Blood (Chapter 5)

BLOOD

 

Author: syasa adinda (@syasaadinda)

Gender: sad, trailer.

Length: chapter

Maint cast:         xi luhan

Wu yi fan a.k.a kris

Oh sehun

Park chanyeol

Byun baekhyun

Linka

Note: cerita ini sudah pernah di publish di fb, dan blog saya (http://purplelinka.blogspot.com/).. mian kalau banyak typo bertebaran.. mohon kritik dan sarannya. Ini asli karya saya, no plagiat no bash.

capture1

Ku coba untuk mendekat padaya, dan mulai untuk menenangkannya.

 

“aku minta maaf… mianhae” jelasku sambil menangis. Aku menangis terus menangis untuk meyakinkannya atas penyesalanku.

“linka,, sudah lah uljima”

 

Yupps, dia luluh. Bukan kah ini terlalu mudah? Huh.

 

“kau marah pada ku?” Tanya ku

“ani, kau akan jelaskan padakukan?”

“ne, akan ku jelaskan.”

“baiklah, kalu gitu kita makan dulu ne”

“ne, dimana makanannya?”

“ada didapur”

“baiklah,  ku ambil dulu”

“ne” jawabnya

 

Ku langkahkan kaki ke dapur. Bisa ku lihat kini dia masih memegang buku ku. dia terus bembacanya. Ku hapus dengan segera air mata yang berlinang di mataku. Ku ambil sebuah balok kayu yang terdapat didapur. Perlahan tapi pasti ku berjalan mendekat padanya dari belakang. Di saat jarak sudah pasti, ku ayunkan balok ini dann..

 

Sesuai dengan sasaran.

 

“aaarrrgghhhhhh” teriaknya

“lin-linka.. aarrhh”

 

Hening seketika….

 

“kau.. menghalangi jalanku sehun”  jelasku, ku buang balok itu kesembarang tempat.

 

Dan mendekat kepada tubuh sang namja yang tergeletak di depanku.

 

“ini, buku ku. kau tak seharusnya melihat jika sayang pada nyawamu” jelasku sambil tersenyum.

 

Ku letak buku itu pada tempat yang aman, dan memastikan tak akan ada orang yang tau. Ddrrrrrttttdrttttdrttt.. ternyata handphone ku bergetar kembali.

 

From: eomma

“seminggu lagi waktu yang akan di tentukan, jangan lupa. Araseo?”

 

‘Ciihh, satu minggu? Satu minggu menuju kesengsara’an mu eomma’ batin ku ini semua membuatku frustasi. Apa yang kulakukan? Hanya seperti oarng gila.

 

“hahahahahahaha.. hahahaha” aku hanya tertawa di hadapan 3 orang namja.

“apa kalian lihat? Aku seperti orang gila. Apa aku terlihat cantik seperti ini? Apa aku terlihat menarik seperti ini? Kalian bilang aku cantik. aku menarik.dan kalian jatuh cinta padaku.”

 

Aku terdiam untuk sesaat.

 

“cinta? Apa itu cinta? Kalian hanya memandang fisik. Kalian tak pernah memandang ini.. ini hatiku. Ini perasaan ku. kalian.. kalian harus musnah” jelasku lagi sambil meninggalkan mereka yang terduduk kaku di hadapanku.

 

Kini hari yang di tentukan pun tiba, hari ini aku akan di jodohkan sama orang pilihan eomma. Aku duduk dengan manis dan mengumbarkan senyum pada mereka. Mereka terus memujiku sampai ku merasa trus di atas dan melayang.

 

“aiggoo, nyonya. Anakmu begitu cantik”

“hahaha.. tentu saja, dia kan anak ku. anak mu juga tampan nyonya”

“ahahaha… ternyata anak kita sama tampan dan cantiknya”

“mereka sangat cocok nyonya”

“iia.. aku tak sabar untuk hari pernikahan mereka”

“iia.. bagaimana kalau kita percepat saja”

“iiaa… benar sekali itu”

 

Itu lah percakapan singkat yang terus-terusan mereka bicarakan. Ku pandang namja di  hadapanku yang terus dari tadi melihat ku. sungguh ini buat ku risih.

 

“ahh… luhan… jalan-jalan lah dengan linka. Jangan terus berdiam diri disitu”

“ehh.. n-ne eom-eomma” jawab namja yang bernama luhan itu.

“emmm.. linka. Kita jalan keluar yuk” tawarnya padaku

“ne” jawabku singkat.

 

Kini kami berjalan di luar café. Memandang pemandangan sekitar yang sangat indah. Ku perhatikan satu persatu bunga yang bermekaran dihadapanku. Semuanya sangat cantik, tapi ini semua membuatku risih. Namja itu, namja yang bernama luhan dari tadi terus memandangku. Ku palingkan wajahku menghadap nya.

 

“eeh.. mian-mianhae” jawabnya saat ku memandangnya

 

Kini kembali lagi ku memandang bunga yang cantik ini.

 

“ekhem.. linka.. apa kau masih mengingat ku?” Tanya nya

“apa kah aku harus mengingat mu?” tanyaku balik

“hahahaha…. Tidak juga. Maksud ku apa kau meningat ku? karena kita dulu satu sekolah” jelasnya lagi.

“benarkah? Sepertinya aku tak pernah melihat mu”

“tentu saja, aku dulu adalah seorang pria yang culun dan pemalu. Aku tak berani mendekati mu”

“oh, begitu kah. Jadi sekarang kau sudah berani mendekati ku?” Tanya ku lagi

“hahaha.. linka, kau ini lucu sekali… tentu saja. Karena kini kau adlah calon istri ku” jelasnya lagi.

“benarkah? Apa kau yakin aku akan jadi istri mu?”

“tentu saja”

“bagaimana bisa kau yakin?”

“tentu aku yakin, karena eomma kita telah mengatur semuanya. Dan karena akuu.. aku”

“karena kau mencintai ku. begitu?” Tanya ku memperjelas kalimatnya

“ekhem.. ne, saranghae”

 

‘hahaha…. Sudah ku duga. Ini sangat lah mudah. Kenapa ini semua berjalan sangat mulus, sangat sangat mulus’ gumamku dalam hati.

Setelah pertemuan yang tak berguna itu. aku pun dengan segera untuk bergegas pulag. Tapi kali ini berbeda, karena apa? Karena eomma ku sendiri yang mengantarku pulang. Dengan bahagia ku ukir senyum simpul yng entah sejak kapan terbentuknya. Dia mengengam tanganku, dan mengelus lembut rambutku. Saat ku sampai di apartement, dia tak lupa mencium keningku.

 

“linka… eomma sangat menyayangi mu. Kau sangat cantik mala mini. Eomma menyayangi mu” ujarnya

“eom-ma..” jawab ku tak percaya akan semuanya. Apa aku salah menilainya? Saat ku inging mendekatinya sekedar mecoba memeluknya. Dia menahanku dan memandang kebelakang mobil. Ohhh teryata aku salah. Semuanya salah, dengan penuh kebahagiaan keluarga luhan melihat adegan sang ibu dan anak yang saling menyayangi.

 

“kau begitu menyayangi anak mu, nyonya” Tanya ibu luhan

“tentu saja, dia anak kesayangan ku.” jawabnya sambil memebeai rambutku.

“huaahh.. kalian ibu dan anak yang sangat harmonis”

“hahaha… nyonya tak perlu berlebihan. Oohh, sudahlah. Linka kau boleh masuk, hati-hati ne?”

“ne eomma” ku jawab dengan penuh getiran.

 

Kulihat mobil yang ku tumpangi tadi menjauh, dan dengan segera ku percepat langkah kaki ku menuju apartement.

 

“AAARRGGHHHH!!!” teriakku seraya menutup pintu..

 

Ku pandangi cermin dihadapanku. Sehina itu kah aku? Huh. Semuanya berjalan dengan drama mu eomma. Aku benci itu.

Ku lihat dinding di kamarku dan meletak kan satu foto baru yang akan menjadi targetku. “kau yang harus ku musnahkan terlebih dahulu” gumamku sambil menempelkan foto itu.

 

“besok, akan jadi hari yang indah xi luhan” jelasku kembali sambil menatap foto itu.

To be continue

8 pemikiran pada “Blood (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s