Wolf (Chapter 5)

            Tittle : WOLF

Author : Fitaa

Main Cast

  • Luhan
  • Hyorin (karakter fiktif)
  • Kai

Support Cast

  • Anggota EXO-K dan EXO-M (selain Kai dan Luhan)
  • dll

Genre : Romance, Friendship, School

Length : Chaptered

Note : Maaf ya kalo ceritanya gak bagus ato gak jelas..

wolf

Part 5

Sudah sebulan Hyorin berada di sekolah barunya. Ia cukup menikmati bersekolah disini. Ia punya Luna, teman yang selalu di sampingnya. Luna yang selalu mendengar curhatannya. Walau Luna pun juga sering curhat padanya. Hyorin pun sekarang juga akrab denga Luhan cs. Gadis cantik ini masih saja mendengar cemoohan yang ditujukan padanya, namun bedanya kini cemoohan itu berasal dari gadis-gadis yang iri karena kedekatannya dengan Luhan cs.

“Kris, ayo cepat kerjakan tugasmu!” omel Hyorin.

“”Hyorin-ah, ini sedang istirahat. Nanti saja…” pinta Kris sambil merengek pada Kris.

“Ani!” jawab Hyorin tegas. “Salah sendiri tadi kalian datang terlambat,” celoteh Hyorin pada Kris dan Luhan.

Kris dan Luhan datang terlambat tadi, jadi mereka tak diperbolehkan masuk jam pertama. Padahal ada tugas kelompok yang harus dikumpulkan. Apesnya Hyorin dan Luna berkelompok dengan kedua lelaki itu. Parahnya lagi, ternyata keduanya belum mengerjakan tugasnya. Itu yang membuat Hyorin mengomel-omel.

“Tapi Hyorin, aku sangat lapar,” Kris menunjukkan wajah melasnya. “Kau takkan takkan membiarkanku kelaparan kan?” tanya Kris merengek.

Hyorin menghela nafasnya. Ia memandang Kris yang masih memasang wajah melasnya. Hyorin tersenyum manis sejenak. Kris ikut tersenyum menebak kalo Hyorin melunak. Hyorin memukul kepala Kris dengan pensilnya cukup keras, tapi tak terlalu sakit. “Bohong! Aku tahu kau makan di kantin saat jam pertama tadi,” kata Hyorin.

Kris memegang kepalanya dan mengaduh. Sok sakit. “Bagaimanan kau tahu?” tanya Kris. “Aku tak tahu jika kau sangat memperhatikanku.” Kris tersenyum bangga.

“Luna yang memberitahuku. Dia tahu melihatmu di kantin saat akan ke kamar mandi,” terang Hyorin. Luna tersenyum enggan saat Kris menatapnya.

Kris tak bisa mengelak lagi. Ia tak bisa keluar kelas. Ia menatap Luhan yang asyik memakan lolipopnya sambil mengerjakan tugasnya. “Luhan kau semangat sekali mengerjakan tuganya. Padahal biasanya…” ucap Kris.

Luhan memandang Kris. Ia tersenyum lebar. Cengengesan. “Karena kita yang salah, maka kita yang harus bertanggung jawab,” katanya semangat. Ia menoleh pada Hyorin dan tersenyum lebar. Hyorin membalasnya dengan anggukan tanda setuju dengan ucapan Luhan. “Hyorin-ah, apa guru itu masih mau menerima tugas kita?” tanya Luhan.

“Jika tidak, aku takkan menyuruh kalian mengerjakannya sekarang. Tapi aku sudah memukul kalian dari tadi,” jawab Hyorin enteng.

“Ah, iya, ya,” tanggap Luhan.

“Hyorin-ah,” teriak Xiumin dari pintu kelas. Xiumin, Chen, dan Lay memasuki kelas Hyorin. Selalu saja setiap harinya, kelas Hyorin ada tiga pengunjung tetap ini.

“Seharusnya kau menyapaku atau Luhan dulu, bukan Hyorin. Kami yang lebih lama berteman denganmu,” sindir Kris.

Ketiga pengunjung itu duduk mengerubungi Hyorin, Luna, Luhan dan Kris. “Karena dari jauh pun aura Hyorin sudah terpancar,” jawab Xiumin bercanda. Kris memandang Xiumin dengan malas. “Apa yang kau kerjakan?” tanya Xiumin pada Kris.

“Tugas kelompok,” jawab Kris.

“Jangan mengajaknya bermain! Mereka harus mengerjakan tuganya!” pinta Hyorin pada Xiumin, Lay, dan Chen.

“Siap, Bos!” Lay sok patuh sambil memberi hormat.

Hyorin melirik Lay sambil tersenyum manis. “Apa yang kau lakukan…” kata Hyorin tertawa kecil sambil menurunkan tangan Lay yang masih hormat padanya.

“Semakin mengenalmu, kupikir kau semakin manis saja. Beda sekali saat awal-awal kau masuk sini,” ucap Chen.

“Benar!” Kris menyetujuinya. “Dulu kau selalu membuat kami K.O dengan tingkah dan perkataanmu,” tambah Kris.

“Tak ingatkah kalian, bagaimana kalian hari pertama menyambutku?! Kalian menyerangku karena sekolah asalku,” Hyorin mengingatkan. Semuanya mengangguk-angguk mengerti.

“Apa di sekolahmu dulu kau juga semanis ini?” tanya Lay.

“Iya lah. Tapi aku cukup pendiam disana.” Jawab Hyorin.

“Lalu apa kau tahu Kai cs?” tanya Xiumin.

Hyorin terdiam lalu tersenyum. “Iyalah. Aku sudah 1,5 tahun sekolah disana. Mana mungkin aku tidak tahu mereka,” kata Hyorin enteng. “Bahkan aku sekelas dengan Baekhyun saat kelas X dan XI,” terang Hyorin.

“Kau akrab dengannya?” tanya Kris penasaran.

“Ummm,” Hyorin mengannguk. “Kami sering ngobrol, sering satu kelompok, sering mengikuti lomba bersama, pokoknya akrab. Dan…” Hyorin berhenti. Ia mematap kelima laki-laki yang sedang terfokus padanya. “dia selalu mengidolakanku,” tambah Hyorin.

“Moooo?” Chen kaget.

“Hyaaa, Chen, reaksimu keterlaluan sekali. Apa aku tak pantas untuk diidolakan?” tanya Hyorin.

“Tidak. Aku hanya kaget. Wajar sih. Aku juga mengidolakanmu,” terang Chen.

“Lalu bagaimana dengan Kai, Si Leader?” tanya Kris.

Hyorin menghela nafas. “Dia tak banyak omong dengan murid lain, kecuali teman-teman dekatnya,” terang Hyorin.

“Dia memang terlihat seperti itu,” Lay menyetujui.

“Oke. Sesi wawancara sampai sini saja. Luhan, Kris, kalian sudah menyelesaikannya kan?” tanya Hyorin. Mereka berdua mengangguk. “Ayo Lun, kita kumpulkan sebelum masuk,” ajak Hyorin pada Luna. “Aku ke kantor dulu ya,” pamit Hyorin. Ia tak ingin berbohong. Itulah mengapa lebih baik ia menghindar. walaupun tak dipungkiri, kalau rasa bersalahnya semakin membengkak.

***

            Luhan beristirahat sejenak setelah bermain sepak bola dengan teman-teman sekelasnya saat jam olahraga. Ia menatap gerombolan gadis kelasnya. Melongok sana-sini, tapi seseorang yang ia cari tak nampak. Mungkin ke kamar mandi atau kemana pikirnya.

“Ini,” Kris menyodorkan minuman botol pada Luhan.

“Thanks..” jawab Luhan sambil meraih botol dari tangan Kris.

Kris duduk di samping Luhan. “Aku tak menyangka jika Hyorin bisa akrab dengan Krystal,” ucap Kris.

Luhan memandang Kris. Ia mengerutkan keningnya. Ia ngin tahu lebih detailnya. “Moo?”

“Tadi aku melihat mereka dan kedua teman Krystal jalan bersama,” terang Kris.

“Kemana?” Luhan bertanya dengan menggebu-gebu.

“Toilet belakang. Biasalah kalo cewek itu kan….” Belum sempat Kris menyelesaikan kalimatnya, Luhan sudah keburu berlari. Tanpa tahu apa-apa Kris mengikuti Luhan berlari dari belakang. “Ada apa? Luhan!!” Kris bertanya sambil berlari mengejar Luhan. Tapi Luhan tak menoleh bahkan tak mengubris omongan Kris.

 

Di kamar mandi…Hyorin sss

“Heh anak baru, kau semakin berlagak saja!” ucap Krystal ketus. Hyorin diam saja tak menjawab. Ia diapit oleh dua teman Krystal yang sebenarnya juga teman sekelasnya. “Sikapmu sok manis dengan Luhan. Kau pikir dirimu yang paling cantik disini?!” bentak Krystal di depan muka Hyorin. Krystl menggebu-gebu mencurahkan kemarahannya. “Dia tak sungguh-sungguh denganmu. Dia hanya menganggapmu mainan baru untuknya.” Terang Krystal sambil memendelikkan matanya meyakinkan perkataannya. “Jadi, jangan keGR-an dan jauhi Luhan.” Suruh Krystal. “Apa kau mengerti?” tanya Krystal ketus. Hyorin diam saja tak bereaksi. “Apa kau tuli?! Jauhi dia!” Krystal mengeraskan suaranya. Tapi Hyorin masih diam. “Hyaaa, jawab pertanyaanku!” Krystal menjambak rambut Hyorin dan menatapnya. Namun Hyorin tak kunjung mengeluarkan kata-katanya. “Hyaaa!” bentak Krystal lagi. Tapi Hyorin tak menggerakkan mulutnya sama sekali. Krystal menggeram dengan tingkah Hyorin. Plaaakkk! Krystal menampar Hyorin dengan keras hingga pipi putih Hyorin terlihat memerah. Krystal kemabali menjambak rambut Hyorin dan menghadapkannya pada mukanya. Krystal melihat mata Hyorin yang masih saja menatapnya tanpa rasa takut. Dengan kesal, Krystal memperkeras jambakan rambut pada Hyorin. Tapi tak ada respon berarti dari mimik wajah Hyorin. “Jawab!” teriak Krystal.

“Bukan tak mau, tapi aku belum bisa,” akhirnya Hyorin mengeluarkan kata-katanya.

“Mooo?” Krystal kaget dengan jawaban Hyorin yang tak menuruti perintahnya.

“Mianhe…” ucap Hyorin halus.

Krystal semakin marah karena perintahnya tak digubris oleh Hyorin. Ia menampar pipi Hyorin kanan-kiri secara berurutan.

Brakkk, Luhan menggebrak pintu kamar mandi dengan keras. Ia menatap Hyorin. Kedua mata Hyorin dan Luhan bertemu beberapa detik. Sebelum akhirnya Hyorin memalingkan pandangannya. “Hyorin, keluarlah!” suruh Luhan. Secara otomatis kedua teman Krystal yang mengapit Hyorin langsung melonggar dan mempersilahkan Hyorin untuk keluar. Untuk saat ini, Hyorin menuruti perintah Luhan tanpa interupsi. Luhan kini menatap Krystal dengan tajam. “Apa yang kau lakukan?” tanya Luhan lirih tapi penuh penekanan. Krystal menunduk, takut. Luhan mengangkat wajah Krystal denga telapak tangannya. Krystal mengaduh kesakitan. Karena Luhan memegang wajah Krystal dengan penekanan yang keras. “Jangan pernah melakukannya lagi padanya!” Luhan memendelikkan matanya dan berbicara dengan nada menekan. “Aku akan menghancurkanmu jika kau mengulanginya.” Bisik Luhan pada telinga Krystal.

Krystal tak kuasa menahan rasa sakitnya lahir dan batinnya. Air matanya tak kuasa terbendung. “Kenapa?” rintih Krystal. Luhan melepas tangannya dari wajah Krystal. “Aku yang selama ini bersamamu, bukan dia!” teriak Krystal, depresi. “Kenapa kau membelanya?”

“Karena kau sudah mengenalku, seharusnya kau tahu jawabannya,” ucap Luhan santai. “Jadi jangan pernah kau melakukannya lagi padanya!” tandas Luhan sekali lagi.

“Kau mengancamku?” tanya Kristal tak percaya.

“Ani!” jawab Luhan pasti. “Ini bukan ancaman tapi perintah!” Luhan memperjelas kata-katanya. Luhan keluar dari kamar mandi meninggalkan Krystal yang tersimpuh menangis karena tak kuat menyangga tubuhnya lagi.

***

“Hyorin,” panggil Luhan. Ia memasuki salah satu kamar UKS sekolahnya. Luhan membawa handuk yang membungkus es batu. “Ini…” Luhan menyodorkan handuk itu.

Hyorin bangkit dari tidurnya dan duduk di ranjang. Luhan mengikuti. “Gomawo…” ucapnya.

Luhan menatap pipi Hyorin yang masih memerah. Ia jadi bisa mengukur seberapa keras Krystal menampar Hyorin. “Apa kau bodoh? Kau dulu selalu berani menantangku dan yang lainnya. Bagaimana bisa kau hanya diam saja tak melawannya?” tanya Luhan yang tak habis pikir dengan sikap Hyorin.

Hyorin diam sejenak. “Ummmm…” Hyorin seakan memikirkan sesuatu. “aku kasihan dengannya,” jawabnya tanpa menatap wajah Luhan. Wajah Luhan penuh dengan tanda tanya. Hyorin menoleh, menatap wajah Luhan sejenak dan kembali berpaling. “Karena dia terlalu menyukaimu,” Hyorin membicarakan tentang Krystal. “Terlalu mencintaimu jadi takut kehilanganmu dan mampu menyakiti orang lain. Tapi sebenarnya dialah yang paling tersakiti karena rasa itu. Itulah yang membuatku kasihan padanya,” tambah Hyorin.

Luhan menatap Hyorin. Ia menatap setiap ichi wajah Hyorin seakan tak ingin ada yang terlewatkan dari pandangannya. “Hyorin..” ucap Luhan dengan halus.

“Ummm,” Hyorin menanggapi panggilan Luhan.

“Hyorin, Ma Hyo Rin,” Luhan kembali mengucapkan nama Hyorin walau Hyorin sudah menatap kearahnya.

“Apa yang kau lakukan?!” Hyorin tidak paham dengan tingkah Luhan.

Luhan tersenyum. “Orang-orang selalu terkesan denganku, tapi tak ada yang membuatku terkesan. Walau aku terlihat baik pada orang lain, tapi sebenarnya aku tak benar-benar peduli dengan mereka. Bahkan nama mereka saja banyak yang tapi kuingat, Tapi…” Luhan mem-pause omongannya dan menatap wajah Hyorin dengan seksama. “Ma-Hyo-Rin,” Luhan mengeja nama Hyorin dengan nada memperjelas. Ia menatap wajah Hyorin yang penuh dengan tanda tanya. “Nama itu terlalu familiar di pikiranku sejak sebulan yang lalu. Di sekolah, aku selalu tertarik dengan tingkahmu. Pulang sekolah, teman-temanku selalu membicarakan tentangmu, dan selalu saja ada hal yang menarik pada dirimu,” terang Luhan.Hyorin berpaling dari Luhan dan terdiam. Tak merespon. “Kurasa, aku menyukaimu, Ma Hyo Rin…” ucap Luhan. “Salah. Aku memang menyukaimu,” Luhan membenarkan kata-katanya.

“Oh..” jawab Hyorin pendek.

“Apa kau sudah menyangkanya?” tanya Luhan karena respon Hyorin yang terlalu singkat dan santai.

“Ani,” jawab Hyorin. “Aku terlalu malas untuk berandai-andai.” Tambah Hyorin.

Luhan tertawa kecil. Beginilah Hyorin, pikirnya. “Inikah responmu ketika ada yang menyatakan perasaan padamu?” tanya Luhan.

“Ummm…” jawab Hyorin tanda mengiyakan. “Aku sudah punya pacar,” beritahu Hyorin.

Luhan tak terlalu kaget dengan pernyataan Hyorin barusan. Ia mungkin sudah mengira bahwa gadis secantik ini ada yang punya. Tapi yang paling ia ingin tahu adalah pria yang bisa menaklukkan gadis semenarik ini. “Aku ingin tahu pria seperti apa dia,” ucap Luhan.

“Dia sangat menyukaiku,” jawab Hyorin.

“Aku ingin mengenalnya,” tutur Luhan.

“Wae? Kau ingin merebutku darinya?” tanya Hyorin.

Luhan tersenyum lebar. “Aku tak berfikir seperti itu. Tapi aku akan memikirkan idemu itu,” ucapnya menggoda tapi serius. “Apa kau ingin kurebut darinya?” tanya Luhan.

“Moo?” Hyorin kaget.

“Aku menyukaimu. Tapi kau ada yang punya. Kesimpulan kisahku saat ini adalah cintaku bertepuk sebelah tangan.” Terang Luhan. “Akan sulit bagiku untuk menghilangkan rasa suka ini. Jadi biarkan aku menyukaimu. Aku tak akan merusak kisahmu dengannya,” tambah Luhan. “Tapi…” Luhan menatap wajah Hyorin lekat-lekat. “Jika akda kesempatan untuk merebutmu, aku tak akan melewatkannya,” Luhan serius lalu kembali tersenyum ramah. Luhan Bangkit dari duduknya. Ia merogoh sakunya.”Ini…” dia menyodorkan gantungan kunci.

Hyorin menerimanya. “Apa ini? Serigala?” tanya Hyorin sambil mencermatigantungan dengan boneka kecil berbentuk serigala putih.

“Hadiah untukmu,” jawab Luhan.

“Aku sukanya teddy bear bukan serigala,” beritahu Hyorin pada Luhan.

Luhan tertawa kecil mendengar tanggapan Hyorin. “Lain kali akan kubelikan untukmu. Jadi terimalah ini dulu,” ucap Luhan.

“Wae?” tanya Hyorin.

“Karena aku menyukainya. Serigala mungkin binatang yang menyeramkan. Tapi dialah binatang yang paling setia dengan pasangan dan kawanannya,” Luhan memberitahu.

“Jinja?” tanya Hyorin.

Luhan mengangguk. “Jadi untuk sekarang atau nanti, jangan pernah memintaku untuk berhenti menyukaimu dengan alasan apapun. Karena rasa sukaku akan setia untukmu,” pintanya. “ Istirahatlah, aku akan kembali ke kelas.” Pamit Luhan.

Saat Luhan keluar dari UKS. Hyorin memandang gantungan kunci itu. “Sesetia itu kah kau?” tanyanya pada gantungan kunci itu.

***

“Yap…” tugas kita selesai. “Kris menyerahkan laporannya pada Hyorin.

“Apa yang sudah selesai, kita masih harus membuat makalahnya!” ucap Luna pada Kris. Hyorin mengangguk setuju.

Sabtu sore ini Hyorin, Luhan, Luna dan Kris sedang mengadakan penelitian selera konsumen di salah satu mall terbesar di daerahnya. Tapi anggota makin bertambah karena Xiumin, Lay dan Chen junga ikut ngintil. Hyorin tak keberatan, karena ketiganya juga ikut berkontribusi dalam mengerjakan tugas ini.

“Ngomongin tugasnya sambil makan aja deh. Laperrrr…” saran Chen.

“Oke.” Luhan menyetujui. “Kita makan di foodcourt bawah aja,” ajak Luhan. Semua setuju. Mereka menuju ke foodcourt bawah yang memang lebih sepi.

“Bukankah itu Kai,” Lay melihat Kai dan teman-temannya. Hyorin menatap ke arah yang ditunjuk oleh Lay. Setelah mengetahui bahwa benar adanya Kai dan teman-temannya, ia langsung tertunduk dan terdiam. Ia bingung. Sepertinya Kai cs baru selesai makan di foodcurt itu. mereka berjalan dan terhenti ketika melihat Luhan cs, Hyorin dan Luna.

“Annyeong, Kai…” sapa ramah Luhan. Kai bukan mendengarkan ucapan Luhan. Tapi pandangannya terarah tajam pada Hyorin, yang tepat di sebelah Luhan. Hyorin menggingit bibirnya, tanda takut dan khawatir. “tak kusangka kita bertemu disini,” tambah Luhan.

“Pergi!” tandas Kai singkat pada Luhan. Ia memandang Luhan dengan nada kemarahan.

“Kau ini selalu saja!” Luhan berpikir jika sikap Kai selalu kasar dan sangar seperti biasanya.

“Kubilang, Pergi!” Kai menbentak Luhan dengan nada lebih keras.

Luhan menghela nafanya melihat tingkah Kai. “Jangan kuatir kami tidak akan cari perkaran disini,” tutur Luhan. “Aku tak ingin wanita yang kusuka..” Luhan merangkul Hyorin. Kai semakin membelakkan matanya melihat adegan itu, sedangkan Hyorin hanya bisa tertunduk pasrah. “ada dia antara pertarungan kita,” tambah Luhan.

Kai tertawa sengit. “Moo? Wanita yang kau suka?” Hati Kai semakin panas dan tak karuan saat mendengar pernyataan dari Luhan. Ia mengepalkan tangannya erat-erat. Menahan emosinya. Saking kuat kepalannya, telapak tangannya berdarah karena terkena kukunya. Untung saja tak begitu terlihat.

“Kau juga bersama wanitamu kan,” Luhan melirik wanita yang berama dengan Kai cs, Sulli. “Jadi kita redakan saja pertengkaran kita saat ini,” tutur Luhan.

Kai berjalan sambil menyenggol bahu kanan Luhan. Chanyeol, Baekhyun, Sehun, dan dan DO menatap Hyorin sejenak. Mereka pun sedikit bingung harus apa untuk saat ini. Sepertinya sikap yang paling tepat adalah diam.

Sulli mendekati Hyorin. “Hyorin apa kau bodoh! Bagaimana bisa kau….”

“Sulli-ah,” Baekhyun memotong perkataan Sulli. “itu hak Hyorin untuk pindah ke sekolah manapun,” Baekhyun mengarahkan agar Luhan cs tak mengetahui hubungan Kai dan Hyorin sebenarnya. Sulli mengerti dan diam. Ia mengejar Kai dan yang lainnya. Baekhyun mendekati Hyorin. Ia dihadang oleh Kris. Baekhyun memandang Kris dengan tajam. “Sebelum kalian jadi temannya, aku lebih dulu jadi temannya,” kata Baekhyun penuh arti. Luhan memberi tanda pada Kris untuk minggir. “Lama tak bertemu,” ucap Baekhyun ramah sambil tersenyum. “Kau semakin cantik,” tambahnya.

Hyorin tersenyum tipis. “Gomawo,” ucap Hyorin lirih.

Baekhyun dapat melihat ketakutan dan kekhawatiran Hyorin. Baekhyun tau dalam dunia Hyorin, Kai-lah yang selalu ditakuti dan dikhawatirkan Hyorin. Bagi Hyorin, Kai adalah seseorang yang tak boleh ia sakiti secara langsung atau tidak. Sedangkan dalam dunia Kai, Hyorin adalah miliknya yang tak boleh ada yang ‘menyentuhnya’. Baekhyun tersenyum pada Hyorin. “Kau baik-baik saja kan disana?” tanya Baekhyun. Hyorin mengangguk. “Jika ada yang membuatmu khawatir, aku akan berusaha mengatasinya semampuku,” Baekhyun memberi pesan bahwa ia akan mencoba mengatasi kemarahan Kai. Hyorin mengerti pesan ini. “Jadi tersenyumlah. Kamu lebih cantik jika tersenyum,” tambah Baekhyun.

Hyorin tersenyum walau hatinya masih kacau. Senyum ini adalah rasa terima kasihnya pada Baekhyun yang selalu membantunya dan mendukungnya. “Gomawo,” katanya.

“Aku pergi dulu,” pamit Baekhyun.

Luhan memandang adegan Hyorin dan Baekhyun dari tadi. Dia menghela nafasnya. “Dulu kau bilang Baekhyun mengidolakanmu kan?” tanya Luhan pada Hyorin. Gadis itu mengangguk. “Dia tak hanya mengidolakanmu. Walau aku tak tahu bagaimana pertemananmu dan dia, tapi dia terlihat selalu melindungimu,” tutur Luhan. “Tambah satu lagi sainganku, selain pacarmu,” ucap Luhan pada Hyorin.

Bersambung…

Review part 6 :

  • Plakkk, Hyorin di tampar Kai. “Aku menyuruhmu jadi mata-mata bukan membuatnya jatuh cinta padamu,” ucap Kai. Hyorin tak kuasa menahan air matanya lagi.
  • “Aku sudah menganggap Hyorin seperti adikku sendiri, jadi aku takkan membiarkan kau seenaknya dengannya,” ucap Suho pada Kai.

“Aku tahu itu, tapi apakah Hyung tahu,” kata kai sambil menatap tajam Suho. “jika Hyorin kau anggap sebagai adikmu, tapi dia segalanya untukku.” Ucap Kai.

  • “Kau mau berkencan denganku?” tanya Hyorin pada Luhan.

Itu potongan-potongan adegan yang akan di Part 6

Di Part 6 nanti, bakalan diceritain tentang perasaan Kai buat Hyorin dan bakalan ada cerita tentang kencan Luhan dan Hyorin yang menyenangkan. Jadi tunggu buat part selanjutnya ya…

Oh ya, aku minta maaf banget kalo di part 5 ini, kalo ceritanya kayak geje gitu. Aku sendiri mikir kalo part ini rada gak menarik. Soalnya gak ada persiapan buat nulis part ini. Jadi janji di part selanjutnya bakal gak asal-asalan nulis.

 

*Terima kasih sudah baca. Ditunggu komentarnya ya buat kritik sarannya biar author semangat ngelanjutin ceritanya*

 

HyH

Iklan

35 pemikiran pada “Wolf (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s