Butterfly Girl (Chapter 1)

Butterfly Girl

Title : Butterfly Girl (Chapter 1)

Author : Lululala94

Main Cast :

  • Kim Hyesu (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Xi Luhan

Other Cast :

  • Shin Sujin (OC)

Genre : Romance, Hurt.

Lenght : Two Shoot.

 

-oOo-

Malam yang sunyi, dengan jalanan redup mendukung aura yang menyeramkan, seorang namja kecil berjalan santai tanpa memperdulikan suasana gelap dan dinginnya malam ini, itu karena ia sedang berjalan beriringan bersama eommanya, ia baru saja mengantarnya berbelanja, tapi saat ingin menyebrangi jalan, namja itu merasa seperti melihat seorang yeoja di Taman sana.

“Baekhyun, waeyo?” tanya nyonya Byun sedikit menyentak anaknya.

Baekhyun setengah mendongak untuk melihat eommanya. “eomma, kata eomma seorang gadis tidak boleh pergi keluar sendirian malam-malam?” tanyanya, tangan kecil Baekhyun yang sedang berada digenggaman nyonya Byun terasa hangat, ia jadi merasa kasihan pada yeoja di seberang sana. Udara malam hari ini begitu dingin, bagaimana kalau yeoja itu mati kedinginan?

“ne, memangnya kenapa?” balas nyonya Byun sambil berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Baekhyun.

Baekhyun menoleh dan menunjuk ke arah yeoja yang tadi ia lihat. “yeoja itu sendirian eomma.”

Nyonya Byun mengikuti arah telunjuk Baekhyun, ia memicingkan matanya dan terbelakak kaget begitu melihat gadis kecil yang Baekhyun maksud.

“omona! Baekhyun kajja kita kesana!” sentak nyonya Byun, wanita itu melangkahkan kakinya tergesa-gesa ke arah Taman di seberang, Baekhyun yang sedang berada digenggaman eommanya mau tak mau ikut tertarik berjalan dengan tergesa-gesa.

“Baekhyun, kau ajak bicara ne?” bujuk nyonya Byun setengah berbisik.

Baekhyun membalasnya dengan anggukan mengerti, ia langsung menghampiri gadis kecil yang sedang duduk terisak di tepi kolam itu.

“anyeong!” sapa Baekhyun riang.

Merasa ada yang menyepanya, Gadis kecil itu pun langsung mendongakkan kepalanya. “OPPA!” serunya dan langsung menghambur memeluk Baekhyun. Karena masih belum bisa menyeimbangi cahaya yang masuk di matanya oleh air mata, gadis kecil itu mengira bahwa pria kecil di depannya ini adalah oppanya.

Baekhyun yang diperlakukan seperti itu langsung menoleh ke arah eommanya sambil berusaha melepas pelukan gadis kecil itu. “a-aku bukan oppamu… aku Baekhyun.”

Pelukan erat dari gadis itu perlahan melonggar di pinggang Baekhyun, ia melepaskan pelukannya dan menatap Baekhyun bingung. “bukan oppa…” gumamnya kecewa, ia kembali menunduk.

Nyonya Byun berjalan menghampiri Baekhyun, ia tersenyum hangat pada gadis keci yang sedang menunduk tersebut. “anyeong! siapa namamu?”

Gadis kecil itu terdiam beberapa saat, dengan rasa ragu ia membuka pita suaranya “Kim Hyesu…” jawabnya pelan, sesekali ia sesegukan, mulutnya terlihat bergetar entah karena kedinginan atau masih merasa takut.

“berapa umurmu?” kini giliran Baekhyun yang bertanya.

Hyesu mengangkat 4 jarinya, menandakan bahwa ia baru berumur empat tahun.

Baekhyun mengangguk sekali. “kalau aku 6 tahun, berarti kita berbeda… satu…”

“dua tahun.” Potong Hyesu masih dengan suara pelannya yang serak.

“wah~ Hyesu pintar sekali.” Puji nyonya Byun sambil bertepuk tangan dengan pelan, Hyesu tersenyum lebar. “Baekhyun yang umurnya lebih tua darimu saja kalah.” Lanjutnya lagi, Baekhyun memanyunkan bibir bawahnya karena merasa dibanding-bandingkan.

“nah, Hyesu, kenapa bisa berada di sini sendirian?” nyonya Byun menggenggam kedua tangan Hyesu untuk menghangatkan tangan yeoja kecil itu.

Hyesu tersentak, air matanya kembali mengalir membasahi pipinya. “oppa…”

“ne?” nyonya Byun tidak mengerti, Baekhyun pun tampak penasaran.

“waktu bermain, oppa menantangku untuk pergi berpencar, padahal ia juga tidak tahu jalannya, ia malah menghilang, Hye-Hyesu tak berani pulang… Hyesu tidak tahu jalan disekitar sini…” air mata Hyesu semakin mengalir deras, ia mulai terisak.

“ooh… kasihan Hyesu, kau tahu dimana rumahmu?” tanya nyonya Byun lagi, ia membelai rambut panjang milik Hyesu, gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.

“eomma! Hyesu tinggal bersama kita saja! Aku ingin punya adik!” usul Baekhyun dengan mata yang berbinar-binar.

Nyonya Byun berpikir sebentar. “tapi- ah, Hyesu, apa rumahmu dekat dari sini?”

Lagi-lagi Hyesu menggeleng. “eomma mengajak Hyesu pergi berjalan-jalan, katanya hanya sebentar di Taman ini untuk ber-istirahat, sekarang mereka sudah pulang, huuu…” tangis Hyesu semakin pecah.

“Hyesu uljima… kalau Hyesu mau, Hyesu boleh tinggal bersama ahjuma.” Bujuk nyonya Byun, ia memeluk Hyesu dengan hangat.

“kau mau?” tanya nyonya Byun, Hyesu menganggukan kepalanya.

*****

“wah! Daebak! Itu bagus sekali!” seru Baekhyun sambil bertepuk tangan bersemangat.

“kau pintar menggambar?!” tanyanya, ia merebut buku gambar yang sedang berada di tangan Hyesu.

Hyesu tersenyum lebar, tangisnya kini sudah menghilang tidak berjejak karena Baekhyun selalu menampakan sikap cerianya, itu juga membuat Hyesu ikut ceria.

“ani, aku hanya bisa menggambar kupu-kupu saja.”

Baekhyun mangut-mangut, ia masih terpaku dengan gambaran Hyesu. “tapi ini bagus…” ucapnya lagi, ia menyerahkan buku gambar itu kembali pada Hyesu.

“oh! Bahkan bajumu pun bergambar kupu-kupu! Aku baru sadar! Hahaha!”

“Baekhyun! Sudah malam, kecilkan suaramu!” teriak nyonya Byun yang sedang mencuci piring dari arah dapur, mereka baru saja makan malam bersama dengan menu spesial Cheese Burger.

Baekhyun mendumel, Hyesu tersenyum geli melihatnya.

“kau sangat suka kupu-kupu?” tanya Baekhyun kemudian.

Hyesu mengangguk sekali. “sangat suka, aku dan oppaku sering menangkap kupu-kupu di pekarangan rumah.”

“sepertinya kau sangat dekat dengan oppamu, omong-omong oppamu seperti apa?” tanya Baekhyun lagi sambil menatap Hyesu dengan rasa penasaran.

“oppa orangnya baik, dia perhatian.” Hyesu memutar-mutarkan pensil yang ia pegang, pandangannya kosong tetapi terlihat jelas bahwa Hyesu sedang mengulas senyuman.

Baekhyun mengangguk mengerti. “mulai sekarang aku juga akan menjadi oppamu!” serunya bersemangat.

“kau harus memanggilku oppa! Arra?!”

“ne! Baekhyun oppa!”

“aigooo… neomu toktokhada, kekeke.”

Nyonya Byun yang sedari tadi mendengar perbincangan Baekhyun dan Hyesu hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. “Baekhyun-ah! Hyesu-ah! Apa kalian tidak mengantuk?” tanyanya kemudian.

“hoooahm…” Baekhyun menguap lebar. “ne eomma, Hyesu tidur dimana?”

“tentu saja di kamar eomma.” Jawab nyonya Byun dengan ringan, ia melangkahkan kakinya menghampiri sofa yang Baekhyun dan Hyesu duduki sedari tadi.

“aniya… bagaimana kalau di kamarku saja?” pinta Baekhyun manja.

“eh? kau kan laki-laki Baekhyun… lagi pula tidak ada ranjang yang lain di kamarmu.” Nyonya Byun mengacak-acak rambut anak semata wayangnya itu.

“ahjuma, aku tidak keberatan kok.” Ujar Hyesu sambil tersenyum lebar.

“eh? lagipula kalian masih anak-anak ya.” gumam nyonya Byun.

“kalau begitu baiklah, besok akan eomma belikan ranjang kasur yang baru, kajja masuk kamar, oh ya Hyesu, mulai sekarang kau harus memanggilku eomma arra?” nyonya Byun mengangkat telunjuknya sambil tersenyum.

Hyesu mengangguk mengerti.  “ne, eomma.”

==========

“kasur ini luas kan? Jadi cukup untuk kita berdua.” Pamer Baekhyun, ia langsung melompat naik pada ranjang berukuran king bednya.

“luas sekali.” Selain melongo, Hyesu hanya bisa mengucapkan dua patah kata itu.

Keluarga Baekhyun memang dapat dibilang keluarga terpandang, tuan Byun adalah pemilik saham dari perusahaan  besar ‘Byun Company’ di New York, sedangkan nyonya Byun, meski pun hanya di rumah merawat Baekhyun,  tetapi sang abeoji selalu memberinya kiriman uang meski nyonya Byun sudah menolaknya dengan sopan.

“ayo tidur! Kau di sebelah kiri.” Baekhyun menepuk-nepuk bantal di sebelahnya, rasanya ia benar-benar semangat karena mendapat teman baru di rumahnya.

Hyesu menurut, ia langsung naik ke ranjang kasur di sebelah Baekhyun.

Baekhyun tersenyum senang, ia bergeser mendekati Hyesu. “selamat tidur.” Ucapnya sambil mengecup pipi kanan Hyesu singkat.

“YA!” pekik Hyesu sambil memegang pipi kanannya.

“wae?” tanya Baekhyun bingung.

“kau mencuri ciuman pertamaku!” hardik Hyesu kesal.

“Hahaha! Kau masih kecil, tahu apa kau tentang ciuman?” tawa Baekhyun.

“tapi-”

“ciuman itu kalau bibir dengan bibir saling menempel, begitu.” Baekhyun memperagakannya dengan jari-jari kecilnya yang ia bentuk menyerupai mulut.

Hyesu hanya mengangguk menanggapinya, ia bahkan tidak tahu bahwa dirinya dan Baekhyun memiliki pantaran yang sama.

“kau mau mencobanya? Sini mendekat.” Kata Baekhyun, ia memegang dagu Hyesu denga wajah polosnya.

“ti-tidak mau, nanti saja kalau sudah besar.” Hyesu melepaskan tangan Baekhyun dari dagunya.

“kalau begitu kapan?”

“kalau aku sudah 17 tahun, sesuai perintah eommaku.” Hyesu tersenyum.

“oooh… janji ya?” Baekhyun mengangkat kelingkingnya ke arah Hyesu.

“eh? Iya janji.” Hyesu pun membalas jari kelingking Baekhyun dengan kelingkingnya.

“hei, kau memiliki bulu mata yang panjang, sama seperti eomma.” Baekhyun menatap mata Hyesu lekat-lekat.

“jinjja?”

Baekhyun mengangguk. “ne, kau mirip eomma.”

-oOo-

 

-13 YEARS LATER-

“ini koridor pertama… aigo Hyesu, tidak usah sampai melongo begitu, kau berlebihan.” Baekhyun menepuk mulut Hyesu yang sedari tadi melongo dengan norak melihat keadaan lingkungan sekolah barunya.

“daebak~” gumam Hyesu.

Baekhyun memutar kedua bola matanya malas. “kajja, ku antar kau ke ruang kelas.” Ucapnya dan langsung menarik tangan Hyesu menuju ke ruangan kelas dongsaengnya itu.

“aku masuk kelas apa oppa?” tanya Hyesu, ia lupa melihat mading kelas karena terlalu asyik berkeliling sekolah bersama Baekhyun.

“ruang 10-1! Chukkae! Kau masuk kelas unggulan!” jawab Baekhyun dengan semangat, ia mencubit pipi Hyesu pelan.

“ne? Kelas unggulan? Yeaaah~” Hyesu bersorak girang.

Baekhyun tersenyum, kemudian mereka berjalan menuju kelas 10-1 dalam diam.

===

“Cha! ini kelasmu! Oppa langsung ke kelas ne?”

“ne oppa! Gomawo! Ppai!” Hyesu melambai-lambaikan tangannya, Baekhyun menoleh ke belakang dan membalas lambaian tangan Hyesu.

Begitu sosok Baekhyun sudah tidak terlihat, gadis itu langsung bergumam sendirian. “oppa saranghae… kuharap kau ingat ulang tahunku hari ini.” Hyesu tersenyum penuh harap dan langsung masuk ke dalam ruang kelas barunya.

Jujur saja, semenjak kelas 5 SD Hyesu sudah mulai menyukai Baekhyun, pada saat itu ia masih belum mengerti tentang apa itu cinta, tapi ketika ia sudah duduk di bangku kelas 2 SMP, Hyesu mulai merasakan gejolak aneh di jantungnya saat menatap Baekhyun.

Hyesu sangat bersyukur karena akhirnya ia bisa satu sekolah bersama dengan Baekhyun, setelah sudah sekian tahun, dimulai dari SD sampai SMP tidak pernah tercapai. Hyesu lebih memilih menyembunyikan perasaannya, yang penting ia masih bisa berhubungan baik dengan oppa tidak sedarahnya itu, dibanding ia mengungkapkan perasaanya tetapi hubungan mereka akan terlihat canggung.

==========

Baekhyun berjalan terburu-buru menuju kelasnya, sebenarnya ia hampir saja kesiangan hanya untuk mengantar yeodongsaengnya berkeliling sekolah, itu pun kalau ia tidak mempercepat langkahnya.

Baekhyun menengadah, memeriksa nomor ruang kelas yang tertera di atas pintu. “nah, benar ini ruang 12-4.” Gumamnya yakin dan langsung berniat masuk ke dalam kelasnya.

“neo? Baekhyun? Byun Baekhyun?”

Belum sempat Baekhyun melangkahkan satu kakinya, tiba-tiba ada suara seorang yeoja yang memanggil namanya, bahkan lebih tepat seperti orang yang sedang bertanya.

Baekhyun menoleh ke asal suara tersebut dan langsung terbelakak begitu melihat yeoja yang ia sukai dua tahun yang lalu berada tepat di sampingnya, gadis itu sedang melukis seulas senyuman di wajahnya. “S-Shin Sujin?”

“anyeong! rasanya baru saja kita berada di kelas yang sama di kelas 10-5. Dan sekarang kita satu kelas lagi, senang bertemu denganmu.” Sujin menepuk pundak Baekhyun, sedangkan Baekhyun hanya dapat tersenyum kaku, masih belum percaya karena ia bisa satu kelas lagi dengan gadis yang ia sukai bahkan bisa dibilang gadis yang ia cintai.

“kajja masuk.” Ajak Sujin sambil memeluk lengan Baekhyun tanpa ada rasa keraguan sedikit pun, itu cukup membuat jantung Baekhyun berdetak tidak karuan.

*****

“Hyesu-ah!” seru Baekhyun, namja itu sedang berada di depan pintu ruang kelas Hyesu.

Hyesu yang sedari tadi sedang membaca buku langsung mendongak, senyuman lebar langsung terlukis di wajah manisnya. “ah, oppa-ya!”

Baekhyun berjalan menghampiri Hyesu dan duduk di sampingnya, ruangan kelas sudah sepi, hanya tersisa Hyesu saja di kelas ini.

“kau menunggu oppa?”

Hyesu mengangguk singkat. “ne, tapi karena aku tidak tahu dimana kelas oppa, jadi aku tunggu di sini saja sambil membaca buku.” Ucapnya sambil menutup bukunya yang sedang ia baca.

“oooh… harusnya kau bertanya saja. Eh, tapi sekarang hari ulang tahunmu kan?! Saengil Chukkae hamnida! kajja oppa traktir hari ini, mianhae telat, kekeke…” Baekhyun menarik tangan Hyesu dengan semangat.

“oppa chankaman! Aku belum membereskan tasku!”

“ppalliwa!”

*****

“nah, kau mau apa?”

“emm… sebentar.”

Hyesu tampak tergiur dengan semua barang-barang lucu nan unik di hadapannya, tetapi ia sulit untuk menentukan mana yang benar-benar ia inginkan, sampai akhirnya ia terpaku pada sebuah buku unik dengan covernya yang terbuat dari kain wol berwarna pelangi dan dihiasi dengan kupu-kupu buatan yang dapat bergerak lucu.

“waaah~ ini! Aku mau ini! Tapi, harganya cukup mahal.” Hyesu mendesah kecewa.

“ah, gwenchana, oppa yang akan membayarnya.” kata Baekhyun dengan ringan.

“tapi… tidak usah juga tidak apa-apa, lagi pula aku selalu merepotkanmu oppa.” Hyesu hendak menaruh buku unik itu kembali pada tempatnya, tapi ditahan oleh tangan Baekhyun.

“kau tidak mau menerima hadiah dariku?” tanya Baekhyun dengan tatapan tajamnya, membuat Hyesu bergidik.

Dengan refleks gadis itu menganggukkan kepalanya cepat. “mau kok! Mau!” Ucapnya gelagapan.

“begitu dong.” Baekhyun mengacak-acak rambut Hyesu sambil tersenyum senang.

Di sisi lain, seorang yeoja yang sedari tadi sedang memantau mereka –Baekhyun dan Hyesu- dari kejauhan hanya bisa berdecak kesal sambil tersenyum licik.

==========

Setelah lelah berkeliling mall, Hyesu dan Baekhyun memilih untuk duduk berdua di sisi kolam Taman tempat mereka pertama kali bertemu.

“gomawo oppa sudah membelikanku buku itu.” Ucap Hyesu senang sambil menyeruput bubble teanya.

Baekhyun membalasnya dengan senyuman lebar. “ne…”

“ku kira oppa lupa ulang tahunku.”

Baekhyun terkekeh. “Aku  tidak akan lupa ulang tahun yeodongsaeng sendiri.” Ucapnya sambil mengacak-acak rambut Hyesu, entah sudah keberapa kalinya Baekhyun mengacak-acak rambut yeodongsaengnya itu, mungkin ini akan menjadi semacam hobi baru untuknya.

“wah! Kupu-kupu! Oppa diam ya!” seru Hyesu, ia mengulurkan telunjuk kanannya dalam diam seperti sebuah patung.

Baekhyun yang melihat itu mengernyitkan dahinya bingung sekaligus penasaran, ia hanya menurut saja sambil terus memfokuskan matanya pada kupu-kupu yang sedang terbang di depannya.

Kupu-kupu berwarna hitam kebiruan itu tiba-tiba saja hinggap di jari telunjuk Hyesu membuat Baekhyun terkesima.

Dengan hati-hati Hyesu mulai menurunkan lengannya, tetapi telunjuknya tetap mengulur, ia mengarahkan telunjuknya pada Baekhyun, sedangkan Baekhyun sendiri menatap Hyesu tidak mengerti, ia mengulurkan tangannya berniat untuk mengangkat kupu-kupu itu dengan memegang sayapnya, tetapi lukisan sayap itu malah menempel di jemari Baekhyun.

Hyesu tersenyum miris. “sayap kupu-kupu memang rapuh… andai saja sayap mereka kekal seperti burung.” Ia menghela nafas panjang.

“ah, iya!” tiba-tiba Baekhyun menjentikan jarinya membuat Hyesu menoleh ke arahnya.

“wae oppa?”

“kau tunggu di sini ne? Aku akan pergi sebentar!” Baekhyun beranjak dari duduknya.

“tapi ini sudah sore.” Cegat Hyesu, ia menggenggam kuat tangan Baekhyun, ia takut kejadian lamanya terjadi lagi, meski pun dalam keadaan yang berbeda, tapi apa boleh buat, ia masih trauma.

“hanya senbentar, aku janji. Aku masih punya kejutan untuk yedongsaengku tersayang.”

“tapi- baiklah…” Hyesu melepaskan genggamannya dari tangan Baekhyun.

Setelah diberi kepercayaan, Baekhyun langsung berlari cepat dengan arah lurus yang semakin lama semakin menghilang.

Hyesu menghela nafas pendek. “apa aku hanya seorang dongsaeng di matamu oppa? Ah, tapi… gwenchana.”

==========

Baekhyun berdiri di depan Toko Bunga langganan eommanya dengan nafas yang terengah-engah, ia ingin memberikan hadiah spesial untuk Hyesu sekaligus eommanya, nyonya Byun memang sangat menyukai bunga, baru saja terpikirkan oleh Baekhyun tadi saat di Taman.

“untung saja uang saku bulan ini ku tabung.” Gumam Baekhyun sambil mengambil dompet dari saku celananya.

“Park Ahjussi!” seru Baekhyun dengan lantang.

Park ahjussi terlihat keluar dari pintunya dengan tergesa-gesa. “ne ada yang bisa- oh, tuan muda Byun! Kali ini ingin membeli bunga apa untuk nyonya?” ahjussi itu membungkuk sopan, begitu pula dengan Baekhyun.

“aniya… begini ahjussi, apa ahjussi tahu tentang adikku?” tanya Baekhyun sambil mengulum senyuman.

Park ahjussi mengangguk cepat. “ne, ne… Kim Hyesu? Yang sangat menyukai kupu-kupu itu? Kekeke…”

“ne, jadi begini… di dekat halaman rumahku ada tanah kosong yang dibiarkan begitu saja, aku berniat ingin membuat Taman bunga di sana. hari ini ulang tahun Hyesu, aku ingin memberi hadiah sekaligus untuk eomma, apa ada bunga yang cocok?”

Park ahjussi terlihat sedang berpikir. “ah, bagaimana dengan bunga musim semi? Bunga itu akan mekar dengan indah jika sudah pada waktunya, dan tentunya akan banyak kupu-kupu yang hinggap di sana.”

“wah, jinjja? Kalau begitu aku pesan! Ahjussi tolong tanamkan bibitnya ya, kalau sudah, nanti tinggal hubungi nomorku, jangan nomor eomma!”

Park ahjussi terkekeh. “arraseo… tenang saja, ahjussi akan tutup mulut, sepertinya kau sangat menyayangi adikmu itu, padahal dia bukan adik kandungmu, apa kau mencintainya?”

Baekhyun tertawa kecil. “tentu saja.” Jawabnya ringan.

“bukan, maksud ahjussi… apa tuan muda mencintai Hyesu sebagai seorang yeoja, bukan seorang dongsaeng?” raut wajah Park ahjussi kini terlihat sedikit serius.

Baekhyun hanya mengedikkan bahunya acuh. “ah, ahjussi, aku duluan ne, ingat pesananku!” ucapnya kemudian, ia langsung berlari kembali ke arah Taman yang jaraknya cukup jauh dari Toko Bunga tersebut.

==========

“aish! Tenggorokanku kenapa tiba-tiba jadi kering? Lebih baik beli minuman dulu sebentar.” Batin Baekhyun, ia berbelok ke arah kedai Lemon Ice yang tepat berada di sampingnya.

“ya! Byun Baekhyun?! Jinjja, kita bertemu lagi!” seru seorang yeoja yang tengah menepuk pundak Baekhyun, Baekhyun menoleh ke arah belakang dengan cepat.

“Sujin?!” pekik Baekhyun, jantungnya kini mulai berdetak tidak karuan, ia hanya bisa diam membatu menatap gadis cantik yang sedang mengulum senyuman itu.

“Baekhyun-ah! Kau hari ini ada acara tidak? Bisakah kau mengantarku berbelanja sore ini?” pinta Sujin, ia memeluk lengan Baekhyun dengan manja.

Baekhyun menganggukkan kepalanya sambil menyeruput Lemon Ice nya, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, tapi Baekhyun yakin, jika ia terus bersama Sujin, lambat laun hatinya akan terbiasa.

Sujin bertepuk tangan kegirangan. “kalau begitu kajja!”

*****

Seorang yeoja manis sedang terduduk lesu di pinggir kolam Taman dengan kepala yang menunduk, tangan dan kakinya dirasakan bergetar cukup hebat. Taman ini sudah mulai sepi, tetapi sosok yang ditunggunya tidak kunjung datang.

Yeoja itu meremas rok wavy-nya. “ini sudah malam, Baekhyun oppa pergi kemana?” batinnya dalam hati, ia dapat merasakan suasana seperti 13 tahun yang lalu saat ia mengalami hal yang sama, duduk di sini, sendirian di malam hari, rasa takut mulai menyelimutinya.

Bibir Hyesu juga dirasakan bergetar, wajahnya mulai pucat pasi, entah kenapa ia tidak bisa beranjak dari duduknya, pikirannya mengatakan bahwa ia harus meninggalkan tempat ini, tetapi hatinya mengatakan jangan, Baekhyun memintanya untuk menunggunya.

“agasshi? Ini sudah malam, kulihat dari tadi agasshi hanya duduk terdiam saja di sini.”

Suara seorang namja itu membuat Hyesu terlonjak, tapi ia sulit untuk mendongakkan kepalanya, ia benar-benar lemas saat ini, kepalanya terasa berat dan tubuhnya sedikit oleng hampir terjatuh kalau saja namja yang tadi menegurnya itu tidak menahannya.

“agasshi! Gwenchana?! Apa kau masih bisa mendengarku?” tanya namja itu lagi, ia tengah duduk di samping Hyesu dan merangkul tubuh mungilnya.

Perlahan tapi pasti, Hyesu membuka matanya yang terlihat sayu. “Baekhyun oppa…” lirihnya.

Namja yang sedang merangkul tubuh mungil Hyesu itu mengernyit bingung. “Baekhyun? Atau… ya, agasshi, apa yang kau maksud Baekhyun itu adalah Byun Baekhyun?”

Hyesu mengangguk lemah, ia menyunggingkan senyuman tipis. “ne, Baekhyun oppa…”

“ah, baiklah, akan kuantar kau pulang.” Ujar namja itu dan hendak ingin beranjak dari duduknya, tetapi Hyesu menahannya.

“jangan, Baekhyun oppa menyuruhku untuk menunggunya disini.”

“tapi ini sudah malam, rumahmu dimana agasshi?”

“umm… di jalan Gangwon nomor 12.”

“kajja.” Namja tersebut membantu Hyesu berdiri dan menuntunnya berjalan.

“namamu siapa agasshi? joneun Xi Luhan imnida.”

“Kim… Hyesu…”

Namja yang bernama Luhan itu menoleh ke arah Hyesu dan tersenyum. “kau manis…” pujinya.

Hyesu tersenyum simpul. “kamsahamnida Luhan-ssi.”

Suasana menjadi Hening, sampai akhirnya Luhan membuka suara lagi. “emm… memangnya Baekhyun menyuruhmu menunggu, err… ada hal apa?”

Hyesu terdiam sebentar. “katanya ia ingin pergi sebentar menyiapkanku hadiah ulang tahun, tapi sampai sekarang ia masih belum menampakan diri.”

“wah, jinjja? Kalau begitu saengil chukkae! Tapi… apa kau yeoja chingu-nya Baekhyun?” tanyanya lagi, meski samar, tetapi Hyesu dapat melihat ada raut kekecewaan dari wajah namja berparas imut itu.

Hyesu menggelengkan kepalanya lemas. “ani…”

*****

TING TONG

CKLEK

Namja bernama Luhan itu menekan tombol bel pintu bertepatan saat Baekhyun membuka pintu rumahnya, ia memang berniat untuk menjemput Hyesu, tadinya Baekhyun berpikir Hyesu sudah lebih duluan pulang.

Luhan dan Baekhyun saling bertatapan satu sama lain dalam diam.

“Luhan hyung?!” pekik Baekhyun tiba-tiba sambil menunjuk Luhan tidak percaya.

“Baekhyun? Hyesu, kau tinggal bersama Baekhyun?” tanya Luhan sambil menatap Baekhyun dan Hyesu bingung secara bergantian.

Baekhyun tersenyum lebar, ia menarik tangan Hyesu dari Luhan dan merangkul pundaknya. “dia dongsaengku.”

“mwo?! Jinjja?!” pekik Luhan tidak percaya.

“ceritanya panjang…” ujar Baekhyun tanpa ekspresi.

Luhan mengangguk mengerti. “kalau begitu aku pamit pulang, anyeong!” ia membungkuk sopan kemudian berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya.

Sebenarnya Hyesu ingin bertanya tentang hubungan Baekhyun dengan Luhan, tetapi karena kondisi tubuhnya yang masih lemas, ia memilih untuk diam saja.

Baekhyun mendelik ke arah Hyesu dan langsung menariknya masuk ke dalam kamar.

BRAK!

“Hyesu-ah! Hyesu-ah! Jangan lemas begitu dong! Dengar! oppa punya kabar baik!” ucap Baekhyun kegirangan di atas kasurnya.

Hyesu berjalan menaiki kasur Baekhyun dengan lesu. “kabar apa oppa?” tanyanya terdengar tidak tertarik.

Baekhyun mengambil sesuatu dari dalam saku celananya dan memamerkannya pada Hyesu, sebuah kalung berlambang dua pasang kupu-kupu yang indah.

Hyesu memicingkan matanya membaca tulisan di kalung tersebut. “BaekJin?” ejanya tidak mengerti.

Baekhyun mengangguk dengan senyuman yang masih mengembang di wajahnya. “Baekhyun dan Sujin. kami baru saja membelinya bersama.”

“siapa Sujin?”

“dia yeoja yang kusukai dua tahun yang lalu, waktu kelas 10 kami satu kelas, sekarang kami sekelas lagi, rencananya aku akan menyatakan perasaanku padanya besok, doakan aku ya!” Baekhyun menggenggam tangan Hyesu dengan mata yang berbinar-binar.

Berbeda dengan Baekhyun yang nampak sedang senang, rasanya hati Hyesu kini seperti tersayat ratusan pisau yang amat tajam, dengan cepat langsung mematahkan hatinya. Ternyata Baekhyun tidak kunjung menjemputnya demi yeoja itu? Mungkin cinta memang membutakan segalanya, bahkan ia tidak memperlihatkan wajah menyesalnya sedikit pun pada Hyesu, rasanya air mata ingin turun membasahi pelupuk matanya, tapi ia tahan, ini bukan alasannya untuk menangis, pikirnya. dengan cepat Hyesu menunduk untuk menyembunyikan matanya yang sudah memerah, tangannya yang masih berada digenggaman kedua tangan Baekhyun kini bergetar.

Baekhyun yang melihat itu merasa bingung, ia menepuk pundak Hyesu pelan. “Hyesu? Gwenchanayo?”

“…oppa aku tidur duluan saja… sepertinya mataku sudah sangat berat.” Membuka suara pun Hyesu mati-matian agar terdengar normal.

“mmm…  arra…”

Hyesu langsung turun dari kasur Baekhyun dan beralih pada kasurnya, ia langsung menarik selimutnya sampai ujung kepalanya, dan berbalik membelakangi Baekhyun, sedangkan Baekhyun hanya bisa memandang punggung Hyesu dengan heran.

Baekhyun menghela nafas, ia manarik selimutnya dan berniat ingin pergi ke alam mimpinya juga, mungkin Hyesu memang sedang merasa lelah, Pikirnya.

*****

Hyesu berjalan mengendap-endap mengikuti langkah Baekhyun dari belakang, ia benar-benar penasaran dengan yeoja bernama Sujin yang kemarin Baekhyun ceritakan, pasalnya hari ini Baekhyun benar-benar berniat akan menyatakan perasaannya pada yeoja itu.

Hyesu bersembunyi di balik pohon Taman sekolah yang cukup besar, ia melihat Baekhyun sedang menjahili yeoja yang Hyesu ketahui adalah Sujin, Baekhyun menutup mata yeoja itu dengan kedua tangannya.

Sujin melepaskan tangan Baekhyun dan berbalik untuk menatap wajah namja itu, Baekhyun tersenyum manis, ia langsung duduk di samping Sujin.

Mereka berdua saling bertatapan singkat.

“emm… Sujin aku-”

“Baekhyun aku-”

Sujin dan Baekhyun saling berpandangan lagi, Sujin menunduk malu dengan pipi yang bersemu merah, sedangkan Baekhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa aneh.

“kau dulu saja.” Kata Sujin kemudian.

Baekhyun mengambil nafasnya dalam, ia memberanikan dirinya untuk menggenggam tangan Sujin dan menatap matanya lekat-lekat. “Sujin, Sa-Saranghae…”

Mata Sujin membelakak, ia tidak percaya bahwa Baekhyun akan mengatakan itu padanya. “nado, Byun Baekhyun, saranghae.”

Begitupula Baekhyun, ia juga tak kalah kagetnya dengan Sujin. “jeongmal?”

Sujin mengangguk pasti dan tersenyum manis, kini mereka berdua saling menatap mata satu sama lain dalam waktu yang lama.

Dengan gerakan perlahan Baekhyun mendekatkan wajahnya pada wajah Sujin, pada saat itu juga Sujin menutup matanya sambil tersenyum simpul.

Kini hidung mereka saling bersentuhan sampai akhirnya bibir merekalah yang saling menempel, mereka berciuman secara singkat dan itu sukses membuat Hyesu yang sedari tadi sedang memata-matai Baekhyun di balik pohon merasakan sesak di dadanya. Hyesu menutup mulutnya, Air mata mengalir deras di pipinya hingga jatuh ke permukaan tanah.

Tanpa banyak alasan lagi, Hyesu langsung berlari meninggalkan sepasang kekasih baru itu, ia ingin menenangkan dirinya.

*****

Hyesu berjalan lemas ke arah ruang kelas Baekhyun, ia sudah bisa menebak, pasti hatinya akan diiris kembali oleh ratusan pisau tajam, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa pulang sendirian, mengingat dirinya masih merasakan trauma pada waktu dulu.

Hyesu mengedarkan pandangannya diseluruh ruangan kelas 12-4, tapi ia tidak mendapati sosok Baekhyun di sana, mungkinkah ia sudah pulang?

Buru-buru Hyesu menepis pikiran buruknya itu, ia yakin Baekhyun adalah oppa yang baik, tidak mungkin meninggalkan yeodongsaengnya begitu saja. Kemudian ia berniat mencari Baekhyun di Taman, mungkin saja Baekhyun sedang berada di sana bersama… Sujin.

Hyesu berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berlari, dan benar saja, ia melihat sosok Baekhyun dan Sujin yang tengah duduk bersama di bangku Taman sekolah.

Baekhyun tengah mengulurkan telunjuknya persis seperti yang Hyesu lakukan di Taman tempo hari, seekor kupu-kupu hinggap di jemarinya yang lentik itu.

Sujin yang terkesima langsung memberikan Baekhyun pujian dengan tepuk tangan dan seulas senyuman.

Hyesu tersenyum miris ke arah sepasang kekasih yang tengah bercanda gurau itu, ia menarik nafasnya dalam dan memberanikan diri untuk menghampiri mereka, lebih tepatnya untuk menghampiri Baekhyun.

“Baekhyun oppa, kajja kita pulang!” ajak Hyesu dengan suara yang ia buat seriang mungkin, ia memeluk leher Baekhyun dari belakang.

Sujin menatap Hyesu dengan tatapan tidak suka, sontak Baekhyun menoleh ke arah Hyesu dengan wajah yang sedikit kesal membuat Hyesu sedikit kaget melihatnya.

“Baekhyun-ah, dia siapamu?” tanya Sujin dengan wajah tidak sukanya.

“dia… hanya adikku.” Jawab Baekhyun datar.

Namja bermata sipit itu kini kembali berbalik ke arah Hyesu. “bisakah kau sekali ini saja bersikap mandiri?” tuturnya tegas.

Tubuh Hyesu tiba-tiba saja terasa menegang. “tapi aku-”

“Baekhyun-ah, kalian sering pulang bersama? Sepertinya aku mengganggu ya.” ujar Sujin dengan tampang yang ia buat sekecewa mungkin.

Baekhyun tampak gelagapan. “a-ani, kami hanya adik-kakak saja. ya! Hyesu, kau bisa pulang sendirikan? Hari ini mobil yang biasa menjemput Sujin tidak datang, jadi oppa akan mengantarnya.”

“tapi, dari sekolah sampai rumah kan jauh…” Hyesu menatap Baekhyun dengan tatapan memohon.

“kau bisa naik bis kan?” kini Sujin yang angkat bicara, Hyesu jadi tertekan, ia menatap oppanya untuk mengharap pembelaan darinya, tetapi percuma, Baekhyun tidak mengindahkan tatapan Hyesu, ia malah mengindahkan perkataan Sujin.

“benar, kau kan sudah 17 tahun.”

“tapi, jebal oppa… aku takut-”

“KIM HYESU! SESEKALI KAU JANGAN TERLALU BERGANTUNG DENGAN OPPA! KAU HARUS MANDIRI!”

Hyesu tersentak, baru kali ini juga Baekhyun membentaknya, ia menatap oppanya itu dengan tatapan tidak percaya, kalau begini lebih baik ia memang tidak usah pergi mencari Baekhyun.

Hyesu menunduk. “benar… aku memang selalu merepotkan oppa, kalau begitu aku pergi…”

Hyesu membalikkan badannya kemudian pergi menjauh, wajahnya masih menunduk dengan air mata yang terus berjatuhan ke permukaan tanah.

Sujin tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Baekhyun menatap punggung Hyesu dengan rasa sedikit menyesal, tetapi rasa kesal masih melekat di hatinya.

“kajja chagi, antarkan aku pulang!” ucap Sujin sambil bergelayut manja di lengan Baekhyun.

*****

Hyesu sedang duduk melamun di tepi kolam Taman, jarak Taman dengan sekolah memang terpaut dekat, rasanya hanya dengan melihat kupu-kupu berterbangan di setiap sisi Taman saja sudah mampu membuat batinnya tenang.

“appa, eomma, dan Joonmyun oppa, bogoshippeoyo…” Hyesu menghela nafas panjang.

“rasanya aku memang ditakdirkan untuk menjadi dongsaeng tiri Baekhyun oppa.” Lanjutnya sambil tersenyum miris dengan tatapan mata yang kosong.

Tiba-tiba seekor kupu-kupu kecil berwarna putih hinggap di dahi Hyesu, gadis itu mendelikkan matanya ke atas untuk melihat kupu-kupu tersebut, ia tersenyum senang sambil terus membiarkan kupu-kupu itu hinggap di dahinya.

“meski begitu, aku tidak merasa dendam padanya, aku tulus mencintainya, asalkan dia bahagia.” Gumam Hyesu lagi, ia seperti sedang berbicara dengan kupu-kupu berwarna putih tersebut.

Entah karena apa, suasana Taman tiba-tiba saja mendadak begitu sepi. Beban pikiran Hyesu terasa tersedot oleh kupu-kupu mungil tersebut, ia jadi merasa tenang, Hyesu memejamkan matanya sebentar kemudian membukanya lagi, tetapi tiba-tiba saja datang sekelompok kupu-kupu bersayap hitam merayap di sekitar tubuhnya, Hyesu membelakakan matanya, lengan kirinya tiba-tiba saja terasa sakit, aliran darahnya seperti tersedot kuat-kuat oleh kupu-kupu tersebut.

“AAAAKH!” Hyesu memekik kesakitan, ia memejamkan matanya kuat-kuat, sampai akhirnya kupu-kupu putih dan sekelompok kupu-kupu hitam tersebut terbang menjauh darinya, Hyesu mengerjapkan matanya.

“tadi itu apa?” Hyesu memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetaran, ia mengedarkan pandangannya di setiap sisi taman, orang-orang yang tiba-tiba saja menghilang kini kembali muncul, suasana Taman pun kembali ramai.

“ya! Hyesu?!”

DEG

Hyesu menoleh dengan cepat. “Luhan-ssi?!” sahutnya, ia membalas senyuman dari Luhan yang terarah untuknya.

“kau sedang apa di sini?” tanya Luhan sambil duduk di samping Hyesu, seulas senyuman masih merekah di bibirnya.

Hyesu tersenyum tipis. “tadinya aku mau pulang, tapi…”

“mau ku antar?”

“Ah, tidak usah, kamsahamnida.” Hyesu mengibas-ngibaskan tangannya dengan sopan.

“memangnya tidak bersama dengan Baekhyun?”

Pertanyaan singkat dari Luhan barusan membuat Hyesu menundukan kepalanya. “tidak, dia sedang mengantar pulang yeoja chingu-nya.”

Luhan mengangguk sambil terkekeh. “tidak kusangka Baekhyun yang lugu itu sudah mendahuluiku mempunyai kekasih.” Ujarnya, pandangan matanya lurus menatap ke arah depan, menandakan bahwa ia sedang mengingat-ngingat masa lalu dengan teman masa lalunya itu.

Hyesu mendongak, ia benar-benar merasa penasaran sekarang. “Luhan-ssi, mmm… memangnya kau dengan Baekhyun oppa-”

“dia hoobae-ku semasa SD, kami sangat dekat dulu, tapi karena urusan pekerjaan abeoji, aku harus kembali ke China, tempat kelahiranku. dan sekarang aku sedang melanjutkan universitasku di sini. waktu itu Baekhyun melarangku pulang sampai menangis.” Jelas Luhan, ia terkikik geli, wajah Baekhyun saat menangis dulu masih teringat di benaknya, ia saja sampai tidak tega, tapi apa boleh buat, perintah sang abeoji harus dilaksanankan.

“benarkah? Pantas saja dulu Baekhyun oppa sempat menangis tanpa memberi tahu alasannya padaku, huuu…” Hyesu mengerucutkan bibirnya kesal.

“tapi waktu aku mengantarmu tempo hari, sepertinya Baekhyun sama sekali tidak merindukanku, mungkinkah ia membenciku?” Luhan tersenyum miring.

Hyesu menoleh ke arah Luhan, bayang-bayang saat di Taman sekolah tadi tiba-tiba saja melesat di pikirannya entah karena apa.

“ah, Luhan-ssi, itu buku apa?” tanya Hyesu penasaran sambil menunjuk kantung plastik yang sedari tadi berada dipangkuan Luhan.

Namja imut itu tersentak karena melamun, sontak ia langsung mengeluarkan buku berukuran sedang yang tadi Hyesu tunjuk. “ah, ini… judulnya Butterfly Girl, aku baru saja membelinya.” Luhan menggaruk tengkuk lehernya, ia sedikit malu untuk menunjukannya pada Hyesu, aneh bukan? seorang namja membeli buku seperti itu?

“wah! Ini menarik! Apa ini semacam cerita?” Hyesu tampak tertarik, tentu saja, ia sangat terobsesi dengan sesuatu yang berbau hal tentang kupu-kupu, mataya kini berbinar-binar menatap buku dengan cover berwarna cokelat tetapi menarik itu.

Luhan tertegun. “entahlah, aku belum lihat isinya, tapi entah kenapa aku malah membelinya.”

“kau menyukai kupu-kupu?”

“ha? Ti-tidak, bagaimana denganmu?”

Hyesu mengangguk semangat, kini ia terlihat sangat kekanakan, tapi biar saja, Hyesu sama sekali tidak menghiraukannya. “sangat suka, aku jadi ingin tahu isi buku itu.” Ucapnya penuh harap.

Lagi-lagi Luhan hanya bisa tertegun memandang Hyesu, tetapi suatu ide melesat begitu saja dipikirannya, ia berpikir ingin menghabiskan waktunya dengan Hyesu, yeoja yang mampu membuat hatinya berdetak cepat saat bertemu dengannya pertama kali, dan Luhan mengetahui bahwa reaksi seperti itu adalah hal yang wajar,  sepertinya ia jatuh cinta pada pandangan pertama.

“aku janji akan membacakannya untukmu, tapi kau harus mau ku antar pulang, otte?” tawarnya sambil tersenyum lebar.

Tanpa pikir panjang, Hyesu pun mengangguk. “arra! Bagaimana kalau besok? Besok hari minggu.”

“tentu saja.” Balas Luhan dengan senyuman yang makin mengembang di wajahnya, ia menggenggam tangan Hyesu hangat, tetapi tangan Hyesu terasa dingin…

“kajja Hyesu!” ajaknya sambil membantu Hyesu berdiri.

“kemana?”

“tentu saja mengantarmu pulang.” Balas Luhan sambil mengangkat sebelah alisnya, ia tersenyum geli.

==========

“ah, Luhan-ssi, sepertinya jalannya terhambat.” Ujar Hyesu yang tengah duduk di atas sepeda motor milik Luhan.

Luhan tampak menerawang jalanan. “entahlah, sepertinya ada kecelakaan di depan sana.”

“umm… boleh kita kesana?” tanya Hyesu ragu-ragu.

Luhan mengangguk sekali. “tentu.”

===

Setelah turun dari sepeda motor milik Luhan, Hyesu langsung menghampiri sekumpulan orang-orang yang hampir membentuk lingkaran sempurna, pikirannya mengatakan bahwa ia harus melihatnya, ia benar-benar merasa antusias sekarang, entah karena apa.

Sedangkan Luhan, sebenarnya ia juga ingin melihatnya, tapi di sekitar sini tidak ada tempat parkir, jadi ia hanya dapat memantau Hyesu dari belakang sambil menjaga sepeda motornya juga.

Hyesu berusaha menyalip agar bisa melihat dengan jelas di depan, dan untungnya ia dapat melakukan itu dengan mudah, tapi…

Hyesu merasa ada yang memukul dadanya saat melihat wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai eommanya itu kini sedang  terbaring tidak berdaya di atas aspal dengan darah yang bersimbah begitu banyak, rasanya menyentak dan sakit, tak kuasa Hyesu menahan jatuhnya setiap titik-titik air yang menetes dengan tulus tanpa ada paksaan.

“eomma…” lirih yeoja itu, ia dapat merasakan kakinya bergetar lemas, sampai akhirnya jatuh terduduk di depan wanita yang sangat berharga baginya itu.

-oOo-

To Be Continued

A\N :

Anyeong beibeh~ /readerskabur/

Ini FF asli hasil karangan author loooh~ \’.’/ kalau ada kesamaan cerita, mungkin itu kebetulan.

mianhae kalau ceritanya mengecewakan bin membosankan bin kepanjangan  ‘_’ Minta maaf juga kalo misal ada Typo(s) /bungkuk-bungkuk bareng Kris yang tingginya menjulang/

Author harap ga ada silent readers /.\  *amin(?)

Gitu aja deh, anyeong~ See You in Next Chapter ^^

RCL juseyo~

 

Iklan

47 pemikiran pada “Butterfly Girl (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s