yang mereka bicarakan selalu Jieun. Aku tidak tahu apapun tentang dia. Mungkin bertanya adalah jalanku untuk bergabung dalam forum mereka.

“Sepertinya kalian berdua sangat mengenalnya,” kalimat pembukaku. “Sebenarnya siapa dia?”

“Dia? Yeodongsaeng-nya Jin Hyeong?” tawa Taemin pecah.

“Betul…,” Jongin tidak mau kalah.

Aku berdecak, “Itu juga aku tahu. Maksudku mengapa dia sering ada di perusahaan padahal dia bukan trainee, staf, coordi, atau karyawan di sini. Aku  sempat melihatnya mengajar trainee juga dan sekarang dia diminta menjadi penerjemah. Apa dia manusia serba guna?”

Taemin dan Jongin saling menatap dengan ekspresi aneh. Kemudian mereka tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan telapak tangan mereka menahan suara tawa agar tidak menggema. Untuk sepersekian menit mereka tidak dapat mengontrol diri. Ayolah! Aku menunggu  jawaban kalian.

“Dia mantan trainee di sini. Satu angkatan dengan  Krystal dan Sunyoung, maksudku mereka di rekrut dalam waktu yang sama. Sayangnya satu tahun kemudian dia mengundurkan diri karena menurutnya dia tidak tertarik dengan dunia kita ini,” Taemin terdiam sejenak. “Emm… padahal Sooman Sosaengnim sendiri yang memilihnya. Seandainya dia bertahan, dia akan debut dalam f(x).”

Aku hanya mengangguk ringan menimpali cerita Taemin. Jongin juga tidak jauh berbeda.

“Bukankah bukan hanya itu alasannya? Aku sempat dengar dari karyawan di sini alasan utama Noona keluar adalah karena dia dan Krystal  tidak pernah akur,”  tambah Jongin. “Makanya Sooman Sosaengnim tidak bisa menolak saat dia dan Jin Hyeong meminta untuk  keluar. Sooman Sosaengnim terpaksa melepaskannya demi Jung bersaudara.”

“Lalu mengapa dia berkeliaran terus di sini? Apa dia berniat bertengkar lagi dengan Krystal?” aku masih  bingung. Tidak salah bertanya ‘kan?

Taemin terkekeh, “Memangnya mereka bocah tengik yang harus terus bertengkar. Tentu saja semuanya sudah aman dan tentram. Usut punya usut, Sooman Sosaengnim yang terus memintanya untuk bekerja di sini seperti pekerja paruh waktu. Berdasarkan gosip yang beredar, Sooman Sosaengnim tengah menjalankan misi untuk membuat Jieun kembali tertarik untuk bergabung dengan SMent.  Dia berniat mengikutsertakannya dalam project grup yang akan keluar beberapa waktu dekat ini.”

“Benarkah? Mengapa aku tidak tahu?” Ternyata Jongin tidak tahu hal yang satu ini.

“Kasihan sekali kamu. Si raja gosip, Jonghyun Hyeong dan Kibum Hyeong yang mengatakan itu  semua. Kamu pasti tidak tahu juga kalau pacarmu itu juga target Sooman Sosaengnim.”

“Pacarku?” Jongin mengeryitkan dahinya.

“Minhye,” jawabku. Seingatku aku pernah mendengar kata ‘pacar’ dalam hubungannya dengan Minhye itu.

Mwo?!!”

Taemin kembali terkekeh, “Ini semua karena Sooman Sosaengnim sering melihat kalian berlatih menari.  Minhye cukup menarik perhatiannya.”

“Aku rasa mereka tidak tertarik,” celetukku.

“Betul… mereka ha–,” kalimat Taemin terpotong.

“Kalian malah mengobrol di sini. Cepat turun sana! Mobilnya sudah siap,” Youngjun Hyeong menyusul kami.

“Kami menunggu Jieun, Hyeong,” bela Jongin.

“Dia sudah turun dari tadi.”

“Ey?” Kapan dia melewati kami?

-Chapter Two-

Begitu kami turun dari EXO School bus, jeritan-jeritan fans menyambut kami. Aku memasang senyum andalanku dan sedikit berpose saat terlihat ada kamera yang membidik. Rasanya sangat bahagia apabila melihat fans sebanyak ini mengantar kami meninggalkan Seoul. Aku tidak pernah bermimpi akan menjadi seorang Park Chanyeol seperti sekarang ini. Saat aku kecil yang terbayang adalah aku menjadi seorang pria berdasi yang bekerja untuk pemerintah. Mungkin menjadi guru atau pegawai pemerintahan lainnya. Tetapi kenyataanya  sekarang, Park Chanyeol adalah EXO.

Baekhyun dan Sehun  berjalan beriringan bersamaku memasuki bandara. Kris Hyeong, Tao, Jongin dan Luhan di belakangku. Sisanya berjalan di depanku. Para manajer dan coordi  berpencar entah kemana. Aku hanya melihat Youngjun Hyeong dan Hyunkyun Hyeong yang seperti bodyguard di barisan paling belakang. Ternyata Jieun juga bersama mereka. Mungkin sedang membahas tugas Jieun nanti di Beijing.

Teriakan-teriakan nyaring itu kembali membuatku berpijak di bumi setelah beberapa saat lalu berkelana dalam pikiran sendiri. Aku harus kembali menyapa mereka dengan senyumku. Bukan Chanyeol namanya jika  tidak mengumbar senyum dengan ramah. Aku tidak mau  jumlah fans-ku berkurang. Apa aku harus tertawa seperti orang jahat sekarang? Sombongnya diriku.

Oppa, lihat kemari!”

Teriakan super kencang itu membuat aku reflek menoleh ke sumber suara. Di kejauhan aku melihat seorang gadis berambut panjang dengan pita kecil menghiasi rambutnya  melambaikan tangannya. Dia menjerit tidak karuan seperti orang kemasukan makhluk halus. Ketika aku akan membalas  lambaian tangan, sesuatu menyerupai titik sepertinya terbang  ke arahku. Wujud titik itu semakin membesar dan terus terbang ke arahku.

Bug…!

Terdengar suara benda menghantam benda lainnya. Selanjutnya suara benda lunak yang jatuh ke lantai. Aku melihat ujung kakiku, benda berwarna coklat hancur lebur dan berserakan di  lantai. Sepertinya itu adalah puding atau sejenisnya. Aku menegakan kepalaku dan mendapati tas tua berwarna biru menutupi wajahku.

“Yak… kalian gila ha’!” teriak suara serak yang memekakan telinga.

“Oh… Jieun-ssi?”

“Dasar sasaeng fans gila!” omelnya lagi.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Baekhyun, dia terlihat khawatir.

“Kamu baik-baik saja ‘kan?” tas itu telah diturunkan. Aku dapat melihat dengan jelas siapa pemiliknya, benar saja pemilik tas itu adalah Jieun.

Ne…aku  baik-baik saja,” senyum tipisku terkembang.

“Syukurlah,” Jieun menghela napas lega. “Beruntung aku memilih menyusul coordi dan berjalan lebih cepat mendahului kalian.”

Member EXO yang lain segera datang menghampiriku.  Mereka terlihat sangat  khawatir. Tidak jarang kami mendapat perlakuan seperti ini dari fans. Aku tidak tahu, apakah mereka anti-fans atau fans setia kami? Kelakukan mereka terkadang berlebihan. Fans seperti dijuluki sasaeng fans.  Mereka  menakutkan.

“Jieun-ah…. kamu baik-baik saja?” Jongin beralih pada Jieun setelah  memastikan keadaanku.

Ne, Kalian hati-hati! Aku masuk  dulu. Mereka membutuhkan bantuanku di dalam,” Jieun keluar dari kerumunan dan pergi menuju pintu masuk ruang tunggu penumpang.

Aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Mungkin aku akan mengatakannya nanti jika aku bertemu dengannya di pesawat. Aku merasa tidak enak karena telah membuat tasnya kotor. Tatapanku tidak lepas dari punggungnya. Dia terus berjalan menuju pintu itu sembari membersihkan tasnya dengan tisu dari sisa kejadian tadi. Aku semakin merasa tidak enak padanya.

“Yak… coordi sok pahlawan!” sayup-sayup aku mendengar teriakan –suara- itu lagi.

Lagi-lagi tidak lama setelah teriakan itu, Jieun terlihat mengaduh di sana. Petugas keamanan di sekitar pintu masuk dengan cepat menghampirinya. Jongin, Kris Hyeong, Jongdae,  Minseok Hyeong dan Sehun juga berlari menghampiri Jieun. Sial, mereka melemparinya dengan telur.

-Chapter Two-

“Kamu mau ke mana?” tanya Baekhyun.

Aku berjalan santai menuju pintu keluar tanpa ada niat menjawabnya. Tidak terdengar ada lagi pertanyaan darinya saat aku membuka pintu dan berjalan keluar. Mungkin  dia terlalu lelah sehingga tidak berniat untuk bertanya lagi. Memang seharusnya kami beristirahat,  jadwal kami akan padat besok.

Sebenarnya kejadian saat di Bandara Incheon tadi membuatku tidak bisa tenang. Aku merasa sangat bersalah pada Jieun. Dia harus mendapat beberapa bully-an  dari sasaeng-sasaeng fans itu. Dia juga terkena lemparan telur tadi. Kejadian  itu pasti melukainya. Ini semua karena aku.

Apa yang harus aku lakukan untuk meminta maaf dan berterima kasih padanya? Aku  tidak tahu bagaimana membuat seorang gadis memaafkan kesalahan seperti ini. Haruskah aku meminta saran seseorang? Sebaiknya aku menghubungi Yura Noona. Haruskah?

“Aku baik-baik saja. Tidak perlu berlebihan begitu. Aku tidak akan mati hanya karena terkena dua butir telur.”

Apakah takdirku seperti ini? Bertemu dengannya dengan cara yang sama, selalu sama. Jika tidak sedang menelepon, dia pasti tengah berbicara dengan seseorang. Sebuah takdir yang aneh. Tidak adakah cara yang lebih romantis untuk mempertemukan seorang pemuda dan seorang gadis? Oh, Tuhan.

“Sudahlah… Oppa terlalu melebih-lebihkan. Aku tutup, eoh?”

Dia menghela napas berat. Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku hoodie yang dia kenakan, handuk kecil itu menari perlahan di rambutnya. Dia terlihat berpikir, antara haruskah dia masuk lagi ke kamarnya atau jalan-jalan sebentar sembari menunggu rambutnya kering. Aku bukannya bisa membaca pikirannya, hanya menebak saja.  Yura Noona sering seperti itu.

Gotcha. Dia memilih untuk berjalan-jalan bukannya kembali ke kamarnya. Inilah saat yang tepat bagiku untuk berbicara dengannya. Aku harus meluruskan semuanya. Seharusnya kami bisa menjadi teman baik. Bukannya selalu canggung seolah bermusuhan.

“Jieun-ssi!” panggilku.

Dia segera menoleh ke arahku.  Aku dapat menangkap ekspresi terkejut dari celah handuk yang menutupi separuh wajahnya. Aku memamerkan senyum hangatku. Hanya sebagai pembuka agar dia dapat menerimaku dengan hangat juga.

“Chanyeol­-ssi?”

“Mau jalan-jalan sebentar? Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu,” aku tidak perlu berbasa-basi lagi.

Dia mengangguk ringan, masih dengan ekspresi tidak percayanya. “Ne… kajja.”

Aku melangkah  perlahan mendekatinya. Aku tidak ingin terlihat terlalu bersemangat. Biarlah untuk saat ini aku berlaku serius seperti Kris Hyeong agar terkesan keren. Umumnya para gadis menyukai pemuda seperti itu. Tentu saja hal tersebut terbukti benar. Kris Hyeong buktinya. Walaupun aku tidak mau mengakui dia sangat populer dikalangan gadis-gadis, kenyataanya dia memang populer.

Langkah kaki kami hampir seirama. Ya. Hanya suara langkah kaki ini yang memenuhi udara. Sedangkan aku dan dia bungkam seribu bahasa. Aku belum cukup berani untuk langsung ke inti permasalahannya atau sekedar membuka percakapan. Keberanianku yang sepertinya beberapa saat lalu ada, lenyap entah ke mana. Jadi untuk saat ini aku memilih mengikuti saja kemanapun dia pergi.

Perjalanan singkat kami berakhir saat dia menemukan tempat yang ingin  dia tuju. Sebuah taman buatan di lantai sepuluh hotel yang kami pilih untuk bermalam. Taman buatan di atas gedung hotel ini didesain menyerupai taman pada umumnya. Begitu terbuka dan juga terlihat asri. Ada sekitar lima atau lebih kursi dan meja taman serta lampu taman. Sayangnya  langit masih terang. Jika tidak, taman ini akan terlihat indah  dan terkesan romantis.

“Apa yang  ingin Chanyeol-ssi bicarakan?”

Aku menatapnya dengan mata membulat sempurna, “Oh… sebaiknya kita duduk dulu di sana.” Aku menunjuk satu set  kursi taman beserta meja dan payung tamannya.

“Baiklah…,” jawabnya singkat sembari menuju kursi taman yang aku maksud.

Aku menyusulnya segera. Aku baru saja  sadar bahwa aku hanya berdiri terpaku tanpa  bergerak sedikitpun untuk melakukan hal yang sama dengannya.  Mataku ini tidak mau  lepas memperhatikan punggungnya yang berlalu demi mencapai kursi taman itu. Aku pasti terlihat begitu bodoh melamun dengan backgorund langit yang keoranyean.

“Ada apa dengan Chanyeol-ssi? Tidak seperti biasanya,” dia memperhatikanku dengan seksama. “Apakah ada masalah?”

Bukankah dia yang tidak seperti biasanya? Sejak kapan dia berbicara begitu santai denganku? Biasanya dia akan kaku, bahkan tidak mau menatapku saat berbicara. Apakah  otaknya bermasalah karena lemparan telur tadi? Tidak. Jangan sampai hal itu terjadi. Jin Hyeong pasti akan  menyalahkanku. Mungkin Sooman Sosaengnim juga.  Aku merusak bibit unggulnya.

“Kenapa terdiam, Chanyeol-ssi?”

“Ah, tidak ada apa-apa. Emm… sepertinya kita harus berhenti  menggunakan bahasa formal ini. Rasanya begitu aneh,” aku kembali mendapat keberanian.

Dia tersenyum, “Baiklah. Jadi Chanyeol-ah, apa yang ingin kamu bicarakan?”

Hebat sekali, dia berubah dengan sangat cepat. “Apakah  kamu baik-baik saja?”

“Tentu. Aku selalu baik-baik saja,” jawabnya santai.

Aku memperhatikan dirinya lagi. Handuk itu sudah tidak ada lagi di kepalanya. Rambutnya pun terlihat hampir kering. Aku harus menyelesaikan ini sekarang. Dia sudah memberi lampu hijau sejak tadi.

“Aku minta maaf atas kejadian buruk yang menimpamu di Bandara.”

Dia terkekeh, “Kejadian konyol maksudmu?”

“Konyol?”

“Sangat konyol. Bagaimana bisa seorang fans  memperlakukan idolanya seperti itu. Tunggu…,” dia menatapku intens. “Mereka bukan anti-fans ‘kan?”

Molla,” aku memalingkan wajahku. “Tidak ada  bedanya prilaku sasaeng fans dan anti-fans. Kelakuan mereka hampir sama.”

“Begitukah?”  dia menganguk-angguk seolah baru tahu. “Oh… aku sudah  memaafkan  kejadian itu. Tetapi sebenarnya tidak ada yang perlu dimaafkan atau meminta maaf. Tidak ada yang salah maupun dirugikan. Anggap saja pengalaman unik.”

“Begitukah?”

Dia menatapku dengan alis yang bertaut, “Yak… kamu mengikuti caraku berbicara. Kamu mengejekku?”

“Oh… tidak,” aku menggerekkan telapak hingga pergelangan tanganku ke kiri dan ke kanan di depan wajahnya.

“Aku hanya bercanda,” dia  tertawa dengan suara tertahan. “Aish, tenggorokan ini menyebalkan,” dia berdehem.

“Radang tenggorokanmu belum sembuh? Jangan minum minuman dingin  dan manis terlalu sering. Lebih baik minum air putih hangat.”

Dia terkekeh, “Aku tahu. Terima kasih atas sarannya, Chanyeol-ah.

“Emm….”

“Oh… apakah aku  juga harus memanggilmu ‘Oppa’? Namun, aku rasa umur kita tidak jauh berbeda.”

“Terserah padamu saja, yang terpenting kita teman mulai sekarang.”

“Tentu saja,” dia kembali memamerkan senyumnya dengan begitu manis. Apa yang aku pikirkan?

-Chapter Two-

“Apa kamu yakin Hyeong?” aku melihat sekeliling, berjaga-jaga.

Setelah berbincang dengan Jieun tadi sore, malam ini aku memutuskan untuk  mencarikan sesuatu untuknya. Lebih tepatnya mencarikan tas untuknya. Tasnya pasti tidak pantas pakai lagi karena ternoda oleh telur dan  juga puding aneh –benda pertama yang dilemparkan ke  arahku. Tas dengan jenis seperti itu tidak bisa terkena noda basah sedikit saja, begitu yang dikatakan Kris Hyoeng dan Tao.

Hyeong, kita harus kembali sebelum jam sembilan,” ingatku lagi.

Kris Hyeong memandangku dengan galak. “Aku tahu. Ikuti saja aku. Bukankah kamu sendiri yang tidak  sabar ingin mengganti tas Jieun?”

“Bukan tidak sabar. Jadwal kita sangat padat besok, tidak akan ada waktu untuk mencarinya. Hyeong sendiri yang bilang tas itu hanya ada di Beijing,” aku hampir kesal.

“Diamlah! Jangan berbicara terlalu keras. Nanti orang-orang mengenali kita.”

Aku segera mengunci mulutku rapat-rapat. Untuk bisa keluar dengan lumayan aman dan nyaman ini kami harus  melakukan sedikit penyamaran. Aku menggunakan  kacamata hitam dan juga masker hitam serta berpakaian normal. Tidak menggunakan pakaian yang terlihat  mahal atau bergaya layaknya artis. Kris Hyeong juga melakukan hal yang sama namun dengan tambahan topi dan tanpa kacamata.  Susah juga menutupi identitasnya. Dia sangat mudah dikenali dengan postur tubuh ‘bagus’-nya itu –kata para gadis.

“Itu tokonya,” Kris Hyeong menunjuk sebuah toko mewah yang berada di komplek Mall yang kami kunjungi. Mall terdekat dari hotel tempat kami menginap.

“Bagaimana Hyeong bisa yakin itu tokonya?”

Dia kembali memelototiku, “Aku tahu segalanya, Park Chanyeol.”

“Ssst, baiklah. Kajja…,” aku mendorongnya.

“Kamu diam saja nanti. Biar aku yang membereskan semuanya.”

Ara, palli!”

Kami melenggang mantap memasuki  toko itu, toko yang sangat mewah. Aku yakin barang-barang mereka hanya dibeli kalangan kelas atas  saja. Apakah artis termasuk kalangan kelas atas? Tidak tahu, akupun tidak peduli. Sambutan ramah pelayan toko memberikan kesan eksklusif pada toko ini. Banyak sekali toko semacam ini di Seoul. Tetapi entah mengapa rasanya berbeda.

Kris Hyeong  mulai melakukan tugasnya. Menanyakan tas yang aku cari.  Tentu saja dia menggunakan bahasa mandarin. Aku malas mendengar percakapan mereka karena pada  akhirnya aku tidak akan mengerti dan malah kebingungan. Pelayan toko itu mulai menunjukan satu persatu contoh tas yang kami cari. Aku mengenali  salah satunya.

Hyeong… yang itu. Urutan kedua dari kanan, warna merah,” pekikku girang.

“Yang ini?” Kris Hyeong menunjuk tas yang aku maksud.

“Tetapi  yang berwarna biru. Biru persis seperti miliknya,”  tambahku tidak sabaran.

Kris Hyeong mengangguk pasrah, “Baiklah.”

Dia kembali melajutkan perbincangannya dengan pelayan toko. Beberapa kali aku melihat  pelayan itu menggeleng dan mengucapkan kata ‘maaf’. Aku mengerti kalau hanya kata ‘maaf’dalam bahasa mandari.

“Chanyeol-ah… warna yang kamu inginkan tidak ada. Stok terakhir telah dibeli seseorang beberapa saat lalu. Beberapa menit sebelum kita datang.”

Mwo? Apakah tidak ada toko selain ini?”

“Dia sedang mencoba menghubungi cabang yang lain di area Beijing.”

Pelayan itu memang terlihat memegang gagang telepon dan berbicara dengan orang di seberang. Kami menunggu cukup lama sekitar dua puluh menit untuk mendapat kepastian. Sialnya, tas itu tetap tidak ada.

“Bagaimana? Apa kita ambil yang ini saja. Daripada tidak ada sama sekali?”

“Baiklah… warna merah hati itu saja. Aku tidak mungkin membiarkannya menggunakan tas kotor itu.”

Kris Hyeong mengartikan ucapanku dalam bahasa mandarin. Pelayan itu segera mengerti dan mulai membungkus rapi tas yang aku pilih. Seandainya aku tahu orang yang membeli tas itu, aku akan membayar berapapun asal dia memberikannya padaku. Aku melakukan itu bukan karena sombong telah menghasilkan uang sendiri. Aku hanya merasa tidak enak dengan Jieun.

“Chanyeol-ah… sertifikat tas ini atas nama siapa?”

“Sertifikat?”

Kris Hyeong  tertawa mengejek, “Ini tas  rancangan desainer  terkenal, tentu saja ada sertifikat  kepemilikannya.”

Heol…,”  ini sungguh mengejutkan. Jieun benar-benar memiliki selera yang tinggi. “Choi Jieun… pakai namanya saja.”

“Oke.”

Lama kelamaan Kris Hyeong cocok menjadi penerjemah. Tidak biasanya dia menurutiku seperti ini. Apa dia memakan sesuatu yang salah saat makan malam tadi? Atau dia kemasukan makhluk halus sehingga bertingdak aneh?

“Eee?” pekik Kris Hyeong.

“Ada apa?”

“Katanya, pembeli yang membeli stok  terakhir warna biru untuk model  tas ini juga menggunakan nama Choi Jieun,” jelasnya.

“Apa?”

Siapa yang membelikan Jieun tas selain aku? Apakah hanya kemiripan nama saja?

To be continued…

Iklan

5 pemikiran pada “JOAH-Beautiful voice (Chapter 2)

  1. uhuhu, chanyeol iri ato cmburu sm kai nd jieun,,?
    ehm, jgn” yg abis beli tas itu kai ya? kan dia yg kyaknya punya ‘sesuatu’ ke jieun, iya bukan thor?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s