Love Constellation (Chapter 1)

Love Constellation (Part 1)

Author : G.Lin

Genre : Romance, Happy, School Life, Family

Length : Chapter

Casts : Do Nayeon | Park Chanyeol | Kim Jongin | Oh Sehun |Etc

romance yeol copy copy

—-

Who should i choose?

Happy virus, Park Chanyeol who always make me laugh when I beside him,

Trouble maker, Kai who always make me miss him so much when he’s not in my side, or

The walking ice, Oh Sehun who makes me comfort even he was as warm as ice?

—-

Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku. Terlambat sekolah. Dihukum guru. Dipermalukan kakak kelas. Didenda perpustakaan. Dan temanku meninggalkanku pulang sendirian –padahal ia berjanji menengajakku membeli buku baru-. Sebut saja dia Nayoung –gadis cerewet yang lebih suka mengomeliku daripada menginstropeksi diri-, tapi aku sangat dekat dengannya, aku tak tahu apa yang membuatku lengket dengannya padahal sifatnya menyebalkan. Bukankah itu menyebalkan?

Mataku menangkap sebuah objek. Objek yang sangat indah. Aku seolah terpaku, mataku hanya mampu melihat objek itu. Sedangkan yang lainnya? Blur di mataku.

Seorang laki laki tampan yang tinggi, berambut hitam. Dia terlihat sangat sempurna walau hanya menggunakan kaos putih dan jeans hitam. Jangan lupakan topi snapbacknya yang sengaja ia pasang terbalik. Laki laki itu terlihat sangat keren.

Secara tak sadar, mulutku sedikit terbuka –kebiasaanku jika aku terlalu fokus atau kagum-. Darahku berdesir dan frekuensi detak jantungku meningkat beberapa kali lebih cepat. Aku mengabaikan perasaan aneh itu dan masih tetap memandang laki laki itu sampai akhirnya laki laki itu pergi menjauh. Sebenarnya aku masih menatap laki laki itu hingga ia benar benar menghilang –masuk ke dalam mobil-. Entah mengapa aku sangat menikmati tindakan konyolku ini.

Aku memegang tempat jantungku berada. Cepat sekali. Aku takut seseorang bisa mendengar suaranya.

Apa ini yang namanya jatuh cinta?

—-

“Oppa, aku pulang!” aku membuka pintu dan menyerukan salam seperti biasa. Aku tinggal hanya berdua dengan kakakku. Kalian pasti bertanya dimana kedua orang tua-ku? Mereka sudah bahagia di sana. Mereka menjaga kami di atas sana. Jangan mengasihaniku, aku terlalu bahagia untuk dikasihani. Toh, mereka masih menjagaku walau aku tak bisa melihat mereka. Mereka masih ada di sini. Di dalam hatiku. Begitu yang oppa ajarkan padaku.

“Eoh? Pulang cepat?” tanyanya yang masih tetap melekatkan pandangannya pada layar laptopnya.

“Yah, oppa tau kan ini hari apa.”

“Cepat makan, oppa sudah buatkan makanan.” Aku berjalan menuju ruang makan.

“Jangan lupa ganti baju dulu, sayang.” Oke, Oppa. Aku ingat!

Aku duduk di samping kakakku yang sedang sibuk dengan pekerjaannya –ia kuliah sambil bekerja-, orang tuaku bukan pengusaha kaya. Hanya orang biasa. Kadang aku kasihan pada kakakku yang belajar sambil bekerja, aku ingin membantunya tapi kakakku gak akan tega melihat adiknya bekerja di usia muda. Beruntunglah aku mendapat beasiwa jadi setidaknya bisa meringankan beban kakakku walau hanya sedikit.

“Masih banyak, eoh?” tanyaku sambil memakan biskuit cokelat buatan kakakku.

“Lumayan. Ada apa?”

“Tidak ada apa apa, hanya saja aku ingin oppa beristirahat sebentar. Astaga! Aku bahkan gak bisa membedakan mana panda dan mana kakakku.” Aku menggeleng perlahan, menggodanya.

“Berhentilah mengganggu oppa, Sayang.” Kakakku selalu memanggilku menggunakan panggilan yang menggelikan, jika kakakku memanggilku dengan menggunakan nama lengkapku, berarti dia marah.

“Baiklah, tapi aaa~~~” aku menyuruhnya membuka mulutnya, menyuapinya dengan biskuit coklat dan tentu saja diterima baik olehnya.

“Anak manis,” aku menepuk kepalanya dan saat itu juga aku melihat sosok kakakku yang sangat cute –dia cemberut-.

Aku berangkat seperti biasa. Jalan kaki. Kakakku jarang mengantarkanku sekolah karena aku yakin dia sangat sibuk, jadi aku tidak menuntutnya lebih. Lagipula, berjalan kaki itu menyegarkan.

Untuk yang kedua kalinya, kakiku berhenti untuk berjalan dengan sendirinya. Terpaku oleh pesona laki laki yang kemarin kutemui. Wajahnya terlihat lelah. Keringat mengalir di pelipisnya. Dan kalian tahu? Itu terlihat sangat keren.

Meyakinkan diriku, aku berjalan lagi. Mengabaikan mata dan pikiranku yang belum juga lepas dari laki laki itu.

“Yeon!” aku menoleh saat mendengar seseorang memanggilku. Aku belum pernah mendengar suara itu. Baru pertama kali mendengarnya.

Tidak ada. Tidak ada yang memanggilku. Apa aku hanya berhalusinasi? Lebih baik aku segera melanjutkan perjalanan sebelum bel sekolah berbunyi.

—-

Aku gak tahu apa salahku sehingga aku sering dibully. Siapa yang tidak mengenalku? Si gadis polos yang selalu dibully. Hampir seluruh sekolah ini mengenalku, karena aku memang bahan bully-an untuk mereka –mereka tidak membully-ku secara langsung, mereka hanya melihat dan menertawakanku saat aku dibully oleh Kai dan anak buahnya-.

Aku gak pernah dan gak akan menangis kalau mereka membully-ku, aku harus menerimanya. Mau gak mau aku harus menerima itu semua. Aku bukanlah gadis manja dan cengeng yang menangis tersedu sedu saat ada yang menginjakku. Aku akan bersabar dan akan membalas pada waktunya.

Beruntunglah aku, pulang sekolah dengan selamat. Gak ada yang membullyku hari ini.

Aku baru saja berjalan beberapa meter dan aku sudah menemukan seseorang yang selalu saja menghantuiku sejak kemarin. Kali ini dia memakai kaos hitam dengan celana hitam pendek.

Seperti biasa, laki laki itu bagaikan magnet bagi mataku. Tahu tahu aku sudah menatapnya tanpa bisa melepaskan tatapanku. Sepertinya aku mulai percaya dengan kata kata ‘Love at the first sight’.

Sedang asiknya menikmati pemandangan indah, aku merasakan sesuatu –ah bukan hanya sesuatu- mengantam kepalaku dari belakang. Dari baunya aku tahu ini apa dan siapa yang melakukan hal keji semacam ini padaku. Kai. Ya, siapa lagi kalau bukan Kai? Dia melemparkan telur ke kepalaku dan berani bertaruh bau amisnya tak akan hilang meski aku membilasnya beberapa kali.

Ingin sekali aku menghajarnya, tapi mau apa lagi, menghajarnya sama saja mengundurkan diri dari sekolah. Aku gak merasa pernah melakukan hal yang buruk pada Kai. Alasan Kai selalu membully-ku masih menjadi misteri yang belum terpecahkan, lagipula, siapa yang ingin memecahkan misteri murahan semacam itu?

Aku mengepalkan tanganku, menahan amarahku yang sudah di ubun ubun. Kalau saja dia bukan anak pemilik yayasan, aku sudah menendangnya sejak pertama kali dia membullyku.

“Yeon? Kau bau.” Ucapnya penuh penekanan sambil menutup hidungnya. Jelas bau, bodoh! Kan kau yang melemparnya! Dasar bodoh!

“Terima kasih, Tuan.” Aku berjalan kembali ke sekolah, membersihkan diri di toilet dan mengganti bajuku. Awas saja Kai, kau akan mendapatkan balasannya!

—-

Baunya tidak hilang walau aku mencucinya 5 kali, aku sudah membilasnya menggunakan shampo –aku terlalu sering dibully sehingga aku mempersiapkan peralatan mandi dan baju ganti di lokerku-. Kalau bilasan keenam ini masih bau, aku akan menyerah dan pulang dengan cara berlari.

Beruntunglah, bilasan keenam baunya sudah agak hilang. Belum hilang sepenuhnya, karena kau masih bisa mencium bau telur jika terlalu dekat denganku. Segera membereskan semua kekacauan dan aku keluar dari bilik toilet.

“Maaf,” aku tidak sengaja menubruk seseorang hingga barang bawaan orang itu jatuh berserakan. Aku membereskan semua kekacauan itu sendirian –orang itu bahkan tidak ada usaha membantuku walau sedikit-. Aku mendongak dan ternyata Sehun. Pantas saja. Rumor mengatakan kalau Sehun tidak pernah menunjukkan ekspresinya. Sikapnya sama dinginnya dengan es, bahkan ada yang berkata bahwa es jauh lebih hangat daripada Sehun.

Setelah membereskan bawaan Sehun, aku meminta maaf –lagi-. Dia hanya menatapku tanpa ekspresi, sungguh ini lebih menyeramkan dari apapun. Tiba tiba aku merindukan tawa penuh dosa Kai, tawa keji Kai seribu kali lebih baik daripada melihat ehm, manekin berjalan mungkin?

Tampan dan sempurna. Kau pasti akan menyukainya sejak pertama kali bertemu, sayangnya, dia sepertinya punya sifat antisosial. Buktinya setiap hari dia berangkat pagi dan pulang paling akhir. Kenapa aku tahu? Kalian tahu kan, Kai punya jutaan ribu cara untuk membuatku kembali lagi ke sekolah dan menggagalkan rencanaku untuk pulang lebih awal.

“Permisi,” sadar atau tidak, Sehun menghalangi jalanku dan aku menyuruhnya untuk sedikit memberiku jalan.

Tak ada respon yang berarti dan aku sepertinya harus mencari jalan yang lain. Aku berjalan lewat kanan, kebetulan atau apa, Sehun juga menggeser tubuhnya ke kanan. Jadi, aku berjalan lewat kiri dan sialnya Sehun juga menggeser tubunya ke kiri. Tidak punya pilihan lain, aku berputar balik dan berjalan menjauh.

“Nayeon.” Aku gak tahu itu termasuk panggilan atau tidak –selain sangat pelan, tidak ada nada untuk mengklasifikasikannya ke dalam kategori panggilan-, tapi yang pasti aku menoleh. Sehun berjalan mendekat, aku hanya memiringkan kepalaku –refleks saat aku kebingungan- melihatnya mendekat. Aku tidak heran kenapa dia tahu namaku, aku cukup populer di sekolah ini, populer dalam arti lain maksudku.

“Ada apa, Sunbae?” tanpa menjawab, dia hanya menyodorkan sesuatu berwarna biru.

“Itu bukan milikku,” mungkin ini akan menjadi percakapan satu sisi atau bisa dibilang monolog pertama yang kulakukan.

“Pakai ini.” Mungkin saat ini, kalian bisa melihat mulutku ternganga selebar lebarnya. Mana mungkin Oh Sehun –si murid antisosial- memberikanku sapu tangan? Mungkin aku baru pertama kali berinteraksi dan bertatap muka dengannya dan dia memberiku…

Sapu tangan?

“Hah?” yap, pintar sekali Nayeon! Kau semakin terlihat ‘pintar’ di mata orang lain –walaupun aku tidak yakin kalau Sehun ikut menertawakanku saat aku dibully, mengingat sikapnya yang… kau bisa menyimpulkan sendiri-.

Tanpa kuduga, Sehun mengelapkan sapu tangan itu ke wajahku. Tepat di bawah hidung. Semakin lebarlah mulutku.

“Mimisan.” Dia ini memberitahu atau apa sih? Kenapa nada bicaranya lebih datar dari apapun? Apakah ada toko yang menjual nada? Biar aku membelikan setidaknya satu oktaf nada untuk Sehun.

Eh? Apa? Mimisan? Pasti karena tadi. Aku tadi terbentur pintu waktu cepat cepat keluar dari toilet dan setelah itu aku menabrak Sehun.

Secepat kilat aku mengambil alih tindakan Sehun dan berterimakasih padanya.

“Maaf, besok akan aku kembalikan.” Aku menyumpal hidungku menggunakan sapu tangan itu dan membungkuk. Bagaikan bicara dengan tiang listrik, aku tidak mendapatkan respon. Astaga! Baru saja aku akan menghapus cap ‘AntiSosial’ yang ada di benakku dan kini dengan terpaksa aku harus mengurungkannya.

—-

Masih dengan menyumpal hidungku, aku berjalan dengan cepat. Ingin segera pulang ke rumah dan mendaratkan diri ke kasurku yang nyaman. Namun, kuurungkan niat itu begitu melihat laki laki tinggi yang kemarin –masih berdiri tanpa aku tahu alasannya berdiri di sana-. Aku heran, apa yang dia lakukan di sana? Berdiri saja kah? Atau dia sedang menunggu seseorang? Yang pasti, apapun tujuan orang itu aku berterima kasih karena aku bisa menikmati tampannya laki laki itu dari sini.

Aku masih asik dengan duniaku sendiri sebelum sebuah suara menghancurkan semuanya.

“Aku lebih tampan darinya.” pikiran yang tadinya melayang layang, terbang mengelilingi neverland, serasa ditarik paksa masuk ke dalam tubuhku. Aku mendelik kesal ke arah si pemilik suuara itu yang ternyata Kai.

“Lalu?”

“Jadilah pacarku.” Katanya singkat. APA?! AKU TIDAK TULI KAN?!

KAI?! Meminta –ah ralat- menyuruhku untuk jadi pacarnya?

Pasti benturan tadi membuat kinerja otakku terganggu.

“Hah?!”

“Jadilah pacarku, Do Nayeon.” Ulangnya lagi.

—-

To be continued….

—-

Haduh, maaf ya kalo aneh, wagu, khayal, gak nyambung, dan gak dapet feel-nya. Maklum lah, G.Lin engga spesialisasi di bidang romance tapi dibidang datar eh comedy garing. Ehehe 😀

Terimakasih udah mau baca ^^~

Iklan

60 pemikiran pada “Love Constellation (Chapter 1)

  1. tgorr lanjutt dong !!!! ini pas bngt buat gua sumpah *mulaisarap T^T
    itu bias gua semua thorr trus jalan ceritanya itu yg gua mau ! pas bangetttt oyeeaahh xD lanjutt ya thor jan lama2 ! gua tunggu !!! :’o

  2. Cowok yang di liat sama naeyeon itu chanyeol ya ?? ^ ^
    Kai ?! Loe jahat amat !! Pake bully segala ..
    Aku bisa mbayangin mukany sehun yang super dingin itu .. #dihajar bang thehun
    Daebakk thorr .. Aku suka , bagus ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s