[EXO’s First Love] Flowering Day

[EXO’s First Love] Flowering Day

Author: Ziajung

Genre: Romance, Family

Length: Oneshoot

Rating: PG-16

Main cast:

–          Kim Jong-In (Kai)

–          Choi Jun-Hee

Disclaimer: Also posted at allfictionstory.wordpress.com ^^ enjoy the show, cingudeul

Note: Kalau nama Kai berubah menjadi Jong-In anggap aja itu lagi POV Jun-Hee atau itu apa yang Jun-Hee rasa. Karena Jun-Hee gak pernah panggil Kai dengan Kai (?). Dan kalau nama Kai tetap, itu POV Kai, atau apa yang Kai rasa. ^^

Flowering Day-Kai-poster

 

Aish… haruskah aku menceritakan? Kalian kan sudah tahu siapa pacarku,” gerutu Kai begitu Baek-Hyun terus memaksanya bercerita.

Ya! Yang kami tahu, pacarmu bukan cinta pertamamu,” jawab Baek-Hyun.

Geuge…”

“Heh? Jangan bilang Choi Jun-Hee-mu itu adalah cinta pertamamu?” Chan-Yeol mulai menggodanya.

Kai diam saja. Dan itu semakin menguatkan teori yang dibuat Chan-Yeol. Semua yang ada di sana terkikik melihat wajah Kai yang memerah.

Aigu.. manis sekali kau, Kai,” goda Su-Ho.

Hyeong!” Kai mulai merajuk. Wajahnya semakin memerah.

Su-Ho berdeham. “Kalau begitu ceritakan saja, bagaimana kencanmu waktu itu? Saat kalian—pasangan teromantis abad ini—demam dalam waktu bersamaan.”

Shireo!” Kai melotot mendengarnya. “Itu privasi-ku dengan Jun-Hee.”

“Bagaimana kalau saat kalian bertemu?”

Kai semakin melotot. Tidak! Pertemuannya dengan Jun-Hee lebih memalukan dari apapun. Ia tidak mungkin bercerita bagaimana ia bisa mengungkapkan perasaannya pada Jun-Hee waktu itu. Tidak! Pokoknya tidak!

Aish… Arraseo! Saat kencan saja, ya,” Kai menyerah.

 

Flowering Day

                Semua bersorak penuh semangat begitu EXO—boy group jebolan SM Entertainment—mengakhiri salah satu lagu hits mereka, Wolf. Penonton yang kebanyakan para gadis itu menggoyangkan lightstick atau balon yang mereka bawa sambil berteriak sampai akhirnya boy group itu menghilang di belakang panggung.

Diantara puluhan gadis di sana, ada seorang gadis yang hanya tersenyum, tanpa teriakan histeris, sepanjang EXO beraksi di panggung tadi. Bahkan matanya terlihat berkaca-kaca ingin menangis. Walaupun begitu ia masih bisa menahan emosinya untuk tetap berdiri tegar di sana sampai—setidaknya—boy group itu selesai. Barulah setelah mereka selesai, ia berteriak seperti yang lainnya—walaupun tidak seheboh itu.

“Jong-Ina,” gumam gadis itu sesaat setelah EXO masuk ke belakang panggung.

Entah ini sudah keberapa kalinya ia menonton penampilan EXO secara langsung hanya untuk melihat orang itu. Ya, orang itu. Orang yang sudah tiga tahun menemaninya dan—hampir—setahun menjadi miliknya.

Kim Jong-In—atau lebih dikenal Kai.

Choi Jun-Hee keluar dari tempat pertunjukan walaupun ia tahu masih banyak grup lainnya yang belum tampil. Ia tidak peduli. Asalkan ia sudah melihat wajahnya sekali saja dalam bulan ini ia sudah senang.

Bisa dibilang ia terpaksa senang.

Yaa… bagaimanapun ia harus mengerti keadaan Jong-In. Seorang artis pendatang baru tentu mempunyai jadwal yang begitu padat. Jun-Hee tidak pernah berharap Jong-In selalu mengiriminya pesan setiap ia bangun pagi ataupun saat ia akan tidur. Jong-In membalas pesannya seminggu kemudianpun ia—harus—senang.

Jun-Hee berdiri di seberang jalan, lalu menengadah kepalanya—menatap langit malam Seoul yang bersih tanpa bintang. Kemudian ia menghela nafas dan mengusap sedikit airmatanya yang keluar dari sudut matanya.

Sepertinya hari jadi kita yang pertama harus kurayakan sendiri, gumamnya dalam hati lalu ia merapatkan jaket yang ia pakai.

Jun-Hee menunggu sebentar, lalu menyetop taksi. Setelah ia mengatakan alamat rumahnya, ia pun mengeluarkan ponsel. Inilah kegiatan setelah ia menonton langsung EXO, mengirimi Jong-In pesan meskipun ia tahu persentase dibalas kurang dari lima puluh persen.

Jong-Ina, kau sangat keren tadi. Istirahat yang cukup, jangan terlalu lelah berlatih J

                Fighting ne!^^

 

Terkirim. Jun-Hee menghela nafas lalu kembali memasukkan ponselnya ke tas. Baru ia menyandarkan kepalanya, ponselnya berdering. Ia mengambil kembali ponsel itu dan sedetik kemudian ia terpaku kepada layar ponselnya.

Kim Jong-In—Kai—meneleponnya.

Tidak mungkin! Dia pasti bermimpi. Kim Jong-In yang baru saja ia lihat lima belas menit yang lalu, meneleponnya? Tuhan….

Kai duduk di sofa ruang tunggu, sambil terus menempelkan ponselnya ke telinga. Aneh. Gadisnya ini tadi mengiriminya pesan, tapi begitu ditelepon kenapa ia tidak menjawab. Apa deringnya tidak terdengar? Tidak mungkin! Ia tahu Choi Jun-Hee bukanlah orang yang suka memasang mode getar untuk ponselnya. Kecuali pada saat tertentu.

Sambungan terputus. Ia mencoba meneleponnya sekali lagi. Wajahnya harap-harap cemas, takut sesuatu terjadi pada Jun-Hee.

Ye-yeoboseyo?” akhirnya terdengar juga suara gadisnya.

“Jun-Heeya, ini aku,” Kai tersenyum lebar begitu panggilannya diangkat. Tidak ada respon dari Jun-Hee. Kai melihat layar ponselnya—masih tersambung. “Ya, Jun-Heeya, gwaenchanha?”

Ah, ne, ne…,” kenapa suara Jun-Hee jadi segugup itu—persis seperti pertama kali Kai meneleponnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kai memastikan.

Ne, nan gwaenchanha,” Kai menghela nafas lega mendengar jawaban Jun-Hee. “Ada apa?”

Ya, kenapa kau jadi gugup begitu?” Kai terkekeh kecil sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. “Kau tidak sedang selingkuh kan?”

Mwoya!!?” kekehan Kai makin terdengar begitu mendengar suara Jun-Hee seperti itu. Entah kenapa ia sangat suka menggoda gadis itu. “A-aku hanya terlalu senang kau menelepon,” lanjut Jun-Hee pelan.

Kai tertegun. Kata-kata dan nada suara Jun-Hee mengingatkannya lagi tentang bagaimana perasaan Jun-Hee. Apakah selama ini Jun-Hee selalu berharap dirinya menelepon?

“Ma-maksudku, bukan aku memintamu untuk meneleponku setiap waktu,” sepertinya Jun-Hee memang punya kontak batin dengannya. Gadis itu selalu tahu apa yang ia cemaskan.

Gwaenchanha,” Kai berusaha tersenyum. “Apa kau sudah sampai rumah?”

“Sebentar lagi, aku sedang di taksi.”

Entah apa yang Jun-Hee rasakan saat ini. Senang, bahagia, terharu, semua tercampur. Oke, ia tidak boleh menangis sekarang karena mendengar suara Jong-In. Pokoknya tidak boleh!

“Jun-Heeya, apa besok kau sibuk?” Jong-In bertanya dan membuat Jun-Hee kembali fokus ke telepon.

Eo? Ah, ani, aku tidak sibuk,” jawabnya. “Wae?”

“Bagaimana kalau kita kencan?”

Jun-Hee tahu ia tidak bisa bernafas sekarang. Kim Jong-In—pemuda yang sudah ia pacari hampir setahun—mengajaknya kencan? Tidak! Ia pasti bermimpi sekarang. Ayo Jun-Hee bangun! Jun-Hee mencubit pipinya sendiri kemudian berteriak kecil.

Ini sakit. Berarti bukan mimpi.

Ya, Jun-Heeya, gwaenchanha?”

Ah, n-ne,” Jun-Hee tidak tahu harus menjawab apa.

Eotte?”

Jun-Hee berpikir sejenak. “Terserah kau saja. Asal jadwalmu tidak terganggu.”

Assa!!” Jong-In terdengar senang sekali. “Baiklah, besok tunggu aku di tempat biasa jam sembilan, ne. Oh, Manajer Hyeong sudah memanggilku. Sudah ya. good night, Sweety,” dan Jong-In pun menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Jun-Hee.

Jun-Hee masih menggenggam ponselnya dengan tatapan tidak percaya. Benarkah? Benarkah dia akan berkencan dengan pacarnya besok? Untuk pertama kalinya? Oh Tuhan…. terima kasih…

Agassi, kita sudah sampai,” panggilan supir taksi menyadarkan Jun-Hee dari lamunannya.

Ne,” Jun-Hee mengambil beberapa uang kertas dan memberinya ke supir taksi itu. “Gamsahamnida, Ahjussi,” ucapnya sebelum keluar dari taksi itu.

Jun-Hee mendorong pagar rumahnya kemudian berjalan menuju teras. Setiap langkahnya ia terlihat seperti memikirkan sesuatu sampai-sampai ia merasa tidak lagi ada di teras rumahnya. Baru saat kepalanya menabrak pintu masuk, ia menyadari kalau ia sudah ada di rumah.

Jun-Hee baru ingin membuka pintu saat seseorang membuka pintu dari dalam. “Ya, apa jaman sekarang mengetuk pintu menggunakan kepala?” canda Choi Jun-Ho—kakak laki-laki Jun-Hee—saat melihat Jun-Hee mengelus-elus dahinya.

“Apa sih, Oppa,” ucap Jun-Hee dan langsung masuk ke dalam.

“Bagaimana ‘kencan’mu?” ejek Jun-Ho dan membuat Jun-Hee berhenti melangkah. Bukan. Bukan kata-kata Jun-Ho yang menyakitkan atau apapun, tapi karena Jun-Ho mengatakan kata ‘kencan’ dan membuatnya mengingat kembali ajakan kencan Jong-In.

“Uhm… kencan ya?” gumam Jun-Hee sangat pelan. Lalu pikirannya melayang lagi ke percakapannya dengan Jong-In tadi. “Ken… can…” Jun-Hee melangkah pelan ke kamarnya sambil mengucapkan kata-kata itu.

Jun-Ho melongo menatap adiknya itu. “Ya, Jun-Heeya! Wae?”

Jun-Hee tidak menjawab, malah menutup pintu kamarnya sangat pelan-pelan.

@@@

                Jun-Hee membuka matanya yang seperti sedang tertimpa batu sepuluh ton itu perlahan. Ia hampir semalaman terjaga karena memikirkan satu kata simpel yang keluar dari mulut Kai. Kencan. Entah kenapa itu menjadi suatu kata yang sangat ajaib bagi Jun-Hee.

Bukan. Bukan karena mereka belum sekalipun berkencan. Mereka sudah pernah melakukannya—sekitar tiga kali—di sela-sela waktu senggang Kai, dan itu semua karena ajakan Jun-Hee. Kai belum pernah sekalipun mengusulkan untuk melakukan acara jalan-jalan atau bahkan makan ramen bersama—ini yang pertama kalinya. Tapi… semuanya tidak ada yang berhasil. Selalu saja terjadi masalah dalam kencan mereka, entah dari Kai sendiri, dirinya, maupun fans Kai yang mengenali penyamarannya.

Dan semenjak itu, kata kencan seperti hanya sebuah dongeng pengantar mimpi indah Jun-Hee. Jun-Hee pun tidak lagi mengindahkan kata itu meskipun sudah ia dengar beratus kali dari teman-temannya.

Jun-Hee mengangkat kepalanya yang terasa berat. Ia mengambil jam weker di meja kecil di samping tempat tidurnya. Jam tujuh lewat enam belas menit—itu berarti ia hanya tidur dua setengah jam kali ini. Aish… ia tidak pernah begini sebelumnya—meskipun di saat dia merindukan Kai sekalipun. Kalau Oppa-nya tahu kalau ia hanya tidur dua setengah jam, ia pasti tidak boleh kemanapun hari ini.

“Tidur yang cukup, makan yang banyak, jangan pulang telat, jangan main hujan-hujanan dan jangan jajan sembarangan! Aku harus menjagamu sampai Abeoji dan Eomma kembali ke Korea. Kalau kau sakit, pasti aku yang kena getahnya. Jadi, jangan membantahku. Arraseo?” begitulah omelan Jun-Ho saat hari pertama kedua orangtua mereka berangkat ke Kanada untuk bisnis. Saat itu Jun-Hee pulang agak telat karena tugas kuliah, dan paginya ia tidak menghabiskan sarapan yang dibuat Jun-Ho. Ya… walaupun begitu, Jun-Hee tahu kalau Jun-Ho hanya ingin menjaganya.

Jun-Hee meraih ponselnya. Lihat, bahkan Kim Jong-In itu tidak mengabarinya apapun. Oke, ia bukan mengharapkan ucapan selamat pagi dengan tanda hati dari Jong-In, tapi setidaknya ia harus mengatakan ia tidak lupa dengan janjinya pada Jun-Hee—berkencan.

Aish… babo!” runtuk Jun-Hee pada ponselnya—seakan itu adalah Jong-In.

Jun-Hee beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai, ia berjalan ke lemari pakaiannya. Selama kurang lebih dua menit ia hanya terdiam menatap gantungan-gantungan pakaian di lemarinya.

“Aku harus seperti apa…,” gumamnya dan mulai memilih pakaian yang pantas. “Apa aku harus tomboy? Ah tidak, tidak… feminim? Ah, Jong-In pasti tidak suka gadis seperti itu…,” ya itu benar, Jong-In pernah mengejek Jun-Hee saat gadis itu memakai dress saat mendatanginya di belakang panggung.

“Kau terlihat seperti ahjumma-ahjumma!” itulah komentarnya.

“Lalu aku harus pakai apa???” ucap Jun-Hee frustasi sambil memegang kedua pipinya. Ia menghela nafas, “Baiklah…. pakai instingmu Choi Jun-Hee… pakai instingmu…,” Jun-Hee menutup matanya lalu membukanya kembali. Kemudian ia mengambil asal dua baju dan lemarinya dan menimbang. Tapi otaknya seakan mati—ia tidak bisa menentukkan sama sekali.

Baiklah… pilihan terakhir. Ia pun keluar kamarnya dan menuju meja makan. Di sana sudah ada Jun-Ho yang tengah memakan sereal dengan susu sambil membaca koran pagi. Jun-Hee langsung berdiri di samping Jun-Ho. “Oppa..,” panggilnya.

Jun-Ho menoleh, dan mengangkat alisnya melihat Jun-Hee masih memakai piyama tidurnya. “Wae? Kenapa belum ganti baju? Cepat sarapan.”

“Menurut Oppa, mana yang cocok?” tanpa menggubris suruhan Jun-Ho tadi, Jun-Hee langsung menunjukkan dua baju yang ia bawa.

“Hah?!” Jun-Ho menatap Jun-Hee tidak mengerti. “Memangnya kau mau ke mana? Apa ada acara dari kampusmu?”

“Sudah pilih saja….”

Jun-Ho menurunkan koran lalu melipat tangannya di dada dan menatap Jun-Hee sengit. “Katakan, kau mau ke mana, atau aku tidak akan mengizinkanmu keluar sama sekali.”

Jun-Hee menghela nafas dan menurunkan bajunya. “Jong-In… dia… dia mengajakku kencan hari ini,” jawabnya pelan.

Kkamjong—“Jun-Ho langsung memutar otaknya. Sejak semalam adiknya ini sangat aneh setelah menonton penampilan boy group bocah hitam itu. Bahkan kalau Jun-Ho tidak salah ingat, saat ia mengintip—dari jendela—adiknya itu terlihat seperti tidak bernyawa saat turun dari taksi.  Kemudian… adiknya terus menggumamkan kata ‘kencan’ sampai akhirnya masuk ke kamar.

Intinya… Choi Jun-Hee sedang galau dengan ajakkan kencan bocah hitam itu.

Jun-Ho melihat Jun-Hee tengah menggesekkan kedua kuku ibu jari tangannya—tanda dia benar-benar tengah bingung. Sedetik kemudian Jun-Ho menahan tawanya menyadari sikap aneh adiknya. Ia pasti kesenangan karena akhirnya bocah-hitam-yang-sok-sibuk itu mengajaknya kencan.

Jun-Ho berdeham, membuat Jun-Hee mengangkat kepalanya. “Coba kulihat,” ucapnya kemudian.

Jun-Hee tersenyum, lalu mengangkat kembali pakaian yang ia pakai. “Yang mana?”

@@@

Jun-Hee kini berjalan cepat-cepat menuju kafe tempat ia dan Jong-In bertemu. Sialnya tadi ia tidak melihat jam kembali dan sibuk menyiapkan mental dan penampilannya, hingga ia menyadari jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang dua menit. Belum lagi oppa-nya tidak mau mengantar dirinya ke kafe, hingga dia harus berjalan kaki sendirian ke sana.

Aish

Jun-Hee tidak henti-hentinya menggerutu di setiap langkah kakinya. Ia tahu kalau Jong-In sangat tidak suka menunggu, dan bisa dipastikan kali ini ia telah melakukannya. Bagaimana kalau nanti Jong-In tidak mau lagi bertemu dengannya? Seketika ia ingat saat kencan pertamanya bersama Jong-In.

“Padahal aku sudah rela meluangkan waktu istirahatku demi acara bodoh ini, tapi kau malah membuatku menunggu!” omel Jong-In waktu itu. Ia terus menggerutu di balik lilitan syal di lehernya, sementara Jun-Hee menahan untuk tidak meledak juga.

                “Kenapa kau menyetujuiku, kalau tidak suka!” balas Jun-Hee.

                “Aku bukannya tidak suka, tapi kau membuatku kesal!”

                “Ya sudah, batalkan saja,” Jun-Hee berkata pelan namun tajam.

                “Aish, kau ini!” Jong-In menarik tangan Jun-Hee dan menariknya. Pemuda itu membawa Jun-Hee beranjak dari tempat itu.

                “Mau kemana?”

                “Setidaknya aku harus memastikanmu pulang dengan selamat sebelum aku kembali ke dorm,”jawab Jong-In sambil masih menarik tangan Jun-Hee.

Dan… seperti itu. Kencan kali itupun gagal.

Jun-Hee tidak mau kejadian itu terulang. Ini kesempatan langka—karena Jong-In sendiri yang mengajaknya. Bagaimana kalau ini terakhir kali ia melihat Jong-In? Oke, ini berlebihan, tapi… kemungkinan itu ada,kan?

Jun-Hee sampai di kafe yang dituju. Ia merapikan scraft yang melilit dilehernya. Belum ada tanda-tanda kedatangan Jong-In disana. Setidaknya itulah yang dianggap Jun-Hee. Oh, atau mungkin Jong-In sudah datang dan karena Jun-Hee terlalu lama, ia pergi? Andwae! Itu tidak boleh!

Jun-Hee pun melihat sekeliling kafe untuk memastikan situasi. Siapa tahu Jong-In sedang menyamar dan menunggu di sekitar kafe itu. Pemuda itu bisa menjadi siapa saja kalau sedang menyamar. Bagaimanapun itu, Jun-Hee tetap mengenalinya dari jarak sepuluh meter—entah kenapa.

Jun-Hee mengeluarkan ponselnya dan menelepon Jong-In. Tidak diangkat. Ada dua kemungkinan di sini; Jong-In tidak membawa ponselnya, atau memang…. tidak mau mengangkat. Seketika Jun-Hee langsung negative thinking. Kemungkinan Jong-In memang tidak mau mengangkat teleponnya lebih besar dari apapun di otaknya. Jun-Hee melihat jam tangannya, sudah lewat sepuluh menit dari waktu perjanjian. Bahu Jun-Hee merosot. Hah… jadi seperti ini akhir cerita cinta pertamanya.

Jun-Hee berniat berbalik untuk pulang ke rumah. Ya maksudnya… untuk apa lagi menunggu orang yang tidak akan datang itu? Lebih baik ia pulang lalu menangisi kebodohannya, lalu keluar kamar dengan mata sebesar buah kelapa. Oh.. atau ia bisa menghabiskan waktu penyesalannya dengan menonton sepuluh dvd drama dan beberapa film Hollywood tanpa subtitle dari koleksinya sambil menghabiskan isi kulkas mini di kamarnya. Sehingga nanti saat ia keluar, ia akan berubah menjadi Kang Hanna—karakter wanita gendut di film 200 Pounds of Beauty, lalu ia akan melakukan operasi plastik hingga tidak ada yang mengenalinya lagi.

Oh oke, dia mulai tidak waras.

Ia mungkin akan mati sebelum keinginan operasi plastik itu terucap dari mulutnya.

Tapi menonton film tanpa subtitle-nya, rasanya ide yang cukup bagus untuk melupakan masalah ini. Walaupun seratus enam puluh koma sembilan puluh sembilan persen dia tidak mungkin melupakan Jong-In.

“Choi Jun-Hee!”

Jun-Hee menoleh. Niat untuk menonton film tanpa subtitle-nya sirna sudah sesaat ia melihat Jong-In—yang dalam penyamaran—yang memakai hoodie biru dongker yang membalut kaos belangnya dan celana jeans. Tentu hal yang tidak boleh dilupakan sebagai orang yang menyamar, masker, terpasang apik menutupi sebagian wajah Jong-In. Jong-In menggaet tas punggung coklatnya lalu menghampiri Jun-Hee.

Mianhae, tadi ada sedikit masalah,” katanya begitu sampai di depan Jun-Hee.

Jun-Hee tidak mengerti bagaimana ekspresinya sekarang. Apakah ia membuka mulutnya terlalu besar saat mengetahui Jong-In menepati janjinya dan datang dengan tampilan memukau luar biasa? Oh oke, sebenarnya penampilan Jong-In biasa saja kalau Jong-In hanya pemuda biasa yang ingin mengajak pacarnya berkencan. Ya… biasa. Kalau saja orang-orang itu tidak tahu kalau itu Kim Jong-In—Kai. Sebenarnya Jun-Hee tidak terlalu peduli dengan ekspresinya kalau saja Jong-In tidak menginterupsinya dengan teriakan nyaring yang bisa menjatuhkan image Kai EXO saat itu juga.

Ya! Wae geurae?!”

Jun-Hee meringis. “Tidak bisakah kau tidak berteriak?!”

“Kau sendiri kenapa diam begitu?” Jong-In bertanya balik. “Kau membuatku takut.”

“Satu-satunya yang menakutkan adalah kau yang lupa dengan janjimu sendiri,” entah dibawah sadar atau tidak, Jun-Hee mengatakan itu. Yang pasti Jong-In sedikit tertohok.

Jong-In diam sejenak. “Mian.”

Dwaesseo (sudahlah), yang penting kau sudah datang,” Jun-Hee tersenyum. Ia membenarkan hoodie yang menutupi rambut coklat Jong-In. “Gomawo.”

Kai terdiam melihat Jun-Hee tersenyum seperti itu. Entah sudah berapa lama ia tidak melihat Jun-Hee seperti ini. Ah.. mungkin sudah dua bulan, atau lebih. Yang ia lakukan saat merindukan Jun-Hee hanya memandangi fotonya bersama gadis itu saat kelulusan SMA atau saat darmawisata ke pulau Jeju musim panas tiga tahun yang lalu. Kai mengulurkan tangannya dan menarik Jun-Hee ke pelukkannya. Ia tidak tahu apa motivasinya melakukan ini. Ia hanya… hanya mau melakukannya.

“Jong-Ina…” bisik Jun-Hee dalam pelukan Jong-In.

“Sst… sebentar.”

Jun-Hee bisa saja membalas pelukan Jong-In kalau saja ia tidak sadar kalau mereka tengah berada di tempat umum, tepatnya di depan kafe yang banyak dilalui orang. Tapi sebelum itu telaksana pun Jong-In sudah melepaskan pelukannya. Dan Jun-Hee rasa, Jong-In tersenyum dalam balik maskernya.

Kkaja!”Jong-In menarik tangan Jun-Hee dan membawanya pergi dari sana. Ia membawa Jun-Hee menuju halte bus terdekat.

Eung… Jong-Ina, kau yakin kita akan naik bus?” tanya Jun-Hee begitu menyadari kalau Jong-In menariknya ke halte bus.

“Kau kira aku mempunyai berapa nyawa?” jawab pemuda itu tanpa menoleh ke Jun-Hee. “Sudah cukup aku merasa pengap dengan pakaian ini, tidak perlu berlari-lari lagi.”

Aish…,” Kenapa harus marah-marah? lanjutnya dalam hati. Padahal beberapa menit yang lalu pemuda ini melakukan hal yang menurut Jun-Hee hal yang paling manis diantara semua yang pernah pemuda ini lakukan pada Jun-Hee. Aish, tidak cukupkah pemuda ini hampir membuatnya menjadi gadis termalang se-Korea?

Belum sempat Jun-Hee menyerang balik Jong-In, pemuda itu sudah duduk di atas motor sport hitam—yang terparkir tepat di sebelah box telepon, dekat halte. Selama beberapa saat, Jun-Hee tidak mengerti apa tujuan Jong-In duduk di atas motor yang kemungkinan besar bukan miliknya itu.

Kai menyerahkan sebuah helm pada Jun-Hee, dan diterima gadis itu dengan tatapan menerawang. “Jong-Ina…”

Ya! Kenapa diam saja? Cepat naik!” perintah Kai yang sekarang sudah mengganti masker penyamarannya dengan helm hitam mengkilat.

“Naik? Maksudmu…. ke motor ini?” pertanyaan bodoh, Choi Jun-Hee!

Kai menghela nafas. “Ppaliwa Choi—“

“Kau bisa mengendarai motor?” serobot Jun-Hee sebelum Kai menyelesaikan kalimatnya.

“Kalau aku tidak bisa, bagaimana caranya aku sampai ke sini?!” Kai sedikit emosi. Entah apa yang membuat otak seorang Choi Jun-Hee menjadi pending seperti ini. Apa iya, ia mengangkut motor itu agar sampai ke sini? Benar-benar pertanyaan paling bodoh!

“Kenapa marah-marah?” jawab Jun-Hee sambil cemberut. “Aku kan hanya memastikan agar aku selamat sampai tujuan.”

Akhirnya Jun-Hee memakai juga helm pemberian Kai. “Oh iya, ngomong-ngomong kita mau ke mana?” tanya Jun-Hee begitu ia duduk di belakang Kai.

“Rahasia,” balas Kai lalu mulai menyalakan mesin motor hitam itu. “Yang penting, kita sedang berkencan sekarang,” dan motor itupun mulai melaju di jalanan pagi kota Seoul.

@@@

                Jun-Hee memandangi sekeliling gedung bioskop yang baru ia masuki bersama Jong-In. Ia masih tidak percaya, ia berada di sini lagi—bersama Jong-In—sejak… entahlah ia lupa sudah berapa lama tidak ke tempat ini. Ia hanya mengingat terakhir kali ia pergi ke bioskop adalah pada saat kencan ketiga—kencan terakhir. Ya, yang berakhir mengenaskan juga.

Semenjak itu, Jun-Hee selalu menghindari bioskop apapun alasannya. Ia lebih memilih diam di rumah, menonton dvd—yang ia minta belikan Jun-Ho—atau menonton film yang ia download dari internet. Setidaknya itu lebih baik daripada ia datang ke bioskop dan mengenang kejadian super duper menjengkelkan.

Waktu itu Jun-Hee mengajak kencan Jong-In yang kebetulan sedang libur. Dengan segala persiapan, dan pengaturan waktu yang tepat sehingga Jun-Hee tidak telat dari waktu perjanjian, mereka berhasil melewati tantangan pertama—datang ke bioskop layaknya pasangan pada umumnya. Dan selanjutnya…

“Kau mau menonton film cengeng itu?” Jong-In menunjuk-nunjuk poster salah satu film romance Hollywood yang tengah booming saat itu. “Shireo!” ia melipat tangannya di dada.

                “Wae? Aku ingin sekali menontonnya,” jawab Jun Hee.

                “Menurutmu aku mau menghabiskan waktu liburku dengan menonton film itu?”

                “Ya, Jong-Ina—“

                “Pokoknya sekali tidak tetap tidak!”

                “Kenapa kau egois sekali?!” bentak Jun-Hee akhirnya. Dan walhasil… mereka jadi pusat perhatian di ballroom bioskop itu.

                “Aku hanya berfikir rasional, Choi Jun-Hee. Terserah kau, aku tetap menonton Iron Man 3!” Rasional apanya?? Itu egois bukan rasional! Ingin sekali Jun-Hee meneriakan kata-kata itu di depan wajah Jong-In. Pemuda itu sama sekali tidak mengerti apa arti rasional sebenarnya. Ia hanya berkata apa saja yang lewat di otaknya!

Tanpa memikirkan perasaan Jun-Hee—yang mengusulkan kencan ini, Jong-In berjalan begitu saja menuju antrian tiket dan memesan satu tiket untuk Iron Man 3. Catat! Hanya satu!

                Jun-Hee hanya memandang Jong-In, yang mungkin tengah merasa kalau ia sedang datang ke sini seorang diri, dengan tatapan tidak mengerti. Apakah benar-benar makhluk di depannya ini adalah seorang manusia? Kenapa sama sekali tidak mempunyai hati??

                “Kenapa diam saja? Kau tidak jadi menonton film itu?” Jong-In menunjuk dengan dagunya film yang tadinya Jun-Hee rencanakan akan menonton bersama Jong-In.

                “Lupakan! Aku mau pulang!” Jun-Hee berbalik dengan perasaan kecewa luar biasa. Ia bisa saja menangis di sini, tapi ia masih mau dianggap orang normal. Pasalnya ia akan terlihat sangat jelek saat menangis—itu yang dikatakan Jun-Ho. Dan… memang begitu faktanya.

                Dan dua puluh detik kemudian Jun-Hee mendengar pekikkan para gadis di belakangnya memanggil nama Kai atau Jong-In. Oh well… semua kacau hari itu.

Ya, gwaenchanha?” Kai menyentuh pundak gadisnya yang sedari tadi hanya diam, menatap kosong antrian di loket.

Gadis itu terlonjak pelan, lalu menoleh kepada dirinya. “Jong-Ina…”

“Apa yang kaupikirkan?” tanya Kai di balik maskernya. Jun-Hee melamun, dan itu artinya gadis ini tengah memikirkan sesuatu sampai-sampai tidak menyadari apapun di sekitarnya. Yang pasti Jun-Hee memikirkan sesuatu yang sangat penting.

Gwaenchanha,” Jun-Hee tersenyum manis pada Kai. Oh ayolah… tidak ada senyuman yang ditunjukan Jun-Hee yang tidak manis. Bahkan Kai pernah berniat mengawetkan Jun-Hee yang tengah tersenyum lalu membawanya ke dorm EXO, hanya untuk bisa menikmati senyum itu setiap hari.

Jinjja?”

Jun-Hee mengangguk, membuat poninya bergerak lucu di dahinya. Kai terkekeh di balik maskernya sambil membenarkan poni gadis itu. Terlihat Jun-Hee tertegun dengan aksi Kai yang pasti terlihat aneh itu. Jadi, buru-buru Kai menjauhkan tangannya lalu berdeham pelan.

Kai mengantongi kedua tangannya di saku jaket. “Kau mau menonton film apa?”

“Ka-kau bertanya padaku?” Jun-Hee menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan polos. Ya! apakah perkataannya ada yang aneh?

Ani, aku bertanya pada sepatu baruku,” jawab Kai asal sambil menggerakkan kakinya yang memakai sepatu hitam barunya. Dalam hati ia terkekeh mengingat kalau ia menyuruh manager-nya sendiri untuk membelikan sepatu itu untuk kencan kali ini.

Jun-Hee menatap kaki Kai, sedetik kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap Kai sebal. “Aku serius!”

“Tentu saja aku bertanya padamu, Sweety.”

Wae?”

“Hah?” Kai mengangkat sebelah alisnya.

Jun-Hee menunduk dan menggesekan kedua kuku ibu jarinya. “Apa tidak apa-apa aku yang memilih? Kau tidak akan membentakku dengan apapun pilihanku?”

Deg.

Seketika Kai mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat Jun-Hee mengajaknya menonton di bioskop dan berakhir dengan nafas tersenggal-senggal. Waktu itu ia memang egois. Sangat egois malah. Harusnya ia membiarkan Jun-Hee memilih saat itu, hingga tidak membuat gadis itu mengurung diri di kamar dan menangis (dan berdampak pada omelan Jun-Ho yang pecah pada Kai). Dan setelah itu, Jun-Ho—oppa Jun-Hee—seakan menyembunyikan Jun-Hee dari jangkauan Kai. Ia hampir frustasi dan bunuh diri (oke yang satu itu tidak mungkin).

Ia berjanji kali ini ia tidak akan mengulangi semua itu.

Kai mengangguk mantap sambil tersenyum di balik maskernya. Ia mengacak rambut Jun-Hee pelan. “Ne, aku tidak akan marah. Yagsoghae (aku janji).”

Jun-Hee berhambur memeluk Kai beberapa saat. Oke, Kai lupa bagaimana cara bernafas sekarang. Kenapa udara di sini semakin memanas?? Apa tiba-tiba saja AC-nya mati? Jun-Hee melepaskan pelukan-tiga-detiknya. Walaupun sebentar, efeknya sangat besar untuk Kai. Apalagi ditambah bisikan Jun-Hee saat memeluk Kai tadi.

Gomawo, Kkamjong-a.”

@@@

                Jun-Hee lagi-lagi menatap ruang pertunjukan dengan tatapan norak. Bukan karena ia baru pertama kali memasuki ruangan ini gara-gara ia trauma dengan kegagalan kencannya waktu itu. Tapi ia merasa aneh. Masalahnya ruangan ini penuh, dengan semua bangku terisi di setiap barisnya. Kecuali barisannya dengan Jong-In. Mereka berdua duduk di barisan paling belakang yang steril dari makhluk apapun selain Choi Jun-Hee dan Kim Jong-In.

Jun-Hee menggoyang-goyangkan lengan Jong-In pelan.

Wae, Sweety?” tanya Jong-In tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya. Bisa ditebak, Jong-In pasti sedang memainkan game yang baru ia download dua hari yang lalu (Jong-In sendiri yang mengatakan pada Jun-Hee tadi).

“Jong-Ina, tidakkah kau merasa aneh dengan barisan kita?” Jun-Hee masih melihat sekeliling—berharap ada pasangan atau seseorang yang ikut duduk di barisannya.

“Memangnya kenapa?”

“Kenapa hanya kita berdua di sini?”

“Karena aku sudah memesan seluruh bangku di barisan ini,” jawab Jong-In enteng.

Mwo??!”

Kai memutar bola mata lalu menghentikan game-nya. Ia sudah menduga kalau ia mengatakan itu, gadisnya ini akan langsung memekikkan ‘mwo’ dengan wajah paling bodoh yang ia punya.

Ia menoleh ke Jun-Hee. “Aku sudah memesan barisan ini. Jadi, tidak ada seorangpun yang duduk di sini selain kita. Arraseo?”

Wa-wae?!”

Kai menghela nafas. “Kau pikir aku mau mengambil resiko dengan duduk diantara orang-orang dalam keadaan tengah-berkencan-dengan-seorang-gadis?”

Seakan baru menyadari sesuatu, Jun-Hee hanya mengangguk. “Ah.. geurae.”

Tidak. Itu adalah alasan ke dua puluh delapan yang ada di otak Kai. Bagaimanapun ia tidak mau alasan sesungguhnya ia menyewa seluruh bangku di barisannya. Hanya Tuhan dan dirinya yang boleh tahu kalau sesungguhnya ia hanya ingin tidak ada yang mengganggu acara kencannya kali ini. Pokoknya kencan kali ini harus berhasil! Apapun caranya. Ia sudah cukup banyak mengecewakan Jun-Hee, membuatnya menangis, bahkan… pernah hampir membuat Jun-Hee pergi gara-gara ia terinjak saat EXO mengadakan fanmeeting tahun lalu.

Dan semua lampu mulai dipadamkan. Kai mulai bisa bernafas lega dan membuka maskernya. Dengan kulit yang gelap dan juga kegelapan ruang pertunjukan bisa jadi tidak ada yang mengira seorang Kim Jong-In duduk di sana bersama seorang gadis. Ia terkekeh pelan membayangkan waktu SMA dulu Jun-Hee sering sekali mengejek Kai dengan sebutan Kkamjong dan akhirnya julukan itu merambat keseluruh siswa. Kai memang agak terganggu dengan julukan itu, tapi entah kenapa kalau Jun-Hee yang mengatakannya julukan itu bagai sebuah panggilan khusus hanya untuknya. Sama halnya dengan dirinya yang terkadang memanggil Jun-Hee dengan Sweety.

Selama film diputar, tidak sedetikpun Kai mengalihkan pandangannya dari Jun-Hee yang justru tengah serius-seriusnya menonton. Ia memperhatikan betul bagaimana ekspresi Jun-Hee, seakan dengan apa yang ia perbuat ia berharap akan bisa mengingat Jun-Hee selamanya. Oh ayolah… Kai merasa melankonis sekarang.

Jun-Hee masih belum sadar bahwa Kai terus memperhatikannya. Bagaimana caranya mengambil popcorn lalu mengunyahnya perlahan, sampai wajah jengkel dan bodohnya yang tidak sengaja Jun-Hee tunjukan karena adegan-adegan di film tersebut. Kai terkekeh menyadari betapa imut tingkah yeojacingu-nya ini. Entah dengan kesadaran atau tidak, jari telunjuk kanan Kai mulai menusuk-nusuk pipi tembam Jun-Hee perlahan sambil terkekeh sendiri. Dari dulu Kai sangat suka menggoda Jun-Hee dengan cara seperti ini.

Wae?” Jun-Hee menoleh membuat Kai hanya nyengir dan tetap melanjutkan aksinya.

Ya, Jong-Ina…,” Jun-Hee mencoba menjauhkan tangan Kai yang menganggunya.

“Sst… kau menonton saja, biarkan aku melakukan ini,” bisik Kai.

Jun-Hee mengangkat alisnya. “Kau aneh, Jong-Ina,” komentar gadis itu lalu kembali mengalihkan pandangannya ke layar. Kali ini Jun-Hee membiarkan Jong-In berbuat apapun sesukanya.

Ya, Jun-Heeya…”

Jun-Hee hanya berdeham membalas panggilan Jong-In. Harusnya pemuda ini tidak mengganggunya lagi. Ia terlalu sensitif jika sedang menonton film.

Jong-In belum menyerah. Ia kembali menusuk-nusuk pipi Jun-Hee dengan telunjuknya. “Jun-Heeya…,” bisik Jong-In.

Lelah dibegitukan, Jun-Hee berdecak lalu menoleh ke Jong-In. “Ada a—“

Chu~

Jun-Hee tidak tahu apakah nyawanya masih tersambung dengan tubuhnya. Jong-In baru saja menciumnya di tengah kegelapan ruang pertunjukan. Hanya ciuman biasa—tanpa ada pergerakan apapun. Namun tetap saja membuat jantung Jun-Hee mendapat olahraga yang—lebih dari—cukup. Lima detik kemudian Jong-In menjauhkan bibirnya, lalu tersenyum. Senyum yang membuatnya berkali-kali lipat terlihat lebih tampan dan… pervert. Ya, terkadang senyuman seorang Kim Jong-In malah lebih mengarah ke senyuman mesum, bukan senyuman yang… ya… senyuman.

Setelah itu Jong-In mendekatkan bibirnya ke telinga Jun-Hee dan berbisik sangat pelan—nyaris hanya hembusan nafas saja. Jun-Hee makin tertegun. Nyawanya melayang lebih jauh. Tuhan… jangan pernah bangunkan Jun-Hee dari mimpi yang luar biasa indah ini.

Jun-Hee baru kembali ke alam sadar saat ia tahu Jong-In sudah kembali ke tempat duduknya dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan senyuman bodoh. Jun-Hee terdiam lagi—berpikir. Ternyata ini memang mimpi-di-tengah-ruang-pertunjukan-film. Bodoh! Harusnya ia menyadari dari awal. Jong-In tidak pernah berbuat serius dalam keadaan apapun—mungkin. Anak itu selalu menganggap hal serius sebagai bahan candaan. Dan… mungkin termasuk yang satu ini.

Saranghae, Choi Jun-Hee.”

Saranghae? Kim Jong-In mengucapkan itu? Hah.. dunia ini pasti sudah gila! Pasti Jong-In hanya berniat menggoda Jun-Hee. Ya, pasti!

Jun-Hee mendengus sebal, lalu kembali menghadap layar. Ini bukan yang pertama kalinya memang, tapi tetap saja!

“Aku serius soal tadi.”

Jun-Hee masih bisa mendengar suara Jong-In di tengah-tengah suara heboh karena film sedang memasuki klimaks.

Mworago?” Jun-Hee menoleh cepat ke Jong-In.

Jong-In ikut menoleh. “Aku benar-benar serius dengan kalimat itu.”

Jun-Hee tertegun sesaat, lalu mulai menonton lagi. “Arraseo.”

Ya! Choi Jun-Hee, aku serius…,” Jong-In menggoyang-goyangkan tangan Jun-Hee.

“Kau kan memang selalu begitu,” kata Jun-Hee.

Ya, dengar,” Jong-In memutar badan Jun-Hee dan membuat mereka berhadapan lagi. “Aku tahu, aku sering berbohong padamu. Tapi kali ini aku sungguh-sungguh mengatakan itu.”

Jun-Hee bisa merasakan tatapan mata sungguh-sungguh dari Jong-In. Ya, mungkin Jong-In sungguhan kali ini. Tapi Jun-Hee mau memastikannya lagi. “Memangnya tadi kau mengatakan apa? Aku tidak mendengarnya.”

“Oh ayolah, Jun-Heeya… Ini sangat memalukan,”protes Jong-In.

Geurae? Ya sudah,” Jun-Hee mencoba melepaskan tangan Jong-In di lengannya, sampai akhirnya Jong-In menyerah.

“Ah ah arraseo..,” Jong-In menghela nafas panjang membuat Jun-Hee berusaha tidak tertawa melihat wajah tersiksa Jong-In.

Saranghae, Choi Jun-Hee,” ucap pemuda itu sangat sangat sangat pelan dari sebelumnya.

Kau tahu? Walaupun begitu Jun-Hee merasa bahagia beribu-ribu kali lipat dari ungkapan pertama tadi. Sebuah senyuman tidak bisa dihindari oleh Jun-Hee. Ia tersenyum dengan semu merah di kedua pipinya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Jong-In lalu berbisik pelan.

Nado saranghae, Kim Jong-In.”

Ungkapan Jun-Hee tidak bisa menahan Kai untuk tidak mencium Jun-Hee lagi. Ciuman yang lebih lembut dari ciuman tiba-tiba yang ia berikan tadi, dan juga lebih manis dari ciuman-ciuman sebelumnya.

Kai menatap wajah Jun-Hee yang bersemu cantik di ruangan gelap ini. Gadis itu tersenyum malu-malu, membuat Kai terkekeh pelan. Jun-Hee, tanpa disuruh, meletakan kepalanya di bahu Kai. Dan mereka terus begitu sampai film menunjukan credits.

@@@

                “Setelah ini kau mau kemana?”

Jun-Hee menghentikan gerakan-memakai-helm dan menoleh kepada Jong-In. Ia mengerutkan keningnya. Apa dia salah dengar?

“Kau bilang apa tadi?” tanya Jun-Hee memastikan.

Jun-Hee bisa melihat Jong-In mendesah di balik helm yang hanya tidak menutupi mata dan hidungnya. “Aku tanya, kau mau kemana lagi?”

“Eh? Kita masih mau pergi lagi?” tanya Jun-Hee bingung.

Jong-In melihat jam tangannya. “Ini baru jam setengah dua belas lewat. Kau mau langsung pulang?”

Jun-Hee terlihat menimbang sejenak. Kai berharap Jun-Hee tidak mengatakan apapun yang berhubungan dengan ‘pulang’ dan ‘rumah’. Ia tidak mungkin memaksa gadis itu untuk terus mengikutinya kemana mau Kai—itu bukan gayanya (walaupun terkadang ia begitu). Oh Tuhan… hilangkan kata-kata rumah dari ingatan Choi Jun-Hee…

“Kau mau mengantarku ke Sinseol-dong? Di sana sedang ada Japanese Festival,” kata Jun-Hee.

Kai menjentikkan jarinya. “Kau bos-nya, Sweety,” jawab Kai dengan seringai yang bisa membuat para fans-nya mati berdiri. Kai menutup kaca helm-nya disaat Jun-hee sudah ada di belakangnya—memeluk pinggangnya erat.

@@@

                Jun-Hee berjalan pelahan di antara orang-orang yang juga sedang menikmati kehebohan Japanese Festival. Mata Jun-Hee berbinar melihat begitu banyak ornamen Jepang yang terpajang. Jun-Hee adalah satu diantara beribu penggemar kebudayaan Jepang yang ada di Korea. Sebenarnya, Jun-Hee pernah tinggal di Jepang bersama ibunya selama lima tahun. Dan itu membuatnya kecanduan dan meminta keluarganya untuk membiarkan dirinya di sana. Tapi tidak berhasil. Saat usia sekolah menengah, Jun-Hee pindah ke Korea. Dan setelah bertemu dengan Jong-In ia seperti melupakan keinginannya untuk tinggal di Jepang. Sepertinya Korea memang tempat terindah.

Dan sekarang, saat ia dipertemukan kembali oleh ke-Jepang-an, ia melupakan segalanya. Ia melupakan waktu, melupakan perutnya, bahkan melupakan Kai yang berjarak tiga langkah di belakangnya dengan penyamaran ekstra. Sial! Kai tidak pernah berpikir festival semacam ini sangat sangat sangat ramai dan sesak. Ini sama saja di Shibuya. Aish.. tahu begini Kai pasti akan menolaknya.

Kai melihat Jun-Hee yang tengah menatap kagum seorang wanita yang memakai Yukata. Mata gadis itu berbinar-binar dan selanjutnya gadis itu mendekati wanita ber-Yukata. Mereka berbicara sebentar sebelum akhirnya Jun-Hee memanggil Kai dengan gerakan tangan. Kai mendesah pelan lalu mendekati gadis itu.

“Fotokan aku,” Jun-Hee menyerahkan ponselnya pada Kai dengan senyum merekah.

Kai mendengus di balik maskernya, tapi toh mengambil ponsel Jun-Hee juga. Jun-Hee berdiri di samping wanita ber-Yukata itu dan mulai bergaya. Dengan malas Kai mengabadikan itu dengan kamera ponsel Jun-Hee. Kenapa hanya Jun-Hee yang bersenang-senang di sini? Harusnya Kai ikut berfoto bukannya wanita itu!

Arigatou gozaimasu,” Jun-Hee membungkukkan badannya berkali-kali pada wanita itu setelah ia rasa cukup untuk fotonya. Wanita itu membalas bungkukkan Jun-Hee sambil tersenyum ramah lalu berjalan-jalan lagi entah kemana. Kai tidak peduli.

Lagi-lagi dia mengabaikanku! Dengus Kai dalam hati ketika Jun-Hee kembali berjalan di depannya. Gadis itu masih tersenyum, seolah ia menemukan suatu surga di sini. Dan kalau ini surga, Jun-Hee adalah malaikatnya. Kai terkekeh menyadari betapa konyol jalan pikirannya. Oke, dia berubah menjadi laki-laki romantis sekarang. Tapi… menurut Kai memang begitu adanya. Jun-Hee lebih dari sekedar indah baginya. Ia yang terpenting. Aih… bisakah ia mengabadikan senyuman Jun-Hee itu?

Ya, Jong-Ina, kenapa berhenti di sini?” Kai langsung mengerjap begitu menyadari Jun-Hee sudah berdiri di depannya.

“Ah, geuge…” sial! Dia kehabisan kata-kata. Mana mungkin Kai mau mengaku kalau sedaritadi ia mengagumi senyuman Jun-Hee? Bisa hancur imej-nya.

“Hm?” Jun-Hee memiringkan kepalanya menunggu jawaban Kai.

Aish.. jangan pasang ekspresi itu, Choi Jun-Hee! Teriak Kai dalam hati. Ia benar-benar tidak tahan dengan wajah polos Jun-Hee.

Geuge.. k-kau… kau meninggalkanku!” Kai sendiri tidak mengerti apa yang ia bicarakan.

“Aku?” Jun-Hee menunjuk dirinya sendiri.

Kai mengangguk. “Kau selalu berjalan di depanku. Kita ini kan sedang berkencan, jadi setidaknya berjalanlah di sampingku.” Oh oke, Kai benar-benar ingin menampar dirinya sendiri. Ini sama sekali bukan gayanya. Dan hanya seorang Choi Jun-Hee-lah yang bisa membuatnya seperti ini.

“Jadi aku harus bagaimana?”

Kai meraih tangan kiri Jun-Hee dengan tangan kanannya dan menggenggamnya lembut. Ia menarik Jun-Hee untuk berdiri di sampingnya. Gadis itu menatap Kai dengan tatapan tidak mengerti, tapi Kai tidak peduli. Bukankah ini wajar bagi pasangan yang sedang berkencan? Setelah itu, Kai kembali menarik Jun-Hee lembut agar tetap berjalan di sampingnya.

“Seperti ini,” kata Kai. Ia merapatkan tubuh Jun-Hee. “Jangan pernah pergi dariku.”

“Jong-Ina, kau kenapa?” Jun-Hee bertanya pelan.

Ani. Nan gwaenchanha,” jawab Kai. Tiba-tiba Jun-Hee memberhentikan langkahnya dan membuat Kai juga berhenti. Jun-Hee menatap Kai dengan tatapan menelisik, seolah ia akan segera mengetahui apakah Kai sedang bohong atau tidak dengan cara ini.

Kai memutar bola matanya. “Aish.. jinjja gwaenchanha!” Kai menegaskan.

“Kau aneh,” dengus Jun-Hee.

“Aneh bagaimana? Aku hanya sedang menjalani arti kencan sesungguhnya,” Kai mengangkat bahunya. “Kita ini sedang berkencan, kan?”

“I.. iya.. tapi…”

“Sst…” Kai memajukan wajahnya ke Jun-Hee. “Kalau begitu jangan banyak bicara,” setelah itu Kai kembali menarik tangan Jun-Hee.

Kai benar-benar bertekad harus menjadikan ini kencan.                Kai terus menggenggam tangan Jun-Hee tanpa sekalipun memberi kesempatan pada gadis itu untuk berjalan tanpanya. Walaupun kesannya agak memaksa, Jun-Hee tetap menyukai cara Kai memperlakukannya.

Ya, Jun-Heeya, kau lapar?”

Jun-Hee menolehkan kepalanya cepat. Apa? Apa dia tak salah dengar?

Baru Jun-Hee mau mengucapkan sepatah kata, Jong-In langsung memotongnya lagi. “Kkaja, kita ke sana!” ia menarik tangan Jun-Hee menuju salah satu stand makanan.

Dan sekarang keadaan menjadi berbalik. Bukan Choi Jun-Hee lagi yang menikmati festival ini, tapi Kim Jong-In. Jun-Hee sendiri hanya sibuk dengan kebingungannya dengan tingkah Jong-In yang sudah kelewat dari kenormalan-seorang-Kim Jong-In. Omo! Jangan-jangan sebelum Jong-In mengajaknya berkencan, ia kecelakaan dan kepalanya membentur tiang lampu lalu lintas. Jun-Hee menatap Jong-In cemas, memastikan kalau pikirannya hanya khayalan semata.

Wae?” tanya Jong-In ditengah-tengah kegiatannya meniupi takoyaki yang baru matang itu. Pemuda itu menurunkan topi yang ia pakai dan memakai kembali kacamata hitamnya, sedangkan maskernya ia turunkan. Ayolah.. mana ada yang mau makan dengan masker masih menutupi mulutnya.

Gwaenchanha?”

Ne, hanya sedikit panas,” setelah itu Jong-In langsung melahap bulat-bulat satu takoyaki. Kemudian ia heboh sendiri karena bagian dalam takoyakinya masih panas.

“Minum! minum!” Jun-Hee ikut panik sambil menyodorkan botol air mineral pada Jong-In.

Jong-In mengambil botol air mineral itu, lalu meminumnya cepat-cepat. Ia menghabiskan hampir tiga perempat isi botol itu. Jun-Hee memandang Jong-In takjub. Pemuda ini kepanasan karena Takoyaki atau habis berjalan dua puluh empat jam di gurun pasir?

Gwaenchanha?” tanya Jun-Hee.

“Kau kira akau begini masih baik-baik saja??” sahut Jong-In ketus. Ia kembali menegak sisa air mineral yang ada di tangannya sampai tandas.

Aish… kenapa marah-marah??” Jun-Hee tidak mau kalah. Walaupun ia tidak berteriak, kentara sekali kalau ia berada dalam kekesalan yang cukup besar. “Itu kan bukan salahku! Kau sendiri yang membuat lidahmu melepuh!”

Jong-In diam saja.

Mianhae,” kata Jong-In kemudian. Ia berbicara sangat pelan, hampir sebuah bisikan.

Dwaesseo,” Jun-Hee berjalan meninggalkan Jong-In di sana. Ia kesal. Dari dulu Jong-In tidak pernah berubah. Pemuda itu tidak pernah memproses terlebih dulu kata-kata yang akan ia keluarkan. Tidak peduli bila orang yang mendengarnya akan sakit hati padanya.

Awalnya Jun-Hee cukup tersanjung dengan cara Jong-In memperlakukannya hari ini. Tapi ia sadar, Kim Jong-In tetaplah Kim Jong-In. Seorang pemuda yang tidak pernah bersikap manis.

Ya!” seseorang menarik lengan Jun-Hee. Orang itu membalikan badannya. “Mianhae… nan jeongmal mianhae.”

Jun-Hee mendengus sekali lagi. Entah ini sudah kata maaf keberapa ratus yang Jong-In katakan padanya.

“Ayolah, Choi Jun-Hee…  jangan seperti ini. Tadi itu aku tidak sengaja,” Jong-In mengusap-usap tangan Jun-Hee dengan kedua tangannya. Dan yang harus diperhatikan adalah ekspresi memelas Jong-In. Kalau saja Jun-Hee sedang tidak kesal pada pemuda di depannya ini, ia pasti sudah tertawa sampai perutnya kram.

Jun-Hee melepaskan tangannya dari Jong-In, namun buru-buru pemuda itu meraihnya lagi.

Mwoya, Kim Jong-In?” ucap Jun-Hee akhirnya—walaupun terdengar sangat malas.

Mianhae, ne.”

Jun-Hee menghela nafas. “Arraseo, kau kumaafkan. Puas?” ia menatap Jong-In jenuh.

Jinjja? Aku dimaafkan?” kalau saja kacamata hitam itu tidak menutupi mata Jong-In, Jun-Hee yakin mata Jong-In sedang membulat persis mata Do Kyung-Soo—si member EXO yang bermata besar.

“Tidak. Kau salah dengar tadi,” mood Jun-Hee kembali jelek. Apakah Jong-In tuli karena terlalu banyak bernyanyi? Oh ayolah, itu tidak ada hubungannya.

Ya, Choi Jun-Hee!”

“Kau ini cerewet sekali,” kata Jun-Hee. “Kau benar-benar tidak mau kumaafkan?”

Ah ah aniya, aniya… aku… aku bercanda tadi, iya bercanda,” Jong-In tertawa pelan. Tertawa penuh keterpaksaan. “Gomawo, Sweety.” Ia tersenyum manis.

Kai menundukkan badannya untuk membuat wajahnya sejajar dengan wajah Jun-Hee. Benar kan, wajah gadis itu memerah. Aigu… Kai tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit kedua pipi Jun-Hee.

Aish…” Jun-Hee memukul tangan Kai hingga cubitan itu terlepas. “Sakit tau!”

Kai terkekeh melihat ekpresi Jun-Hee. Sangat manis. “Ya, Jun-Heeya, pernahkah aku berkata kalau kau itu sangat manis?”

“Mana pernah,” jawab Jun-Hee ketus sambil mengalihkan pandangannya.

Kai berpikir. Benarkah ia tidak pernah melakukan itu? Aish… ia pasti sangat bodoh!

“Kalau begitu biar aku katakan sekarang,” Kai menangkap wajah Jun-Hee dan mengarahkan padanya. “Kau sangat manis, Sweety.”

Wajah Jun-Hee semakin memerah, persis buah ceri di yang mereka petik bersama saat study tour tiga tahun yang lalu. Merah dan manis. Ah.. Jun-Hee adalah buah ceri-nya.

Mwoya…” Jun-Hee mendorong dada Kai malu-malu.

Kai terkekeh geli melihat wajah itu. Ia ingin berteriak. Benar-benar ingin berteriak dan meledak sambil mengatakan kalau ia sangat beruntung memiliki gadis manis yang—terkadang—menjengkelkan ini.

Jun-Hee ikut tertawa pelan. “Kau seharusnya banyak tertawa, Jong-Ina. Jangan marah-marah terus,” katanya.

“Siapa bilang—“

Kai langsung menghentikan kata-katanya saat melihat ekspresi Jun-Hee yang mengatakan mau-mengelak-lagi-ya. Dan itu adalah ekspresi terjelek Jun-Hee setelah ekspresi bodoh saat berteriak ‘mwo’.

“Ah ah arraseo, arraseo,” Kai menyerah. “Aku tidak akan marah-marah lagi. Yagsoghae!” Kai mengangkat jari telunjuk dan tengah kedua tangannya—berjanji.

Jun-Hee tiba-tiba saja langsung menarik sebelah tangan Kai dan menyeretnya. Ah.. maksudnya bergandeng tangan. Mungkin saja gadis itu terlalu malu untuk meminta Kai menggenggam tangannya lagi, jadi ia menggunakan cara yang sedikit ‘kasar’.

Kai melirik jam tangannya. Kemudian ia berhenti berjalan, membuat Jun-Hee juga ikut berhenti dan menoleh kepadanya.

Wae?”

“Sekarang sudah jam empat,” kata Kai.

Jun-Hee melihat jam tangannya. Omo! Apa sudah selama itu mereka di sini? Kenapa tidak terasa? “Lalu kenapa? Kau ada jadwal?”

Kai menggeleng cepat-cepat. “Tidak. Aku benar-benar free. Sungguh!” Kai berkata dengan nada kau-harus-percaya-padaku.

“Lalu?”

“Kita harus pindah lokasi.”

Mwo?” lagi. Jun-Hee memasang wajah itu lagi.

Aish… jangan keluarkan ekspresi itu!” gerutu Kai. “Ayo kita ke Lotte World!”

Mworago? Lo-lotte World?” Jun-Hee tidak tahu apakah ia sekarang sedang berada di dunia apa di alam mimpi. Kim Jong-In? Mengajaknya ke Lotte World? Astaga! Itu adalah sebuah hadiah besar yang dianugrahkan Tuhan. Pasalnya, Jun-Hee pernah mengajak Jong-In kesana, tapi ditolak mentah-mentah dengan alasan akan banyak yang akan mengenalinya. Dan sekarang?? Pemuda-yang-dulu-menolak-saat-diajak-ke-Lotte-World, mengajaknya ke sana.

Jong-In mengangguk. Ia langsung menarik tangan Jun-Hee dari sana. Sedangkan Jun-Hee masih bergeming. Ia tidak peduli Jong-In sedang menariknya kemana. Kata Lotte World melayang-layang di kepalanya persis saat Jong-In mengatakan kencan tadi malam. Oh Tuhan.. ini indah sekali…

@@@

                Lagi dan lagi Jun-hee tampak norak. Ia seperti orang kampung yang baru saja datang ke Lotte World. Oh ayolah.. bukan itu sebenarnya. Jun-Hee hanya terlalu senang sampai-sampai ia merasa kalau ia berasal dari planet lain yang tidak tahu apa-apa tentang kencan.

Ya… ini kencan sesungguhnya.

Wae? Kau tidak suka?”

Suara di sebelah Jun-Hee kembali menyadarkan gadis itu. Ah… Kim Jong-In. Pemuda ini yang membuatnya merasa berasal dari planet lain. Ya, dia terlalu baik dan… aneh hari ini. Perlu dicatat, tiket masuk ke sini semua dibayar oleh Kim Jong-In-yang-terkenal-pelit ini.

Aniya!” Jun-Hee menggeleng cepat takut Jong-In sungguhan menganggapnya tidak suka.

“Kau habis mendapatkan honormu, ya?” tanya Jun-Hee kemudian.

Jong-In mengangkat bahunya. “Ani. Wae? Kau mau sesuatu?”

“Kenapa kau baik sekali?” Jun-Hee menunduk sambil memainkan kuku jarinya.

Ya,” Jong-In membalikkan badan Jun-Hee, walaupun gadis itu masih saja menunduk. “Tatap aku,” suruhnya kemudian.

Pelan-pelan Jun-Hee mengangkat wajahnya dan menatap wajah Jong-In yang sudah tertutupi segala alat penyamaran—masker biru dongker dan hoodie yang menutupi kepalanya. Jong-In tidak memakai kacamata hitamnya, hingga Jun-Hee bisa melihat manik mata Jong-In yang bening dan lembut. Jun-Hee tidak kuat kalau seperti ini. Ia tidak kuat untuk menatap mata orang lama-lama. Ia ingin segera saja menangis dan memeluk orang itu.

“Kita sedang kencan, kan?”

Jun-Hee mengangguk. Bibirnya mulai bergetar dan matanya mulai berkabut. Benarkan? Jun-Hee tidak kuat dalam keadaan seperti ini.

Ya.. uljimma..” Kai menepuk-nepuk kedua pipi Jun-Hee pelan sambil terkekeh. “Aku tidak sedang membentakmu.”

“Jangan pernah menatapku seperti itu lagi,” Jun-Hee meninju pelan dada Kai—pura-pura kesal.

Aigu… dengan pipi merah begitu, Jun-Hee lima kali lipat terlihat lebih manis. Kai dengan gemas mencubit pipi gadis itu sampai memerah—maksudnya benar-benar merah.

“Kim Jong-In babo!” pekik Jun-Hee sambil memukul kepala Kai cukup kencang sampai hoodie yang dipakainya sedikit terbuka—membuat wajahnya sedikit terlihat. Dengan buru-buru Kai membenarkan kembali letak hoodienya.

Ya!!” Kai sangat kesal. Bagaimana kalau nanti ia ketahuan??!

Jun-Hee tidak memperdulikannya yang tengah kesal. Gadis itu menjulurkan lidahnya lalu berlari meninggalkan Kai.

“Choi Jun-Hee!!”

@@@

                Kai kembali jengkel dengan Jun-Hee setelah ia merasa sudah cukup senang. Pasalnya, setelah insiden pemukulan-kepala-Kim Jong-In dan Kai marah-marah karena gadis itu hampir saja membuat penyamarannya sia-sia, Jun-Hee tiba-tiba saja berlari kembali ke Kai lalu bergelayut manja di lengannya.

“Kencan kan memang harus begini,” alasan Jun-Hee saat Kai bertanya ‘apakah ada masalah dengan otakmu’.

Dan sekarang yang membuatnya jengkel lagi adalah gadis itu terus menariknya ke permainan yang sama sekali tidak menantang. Lebih tepatnya permainan anak kecil. Camelot Carousel, Animal theather, Bumper Car, Drunken Basket, Folk Museum, dan yang sedikit menantang adalah Flume Ride (karena melewati masa Jurrasic). Hah… apa jiwa anak-anak pada diri gadis ini sedang dalam mode on? Padahal Kai berharap bisa kencan sekaligus menghilangkan kepenatannya dengan berteriak-teriak di atas roller coaster. Tapi gadis ini terus menolaknya.

Shireo! Naik saja sendiri!” tolak Jun-Hee kesekian kalinya saat Kai terus memaksa.

Ya, Jun-Heeya.. jebal… kita kan sedang kencan, jadi harus tetap bersama,” Kai memasang aegyo gagalnya sambil mengusap telapak tangan Jun-Hee.

Shireo! Aku.. aku tidak mau naik itu!”

Wae??” Kai mulai tidak sabar. “Aku kan sudah menemanimu bermain daritadi.”

“Aku…”

Wae? Kau takut ketinggian, eo? Kau takut naik roller coaster?” Kai terus menyudutkan Jun-Hee dengan suara yang tidak bisa dikatakan tenang.

“Kalau kau tahu, kenapa bertanya, Kim Jong-In?!” Jun-Hee tidak kalah kesalnya. Ia mendengus lalu membuang muka.

“Eh, jinjja?” Kai membulatkan matanya lalu mendekat ke Jun-Hee. “Kau takut naik itu?” ia menunjuk arena roller coaster yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Berhenti mengejekku, Jong-Ina!” Jun-Hee menghentak-hentakkan kakinya kesal sambil cemberut.

Tawa Kai pecah. Ia sama sekali tidak menertawakan tentang ketakutan seorang Choi Jun-Hee untuk naik roller coaster, tapi tentang ekspresi yang Jun-Hee yang benar-benar menggemaskan. Ia sama sekali lupa dengan umurnya yang sudah menginjak sembilan belas tahun. Ayolah… tingkah Jun-Hee sama saja dengan anak kecil berusia lima tahun yang sering bermain di taman dekat dorm EXO.

Ya!! Kim Jong-In!!” Jun-Hee berteriak kesal saat tawa Kai tidak juga mereda.

Mianhae… mianhae, Jun-Heeya..,” Kai mengangkat sebelah tangannya sedangkan tangan satunya masih memegangi perutnya. Kai sendiri heran, kenapa ia bisa tertawa sehebat itu hanya karena seorang Choi Jun-Hee.

Jun-Hee mendengus sebal.

Kai menghela nafas dan mencoba menetralkan kembali tawanya. “Arraseo. Kau tunggu di sini saja, eotte?”

Jun-Hee tidak menjawab. Gadis itu kembali memalingkan wajahnya dari Kai.

Ya, Jun-Heeya, jangan marah…”

“Aku tidak marah,” elak Jun-Hee. Haah… orang bodoh juga tahu kalau gadis ini sedang kesal. “Naik saja sana.”

“Benar kau tidak marah?” Kai memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Jun-Hee yang masih berpaling darinya.

Neeeee…,” Jun-Hee menjawab dengan nada amat malas.

Kai menghela nafas sekali lagi. “Arraseo, tunggu disini ya, Sweety,” Kai menyempatkan untuk mengacak rambut Jun-Hee sebelum ia mengantre di permainan roller coaster.

Jun-Hee menghela nafasnya kasar begitu Jong-In meninggalkannya. Gara-gara ketakutannya dengan ketinggian dan kecepatan, kencannya menjadi sedikit terganggu. Ya, Jun-Hee menyadari kalau ia sedikit egois karena Jong-In terlalu memanjakannya hari ini, hingga ia pikir tidak apa-apa. Merasa tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, Jun-Hee pun duduk di bangku terdekat.

Jun-Hee yang melihat Jong-In melambaikan tangannya dari antrean permainan roller coaster dengan semangatnya, hanya bisa tersenyum tipis sambil membalas lambaian itu dengan lemas. Haah.. apa yang harus ia lakukan sekarang? menunggu Jong-In selesai bermain? Aish… itu terlalu lama! Lihat saja antreannya sepanjang itu.

Jun-Hee bisa saja pergi ke wahana lain sementara Jong-In bersenang-senang, tapi… kalau Jun-Hee tersesat dan Jong-In tidak menemukannya, atau lebih buruknya lagi Jong-In ketahuan oleh fans-nya hingga pemuda itu meninggalkan Jun-Hee sendirian di sini, bagaimana? Oh oke, itu sedikit berlebihan. Tapi—hei.. itu bisa saja kan!?

“Jun-Heeya?”Jun-Hee mengangkat wajahnya dan melihat sesosok pria kulit pucat dengan rambut hitam yang berdiri di depannya.

Seonbaenim!” pekik Jun-Hee begitu mengetahui kalau pria itu adalah Kang Chan-Sung—seonbae-nya di kampus. Ia pun berdiri dari duduknya dengan senyum merekah. “Sedang apa di sini?”

Chan-Sung mengantongi kedua tangannya di saku celana jeans-nya. “Tentu saja bersenang-senang,” lalu ia terkekeh. “Kau sendiri? Ah—biar ku tebak, sedang kencan, kah?”

Jun-Hee tertunduk malu dengan wajah memerah. Bagaimana bisa seonbae-nya ini tahu? Apa tertulis jelas di wajanya kalau ia tengah bahagia karena diajak berkencan oleh kekasihnya?

Eoh? Apakah aku benar?” melihat reaksi Jun-Hee, Chan-Sung bertanya dengan nada dibuat-buat. “Aigu… aku patah hati,” Chan-Sung meremas dadanya—pura-pura sakit hati.

Ya! Seonbae…” Jun-Hee mendorong dada Chan-Sung malu-malu.

Chan-Sung terkekeh, dan kemudian duduk di tempat yang tadi Jun-Hee tempati. Melihat itu, Jun-Hee pun ikut duduk di sebelah Chan-Sung.

“Aku tersesat,” kata Chan-Sung sesaat Jun-Hee duduk. “Aku mengajak teman-temanku ke sini, tapi mereka malah asik dengan pacar mereka.”

Ingin rasanya Jun-Hee tertawa keras melihat ekspresi sok sedihnya Chan-Sung. Pasalnya wajah konyol Chan-Sung sama sekali tidak cocok dengan eskpresi itu. Tapi Jun-Hee masih punya sopan santun untuk tetap menahan tertawanya walaupun ia benar-benar mau meledak.

“Loh? Mana Kyu-Ra eonni?”

Chan-Sung menghela nafas mendengar pertanyaan Jun-Hee. “Dia kan baru kembali lusa.”

Jun-Hee merutuki dirinya. Harusnya ia tahu itu, kalau pacar seonbae-nya yang satu ini sedang meneruskan kuliahnya di Jepang. Ya… memang mustahil bagi orang-orang untuk menjalani long distance relationship—termasuk Jun-Hee. Ia sama sekali tidak percaya dengan keberhasilan hubungan seperti itu, awalnya. Well, Jun-Hee yang secara harfiah masih berhubungan di satu negara pun masih harus merasa seperti gadis termalang, apalagi kalau antar negara.

Ditambah keadaan Jong-In.

Jun-Hee melirik ke arah antrean roller coaster. Jong-In sudah tidak terlihat di sana. Haah… apa iya mereka bisa seperti—setidaknya—hubungan seonbae-nya ini?

@@@

                Kai terdiam di tempatnya berdiri sambil menggenggam dua kaleng soda. Ia ragu untuk melangkah ke tempat Jun-Hee duduk dimana gadis itu tidak sendiri lagi. Gadisnya itu sudah bersama pria lain yang…. harus Kai akui memang lebih tampan. Tapi ayolah, ia akan menganggap dirinya sendiri tidak normal bila harus mengatakan itu.

Kai melangkah kakinya, lalu mundur lagi. Apa iya, ia harus ke sana? Tapi, kalau orang itu tahu kalau dia adalah Kai EXO—yang ditambah fakta sedang berkencan dengan Choi Jun-Hee—entah apa yang akan terjadi. Dan kalau ia terus membiarkan seperti itu mungkin saja Jun-Hee akan berpaling padanya. Hei, tidak ada yang tahu hubungan mereka seperti apa, kan? Kai sendiri pun masih menebak-nebak dari raut wajah mereka saat berbicara dan tertawa. Ugh… Jun-Hee tidak pernah sesenang itu saat bersamanya.

“Park Geun-Woo! Ya!!” Kai melihat pria itu berdiri tiba-tiba sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Kemudian pria itu berbicara sebentar dan melambai pada Jun-Hee sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan gadis itu. Haah… akhirnya.

Kai pun melangkah dengan sedikit pasti ke Jun-Hee yang sepertinya sudah bosan menunggunya.

“Apa dia selingkuhanmu?”

Gadis itu terlihat tersentak dengan suara Kai. Ia pun berdiri lalu berbalik sambil menaikan alisnya. “Eoh? Mworago?”

Kai menghela nafas jengkel lalu duduk di bangku itu sambil menyerahkan satu kaleng soda pada Jun-Hee. “Apa dia yang menggantikanku saat aku tidak ada?” ia berkata tanpa menoleh pada Jun-Hee.

“Kau ini bicara apa?” tanya Jun-Hee yang sudah duduk di tempatnya semula. Ia pun membuka sodanya, dan mulai meminumnya.

“Siapa pria tadi?” Kai memainkan jarinya di mulut kaleng. Entah kenapa ia sangat takut mendengar jawaban Jun-Hee.

Nu—ah… kau melihatnya?” Jun-Hee malah balik bertanya, membuat Kai mendengus di balik maskernya. “Dia itu seonbae-ku di kampus.”

“Dan kau menyukainya?”

M-mwoya?!” ah.. pasti Jun-Hee sedang mengeluarkan ekspresi bodohnya lagi.

Dengan malas, Kai memutar kepalanya untuk menatap Jun-Hee. “Kau menyukainya.” Dan entah kenapa nada bicara Kai terdengar seperti menyatakan pernyataan bukan pertanyaan.

“K-kau—“ Jun-Hee menunjuk Kai dengan tatapan tidak percaya. “Ne! Aku menyukainya! Kenapa? Kau marah, hah!?” Jun-Hee menaikan nada bicaranya. “Aishjinjja, Kim Jong-In,” dengusnya kemudian sambil membuang muka.

“Dia itu sudah mau bertunangan! Aku bahkan sudah menerima undangannya,” lanjut Jun-Hee.

Jun-Hee sama sekali tidak mengerti bagaimana jalan pikiran seorang Kim Jong-In. Apa karena ia berbicara dengan seorang pria, itu berarti ia menyukainya? Aish… kalau begitu Jong-In pantas mendapat hadiah nobel untuk kategori penemu teori percintaan yang baru. Benar-benar idiot!

“Ja-jadi—“

Jun-Hee menoleh cepat ke Jong-In. “Eo! Bahkan kalaupun aku menyukainya, aku sama sekali tidak punya kesempatan, Kim Jong-In bodoh!” katanya dengan nada kau-benar-benar-idiot-Jong-In.

Ekspresi Jong-In yang tadi terkejut, tiba-tiba muram lagi. “Ya, Jun-Heeya…”

“Kau takut sekali kehilanganku, ya?”

“Err… lupakan!” Kai mengalihkan pandangannya sekaligus mengalihkan degub jantungnya yang mulai tidak beraturan. Sial! Dia ketahuan!

“Jujur saja… aku tidak akan marah,” dan kemudian terdengarlah kekehan khas Jun-Hee. Benarkan, Kai memang tidak pernah bisa menyembunyikan perasaannya dengar baik, apalagi di hadapan Choi Jun-Hee.

Aigu… kau sangat manis, Jong-Ina,” Jun-Hee mencubit pipi Kai. Aish! Tidak sadarkah dia kalau wajah  Jong-In semakin memanas??

Ya!” Kai menjauhkan wajahnya dari tangan Jun-Hee. Namun bukannya menghindar, Jun-Hee malah tertawa lalu menusuk-nusuk pinggang Kai—persis yang Kai biasa lakukan pada pipi gadis itu.

Ya! Choi Jun-Hee! Hentikan…,” Kai berkata keras walaupun ia tengah kegelian.

Jun-Hee mendorong bahu Kai. “Kau—“ ia pun tertawa lagi.

Kai memandangi Jun-Hee yang tengah tertawa lepas itu. Lenyap sudah teori yang ia buat beberapa menit yang lalu. Ternyata seorang Choi Jun-Hee bisa juga tertawa seperti itu saat bersamanya.

Merasa Jong-In tidak merespon apapun, Jun-Hee pun menoleh pada pemuda itu. Jong-In persis tengah memandangnya dengan tatapan yang ia sendiri tidak mengerti. Jun-Hee menghentikan tawanya lalu mulai salah tingkah. Apa ada yang salah dengan wajahnya?

Y-Ya! Jong-Ina, w-wae?”Jun-Hee mencoba mengalihkan pandangannya walaupun ia tidak bisa.

“Jun-Heeya, apa kau bahagia saat bersamaku?”

Jun-Hee tertegun dengan kata-kata yang keluar dari mulut Jong-In. Hei, kenapa pemuda ini begitu melankonis sekarang!

Ne?” Jun-Hee pura-pura bingung. Setelah mengatur degub jantungnya kembali, ia menambahkan. “Geurom! Kau kan sangat sibuk. Tentu aku senang saat kita bisa berjalan bersama.”

Jun-Hee bisa merasakan kalau Jong-In tersenyum di balik maskernya. Pemuda itu pun mengangkat kepalanya lalu mengacak pelan rambut Jun-Hee. “Baguslah kalau begitu,” katanya.

Jong-In pun menjauhkan tangannya lalu menghela nafas cukup keras. “Nah!” serunya sambil bangun. “Ayo kita berkeliling lagi,” Jong-In mengulurkan tangannya menunggu Jun-Hee.

Jun-Hee memandangi tangan itu sejenak, lalu beralih kepada pemiliknya. Gadis itu tersenyum dan menyambut tangan itu. Tanpa menunggu apapun lagi, Jong-In langsung menggenggam tangan Jun-Hee.

Ya, Jun-Heeya. Apa saat kita bertunangan, kita harus mengundang seonbae-mu itu?”

@@@

                Jun-Hee memandang wahana di depannya seakan itu adalah gerbang menuju neraka paling mengerikan. Gadis itu menelan ludahnya beberapa kali sampai-sampai Kai—yang berdiri di sebelahnya—hanya berdecak sebal. Aeronauts Baloon Sky Ride, wahana berbentuk balon udara untuk mengelilingi Lotte World dari ketinggian.

“Jong-Ina, bisakah kita ke food court saja? Aku lapar,” Jun-Hee menepuk-nepuk perutnya seolah-olah ia memang kelaparan.

“Astaga, Choi Jun-Hee… kau baru makan tiga donat tadi,” Kai menggelengkan kepalanya. Cih! Gadis ini mau menghindari ternyata.

“Tapi—“

“Ayo… naik saja…,” Kai mendorong pelan punggung Jun-Hee menuju antrean sebelum gadis itu beralasan lagi.

“Jong-Ina—“

“Ada aku di sini. Tidak perlu takut.”

Entah karena Jong-In punya sihir atau apa, Jun-Hee merasakan sensasi hangat yang menjalar di setiap inci tubuhnya sesaat setelah Jong-In mengatakan itu. Dan itu berefek pada gerak tubuh Jun-Hee. Gadis itu dengan mudahnya mengangguk dan percaya saja kalau semuanya akan baik-baik saja. Aish… bagaimana nasib phobia-nya?

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tiba giliran Jun-Hee dan Jong-In. Jun-Hee melangkahkan kakinya dengan ragu, namun langsung saja Jong-In mendorongnya hingga ia masuk ke dalam balon udara itu dan petugas menutup pintunya. Jun-Hee mengepalkan tangannya yang sudah berkerigat dingin.

Jangan lihat ke bawah… Jangan lihat ke bawah…

Ya, Jun-Heeya, coba lihat! Ini sangat keren!” pekik Jong-In yang suah melepaskan segala penyamarannya. Pemuda itu melihat pemandangan di bawahnya dengan antusias.

“Diam!” Jun-Hee menutup matanya rapat-rapat.

Tiba-tiba Jun-Hee merasakan sesuatu yang hangat menggenggam tangannya. Ia pun membuka mata dan mendapati tangan Jong-In tengah menggenggam tangannya.

“Bukankah aku sudah bilang, tidak perlu takut? Ada aku di sini, kan?” tanyanya lembut. Jun-Hee bisa melihat itu. Jong-In benar-benar mengatakan itu dari tatapan matanya.

Lagi-lagi Jun-Hee terhipnotis dan mengangguk.

“Nah, sekarang lihat ke bawah. Ini sangat seru,” pelan-pelan Kai menuntun Jun-Hee untuk berbalik dan melihat ke luar balon itu. Jun-Hee menurut. Dan setelah gadis itu membuka matanya—walau tangannya masih gemetaran—ia berseru senang.

“Ini benar-benar keren!”

“Sudah kubilang, kan?” kata Kai, setengah membanggakan diri.

Jun-Hee menoleh. “Gomawo, Jong-Ina,” gadis itu tersenyum, dan berefek pada wajah Kai yang memerah karena senang. Aigu… ini memalukan!

“Jun-Heeya, aku—“

Sebuah dering ponsel menginterupsi kalimat Kai. Kai melihat Jun-Hee buru-buru merogoh saku kecil di bagian depan tasnya, lalu mengeluarkan ponsel dari sana.

Yeoboseyo?…. ah! Oppa! Waeyo?”

Ah… pasti Ji-Hoon playboy itu! sungut Kai dalam hati. Kenapa kakak pacarnya ini tidak pernah membiarkannya senang, sih?

Ne, tidak sampai malam kok,” kata Jun-Hee. “Ne… Ne… arraseo.”

Kai mendengus lalu memilih untuk melihat ke bawah dengan telinga di pasang tajam-tajam. Siapa tahu Ji-Hoon playboy itu mengatakan hal-hal aneh tentangnya.

Jun-Hee berdecak. “Arraseo… sudah, ya, Oppa.”

“Kenapa kau tidak pernah memanggilku seperti itu?” tanya Kai setelah Jun-Hee mengakhiri panggilannya.

Ne?”

Oppa. Kau tidak pernah memanggiku ‘oppa’.”

“Bukankah kau sudah sering mendengar itu dari fansmu?” Jun-Hee bertanya dengan nada menyindir. “’Kai Oppa!! Kyaaa…. Jong-In Oppa, saranghae!’ Seperti itu kan?” Jun-Hee menirukan fans-fans Kai yang ya…. memang seperti itu.

“Tapi aku maunya darimu!” Kai tetap bersikukuh.

Shireo!”

“Ayolah, Jun-Heeya…”

“Lagipula aku lebih tua tiga bulan darimu, Kim Jong-In!”

Kai mendecih. “Jadi itu alasanmu tidak mau memanggilku dengan ‘oppa’?”

“Setidaknya seperti itu,” Jun-Hee menjawab. “Aku lebih suka memanggimu ‘Jong-In’ karena kau kan memang Jong-In-ku.”

Kai tertegun mendengar ucapan Jun-Hee. Jong-In-ku? Kenapa itu terdengar jauh lebih istimewa dari sebutan oppa?

Gomawo, Jong-In Oppa,” cepat-cepat Kai menoleh mendengar panggilan itu.

M-mworago?!” Kai menggeser tubuhnya mendekat ke Jun-Hee, memastikan ia tidak salah dengar tadi.

“Aku tidak mau mengulangnya!” sahut Jun-Hee. Wajah gadis itu memerah seperti ceri.

Kai terkekeh lalu menggenggam tangan Jun-Hee. “Aku juga berterima kasih karena kau mau  sabar menungguku selama ini.”

Aish… berlebihan!” Jun-Hee mendorong bahu Kai dengan wajah malu-malu.

Ya, Jun-Heeya, kau tahu sekarang tanggal berapa?”

Eung—“

Kai mendekatkan bibirnya ke telinga Jun-Hee. Ia berbisik.“Dua April.”

Jun-Hee terbelalak. “Omo! Itu berarti—“

Happy anniversary, Sweety,” setelah mengatakan itu Kai mengecup pipi Jun-Hee penuh sayang. Wajah Jun-Hee yang tadinya sudah memerah, kini bertambah merah. Mungkin gadis itu akan meledak jika Kai mengucapkan kata-kata manis sekali lagi.

“Jong-Ina….,” mata Jun-Hee berkaca-kaca. Ia tidak percaya kalau ia melupakan hari spesialnya ini dan sekaligus bahagia karena Jong-In yang mengingatnya.

Jong-In terlihat membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah kantong beludru berwarna biru dari sana. Jong-In merogoh kantong itu dan kemudian keluarlah sebuah kalung perak berbandul bulat dengan ukiran huruf ‘J’ di sana.

“’J’ untuk Jong-In, dan ‘J’ untuk Jun-Hee,” kata Jong-In sambil memperlihatkan kalung itu.

Yeppeuda (cantik).”

“Kau mau memakainya?”

Ayolah… itu pertanyaan bodoh! Tentu saja Jun-Hee mau! Jun-Hee pun mengangguk yakin diiringi dengan kekehan dari mulut Jong-In. Jong-In pun membuka pengait kalung perak itu dan kemudian memakaikannya ke leher Jun-Hee.

“Cocok sekali denganmu,” komentar Jong-In.

Gomawo. Jeongmal gomawo, Jong-Ina,” Jun-Hee berhambur untuk memeluk Kai, membuat pemuda itu merasakan sensasi luar biasa dalam dirinya. Lega, bahagia, senang, pokoknya…. hebat! Keren!

Ne. Cheonma, Sweety,” Kai membalas pelukan Jun-Hee.

@@@

                “Hujan.”

Kai ikut mengadahkan kepalanya saat Jun-Hee berkata itu. Ya, hujan. Memang belum lebat, tapi hujan seperti ini akan bertahan lama dan sangat menyita waktu. Mereka tidak mungkin menunggu sampai hujan benar-benar berhenti.

“Kau tunggu di sini, ya, aku ambil motor,” perlahan Kai melepaskan tautan tangannya dari Jun-Hee, namun gadis itu kembali menggenggamnya.

Well, mereka sudah berada di ujung pintu keluar saat tiba-tiba saja hujan turun. Dan setelah itu mereka langsung buru-buru keluar dan berteduh di sebuah bangunan semi permanen terdekat.

Jun-Hee menggeleng mendengar tawaran Kai.

“Aku akan cepat kembali, yagsoghae,” lanjut Kai, melihat kekhawatiran tingkat tinggi dari mata Jun-Hee. Pasti gadis itu berpikiran kalau Kai akan meninggalkannya atau mungkin saat ia mengambil motor, Kai akan diserbu para fans. Kemungkinan seperti itu ada kan?

“Tapi, Jong-Ina—“

“Percaya padaku,” Kai memutar badan Jun-Hee agar berhadapan dengannya. Kai menatap tepat di mata Jun-Hee.

Jun-Hee tidak mengerti apa yang tengah mengalir dari mata Jong-In sampai-sampai ia bisa begitu saja mengangguk dan percaya. Jong-In bukan orang yang serius—Jun-Hee tahu itu. Tapi… kenapa ia sekarang mempercayai pemuda itu dengan mudah?

“Ah… gomawo,” Jong-In mengacak pelan rambut Jun-Hee sebelum akhirnya merapatkan hoodie-nya dan berlari melawan hujan.

Jun-Hee memainkan kuku ibu jarinya. Ia cemas. Ia takut Jong-In tidak bisa memenuhi janjinya. Bagaimana kalau fans-nya tiba-tiba menyerangnya hingga Jong-In kabur begitu saja meninggalkan Jun-Hee? Andwae! Dia tidak mau sendirian. Bukankah ini kencan pertamanya?

Jun-Hee melirik jam tangannya. Sudah tiga menit. Astaga… sejak kapan ia menghitung detik jam seperti ini? Jong-In belum juga menunjukkan tanda. Jun-Hee pun semakin takut.

Tiiinn~

Jun-Hee tersentak kaget saat mendengar klakson di depannya. Ekspresi cemas Jun-Hee menguap begitu saja, digantikan wajah cerah yang melebihi langit mendung ini. Jong-In sudah ada di depannya, lengkap dengan motor hitam dan helm itu. Aish… kenapa ia baru sadar kalau Jong-In sangat keren? Ia rasa ia mulai menjadi fans Jong-In.

Jong-In menaikan kaca helm-nya. “Ya, cepat naik!”

Jun-Hee mengangguk senang lalu berjalan mendekati Jong-In. Tiba-tiba Jong-In menghentikannya saat ia mau naik sambil membuka hoodie yang ia pakai. “Cah! Pakai jaketku,” Jong-In menyerahkan hoodie itu.

“Tapi kau—“

“Kalau aku bilang pakai, pakai saja,” jawab Jong-In ketus.

Jun-Hee mendengus tapi toh memakai juga hoodie Jong-In. Setelah memakai helm, Jun-Hee pun naik ke motor.

“Sudah?”

Jun-Hee mengangguk. “Ne.”

“Pegangan yang erat, ya, aku tidak mau kau jatuh,” tanpa menunggu jawaban Jun-Hee, Jong-In langsung menggas motornya dan membuat Jun-Hee—secara refleks—memeluk pinggangnya erat.

@@@

                “Jadi…. berapa suhu tubuhmu?”

“Tiga puluh tujuh koma delapan,” jawab Jun-Hee sambil merapatkan selimut yang melilit tubuhnya.

Well, aksi menerjang hujan sehabis kencan itu ternyata mengakibatkan mereka berdua terserang demam bersamaan. Tapi mereka sama sekali tidak menyesal dengan itu. Mereka malah senang—terutama Kai—yang menganggap demam mereka sebagai suatu bukti bahwa keterikatan batin mereka sangat kuat.

Ya…. sangat kuat. Sampai-sampai mereka mendapat marah dari saudara-saudara mereka.

“Kalau begitu aku lebih parah,” jawab Kai di telepon, membuat Jun-Hee tertawa membayangkan ekspresi pemuda itu. Kai mengangkat termometer yang sedari tadi diapit ketiaknya. “Aku tiga delapan.”

“Istirahatlah, Jong-Ina,” suruh Jun-Hee lembut. Entahlah… ia merasa sangat pusing, tapi ia tidak mau mengakhiri panggilannya.

“Aku masih ingin mengobrol denganmu,” Kai mengerucutkan bibirnya walaupun ia tahu Jun-Hee tidak bisa melihat aegyo gagalnya itu.

“Baiklah… aku temani.”

Lalu hening. Sambungan masih tersambung, namun tidak ada diantara mereka yang membuka suara. Namun mereka menikmati momen diam ini.

“Jong-Ina, gomawo,” akhirnya Jun-Hee bicara. Ia benar-benar ingin berterimakasih.

“Tidak perlu berterimakasih. Aku hanya mau menjadi pacar yang baik setidaknya saat perayaan hari jadi kita,” Jun-Hee dalam hati terkekeh mendengar tuturan Kai yang sok dewasa itu.

“Jadi kau akan kembali menjadi bad boy saat hari biasa?”

“Bu-bukan seperti itu….” Aish… Kai salah bicara!

Jun-Hee terkekeh. “Arraseo.”

“Jun-Heeya..,” panggil Kai dan dibalas dengan dehaman Jun-Hee di seberang sana. Kai menghela nafas sambil membenarkan posisi tidurnya. “Nan… jeongmal sara—“

Aigu, Kim Jong-In… sudah kubilang beristirahat, bukan melanjutkan kencanmu!” tiba-tiba saja Su-Ho masuk ke kamar Kai sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur, segelas air putih, dan beberapa butir obat.

Kai mendengus sebal. “Aish, hyeong! Kenapa mengganggu?!” Kai bisa saja mengatakan hal yang lebih frontal—seperti mengatakan kalau Su-Ho tidak laku—kalau saja ia sedang dalam keadaan normal. Maksudnya tidak sedang demam dan menelepon Jun-Hee.

Jun-Hee menahan tawanya, mendengar Kai tengah bertengkar kecil dengan salahsatu member.

“Mana termometermu? Kenapa sudah diangkat?” tanya Su-Ho di samping tempat tidur Kai.

Kai meringis. “Hyeong, aku sedang sakit, jangan memarahiku!”

“Sedang sakit? Kau bilang keadaanmu ini sakit? Jinjja, Kai,” Su-Ho mendengus. “Sekarang makan buburmu, lalu minum obat, dan… ya, Jun-Heessi, sebaiknya kalian berdua beristirahat,” Su-Ho agak berteriak agar Jun-Hee bisa mendengarnya.

Jun-Hee tertawa pelan lalu berkata. “Baiklah, sudah dulu, ya. Besok aku hubungi lagi.”

Ya! Ya! Choi Jun-Hee! Aku masih ingin bicara!”

Ya! Makan buburmu!”

Shireo, Hyeong!”

Jun-Hee pun memutuskan hubungannya walaupun Kai sama sekali tidak mengizinkannya. Jun-Hee menghela nafas lalu meletakkan ponselnya di nakas terdekat. Ia pun membenarkan selimut dan bantalnya—mencoba mencari posisi ternyaman. Sepertinya mulai sekarang ia akan tidur dengan nyenyak. Ditambah dengan mimpi indah.

Yeoboseyo? Ya! Jun-Heeya!” Kai berteriak pada ponselnya, tapi Jun-Hee sama sekali tidak menjawab. Kai pun mendengus pada ponselnya. “Lihat! Gara-gara Hyeong, Jun-Hee memutuskan panggilannya!”

“Itu bagus,” tanggap Su-Ho enteng. “Sekarang makan buburmu!”

Kai baru saja mau membantah saat ia melihat Su-Ho tetap berdiri di sana dengan tatapan makan-sekarang-atau-kau-kutelan. Kai menghela nafas jengkel tapi toh meletakkan ponselnya dan mulai memakan bubur yang entah buatan siapa itu. Su-Ho masih di sana, mengawasi Kai agar menghabiskan buburnya.

“Joon-Myeona, ada telepon untukmu!” terdengar suara Xiu-Min dari luar kamar. Su-Ho keluar kamar dengan sebelumnya kembali memperingatkan Kai.

Kai berteriak tertahan begitu Su-Ho menutup pintu kamarnya. Ia pun meletakkan mangkuk buburnya dan mengambil ponsel. Ia ingin bicara pada Jun-Hee.

“Jun—“

Ya! Bocah hitam sialan!” o-o… itu Jun-Ho.

@@@

@@@

                “Aigu… uri Kkamjong sudah besar ternyata…,” Lu-Han berdecak melihat wajah Kai yang berseri-seri saat menceritakan kencan bersama cinta pertamanya itu.

Kai tidak membalas. Ia masih saja tersenyum-senyum.

“Jadi itu alasan kenapa kau meminta Manajer hyeong membelikan sepatu baru untukmu?” Kris berkomentar.

“Dan meminta temanmu meminjamkan motornya untukmu?” Kyung-Soo menambahkan. “Kau benar-benar gila, ya?”

Ya, wajar saja aku seperti itu. Hari itu tepat satu tahun aku bersama Jun-Hee. Aku hanya mau menjadi pacar yang perhatian,” jawab Kai setengah jengkel. Namun begitulah kenyataannya.

Ruang tv kembali riuh dengan suara ‘uu~’. Tidak biasanya Kai menjadi melankonis seperti itu.

Aish… aku jadi merindukan Jun-Hee,” Kai merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Sejenak hening—menunggu apa yang akan Kai katakan pada Jun-Hee. Hei, siapa tahu Kai mengatakan kalau ia tidak bisa tidur karena merindukan Jun-Hee. Benar-benar rayuan kelas bawah yang patut ditertawakan.

“Kenapa tidak jadi?” tanya Xiu-Min begitu melihat Kai memasukkan kembali ponselnya.

“Aku lupa, Jun-Hee sedang camping bersama teman-temannya,” Kai mendesah lesu. Kalau sudah begini hanya bersabar jalan keluarnya.

“Ya sudahlah, kita lanjutkan saja!” Su-Ho bertepuk tangan sekali membuat semua perhatian tertuju padanya.

Hyeong, aku mau mengocoknya!” Chen mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Su-Ho menyerahkan semua gulungan kertasnya itu pada Chen. Chen mulai mengocoknya pelan lalu menjatuhkan satu gulungan. Dengan senang ia membuka gulungan itu. Beberapa detik kemudian senyuman konyol dari wajahnya lenyap, digantikan dengan wajah panik.

“Ah kita harus mengulangnya!” Chen berkata dengan lantang, sambil kembali menggulung kertas itu lagi.

Ya! Curang! Itu pasti namamu!” Chan-Yeol berteriak kesal.

Tanpa mendengar teriakan Chan-Yeol, Chen mulai mengocok dan menjatuhkan kertas lagi. Kini Su-Ho yang langsung menyambar kertas itu.

“Mau bagaimanapun, tetap namamu, Jong-Daeya,” Su-Ho membalik kertas di tangannya yang bertuliskan nama lengkap Chen. Kim Jong-Dae.

Chen cemberut di tempatnya. Sial!

“Jadi…”

“Cinta pertamaku itu….”

—————————-

 

 

 

 

-See ya at the next story-

Regards: Ziajung

37 pemikiran pada “[EXO’s First Love] Flowering Day

  1. aaahh serasa ikut kencan ma pasangan ini..
    hahaha gag isa byangin kai jg malu2 gto..
    keke
    tp min aq baca d prolog kog sehun yg keluar..
    apa aq kelewat chap nya yaa..
    😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s