A Boyfriend For Each Ben (Chapter 2)

a boyfriend for each Ben

cast        :  kyung soo, kris  ( + additional cast )
author  : @rollingkris
genre    : drama

summary:            berkepribadian ganda, kris tidak pernah menyangka kalau ia akan menyakiti seseorang. walau itu tidak terlalu penting untuknya, karena kris bahkan tidak tahu kalau ia memiliki pribadi lain. pribadi yang jatuh hati pada kyung soo.

tumblr_msx8zlP2PT1spgf2wo3_250

chapter 2.12
“ Fanboys “

Rumah Kyung Soo adalah rumah sederhana yang sangat luas, walau rumah itu hanya memiliki satu lantai dengan taman depan dan taman belakang. Setiap taman penuh dengan bunga-bunga matahari dan beberapa pohon tomat yang mempermanis rumah Kyung Soo, sementara cat dindingnya yang berwarna kuning cerah dan atap yang berwarna merah terang memberikan kesan hangat. Kyung Soo dengan tubuh mungilnya tampak cocok sekali berada di dalam rumah itu.

Tapi laki-laki jangkung yang mengikuti Kyung Soo di belakang sedikit mengganggu timbal balik Kyung Soo dan rumahnya. Laki-laki yang selalu tersenyum pada Kyung Soo setiap kali anak itu melirik ke arahnya dengan dua mata bulatnya.

“Oke.. Kris? Ini adalah kamarmu. Kamar mandi-nya berada tepat di sebelah kamarmu dan kau bisa mencuci pakaianmu di taman belakang. Aku tidak memiliki mesin cuci. Dan kalau kau butuh sesuatu, aku ada di kamarku.”

Kyung Soo menunjuk sebuah kamar yang berada di seberang kamar Kris.

“Kalau aku tidak ada di kamarku, kau bisa menyisipkan surat lewat pintunya.”

“Oke.”

Kris menjawab sambil ia melihat berkeliling pada kamar yang akan ia tempati selama satu bulan ke depan. Dengan penuh rasa ingin tahu, ia membuka tirai yang menutupi sebuah jendela kotak yang setinggi dirinya di ujung kamar. Segera, sorot matahari sore menerpa dua matanya hingga ia harus menyipit sedikit. Tetapi tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyesuaikan diri, ia langsung menjelajahi pemandangan dari balik kaca berdebu di depannya.

Taman belakang milik anak laki-laki muda itu ternyata sangat rapi. Ada satu pohon ceri muda di pojok dan rumput segar tumbuh seperti karpet empuk di bawah akar-akarnya. Rasanya pasti nyaman, membuat Kris ingin mencoba berbaring di rumput itu. Kemudian ia melihat sebuah bangku kayu yang panjang melintang dan terletak sejajar dengan pohon ceri itu. Awalnya Kris tidak tertarik, sampai ia mendapati sesuatu yang bulat bergerak-gerak lincah di bawah kaki-kaki bangku itu.

“Ya ampun, kelinci!”

Kris histeris melihat beberapa ekor anak kelinci yang gendut-gendut sedang bertumpang tindih. Beberapa lagi bahkan menyusul keluar dari sebuah lubang yang tak jauh dari pohon ceri.

“Kau memelihara kelinci?”

Si jangkung bertanya tanpa melihat wajah Kyung Soo. Ia terpaku pada mahkluk-mahkluk menggemaskan itu.

“Tidak, mereka memang tinggal dan beranak pinak di tanah pemukiman kota ini.”

“Benarkah!? Aku tidak pernah melihat yang melihat seperti ini di Seoul..”

Kris akhirnya menoleh dengan seringaian dan Kyung Soo bersumpah kalau wajahnya bisa retak kapan saja saking lebar senyumnya itu. Wajah orang itu memang seperti porselen, ia memiliki kulit yang bagus dan berkilau.

“Well, itu karena kepala mereka akan menabrak beton ketika mereka ingin mencoba keluar dari dalam tanah dan bermain. Lagipula, di kota itu sangat berisik dan menyeramkan.”

Kris menganggukkan kepalanya mengerti, sementara Kyung Soo memandangi kelinci-kelinci itu dengan senyum tipis.

“Boleh aku main dengan mereka?”

“Oh, tentu. Pintu ke taman belakang ada disitu.”

Kyung Soo menunjuk pintu geser yang terbuat dari kaca, cukup besar untuk menampilkan pemandangan yang lebih luas lagi dari tamannya. Kris pun melangkah memasuki halaman belakang, sementara Kyung Soo yang tidak terlalu tertarik bersosialisasi hanya berdiri diam di pinggir pintu. Ia memperhatikan Kris menjejak tanah dengan semangat, bahkan sedikit terlalu bersemangat karena kelinci-kelinci di taman itu tiba-tiba kaget. Mereka segera berlomba-lomba melompat masuk ke dalam lubang yang ada di dalam tanah.

“Oh? Kenapa mereka pergi??”

“Mereka memang penakut”, ujar Kyung Soo.

Ia pun mendekati Kris dan lubang kelinci di dekat kakinya, kemudian mengambil beberapa batang wortel yang tergeletak di sekitar tamannya. Dengan ahli, Kyung Soo berjongkok dan menyodorkan sebatang wortel ke dalam lubang kelinci itu, berusaha mengumpan seekor untuk keluar. Kris yang penasaran ikut melipat kakinya dan berjongkok tepat di sebelah Kyung Soo, yang karena badan besarnya, ia tidak sengaja menyenggol Kyung Soo hingga hampir jatuh. Kyung Soo meliriknya judes namun ujung-ujungnya tersenyum simpul juga.

Setelah beberapa kali dua orang itu menarik nafas, akhirnya seekor kelinci memakan wortel Kyung Soo. Dua ujung telinganya yang berwarna putih muncul dari permukaan, dan akhirnya ia pun mengeluarkan dua tangannya yang gempal untuk mencengkram wortelnya. Melihat hal yang sangat manis itu, baik Kris maupun Kyung Soo yang sudah bertahun-tahun hidup bersama kelinci itu tetap berseri-seri.

“Benar-benar lucu!”

Kris memekik tanpa dibuat-buat sambil tangannya terjulur ke arah hewan yang masih menyembunyikan wajahnya itu.

“Eh, hati-hati!”

Baru saja telunjuknya masuk untuk mengelus kelinci itu, Kris sudah dikejutkan oleh Kyung Soo.

“Ada apa?”

“Mereka bukan kelinci yang bisa kau manja, mereka kelinci liar, suka menggigit.”

“Oh ya??”

Bodohnya, Kris menjawab Kyung Soo tapi lupa untuk menarik tangannya dari lubang itu hingga tiba-tiba terasa gigi-gigi runcing melahap telunjuknya dengan kasar.

“AAAW!!”

Laki-laki besar itu langsung menarik tangannya refleks dan karena tidak seimbang, dia jatuh ke atas rumput. Bibirnya mendesis kesakitan.

“Kubilang apa.”

Kyung Soo meletakan wortel itu ke dalam lubang dan berdiri untuk melihat keadaan Kris. Ia masih berbaring di rumput sambil memegangi jarinya. Lalu dia membuka matanya yang tadi terpejam dan menatap Kyung Soo yang berdiri tepat di samping wajahnya. Muka Kyung Soo datar, tapi ada sorot jenaka dari dua matanya. Kemudian ia pun tertawa hingga pipinya yang bulat mengambil sebagian dari dua matanya, membentuk eyesmile.

 

∞∞∞

Saat itu sudah senja dan Kyung Soo sedang berkutat mengerjakan soal-soal matematika yang sudah pernah ia isi beberapa hari yang lalu. Ia hampir menyelesaikan satu buku soal saking tidak memiliki pekerjaan yang bisa dilakukan. Kyung Soo sedang komat kamit menumpahkan rumus ketika ia tiba-tiba mendengar ketukan dari pintu kamarnya. Ketukan pertama dari tamunya, Kyung Soo pun segera melepaskan kaca mata belajarnya kemudian menghampiri pintu itu.

Kris dengan kaus putih dan celana basket tampak di depan Kyung Soo. Rambut pirangnya lembab setelah keramas.

“Ada apa?”

Kyung Soo bertanya langsung tanpa banyak memperhatikan mahkluk tampan itu.

“Ehm.. Yah, aku tidak membawa bekal makanan dari Seoul dan…”

Kyung Soo menaikkan dua alisnya karena ia ingat ia tidak memiliki bahan makanan apa pun di rumahnya. Ia menghabiskan kotak biscuit terakhirnya tadi siang.

“.. bisa makan?”

Kesadaran Kyung Soo kembali lagi saat ia sedang dihadapkan oleh pertanyaan yang tidak lengkap ia dengar.

“A-apa?”

Kyung Soo bertanya karena ia ingin Kris mengulang pertanyaannya, namun laki-laki itu mengerutkan keningnya. Tangannya mengelus belakang lehernya sambil matanya melihat ke bawah.

“Canggung ya? Ya sudah aku keluar sendiri saja.”

Kris berbalik memunggungi Kyung Soo yang mengedipkan matanya berkali-kali karena masih bingung.

“Tunggu! Aku tidak mendengar pertanyaanmu tadi!”

Si badan besar menghentikan gerakannya lalu melirik Kyung Soo dengan wajah yang lebih ling lung lagi. Tapi akhirnya dia mengulangi pertanyaannya dengan sabar.

“Aku ingin kau menunjukkan tempat makan yang ada di dekat sini, karena kau pasti mengetahui banyak. Aku memintamu menemaniku makan.”

Kyung Soo membuka bibirnya karena ia pun mengerti apa yang diinginkan oleh Kris.

“Tidak masalah! Ayo pergi!”

 

Restoran yang ditunjukkan kepada Kris ternyata adalah restoran sup tradisional yang dikelola oleh sepasang suami isteri yang sudah lanjut usia. Suaminya, yang bertubuh kurus namun bersenyum hangat menyambut Kris dan Kyung Soo. Kakek itu terlihat kaget namun sumringah saat sosok Kyung Soo tampil di rumahnya.

“Do Kyung Soo! Kemana saja kau!”

Dikempitnya dua pipi Kyung Soo di antara tangan kurus kakek itu. Sementara Kyung Soo buru-buru menjauhkan wajahnya. Tampak sekali kalau Kyung Soo merasa malu dimanja di depan Kris.

“Ah, aku ada di rumah kok..”

“Aih, kupikir kau sakit dan mati di dalam rumah, kau tahu, Pak Min hampir menelpon polisi untuk memastikan kau masih hidup?”

“Sungguh kejam!”

Ujar Kyung Soo, kemudian tertawa bersama kakek itu.

“Oh ya, ini Kris.”

Kyung Soo mengarahkan telapak tangannya pada wajah karismatik yang sejak awal berdiri di belakang Kyung Soo. Kakek pemilik kedai menenggakkan kepalanya ke arah Kris dan ia tampak takjub. Kris hanya dengan t-shirt dan celana basketnya memang tetap mempesona seperti bintang film.

“Aku menyewakan kamar-kamar kosong di rumahku dan Kris salah satu tamu disana. Ehm Kris, ini kakek Han.”

Si bintang film itu membungkuk dalam pada kakek pemilik kedai.

“Eo, kau jaga magnae kami baik-baik ya.”

Kakek Han menepuk-nepuk bahu Kris selagi dia sedang membungkuk dan mereka pun tertawa. Setelah obrolan ringan itu, akhirnya Kris dan Kyung Soo diantarkan pada sebuah meja panjang di halaman rumah keluarga kakek Han, meja yang sebenarnya terlalu besar untuk keduanya.

“Aku akan mentraktirmu, pilihlah apa pun yang kau suka.”

Kris memberikan Kyung Soo salah satu dari daftar menu yang ada.

“Kau yakin? Aku makan cukup banyak.”

“Makan banyak bagus untuk pertumbuhanmu.”

Kyung Soo mengernyitkan alisnya pada dua mata jenaka yang melihat dari balik selembar kertas laminating yang berisi menu makanan.

“Masih ada 4 tahun lagi buatku bertumbuh tinggi.”

Mengingat Kyung Soo masih berumur 17 tahun saat itu dan batas pertumbuhan seorang remaja laki-laki adalah umur 21.

“Baguslah, selama satu bulan ini, aku akan memberikan pelajaran singkat untuk memanjangkan tulangmu.”

Dan Kris mendapati anak itu sudah menenggelamkan dirinya di balik kertas menu, tidak ingin menjawab.

“KYUNG SOO YAAAA~~ KAMI DISINI~~~”

Tiba-tiba meja panjang yang pendek itu bergetar, menimbulkan kebingungan di wajah Kris. Sementara Kyung Soo hanya memandang malas ke arah pintu belakang keluarga Han, seakan dia sudah menebak apa yang akan terjadi berikutnya. Pintu belakang itu terbuka kasar dan Kris membuka mulutnya lebar-lebar saat ia melihat banyak sekali kakek-kakek dengan mata yang kesulitan melihat, bergerombol di sana.

“Oh cucu kesayanganku, kau masih hidup?”

Salah seorang kakek bersuara dengan getaran dari tenggorokannya. Kemudian konvoy kakek-kakek itu pun merangsek maju dan segera menduduki tempat kosong yang tersedia di meja panjang itu. Sekarang Kris mengerti kenapa meja ini panjang sekali, pasti karena kakek-kakek itu sering berkumpul.

“Kyung Soo-ya, cucuku akan datang ke sini besok, kau harus bertemu dengannya ya?”

“Kyung Soo-ya, anakku baru saja naik pangkat, kau bisa langsung menikah dengannya begitu kau lulus!”

“Ya ya ya, Kyung Soo sudah mendekati puteraku duluan!”

Kris tertawa mendengar kata-kata penggemar Kyung Soo. Seringaian iseng mengembang di wajahnya seiring Kyung Soo meliriknya dan seolah memohon pertolongan dengan matanya yang bulat. Tapi Kris bahkan belum memesan makananannya, jadi Kyung Soo terpaksa harus diam di tempat sampai Kris selesai menyantap makan sorenya.

 

∞∞∞

 

Warna merah langit sudah memudar dan mulai berubah keunguan ketika Kris dan Kyung Soo selesai makan. Mereka berdua pergi meninggalkan tempat makan yang sederhana itu setelah membungkuk dalam pada seluruh tetua yang masih ingin bermain catur. Kakek-kakek tadi memberikan Kyung Soo banyak sekali bekal makanan dan beberapa botol seduhan ginseng. Kris menolong Kyung Soo membawanya, tapi dia terus tertawa setiap kali ia melihat kotak-kotak makan yang dibungkus oleh kain.

“Berhenti mengejekku.”

“Fanboy-mu sungguh banyak! Hahaha~”

“Yak!”

Kyung Soo berusaha melotot pada laki-laki tinggi dengan tawa yang sebenarnya mempesona itu, tapi kikikkannya membuat Kyung Soo kesal.

“Jangan tertawa lagi!”

Kris menutupi mulutnya dengan punggung tangan, yang tidak banyak berpengaruh karena matanya yang terpejam membentuk setengah lingkaran. Kemudian setelah mereka berdua berjalan tanpa obrolan, Kris berhasil menghentikan tawanya. Ia mulai bicara pada Kyung Soo untuk menghabiskan waktu mereka di perjalanan pulang yang masih panjang.

“Mereka baik sekali denganmu, aku takjub. Apa kau sudah lama mengenal mereka?”

Kyung Soo menatap jalanan kota Goyang yang sangat sepi. Belakang leher Kyung Soo merinding karena angin malam yang berhembus melewati wajahnya. Ia pun mengepalkan tangannya yang tidak menjinjing bekal dan memasukkannya ke dalam kantung celana.

“Ya, mereka yang membesarkanku.”

“Membesarkanmu?”

Lalu Kris baru sadar kalau seharian ia berada di rumahnya, anak itu terus beraktivitas sendirian. Ia tidak melihat tanda-tanda anggota keluarganya yang lain.

“Oh, dimana.. orang tuamu?”

Kris mengganti pertanyaannya. Ia memperhatikan wajah Kyung Soo yang tampak serius, menyadari bulu matanya yang layu karena pertanyaan Kris.

“Yatim piatu sejak kecil.”

Kris menelan ludahnya, ia terkejut dan langsung kalut karena kisah pendek namun menyedihkan itu. Ia tidak bisa bicara cukup lama sampai Kyung Soo harus menolehkan kepalanya untuk melihat kalau orang itu baik-baik saja. Begitu mata mereka bertemu, Kris langsung menunduk dan mengatakan, “maaf”

“Yah, tidak usah menyesal. Aku tidak terlalu kehilangan orang tuaku, mereka pergi bahkan sebelum aku bisa membaca.”

Kris bingung dengan kata-kata Kyung Soo yang begitu datar, tapi dia lega karena dia bisa melanjutkan pembicaraanya dengan topik yang lain.

“Kau masih sekolah kan?”

“Ehm ya. Aku sedang berada di tahun seniorku di SMA.”

“Wow. Kau pasti sedang mempersiapkan tes perguruan tinggi, eh?”

“Yap. 5 bulan lagi tepatnya.. Aku bisa gila.”

Kris menatap Kyung Soo yang jarang sekali memandang wajah orang lain. Yang ia perhatikan hanyalah jalan di depannya, atau langit, atau udara kosong. Lampu jalan menerangi wajah Kyung Soo berkali-kali, memperjelas side profile-nya. Kyung Soo memiliki bulu mata yang cukup panjang jika dilihat dari samping, putih matanya mendominasi sehingga hitam matanya hanya tampak segaris, dan bibir penuhnya membentuk angka 3. Perpaduan yang menggemaskan.

“Dimana sekolahmu? Kurasa tidak mungkin didirikan gedung yang lebih tinggi dari tiang listrik di perumahan ini?”

“Tepat sekali, sekolahku jauh dari kompleks sini. Kalau berjalan kaki, kira-kira 20 menit dari rumahku ke sekolah.”

“Oh ya? Jauh juga!”

Kyung Soo  mengangguk dan Kris melipat tangannya di dada, bahunya terangkat supaya lehernya tetap hangat. Tanpa ia sadari kalau tangannya menempel dengan tangan Kyung Soo. Dua orang itu tidak berniat berdiri jauh-jauh satu sama lain supaya mereka tidak kedinginan. Dalam hati, Kyung Soo bertanya-tanya apa tidak apa-apa kalau resepsionis penginapan begini dekat dengan seorang tamu.

 

∞∞∞

 

Besoknya adalah hari Minggu yang cerah. Kyung Soo sudah berada di tamannya saat langit sudah berwarna biru lembut. Ia sibuk merapikan daun-daun yang mati, merapikan tanah di dalam pot, dan menyirami semuanya di akhir.

“Kau sangat menyukai tanaman-tanaman itu ya?”

Kyung Soo melepaskan jempolnya dari semprotan air dan menoleh pada suara berat yang datang dari belakang tubuhnya. Tepat di belakang wajah Kyung Soo, adalah dada Kris dan laki-laki besar itu seolah tidak peduli, ia tampak tertarik pada hamparan bunga matahari. Kyung Soo pun dengan canggung menggeser dirinya satu langkah ke samping dan kembali menyemprot bunganya.

“Mereka hiburanku. Teman-teman sekolahku tinggal jauh dari rumahku sementara hanya aku satu-satunya remaja di kompleks ini, maka aku banyak menghabiskan waktuku dengan tamanku.”

Untuk sementara, Kyung Soo ingat betapa asiknya dulu ketika Sehun sering membawa perangkat mainan baru yang ia miliki ke rumah Kyung Soo dan mereka bermain bersama sampai Kyung Soo sering lupa menyirami tanaman-tanamannya. Sekarang tamannya malah subur sesudah Sehun pergi. Senyuman lembut muncul di bibir Kyung Soo sementara matanya memandang menerawang ke arah bunga mataharinya.

“Oh, kurasa aku harus sering menemanimu kalau begitu?”

Kyung Soo mengkerutkan keningnya karena ucapan Kris. Tidak mungkin Kris mau menemaninya, ia adalah laki-laki dewasa yang biasa tinggal di kota besar sementara Kyung Soo hanyalah anak SMA dari pinggiran. Dunia mereka jauh berbeda.

“Kau yakin? Aku ini membosankan.”

Kyung Soo sudah selesai menyiram tanamannya, ia pun memandang Kris.

“Tapi aku tidak membosankan.”

Kris terkekeh, membuat Kyung Soo mendengus.

“Hey aku serius. Aku kesini untuk liburan dan mengistirahatkan pikiranku dari pekerjaan, jadi aku benar-benar menganggur. Daripada aku melamun sendirian, bukankah lebih baik kalau aku menemanimu saja?”

Saat itu adalah 3 hari terakhir musim panas, Kyung Soo mungkin memang perlu menghabiskan waktunya dengan tamunya itu karena bunga mataharinya akan kuncup seiring musim gugur datang sehingga ia tidak perlu banyak bermain dengan tamannya.

“Ya sudah, kalau kau memak-“

Belum selesai Kyung Soo bicara, tiba-tiba terdengar kegaduhan dari balik dinding yang menghalangi taman belakang Kyung Soo dengan jalan setapak perumahan. Kyung Soo dan kris terpaku pada sebuah tangan yang muncul di ujung dinding itu, mencengkram pagar Kyung Soo erat-erat, kemudian menghentak untuk menarik sebuah badan. Ada seseorang yang melompati pagar.

“Y-YAK!”

Kris memekik kaget. Bersama-sama dengan Kyung Soo, ia memelototi orang itu mendarat dengan selamat di atas tanah. Dia adalah remaja yang tampak normal dengan kaus putih dan celana futsal yang memperlihatkan tubuhnya yang atletis. Anak itu sibuk memeriksa tubuhnya, mencari luka-luka yang mungkin terjadi dari atraksi luar biasa tadi. Ia bersikap seolah-olah tidak ada orang yang hampir mati kaget di depannya. Dengan santai ia merapikan poninya dan melirik ke arah dua manusia dengan mulut menganga itu. Ia melihat Kris, kemudian ia mengabaikannya. Tapi matanya langsung berbinar begitu ia melihat Kyung Soo.

“Do Kyung Soo!!”

Anak itu berteriak dramatis, lalu berlari menerjang tubuh Kyung Soo. Di peluknya Kyung Soo erat-erat sambil ia membenamkan wajahnya di bahu yang lebih mungil. Kyung Soo masih terlihat pucat.

“Kyung Soo, aku tidak tahan lagi. Aku tahu besok kita akan bertemu di sekolah, tapi aku tidak tahan tidak melihatmu sehari saja. Ah bukan! Semenit pun aku sesak!”

Tangan remaja aneh itu terus menjamah setiap senti bahu Kyung Soo, membuatnya bergidik ngeri.

“Kau.. gila?”

Kyung Soo bertanya seraya ia mendorong kasar remaja itu dengan dua tangannya.

“KIM JONG IN, KAU SUDAH TIDAK WARAS?!!”

“Ehehm.. tunggu. Biarkan aku istirahat sebentar..”

Kim Jong In berjalan melewati Kyung Soo dan melenggang masuk ke dalam rumah seenaknya. Tidak satupun dari Kyung Soo maupun Kris yang bergerak, mereka membeku karena tingkah Jong In. Namun begitu Jong In sudah hilang dari pandangan, Kyung Soo melempar semprotan tanamannya dengan frustasi kemudian berlari mengejar Jong In.

“YAK SINTING, APA YANG KAU LAKUKAN?!”

Jeritan Kyung Soo terdengar hingga ke telinga Kris.

“KENAPA KAU TIDUR DI KAMARKU?! BANGUN, KAU PSHYCO!!”

 

~To Be Continued..

a/n: sorry, updatenya kelamaan :((( TBH real life lagi ngerongrong banget jadi gue harus berhenti ngEXO selama beberapa hari, yang menyebabkan nih FF lama banget gua lanjutin… overall, gua terus memikirkan plot ini FF supaya seru, jadi semoga kalian semua suka T^T

dan pengakuan lagi, gua lama update ABEB gegara gua lagi nyiapin FF Sehun+OC yang bakal diberikan sentuhan ala Hello Mr. Wu dan Celebrity Oppa. Huahahaha~~ C U SOON :***

 

8 pemikiran pada “A Boyfriend For Each Ben (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s