Good Morning My Boo

Good Morning My Boo

 

Title : Good Morning My Boo

Author : @indahwonwon | Genre : Romance, Teen, Fluff | Length : Oneshot

| Rating : PG-16 | Main cast : Meifan (OC), Kris / Wu Yifan (EXO’s Kris) |

Author’s Notes :

Annyeooooooooong~ thanks for publishing my story. I’m back again guys!!  This is it! Kali ini aku bawa cerita lain dari MeiKris dan ini sama sekali bukan kelanjutan dari dua cerita sebelumnya (A Thousand Miles dan Sleep Well, Goodnight Baby) so, kalo kalian ga baca berurutan pun ga masalah kkk~ jadi ceritanya bakal selesai di satu shot. Mungkin aku bakal bikin lagi seri-serinya yang lain dan itu juga tergantung dari masukan kalian para reader-nim Ok, Hopefully you like this story, i know i’m not pro but hope you love it. Like usual, I need your comment because your comment like Oxygen, guys. And don’t be a silent reader please ^^

 

.

.

.

Good Morning My Boo

 

Mei merasa tubuhnya kaku karena tidur meringkuk seperti anak kucing hingga pagi di ruang tengah, seingatnya semalam karena terlalu lelah ia sampai tak memiliki tenaga hanya untuk berjalan kekamar dan berbaring dengan layak di atas tempat tidur. Tugas kalkulus yang selalu jadi musuh nomor satu mengharuskannya begadang semalaman. Tak bisa di kategorikan tidur yang layak namun cukup hangat karena selimut tebal yang menjadi teman tidurnya. Kedua matanya masih enggan untuk membuka, ia tertidur hanya sekitar empat jam dibawah tekanan tugas.

Mei berusaha menggerakkan tubuhnya tetapi sulit. Seperti tertahan oleh sesuatu dan ia sangat hafal apa ‘sesuatu’ yang menahannya. Itu Kris. Bagaimana tidak, Kris dengan semena-mena menjepit tubuh Mei diantara kakinya menjadikan Mei seperti guling hidup.

“Wu Yifan menyingkirlah─ I’m not your human pillow!

Mei yang bertubuh jauh kalah kecil dari Kris dengan sisa tenaganya berusaha menyingkirkan kaki Kris yang demi Tuhan ia berani bersumpah sangat berat.

“Ya Tuhan! Kris kau berniat membunuhku? Hyaa..”

Kris yang sebenarnya sudah bangun semenjak lima menit yang lalu menarik Mei, memeluknya seperti beruang. Membiarkan Mei berada diatas tubuhnya. Kedua lengan Kris melingkari bahu Mei sedangkan kedua kakinya melingkar di kaki Mei. Kris sudah seperti koala yang menggantung di pohon eucalyptus dan Mei yang menjadi pohon eucalyptus Kris.

Kris sengaja menyembunyikan wajahnya di lengkungan leher Mei, meresapi feromon gadisnya yang sudah menjadi kebiasaan untuk dirinya sendiri.

Good morning..

Dengan sengaja Kris berbisik di telinga Mei dengan suara rendahnya yang serak karena baru bangun tidur.

Goddamnit!

Demi saus tar-tar! Mei lebih memilih masuk kedalam kolam air dingin daripada setiap pagi mendengar Kris harus berbisik di telinganya dengan suara rendahnya yang─ Oh God can you just kill me now? Shit! It’s too sexy.

Kalau bisa digambarkan ia sudah seperti sebongkah es yang sengaja diletakkan diatas bara api atau seperti ice cream yang dimasukkan dalam penggorengan. Ia meleleh. Walau bukan dalam artian sesungguhnya.

“Bagaimana kau bisa masuk? Semalam seingatku aku sudah menghidupkan double key-locknya,”

“Seminggu yang lalu kau menelponku hanya untuk memberi tahu kode keamanan yang baru. Kau lupa, baby?

“Oh hmm─ Hei bisakah kau berhenti menjadikanku gulingmu?”

Baby stay like this for a minute, please..

Mei menyerah. Kris selalu menang kalau sudah soal keras kepala. Ia bahkan bisa lebih keras daripada batu sekalipun.

Okay, just a minute. Promise?

 

.

.

.

 

Hampir setiap pagi jika Kris tidak tidur di dorm dan malah menginap disini, pasti banyak hal-hal yang membuat Mei harus menelan egonya bulat-bulat seperti lima menit yang lalu Kris baru mau melepaskannya. Nyaris setengah jam pagi harinya harus dihabiskan menjadi pohon eucalyptus Kris. Kris memang gila. Dan Mei tak menyangkal itu.

“Tuan Wu, come on wake up!

Mei menarik napas dan menghembuskannya perlahan, mengulangi hal yang sama sampai rasanya cukup tenang. Kris memang selalu menguji tingkat kesabarannya.

Mei mengguncang pelan bahu Kris, menepuk-nepuk pipinya, mencubit pinggangnya hingga menggigit lengannya dan Kris hanya menggeram lalu membalikkan tubuh ke arah berlawanan melanjutkan tidurnya.

“Kris haruskah aku meluapkan emosiku setiap membangunkanmu?”

Mei memukul keras lengan kiri Kris.

You know about Sleeping Beauty, right. A kissed made her woke up. So, you should kiss me to wake me up, darl..

“Kris, you’re not sleeping beauty. You sleep like a crazy grizzly-bear in hibernation period, if you know what I mean.

Kris masih dengan memejamkan matanya rapat-rapat,

Ssttt.. Just kiss me, a short kiss. A second, please..”

Mei menyerah. Ia mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Kris.

“YA! Kris wake up!

“Mei, that’s not enough. I mean you should kiss me on the lips. Okay?

“Kris, don’t play around─

Ssttt.. Just kiss me baby,

Hanya sedetik. Mei mendaratkan bibirnya di bibir Kris. Mengecupnya singkat. Kris menyeringai dan langsung duduk.

“Gomawo baby,”

Kris mengacak-acak rambut Mei. Rambutnya yang memang sudah berantakan karena belum sempat merapikannya semakin tak berbentuk akibat ulah Kris.

“Hyaaa stop it Kris!”

Pabo─”

Mei paling tak suka saat Kris memanggilnya pabo dan Kris sangat hafal itu. Mei mengerucutkan bibirnya lucu. Kris dengan keusilannya yang tak pernah habis, mendekatkan wajahnya. Menjulurkan ujung lidahnya menyentuh bibir Mei yang masih mengerucut lucu karena kesal.

Omo! Kris itu jorok, kau belum sikat gigi!”

Mei melempari seluruh bantal yang ada di sekitarnya ke arah Kris yang sudah berlari menghilang masuk kedalam kamar dengan tawa kemenangannya karena berhasil menggoda gadisnya.

 

.

.

.

 

Mei selesai merapikan ruang tengah, menyusun kembali bantal-bantal sofa yang semalam dijadikan bantalan tidur juga selimut tebal yang sudah terlipat dan menyimpannya kembali ke dalam lemari.

“Kris, harus berapa lama lagi kau di dalam sana?”

Mei mengetuk pelan pintu toilet, namun tak ada sahutan dari dalam. Hanya suara air dari kran wastafel yang dibiarkan hidup.

Tanpa perlu izin Mei masuk kedalam toilet dan menemukan Kris yang tertidur. Duduk diatas closet yang tertutup dengan kepala yang menyandar di pinggir wastafel.

“Astaga Kris!!!”

Mei mendenguskan napasnya keras, berkacak pinggang lalu menggeram frustrasi. Entahlah terkadang seorang Kris bisa lebih merepotkan daripada batita dan lebih aneh daripada orang yang amnesia.

Mei mengangkat kepala Kris yang masih bersandar dengan nyaman dipinggiran wastafel membuat tubuhnya terduduk dengan lurus.

“Mei, aku masih sangat mengantuk. Aku bahkan baru bisa benar-benar memejamkan mata pukul lima pagi.”

“Tapi bukan begini, haruskah kau memilih toilet untuk tidur? Kau mulai idiot Kris..”

“Mei, baby─”

“Aku menyuruhmu untuk cuci muka dan sikat gigi lalu sarapan pagi. Setelah itu terserah padamu, kau tak ingin mandi atau ingin tidur hingga pergantian tahunpun it’s up to you tuan beruang,”

Kris menyerah. Mei dengan senang hati mengambilkan sikat gigi sekaligus mengoleskan pasta gigi rasa mint untuk Kris juga untuk dirinya sendiri.

“Ini! Pegang yang benar, ayooo buka matamu. Sikat gigimu tuan Wu!!”

Kris menerima sikat giginya yang sudah diolesi pasta gigi dan mulai menyikat giginya malas sambil tetap memejamkan kedua matanya. Mei yang gemas berhenti menyikat giginya sendiri, membiarkan sikat gigi tetap didalam mulutnya. Dan kini malah menyikat gigi Kris yang entah mengapa pagi ini seperti anak kecil yang baru belajar menyikat gigi, asal-asalan sekali. Usia memang tak pernah bisa menentukan kedewasaan seseorang, Kris yang jelas-jelas lebih tua lima tahun dari Mei bahkan sering bertingkah kekanakan, dan itu hanya pada Mei.

“Yifan, kau benar-benar merepotkan─”

Kris hanya menyeringai bodoh, membuka matanya lebar-lebar. Memperhatikan wajah Mei yang serius. Ia meraih sikat gigi Mei, mengambil alih dan mulai menyikat gigi Mei. Dan kini mereka malah saling menyikatkan gigi.

Selesai. Kris sudah berkumur sambil mencuci mukanya di wastafel. Sedangkan Mei, lebih memilih berkumur menggunakan mug kesayangannya.

Baby, kenapa harus selalu berkumur menggunakan itu?”

Kris menatap aneh pada mug bergambar wajah panda di tangan Mei.

Mei masih sibuk berkumur, lalu membuang airnya ke wastafel kemudian mengisi kembali mug-nya dengan air. Masih mengabaikan pertanyaan Kris yang menurutnya aneh. Ia melanjutkan mencuci mukanya. Lalu menyimpan kembali mug-nya di rak toilet.

Mei selesai. Ia berjalan meninggalkan toilet diikuti Kris yang mengekor di belakangnya.

“Mei kau mengacuhkanku!!”

Mei berbalik, mendongakkan wajahnya menatap Kris yang jauh lebih tinggi darinya.

“Itu mug kesayanganku, hadiah ulang tahun saat usiaku enam tahun dari sepupuku. Puas?”

Kris diam, lalu mengangguk paham memperlihatkan senyum bodohnya. Mei yang selalu gemas dengan senyum bodoh Kris menekan kedua pipi Kris dengan ujung-ujung jarinya.

What about our breakfast? My wormy is going crazy in my stomach, baby..

Omo! Roti bakarnya!!!”

Mei dengan wajah paniknya lari begitu saja meninggalkan Kris yang masih mematung berusaha mencerna apa yang terjadi, sebelum akhirnya melihat kepulan asap dari arah dapur.

 

.

.

.

 

“Kenapa kau selalu ceroboh?” Kris mengipas-ngipas asap yang mulai menghilang setelah ia dan Mei membuka seluruh jendela apartemen.

“Kau yang membuatku melupakan soal roti bakarnya, Kris!”

Mereka berdiri saling membelakangi. Mei membersihkan sisa-sisa roti bakar dari dalam toaster yang hampir membakar dapur.

“Wae?” Kris berbalik, menghentikan kegiatan mengipas-ngipasnya. Begitupun Mei yang berbalik dan melupakan sejenak kekacauan dapur.

“Kalau kau tak susah di bangunkan pasti tak akan seperti ini jadinya,”

“Jadi kau menyalahkanku, begitu?” Kris bersedekap. Dengan wajah paling menyebalkan miliknya menatap Mei.

“Itu kenyataannya..” Mei menatap tanpa ekspresi. Dingin. Datar. Menyeramkan.

“Yasudah, aku sarapan di dorm saja bersama member. Chen biasa membuat pancake,

“Terserah saja, kalau perlu tak usah datang lagi!”

“Ok, aku pergi. Sekarang. Dan jangan coba-coba tahan aku! Aku benar-benar pergi, sekarang. Aku serius. Sekarang!”

“Pergi saja sana, kau menyebalkan!”

Mei berbalik memunggungi Kris bermaksud melanjutkan membersihkan kekacauan dapurnya.

“YA!!”

Kris berteriak.

“WAE?”

Mei kembali berbalik dan balas berteriak.

“Kau benar-benar marah padaku?”

Mei hanya diam tak menjawab dan terus menatap kearah Kris.

“Mei─ Aku hanya ingin mendengar kau menahanku, itu saja. Aku mohon jangan marah padaku..”

Mei masih diam. Kris mulai berjalan mendekat lalu meraih tangan kanan Mei, menggenggamnya hangat.

“Kau menyebalkan Kris..”

Mei memukul pelan lengan Kris yang kini sudah berada tepat dihadapannya.

“Ok, aku memang menyebalkan, dan maaf aku sudah membentakmu. Aku yang salah, aku selalu susah di bangunkan, aku selalu membuatmu repot, aku kekanakan. Jadi, apa aku dimaafkan?”

“Kris─”

Mereka memang sering ribut karena hal kecil misalnya seperti pagi ini dan selalu berakhir dengan saling mengacuhkan selama seminggu. Entah mengapa Kris pagi ini begitu berbeda. Ia meminta maaf terlebih dulu, mengakui kesalahannya, berusaha memperbaiki suasana yang hampir berakhir seperti hari sebelum-sebelumnya jika mereka sedang ribut. Dan Mei benar-benar tersentuh. Bahkan rasanya ia ingin menangis detik ini juga.

“Sebagai permohonan maaf kau boleh minta apapun dariku, baby..

“Apapun? ”

“Hmm.. Apapun yang kau mau,”

“Walaupun itu permintaan aneh dan paling tak masuk akal sekalipun?”

“Asal kau tak memintaku untuk memindahkan menara Eiffel ke seberang apartemen. That is insane!

Mei menggeleng namun sebuah senyuman kemenangan mengembang di wajahnya. Kris sedikit bergidik ngeri.

“Sayang.. Siang ini kalian senggang kan, tak ada jadwal? Jadi, aku mau hmm.. Dyo menemaniku mencoba resep baru. Berdua saja. Bagaimana bisa kan?”

“Baiklah, kau dapat yang kau mau. Tapi Mei, haruskah kalian hanya berdua saja? Aku juga harus ikut memasak!”

“Aha! Itu menyalahi aturan Kris, aku hanya mau berdua saja bersama Dyo. Kalau kau ikut yang ada nanti kau hanya mengacau sayang,”

“Mei, baby─”

Kris berusaha memelas pada Mei. Demi Tuhan! Ia bahkan tak pernah melakukan ‘hal terkutuk’ itu pada siapapaun kecuali pada ibunya dan Mei.

“Yifan─”

Mei yang sepertinya tidak luluh sama sekali dengan wajah memelas Kris kembali memperlihatkan wajah kesalnya dan Kris tahu ini akan menjadi masalah besar kalau ia sampai tak mengabulkan keinginan Mei.

“Aish! Baiklah, baiklah. Hanya kalian berdua dan tanpa aku. Kau puas sekarang, baby? Aku cemburu asal kau tahu,”

Gomawo tuan Wu,” Mei mencubit kedua pipi Kris yang sedang cemburu lalu memeluknya hangat.

“Jadi.. Aku tetap boleh datang dan menginap kan? Kau tak benar-benar mengusirku kan, baby?

“Tergantung, asal kau tak selalu menyebalkan─ dan Kris bisakah kau berhenti cemburu pada member bahkan manager oppa? ”

“Kalian terlihat akrab sekali, bahkan aku tak pernah melihatmu tertawa sampai menangis jika bersamaku,”

“Jadi tuan Wu ini ingin aku tak bergaul dengan yang lain dan jadi gadis penyendiri yang hanya berteman dengan novel-novel fantasinya?”

“Bukan begitu, baby─ ah! Aku tahu aku berlebihan, aku hanya.. Aku cemburu, maafkan aku hmm?”

Kris menempelkan keningnya pada kening Mei, mempertemukan ujung hidung mereka. Kris masih melingkarkan kedua lengannya di pinggang Mei.

“Ahh Kris, please stop make that pity face. That’s horrible tuan Wu..”

Mei memposisikan kedua telapak tangannya di kiri-kanan wajah Kris. Menekan pipinya hingga wajah Kris memperlihatkan ekspresi aneh.

“Jadi aku dimaafkan?”

Mei mengangguk cepat, Kris melepas tangan Mei yang masih saja mencoba membuat ekspresi aneh di wajah Kris dengan cara menekan-nekan pipinya. Kedua sudut bibir Kris tertarik membuat seulas senyuman.

“Ahh, thank you my baby..

“Tetapi permintaanku yang tadi masih berlaku!”

Mei mencubit ujung hidung Kris. Senyuman simpul itu seketika luntur dan Kris menghela napas,  lega sekaligus terintimidasi.

 

“Apa ada yang ingin scramble egg  dan coffe late untuk sarapan?”

Kris sudah melepas pelukannya. Kini Mei melipat kedua tangannya di depan dada.

“Bagaimana kalau banana pancake?

“Karena aku sedang bahagia, ayo kita buat semua!”

Mei setuju dengan saran Kris. Ia mengulaskan sebuah senyuman lebar pada Kris.

“Hmm.. juga segelas hot chocolate,”

Kris sambil mengikuti Mei yang sudah lebih dulu menuju lemari pendingin untuk memilih bahan masakan kembali menyampaikan macam-macam menu yang ia inginkan.

“Sayang, kau harus membantuku!”

 

.

.

.

Kkeut!

Oke, thanks for reading my story till the end guys. Hope you enjoy it ^^

Komentar, kritik dan saran yang membangun dari seluruh reader-deul sangat ditunggu.

RCL ya guys kkk~

*deep bow*

54 pemikiran pada “Good Morning My Boo

    • hallooooo~
      thankyou for reading and like this series dear ^^
      selama aku belom bosen ngelanjut series meikris aku bakal tulis terus kok tapi mungkin agak lama tapi pasti publish kok 🙂

  1. Fanfictionnya keren bgt
    suka sama alur ceritanya yg so sweet bgt
    dan suka sama bahasanya yang berat tpi mudah dimengerti 🙂

    Fighting thor! Keep writing 🙂

    • hai keisha, thankyou for reading dan maaf yaa mei masak bareng dyo nya ga ada. kan udah di bilang mei kalo mereka mau masak berdua aja. kalo reader baca jadi ga berdua dong malah jadinya rame hehe 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s