Excuse Me, Miss!!

Excuse me,miss!!

 POSTER!

Title: Excuse Me,Miss!!

Author: byubyu

Rating: PG-15

Genre: Family,Sad and Romance

Length: Oneshoot

Cast:

  • n  Song Jinhee (You)
  • n  Oh Sehun

Minor Cast:

  • n  Jung Minhee (OC)
  • n  Other casts

Desclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka,semua milik Tuhan kecuali artwork,story dan OC. Ini murni pemikiran author,dont plagiarize or copy w/o permission!

 

 

 

Summary:

 Apakah yang akan dilakukan saat cinta datang tanpa pengecualian?

Takdir yang menuntun mereka untuk bertemu. 

   Lets check it out…

 

 

 

Maaf apabila kita bertemu dengan cara seperti ini

Maaf karena aku telah jatuh cinta padamu

Terima kasih karena takdir berkata lain…

 

Excuse me,miss!!

 

 

Tess…Tess….Tess

Air yang turun dari langit semakin deras tetapi tidak membuat seorang gadis manis ini mengurungkan niatnya. Gadis ini berlari menerobos derasnya air hujan demi sampai ke tempat yang ia tuju.

Sebuah tempat bertuliskan ” Leaf cafe ” akhirnya tertangkap indra penglihatannya.

 

Ia memasuki cafe tersebut dengan langkah tergesa menuju ruang ganti karyawan. Ia terhenti saat mendapati tuan kim yang notabenenya adalah bosnya, berdiri di depan pintu ruang ganti karyawan. Ia meruntuki dirinya kenapa ia bisa melupakan bahwa hari ini ia mendapat shift pagi bersama sahabatnya minhee. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu melangkah perlahan menuju ruang ganti “Permisi,manager-nim. Maaf hari ini saya terlambat.” ujar gadis itu sambil menundukkan kepalanya.

Terbesit rasa bersalah dibenaknya karena untuk kesekian kalinya ia terlambat untuk bekerja.

“hmm…” lelaki paruh baya itu menghembuskan napas dengan kasar lalu melanjutkan ucapannya.

“Apa yang membuatmu terlambat kali ini nona song? Jangan bilang kau bangun kesiangan sehingga lupa dengan shift pagimu.” ujarnya tegas

“err..rrr..mengenai it–u,e-h maafkan saya e-iya itu..benar manager-nim. Tetapi jangan khawatir, saya berjanji tidak akan melakukannya lagi.” jinhee menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya tersenyum tanpa dosa.

“aku tidak butuh janjimu nona,ini sudah kesekian kalinya kau terlambat dengan alasan yang sama setiap kali kau terlambat. Ingat,aku tidak akan memaafkanmu lain waktu.” Kalau berdiri seperti ini terus lelaki tua ini pasti akan mengomeliku habis-habisan jinhee berujar didalam hati.

“Kau tau cafe ini sangat ramai dipagi hari da–“.

“baiklah tuan kim saya tau dan paham. saya pergi dulu manager-nim,permisi.” sela gadis itu sambil berlari masuk kedalam ruang ganti karyawan.

“Yah! Kembali kau kesini aku belum selesai bicara,song jinhee”. Teriak tuan kim. Setelah tahu tidak ada respon dari gadis muda itu,manager kim menjauhi tempat itu dan menuju ruang kerjanya seraya memijit keningnya.

 

Excuse me,miss!!

Setelah rapi dengan pakaian kerjanya serta lengkap dengan buku catatan dan nampan ditangannya, Jinhee bergegas melayani pelanggan yang sejak cafe dibuka sudah ramai akan pengujung. Dengan cekatan ia menulis dan mengatarkan pesanan dari meja ke meja sambil terus tersenyum manis kepada semua pelanggan cafe tersebut. seakan melupakan masalah-masalah yang terus menghantui benaknya.

Jinhee adalah tulang punggung keluarganya. Ibunya telah tiada sejak ia berumur 7 tahun. Ditambah lagi ia harus mengurus adik serta ayahnya yang selelu meminta uang untuk berjudi dan mabuk-mabukan. Walaupun begitu menyedihkan hidupnya. Jinhee akan selalu terlihat tegar didepan semua orang dan selalu menyembunyikan dukanya di balik senyum manisnya.

“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” tanya jinhee ramah pada salah seorang pelanggan yang baru saja mendudukan dirinya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya,

“Aku ingin memesan cofee serta menu spesial hari ini. Ah satu lagi,jangan terlalu pahit, panas dan lama. Ara?” jawab lelaki itu terkesan ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari gadget didepannya.

“baiklah tuan,tunggu sebentar.” ujar jinhee dengan senyum sedikit dipaksakan lalu melangkah meninggalkan meja pelanggan tersebut.

“Pelanggan macam apa dia, setidaknya mengucapkan terima kasih . Sebegitu sulithkah?” gerutunya sambil berjalan menuju counter.

Jinhee berjalan kearah Minhee yang berada di counter. Dari kejauhan jinhee menyadari tatapan kosong minhee. Ia menghampri minhee yang tengah bergelut dengan pikirannya. Minhee adalah sahabat jinhee sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di cafe ini. Hal yang wajar apabila ia melihat sahabatnya kini sedang ada dalam masalah.

“Minhee ada pesanan khusus dari tamu nomor 22,tolong cepat dibuatkan”. Ujar jinhee pelan, namun tidak ada kalimat yang keluar dari mulut minhee. Jinhee melirik sekilas kearah minhee. Jinhee tersenyum licik dan mencondongkan tubuhnya tepat ke arah telinga minhee, yang saat ini dalam posisi kedua sikunya diletakkan di meja counter  dimana kedua tangannya menopang dagunya. Minhee yang belum sadar akan kehadiran jinhee masih terus melanjutkan aktivitasnya sampai dengan “JUNG MINHEE ADA PESANAN!!” Teriak jinhee sambil beringsut dari posisi semula. Jinhee terkik saat melihat wajah kesal dari sahabatnya ini. Setidaknya jung minhee sudah kembali normal.

Minhee yang sadar akan teriakan jinhee, akhirnya menoleh ke arah jinhee dengan kesal.

“Aku tidak tuli. apa yang kau lakukan huh, kau kira kita sedang berada di hutan?” tanyanya ketus. Minhee menoyor kepala jinhee seraya berjalan ke arah dapur untuk memberikan pesanan pada kepala chef.

“Yah!! Jangan menyentuh kepalaku.” cibir jinhee kasar lalu beralih menatap minhee.

” Kau terlihat murung hari ini. apa ada masalah?” tanya jinhee dengan nada menyelidik.

“aku baik-baik saja. Hanya ada sedikit gangguan kecil saja di rumah.” ujar minhee pelan.

Jinhee membulatkan matanya “Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku,walaupun aku tidak bisa membantu banyak paling tidak kau bisa berbagi masalahmu padaku jadi kau tidak harus menanggungnya sendiri. Kitakan bersahabat” ujar jinhee seraya tersenyum manis. “berhenti bersikap sok tegar nona. Lagipula ini hanya masalah kecil tidak perlu dibesar-besarkan”. Minhee memutar bola matanya bosan.

“Yah!! Tidak sopan sekali kau Jung Minhee.” pukul jinhee tepat di kepala minhee sehingga membuat minhee mengaduh karena kesakitan.

“Kau sudah gila ya,kau mau membuat saraf-saraf dikepalaku ini rusak…” ujar minhee sambil mengelus bagian belakang kepalanya karena pukulan jinhee.

“ahh…maafkan aku minhee-ah, aku tidak sengaja. apakah sakit? Habisnya kau menyebalkan, aku hanya mencoba membantu.” bela jinhee sambil menyentuh begian belakang kepala minhee.

“ah,terserahlah.” ujarnya sambil menepis tangan.

 

Excuse me,miss!!

Jinhee kembali mengantarkan pesanan ke meja pelanggan tersebut. Jinhee yang sibuk dengan pikirannya berjalan lurus tanpa arah dan tidak sengaja tersandung kaki salah seorang pelanggan, sehingga membuat semua yang ia bawa mendarat mulus tepat di jas seorang pelanggan didepannya yang saat itu hendak berdiri. Dan tentu saja hari ini adalah hari yang sial menurut jinhee. Yah,sangat memalukan karena sifat cerobohnya sudah melebihi batas normal dan sialnya lagi kali ini pada orang yang salah.

“Yah! Lihat, apa yang kau lakukan pada jas kesayanganku?” bentak lelaki itu kasar.

“Aigoo,maafkan aku tuan, maaf. Sungguh aku tidak sengaja.” jinhee membungkuk berkali-kali dengan nada penuh penyesalan. Jinhee menundukan kepalanya dalam-dalam sambil terus meruntuki kecerobohannya. Lelaki itu menatap tajam jinhee dengan mata berkilat marah.

“kau kira dengan maafmu bisa membersihkan jasku ini huh,kau tau seberapa mahal dan pentingnya jas ini?” tukasnya sambil membersihkan jas yang kini bisa dibilang menjijikan.

 

Jinhee mendongak, menatap lelaki didepannya kini tidak percaya sebegitu berhargakah, lagipula aku tidak sengaja melakukanya. sombong sekali lelaki ini. ia tetap menatap lurus lelaki dihadapannya dengan pandangan sulit diartikan. Jinhee akui lelaki ini sangat tampan. garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang mempesona ditambah lagi kulitnya yang putih bersih membuat kesan tersendiri pada pria ini. itulah pendapat jinhee tentang lelaki dihadapannya saat ini. Dengan cepat ia mengerjapkan matanya dan menampik semua yang ada di pikirannya setelah mendengar penuturan kasar darinya yang seolah merendahkan harga dirinya Sadar Jinhee dia tidak lebih hanya orang kaya yang tidak pernah belajar sopan santun,bangunlah song jinhee. Jinhee menepuk kedua pipinya dan membalas tatapan lelaki itu tidak kalah sengit.

 

“Permisi tuan bukankah aku sudah meminta maaf pada anda. Tidak sopan sekali anda mengatakan hal seperti itu. Meskipun aku hanya seorang pelayan, anda tidak berhak merendahkan seseorang dikarenakan derajat dan uang yang anda miliki.” papar jinhee tersengal-sengal. Jinhee berusaha setengah mati menahan emosinya dan tidak meledak saat itu juga, gagal karena suaranya yang nyaring saat ini adu mulut antara ia dan lelaki tersebut menjadi perhatian selruh pengujung dan minhee yang menatap jinhee tidak percaya.

Hening…semua perhatian pengunjung tertuju pada jinhee dan lelaki yang kini saling beradu argumen satu sama lain melalui mata mereka yang berkilat marah.

“haha… Lucu sekali anda nona, apa ada yang salah dengan perkataanku? memang benarkan kau seorang pelayan dan apa gajimu cukup untuk membayar ganti rugi atas jas kesayanganku?” tantang lelaki itu masih dengan tatapan datar.

”Lalu apa yang harus aku lakukan? Mencuci jas yang anda pakai disini,tidak mungkinkan?, seperti yang anda ketahui ini semua diluar kendali saya. saya pikir urusan kita telah selesai tuan,permisi.” ucap jinhee tegas berlalu melewati lelaki itu.

 

Langkah jinhee terhenti setelah merasakan sesuatu yang tidak lain adalah tangan lelaki tersebut, menarik pergelangan tangannya hingga membuat jinhee kembali behadapan dengan sehun, hanya berjarak beberapa centi saja dipastikan dalam satu kali gerakan bibir mereka akan bertautan. Jinhee dapat merasakan deru napas lelaki itu menerpa wajahnya Deg…ada apa dengan jantungku, kenapa berdetak cepat dan tidak beraturan seperti ini. Mungkinkah aku sakit? Batin jinhee. Dengan cepat jinhee membuang pandangannya dan mendorong sehun menjauh.

 

“Kau tidak mengenalku? Jadi jangan bermain-main denganku dan jaga ucapanmu itu nona. Hah… kau pikir karena ketidak sengajaanmu menumpahkan pesananku itu, pekerjaanku bisa menunggu. Kau tau hari ini adalah hari terpenting dalam hidupku dan kau bilang diluar kendalimu dan pergi begitu saja.” tandas sehun seraya menatap jinhee sengit. Sehun kembali mencengkram pergelangan tangan jinhee.

“tolong lepaskan tanganmu tuan. Aku rasa kau memang sudah gila, kau kira aku terlihat seperti bermain-main, lalu apa yang harus aku lakukan? dan maaf aku terburu-buru.” jinhee menghempaskan tangan sehun lalu melangkah pergi dari tempat mereka berdiri. “ingat, urusan kita belum selesai nona. Kita akan bertemu lagi setelah ini.” ujar sehun pelan lebih kepada dirinya sendiri karena jinhee sudah pergi menjauh.

“ah dikarenakan masalah kecil ini. Saya meminta maaf kepada para pengunjung atas kegaduhan ini. Semoga hari kalian menyenangkan.” papar  jinhee kepada para pengujung yang mulai berbisik serta bergumam,ia berlari kecil meninggalkan sehun yang ternganga karena ucapannya.

Apa masalah kecil katanya? Kita lihat saja nanti nona… Sehun membatin dan kembali mendongakan kepalanya, saat melihat keadaan sekitar. Sehun menatap semua orang di dalam cafe, tersadar akan posisinya saat ini; berdiri ditengah-tengah cafe dengan jas yang kotor dan mulut sedikit terbuka sehingga membuat wajahnya merah padam karena malu. Oh tuhan apa salahku hari ini? Kenapa hari ini begitu sial? Ini semua karena gadis itu. Batin sehun dan mengambil langkah untu segera keluar dari cafe ini.

Sepanjang perjalanan keluar dari cafe tersebut, pandangan semua orang didalam cafe tersebut tertuju pada sehun, tatapan prihatin dan juga mengejek yang menemani setiap langkahnya.

Sehun melangkah pergi dengan menahan rasa malu karena perbuatan jinhe. Dengan jas yang kotor,ia menarik pintu keluar dari cafe tersebut dan melangkahkan kakinya ke parkiran dimana ia memarkirkan mobil mewahnya. Lalu mengemudiakannya menjauhi cafe tersebut dengan kecepatan di atas rata-rata.

 

Excuse me,miss!!

Disisi lain jinhee terus mengumpat akan kejadian yang baru saja terjadi,bukan karena kesal dengan pria sombong itu, ah bukan sebenernya ia masih kesal dengan lelaki bermarga oh tersebut. Tetapi bisa dibilang lebih dominan rasa was-was tentang dirinya yang terancam kehilangan pekerjannya karena ulah ceroboh yang ia barusan lakukan.

Sedikit bernafas lega, karena untungnya manager kim sedang berada di ruangannya seharian ini. Dan sama sekali tidak tertarik untuk keluar ruangan sekedar mengecek kegaduhan yang ia lakukan tadi. Tidakannya dengan segera menuntaskan hal-hal yang terkait dengan keributan yang berlangsung beberapa saat lalu ia akui sangat bermanfaat, dimulai dari meminta maaf kepada seluruh pelanggan yang menyaksikan pertengkaran kecil antara dirinya dan pelanggan aneh itu. Tunggu, kemana perginya lelaki sombong itu? Apakah dia sudah pergi? Atau jangan-jangan ia mengeluh atas ulahnya pada tuan kim. Jinhee menampik semua pikiran negatifnya sambil terus berjalan. Kecerobohannya memang sulit sekali hilang. Ia meruntuki dirinya sambil berjalan tanpa sadar, dan tiba-tiba merasakan sesuatu membentur dahinya. Ia mendongak dan mendapati ia telah menabrak punggung seseorang yang tidak lain adalah minhee. Minhee baru saja selesai mengantarkan pesanan terkejut kemudian membalikan badannya melihat siapa yang baru saja menabraknya. Dan mendapati jinhee sudah berdiri dibelakangnya dengan tatapan kosong. Seharusnya itu adalah pekerjaan yang dilakukan ia lakukan, dasar merepotkan, batin minhee. Jinhee yang seakan sadar mengaduh pelan.

“ahh appo-yo” ujarnya pelan sambil mengelus kening.

“Yah minhee-ah, kau menghalangi jalanku. Menyingkirlah dari jalan, aku sedang dalam mood yang buruk. Jadi tolong jangan menguji kesabaranku nona.” ujar jinhee tegas. Minhee menggeser posisinya dan mempersilahkan jinhee lewat. Jinhee berjalan melalui minhee yang kesal dengan ulah jinhee. Seharusnya akulah yang marah disini, kenapa jadi dia yang marah padaku? Batin jinhee. Ia terus memperhatikan jinhee yang telah mendudukan dirinya di salah satu kursi counter.

“Seharusnya aku yang marah padamu. Jalan saja, kau tidak benar. Jelas-jelas aku berada di depanmu dan seharusnya kau berterima kasih padaku karena kalau bukan diriku siapa lagi yang melayani pelanggan-pelanggan yang dari tadi menunggu pesanannya? Dan dikarenakan sifat cerobohmu yang mengerikan itu, kau bermasalah dengan salah satu tamu exclusive kita”. Minhee melipat tangannya di depan dada menatap jinhee sengit.

Menyadari hal itu, Jinhee hanya tersenyum polos. Kemudian tersadar akan kalimat minhee akan tamu exclusive. apa yang jinhee maksud lelaki sombong itu? Siapa namanya oh oh ya oh sehun?. “tamu exclusive?” tanya jinhee.

“ya, tamu yang baru saja berdebat denganmu. Ia adalah seorang pengusaha muda terkenal yang menanamkan modalnya disini dan kau baru saja mempermalukannya, nona song.” terang jinhee dengan nada menyindir. Oh no, ini tidak mungkin, batin jinhee.

“APAA?” teriak jinhee sehingga perhatian para pelanggan tertuju padanya. Membuat jinhee malu dan cepat-cepat membungkuk meminta maaf.

“kau tidak bercandakan?, ini gila.” ujar jinhee pelan tetapi masih terdengar oleh jinhee. “kau yang gila.” sahut minhee lalu pergi meninggalkan jinhee yang masih menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Yah, Jung minhee jangan tinggalkan aku!” jinhee berlari mengejar minhee yang telah masuk ruang ganti karyawan.

 

Excuse me,miss!!

Minhee telah disibukkan kembali dengan dunianya, sehingga tidak menggubris jinhee yang mulai tadi mengajaknya berbicara. Menyadari tidak ada respon dari minhee tenteang keluh kesahnya, kemudian memposisikan dirinya berhadapan dengan minhee.

“Yah, minhee-ah. Minhee, minhee.” panggil jinhee khawatir. Minhee tetap tidak bergeming dari tempatnya.

“Yah!! Jung Minhee, apa kau mendengarku?” teriak jinhe tepat di telinga minhee.

Minhee yang mendengar teriakan jinhee kembali ke alam sadarnya. Ia menoleh kearah jinhee yang memasang wajah kesal dan siap meledak. Bagaimana tidak sedari tadi jinhee memanggil minhee dan mengajaknya bicara namun orang yang mulai tadi diajak bicara sama sekali tidak mendengarnya, dan sekarang ia hanya memberikan tanggapan dengan tatapan “ada apa?”, Kemudian mengalihkan pandangannya lurus kedepan sambil membuka loker pribadinya.

Oh tuhan cukup sudah kau menguji kesabranku hari ini, bolehkah kali ini saja aku memukul wajah sahabatku sendiri? Jinhee hanya mendengus. Dan membuka loker pribadinya dengan kasar. Minhee yang mengeluarkan tas dari loker miliknya,  menghentikan sejenak aktifitasnya. Menatap jinhee bingung sebelum akhirnya memutuskan melanjutkan aktivitasnya.

 

Excuse Me,Miss!!

Setelah selesai mengganti pakaiannya, minhee berpamitan untuk pulang duluan dikarenakan alasan tertentu yang jinhee sendiri tidak tau. Padahal biasanya minhee akan bercerita apa saja pada dirinya. Jinhee hanya melambaikan tangannya melihat kepergian minhee.

Jinhee menghembuskan napas dengan kasar, akhirnya pekerjaannya telah selesai. Ia menuju halte bus yang tidak jauh dari cafe tempat ia bekerja. Ia menunggu bus berikutnya bersama segerombolan anak-anak sma. Ia menoleh memperhatikan segerombolan anak sma tersebut kenapa pada jam seperti ini anak-anak ini baru pulang, apa orang tua mereka tidak khawatir? Kalau itu soojin pasti akan kuhabisi dia. Batin jinhee, akhirnya pandangan jinhee teralihkan oleh kedatangan bus yang ia tunggu.

Jinhee duduk termenung di dalam bus, pikirannya menerawang jauh. Dimana masa-masa indah keluarganya dahulu. Minhee menoleh ke samping yang mendapati seorang ibu menenangkan anaknya yang berumur sekitar 5 tahun sedang menangis.

Jinhee kembali meluruskan pandangannya ke depan. Jinhe mengingat dimana saat ia menangis, mendiang ibunya akan memeluknya dan membisikan kata-kata indah yang dapat membuat jinhee tenang dan berhenti menangis.

Flashback :

Seorang anak perempuan sekitar 7 tahun dengan dress abu-abu selutut serta rambut panjang yang dibiarkan tergerai tertiup angin,membuat gadis kecil ini semakin terlihat manis. Ia mengalihkan pandangannya ke arah seorang wanita yang bisa dibilang tidak terlalu tua,dengan wajah putih dan bibir mungil yang pucat tersenyum ke arah gadis kecil tersebut. Gadis kecil itu melebarkan senyumnya hingga memamerkan deretan giginya yang putih,berlari mendatangi sang wanita yang tidak lain adalah ibunya. Ia terus berlari hingga terjatuh dan menangis. Ibu anak tersebut dengan panik menghampiri buah hatinya yang kini dalam keadaan luka pada siku dan lutut. Sang ibu mengendongnya dan terus melepaskan kata-kata “ssh diamlah sayang,jinhee anak manis kalau menangis tidak akan manis lagi”. Dengan mata penuh air mata,gadis kecil itu menatap mata coklat ibunya yang terlihat indah walaupun nampak sangat khawatir. Gadis kecil itu masih menangis dipelukan ibunya,hingga mereka sampai di rumah sederhana namun terkesan asri. Sang ibu menurunkan gendongannya dan mendudukan gadis kecil itu di sebuah sofa yang terletak di salah satu ruangan di rumah tersebut. Sang ibu berjalan meninggalkan gadis kecil yang masih menangis ke arah almari dimana terdapat kotak first aid. Dengan lembut dan cekatan sang ibu mengobati lutut dan siku anaknya.

 

“nah,jinhee-ah. Sudah ibu bilang jangan berlari di taman. Biar ibu saja yang berjalan ke arah jinhee.” ujar sang ibu sambil mengusap kedua pipi jinhee dengan ibu jarinya.

“hiks…habisnya eom–a la-ma sek-ali.” di sela tangisnya jinhee berbicara kepada ibunya.

“sudah sekarang berhenti menangis. Eomma akan memasakan bibim-bap favorit jinhee,otte?” sang ibu mendudukan dirinya di samping sambil mendudukan jinhee dipangkaunnya dan terus mengelus rambut anak perempuannya dengan penuh kasih sayang. Jinhee kecil tersenyum dan mengangguk. Sang ibu tersenyum dan mengelus kepala anak permpuan sambil mengucapkan “Jinhe anak yang kuat dan tegar. Berjanji pada ibu bahwa jinhee tidak akan menangis karena hal-hal keci. Teruslah tesenyum karena senyum jinhee adalah matahari bagi ibu dan ayah. Ibu menyayangi jinhee,yakso?” senyum menawan yang terakhir kalinya dapat jinhee lihat dari mendiang ibunya.

Flashback end

 

Tanpa terasa air mata jinhee mengalir deras membasahi pipinya, mengingat dimana saat terakhir ia dapat melihat senyum ibunya dan merasakan kasih sayang seorang ibu. Keluarga yang dulunya harmonis berubah, menjadi keluarga yang hancur. Sejak kematian ibunya, ayah jinhee. Ayah yang ia kenal sangat bertanggung jawab dan penyayang berubah menjadi seseorang yang pemarah dan suka membentak. Sang ayah juga tidak segan-segan menampar bahkan menendang jinhee ataupun soojin, saat dia dalam keadaan mabuk dan ingin meminta uang dari jinhee. Rumah peninggalan mendiang ibunya, dijual untuk melunasi hutang-hutang ayah jinhee.

Flashback

Ayah jinhee dulunya adalah seorang pengusaha yang usahnya cukup maju dan membuat mereka sekeluarga berkecukupan. Tetapi takdir tidak memihak jinhee,ayahnya dililit banyak hutang karena ia ditipu oleh rekan bisnisnya, dimana saat itu ia menawarkan untung yang besar sehingga membuat ayah jinhee dan tergiur untuk ikut dalam bisnis tersebut. Ibu jinhee mencoba melarang ayah jinhee saat melakukan hal tersebut,tapi ayah jinhee yakin bahwa keputusannya tidak salah.

Hari demi hari berlalu ibu jinhee mengidap penyakit kanker stadium akhir yang membuat hidupnya dapat diprediksi tidak akan lama lagi. Perusahaan ayah jinhee mengalami penurunan sangat drastis sehingga keuangan mereka terkuras habis untuk menutupi hutang perusahaan, ditambah lagi biaya operasi yang akan dilakukan oleh ibu jinhee. Menyebabkan ayah jinhee frustasi dan sering keluar malam pulang dipagi hari dengan baju lusuh dan bau alkohol menyeruak. Ibu Jinhee meninggal dimana jinhee mulai memasuki sekolah kelas menengah. Biaya sekolah jinhee di biayai oleh Kakek jinhee. Kakek jinhee tinggal bersama sooji yang saat itu berumur 2 tahun lebih muda dari jinhee. Sooji adalah seorang anak yatim piatu yang diangkat oleh kakek jinhee.

Hidup Jinhee tidak semulus yang dipikirkan,kakeknya meninggal dunia setelah menggalami kecelakaan maut saat jinhee baru saja lulus dari sekolah menengah atasnya. Dan tentu saja itu menjadi pukulan berat bagi jinhee tetapi ia berjanji pada ibu dan dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menangis dan terus berusaha.

Flashback End

 

Excuse Me,Miss!!

Jinhee membuka pintu apartemennya, kemudian berjalan masuk ke dalam apartemennya.

“aku pulang…..” teriaknya sambil melepas alas kaki dan sepatu yang ia kenakan. “soojin,apa kau sudah makan?” ujar jinhee sambil membuka kulkas. Kemudian berjalan ke kamar soojin yang tidak jauh dari dapur.

Tentu saja, apartemen yang mereka tempati, walaupun sempit tetapi masih layak untuk dihuni sejauh ini. Pada kenyataanya apartemen inilah satu-satunya tempat tinggal dengan sewa yang paling murah.

Soojin menoleh saat mendapati kepala jinhee sudah menyembul di pintu kamarnya.

“Ahh, noona sudah pulang? Aku sudah kenyang. aku memasak ramen untuk makan malam tadi. Aku yakin pasti noona belum makan, makanlah noona pasti kau sangat lelah  dan lapar setelah bekerja seharian.” ucap soojin lembut disertai senyum manisnya.

“Aigoo,uri soojin sudah semakin dewasa saja. Tapi aku sudah terlanjur membeli makanan untuk dua orang, sayang sekali padahal ini makanan dari kedai ahjumma favoritmu”. Ujar jinhee dengan nada menggoda soojin dan berjalan mendekati adiknya.

“Noona jangan menggodaku. Aku ada ujian besok, besok adalah hari dimana tes masuk perguruan tinggi impianku dimulai.” terang soojin pada jinhee kemudian kembali mengalihkan pandangan matanya untuk membaca buku – buku diktat didepanya.

“Jangan terlalu memaksakan diri soojin-ah, nanti kau sakit. Kulihat dari kemarin kau belajar dengan buku-buku tebal itu. Ayolah temani noona makan. Jebal, soojin yang tampan.” rengek jinhee. Soojin mengatupkan kedua matanya sejenak lalu berdiri menghampiri jinhee yang berada tidak jauh darinya.

“Kajja,aku temani noona makan setelah itu noona harus mandi dan istirahat,ara?” ujar soojin seraya menarik tangan jinhee.

“ahhh…baiklah tuan muda soojin” Jinhee tertawa pelan akan tingkah soojin sambil mengacak rambut adiknya itu. Soojin hanya mendengus merapikan rambutnya kemudian melangkah mendahului jinhee.

 

Excuse Me,Miss!!

Malam itu, kedua kakak beradik ini makan malam dengan penuh canda tawa. Sesekali soojin dibuat kesal oleh jinhee yang terus menggoda soojin mengenai Kekasih. kemudian tertawa melihat reaksi wajah soojin yang merah akan malu.

“Noona berhentilah menertawkanku. Noona sendiri, kapan mengenalkanku pada teman lelakimu padaku?, kau tau noona. Kau suadah semakin tua dan…A-tau jangan-jangan noona penyuka sesama jenis,aata–Yaahh appo” ringis soojin. Lemparan sendok dari jinhee sukses mendarat mulus di atas kepala remaja lelaki ini.

“Enak saja,kau kira aku ini apa? Aku ini masih normal, pabo. Dan masalah kekasih aku masih belum menemukan seseorang yang cocok denganku, lagipula aku ingin fokus bekerja dulu dan melihatmu menyandang gelar sarjana.” Ujar jinhee mantap yang hanya dijawab anggukan oleh soojin.

Suasana diantara mereka berdua berubah menjadi hening. Tidak satupun yang membuka suaranya ataupun mulai membuka percakapan baru. Karena mereka berdua tenggelam degan pikiran meraka masing-masing. Hingga, akhirnya soojin membuka suara untuk memulai percakapan kali ini.

“Berhentilah memikirkan kebahagian orang lain noona dan jangan memaksakan dirimu untuk bekerja terlalu berlebihan.” ujar soojin pelan. Ia menatap jinhee sedih.

Mendengar hal yang baru saja terlontar dari mulut soojin, jinhee melirik soojin sekilas kemudian menghentikan kegiatan mengunyah makanan yang ia santap. Jinhee meletakan sendoknya dan mengambil segelas air minum lalu meneguknya sampai habis.

Soojin melanjutkan apa yang telah lama ia ketahui mengenai jinhee “Noona,tidak seharusnya merahasiakan semua ini dariku. Kenapa noona memendamnya sendiri tentang penyakit noona?” soojin mulai meninggikan suaranya.

“Yah,song soojin apa yang sebenarnya kau bicarakan? Jangan bicara seperti itu kepada orang yang lebih tua, aku tidak pernah mengajarimu meninggikan suaramu ketika berbicara dengan orang yang lebih tua.” elak jinhee dengan nada sedikit bergetar karena panik. Jinhee membuang pandanganya ke sekitar.

“Noona berhenti mengalihkan pembicaraan, sejak kapan noona mengidap penyakit itu? Kenapa noona merahasiakannya dariku? Harusnya noona memikirkan kesehatan noona, bukannya terus mencari uang untuk pria tua itu. Tidak ada gunanya noona, ayah terus saja akan mengamburkan uang untuk hal yang tidak pen–” ucapan soojin terhenti saat mendapati pipinya memanas akibat tamparan jinhee

“Hentikan song soojin kau tidak tau apa-apa tentang ayahku!!” jinhee menangis. Jinhee tidak mengerti apa yang baru saja ia lakukan pada soojin, pikirannya kacau. Ia terus menangis.

“Hah…terserah kau sajalah song jinhee,aku tidak peduli.” teriak soojin,bangkit dan berlari menuju kamarnya. Soojin menangis dalam diam, dimana disisi lain jinhee memegang tangan yang digunakan untuk menampar soojin sambil menangis tersedu-sedu.

 

Excuse Me,Miss!!

Cuaca hari ini sangat bersahabat, pagi hari yang cerah dimana warga seoul memulai akivitas mereka. Kendaraan berlalu lalang dijalanan dan berpuluh-puluh orang berjalan di barisan pejalan kaki. Song Jinhee merupakan salah satu pengguna jalan di seoul,dengan langkah terburu ia memasuki pintu cafe tempat ia bekerja.

Cafe yang ramai setiap harinya. Kini tiba-tiba saja tampak lebih lengang dari biasanya. Jinhee memandang bingung sekitarnya, untungnya manager kim datang di saat jinhee butuh penjelasan. Sesaat dimana jinhee ingin membuka suaranya tuan kim sudah terlebih dahulu menyapa dirinya.

“Ah,annyeong nona song. Bagaimana pagi anda hari ini? Semoga menyenangkan. Persiapkan diri anda karena hari ini pemilik cafe ini akan datang dan mulai bekerja disini?” terang manager kim dan disambut dengan “o” oleh jinhee.

Manager kim meninggalkan jinhee yang masih belum bergeming dari tempatnya. Minhee yang baru saja keluar dari ruang ganti menghampiri jinhee yang terbengong dengan tatapan kosong ditempatnya.

Minhee mengibaskan tangannya di hadapan wajah jinhee sambil memanggil nama jinhee. Jinhee yang baru saja sadar akan kehadiran minhee tepat di depannya,terkejut kemudian merubah ekspresi wajahnya yang terkesan datar.

“Kau mengagetkanku saja minhee-ah” ujar jinhee melengos meninggalkan minhee, ia menatap kepergian jinhee bingung. Ia bertingkah aneh,hari batin minhee yang terus menatap jinhee yang telah masuk kedalam ruang ganti karyawan. Minhee berlari mengikuti langkah jinhee.

“Hey,ada apa dengan mata sembab dan pembawaanmu hari ini? Apa kau baik-baik saja?” tanya minhee khawatir. Jinhee memasuki membuka loker miliknya dimana minhee terus mengikuti pergerakan jinhee.

“Aku tidak apa-apa,hanya ada masalah sedikit dirumah.” sahut jinhee seraya tersenyum tipis.

“Oh begitu, kau sudah diberi tahu manager kim bahwa bos baru kita akan bekerja hari ini. Dan aku dengar dari jungsik, ia sangat tampan. Tapi aku heran, kenapa ia baru mau bekerja disini hari ini padahal cafe ini sudah berdiri sejak tahun lalu?” ujar minhee sambil mengikuti langkah jinhee.

Jinhee hanya menggendikan bahunya dan melangkah keluar ruang ganti. Minhee tak ada henti-hentinya mengikutin langkahnya dan mengajak jinhee berbicara, sekali-kali jinhee menanggapinya dengan anggukan dan gelengan kepala.

 

Excuse Me,Miss!!

Saat ini eluruh karyawan dan staff cafe sudah berbaris rapi di ruangan tengah, cafe. Sehun mendorong pintu cafe lalu melangkah memasuki cafe. Saat ini semua mata tertuju padanya. Jinhee yang tadinya duduk di salah satu meja kini berdiri karena shock. Ia membulatkan matanya tidak percaya akan Pemandangan dihadapanya kini andai kata tiada saraf dan otot-otot mata yang menahan, jinhee yakin matanya sudah terlepas saat itu juga.

Manager kim mulai membuka suaranya “Selamat pagi dan Selamat datang di cafe ini, sajangim!” manager kim membungkukkan badannya. Sehun melakukan hal yang sama pada manager kim seraya tersenyum simpul. Sehun mengalihkan perhatiannya dan mendapati jinhee memandangnya tidak percaya, mereka beradu pandang beberapa saat kemudian sehun menunjukan senyum miring anadalanya, yang mana dapat meluluhkan hati puluhan wanita saat melihatnya. Disisi lain Jinhee membuang muka mengetahui hal tersebut.

“Baiklah, perkenalkan dia adalah Oh Sehun. Pemegang saham terbesar dan pemilik cafe ini, sekaligus pengusaha muda berbakat di korea. Mulai hari ini beliau akan bekerja tetap di cafe ini.” terang manager kim kepada seluruh karyawan, Jinhee semakin shock dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Baiklah,semuanya dapat kembali bekerja. Cafe akan dibuka 10 menit lagi.” manager kim menepukkan tangannya, menandakan semua karyawan agar bubar dan kembali bekerja.

Jinhee membalikkan badannya, berniat ingin cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut. Namun, sepertinya ia harus mengurungkan niat tersebut. Mendengar seseorang memanggil namanya, ia menolehkan kepalanya dan mendapati sehun berjalan kearahnya. Jinhee mematung ditempat karena masih segar diotaknya dimana pertengkaran kecil itu terjadi, dimana ia mempermalukan sehun di depan banyak orang. Dan sekarang orang itu berdiri dihadapanya. Kenapa dunia begitu sempit, mengapa harus orang itu yang menjadi pemilik cafe ini? OH GOD,beginikah hidupku harus se-benci itukah Tuhan padaku, apakah ini akhir dari semuanya? sudah diapastikan aku kehilangan pekerjaan ini. D-an bagaimana nasib soojin nantinya? Suara hati jinhee terus meronta-ronta. Dimana Pikiran jinhee tidak karuan ditambah lagi ia tidak bisa tidur karena terus-terusan menangis. Jinhee memegang kepalanya, semua terasa berputar, pandangannya mulai buram dan  gel—ap.

 

Excuse Me,Miss!!

Jinhee mulai membuka matanya, samar-samar. Ia mengamati ruangan yang asing baginya, serba putih. Itulah pemandangan yang dapat ditangkap oleh indra pengelihatannya saat ini. Pandangannya teralihkan dan fokus pada objek yang kini menatapnya dengan datar tetapi tersirat tatapan kekhawatiran. Jinhee meneguk salivanya dengan susah payah, Kemudian membuka suaranya “Sa-sajangnim,apa yang anda lakukan disini dan mengapa saya disini?” ujarnya parau. Setelah susah payah jinhee mengeluarkan suaranya. Sehun tidak bergeming dari tempatnya, ia hanya diam membisu.            Hening, tidak ada percakapan diantara mereka. Sehun dan Jinhee sama-sama tenggelam dengan dunia mereka sendiri. Akhirnya, bunyi decitan kursi yang sehun duduki memenuhi ruangan, membuat jinhee terkejut dan mendongak. Ia menatap sehun yang telah berdiri memunggunginya. Sehun menolehkan kepalanya ke kanan untuk menatap jinhee sebentar, kemudian kembali memunggungi jinhee. Sehun membuka suaranya dan membuat jinhee memfokuskan perhatiannya pada sehun.

“Nona song, maukah kau menikah denganku?” sehun menghela napas pelan sebelum kembali melanjutkan perkataannya “Aku serius, tolong pikirkan dan berikan aku jawaban secepatnya! “. Sehun berjalan menuju pintu keluar, dimana saat ia sudah memutar kenob pintu ruangan dimana jinhee dirawat bernit hendak keluar. Jinhee membuka suaranya ”Apa hanya karena kau kaya jadi kau berbicara seenaknya? Apa aku terlihat seperti wanita yang akan tergiur akan uangmu?”. Jinhee tertawa pahit, “Kau pikir karena aku miskin jadi aku tidak memiliki harga diri. Bahkan kita sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Sungguh ak-” Jinhee merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya. Sehun melepaskan ciuman sepihak mereka yang kemudian dilanjutkan dengan menatap mata jinhee lekat,”Apa kau percaya apabila kukatakan bahwa cinta pada pandangan pertama itu berlaku? saat dimana kau tidak sengaja menumpahkan pesananku dan membuat jas kesayanganku, kotor.” Sehun mengacak rambutnya kasar kemudian melanjutkan perkataanya “Bahkan dengan beraninya kau membetak dan memaki seorang oh sehun”. Sehun tertawa pelan lalu menatap jinhee sendu “aku merasakan hal yang berbeda saat berada didekatmu, selain itu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa kita pasti akan bertemu lagi. Menikahlah denganku, kita hadapi semua bersama. Aku tidak peduli tentang latar belakang ataupun masa lalumu.” Sehun beralih mengelus pipi tirus jinhee             “Yang ada saat ini adalah seorang Song Jinhee. Seorang wanita yang sangat dicintai oleh seorang Oh sehun. Aku tidak memaksamu untuk langsung mencintaiku, tetapi berjanjilah satu hal bahwa kau akan belajar mencintaiku. Kita ulang semua dari awal dan lebih mengenal satu sama lain seperti yang kau inginkan.” Sehun mengakhiri perkataanya dengan mencium puncak kepala jinhee. Jinhee hanya menatap sehun kosong, sebelum akhirnya ia mengatakan hal yang membuat dirinya sendiri tidak percaya “Baiklah, aku terima lamaranmu tuan oh sehun.” Sehun memandang jinhee tidak percaya “Ya, aku tau kau tidak akan pernah bisa menolak ketampanku ini.” sehun mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum nakal.

well,excuse me miss for falling in love with you.

 

THE END

 

 

A/n : hii ^.^ sebelumnya terima kasih kepada admin yang sudah mau ngepost ff gaje ini,dan para readers yang sudah sudi membaca ff yang aneh dari saya ini. /ngelap ingus

Semoga kalian bisa menikmatinya /alah paan sih lo lebay thor/.

Leave a comment please,saya sangat menghargai kritik dan saran kalian semua. maaf juga kalo ada typo bertebaran karena saya bukanlah makhluk sempurna. /banyak bacot dah lo thor/ /dilempar sapu readers/. Thank you so much *bow!

 

 

 

 

 

 

46 pemikiran pada “Excuse Me, Miss!!

  1. eummm…
    awalnya gue kga ngerti, sory ye thor..
    ini juga ,sih ngegantung… moment mereka berduanya masih kurang… hehe,,, kalo bisa sih Sequel

  2. Kayanya banyak salah nama deh. Masa si jinhyee ngomong kaya yg kesel terus dia ngomong kaya yg kaget sih? Emang dia punya kepribadian ganda? Sekali dua kali salah nama sih wajar, tp banyak gini mah bikin ilfeel, feelnya jd ga kerasa. Terus jg banyak kalimat yg ga efektif karena pengulangan kata kaya. “kata ia katanya”

    Aku sih cuma ngasih saran aja sih ya, mending dibaca ulang deh sebelum ngirim. Tp kalau kamu ga nerima kritik & saran jg ga apa2 sih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s