Love Constellation (Chapter 2)

Love Constellation [Part 2]

 romance yeol copy copy

Author : G.Lin

Genre : Romance, Happy, School Life, Family

Length : Chapter

Casts : Do Nayeon | Park Chanyeol | Kim Jongin | Oh Sehun |Etc

—-

Who should i choose?

Happy virus, Park Chanyeol who always make me laugh when I beside him,

Trouble maker, Kai who always make me miss him so much when he’s not in my side, or

The walking ice, Oh Sehun who makes me comfort even he was as warm as ice?

—–

“Jadilah pacarku, Do Nayeon.” Ulangnya lagi.

“Aku gila ya?” tanyaku pada Kai. Aku tidak mengerti apa ini? Sehun memberiku sapu tangan. Kai memintaku menjadi pacarnya. Dan apa lagi? Laki laki misterius itu menarikku menjauh dari Kai? Sebenarnya, yang terakhir itu keinginanku. Katakan padaku bahwa ini hanya April Mop. Katakan padaku bahwa ini hanya salah satu akal akalan Kai dalam membullyku.

“Bodoh, kau tidak gila.”

“Berarti kau yang gila.” Tunjukku pada Kai.

“Apa?!”

“Eh, tidak apa apa. Aku pulang dulu.” Aku berjalan cepat tapi sebuah tangan mencekalku.

“Jawab aku.” Ternyata Kai masih melanjutkan drama ini.

“April Mop, ya?” tanyaku lagi.

“Harus berapa kali aku berkata? Aku memintamu untuk jadi pacarku Do Nayeon.” Tandas Kai.

“Tidak salah kenapa banyak yang suka membully-mu, kau sangat polos.” Bukankah dia satu satunya yang gencar membullyku? Yang lainnya hanya menikmati pertunjukan saja.

“Aku kira hanya satu orang yang membully-ku, Tuan.” Tandasku.

“Ah, kurasa sudah waktunya pulang.” Aku melepaskan diri darinya dan berlari menuju rumah. Ini hanya perasaanku saja atau apa, tapi tubuhku serasa hangat dan kupu kupu seolah terbang menggelitik perutku saat Kai mencekalku.

—-

Bau mie menusuk hidungku, membuat perutku semakin lapar. Aku mendekati kakakku yang sedang sibuk di dapur. Aku memutuskan untuk mengapit lengannya, sesekali bermanja manja pada kakakmu sendiri gak apa apa kan?

Baby, jangan menganggu oppa.” Aku gak mengindahkan kata katanya malahan aku menggoyang goyangkan lengannya yang ku apit.

“Sayang, jangan ganggu oppa.” Aku semakin gencar menjahili kakakku, mencubiti pipinya, menusuk nusuk pipinya menggunakan jari telunjukku, dan menggelitikinya.

“Itu pacarmu?” sebuah suara yang terdengar sangat berat menghentikan aktivitasku. Aku menoleh dan betapa terkejutnya aku mendapati laki laki yang kukagumi berdiri di belakangku dan kakakku . Dengan senyuman lebarnya, dia terlihat semakin tampan –setidaknya bagiku-. Perlahan aku melepaskan tanganku dari lengan kakakku.

“Oh, Yeol. Bukan, dia ini adikku.”

“Dia manis.” Katanya santai. Cepat cepat aku menyembunyikan mukaku yang mungkin semerah saus ddukbeoki sekarang.

“Perkenalkan dirimu, sayang.” Kakakku mendorongku maju ke depan. Aku gelagapan, jelas saja.

“Uhm, aku Nayeon.” Setelah itu membungkuk kilat. Perkenalan yang sangat kaku. Laki laki itu diam sebentar, kemudian tertawa keras sekali.

“Hahaha…. sangat manis.” Katanya sambil menepuk puncak kepalaku. Tak sadarkah dia kalau itu semua membuat kupu kupu menggelitiki perutku?

“Halo Nayeon, aku Park Chanyeol. Panggil aku Chanyeol Oppa!” katanya dengan senyum. Oh sangat tampan.

“Yeol, Nayeon, mie-nya sudah matang.” Thanks a lot, Oppa! Kau menyelamatkanku.

Aku duduk di dekat kakakku dan di depanku duduklah Chanyeol, laki laki yang aku kagumi. Jangan lupakan temannya yang berwajah manis, Baekhyun oppa.

Aku memakan mie-ku dengan tenang, sesekali mendengarkan obrolan mereka. Hey, kenapa aku merasa diacuhkan?

“Mau kemana, Yeonnie?” tanya kakakku.

“Uhm.. aku… ada yang harus aku kerjakan. Annyeong!” cepat cepat aku berlari menuju kamarku. Di dalam sini berdetak cepat sekali. Aku tahu aku sangat gembira waktu tahu Chanyeol itu teman kakakku, tapi aku terlalu gugup untuk bereaksi.

Oh! Aku hampir lupa, sapu tangan Oh Sehun belum kucuci.

—-

“Loh? Sudah pulang?”

“Apanya?” tanya kakakku yang sedang membawa piring piring kotor.

“Berarti sudah pulang.” Gumamku.

“Apa? Bicaralah yang jelas, Sweety.”

“Lupakan, aku mau tidur.”

“Selamat malam Oppa!”

“Malam, Dear. Sleep well.”

—-

Sebenarnya aku agak ragu mengembalikan sapu tangan ini langsung ke kelas Sehun. Pasalnya, Sehun satu kelas dengan Kai dan aku takut kalau Kai dapat dengan leluasa membullyku.

Benar saja, baru saja aku melangkah satu langkah di kelas itu dan semuanya menatapku. Pura pura cuek, aku berjalan menuju pojok ruangan –tempat Sehun duduk sambil memakai headphone-.

Oh, sial! Di samping tempat duduk Sehun, Kai duduk tanpa sopan di kursinya. Jangan lupakan seringaian Kai yang tampak seperti serigala yang mengincar seekor anak domba yang kehilangan induknya.

“Khamsahamnida.” Aku menaruh sapu tangan itu di atas bukunya. Dia mendongak, jangan harap senyum atau apa, hanya wajah datar yang menyambutku.

“Hey, Nayeon!” panggilan Kai sama sekali gak aku gubris.

“Oi, Nayeon! Kau menerima tawaranku?” tanyanya.

“Tidak, terima kasih.”

—-

Aku memutuskan untuk melangkahkan kaki ini menuju ke perpustakaan. Jangan pernah berpikir bahwa aku kutu buku, aku hanya menumpang tidur di pojokan rak buku.

Aku sudah hampir memejamkan mataku saat menyadari ada sesosok manusia yang berdiri di hadapanku. Aku mendongak. Kenapa dia bisa tau aku di sini?

Hallo, Miss Bully-able!” oh tidak! Saat dimana seringaian itu muncul adalah saat yang paling berbahaya bagiku. Dan ‘beruntung’lah aku, perpustakaan sedang sepi –tidak ada pengunjung dan penjaga perpustakaan sedang pergi sebentar- dan aku terhimpit sekarang. Sangat ‘beruntung’. Bagaikan menunggu kematianmu saja jika kau berada di posisiku.

“Kai, aku gak mau dibully di sini.” Ya, aku hanya bisa pasrah. Ditempat sepi tak terjamah –aku ada di rak bagian buku buku berbau etika yang gak ada satu orangpun mau memasuki lorong rak ini- seperti ini? Semuanya bisa terjadi.

“Aku akan berhenti membullymu.” Apa aku bermimpi? Kai akan berhenti membullyku? Itu adalah anugerah Tuhan yang paling besar.

“Tidak gratis tentu saja…” baru saja aku akan bersujud sampai dahiku mengeras karena Kai telah berbaik hati padaku.

Aku memutarkan bola mataku, bosan dengan kelakuan Kai.

“Hanya dengan satu syarat.”

“Apa itu? Ya, kan? Kau pasti akan bertanya seperti itu kan?” dia duduk di sampingku. Duduk sangat dekat hingga kau bisa merasakan deru nafasnya.

“Bisakah kau menggeser tubuhmu menjauh dariku? Aku kira ini sekolahan.” Ucapku sarkastik. Ku pikir dia ini manusia yang mengerti bahasaku, nyatanya, dia malah merangkulku dan dengan senang hati aku melemparkan tangannya.

“Oke, kalau kau tidak ingin. Listen, Babe. Aku hanya memilih gadis terpilih, jadilah pacarku, oke? Bukankah itu singkat?”

“Dengarkan aku Kai, aku tidak akan mengulanginya walaupun kau memaksaku bagaimanapun caranya. Aku. Tidak. Mau.” Jawabku dengan penekanan di kalimat terakhir.

“Aku menunggumu berubah pikiran.” Katanya sambil mengetuk ngetukkan jarinya di pahanya.

Aku menggeleng, “Tidak ak-“ astaga! Kalian tahu? Kai menarikku dan menempelkan bibirnya ke bibirku! Dalam arti kata lain, menciumku secara paksa. Melumat bibirku dengan jauh dari kata halus. Ini pertama kalinya dan aku harus merelakannya pada orang brengsek macam Kai? Sungguh, aku ingin sekali mengahajarnya.

Aku berusaha memberontak dan aku tidak bisa memungkiri kalau aku adalah perempuan yang kodratnya jauh lebih lemah daripada laki laki. Kai semakin memperdalam ciumannya dan aku masih berusaha untuk melepaskan diri dari Kai dengan mendorongnya kuat kuat. Setelah berhasil lepas, kutampar Kai sekuat yang aku bisa hingga menyebabkan bekas kemerahan di pipinya.

Kuatlah, Yeon. Kau kuat. Kau gak akan menangis hanya karena ini. Aku merasa aku adalah perempuan paling hina di muka bumi ini dan Kai, dia adalah manusia paling terkutuk! Lebih baik dia membullyku secara fisik daripada melakukan hal tadi padaku. Sungguh.

—-

“Yeon, kenapa?” tanya Nayoung padaku.

“Young, jangan ganggu aku ya? Aku lagi sensitif hari ini.” Hanya itu sebelum akhirnya aku menenggelamkan wajahku di antara kedua lenganku.

“Baiklah,” Young sangat mengerti diriku. Buktinya, dia mengikuti gayaku dan tidur.

—-

Aku tidak melihat Chanyeol lagi di dekat sini. Biasanya dia akan berdiri di sana sambil memasang wajah kebingungannya. Yah, harapan kosong.

Ini perasaanku saja atau aku merasakan ada seseorang berjalan mengikutiku dari belakang.

“Yeon!” sepertinya aku harus mempercepat langkah kakiku.

“YEON!” dan sial! Kai berhasil menghentikanku dengan cara menarik tanganku.

“Maaf.” Apa aku tak salah dengar? Kai? Meminta maaf? Bagaimana mungkin yang mulia meminta maaf kepada bawahan tengil sepertiku?

“Maaf, aku gak seharusnya menciummu seperti itu.”

“Jangan bahas itu, Kai.”

“Kau memaafkanku?” tanyanya.

“Aku gak bisa jawab sekarang.” Kataku sambil melepaskan tangan Kai dan berjalan dengan cepat. Setidaknya, aku gak ingin melihat wajahnya lagi beberapa hari ke depan.

—-

Oppa, sedang apa?” aku terbangun dari tidur siangku karena sebuah kekacauan di dapur.

Hallo, Honey! Oppa sedang membuat cake untuk tetangga sebelah, dia baru pindah tadi. Kau taukan? Sebagai tetangga yang baik kita harus membuat tetangga baru itu merasa nyaman.” Tetangga baru? Seberapa muliakah tetangga baru itu sampai bisa memaksaku bangun dari pertapaan abadiku?

“Nah, kau kan sudah bangun, cepat mandi dan antarkan cake ini ke tetangga sebelah!”

“Tuan Kyungsoo, hamba masih mengantuk. Seberapa muliakah tetangga baru itu sehingga hamba diharuskan untuk mengantarkan cake itu?” aku menaruh kedua tanganku di pinggang.

“Ayolah, Yeon. Bantu Oppa, ya? Oppa sudah membuatkan biskuit cokelat kesukaanmu, banyak sekali. Tiga toples loh.” Oke, Tuan muda Kyungsoo sangat pintar dan cerdik sekali dalam menyentuh hati kecilku yang rapuh.

“Baiklah, baik. Selalu saja menyogokku dengan biskuit cokelat.” Omelku.

“Oh iya, nanti jangan kabur kalau Oppa menyuruhmu menemani tetangga baru itu main di sini. Soalnya tadi Oppa berjanji akan menemaninya tapi tiba tiba ada panggilan penting dari Chanyeol,jadi temani dia ya?”

“Chanyeol Oppa?”

“Bukan,tetangga baru kita.”

“Siapa?”

“Siapa ya?” kakakku menggodaku sambil mengerling nakal.

Oppa, sok genit.” Aku memukul pelan lengan kakakku.

“Aish, anak ini. Cepat mandi, daritadi Oppa sudah menahan baunya. Hush, hush!” kakakku mengusirku sambil menutup hidungnya menggunakan kaosnya. Huh! Memangnya aku kucing yang bisa diusir dengan kata ‘hush’?

—-

‘Nak, ini cakenya. Rumahnya persis di selah kanan rumah kita –jika kau keluar dari rumah-. Bersikap manislah dengan tetangga baru kita, Nak. Your handsome brother

Sudah kubilangkan? Kakakku tidak pernah memanggilku dengan panggilan yang normal –setelah kedua orangtuaku meninggal-, ‘Nak’, ‘Honey’, ‘Sayang’, ‘Babe’, ‘Baby’, ‘Tiny’, ‘Bell’, ‘Sweety’, ‘Sweetheart’, ‘Chagi’, dan lain lain selalu mengisi hariku, kadang geli juga mendengarnya,tapi aku sudah mulai terbiasa. Tunggu! Apa itu? ‘Your Handsome Brother’? Ya, aku akui kakakku memang tampan, tapi jarang saja dia menggunakan kata kata seperti itu.

Aku mengambil cake yang telah dimasukkan kakakku ke dalam kardus dan membawanya.

Rumah ini besar sekali, berapa anggota keluarga yang tinggal di sini? 4? 3? 5? Aku harap ada yang seumuran denganku sehingga aku gak perlu main jauh jauh ke rumah Nayoung jika aku sedang bosan.

TOK TOKK

Aku mengetuk pintunya. Belum ada respon.

Aku mengetuknya lagi.

5 menit sudah aku berdiri di depan rumah ini bagai orang yang mempromosikan alat alat pembersih rumah.

Tanganku hampir saja mengetuk pintu –lagi- saat aku merasakan pintu di hadapanku terbuka dengan sendirinya.

“Masuk.” Terdengar gumaman yang sangat pelan.

“Ah, ye.”

“Permisi.” Kata kakakku kita harus bersikap sopan. Apa aku sudah cukup sopan?

Aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah ini. Isinya sangat mengagumkan. Bukannya aku tidak pernah melihat yang seperti ini, tapi design-nya sangat mengagumkan. Beberapa sofa bergaya minimalis menyambutku. Hiasan hiasan rumah modern tertata rapi sedemikian rupa. Siapapun yang menempati rumah ini pastilah orang yang memiliki selera tinggi.

“Maaf, Yeon. Tadi aku sedang mandi.” Suara itu. Pemilik suara yang sedang aku hindari karena kejadian tadi di perpustakaan.

Kai mendekat padaku, memakai celana pendek dan kaos putih dengan bulir bulir air membasahi rambutnya. Senyum tak lupa bertengger di wajahnya, bukan seringaian tapi senyum yang bersahabat. Aku gak mengerti dengan tubuhku, rasanya seperti tersengat aliran listrik saat melihat Kai tersenyum sebegitu hangatnya. Sadarlah, Yeon. Kau menyukai Chanyeol Oppa bukan si makhluk antah berantah ini.

“Yeon? Kau masih di sana?” kali ini Kai melambai lambaikan tangannya tepat di depan wajahku, mengembalikan kesadaranku sepenuhnya.

“Eum,… Oppa menyuruhku untuk mengantarkan ini padamu. Aku harus pulang.”

“Tidak boleh.” Jawaban singkat darinya membuatku mengingat kembali kejadian di perpustakaan tadi. Sungguh mengerikan. Aku berada di kandang singa sekarang. Bagaimana kalau Kai melakukan hal yang macam macam di sini? Aku masih terlalu polos untuk mengerti. Aku juga masih terlampau muda untuk menikah apalagi punya anak dan er… Kai sebagai ayah dari anakku. NO!!!! Ya! Kenapa aku malah membayangkan hal senista itu?!

“Kai..”

“Panggil aku ‘Oppa’.” Tandasnya.

“Hah?”

“Kenapa ‘hah’? Aku lebih tua 2 tahun darimu jadi kau harus memanggilku ‘Oppa’.

“Tidak mau.”

“Tidak mau eoh?” oh my God! Kai meminimalisir jarak kami dan aku hanya bisa mundur hingga sebuah tembok menghalangi langkahku. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kai. Aku tidak sudi memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’.

Kai semakin mendekatkan wajahnya, deru nafasnya sudah bisa kurasakan. Seolah kami menghirup karbon dioksida satu sama lain.

“Kalau tidak mau, aku akan melakukan hal yang sama seperti di perpustakaan tadi.” Aku tidak mengerti kenapa pipiku rasanya panas sekali, seperti ada rona merah tertoreh di sana.

“Eh.. uhm… ne,” Kai menjauhkan wajahnya lalu menepuk kepalaku.

“Anak manis. Panggil aku Kai oppa!” Perintahnya.

“Ka– Kai.. er… Oppa.” Yap, aku berhasil mempermalukan diriku dan membuat senyum puas tertoreh di bibirnya. Sial!

Aku gak tahu makan malam ini akan menjadi makan malam terbaik atau terburuk. Di depanku ada Chanyeol –dengan senyum atau bisa disebut cengiran yang tak pernah hilang dari sana- dan Kai –yang tak berhenti menatapku hingga membuatku risih-. Aku memutuskan untuk mengambil lauk dan memberikannya ke kakakku.

Oppa, segini cukup?”

Gomawo, Chagi.” Katanya dengan senyum. Beruntunglah Youngra eonni gak marah karena kakakku memanggilku dengan sebutan ‘Chagi’.

“Chanyeol Oppa, segini cukup?” aku menaruh lauk di piringnya dan di sambut senyum.

“Tambah sedikit lagi, ya?” aku menambahkan lauk lagi, seperti permintaannya. Setelah itu aku mengambil untukku sendiri lalu makan.

Aku mengabaikan tatapan Kai dan masih tetap melanjutkan makanku.

Chagi, Oppa juga mau diambilkan.”

“Uhuk..uhukk…” sial! Aku sangat terkejut dengan reaksi Kai sampai membuatku tersedak. Kakakku yang berada di sampingku langsung mengambil air minum di hadapannya dan memberikannya kepadaku.

“Makanya kalau makan itu pelan pelan saja, Yeonyeon.” Nasehatnya sambil mengusap usap punggungku.

“Uhuk… ehe…” aku hanya tersenyum garing.

Pandanganku beralih ke Kai yang sedang menatapku dengan tatapan –sok- memelasnya.

“Sejak kapan aku menjadi ‘Chagi’mu hah?” aku meluapkan kekesalanku padanya.

“Sejak kapan ya?”

“Sudahlah, jangan bertengkar di meja makan. Tidak baik. Menjauhkan uang dari kita.” Perkataan kakakku –yang sungguh seperti ucapan seorang nenek-nenek yang sedang menunggu uang pensiun- disambut oleh tawa yang keras sekali. Aku baru sadar kalau sedari tadi Chanyeol sudah bergetar getar menahan tawa.

“Huahahaa… Kyungsoo aku tidak pernah tau kau bisa bertingkah seperti nenekku.” Katanya di sela sela tawanya –dia tertawa dengan sangat ribut, bertepuk tangan dan menepuk nepuk meja, menyeramkan tapi lucu-. Aku hanya melongo melihatnya tertawa seheboh itu begitu juga Kai.

“Yeol, kau membuat adikku heran. Dan itu menyeramkan.” Kata kakakku yang menatapnya dengan datar.

“Heran? Heran karena ada makhluk tampan menyesakkan jiwa sepertiku ya?” kali ini aku hampir tersedak air. Aku tidak pernah menyangka orang yang dulu terlihat keren ternyata kepribadiannya tidak keren sama sekali.

Hyung, Nayeon itu milikku.” Celetuk Kai yang membuatku mendelik ke arahnya. Sejak kapan aku menjadi miliknya? Memangnya aku barang?

“Nayeon milikku!” kata kakakku. Sudahlah, Oppa. Kau tidak usah ikut ikutan gila.

“Loh? Nayeon milikku!” Oh astaga! Ribuan bunga bunga bermekaran di hatiku saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Chanyeol.

“Ya! Ya! berhentilah memperebutkan orang yang bukan milik kalian.” Aku menoleh dan…

“KYAAA!!! EONNI!!!” aku berhambur ke pelukannya.

“Wah, akhirnya eonni datang juga. Aku kira eonni tidak jadi ke sini.”

“Pasti eonni ke sini.”

“Eh? Siapa itu?” tanya Youngra eonni saat melihat Kai.

“Sstt… aku beritahu eonni, dia itu manusia dari antah berantah, jadi jangan coba coba untuk berinteraksi dengannya.” Bisikku pada Youngra eonni.

“Aku mendengarmu Do Nayeon.”

“Biar saja.” Aku menjulurkan lidah.

“Kau melupakan pacarmu, Chagi?” jarang jarang aku mendengar suara sok manja dari seorang Do Kyungsoo.

“Mana mungkin.”

Dan aku terlupakan. Bye.

—-

Mari kita abaikan pasangan muda yang sekarang sedang ‘bermesraan’ di dapur. Mereka sedang memasak cemilan untuk kami.

“Yeon, kau tidak cemburu kakakmu diperlakukan seperti itu?”

“Cemburu? Yang benar saja, Oppa! Dia itu kakakku bukan pacarku.”

“Oh iya ya? Hehe mau lihat film? Oppa punya film bagus loh.”

“Apa?”

“The Grudge.”

“Apa?! Oppa tonton saja sendiri, aku gak suka film horor.” Darimana asalnya keberanian itu, aku dan Chanyeol oppa mulai akrab sampai aku melupakan seseorang.

“Aku patung ya?” celetuk Kai yang duduk di sofa. Aku dan Chanyeol mendongak –kami duduk di karpet-.

“Wah, lupa kalau ada kamu.” Reaksi Chanyeol berlebihan –dia pura pura tejungkal ke belakang- tapi aku suka.

“Kai, kau tidak sopan. Yang lain duduk di bawah dan kau duduk di atas. Sungguh tidak sopan.”

“Panggil aku ‘Oppa’, Yeon. Kau sudah berjanji tadi.”

“Chanyeol Oppa, cepat putar filmnya!” Nekat biarlah nekat! Kayako seribu kali lebih menyenangkan daripada meladeni Kai.

“Eh? Yakin?” Chanyeol terlihat ragu. Aku menelan salivaku sendiri sebelum akhirnya mengangguk. Aku merasakan ada yang duduk di samping kananku. Aku kira itu Youngra eonni, tapi ternyata itu Kai. Biarlah. Mungkin dia takut menonton ini.

“Kalau takut, berpeganglah pada lengan, Oppa.” Cuih! Lebih baik aku di pegang Kayako!

—-

“HUAAA!!! SEREM!!!” Chanyeol dengan hebohnya menutup mukanya menggunakan bantal. Aku belum mengenalnya sebegitu jauh namun aku sudah merasa bahwa tingkahnya jauh dari normal. Tapi kenapa aku bisa menyukainya?

“WAAAAA!!!!” aku melihatnya! Kayako! Huaaa kakak!!! Seram sekali! Mukanya pucat tanpa ekspresi. Ngomong ngomong tentang tanpa ekspresi aku jadi ingat Sehun sunbae. Sekarang dia lagi apa ya?

Eh!

Kenapa aku memikirkannya sih? Buat apa memikirkannya kalau di sampingku sudah ada Chanyeol oppa.

“Kalau takut tidak usah memaksakan diri.” Kata Kai dengan nada datarnya. Huh, sombong sekali dia.

“Apa sih? Sok berani!” sepertinya Chanyeol gak mendengar kata kata Kai, soalnya dia masih sibuk dengan bantal bantalnya. Mukanya terlihat ketakutan sekali. Siapa yang menyarankan, siapa yang takut?

“Kalau takut, bilang Oppa, nanti oppa peluk.”

“Lebih baik aku dipeluk Kayako!” aku menggeser tubuhku ke arah Chanyeol. Setidaknya di dekat Chanyeol, tidak ada ancaman pelecehan.

“Heboh sekali sih, nonton apa kalian?” tanya Youngra eonni yang memakai celemek. Serempak kami menunjuk ke arah TV dan pas sekali waktu wajah Kayako di close-up.

“WAAAAA!!! EOMMA!!!” Youngra eonni langsung berlari ke arah dapur, kembali ke teritorinya.

“WAAAA!!!! AMPUN!!!!!” Teriakku dan Chanyeol bersamaan. Kalau Kai sih datar datar saja, dia kan anaknya Kayako.

—–

“Aku menyerah!”

“Lain kali aku gak bakal mau nonton begituan lagi.” Kata Chanyeol oppa yang sedang tiduran di atas karpet. Keringat mengaliri wajah dan lehernya. Nafasnya tersengal sengal. Dan itu berlaku juga bagiku. Keringat dingin keluar dari pori pori kulitku. Rasanya seperti habis berlari keliling lapangan 100 kali. Berteriak teriak heboh. Oh no! Sepertinya aku harus meminta Youngra eonni menginap.

“Aku juga! Hosh… hosh…” kataku sambil mengangkat tanganku, masih dengan nafas tersenggal.

“Kalian jangan nonton itu lagi ya? Aku nanti gak bisa tidur.” Bayangkan! Youngra eonni yang pemberani saja takut, apalagi aku yang penakut.

“Soo, nanti aku menginap ya? Aku gak berani pulang.” Kata Chanyeol.

“Boleh boleh saja.”

Eonni, menginap ya? Aku gak mau tidur sendirian.”

“Kau bisa tidur denganku, Baby.” Celetuk Kai dengan mesum sekali.

“APA?!!!” teriak kami berempat –aku, Youngra, Chanyeol, dan kakakku-.

—-

To be bersumbang…

—-

Wah, maaf ya kalau ceritanya aneh dan makin ngaco. G.Lin kan spesialisasinya di comedy garing, ehehehee…. 😀

Rahm, gomapta ya sayang udah mau jadi beta reader saya~~~ hiks…. *terharu*

 

36 pemikiran pada “Love Constellation (Chapter 2)

  1. ahahahaha xD duh kocak nih crta. duh jadi kepengen punya kakak laki laki hehhe trus di panggil kayak yg dio bilang huohuo. duh jadi nayeon suka sama siapa nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s