500 Stars

500 Stars

Title: 500 Stars

Author: Jung Rae Mi

Cast: -Kim Se Ra

-Oh Se Hun

-Xi Lu Han

Genre: Sad, Friendship.

Rating: PG-13

Lenght: Oneshot

A.N: Yeah! I’m back! Kali ini bukan dengan Everyday I Love You. Sebenarnya FF itu udah lama dibikin. Masih jamannya TTBY.  Tapi tenang, bakalan di lanjutin! FF ini terinspirasi karena kakak Rae Mi senang membuat bintang kertas. Katanya cuma sekedar hobi. Dan bintang-bintang itu ditaruh di sebuah botol kaca. Sebenarnya dia udah lama banget bikinnya. Sejak tiga tahun yang lalu. Tadi waktu beres-beres rumah, aku dapet tuh botolnya dan langsung terinspirasi.

Warning: Alur kecepetan, alur gaje, typo bertebaran, feel tidak dapat.

Oke, Happy Reading!! ^^

 

“ Buatlah 500 bintang dari kertas. Maka satu harapanmu akan terkabul.”

*****

“ Sudah berapa?” Tanya Sehun pada sahabatnya, Se Ra.

“ Sudah 219, Sehun-ah!!” Jawab Se Ra riang.

“ Jeongmalyo? Chukkaeyo!”

“ Gomawo. Dengan begini permohonanku akan terkabul!”

Sehun tersenyum lalu mengusap puncak kepala Se Ra lembut.

“ Dan, ngomong-ngomong Sehun-ah, menurutmu kita tidak akan dimarahi Luhan Oppa hari ini?” Tanya Se Ra.

“ Molla. Berdoa saja. Kau mau Bubble Tea rasa apa?”

*****

“ Kalian darimana saja?!” Bentak Luhan.

Se Ra dan Sehun hanya tersenyum dan membungkukkan badan meminta maaf.

“ Mianhaeyo, Hyung. Kami sedang tidak mood berada lebih lama di rumah sakit.” Jawab Sehun.

“ NE! Aku tahu di rumah sakit membosankan! TAPI KALIAN ITU SEDANG SAKIT!!”

“ Mianhae, Oppa! Tapi aku dan Sehun membutuhkan pasokan Bubble Tea.” Se Ra menggembungkan pipinya, melakukan aegyo. Diikuti Sehun yang juga ber-aegyo.

“ Ck! Jangan pasang aegyo kalian! Baiklah, kali ini aku memaafkan kalian. Lain kali kalian harus pergi dengan seizinku!”

“ Okeeee~~~”

“ Sekarang kembali ke kamar kalian!”

Sehun dan Se Ra tersenyum riang dan keluar dari ruangan Luhan. Mereka berjalan menuju sebuah kamar VIP tempat mereka dirawat.

“ Ahahaha. Luhan Oppa tidak cocok untuk marah-marah. Wajahnya tetap terlihat manis.”

“ Kau benar, Sehunnie. Pantas saja banyak pasien yeoja yang sengaja membuatnya marah. Ingin melihat wajah manis dokter itu.”

Sehun membuka pintu kamar mereka. Kamar yang cukup luas.  Ada dua ranjang yang bersampingan. Sebuah TV, kamar mandi, kulkas mini, sofa, sebuah lemari. Se Ra teringat sesuatu.

“ Sehun-ah, harusnya kita meminta Luhan Oppa ikut, untuk memasangkan selang infus dan pendeteksi detak jantung.”

“ Ah, benar juga. Aku akan mengirimkannya pesan.”

Se Ra mengangguk dan berjalan menuju ranjangnya. Sehun juga berjalan menuju ranjangnya.

Pintu kamar mereka terbuka. Luhan masuk dengan wajah kesal dan memasangkan selang infus dan pendeteksi detak jantung pada Sehun dan Se Ra. Namun seperti biasa, Luhan akan mencium kening Se Ra sebelum tidur dan mengusap kepala Sehun. Lalu keluar dari kamar mereka.

“ Jaljayo, Se Ra-ya.”

“ Nado, Sehunnie.”

Sehun mencari posisi nyaman dan mulai memejamkan mata. Sedetik kemudian, dengkuran halus terdengar dari bibirnya. Lain dengan Se Ra, yeoja itu mengambil sebuah paperbag di meja kecil samping ranjangnya. Paperbag itu berisi sebuah botol kaca yang hampir penuh dengan bintang kertas, kertas kado berbagai warna dan hiasan, juga sebuah gunting.

Yeoja itu mulai menggunting salah satu kertas kado berwarna biru dengan gambar Pocoyo.  Lalu melipatnya dan membuatnya menjadi bintang-bintang kecil. Bibir Se Ra terus menyunggingkan senyum selama membuatnya. Dia suka membuat bintang dari kertas.

Ketika masih sekolah di senior high school, dia pernah menemukan sebuah buku yang lapuk di perpustakaannya. Buku itu berisi tentang mitos jaman dulu. Dan satu yang membuat Se Ra tertarik.

Disana tertulis,  buatlah 500 bintang dari kertas, maka satu harapanmu akan terkabul. Dan sejak saat itu, Se Ra mulai membuat bintang. Jika seandainya tubuhnya sehat, maka sebulan setelah dia membaca buku itu, bintang-bintang itu akan berjumlah 500.  Namun Kanker Otak yang dideritanya, membuatnya harus keluar masuk rumah sakit  berkali-kali sejak kecil. Sehingga rencana membuat bintang-bintang itu ditunda.

Dan kali ini dia harus rawat inap di rumah sakit. Awalnya Se Ra menolak, namun di sini dia berkenalan dengan Sehun dan Luhan. Sehun dirawat di rumah sakit karena Kanker Hati yang dialaminya. Mereka menjadi sahabat dan memutuskan untuk sekamar di rumah sakit.

Sementara Luhan adalah salah satu dokter di rumah sakit. Dia memberikan izin pada Se Ra untuk membuat bintang-bintang itu. Karena Luhan tahu apa harapan Se Ra.

Aku ingin Sehun sembuh, batin Se Ra setiap dia membuat bintang-bintang itu.

Ditemani lagu Taylor Swift ft. Ed Sheeran – Everything Has Changed yang diputarnya dari ponselnya, dan dengkuran halus dari mulut Sehun, Se Ra membuat bintang-bintang itu.

Sehun-ah, aku berharap agar kau bisa sembuh.

*****

“ …345, 346, 347, 348, 349, 350!”

Se Ra tersenyum riang dan memasukkan botol kaca, kertas-kertas kado, dan gunting itu ke paperbag. Di taruhnya paperbag itu ke meja samping ranjangnya. Dia menyalakan membuka kunci ponselnya untuk melihat jam berapa sekarang.

“ Omo! Sudah jam 3 pagi! Luhan Oppa akan membunuhku jika tahu aku tidur jam segini!”

Se Ra segera merebahkan tubuhnya di ranjang dan menutup matanya untuk segera tertidur. Karena sangat lelah, dalam sekejap, Se Ra sudah tertidur lelap.

Senyuman sesekali terukir di bibirnya saat tertidur. Mengingat tinggal 150 lagi bintang yang harus dibuatnya, dan harapannya akan terkabul.

Menurutnya, bahagia itu sederhana. Hanya melihat senyuman dari orang yang disayanginya, itu merupakan kebahagiaan untuknya.

*****

“ Sehun-aaah!! Chakkamannyo. Hhhh…”

Se Ra menaruh kedua tangannya di kedua lututnya. Dia cukup lelah mengejar Sehun yang kini asyik bermain bola di taman rumah sakit. Se Ra sudah berkali-kali protes karena Sehun pasti akan berlari dengan cepat dan semangat saat bermain sepak bola dan basket. Namun Sehun pasti akan membalasnya dengan mengatakan,

“ Oh, ayolah Se Ra! Ini masih biasa. Bagaimana dengan Luhan Hyung yang sudah memiliki darah The Red Devils di tubuhnya?”

Se Ra kembali menatap Sehun yang asyik bermain bola. Namja itu terlihat ceria. Sehun menyadari dia diawasi dan menoleh ke Se Ra.

“ Eotthe, Se Ra-ya? Aku sudah mirip Shinichi Kudo belum? Atau mirip Heiji Hattori?” Tanya Sehun.

“ Ani. Kau sama sekali tidak mirip! Shinichi dan Heiji berambut hitam! Mereka juga pintar dalam menyelidiki kasus! Kau sama sekali tidak mirip mereka.” Jawab Se Ra sambil duduk di salah satu bangku.

Kau bahkan lebih hebat dibanding mereka.

Sehun tersenyum lalu berjalan mendekati Se Ra, duduk di samping sahabatnya. Kedua kaki Sehun tetap memainkan bola.

“ Sudah berapa banyak yang berhasil kau bikin?”

“ Sudah 350! Tinggal 150 lagi! Kyaaa~~ Aku sudah tidak sabar!”

“ Memangnya apa harapanmu?”

“ Itu rahasia, Sehun-ah. Yang penting akan membahagiakanku.”

“ Hmmm.”

Mereka diliputi hening. Kaki Sehun sudah berhenti memainkan bola. Membiarkan bola itu menggelinding menjauh. Keduanya memejamkan mata. Menikmati semilir angin yang menyapa wajah mereka. Matahari yang tidak terlalu terik membuat mereka merasa nyaman. Sehun menggerakkan tangannya, menggenggam tangan Se Ra yang berada di dekat tangannya. Kedua tangan itu saling bertautan. Berbagi kehangatan, rasa aman, dan kenyamanan.

Aku ingin bersama, dan bersahabat denganmu selamanya, Sehun-ah.

“ YA!! Siapa yang mengizinkan kalian keluar dari kamar?!”

Sehun dan Se Ra membuka mata mereka dan menoleh ke belakang. Menemukan Luhan yang menatap mereka tajam. Luhan berjalan mendekat.

“ Diri kami sendiri.” Jawab Sehun dengan memasang wajah innocent diikuti anggukan Se Ra.

Luhan mendengus kesal. Ekor matanya menangkap sesuatu yang menggelinding. Luhan menolehkan kepala, dan matanya membulat.

“ AAAH!! BOLAKUUU!!!”

Sehun dan Se Ra tertawa dan ber-high five ria. Sementara Luhan segera mengejar bolanya. Setelah kembali, bola Luhan sudah agak kotor dan terdapat jejak sepatu Sehun di atas sebuah tanda tangan yang ada di bola itu.

“ Bolaku yang sudah ditandatangani Wayne Rooney…”

Luhan menatap Sehun dan Se Ra tajam.

“ KALIAN!”

“ Oppa, disini rumah sakit. Jangan ribut. Nanti membuat pasien lain terganggu.”

Luhan memajukan bibir bawahnya dan kembali menatap bolanya.

“ Baiklah, tapi kalian akan mendapat huku- YA!!”

Sehun dan Se Ra sudah berlari menjauhi Luhan sambil tertawa riang. Tangan mereka masih tergenggam erat. Mereka sempat menoleh ke belakang dan menjulurkan lidah.

Luhan hanya menghela nafas dan tersenyum kecil.

*****

Sehun dan Se Ra berhasil keluar dari rumah sakit lagi. Mereka menuju sebuah kedai favorit mereka. Karena di kedai itu menjual berbagai minuman.

What about Chocolate Bubble Tea?” Tanya Sehun.

Nice idea! And Iced Americano, too. Maybe Luhan Oppa will forgive us.” Jawab Se Ra.

Sehun segera memesan juga membayar. Se Ra meraih paperbag yang berisi segelas Iced Americano untuk Luhan. Mereka meminum Bubble Tea sambil berjalan menuju toko buku.

“ Kyaaa~~ Sehun-ah! Detective Conan jilid 73 dan 74 sudah terbit!” Pekik Se Ra girang.

“ Kalau begitu ayo beli. Aku juga penasaran tentang pembunuhan Rukako Hoshina. Menurutmu siapa pelakunya?” Tanya Sehun.

“ Chiaki Suoh atau Rinsaku Furugasa. Chiaki ‘kan dongsaeng ahli jam yang meninggal. Sementara Rinsako sahabat ahli jam itu. Aku kurang yakin jika Teigo Karube yang membunuh.” Jawab Se Ra.

“ Sama! Kajja, kita beli. Ah, apakah kau juga perlu kertas kado?”

“ Eum, ne. Aku perlu dua.”

Mereka lalu memilih kertas kado yang bagus. Sehun memilih sebuah kertas kado berwarna hijau muda dengan motif bunga, dan sebuah kertas kado berwarna putih mengkilat dengan motif bintang. Se Ra menyetujuinya. Mereka menuju kasir dan membayar semuanya. Lalu berjalan kembali ke rumah sakit.

“ KENAPA KALIAN KABUR LAGI?!”

“ Oppa, ini rumah sakit.”

Luhan mendengus kesal.

“ Kami membeli Bubble Tea, komik, dan kertas kado. Ini, kami membelikan Iced Americano untukmu.”

Raut wajah Luhan seketika berubah riang.

“ Yaaay! Gomawo!” Ucap Luhan.

“ Ne, Hyung. Dan bolehkah kau memasangkan selang infus dan pendeteksi detak jantung untuk kami?”

Of course~~~”

“ Untung saja kita membeli Iced Americano.” Bisik Se Ra.

“ Ne. Dia kembali ke pribadi cerianya.” Balas Sehun.

“ Kajja, kita ke kamar kalian. Dan besok kalian akan melakukan pemeriksaan. Jangan kabur.” Luhan memberikan penekanan pada 2 kata akhir dari kalimatnya.

“ Ne…”

*****

Sehun sudah terlelap sejak dua jam yang lalu. Sementara Se Ra terus sibuk membuat bintang. Kedua tangannya terus melipat kertas-kertas kado yang sudah digunting memanjang. Kali ini ditemani dengan lagu One Direction – Irresistible.

Se Ra bernyanyi kecil sambil membuat bintang-bintang itu. Bibirnya terus mengukir senyum.

Tubuh Se Ra membeku. Yeoja itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Se Ra memejamkan mata erat. Menahan sakit di kepalanya.  Dengan nafas yang tersengal, tangannya tetap menbuat bintang-bintang itu.

Dia harus bertahan.

“…387, 388, 389, 390, 391, 392, 393, 394, 395, 396, 397, 398, 399, 400.”

Se Ra tersenyum di tengah sakit yang menderanya. Tinggal 100 lagi dan dia harus bertahan. Namun sedetik kemudian, dia berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya. Membuat Sehun terbangun dan segera menekan tombol darurat.

“ Se Ra, gwaenchana?!”

Se Ra tersenyum pada Sehun.

“ Sehun-ah… su-dah… 400…”

“ Se Ra-ya, gwaenchana? Jangan bicara dulu!”

“ Aku… menya-yangimu… go-mawo un-tuk segala-nya…. mian-hae…”

*****

Sehun menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjangnya. Matanya bengkak. Kemeja hitam masih melekat di tubuhnya.

Luhan masuk ke kamar. Dia segera memasangkan infus dan pendeteksi detak jantung pada Sehun. Tidak ada yang bicara diantara mereka. Padahal biasanya, mereka akan bercanda, atau Luhan akan marah-marah.

“ Sehun-ah.” Suara Luhan serak. Mungkin karena sejak tadi, namja itu terus menangis.

“ Ne?” Suara Sehun juga serak karena menangis.

“ Apa kau mau… pasien lain menempati kamar ini? Agar kau tidak kesepian.”

“ Aku… tidak membutuhkannya Hyung. Cukup aku, dan semua kenangan tentang Se Ra yang ada di kamar ini.”

Luhan mengangguk lalu memeluk Sehun. Sehun membalas pelukan Luhan. Mereka menangis dalam hening. Setelah agak tenang, Luhan melepaskan pelukannya.

“ Aku keluar dulu.”

Sehun mengangguk. Luhan keluar dari kamar. Meninggalkan Sehun yang sedirian di kamar.

Tidak ada lagi Se Ra.

Dia masih ingat jelas suara tangisan keluarga Se Ra di pemakaman. Dia masih ingat jelas wajah Se Ra yang tersenyum dalam peti. Dia masih ingat jelas saat peti Se Ra dimasukkan ke dalam tanah dan dikubur.

Dia ingat, kemarin dia tertawa bersama Se Ra. Bergenggaman tangan dan berlari bersama. Membaca komik bersama sebelum dia tidur. Dan dia terbangun mendengar teriakan kesakitan Se Ra. Membuatnya segera memencet tombol darurat. Menanyakan keadaan Se Ra, yang tidak dijawab oleh Se Ra. Yeoja itu memberikan pesan pada Sehun. Dan ketika Luhan masuk, yeoja itu juga memberikan pesan yang sama untuk Luhan. Dan setelah itu, Se Ra tersenyum diikuti suara nyaring dan garis lurus di pendeteksi detak jantung.

Air mata Sehun kembali mengalir. Namja itu menenggelamkan tubuhnya dalam selimut.

“ Se Ra-ya…” Isak Sehun.

Sehun menolehkan kepala ke ranjang yang dulunya ditempati Se Ra. Namja itu teringat sesuatu. Tangan Sehun berusaha meraih paperbag di meja kecil samping ranjang. Dia mengambil posisi duduk dan mengeluarkan botol kaca itu. Dia juga mengeluarkan kertas-kertas kado dan mengguntingnya. Sehun memutar memorinya ke sebulan yang lalu. Saat Se Ra sempat mengajarkannya untuk membuat bintang.

Sehun mulai mencoba membuat bintang dengan bermodalkan ingatannya. Dia tersenyum riang saat berhasil membuat satu. Sekarang ada satu hal dipikirannya,

Membuat bintang hingga mencapai 500.

Untuk Se Ra.

*****

Sudah seminggu Sehun berkutat dengan kertas-kertas kado. Dia sudah jarang makan dan minum obat. Membuat bintang tidak semudah yang dipikirkannya. Dia harus menggunting kertas dengan lurus dan rapi agar mendapat hasil yang bagus. Dan itu membuatnya harus mengulang hingga lebih dari sepuluh kali untuk satu bintang.

Sehun ingin menjadi sahabat yang baik untuk Se Ra. Karena itu, dia ingin menyelesaikan keinginan Se Ra.

Namun dia tidak memperhatikan kesehatannya. Penyakitnya semakin parah. Dan dia tetap membuat bintang.

Bisa ditebak, keadaannya memburuk.

Entah sudah berapa kali Luhan menyuruhnya istirahat, namun Sehun tidak peduli.

“ Tinggal sedikit lagi, Hyung!” Begitulah alasan Sehun selalu.

Untuk saat ini, tinggal 23 lagi dan semuanya selesai. Sehun akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak. Dia memutuskan untuk makan dan minum obat juga tidur.

*****

“ 2 lagi.”

Sehun tersenyum. Dia kembali menggunting. Namun dia berhenti sedetik kemudian. Dadanya terasa sakit. Sehun memutuskan untuk terus menggunting. Sakit di dadanya tidak dia pedulikan.

Nafasnya mulai tersengal. Tapi dia tetap fokus membuat bintang.

“ Sa-tu lagi…”

Tangan Sehun yang satunya memegang dadanya yang terasa semakin sakit, sementara tangan satunya memencet tombol darurat.

Dengan sisa tenaga yang ada, di tengah rasa sakit yang mendera, Sehun mengambil satu potongan kertas yang memanjang. Satu-satunya yang tersisa.

“ AKH!”

Sehun memejamkan mata erat. Menahan sakit.

“ Sehun-ah! Sehun-ah!”

Sehun membuka mata. Dia melihat alat bantu pernafasan sudah menutupi bagian hidung dan mulutnya. Luhan menatapnya khawatir.

Sehun tersenyum.

“ Istirahatlah dulu! Jangan paksakan dirimu membuatnya lagi.”

Sehun menggeleng lemah.

“ Tinggal… hh… satu lagi, hyung…”

Sehun terus kembali membuat bintang itu. Gerakan tangannya semakin lama semakin melambat. Dadanya terasa sakit. Sehun berhenti sejenak. Dia terbatuk. Mata Luhan membulat melihat darah yang bercipratan di masker pernafasan Sehun.

“ Sehun-ah! Kajima! Istirahatlah!”

“ Ham-pir sele-sai… Hyung…”

Dan bintang terakhir itu selesai. Dengan susah payah, Sehun memasukkan bintang terakhir itu ke dalam botol kaca. Sehun tersenyum dan menoleh ke Luhan. Dia memeluk namja yang sudah dianggapnya Hyung sendiri itu.

“ Go-mawo Hyung… mian…hae sela…lu mem-buatmu… ke…sal… hh… ka-u dok-ter ter…baik…”

Air mata Luhan menangis deras mendengarnya.

“ Jangan bicara lagi! Istirahatlah! Ada donor hati untukmu! Datang kemarin! Bertahanlah Sehun-ah!”

Sehun menggeleng lemah lagi. Tubuhnya semakin terasa berat.

“ Xie xie, Luhan Gege.”

Dan tangisan Luhan makin keras. Dia sudah kehilangan salah satu orang yang disayanginya seminggu yang lalu. Lalu sekarang, dia kehilangan yang satunya lagi.

“ SEHUN!!”

Pelukan Luhan mengerat ke tubuh Sehun. Menggeleng kecil dan sesekali dia mencubit pipinya. Berharap agar semua ini mimpi.

Tapi ini semua nyata. Terlalu mengerikan untuk menjadi mimpi.

Se Ra dan Sehun sudah pergi meninggalkannya.

*****

Botol kaca itu di tutupnya pelan. Luhan menatap botol itu yang sudah dipenuhi bintang dari kertas.

Luhan ingin mengucapkan sebuah harapan. Namun percuma.

Se Ra membuatnya agar bisa berharap Sehun sembuh.

Sehun melanjutkannya agar bisa menyelesaikan keinginan Se Ra yang ingin membuat 500 bintang.

Dan Luhan,

Jika bisa, dia ingin berharap agar Sehun dan Se Ra kembali. Harapan yang mustahil dan tidak mungkin terjadi.

Dengan senyuman tipis di wajahnya, Luhan menaruh botol kaca itu diantara dua makam yang bersebelahan.

Makam Se Ra dan Sehun.

Setelah memanjatkan doa untuk dua orang yang dianggapnya dongsaeng, Luhan berdiri.

Tes.

Dia mengadahkan kepala dan mengeluarkan payung lipat dari saku jaketnya. Dibukanya payung bening itu. Luhan menatap botol kaca yang mulai dibasahi tetesan hujan. Namun tidak dengan bintang-bintang dalam botol itu. Luhan sudah memastikan botol itu tertutup rapat.

“ Aku menyayangi kalian. Kuharap kita masih bisa bertemu lagi.” Tutur Luhan dengan suara pelan.

Luhan membalikkan tubuhnya pelan dan berjalan menjauh. Dia memutuskan untuk tidak menoleh lagi. Agar air matanya tidak semakin deras mengalir.

Panggil dia plin-plan karena dia menolehkan kepalanya ke belakang kembali.

Matanya membulat dan air matanya sukses mengalir semakin deras.

Dia bisa melihat Sehun dan Se Ra yang memakai baju putih melambai ke arahnya. Sehun dan Se Ra berada tepat di depan botol itu.

Luhan membeku. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang dia tahu air matanya mengalir makin keras tiap detik.

Sehun dan Se Ra tersenyum pada Luhan. Mereka saling bergandengan tangan. Dan mereka menghilang.

Luhan kini menoleh pada botol kaca itu.

Botol itu perlahan menghilang.

Luhan tersenyum dan berjalan meninggalkan pemakaman. Air matanya masih mengalir meskipun dia sudah berusaha menghapusnya.

Dia melangkah pergi diikuti sinar dari 502 bintang yang berada di atas langit, walaupun bintang-bintang itu tidak terlihat.

Dan, 502 bintang?

Tentu saja, kalian pasti tahu mengapa bintang yang mengawasi Luhan berada 502.

500 dari bintang kertas itu, dan dua-nya adalah Sehun dan Se Ra.

 

END

 

Huuuft~~ selesai juga. FF ini dibikin sambil muter dan mengulang- ulang lagu Taylor Swift ft. Ed Sheeran – Everything Has Changed, dan One Direction – Irresistible. Gomawo yang sudah mau baca FF ini!

Kritik dan komentar jangan lupa! ^^

23 pemikiran pada “500 Stars

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s