KaiHyo Story: There is No Rainbow Without Rain (Chapter 2)

KaiHyo Story

“There Is No Rainbow without Rain”

[Chapter 2]

kaihyo rainbow 2

Author             : Inhi_Park (@Inhi_Park) a.k.a. RahmaRiess

Main Cast        : Kim Jongin a.k.a. Kai, Kim Hyora & Yoon Jia

Support Cast   : Eomma Kai, Lee Chunji

Genre              : Romance

Length             : Multichapter

Rating             : PG-12

Disclaimer       : I do own nothing but the story and OC.

Summary         :

Just like the diamond that needs to be shaped before it becomes wonderful,

Likewise our love,

That storm will only make our love more beautiful.

Because I believe, that there is no rainbow without rain.

~***~

 

(Kai’s side)

Hyo menghentakkan lenganku lalu berjalan cepat menuju pintu.Aku hanya tersenyum melihatnya.

Perlahan aku bisa melihat sosok eomma yang muncul di balik pintu, begitupun dengan reaksi terkejutnya saat yang membuka pintu ternyata bukan aku.

“Eomma…” Sapaku.Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya dan aku sangat merindukan eommaku itu.

Baru saja aku akan bergerak menghampirinya, seseorang menyeruak dari balik punggungnya lalu berlari ke arahku. Sepintas dapat ku lihat ekspresi kaget Hyo saat seorang gadis bertubuh mungil melewatinya lalu menghambur ke pelukanku sambil meneriakkan namaku.

“YA…Neo nuguya?”Bentakku.

“Oppa… Wah, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Aaarrgh oppa… nan neomu bogoshippeo…” Gadis itu tak juga melepaskan rangkulan tangannya dari tubuhku.

“Ya… Ya… Ya… Lepaskan! Kau ini siapa tiba-tiba memelukku hah?”Aku sudah tidak peduli dia perempuan atau apa, tapi tingkahnya ini benar-benar membuatku kesal. “Eomma…” Lirihku pada wanita paruh baya yang bukannya menolongku malah menatapku dengan tenang.

“Emh… Kai, ikut eomma sebentar.”Gadis itu melonggarkan pelukannya saat mendengar suara lembut eomma.Dan itu memberiku kesempatan untuk meloloskan diri darinya.

Aku bergegas membuntuti Eomma yang berjalan menuju kamarnya. Tapi tunggu, aku melupakan seseorang yang sedari tadi menghujaniku dengan tatapan penuh tanda tanya. Tatapan penuh kebingungan. Tatapan yang menyiratkan… Luka.Hyo…

(Hyora’s side)

Kai berjalan pelan mengikuti Eommonim sambil menatapku sendu.

Saat ini, terlalu banyak pertanyaan yang saling berlompatan di dalam kepalaku.Semua kejadian yang barusaja terjadi di depan mataku rasanya saling tumpang tindih tanpa ada satu bagianpun yang ku mengerti.

Aku sedikit terenyak saat terdengar dehaman pelan dari seorang gadis yang berdiri tidak jauh dariku.“Emh… A-Annyeong…”Sapaku ragu.

“Annyeong…” Gadis itu menjawab dengan sangat ceria.“Eonni ini pasti temannya Jongin oppa kan? Perkenalkan, namaku Yoon Jia” Aku tersenyum kecil mendengar penuturannya.

Biar ku tebak, usia gadis ini mungkin sekitar 3 tahun lebih muda dariku. Terlihat dari sikapnya yang masih sangat polos.

“Oh iya, aku ini calon tunangannyaJongin oppa.”

~JDER~

Senyum yang masih tersisa di bibirku seketika luntur. Entah apa yang dikatakan gadis bernama Jia ini sungguhan atau tidak, tapi ini sungguh membuat hatiku terasa seperti di sambar halilintar. Tunangan?

Cukup lama sampai akhirnya aku bisa kembali menstabilkan emosi yang tiba-tiba tersulut. “Eung… Jia-ssi, kau… kau mau minum apa? Biar ku ambilkan.”

Yah, aku memang cukup emosi saat ini, tapi aku juga masih punya tatakrama.

“Ah, tidak usah eonni.Merepotkan saja.”Kata gadis yang kini sedang berjalan berkeliling, memandangi foto-foto yang terpajang rapi di meja pajangan.

“Gwenchanna.Tunggu sebentar, akan ku ambikan minuman untukmu.”

Aku masih menyisakan sedikit pikiran positifku dengan tidak tergesa-gesa menyimpulkan keadaan.Mungkin gadis itu hanya bercanda, mungkin ini hanya salah paham dan ratusan ‘mungkin-mungkin’ yang lainnya.

Dan dengan masih menekan sisa-sisa emosi yang masih bisa meletup kapan saja, aku melangkah menuju dapur untuk membuatkan minuman.

Saat aku melewati pintu cokelat besar yang merupakan pintu kamar eommonim, pendengaranku menangkap percakapan Kai dan eommanya.Mereka berbicara dengan suara yang sangat pelan namun cukup jelas terdengar olehku.

“Kau pasti bercanda.”Aku sedikit terkejut mendengar bagaimana Kai menaikkan nada suaranya saat bicara dengan orang yang setahuku sangat ia hormati itu.“Appa tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu.”Tambahnya.

“Maafkan eomma Kai.”Suara eommonim masih terdengar pelan.Bahkan cenderung sangat pelan dan sedikit bergetar.“Seharian kemarin aku berbincang dengan Yoon ahjussi, sahabat appamu.Dia bercerita mengenai persetujuannya dengan appamu untuk menjodohkan kau dengan putrinya, Yoon Jia.”

Seketika rasanya kakiku tak sanggup menahan beban badanku sendiri.Tanpa instruksi, punggungku menabrak dinding luar kamar tempat Kai dan eommonim berbicara serius.Sambil terus berusaha menenangkan hatiku sendiri, ku lanjutkan kegiatan yang sebenarnya sangat tidak sopan ini.

“Aku tidak percaya eomma.”Suara Kai terdengar meninggi.

“Sebenarnya ini juga berat buat eomma menerima kabar ini. Tapi eomma juga tidak tahu harus berbuat apa.” Aku sedikit terenyak saat menyadari kalau eommonim justru berbicara sangat pelan dengan suara yang bergetar.“Dan Jia, dia akan tinggal bersama kita selama diaberlibur. Sekitar satu bulan.”

“YA… Aku tidak setuju.”

Kai.Ia berteriak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku baru mendengarnya berteriak seperti ini lagi.Ia benar-benar sedang dikuasai emosi sekarang.

“Eomma memberitahumu, bukan meminta pendapatmu.”

Tak ingin mendengar lebih jauh percakapan mereka, dengan sekujur tubuh yang masih gemetaran, aku segera meninggalkan tempatku.Bergegas menuju dapur dan mengambilkan minuman yang sudah ku janjikan pada gadis yang merupakan fokus dari dua orang yang barusaja ku curi dengarpembicaraannya itu.

Jia terlihat masih asyik memperhatikan foto-foto Kai yang terpampang di meja pajangan saat aku menghampirinya dengan sebuah gelas berisi jus jeruk.

“Jia-ssi, ini minumanmu.Istirahatlah dulu, aku harus pulang sekarang.”Aku melangkah cepat menuju pintu.“Annyeonghaseo…”Dan tanpa menunggu jawaban dari gadis itu aku segera meninggalkan rumah Kai dengan perasaan yang sangat kacau.

(Author’s side)

Seorang gadis nampak tengah sibuk memendarkan pandangannya ke segala penjuru ruang tamu kediaman keluarga Kim. Sesekali ia tersenyum saat menemukan sesuatu yang ia anggap lucu dari foto yang sedari tadi menjadi pemandangan menarik baginya.

“Mana Hyo?”

Suara berat yang terdengar kasar dari seorang pria bertubuh jangkung yang barusaja keluar dari ruang tidur itu memaksa Jia, gadis itu, menghentikan kegiatannya.

Sambil tersenyum manis ia menjawab, “Oh, jadi eonni yang tadi itu namanya Hyo…”

“Mana Hyo…?!?” Kai mengulangi pertanyaannya dengan suara yang lebih kasar.

“Kenapa kau membentakku?”Balas gadis itu tak mau kalah.

“Aish…”

Karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Jia, Kai memutuskan untuk mencari Hyo, kekasihnya, sendiri.Ia bergegas berlari keluar rumah tanpa menghiraukan Jia yang terus meneriakkan namanya.

“Oppa… Jonginnie oppa…”Jerit gadis itu.

Sementara itu, seorang wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang bisa di bilang sudah tidak muda lagi menatap dua anak muda itu sambil terus berusaha membendung air matanya.

Di luar rumah, tanpa berpikir panjang, Kai segera mengarahkan langkahnya ke rumah bercat biru tepat di samping rumahnya.Hyo pasti langsung pulang, pikirnya.

Dan benar, Kai menemukan gadisnya itu berdiri tepat di depan pintu rumahnya. “Hyo…”

Gadis yang namanya barusaja di sebut itu menoleh dan mendapati Kai berdiri tidak jauh di belakangnya.“Oh, Kai…” Hyo tidak cukup pintar menyembunyikan suasana hatinya yang tadi tiba-tiba memburuk. “Maaf aku…”

Kata-kata Hyo terpotong karena Kai tiba-tiba menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya.“Hyo…” Katanya pelan.“Kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu?”Tuturnya.

Hyo mengangguk dalam dekapan Kai. “Emh… Aku tahu.”

Kai merenggangkan pelukannya lalu menyampirkan lengan kekarnya ke bahu gadis yang kini berdiri di hadapannya.Mata mereka saling menatap dalam.

“Kau harus percaya padaku kalau semuanya akan baik-baik saja.”Kata Kai dengan tegas.“Aku mencintaimu dan selamanya akan begitu. Aku janji…”Tegasnya sekali lagi.

“Iya Kai, apapun yang kau katakan, aku percaya padamu.”Jawab Hyo dengan senyum tipis namun tulus.

Dari arah gerbang masuk, seseorang berjalan cepat menghampiri keduanya.

“Oppa…” Kai yang kebetulan membelakanginya di buat terkejut dengan kedatangan Jia yang tiba-tiba. “Eoh… Eonni ternyata kau ini tetangganya Jongin oppa?”Tanya Jia pada Hyo.

“Kau! Untuk apa kau kemari? Pergi sana!”Kai berubah menjadi namja kasar saat kembali berhadapan dengan Jia.

“Kai…” Sela Hyo lengkap dengan isyarat mata untuk berhenti membentak Jia seperti itu. “Iya Jia-ssi, ini rumahku. Aku dan Kai memang bertetangga.”

“Kai?Maksudmu Jongin oppa?”Tutur gadis itu polos.

“Eung…” Angguk Hyo.

“Tck, kau ini cerewet sekali.”Dengus Kai pelan.

Hyo menarik sedikit ujung T-Shirt abu-abu yang di kenakan oleh Kai sambil berbisik, “Kau tidak boleh kasar begitu.Bagaimanapun dia itu yeoja.”

“Tapi…”Namja itu tidak jadi mengeluh saat Hyo menunjukkan tatapan tajamnya.

“Ya sudah, aku masuk yah.”Kata Hyo kemudian.“Lebih baik kau cepat pulang, bukankah kau sudah sangat merindukan eommonim.”Tambahnya sambil menatap lembut Kai.

Kai yang sebenarnya masih ingin berbicara dengan Hyo terpaksa harus mengiyakan penuturan gadisnya itu karena sejujurnya ia memang merindukan eommanya meski setelah kejadian ini ia tidak tahu akan seperti apa atmosfir di rumahnya nanti.

“Baiklah.”Kata Kai pelan.“Hyo…” Belum sempat Hyo masuk, suara namja itu kembali terdengar. “Thanks for today.” Lirihnya.

Hyo hanya bisa membalas dengan senyum tipisnya karena menyadari kalau kini Jia tengah menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.

Tidak berselang lama, Kai membalikkan badan lalu mengambil langkah cepat meninggalkan halaman rumah Hyo.Jia yang sedari tadi menatap dua orang itu dengan bingung akhirnya memutuskan untuk ikut pergi bersama Kai.

“Oppa, tunggu aku…” Jeritnya saat ia menyadari kalau Kai sudah meninggalkannya cukup jauh. “Oppaaa…”

(Hyora’s side)

Aku menoleh saat suara seorang gadis melengking dari arah belakangku.Hatiku mencelos saat mataku menangkap pemandangan yang mengganggu penglihatanku.Gadis itu, Jia, dia berlari mengejar Kai yang berjalan mendahuluinya. Setelah berhasil menjajari langkah namjaku, tangan kecilnya ia lingkarkan di lengan Kai.

Meski dengan sigap Kai langsung menepisnya, tapi sebuah pikiran buruk yang menggerayangi hati dan pikiranku sungguh tak mampu ku tepis.

Setelah tidak sengaja, atau dengan sengaja,mendengar pembicaraan Kai dan eommonim saat aku hendak mengambil minuman ke dapur tadi, sesuatu yang entah aku pun tak tahu apa namanya terus menerus menggelayuti perasaanku.

Seperti ada rasa sesak yang tidak bisa menjadi lega meski aku sudah menarik nafas sedalam-dalamnya.

Seperti ada jalan panjang berliku yang tiba-tiba terbentang di hadapanku.

<><><>

Aku sedang menyisir rambutku dan berniat menguncirnya saat handphoneku berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Sejenak aku tercenung melihat siapa sang pengirim pesan.

From    : Kai

                Wanna have some ice cream with me?I’ll be waiting there.

Beberapa hari sejak hari kepulangan eommonim dari Daegu bersama seorang gadis itu, kami hampir tidak pernah berkomunikasi.Nampaknya kami sama-sama ragu untuk memulai pembahasan mengenai ini.Aku, meski banyak yang ingin ku tanyakan mengenai hal itu, namun aku tak punya keberanian untuk memulai. Dan Kai, aku yakin dia merasakan hal sama meski dia juga pasti sangat ingin menceritakan semua ini padaku.

To          : Kai

Sure… See u there at 2.

~Sent~

Aku menghela nafas dalam sebelum akhirnya ku sambar tas berisi laptop yang tergeletak di meja belajar. Hari ini aku harus bertemu dosen pembimbing skripsiku untuk menyerahkan skripsi hasil proses editing semalaman.

<><><>

(Author’s side)

Lonceng yang terpasang di atas pintu sebuah kedai es krim sederhana di salah satu sudut kota Seoul berdenting nyaring saat seorang gadis mendorong pintu itu cukup kuat. Rambut cokelat panjangnya yang di kuncir satu itu bergerak-gerak mengikuti langkahnya.Gadis itu kemudian berjalan cepat kearah sebuah meja yang sudah di huni oleh seorang namja.

“Mianhh…” Sapa Hyo, gadis itu, terengah.“Kau sudah menunggu lama yah?”

Kai, namja yang sudah terlebih dahulu menempati mejanya itu menarik lengan Hyo, memintanya untuk duduk.“Minum dulu.”Ia menyodorkan gelas tinggi berisi ice capucinno yang isinya tinggal setengah milihnya.“Kenapa kau berlari kemari, huh?”Tanya Kai khawatir.

Sementara yang diajak bicara masih sibuk meneguk minuman yang diberikan namjanya tadi.

“Tentu saja karena tidak mau kau menungguku terlalu lama.”Jawabnya setelah dirasa dagahanya cukup terobati.“Memangnya kau yang senang sekali membuatku menunggu.”

Kai merengut mendengar jawaban dari Hyo.“Apa aku benar sepayah itu?”Tanya namja itu.

Seulas senyum merekah di bibir tipis Hyo.“Tentu saja…” Ia sengaja menggantung jawabannya, menunggu reaksi yang di tunjukkan Kai.“Tidak.”Tambahnya yang sukses membuat wajah Kai kembali berseri.

Kai kemudian melambaikan tangannya, memberi isyarat pada seorang waitress untuk mendekat.

“1 ice cream strawberry dan 1 ice cream choco cookies?”

Kai dan Hyo menyunggingkan senyum saat waitress itu menyebutkan pesanan keduanya sebelum mereka sempat memberitahunya.“Nde, seperti biasanya. Gamsahabnida…” Kata Hyo.

Mereka berdua memang sangat sering dating ke kedai ini.Hampir setiap akhir pekan mereka menyempatkan untuk datang ke tempat yang merupakan tempat favorit mereka ini. Dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu dua gelas ice cream tersaji di atas meja.

Keduanya masih asyik menikmati ice cream masing-masing di tengah keheningan.Suasana canggung sangat terasa dintara mereka berdua.

“Ekhm…” Kai berdeham pelan sebelum akhirnya mulai angkat bicara.“Ada yang ingin aku katakana padamu.”Katanya.

“Aku juga.”Jawab Hyo cepat.“Dan ku mohon biarkan aku bicara lebih dulu.”

Baik Kai maupun Hyo, keduanya tahu persis apa yang akan menjadi topik pembicaraan mereka kali ini.

“Ok. Malhaebwa…” Timpal Kai.

Hyo nampak menghela nafas pelan sebelum ia mulai bersuara.

“Aku… Aku sudah mendengar semuanya.”Nada ragu terdengar jelas dari suaranya.

Mata cokelat gadis itu terpatri pada namja yang duduk di hadapannya, menunggu reaksi yang akan di tunjukkan namjanya itu.

“Maaf… Hari itu, saat aku akan mengambilkan minum untuk Jia, aku… aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan eommonim.”Hyo tertunduk. Ada perasaannya campur aduk antara malu mengakui kelancangannya menguping pembicaraan masalah pribadi orang lain, juga sedih dan takut karena secara tidak langsung ia juga adalah bagian dari masalah itu sendiri.

“Jadi, alasan kau pulang begitu saja waktu itu adalah karena kau sudah tahu semuanya?”

Hyo mengangguk pelan dengan kepala yang masih tertunduk dalam.

“Sebenarnya aku ingin memberitahumu tentang itu, tapi untunglah kau sudah tahu, aku jadi tidak perlu bersusah payah menceritakannya padamu. Iya kan? Haha…” Tutur Kai yang di iringi tawa yang sebenarnya terdengar sangat di paksakan.

Kai benci situasi yang seolah membeku diantara mereka hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencairkan suasana dengan sedikit lelucon. Meski pada akhirnya tawanya itu membuahkan tatapan tajam dari gadis yang tengah duduk di hadapannya.

(Kai’s side)

“Baiklah, maafkan aku.”Lirihku.

Untuk sesaat kami kembali terdiam.Aku mengarahkan pandangan menembus jendela besar di samping meja favorit kami ini. Sementara Hyo, ku lihat ia terus mengaduk-aduk ice cream strawberry yang kini menyerupai milkshake karena sudahmencair.

“Sungguh Hyo, aku benar-benar tidak tahu harus mulai bicara darimana karena aku juga… Aku juga sama sekali tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini.”

Ia mengalihkan tatapannya padaku. “Aku…”

“Aku mohon, Hyo.”Timpalku cepat.“Ku mohon kau mau berjanji sesuatu padaku.”Hyo menghadiahiku tatapan penuh makna yang sulit kuartikan. “Berjanjilah… Seperti apapun keadaan kita nanti.Seperti apapun masalah yang mungkin kita hadapi nanti.Berjanjilah kau akan selalu bersamaku.”

Meski ia mampu menyembunyikan keterkejutannya mendengar rentetan kalimatku tadi, aku tahu persis kalau ia jelas kaget mendengarnya.

“Berjanjilah kalau kita tidak akan pernah menyerah pada apapun.”

Lapisan bening terlihat menyelimuti kedua manik mata cokelatnya.

“Berjanjilah…”Lirihku sekali lagi.

Ia masih menatapku. Terlihat jelas kalau ia berusaha keras sedang berusaha keras agar air matanya tidak jatuh. Bagaimana pun kini kami sama-sama dewasa.Tidak perlu terlalu banyak kata untuk saling memahami perasaan dan pikiran masing-masing. Kami sudah paham betul semua yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan yang mungkin akan terjadi.

“Nde, aku janji.”Angguknya.“Selamanya aku akan bersamamu. Selamanya aku akan ada untukmu. Selamanya…”

Tanganku terulur menghapus cairan bening yang pada akhirnya berhasil mendobrak pertahanannya.Pipinya yang kemerahan menjalarkan rasa hangat ke telapak tangan kananku.

“Aku mencintaimu, Hyo.”Lirihku.

“Nado.Nan neomu saranghanda.”Ujarnya pelan, namun masih bisa dengan jelas terekam oleh otakku.

Suasana yang semula sempat membeku seketika mencair.Kembali menjadi diri sendiri, kami melupakan semua kejadian lalu yang sempat membebani perasaan.Kami kembali terlibat dalam pembicaraan ringan yang sering kali di selingi tawa riang.

Namun sayang hal itu tidak bertahan lama.Sesaat setelah terdengar lonceng dari arah pintu yang menandakan datangnya pelanggan, terdengar suara langkah sesorang yang mendekat kearah kami dan di susul dengan suara seorang gadis.

“Ah, oppa… ternyata kau benar-benar ada disini.”Ujar suara itu.

“Jia-ssi…?”Hyo yang lebih dulu merespon kedatangan gadis yang, sumpah demi apapun, tidak kuharapkan kehadirannya.

“Eoh, eonni… ternyata kau juga disini?”Seloroh gadis itu enteng.

“Tentu saja dia disini!”Bentakku saat ia terkesan mengesampingkan keberadaan Hyo bersamaku dengan pertanyaannya tadi.

“Tidak usah membentaknya seperti itu Kai…”Kata Hyo tenang sambil memegang tanganku.“Oh iya, ada perlu apa kau datang ke tempat ini?”Tambahnya.

“Aku mencari Jonginnie oppa”

Aku heran, apa mungkin gadis ini tidak punya hati? Setelah ku bentak dan kuperlakukan dengan kasar, tak pernah sedikitpun terdengar nada sedih dari suaranya.

“Berhenti memanggilku seperti itu!”Bentakku lagi.

Dan lagi-lagi Hyo menarik lenganku dan memberikan tatapan jangan-membentaknya-seperti-itu padaku sekali lagi.“Kalau aku boleh tau, kau ada perlu apa mencari Kai?”

Dan Hyo. Aku juga heran, kenapa dia masih saja bersikap sebaik itu pada gadis yang jelas-jelas sangat mengganggu itu.

“Aku menawarkan diri untuk membantu Kim ahjumma membeli vitamin untuknya, sekalian jalan-jalan.”Masih dengan nada riang, ia menjelaskan maksud kedatangannya kemari.“Dan beliau menyuruhku untuk minta di temani olehmu.”Tambahnya sambil mengalihkan pandangannya padaku.“Kau mau kan oppa?”

“Tidak.”Jawabku tanpa pikir panjang.

“Oppaaa…”

Ini yang membuatku yakin kalau Hyo lah wanita yang tepat buatku.Dia tidak pernah merengek seperti yang sering di lakukan gadis ini.

“Kau ini apa-apaan sih?Berhenti bersikap seperti itu.”Aku menyingkirkan tangannya yang tadi sempat meraih pundakku.“Dan sekali lagi ku katakan aku tidak mau pergi denganmu.”Tegasku.

“Ayolah oppaaa…”Rengeknya.

“Shireo…!” Gadis ini benar-benar menyebalkan.“Kau pergi saja sendiri.”

“Tapi aku belum kenal daerah sini.Kalau aku tersesat bagaimana?”

“Bukan urusanku!”

“Ayolah…” Katanya lagi.“Eonni, tolong izinkan Jongin oppa menemaniku yah. Ku mohon…”

Damn! Sekarang ia beralih membujuk Hyo yang jelas-jelas terlalu baik hati.

Hyo sempat menatapku sebelum akhirnya bersuara.“Ya sudahlah Kai.Kau temani saja dia.”Katanya.

“Yeee…Eonni memang baik.”Gadis yang masih berdiri di samping tempatku duduk itu memekik girang mendengar jawaban Hyo.

“Tidak mau.Kalau aku pergi dengannya lalu kau bagaimana?”Tuturku.

“Ayo oppa…”Jia semakin menarik lenganku.

“Tapi…”

Hyo tersenyum singkat seolah menularkan keyakinan padaku. “Na gwenchana…”Lirihnya.

<><><>

(Hyora’s side)

Mataku masih terfokus pada ujung sepatu kets yang ku pakai semetara kedua tanganku tengah mencengkeram pinggiran bangku besi yang ku duduki saat ini erat-erat. Halte bis ini akan menjadi saksi kebodohanku yang telah membiarkan kekasihku, namjaku, Kai ku pergi dengan gadis yang jelas-jelas sangat berminat (?) padanya.

Saat aku tak hentinya merutuki kekebodohanku, sebuah motor besar berwarna biru gelap berhenti tepat di hadapanku. Seorang namja yang bertengger gagah di atas motor itu membuka kaca helm full face yang menutupi kepalanya.

Aku sedikit memicingkan mata saat melihat sepasang manik mata yang rasanya sangat familiar bagiku.Kedua ujung mata sipit itu tertarik menandakan kalau namja itu tengah tersenyum.

“Apa kabar Kim Hyora?”

Suara itu.Aku mengenalnya. Iya, itu suara…

“Chunji?”

~to be continue~

Iklan

8 pemikiran pada “KaiHyo Story: There is No Rainbow Without Rain (Chapter 2)

  1. uah ntuh bocah mgapain coba datang ? dasar udah bilang kai kaga mau masih aja kayak gitu ck #emosi
    Chunji itu hayoo
    awas loh kai
    ditunggu next

Tinggalkan Balasan ke ziajung Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s