Go Sarang! (Chapter 7)

GO SARANG! (3)

Judul : GO SARANG! Chapter 7

Author : Xoxo_baekhun

Genre : Romance, Family, Relationship, Sad

Length : Chapters

Main Casts:

  1. Elaine Lee
  2. Park Chanyeol
  3. Oh Sehun

Supporting Casts:

  1. Lee’s Family

And others..

Rating : PG-16

Summary : Bagaimanakah kelanjutan hubungan El, Chanyeol, maupun Sehun? Apakah El akan memilih Chanyeol dan melupakan segala bentuk kebaikan Sehun? Atau justru sebaliknya?…

 

LET’S GET STARTED ^^

Kini seluruh member Super Junior dan juga beberapa staff  dan koreografer SM sedang berkumpul di dalam sebuah ruangan meeting.

Chanyeol pun juga berada ditengah-tengah mereka. Ia tampak mendengarkan dengan serius kata demi kata yang keluar dari mulut Sang Ketua Tim Koreografer. Sementara El menunggu mereka semua di ruangan sebelah. Tentu saja El harus menunggu diruangan yang berbeda dari tempat rapat, karena Perusahaan takut album baru yang tengah disiapkan bocor sebelum waktunya.

Sebenarnya, lagu buatan Chanyeol sudah selesai direkam, tetapi masalah koreografilah yang sedang mereka diskusikan.

“Jadi bagaimana menurutmu, Chanyeol-ah? Apa kau setuju?” Tanya Sang Ketua Tim yang sudah menatap Chanyeol.

Chanyeol pun tampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk menyetujui ucapan Si Koreografer.

“Aku pikir gerakan itu akan sesuai dengan lagunya.” Jawab Chanyeol kemudian tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Aku sudah tidak sabar untuk berlatih.” Ucap Donghae bersemangat, dan diikuti dengan anggukan Eunhyuk dan Shindong.

“Baiklah kalau begitu. Rapat malam ini kunyatakan selesai. Besok aku akan memberikan laporannya pada Sajangnim.” Lanjut Si Koreografer, kemudian mengambil seluruh barang bawaannya.

“Baiklah, sampai jumpa.” Ucapnya, kemudian meninggalkan ruangan.

Setelah mengucapkan salam perpisahaan, Chanyeol pun segera keluar dan menuju ke ruangan sebelah, tempat dimana El sedang menunggnya.

Sungguh, Ia benar-benar merasa bersalah karena telah membiarkan gadis itu menunggunya selama hampir dua jam.

Chanyeol pun langsung masuk, dan menghampiri El yang tengah tertidur di sofa. Kemudian berjongkok dilantai, tepat dibawah El.

Chanyeol pun tersenyum begitu memperhatikan wajah pulas El.

‘Benar-benar manis.’ Ucapnya dalam hati.

“El-ssi, ayo bangun.” Ucap Chanyeol pelan, seraya membangunkan El lembut.

Tangan Chanyeol sudah membelai lembut puncuk kepala El sambil tersenyum manis.

Tak ada jawaban apapun dari El. El tampak sangat lelah dan juga mengantuk.

Chanyeol pun membangunkan El sekali lagi.

“El-ssi, ayo bangun cepat. Atau kau mau kita dikunci disini sampai esok pagi.” Ucap Chanyeol lembut.

Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya El pun menunjukkan respon sadarnya. Ia menguap panjang sebelum membuka kedua matanya. Ia menggosok-gosokan kedua matanya dengan tangannya. Lalu merenggangkan otot punggungnya yang terasa kaki.

Dan lagi-lagi Chanyeol hanya bisa tersenyum bahkan sesekali tertawa kecil melihat tingkah gadis dihadapannya.

Kemudian Ia bangkit berdiri menatap El.

“Sudah bangun, putri?” Tanya Chanyeol.

El pun menatap Chanyeol sambil tersenyum.

“Aku sampai lupa kalau aku ada di tempat ini.” Jawab El, kemudian bangkit berdiri. Lalu tersenyum.

“Maafkan aku.” Ucap Chanyeol, lalu tersenyum. Kemudian kembali mengusap lembut puncuk kepala El.

Sontak El pun kaget dan juga malu atas perbuatan Chanyeol barusan. Pipinya kembali memanas. Kali ini, tubuhnya juga ikut menegang.

“Untuk apa?” Tanya El setelah berhasil mengatur imajinasinya.

“Karena telah membuatmu menunggu.” Jawab Chanyeol, lalu menarik tangan El lembut.

“Sebaiknya kita pulang sekarang, atau kedua orangtuamu akan cemas menunggu anak gadisnya yang belum juga pulang.” Sambung Chanyeol ditengah langkah mereka menuju lift gedung.

El pun kemudian melihat jam tangannya.

“Ya ampun, ternyata sudah pukul setengah 1.” Ucap El kaget.

“Ne. Aku akan mengantarkanmu pulang, El-ssi.” Ucap Chanyeol, kemudian tersenyum.

El pun membalas senyuman tulus Chanyeol sambil mengangguk.

“Terimakasih, Chanyeol-ssi.” Ucap El.

Mereka berdua memutuskan untuk berjalan kaki kerumah El. Karena sudah tak ada lagi bus yang beroperasi jam segini, serta daritadi keduanya tidak melihat adanya taxi yang lewat.

“El-ssi.” Panggil Chanyeol yang masih mengenggam tangan kanan El.

El pun menoleh kearah Chanyeol.

“Wae?” Tanyanya, sambil membenarkan tas gandengnya.

Chanyeol sempat diam dan bingung sejenak. Kemudian menggaruk kepalanya menggunakan tangan kanannya.

“Ada apa, Chanyeol-ssi?” Tanya El penasaran.

“Hmm.”

Hanya itulah reaksi yang dikeluarkan Chanyeol, kemudian ia berhenti berjalan dan menatap El.

El pun juga menatap Chanyeol dengan tatapan bingung sekaligus penasaran.

“Bisakah kita tidak menggunakan bahasa formal mulai dari sekarang?” Tanya Chanyeol. Kemudian kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

El pun hanya tersenyum, kemudian menggenggam tangan besar Chanyeol, dan menarik Chanyeol untuk kembali melangkah.

“Kajja, Oppa.” Ucapnya sambil tersenyum.

Chanyeol pun langsung tersenyum mendengar El memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’

Entahlah, El sendiri bahkan tak begitu suka dengan panggilan-panggilan seperti itu. Benar-benar mengganggu. Tapi untuk Chanyeol, ia memberikan pengecualian.

Keduanya menikmati dinginnya malam sambil tertawa kecil. Meski hari sudah dapat dikatakan pagi, masih ada juga ternyata para muda-mudi yang berjalan-jalan, mengingat hari ini adalah hari minggu, dimana kebanyakan orang yang bekerja sedang menikmati liburan mereka.

“Apa kau tidak punya nama korea?” Tanya Chanyeol tiba-tiba.

El pun menggeleng.

“Hmm. Mana bisa seperti itu. Kau ini kan tetap orang korea meski kau tidak lahir dan besar disini.” Ucap Chanyeol.

“Tapi orangtua ku tidak memberikan nama korea padaku.” Jawab El apa adanya.

“Mau aku buatkan?” Tanya Chanyeol, kemudian tersenyum.

“Boleh.” Jawab El.

“Baiklah. Aku akan memikirkannya.”

El pun mengangguk menyetujui ucapan Chanyeol.

 

 

Park JaeMin’s Rent Apartment

Irwon , Gangnam – Seoul – South Korea

Saat ini El merasa dirinya adalah mahluk paling bodoh yang pernah hidup di dunia ini. Bagaimana tidak? Ia bahkan lupa bahwa keluarganya mempunyai aturan yang tidak boleh dilanggar, yaitu ‘Tidak ada pintu masuk jika kalian pulang ke rumah lebih dari jam 12 malam, tanpa ijin terlebih dahulu.’

Alhasil, Ia tidak berhasil masuk rumahnya, karena kedua orangtua dan adiknya tentu saja sudah tertidur pulas dikamar mereka masing-masing.

Sehingga saat ini Ia sudah berada di Apartment milik kakak perempuan Chanyeol. Ya, tentu saja Chanyeol takkan tega membiarkan El tidur dijalanan, maka dari itu, Ia memutuskan untuk mengajak El menginap di Apartment Noonanya.

Awalnya Chanyeol sempat mendapat godaan dari Noonanya, karena ini adalah kali pertama Noonanya melihat Chanyeol membawa pulang seorang perempuan. Tapi kemudian Noonanya itu berhenti meledek Chanyeol dan El, setelah Chanyeol memberitahu Noonanya bahwa El itu adalah putri sulung Bos Besarnya.

“El, kau bisa tidur dikamarku. Aku akan tidur di ruang tamu.” Ucap Chanyeol sembari menatap El yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu.

“Ne?” Tanya El kaget.

Ia benar-benar merasa tidak enak hati terhadap Chanyeol.

“Ne, agashi. Kau bisa tidur dikamar Chanyeol.” Jelas Noona Chanyeol, kemudian membungkukkan kepalanya tanda Ia menghormati Putri Bosnya itu.

Sejujurnya El bingung. Kenapa dirinya tidak tidur bersama Kakak Perempuan Chanyeol, sehingga Chanyeol bisa tidur dikamarnya sendiri.

“Eonni, Kau tidak perlu memanggilku seperti itu. Aku ini lebih muda darimu.” Ucap El mencoba mencairkan suasana canggung diantara dirinya dan Kakak Chanyeol.

“Bagaimana bisa begitu, nona? Kau ini adalah anak Bos Besarku. Aku tetap harus bersikap sopan kepadamu.” Jawab Park Jaemin kemudian tersenyum sopan.

El pun menggeleng sambil tersenyum, kemudian melangkah mendekati Jaemin yang tengah menatapnya bingung.

Setelah sampai di depan Jaemin, El kembali menunjukkan senyuman manisnya, lalu mengulurkan tangan kanannya kedepan Jaemin.

Jaemin pun bingung dengan perlakuan El kali ini.

“Namaku El. Aku teman Chanyeol.” Ucap El, memperkenalkan dirinya.

Jaemin pun tersenyum canggung, kemudian membalas uluran tangan El.

“Namaku Park Jaemin, kakak perempuan Chanyeol.” Balas Jaemin, sambil tersenyum. Kali ini tersenyum tulus.

Sungguh, Ia tidak menyangka adiknya bisa berteman dengan Putri Bos Besarnya, dan untungnya Putri Kaya ini tidak memiliki hati yang sombong. Ia masih mau bergaul bersama pegawai perusahaan Ayahnya.

Chanyeol pun berjalan menghampiri keduanya setelah melihat perkenalan antara Kakaknya dan juga El.

“Eonni, apa aku boleh tidur bersamamu? Tidak baik jika Chanyeol Oppa tidur di ruang tamu. Ia bisa sakit.” Ucap El, kemudian tersenyum kearah Jaemin, kemudian Chanyeol.

Jaemin sempat menatap El dengan tatapan sedikit ragu, sebelum akhirnya mengangguk menyetujui permintaan El. Ia benar-benar senang karena Adiknya tidak salah dekat dengan perempuan.

“Baiklah. Chanyeol-ah, kau kembali masukkan bantal dan selimut ini ke kamarmu.” Perintah Jaemin, kemudian tersenyum. Lalu menarik pelan lengan El untuk memasuki kamar tidurnya.

Bagaimanapun, Ia sudah benar-benar lelah saat ini. Apalagi Ia masih harus masuk kerja pagi hari nanti.

‘Benar-benar menyebalkan.’ Gerutunya dalam hati.

El tampak tersenyum kearah Chanyeol saat dirinya mengikuti langkah Jaemin. Chanyeol pun membalas senyuman El, sambil melambaikan tangannya.

“Selamat malam.” Ucap Chanyeol tepat setelah Jaemin menutup pintu kamarnya.

‘Cih.. Pengecut.” Umpat Chanyeol pada dirinya sendiri.

Sesungguhnya, Chanyeol merasakan getaran didadanya tiap Ia berada didekat El. Terlebih saat dirinya menggenggam jemari-jemari El. Saat El membalas senyumannya, saat El memanggilnya ‘Oppa’, dunia seakan berhenti.

Ia senang berada didekat El. Tapi belum mengetahui apa itu benar-benar perasaan cinta, atau hanya sebatas rasa rindunya pada Sang Adik di Kampung Halamannya.

‘Aku bisa gila!’ Teriak Chanyeol dalam hati, kemudian mengambil bantal dan selimut yang tadi Ia keluarkan, lalu beranjak menuju kamarnya.

 

 

-The Next Day-

 

El baru terbangun dari tidurnya tadi pagi. Matanya terasa sangat lelah, begitu juga dengan tubuhnya. Ingin rasanya Ia kembali menarik selimut dan kembali tidur, tapi itu semua Ia urungkan karena mengingat bahwa Ia sedang menginap di rumah orang. Maka dari itu, sebagai tamu yang baik, El mencoba untuk bangkit bangun dan berjalan keluar kamar.

Baru Ia sadari kalau Kakak Perempuan Chanyeol sudah tidak ada di rumah.

‘Mungkin Ia sudah berangkat kerja.’ Pikir El.

Kemudian Ia duduk di sofa, lalu memperhatikan Apartment itu. Tampak simple, namun modern.

Lalu tatapannya tertuju pada pintu kamar Chanyeol yang masih tertutup. Ya, Park Chanyeol memang masih belum bangun.

El pun menghembuskan napas kecewa karena Chanyeol tak kunjung keluar dari kamarnya. Kemudian Ia mengalihkan pandangannya kearah televisi yang terletak di depan sofa tempat Ia duduk. Ia pun mengambil remot dan memencet tombol ON.

Ia langsung memindahkan saluran televisi ke saluran yang sering Ia tonton di pagi hari, Spongebob Squarepants. Bukan maksud kekanak-kanakan, tapi semenjak Ia tinggal di Korea, Ia belum menemukan acara TV lain yang menarik perhatiannya, maka dari itu, Ia masih tetap menonton cartoon tersebut.

Tanpa terasa, satu jam sudah terlewati. Kemudian El menatap layar televisi yang sudah berganti acara. Karena bosan, Ia pun langsung mematikan televisi itu. Lalu kembali menatap pintu kamar Chanyeol.

“Apa jangan-jangan Ia sudah tidak ada disini?” Tanya El pada dirinya sendiri. Lalu bangkit berdiri, dan berjalan pelan ke pintu kamar Chanyeol.

Ia pun mengetuk pintu kamar Chanyeol beberapa kali. Karena tidak ada jawaban dan curiga pertanyaannya tadi adalah Benar, maka Ia langsung membuka pintu kamar Chanyeol.

Senyuman pun langsung menghiasi bibir El, ketika melihat Chanyeol masih tidur di kasur miliknya. Chanyeol masih menutup kedua matanya dengan mulut yang sedikit terbuka, dan selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher.

Tanpa Ia sadari, Ia berjalan pelan menghampiri Chanyeol. Ia tetap tersenyum menatap wajah tidur Chanyeol .

Sesekali Ia mendengar dengkuran pelan Chanyeol. Tapi bukan perasaan jijik yang muncul, Ia malah terus tersenyum, bahkan sesekali tertawa kecil.

Kemudian Ia duduk dilantai, tepat disebelah kasur Chanyeol. Mereka berhadap-hadapan tentunya, tapi Chanyeol masih saja tidak sadar akan kedatangan El.

El masih tersenyum memandang wajah tampan Chanyeol. Ya, meski dalam tidurnya, Chanyeol masih bisa terlihat seperti seorang selebriti papan atas diatas panggung.

‘Benar-benar tampan.’ Puji El dalam hati.

Kemudian tangan kanan El berusaha untuk menyentuh wajah Chanyeol. Setelah berhasil, Ia mengelus wajah Chanyeol pelan sambil tersenyum.

Entah kenapa, sejak Ia mengenal Chanyeol, Ia seakan tak peduli lagi pada rasa malu ataupun canggung terhadap pria dihadapannya itu. Seperti yang dilakukannya sekarang ini. Ia tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini sebelumnya. Memandangi wajah seorang pria ketika sedang tidur, bahkan kepada mantan kekasihnya sekalipun. Hanya wajah Ayahnya dan Chanyeol lah yang pernah Ia pandangi selagi tidur.

El masih terus mengelus pelan wajah Chanyeol. Ia merasa bahwa dirinya sudah benar-benar dibuat gila oleh pria itu.

Tanpa Ia duga sebelumnya, kedua tangan Chanyeol dengan cepat langsung menarik lengan El hingga Ia sedikit melompat dan berada tepat disebelah Chanyeol, lebih tepatnya pelukan Chanyeol.

El pun terkejut bukan main dan mencoba melepaskan pelukan Chanyeol.

“Biarkan seperti ini, kumohon. Sebentar saja.” Ucap Chanyeol dengan suara bangun tidurnya, kemudian membuka kedua matanya dan menatap El lembut dalam pelukannya.

El pun hanya diam saja dan mencoba untuk menghilangkan rasa keterkejutannya, lebih tepatnya kegugupannya berada dipelukan Chanyeol. Terlebih saat Ia menyadari saat ini Chanyeol sedang tidak memakai bajunya. Ya, sepertinya Chanyeol memang tipe pria yang tidur tanpa menggunakan baju.

Chanyeol mengusap lembut punggung El, sementara El mencoba untuk menenangkan hatinya yang kini sedang berdegup kencang, sangat kencang.

Ia bahkan sempat menutup kedua matanya merasakan sensasi panas dari punggungnya.

‘Aku benar-benar bisa gila.’ Batin El dalam hati, kemudian menatap Chanyeol yang ternyata masih menatap El sambil tersenyum.

“Chanyeol-ah.” Ucap El pelan.

Kemudian Chanyeol semakin mendekatkan wajahnya kewajah El, hingga hidung mereka bersentuhan.

Sungguh, Chanyeol tidak bisa menahan semua perasaan dalam hatinya. Semalam Ia menyadari bahwa dirinya sudah menyukai El.

El pun mencoba untuk mundur, mencoba untuk menciptakan jarak diantara mereka, namun dengan sigap Chanyeol menghentikannya. Kedua tangan Chanyeol yang masih berada dipunggung El, menahan gerak El.

“Kau tahu, di korea, kau harus memanggil orang yang lebih tua dengan menggunakan embel-embel.” Ucap Chanyeol lembut, sambil menatap kedua mata El.

El benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya, bahkan Ia tidak mau menatap langsung mata Chanyeol dan memilih untuk melihat kearah lain.

“Wa-a-wae?” Tanya El gugup, masih tidak mau menatap Chanyeol.

Chanyeol pun tersenyum, kemudian tangan kirinya Ia pindahkan kepipi El, dan mengarahkan wajah El untuk menatap kearahnya.

“Tataplah orang yang sedang berbicara padamu. Ini penting di Korea.” Ucap Chanyeol.

Kemudian El hanya menatap Chanyeol dengan tatapan gugup.

“Panggilah aku Oppa.” Ucap Chanyeol, kemudian tangannya mengusap lembut pipi El.

“O-o-oppa.” Panggil El.

Jantungnya benar-benar ingin copot saat ini juga. Apalagi disaat Chanyeol menutup kedua matanya, dan mulai memajukan bibirnya pelan kearah bibirnya. El benar-benar merasa seperti orang bodoh saat ini, karena mendadak Ia lupa apa yang harus Ia lakukan selanjutnya.

Setelah bibir Chanyeol mendarat sempurna dibibir El, El mulai merasakan kenyamanan. Lalu Ia menutup kedua matanya dan membuka sedikit bibirnya ketika Chanyeol mulai memperdalam ciuman keduanya.

El mengalungkan tangannya dileher Chanyeol sambil membalas ciuman Chanyeol, sementara Chanyeol masih asik mengelus punggung El lembut.

Keduanya berciuman cukup lama, hingga Chanyeol melepasnya terlebih dahulu. Hal itu sontak membuat El membuka keduamatanya, dan menatap Chanyeol dengan tatapan sedikit kecewa.

Chanyeol tersenyum penuh arti, kemudian mengusap lembut kepala El.

“Apakah aku boleh menjadi kekasihmu?” Tanya Chanyeol serius.

El diam sejenak, kemudian menatap Chanyeol serius, sementara Chanyeol sudah mengeluarkan senyuman maut khasnya.

Chanyeol kemudian mendekatkan bibirnya kearah telinga El, dan diam sejenak. Hal itu sontak membuat tubuh El kembali menegang.

“Bolehkah aku menjadi kekasihmu?” Bisik Chanyeol pelan, bahkan sangat pelan, tepat ditelinga El.

Kemudian El tersenyum mendengar pertanyaan Chanyeol barusan, dan mengangguk mengiayakan pertanyaan Chanyeol barusan. Sungguh, Ia benar-benar tidak mengerti apa yang ada didalam pikirannya.

Lalu Ia memeluk Chanyeol erat, sangat erat. Seolah takut untuk kehilangan Chanyeol.

‘Apa aku benar-benar mencintai Chanyeol? Entahlah.’ Batinnya.

Chanyeol pun membalas pelukan El dengan lembut dan hangat.

“Kita memang belum begitu mengenal satu sama lain, tapi ijinkanlah aku untuk mencobanya.” Ucap Chanyeol.

El pun menatap Chanyeol, lalu mengangguk sambil tersenyum.

 

TBC……

 

 

Iklan

5 pemikiran pada “Go Sarang! (Chapter 7)

  1. full Chanyeol-El story… aaaaa….. manis banget sih ceritanya. aku deg-degan bacanya. dan juga aku suka sm El yg mau nerima Chanyeol… makin seruuuu… next thor.. 🙂 ❤ PARK CHANYEOL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s