100 Paper Cranes (Chapter 1)

100 PAPER CRANES 1 POSTER

Title: 100 Paper Cranes

Chapter 1: That Butterfly.

Summary:

”You’re look like a butterfly, pretty to see.

Hard to catch.”

–Park Chanyeol

Pertemuan tidak terduga. Chanyeol, seorang mahasiswa populer, player kelas atas dan Chaerin, kalangan terkucilkan yang amat membenci laki-laki.

Usaha keras. Perasaan yang mulai berubah. Penantian. Kesabaran penuh.

Pada akhirnya, mereka harus mengakui bahwa takdir Tuhan-lah yang memang berkuasa atas segalanya.

Akankah mereka berhasil menggapai kebahagiaan mereka sendiri?

 

Scriptwriter: npt. @nandaniptr | Main Cast: Park Chanyeol (EXO-K), Kim Chaerin (OC) | Supporting Cast: Find by Your Own. | Genre: Drama, Romance, Angst | Duration/Length: Chaptered |Rating: PG-16

Disclaimer:

Maybe there are some fanfics that have the same title like mine. But the idea of this fanfic is totally original by me. Enjoy reading & cheers. No plagiarism and bash.

Comments & Likes are highly appreciated!

Already posted at : http://beautywolfff.wordpress.com

Xoxo, npt.

Aku memberanikan diriku untuk datang lagi kesini.

Aku tidak pernah bosan dan selalu memandangnya di sudut jalanan itu. Diam, duduk dan melihat dari jauh.

Tapi itu dulu.

Ia sekarang terlihat sedang bermain dan bergoyang-goyang mengikuti irama lagu. Dengan riangnya ia menyapa semua anak-anak kecil itu dan memberi mereka permen atau sebungkus cokelat secara bergantian.

Tapi itu hanya dalam imajinasiku saja.

 

Aku tahu siapa dia, dan bagaimana rupanya. Aku mengenalnya dengan cukup baik.

 Amat baik.

 

Dan ini ceritaku, tentang dia.

Aku menghela napas berat.

**********

THIS IS CALLED FATE, DEAR.

Awalnya, pada suatu saat—yang kuingat itu hari Minggu sore yang cerah dengan sedikit sinar samar matahari dan awan-awan putih berarak yang bertahan di langit, yang memang sangat jarang terjadi di awal bulan Januari, walaupun memang masih ada salju bertumpuk tersisa di jalanan. Namun hari ini cuacanya menyenangkan, sebetulnya. Tapi tidak untukku.

Aku benar-benar dilanda kebosanan tingkat tinggi dan memerlukan inspirasi untuk hasil foto-fotoku. Mungkin aku sudah sampai di titik terjenuh dengan rutinitasku sehari-hari.

Aku menimang-nimang kamera di meja, menghitung kancing berkali-kali, memutarkan tutup botol di meja. Hasilnya sama, jalan buntu.

Apa yang harus kulakukan? Aku membutuhkan sesuatu yang baru.

Dengan susah-payah kukumpulkan semangat untuk segera bangkit dari tempat duduk, memutuskan untuk lebih baik berjalan-jalan di sekitar sini saja. Jika diam di tempat, tak akan ada yang bisa kudapatkan, jadi apa salahnya untuk menikmati udara luar sekali-kali?

Dan aku tidak tahu angin apa yang membawaku datang ke tempat di sudut jalan itu.

Sudah sekitar tiga jam aku berkeliling. Sempat kulihat angka di jamku menunjukkan angka 3. Matahari masih bersinar walaupun awan mulai menutupi samar-samar sinarnya. Karena kelelahan, aku memilih untuk beristirahat sebentar dan mengambil tempat duduk di anak tangga taman di sudut jalan itu. Sekitar sejam waktuku terbuang dengan duduk diam sambil tanganku sibuk menekan tombol ke kanan dan ke kiri, meneliti satu persatu hasil foto yang kudapat setelah berjalan-jalan.

Aku mengerucutkan bibir. Tidak ada yang menarik.

Lalu aku menengadahkan kepala, dan melihat sekelilingku.

Pemandangan disini mungkin akan menarik, pikirku.

Segera kusiapkan kameraku dan mulai memotret disana-sini dengan angle yang random. Lensa kameraku sesekali menangkap wajah seorang badut dengan memakai kostum Minnie Mouse dengan dress merah polkadot di ujung sana, serta anak-anak yang sedang bermain bersamanya.

Apa itu? Ah salah, tepatnya Siapa dia?

Aku tidak pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Apa karena aku saja yang jarang memperhatikan sekitarku?

Hei sebentar, kurasa ini bisa menjadi objek potretanku selanjutnya. Lihat saja senyum mereka. Mereka mempunyai banyak ekspresi yang natural. Dan…ah, ini bagus sekali!

Tak terasa waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 5 sore. Badut Minnie Mouse itu kini sedang melambaikan tangannya yang besar dengan bersemangat ke arah anak-anak yang sudah mengambil tas mereka dan mulai berjalan pulang. Aku benar-benar terkejut saat mereka berlarian dan memeluk badut itu dulu sebelum mengucapkan salam perpisahan.

Aku mengernyitkan dahiku sedikit. Sepertinya ia benar-benar disayangi oleh anak-anak di sekitar sini.

Setelah semua anak-anak itu telah pergi, ia dengan langkah malas berjalan lurus ke arah kursi taman di depannya. Lalu mulai membuka kancing penutup kepala badut itu satu-persatu, dan mencopotnya.

Aku menahan nafas. Memperhatikannya dalam diam. Mataku tak lepas sedetik pun darinya. Penasaran.

Entah mengapa, aku ingin tahu sekali siapa yang berada di balik kostum badut itu.

Setelah kepala badut itu lepas seluruhnya, terlihat dari belakang sesosok perempuan dengan rambut bercepol. Ia melepaskan cepolannya dan kini tergerai bebas rambut panjang menggantung di punggungnya. Perempuan itu terlihat kegerahan dan mulai mengibas-ngibaskan tangannya ke sekitar lehernya, berusaha mendinginkan diri. Titik-titik keringat berjatuhan dari ujung rambutnya. Aku meninggalkan tempat dudukku dan mulai berjalan ke arahnya dengan berusaha memelankan suara langkah kakiku sekecil mungkin. Saat berada agak dekat di belakangnya, aku mendengar helaan napas panjang.

Lalu ia berbalik.

Dan kini, tepat di hadapanku. Aku mendapatkan pemandangan yang…mengejutkan.

Aku tidak pernah menyangka, bahkan tidak pernah terbayangkan dalam mimpiku, aku bisa bertemu perempuan secantik dia—Menurut pandanganku tentunya, semua orang punya pandangan yang berbeda bukan?

Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama. Matanya sayu berwarna senada dengan rambutnya, cokelat tua yang mengingatkanku dengan warna pada kayu mahoni. Kulitnya putih bersih dengan rona merah di pipinya. Bibirnya kecil, dan hidungnya cukup tajam. Tingginya hanya sekitar sebahuku saja. Ia terlihat sedikit bersikap waspada dengan keberadaanku yang berada pas dua langkah di depannya. Karena kedekatan kami pula aku bisa membau harum vanilla dari tubuhnya. Aku hanya bisa melemparkan senyum pada perempuan itu dengan sedikit kaku.

Dia hanya memandang mataku sebentar dengan pandangan aneh. Lalu segera mengalihkan pandangannya dan tetap melanjutkan berjalan.

Merasa tidak dihiraukan, tiba-tiba saja refleks kakiku bergerak sendiri mengejarnya.

“Siapa kau?” Dia terlihat sedikit takut melihatku berjalan mengikutinya. Kini kami sudah jalan bersebelahan. Dan ide gila itu terlintas begitu saja.

Aku maju beberapa langkah darinya dan berhenti di hadapannya untuk menghalangi jalan perempuan itu. Rasanya seperti tersihir. Kali ini, kami sudah berdiri berhadap-hadapan. Jarak kami hanya sekitar dua jengkal, begitu dekat. Aroma vanilla itu tercium lagi.

Perempuan di depanku ini hanya mengerutkan kening sedikit dan mulai mundur perlahan. Aku mengulurkan tanganku dan tersenyum lebar. Ini adalah kesempatan emas.

“Park Chanyeol, dan kau?”

Saat ditanya seperti itu, respon yang kudapat hanyalah hening canggung yang menggantung beberapa saat di udara. Ia menatapku sesaat, lalu tanpa menjawab sepatah katapun, ia memilih untuk berlalu dari hadapanku. Meninggalkan aku sendiri dengan tanganku yang hanya disambut angin kosong.

Aku tetap tidak menyerah dan terus mengikutinya. Kublokir lagi langkahnya untuk kedua kalinya.

Dia mulai terlihat kesal. Matanya berkilat marah. Aku tetap tersenyum tenang.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Kataku santai.

Ia menaikkan satu alisnya. Menatapku dengan pandangan seperti aku adalah pengganggu nomor satu untuknya. Antara rela dan tidak rela, ia akhirnya menyerah dan menyebutkan namanya.

“Kim Chaerin. Cukup?” Jawabnya ketus.

Dan kali ini, saat dia mulai berjalan pergi dengan langkah tergesa—mungkin takut kuikuti lagi—aku tidak lagi mengejarnya.

Karena, mengetahui namanya pun sudah cukup untukku.

 

**********

Let me tell you about myself a little bit.

Aku adalah seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi semester empat di Universitas terkemuka di Seoul. Di sana, kurasa aku cukup terkenal. Bukan maksudku membanggakan diri sendiri tetapi ini adalah sebuah fakta. Aku cukup baik dalam bersosialisasi. Kadang aku mencuri dengar sebutan mereka padaku, Happy Virus. Alasan mereka menyebutku seperti itu karena mereka menganggapku lucu dan selalu menebarkan virus kegembiraan. Aku hanya tertawa geli mendengarnya, konyol sekali.

Bahkan aku tidak pernah menganggap diriku lucu.

Park Chanyeol—semua orang mengetahuiku sebagai ketua ekstra fotografi. Karena tugas sebagai ketua, hidupku penuh dengan berbagai deadline yang mencekik dan tugas-tugas yang rasanya tak ada habisnya. Ditambah dengan part time job-ku sebagai fotografer amatir. Tapi aku berusaha semampu mungkin untuk tetap membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan sosialku. Aku mempunyai banyak sahabat dan bahkan aku pun dikenal sebagai player.

Banyak yang mengutarakan perasaannya padaku, dan…aku menerimanya.

Tidak, aku bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Bahkan aku tidak pernah jatuh cinta dalam artian sesungguhnya dengan mereka semua. Kalian boleh mengatakan aku jahat, kejam, dan sebangsanya. Tapi aku melakukan itu untuk bersenang-senang. Terkadang mereka menangis saat aku memilih untuk memutuskan hubunganku dengan mereka. Ada sedikit rasa bersalah terselip dalam hatiku, tetapi tetap saja tidak ada perubahan berarti.

Alhasil aku tetaplah menjadi Chanyeol—Si Happy Virus yang..brengsek. Yang banyak disukai dan dibenci.

Aku menyadarinya pula bahwa aku terlampau parah.

Tetapi entahlah. Aku hanya merasa tidak bisa merubah sifatku yang satu ini.

**********

Karena sudah mengetahui sosok asli dibalik kostum badut itu, aku sekarang cukup rajin datang ke sudut jalanan ini jika tidak sibuk atau mempunyai jadwal yang mendadak. Dengan tidak lupa membawa tas kamera yang kusampirkan di bahu. Aku menunggunya sekitar lima belas menit, karena aku memastikan positif perempuan itu pasti akan datang sekitar jam 3 sore.

Tepat dugaanku, setelah bersiap-siap, kali ini ia sedang mengajari anak-anak kecil itu bernyanyi. Ia tetap memakai kostum badutnya. Mereka menggoyang-goyangkan kepala ke kanan dan ke kiri dengan serempak. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Mataku tak lepas memandang mereka semua. Dari sini gadis dan anak-anak itu terlihat sangat sumringah, wajah mereka berpendar terang.

Dan kurasa Chaerin benar-benar kelebihan energi hari ini, ia berkali-kali melompat-lompat dan ber-highfive dengan semangat bersama anak kecil itu.

Saat langit sudah mulai berwarna oranye kemerahan. Dan saat para anak kecil itu telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Aku tidak serta-merta langsung mendatanginya. Kuambil kameraku dan kusiapkan lensa terbaik yang kupunya.

Saat ia mulai melepaskan kepala badut itu, segera kuarahkan kameraku ke arahnya. Kini, dalam lensa tele kameraku, terpampang gambar seorang perempuan cantik sedang tersenyum sembari melihat gantungan kunci bergambar kartun Minnie Mouse yang diberikan salah satu dari anak-anak yang baru saja ia ajar.

Click.

Dan senyum itu sukses tersimpan dalam memori kameraku. Dalam sebuah foto.

Di dalam kamera ini juga ada hasil foto Chaerin dengan berbagai pose. Saat perempuan itu mengibaskan rambutnya, saat ia duduk jongkok dan membenarkan sepatu ketsnya, saat ia menunduk dan terlihat letih, saat ia menatap langit. Kuakui semua hasil foto yang menyangkut dirinya menjadi benar-benar bagus dan berseni. Seharusnya ia menjadi seorang model, dan wajahnya tidak seharusnya tersembunyi di balik topeng itu.

Satu saja alasan mengapa aku mengatakan ini, mungkin kurasa, karena ia benar-benar sangat menawan.

Siapa yang bisa menolak pesona perempuan beraroma manis secantik dia?

 

**********

 

Chaerin mengambil tas selempang hijaunya yang ia tinggalkan di meja taman dan mulai berjalan pulang. Aku mengikutinya perlahan dari belakang dan mulai menjejerkan langkahku dengannya. Katakanlah aku seperti stalker yang jika orang-orang bilang saat mereka melihat ibarat fans fanatik yang mengikuti idolanya kemana-mana. Dan kurasa aku juga seperti para stalker itu. Tidak ada yang salah. Itu adalah sesuatu hal yang boleh, sebenarnya—namun tetap dalam batas kewajaran tentunya.

Jadi tolong, jangan salahkan aku jika aku merasa aku mulai ‘jatuh cinta’ pada pandangan pertama saat melihat Chaerin.

Hei jangan bergurau kau, Park Chanyeol—Aku tertawa dalam hati. Memangnya kau tahu bagaimana rasanya jatuh cinta? Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.

Raut wajah Chaerin terlihat shock melihat kedatanganku yang mengagetkan tepat di sisinya, lalu ia mulai mempercepat langkahnya dan tidak mau menoleh untuk menatapku sedikitpun. Aku mencoba menggodanya dan mengikuti irama langkahnya. Ia berhenti. Aku pun ikut berhenti. Ia berjalan lagi, aku pun ikut berjalan mengekor di sebelahnya.

Lalu mungkin karena batas kesabaran yang sudah mencapai maksimal, ia berhenti, menoleh ke arahku dan menatapku mataku tajam.

Ya! Apa maumu?” Ia melipat tangannya di dada. Raut wajahnya terlihat marah. Aku tertawa kecil. Bahkan saat marah pun ia tetap cantik.

“Aku hanya ingin berteman lebih dekat denganmu, Chaerin-ssi.” Aku menjawab dengan lugas. Mata perempuan itu menyipit. Aku balik memandang bola matanya dalam waktu yang cukup lama. Sadar diperhatikan terus menerus, ia segera mengalihkan pandangan dan melengos kesal. Kembali berjalan dan menatap lurus ke depan.

“Tunggu!” Aku mengejarnya. Ia tiba-tiba membalikkan badannya. Seluruhnya. Lalu terdiam sesaat sambil memandangku dengan tatapan elangnya yang tajam.

Chaerin membuka sedikit bibirnya dan mendesis marah.

“Pergi.”

Memang pelan.

Namun cukup menusuk.

Melihatku tak bergerak, ia kembali meneruskan langkahnya secepat mungkin berusaha menjauh dariku. Aku pun tidak beranjak dari tempatku.

Ini masih pertemuan kami yang kedua, dan responnya sudah seperti itu?

Aku tertawa dalam hati.

Sepertinya ini akan jadi hal yang menarik.

Aku, seorang Park Chanyeol—Tidak pernah ditolak sekalipun dalam hidupnya.

Ini akan menyenangkan.

To be continued.

***

Hi! This is my real ‘first’ multi-chapter fanfict, bukan hasil duet fanfic bersama sahabat lagi (kindly check it: @sagitrp, she’s a fanfics author too! Read our duet fanfic: http://www.exofanfiction.wordpress.com/2013/09/07/heir-heiress-chapter-1/ still on going:D

Or just type our twitter name in the search box for another fanfics that we madeJ)

Agak singkat ya, hehe.

This story inspired by Super Junior & SNSD’s Seoul Music Video. Ditambah dengan Chanyeol’s 100 Paper Cranes story:

While he was a guest on Younha’s Starry Night Radio, Chanyeol revealed that he was going to make 100 paper cranes and send them to his girlfriend at the time. He was about 70 paper cranes in when his girlfriend texted him saying that she was breaking up with him.

While still heartbroken, he didn’t want to stop folding the cranes, so he continued on until he finished. He put all 100 paper cranes inside of a bottle.

He’s such a sweetheart, poor him. Tenang, masih ada aku kok. #eh xixi. But this story is a little bit different from Chanyeol’s true story.

So, keep reading & support!<3

Iklan

20 pemikiran pada “100 Paper Cranes (Chapter 1)

  1. Lagi iseng2 buka exofanfic, nemu ff ini yg chapter 3, liat judulnya entah kenapa langsung tertarik mau baca, padahal biasanya anti dengan cerita yg multichapter. Mungkin efek keinget tentang cerita Chanyeol ttg 100 paper cranes yg dy buat itu dan trnyata emg terinspirasi dr sana.
    Langsung deh cari yg chapter 1nya dan ternyata ga nyesel bacanya. Saya suka gaya bahasa authornya dan alur ceritanya menarik.
    Lanjut chapter 2!

  2. Halo, aku pembaca baru disini /bow/
    Aku iseng nyari ff bias *lirik Chanyeol* dan akhirnya terdampar /lo kira/ disini.
    Dan kisah nyata soal 100 paper cranes Chanyeol itu emang menyedihkan banget /pukpuk Yeol/
    Salam kenal ya^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s