Among The Rain

Among The Rain 5

Title

Among The Rain

Author

Summer

Main Cast

EXO-M’s Xi Luhan

SNSD’s Kim Taeyeon

EXO-K’s Byun Baekhyun

Genre

Life, Angst, & Romance

Rating

PG-13

Length

Vignette

 

Senja itu hujan turun membasahi bumi sama seperti dulu. Kali ini ia tak datang sendirian, ada angin yang senantiasa bersamanya. Mereka tertawa di tengah tetesan air yang turun dan terkadang petir yang turut mengisi. Saat melihatku yang sedang berdiri di tepi jalan mereka bertanya mengapa aku tak ikut menari juga.

“Hari ini aku berencana untuk menunggu seseorang.” Bisikku kala itu. Mereka tersenyum dan menyingkir sejenak agar orang yang kutunggu tak terlalu basah karena air yang mereka bawa.

Dalam hati ada perasaan lega ketika tahu betapa baiknya hujan dan angin kepadaku. Aku mendongakkan kepala dan tertawa saat melihat matahari yang merengut kesal karena tugasnya untuk menyinari bumi hari ini harus lebih pendek. Entah sudah berapa kali hujan dan angin datang untuk bermain di tengah waktu kerjanya. Namun aku tahu, sesering apapun hujan dan angin mengganggu, matahari tak pernah benar-benar marah meski terkadang suka menggerutu tak jelas.

Hari itu seperti tahun-tahun sebelumnya aku melihatmu kembali ke tempat ini di tanggal yang sama. Kakimu bergerak dengan kecepatan konstan di tepi jalan sebuah persimpangan yang dulu sering kita lewati sepulang dari membeli es krim. Langkahmu begitu ringan menapaki bumi yang keras. Seolah hanya dirimu satu-satunya manusia yang diizinkan untuk melayang. Sekali lagi kau buatku terpesona.

Namun kembali aku harus melihat, langkahmu yang ringan masih sering bergetar tiap kali kau datang kesini. Entah gemetar karena dingin atau memang karena hatimu yang terlalu rapuh hingga kau terus seperti itu. Tahun sudah sering berganti rupa, namun sepertinya belum cukup untuk menyembuhkan luka hatimu yang terkadang masih bernanah. Apakah kau belum menemukan laci yang pernah kujanjikan ? Ataukah kenangan yang ingin kau buang terlalu banyak hingga laci yang kau punya sudah terlalu penuh ? Aku tak pernah tahu.

Rambutmu pendek. Itu membuatku menaikkan alis dan berasumsi kau kemanakan rambut panjangmu yang indah berkilau bak kain satin mahal ? Mungkin aku adalah satu dari sekian banyak pengagum rambutmu di luar sana. Itu juga salah satu alasan mengapa aku mau menunggumu disini. Aku ingin melihat rambut panjangmu bergerak lembut di udara dengan aroma semangka lembut seperti biasanya. Bau yang khas.

“Taeyeon !”

Tiba-tiba seseorang meneriakkan namamu dari kejauhan dengan suara keras-keras. Aku menyipitkan mata berusaha untuk melihat siapakah yang berani memanggil namamu selain aku. Dia mendekat dan akhirnya aku bisa melihat rupa wajahnya. Ah, aku ingat, dulu kau pernah mengenalkan laki-laki itu  padaku saat kita masih di tahun terakhir sekolah. Laki-laki bermata teduh yang kau bilang orang paling tenang kedua setelah aku. Laki-laki bernama Byun Baekhyun, bukan ?

Bola mataku berputar dan kulihat kau masih berdiri dengan kepala memandang ke arah jalanan. Aku memang hanya bisa melihat dari samping, namun senyummu merekah begitu sempurna, aku tak menyangkal itu. Bahkan kali ini lebih merekah daripada senyum mentari yang megintip dibalik awan. Aku tahu dia cemburu.

Baekhyun berjalan mendekat sembari membawa payung untukmu. “Kapan kita akan pulang ?”

Suara hembusan nafasmu terdengar samar. “Tunggulah di mobil, sebentar lagi aku akan kembali”, ucapmu dengan tepukan bahu menenangkan.

“Jangan terlalu lama, kemarin kita sudah berjanji pada Minji untuk merayakan ulang tahunnya.”

Anggukanmu terlihat lemah namun kali ini masih dengan senyum terpampang. Setelah sekian lama akhirnya aku mendengan satu nama lagi. Minji. Apakah dia malaikat kecilmu ? Kau curang sekali Taeyeon, sudah sekian lama namun kau belum jua menceritakannya padaku. Sudah sebesar apa ia sekarang ? Aku bisa membayangkan dia akan punya rambut dan wajah yang mirip dengan dirimu. Seharusnya aku mengunjungi malaikatmu dari dulu.

Baekhyun tersenyum sembari mengecup keningmu pelan dan berjalan menjauh. Aku tahu dia pasti paham apa yang kau lakukan hari ini. Sepertinya dia tahu kapan harus menyerahkan setengah jam waktunya untuk kegiatanmu yang dianggap orang lain membosankan dan gila. Karena dia senjamu, sinarmu, dan mataharimu yang selalu mengerti.

Kau menunggu hingga ia benar-benar pergi tak terlihat lagi. Namun senyummu yang sanggup membuat matahari iri kali ini hilang digantikan pejaman matamu yang keras. Bahkan sampai membuat beberapa bulu matamu jatuh ke tulang pipi. Aku tak sadar apa yang sedang terjadi hingga akhirnya aku melihat air matamu yang becampur dengan hujan gerimis. Aku terkesiap tanpa suara. Ini pertama kalinya aku melihatmu kembali menangis setelah lima tahun. Apa yang terjadi ? Kenapa kau menangis lagi ? Namun pertanyaanku hanya sanggup sampai di ujung lidah. Mereka tak diperkenankan untuk keluar. Tidak hari ini.

Awalnya kau masih tegak berdiri meski beberapa kali bahumu berguncang, tapi aku tahu pertahananmu tak sekuat itu. Tubuhmu melorot dan aku tak sanggup berbuat apa-apa. Di depan sebuah tanda penyebrangan jalan yang selalu sepi tiap kali hujan, air matamu semakin bersemangat untuk merengsek keluar. Aku tak berguna dan aku tahu. Aku brengsek dan kau boleh menyalahkanku. Namun sebanyak apapun hasrat ini ingin menghiburmu, alam tak menghendakinya begitu. Mereka hanya ingin aku melihatmu dari jarak lima meter saja tanpa perlu kau tahu.

Aku bisa melihatmu menghapus air mata yang baru saja keluar dan tertawa sengau. “Paman Han sekarang sudah pensiun dan tinggal bersama anak-anaknya”, ujarmu di depan udara kosong dan jalanan yang sepi. Tapi aku tahu itu adalah salah satu bentuk perhatianmu yang masih mau mengajakku bercerita entah kau yakin aku bisa mendengarnya atau tidak.

Ngomong-ngomong tentang Paman Han, aku jadi ingat ia dulu sering sekali mengeluh pingganya yang nyeri jika terlalu lama memotong kayu. Kita bahkan sering memijat punggungnya jika ia istirahat. Syukurlah sekarang dia sudah pensiun. Dia pasti senang bisa di rumah dan merawat anjingnya yang galak itu.

“Dan, kurasa kata-katamu dulu benar-”

Kau menciptakan jeda panjang sebelum melanjutkan kembali. Aku sempat berharap mungkin kau bisa melihatku. Namun tiba-tiba aku merasa harapanku itu bodoh sekali. Tentu saja kau tak bisa melihatku, dan seharusnya aku tahu itu.

“-aku akan baik-baik saja bersama Baekhyun.”

Aku tersenyum lega saat mendengar ucapanmu. Mungkin kau lupa dan harus kuingatkan lagi. Tentu saja kata-kataku benar. Aku selalu tahu apa yang terbaik untukmu, apa yang kau suka dan tidak suka. Bukankah hanya aku yang mengenal dirimu sebaik kau mengenal dirimu sendiri ? Aku adalah cermin dan separuh nafasmu meski hanya bisa mengambang dan melihatmu dari sisi dunia yang lain.

“Aku minta maaf”, tiba-tiba gumamanmu bercampur lagi dengan isakan. Padahal aku tadi sempat bernafas lega karena air matamu yang berharga itu tak lagi keluar. “jika saat itu aku lebih hati-hati, kita mungkin tak akan terpisah seperti ini.” Kau kembali menangis di tengah bicara.

Rasanya ulu hatiku semakin teriris saat mendengar isakan tangisanmu yang terdengar memilukan. Entah untuk keberapa kalinya haruskah kau mengucapkan kata maaf itu lagi ? Kau bahkan tak berbuat salah apapun, jadi untuk apa kau meminta maaf ? Aku sudah pernah bilang, bukan dirimu yang akhirnya membuatku seperti ini. Aku sendiri yang memilih untuk mendorongmu menjauh agar hanya aku yang merasakan hantaman mobil itu. Bukankah dulu aku pernah berkata bahwa aku tak ingin melihatmu kembali menangis dan mengucapkan kata menyedihkan itu ?

Desah nafasmu semakin pelan dan melambat. Aku ingin berada di sampingmu, setidaknya untuk berkata bahwa kau tak harus seperti ini. Kau harus lebih banyak tertawa, Taeyeon~ah. Karena dengan melihatmu senyum dan tawamu, setidaknya aku sedikit merasa lebih bahagia. Aku ingin membuat bahumu hangat dan tenang kembali. Namun sampai sekarang rasanya masih tak mungkin. Kata burung merpati ini belum saatnya.

Tiba-tiba mataku tertuju pada satu titik dimana kau menaruh tas coklatmu yang mulai basah terkena hujan. Aku tak pernah tahu isi tas coklat apa yang kau bawa sekarang. Sampai akhirnya tanganmu yang kecil dan gemetaran mengeluarkannya dengan amat perlahan. Awalnya aku tak begitu melihat apa itu. Hanya warna putih dan aku tak mengerti apa yang kau bawa. Hingga akhirnya kau meletakkanya di tepi jalan.

Itu tulip putih.

Aku mendengus samar. Ah, setelah sekian lama, kau bahkan masih mengingat bunga kesukaanku. Aku tahu kau lebih menyukai bunga hydrangea yang indah dan berwarna-warni. Namun bukankah kau sendiri yang berkata bahwa aku adalah orang paling tenang yang pernah kau temui ? Bahkan kau yang akhirnya membuatku menyukai bunga itu. Tulip putih.

Saat itu kita masih berumur dua belas tahun ketika kau bercerita tentang bunga surga yang indah. Kita sedang membantu Bibi Park merawat tanaman kala itu dan kau terus berceloteh tentang bunga tulip putih. Pada akhirnya kau meracuni diriku dan meyakinkan bahwa tulip putih adalah refleksi diriku yang paling sempurna. Yeah, kau memang pandai membuat orang-orang terbujuk kata-katamu.

Sekali lagi ceritaku tentang kenangan kita berdua pun tak mampu untuk bersuara dan kuyakin kau pun pasti tak sanggup mendengar. Rasa penasaranku mengambang bersama dengan bisikan doamu di depan penyebrangan. Doamu lirih dan lagi-lagi mengucapkan sama seperti tahun-tahun yang lalu. Dan aku tak pernah bosan. Mungkin doamu adalah salah satu yang kutunggu.

Seperti yang kujanjikan, ini hanya butuh waktu setengah jam. Dan seperti kontrak, setelah waktu habis, maka kau juga harus kembali ke tempatmu. Tempat dimana kini kau disinari oleh mentari dan senjamu serta ditemani malaikat kecilmu. Pegang janjiku, suatu saat aku pasti akan datang. Setidaknya untuk melihat seberapa besar malaikatmu itu tumbuh.

Saat hujan semakin terasa melambat, langkah kakimu yang tenang berjalan menjauh. Namun bisikanmu di tengah jalan aku masih mendengar. Sekali lagi kau memanggil namaku,

“Luhan . . . “

Aku tersenyum lebar. Sama seperti dirimu, ini juga saatnya aku untuk kembali. Kembali ke dunia yang bahkan tak sanggup kau selami. Menjangkau pun rasanya kau kurang tinggi. Hahahaha, maaf tapi memang kau pendek Taeyeon~ah. Ngomong-ngomong yang menjemputku untuk pulang sepertinya belum datang.

 “Luhan, sudah saatnya untuk kembali.”

Oh sial ! Kurasa aku salah menebak, aku lupa kalau pelangi itu selalu mengalungkan jam bekernya bahkan saat ia tertidur sekalipun. Menyebalkan.

Tapi masih ada satu yang ingin kulakukan. Sekali lagi aku memohon ijin kepada pelangi. Berikan aku waktu lima menit, pintaku kala itu. Ia nampak enggan namun akhirnya setuju juga. Tidak, permintaanku tak akan pernah seaneh-aneh dulu. Aku hanya ingin ingin mencium aroma tulip putih yang bercampur dengan keberadaanmu tadi. Aku ingin mengingatnya lebih lama sebelum akhirnya aku harus pulang dan kembali lagi kesini tahun depan.

“Dia terlalu sering meminta maaf”, kata matahari saat aku sedang menghirup aroma wangi tulip putih yang tadi kau bawa.

“Yeah aku tahu”, sahutku dengan memutar bola mata asal.

Matahari mendengus keras. Ia tak suka diacuhkan seperti ini. “Maksudku bunga  itu. Dia membawa bunga itu sebagai pertanda maaf.”

Aku mendongakkan kepala tak mengerti. Bunga ini pertanda maaf ? Apa maksudnya ? “Bagaimana kau bisa tahu ? Bukannya kau tak bisa membaca fikiran manusia ?”, tanyaku penuh kebingungan.

“Itu bahasa bunga. Tulip putih itu artinya meminta maaf. Karena itu dia membawanya hari ini”, tukas matahari sedikit senang karena sekarang aku menaruh seluruh perhatianku padanya.

Aku hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasanya. Dulu aku pernah menganggapnya sok tau dan menyebalkan. Namun sepertinya aku salah, dia bukan sok tahu, tapi sebenarnya memang tahu. Dalam hati aku benar-benar menganggapmu cerdik. Ternyata kau membawa bunga ini bukan hanya karena kau tahu aku menyukainya, tapi juga karena alasan itu.

Sejak waktu mencatatku di dalam buku kematiannya, aku tahu aku tak akan pernah kembali dalam bentuk yang kau harapkan. Aku memang tak terlihat, bahkan terasa pun sepertinya juga samar. Tapi seperti yang kau yakini sejak dulu. Aku hanya perlu menjadi angin. Kau memang tak bisa melihatnya namun hatimu bisa merasakannya. Karena aku tahu hati kecilmu tak akan pernah berbohong. Dia selalu tahu kapan aku datang dan ada di sampingmu. Kau hanya perlu percaya bahwa aku ada.

Aku melihat matahari menyunggingkan senyumnya di samping pelangi. Matahari memang tak menyukai hujan meski dia tak benar-benar membencinya. Karena matahari tahu, jika hujan tak pernah ada, maka pelangi, kekasihnya pun juga tak akan pernah muncul. Baginya pelangi adalah separuh jiwa dan nyawanya.

Seperti kita berdua, hujan adalah takdir yang tak pernah kita harapkan. Takdir yang memisahkan hingga akhirnya kita berada di alam yang berbeda. Namun jika hujan itu tak ada, maka pelangimu dalam bentuk senja dan malaikat milikmu pun tak akan pernah muncul jua. Seperti matahari, kau hanya perlu menerima. Hanya itu saja.

Pelangi semakin mendesak agar aku segera pulang. Ya, tentu saja aku pasti pulang. Meski ia cerewet tapi setidaknya ia mau mengabulkan satu permintaan terakhirku saat masih berada di dunia yang fana ini. Sebelum akhirnya aku menjadi partikel tak berbobot dan kasat mata yang mungkin tak pernah disebutkan dalam hukum pelajaran apapun, aku ingin bertemu denganmu. Meski hanya setahun sekali, aku tak peduli. Hanya untuk memastikan apakah kau sudah menemukan senjamu dan menyimpan semua kenangan sakit di laci-lacimu. Lagipula waktu tak berarti lagi bagiku yang sekarang tak punya eksistensi di dunia ini.

Yang terpenting, selama kau belum memintaku untuk pergi, maka selamanya aku tak akan pergi.

Aku mendengar bisikan pelangi yang semakin gusar. Aku tahu ia sudah memberikan toleransi waktu yang terlalu banyak. Benar, sudah saatnya aku kembali. Dan tahun depan aku akan menunggumu lagi disini. Menunggu untuk melihat rambutmu yang indah, memandangi senyummu yang selalu merekah, dan doamu yang selalu kau bisikkan. Oh, jangan lupa sesekali ajak malaikat kecilmu yang bernama Minji tadi. Aku hanya berharap dia tak sependek dirimu, hahahaha.

Sekali lagi pandangan mataku mencoba melihat secarik kertas kecil yang kau selipkan di antara rangkaian bunga tulip putih. Ah, masih kalimat yang sama.

Teruntuk pangeran putihku di surga,

Xi Luhan.

THE END

Asli saya merasa FF ini absurd banget. Entahlah, sukur-sukur kalau masih ada yang komen. Hehehehe

Pai~pai

Iklan

10 pemikiran pada “Among The Rain

  1. Ohhh setelah membaca nya akhir nya saya mengerti juga, waahh acungin jempol deh, alur nya pas banget thor.. dari penempatan waktu di tiap paragraf , selalu ada arti di tiap kalimat nya..kerenn dah.. sama gua juga suka pas yang menggambarkan luhan berkomunikasi sama matahari and pelangi haha, terkesan manis and fantasy dikit hehe.. like this deh.. keep writting thor

  2. Merinding selesai bc nih ff,keren thor
    Penasaran luhan meninggalnya kek gimana,ada kelanjutannya kan thor?ditunggu thor:) *komentnya agak gaje

  3. Wow~ baca ff ini terus dengerin lagunya jin – gone. Aduduh.. Sedihnya tambah berasa. Apalagi kata2 yang dipake bagus banget~ ya ampun.. Sedih banget, luhan… TT

  4. aaa gila feelnya dapet banget T-T diksinya keren gak berbelit. ff kayak gininih yg selama ini gue cari. pokoknya jempol buat lu thor ^^b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s