Bingo! Team (Chapter 1)

Author: Mingi Kumiko

Cast:

  • Byun Baek Hyun
  • Han Yeon Sung
  • Kim Da Ran
  • Song Yoon Kyung
  • Park Na Chan

Genre: friendship, school life, romance, etc.

Rating: PG-17

Synopsis:

Han Yeon Sung, seorang anggota dari Bingo! Team. Sebuah kelompok pertemanan yang sangat menjaga solidaritas. Kelompok tersebut memiliki sebuah peraturan yang unik, yaitu dilarang berpacaran dengan mantan sesama anggota Bingo! Team.

Namun suatu hari ia bertemu dengan seorang pemuda tampan dan Yeonsung pun jatuh cinta. Tanpa ia tahu sebelumnya, pemuda itu adalah mantan dari salah satu anggota Bingo! Team.

Mampu kah Yeon-sung menyembunyikan hubungannya dengan pemuda itu dari anggota Bingo! Team lainnya?

***

Sore hari, di kamarku sedang diadakan rapat mingguan. Ya, tidak salah, ada rapat mingguan yang dilakukan kelompokku, Bingo Team. Lumayan aneh sih namanya, tapi itu punya arti untuk kami. Bingo Team hanya sekedar teman sepermainan biasa, seperti yang sering kalian lihat di drama.

“Jadi, kau benar sudah putus dengannya?” tanya Yoonkyung, ketua Bingo Team.

“Iya, dia beralasan pindah ke luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya. Tapi dia langsung pergi tanpa memberiku kabar dulu, padahal aku ini pacarnya.” rutuk Daran.

“Sudah kau hubungi dia?” kini aku yang bertanya.

“Sudah, berkali-kali malah! Tapi dia memutuskan semua kontaknya, e-mailku juga tak kunjung dibalas. Niat sekali kan dia untuk meretakkan hubungan?”

“Keterlaluan! Baiklah, sekarang kita lakukan peraturan yang biasanya. Daran dan Byun Baek Hyun sudah menjadi mantan kekasih, jadi kita tidak boleh berpacaran dengannya.” ikrar Yoonkyung.

 

Bingo Team memang punya peraturan, dilarang berpacaran dengan mantan anggota Bingo Team. Alasannya, karena mantan sudah menghianati teman kita, kita tidak boleh dekat-dekat dengan penghianat.

 

Byun Baek Hyun mantannya Daran, aku bahkan tak pernah sekali pun tahu yang mana Baekhyun. Aku satu-satunya anggota Bingo Team yang tak sesekolah dengan anggota lain, berbeda dengan Yoonkyung dan Daran yang bersekolah di tempat yang sama. Wajar kan kalau aku tak kenal dengannya?

 

***

Teriknya siang membuat keringatku meluncur di pelipis. Kuseka keringat itu dengan punggung tanganku. Kujilat es krim yang kubawa di tangan, aaaahh~ kerongkonganku terasa mandi.

Bip.. bip.. bip..

Ponselku bergetar, pertanda pesan masuk. Kulihat, ternyata dari Daran. Aku membacanya,

From: Daran

Sungiiieee~~ kau tahu, aku mendapatkan Sehun, atlet sepak bola paling keren di sekolahku itu!!! >_<

Apa, mendapatkan?! Maksudnya dia punya pacar lagi, begitu? Hebat sekali dia, baru seminggu putus langsung bisa dapat ganti. Beda denganku, berpacaran sekali pun tidak pernah. Itu lah sebabnya, saat mengetahui Daran putus, aku tak terlalu perduli. Untuk saat ini, bagiku cinta bukan lah hal yang menarik.

Aku pun membalas pesan dari Daran. Aku tahu type cewek seperti Daran itu, jika pesannya tidak dibalas, dia akan sangat marah dan merasa tidak dihargai.

To: Daran

Congrats! :3 Kau sangat keren, mudah sekali cari pacar! xD Perkenalkan pacar barumu padaku, tapi… aku tak memaksa, sih._.

 

Hahaha, sms munafik, padahal aku sama sekali tak tertarik dengan pacar barunya. Katanya sih tampan dan terkenal. Apa enak punya pacar yang seperti itu? Banyak cobaannya, tahu! Pacar yang pintar dan setia itu lebih perlu. Gak mainstream pula!

Ponselku berbunyi lagi namun dari ringtone yang lebih panjang. Ah, ada telepon dari Yoonkyung, kapten yang terhormat!

“Halo,” sapaku membuka pembicaraan.

“…”

“Iya, aku tahu. Pacarnya yang keren dan tenar itu, kan?”

“…”

“Datang jam 4 sore nanti? Hmmm, kuusahakan ya!”

“…”

“Besok aku ulangan biologi, kalau nggak belajar nanti nilaiku jelek.”

“…”

“Terima kasih pengertiannya.”

 

Yoonkyung, mau saja dibohongi. Aku hanya malas, paling-paling juga mau merayakan hari pertama jadian Daran dan Sehun di kafé. Aku tidak suka ke kafé, masakan mama jauh lebih enak! Lagian, di kafé itu sama sekali tak ada makanan yang mengenyangkan. Yang mahal banyak, ‘kan? *eh??*

 

Saat hari pertama jadian Daran dan Baekhyun juga seperti itu, makan ke café, saat itu Yoonkyung juga mengajak pacarnya. Hanya aku yang selalu tak pernah mau ke café. Itu juga salah satu alasan mengapa aku tak pernah tahu bagaimana rupa para pacar temanku. Asal tahu namanya sudah cukup.

 

***

1 tahun kemudian…

“Ya! Seingatku ini sudah tepat setahun aku putus dengan Baekhyun.” oceh Daran dan membuat suasana yang sebelumnya hening menjadi berubah.

“O gitu.” balasku garing saja. Jujur saja, menurutku ocehan Daran itu tidak penting. Mantan kok diungkit-ungkit!

“Iya, lagian kau masih dengan Sehun, tidak usah memikirkannya!” timpal Yoonkyung.

“Aku tidak tahu kenapa beberapa hari ini aku merindukannya.” kata Daran. Hyaaa! Apa yang dia bilang tadi? Awal yang tidak baik, kangen mantan!

Hassshhh! Hilangkan rasa rindu itu, bisa-bisa berpengaruh pada hubunganmu dan Sehun, lho!” ujarku mengingtakan.

Aish, semoga saja tidak.”

 

“Yeonsung, kau ini gadis yang manis, tapi kenapa aku tak pernah dapat kabar kalau kau sedang dekat dengan lelaki? Jangan-jangan kau diam-diam berkencan tanpa memberi tahu kami?” celetuk Daran tiba-tiba sok penuh selidik.

“Eh? Apa-apaan, aku hanya malas punya pacar!” jawabku.

“Kenapa?” tanya Yoonkyung.

“Entah. Prinsipku… pintarkan otak dulu saja, kalau kita pintar juga pasti banyak yang suka. Didukung dengan wajah manis, aku pasti akan sangat mudah punya pacar, kekeke~”

“Haha, kau ini memang sangat kocak. Percaya deh yang kutu buku!” sindir Daran.

 

***

Bel masuk berdentang sangat kencang. Aku yang awalnya berada di depan kelas, meskipun hanya duduk-duduk santai sambil ngobrol bersama teman-teman pun segera masuk kelas.

 

Setelah selesai berdoa, masuklah Ibu Jeon, wali kelasku. Diikuti seorang cowok di belakangnya. Siapa dia? batinku yang penasaran bersuara.

“Kalian kedatangan teman baru, baik, silahkan perkenalkan dirimu!” pinta Bu. Jeon pada cowok itu.

Qemmm, Aku… Frans, dari California. Salam kenal semua!” ia memperkenalkan dirinya dengan singkat. Kemudian seisi kelas pun heboh, terutama siswinya. Aku juga ingin heboh, tapi nanti saja deh, kan malu jika sampai terlihat Frans itu.

“Yeonsung, kau pindah ke bangku belakang ya? Biar Frans duduk di depan.” suruh Bu. Jeon padaku yang duduk paling depan.

“Lah, bu?? Kenapa harus saya?? Saya kan suka duduk di depan!” elakku tak mau pindah.

“Yeonsung… kau mau melawanku?” tanya Bu. Jeon dan memberiku tatapan maut.

“Aiihhh, ampun, buuu.. iya, deh, saya pindah ke belakang. Tapi inget, bu, saya nggak ikhlas kalau sampai prestasi saya turun.” gerutuku sambil berjalan menuju bangku belakang. MENYEBALKAN!!!

 

Guru fisika pun masuk, pelajaran favorite-ku!!! >_<

Tapi, sumpah! Aku sangat sebal dengan kejadian barusan, jika di depan aku bisa leluasa mendengar penjelasan guru, konsentrasi, bertanya hal yang menurutku kurang jelas. Sekarang di belakang, ah… aku jadi merasa ciut!

 

Aku terus membenamkan kepalaku, entahlah apa yang Pak Taejun terangkan, aku tak paham. Tapi… kalau sehari saja sudah begini, bagaimana bisa aku berkembang? Baiklah, ini adalah tantangan, duduk di posisi belakang bukan halangan besar. Aku harus bangkit, perhatikan apa yang Pak Taejun terangkan. GANBARINAAAA!!!

 

Kufokuskan pandanganku pada satu titik, Pak Taejun. Mengejar ketertinggalan pada waktu 15 menit terakhir. Bodoh sekali aku malah tidur tadi.

 

Jam pelajaran fisika berakhir dan dijeda istirahat. Yang kulakukan saat ini adalah menyalin catatan milik Kyungsoo, kan tadi aku tidak sempat mencatat materi yang Pak Taejun berikan saat aku tidur!

“Kau benci duduk di belakang ya?” sebuah suara bertanya dan sepertinya pertanyaan itu ditujukan padaku.

“Ya, sangat benci! Menyebalkan sekali itu Bu. Jeon pakai menyuruhku pindah, huh!” jawabku sambil tetap terfokus pada salinan materiku.

“Ya? Aku minta maaf..”

“Minta maaf? Memangnya kena…. Huuuaaaa!!!” aku mendongak karena penasaran siapa yang bicara barusan, dan kulihat Frans yang menunduk dan tersenyum padaku. Terang saja aku kaget, senyumnya itu lho.. Manis sekali!

 

“Kau tidak apa-apa?” tanya Frans khawatir melihatku yang hampir tersungkur dari bangku.

“O, iya, tidak apa-apa. Hehe,” aku terkekeh garing dengan tingkah lakuku sendiri.

“Bagaimana, apa aku dimaafkan?” tanya Frans lagi.

“Tidak semudah itu, sih. Lihat saja di akhir semester ini, kalau nilaiku jelek, kau yang akan kusalahkan.” cetusku.

“Tapi kan itu disuruh Bu. Jeon, bukan kemauanku!” Frans menaikkan nada bicaranya.

“Kau juga salah, kenapa tak menolak? Tapi ya sudah lah, tantangan juga duduk di belakang.”

“Jadi kau tidak marah?”

“Hanya kesal sedikit.”

“Terima kasih. Dan… siapa namamu?” tanya Frans. Halah, modus!

“Yeon-sung.” jawabku singkat.

“O iya, lalu…”

Haish, sudah! Kau ajak bicara terus catatan fisikaku tidak selesai-selesai. Cepat enyah!” bentakku memotong perkataannya.

“Galak sekali?! Iya, aku pergi.”

.

.

 

Bel pulang berdering, kurapikan buku pelajaran yang berserakan di meja dan segera keluar kelas menuju gerbang pertama.

 

“Kulihat kau tidur terus pas pelajaran fisika,” kata Nachan, teman yang pulang bersamaku.

“Tidak juga, aku hanya tidur 15 menit lalu bangkit lagi.” balasku.

“Kenapa?”

“Aku hanya malas duduk di belakang. Tapi ya sudah lah, sesekali ganti suasana.”

“O iya, Frans itu ganteng sekali ya!” celetuk Nachan.

“Haha, iya. Tadi saja aku hampir pingsan waktu melihat senyumannya.” timpalku.

 

Kring.. kring..

Terdengar lonceng sepeda berdering. Kami berdua menoleh ke belakang, dilihat lah Frans yang sedang mengayuh sepeda.

Hey girls..” sapanya pada kami.

“Frans-ssi, ada perlu apa?” tanyaku.

“Aku ingin mengajakmu pulang bersama.” jawab Frans.

“Siapa? Aku maksudnya?” aku tersentak.

“Iya, Yeonsung.” jawab Frans disertai anggukan.

“Aaaahh, terima kasih sebelumnya. Tapi, aku pulang bersama Nachan. Kau duluan saja.”

“Tapi untuk permohonan maafku…”

“Tadi kau sudah minta maaf, tidak perlu dua kali juga.”

“Kau menolaknya?”

“Maaf ya, aku hanya tidak ingin meninggalkan Nachan.”

“Baik, tapi lain kali mau kan pulang bersamaku?”

“Nanti saja kupikir-pikir dulu. Bye, Frans!”

“Oke!” tutup Frans dan kembali mengayuh sepedanya meninggalkan kami.

 

“Kenapa kau tolak?” tanya Nachan.

“Jalan kaki lebih sehat. Lagian, kami juga baru kenal, siapa dia berani mengajakku pulang bersama, mentang-mentang tampan, gitu?!”

“Kau ini selalu, setiap ada lelaki yang mendekati pasti menolak.”

“Yang penting kan caranya halus. Kalau tidak tertarik mau diapakan lagi.”

“Aku curiga, kau ini lesbi ya?” selidik Nachan dan mulai ngelantur.

“Bodoh! Mana mungkin, aku masih suka sama boyband yang personelnya tampan, kok!”

“Kau ini, dasar!”

“Hehehe… Kau tenang saja, jika sudah saatnya aku akan punya pacar.”

 

***

Pulang sekolah, setelah makan aku harus tidur. Menyebalkan sekali, kantung mataku makin besar saja.

 

Kurebahkan tubuhku di kasur yang empuk ini. Aaaaah~ surga! Kuraih guling dan segera memeluknya, lalu memejamkan mata.

 

1 jam kemudian..

Tok! Tok! Tok!

Aku mendengar suara pintu kamarku diketuk, aku pun mengerlingkan mataku sejenak untuk menghilangkan rasa kantuk yang melekat di rongga mataku. Setelah itu, aku berjalan untuk membuka pintu. Kulihat Daran dengan gayanya yang fashionable sedang berdiri di depan pintu kamarku.

“Ada apa?” tanyaku setengah tak sadar saking masih ngantuknya.

“Apa aku mengganggu?” Daran balik bertanya.

“Sangat mengganggu!” jawabku ketus.

“Maaf, tapi aku ingin memberitahumu berita penting.” kata Daran sok yes.

“Hmmm, masuklah!” aku mempersilahkannya.

 

Sepenting apapun beritanya, kujamin tak akan jadi pengaruh besar pada hidupku.

“Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?” tanyaku.

“Baekhyun! Dia sudah pindah lagi ke Korea!” jawabnya. Benar, kan? Tak ada penting-pentingnya.

“Ya, terus, masalah besar? Bukannya kau pacarnya Sehun?”

“Tapi kan… aku masih dendam padanya!”

“Terus diapakan?” tanyaku.

“Aku ingin balas dendam. Kau bantu aku ya?”

“TIDAK MAU! Itu urusanmu. Maaf, bukannya aku tak setia kawan, aku hanya tak ingin ikut campur. Lagian, aku juga tidak kenal dengan Baekhyun itu. Sudahlah, nikmati saja masa pacaranmu dengan Sehun tanpa menyimpan dendam pada mantan. Hidup di masa lalu hanya akan membuatmu terluka.

“Kau tidak seru!”

“Yang penting aku sudah melakukan hal yang menurutku baik.”

“Tapi ingat peraturan Bingo! Team, tidak boleh pacaran dengan mantan. Hindari Baekhyun itu, oke?”

“Iya, Daran sayang… Aku juga tidak kenal dengan Baekhyun.”

“Oke siip!”

 

***

Pulang sekolah, seperti biasa berjalan bersama Nachan yang mungil.

“Tengoklah belakang!” suruh Nachan. Aku pun menoleh seperti apa yang ia pinta. Terlihat Frans yang menatapku sambil mengayuh sepeda. Kemudian ia berhenti dan menyapa kami, “Nachan, Yeonsung!”

“Halo, Frans!” jawab Nachan.

“Nachan, bolehkah temanmu ini aku bawa untuk pulang bersama?” tanya Frans pada Nachan.

“Tenang, tidak papa, kok!” jawab Nachan.

“Lho, lho, apa-apaan ini? Kalian semaunya sendiri saja!” protesku.

“Sudahlah, pulang saja bersama Frans. Enak kan, tidak perlu capek?”

“Tapi berjalan denganmu juga menyenangkan.”

“Yeonsung, pulanglah bersamaku!” kata Frans. Aku memandanginya yang sedang tersenyum padaku. Omo!!! Lucu sekali, membuatku tak bisa menolak.

 

“Sebentar, apa ini benar-benar sepedamu, seperti perempuan, ada boncengannya segala!” cibirku.

“Memang sengaja, karena kemarin, aku ingin sekali mengajak pulang bersama seseorang yang baik padaku di hari pertama masuk sekolah. Dan kau adalah orang itu, tapi kau tidak mau…” rutuk Frans kecewa. Ya kah? Kenapa aku jadi mendadak merasa kejam? Ya sudahlah, naik saja di boncengan itu, buat Frans senang.

“Akhirnya kau mau,”

“Iya, jangan banyak bicara, cepat antarkan aku pulang!”

“Siap!!!”

 

Dalam perjalanan, kami hanya saling diam. Sumpah, ini membosankan…

“Kau itu tidak tertarik dengan lelaki ya?” celetuk Frans dan mulai membuat bahan pembicaraan.

“Apanya? Ya jelas aku tertarik!” balasku ketus.

“Tapi kau tak memperlihatkan ketertarikanmu padaku,”

“Untuk apa? Nanti dikira cewek agresif, lagi!”

“Haha, tidak seperti itu juga. Rumahmu sebelah mana?” tanya Frans.

“Pertigaan itu masuk, lurus, belok kiri, cari yang nomor 14.” jawabku memandu Frans untuk sampai ke rumahku.

“O ya? Berlawanan dong, kalau aku belok kanan. Tapi sepertinya rumah kita berdekatan.”

“Ya kah? Kalau begitu turunkan saja aku di depan gangnya, aku bisa menuruskan dengan jalan kaki, kok, Frans…”

“Tidak, kau harus sampai rumah dengan sepedaku ini.”

“Sukanya memaksa!” cibirku.

 

Sampai lah kami di rumahku. Aku pun turun dari sepeda milik Frans.

“Kau mau mampir?” tanyaku. Jujur itu hanya pertanyaan basa-basi. Untuk ramah-tamah saja. Lagian, aku juga tahu dia akan menolak.

“Hmmm, boleh!” jawabnya mantap. What the.. kok dia malah senang aku tawari seperti itu?

 

“Eeeee, ya… ayo masuk!” ajakku dengan berat. Ia pun mengikutiku dari belakang. Aku membuka pintu setelah mengucap salam. Di sofa empuk depan TV, ibuku duduk.

“Aku pulang…” ucapku. “Yeonsung, siapa itu di belakangmu?” tanya ibuku heran. “Dia ini…” aku tersendat saat menjawab pertanyaan ibu.

“Halo, tante… aku Frans, teman sekelasnya Yeonsung.” sergah Frans.

“O, temannya Yeonsung. Mari ke dalam, biar kusiapkan camilan.” setelah mengatakan itu, ibu pun segera pergi ke dapur.

 

“Frans, ke rumahku mau apa? Tidak ada yang seru!” bisikku bertanya padanya. “Bukannya kau yang mengajakku ke mari?” balasnya. Heeuuuhh.. Aku kalah dalam urusan adu mulut dengannya.

“Apa kau mau baca komik?” tanyaku menawarkan. “Tidak mau.” jawabnya singkat. “Nonton film komedi saja bagaimana?” aku menawarkan lagi. “Hmmm, boleh, deh. Di mana?” tanyanya. “Sebentar ya, aku ambil laptop di kamar dulu. Sambil menunggu kau duduk saja.” izinku dan Frans pun duduk di sofa sesuai perintahku.

 

Setelah mengambil laptop, aku pun kembali ke ruang tamu. Kulihat Frans sedang duduk santai sambil menonton acara TV.

I’m back!” ucapku mengagetkannya yang sedang asyik nonton TV itu.

“Yeonsung-ah, cepat putar filmnya, cepat! cepat!” Frans antusias.

“Sabar, di-turn on dulu!”

 

Filmnya pun diputar, kurasakan geli di lenganku, kutoleh pada lenganku yang geli itu, dan benar saja… Frans penyebabnya. Ia duduk sangat mepet denganku dan pandangannya tetap fokus film yang sedang diputar.

“Jangan dekat-dekat, please. Jauhan dikit, dong!” pintaku pada Frans.

Eum, maaf, Yeonsung.” balasnya lalu sedikit minggir dari posisi.

 

Aku sudah menonton film ini berulang-ulang, jalan ceritanya juga aku sangat paham, kalau nonton lagi aku pasti bosan. Ibu juga tak kunjung datang.

 

Aku mengerling untuk mencari objek yang bisa membuatku sibuk selain menonton film ini. Kupandangi lekat-lekat wajah Frans yang tengah fokus menonton film dari layar laptopku. Kenapa sih dia sangat tampan? Imut pula!

 

Kemudian bibirku tertarik dan terbentuklah selengkung senyuman, aku menikmati keindahan wajahnya. Terus kupandangi tanpa berkedip. Sepertinya Frans sadar dengan tingkahku ini, ia pun menoleh. Kemudian Frans memanyunkan bibirnya dan memberiku tatapan heran.

“Kenapa terus saja melihatiku?” protesnya.

“Uh-oh… Sejujurnya, aku adalah gadis yang tidak pandai bohong. Kau sangat tampan, aku suka melihat wajahmu.” terangku dengan kegugupan yang tak terelakkan.

“O begitu,” jawab Frans lalu memalingkan wajahnya lagi ke layar laptop. What?? Kenapa sangat santai, harusnya kan dia terkesan dengan pernyataanku barusan.

 

“Sebentar, tadi kau bilang suka wajahku, APA??!!” pekik Frans yang baru saja mencerna tiap kata yang barusan kulontarkan. Aku hanya mengangguk. “Wahh, kau baru sadar ternyata?!” cibir Frans. “Sudahlah, jangan dibahas. Tonton saja itu filmnya!”

 

***

Waktunya istirahat, aku pun keluar kelas dan menuju kantin untuk membeli roti. “Yeonsung!” terdengar seseorang memanggil namaku, aku membalikkan badan untuk mencari siapa yang barusan memanggilku.

“Frans?” sapaku, karena hanya ia yang kulihat. “Iya, ini aku.” katanya. “Ada apa memanggilku?” tanyaku. “Mau ke mana?” ia balik bertanya.

“Ke kantin. Mau ikut?”

“Hmmm, ayo deh!” Jadilah kami berjalan berdampingan menuju kantin.

 

Setelah sampai, aku menuju tempat yang menjual roti. Berbeda dengan Frans yang hanya membeli snack. Kami duduk di bangku yang sama sambil memakan jajanan masing-masing.

“Apa sudah terbiasa duduk di belakang?” tanya Frans tiba-tiba.

“Ya, lumayan lah, aku jadi lebih giat belajar untuk memadankan pelajaran yang para guru berikan.” tandasku setelah menelan roti yang kukunyah.

“Baguslah, dengan begitu aku tak perlu menyesal berlarut-larut.”

“Ya, untungnya. O iya, yang aku bingung, selalu ketika memperkenalkan diri kau menyebut nama Frans. Apa kau terlahir hanya dengan nama Frans, apa kau tidak punya marga?”

“Punya. Frans itu namaku ketika di luar negeri. Frans Byun.”

“Nama aslimu siapa?”

“Byun Baek Hyun.” Frans terkekeh kecil.

 

Byun Baek Hyun? Lelaki manis ini bernama Byun Baek Hyun?

 

***

Chapter 1 udah selese. Gimana, puas gak sih? Atau malah ngebosenin? u_u
Sampai jumpa di chapter berikutnya!!! ^^

Iklan

22 pemikiran pada “Bingo! Team (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s