Nae Yeobo…

Title                      :  Nae yeobo…

Author                  : Sayuri

Cast                       : Oh Sehun, Hana (oc)

Genre                   : Romance, marriage life

Length                  : Oneshoot

 

Annyeong!!! ^^

Author comeback, oke, author ga banyak ngomong. Author minta maap kalo banyak typo+kurang feel atao alur/gaya bahasa/ceritanya jelek. Miiiaaannhaaaeee… *alaymodeon *abaikan. Oke readers, selamat membaca ep ep Author yang tak sempurna ini *plakkk.

Happy reading, please enjoy it. ^^

 

~~~| Nae yeobo… |~~~

(Hana pov)

 

Kulihat pantulan diriku dalam cermin, gaun putih ini membalut indah tubuhku, simple but perfect. Yap, hari ini adalah hari pernikahanku dengan seorang lelaki yang tak kukenal dengan baik. Pernikahan ini terjadi karena perjodohan. Entah apa yang kupikirkan saat itu hingga aku menerima perjodohan ini, mungkin sudah takdir. Lelaki yang akan menjadi pendamping hidupku pun aku baru menemuinya sekali. Karena kami berbeda kewarganegaraan, aku adalah orang keturunan Indonesia-Korea yang sudah tinggal di korea semenjak aku Kuliah, dan laki-laki calon suamiku adalah orang Korea asli. Aku tak merasa terpaksa menjalani pernikahan ini, aku mencoba menerima takdirku sendiri. Dan aku, aku tak tahu dengan perasaan calon suamiku. Entah dia terpaksa atau tidak, aku benar-benar tak tahu. Meskipun kami sama-sama di Korea sekarang, namun aku jarang sekali bertemu dengannya dikarenakan profesinya sebagai artis di Negeri Ginseng ini. Dan yang perlu diketahui, umurku 2 tahun lebih tua darinya, umurku menginjak 25 tahun sekarang.

“Hana, kau sudah siap?” ucap eommaku yang membuyarkan lamunanku barusan. Aku hanya mengangguk ringan dan tersenyum manis padanya.

Disaat aku memasuki altar pernikahan, kulihat kesegala penjuru diruangan ini. Semua mata menatapku dengan tatapan bahagia, senyum terpancar dari wajah mereka semua, tak terkecuali seorang namja yang sudah beridiri didepanku dengan jas hitam yang dia kenakan, calon suamiku. Namun aku tak tahu arti dari senyumannya, entah senyuman kebahagiaan atau keterpaksaan.

 

1 month later

 

Kami tinggal bersama dirumah baru kami. Namun sampai saat ini pun, aku masih belum begitu akrab dengan calon suamiku. Mungkin dikarenakan pekerjaannya yang terlalu padat. Tapi satu hal yang baru kuketahui, dia namja yang baik. Mulai saat dia mengajakku berkomunikasi, berinteraksi satu sama lain, tak pernah berbicara kasar padaku. Namun yang membuatku merasa kurang nyaman adalah saat dia memanggilku ‘Noona’. Walaupun aku memang lebih tua darinya. Seperti…

‘Noona, kau sedang apa?’

‘Noona, bisakah kau memasakkan untukku. Aku lapar…’

‘Noona, maukah kau membantuku?’

‘Noona, hari ini aku sangat sibuk, mungkin pulang terlambat.’ Atau

‘Noona, aku tidak pulang, aku ada latihan.’

Semua sikapnya seakan menganggapku bukan istrinya melainkan kakaknya. Mungkin dia butuh waktu untuk menerimaku. Aku mencoba untuk memahaminya, aku hanya ingin memberinya yang terbaik, hanya itu.

Terhanyut aku akan nostalgi 
saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

 

Terdengar nada handphone ku berbunyi, ini adalah lagu favoritku yang mengingatkanku akan Indonesia. Nama suamiku tersebut terpampang di layar handphoneku.

Yeobbo Sehunnie calling…

“Ne yeobbo?”

“—“

“Gwenchana, “

“—“

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku.”

“—“

“Ne yeobbo,, bye.”

Ternyata suamiku pulang telat ‘lagi’ malam ini. Sejujurnya sudah menjadi kebiasaannya pulang larut. Dan aku hanya bisa menunggunya sampai aku tertidur di sofa ruang tamu, lalu tiba-tiba aku sudah terbangun di tempat tidurku keesokan harinya. Kami memang tidur dalam satu ranjang, namun disisi yang berbeda, dan kami belum melakukan apapun sebagai suami istri. Aku tak pernah mengkhawatirkan hal itu, dan aku tak pernah berfikir negative terhadapnya. Yang aku fokuskan sekarang hanyalah bagaimana aku bisa membuat dia menerimaku dihidupnya sebagai istrinya dan menomor duakan karirku. Disaat dia sibuk kerja, akupun menyibukkan diriku dengan pekerjaanku sendiri sebagai seorang arsitek.

Meskipun Sehunnie pulang larut lagi, namun aku tetap membuatkan masakan untuknya. Menjaga agar dia tidak kelaparan saat dirumah kami. Walaupun akhirnya aku harus makan sendiri dulu. Malam ini aku berniat membuatkan makanan favoritnya.

Setelah selesai, aku simpan makanan tersebut diatas meja makan, dan  kutulis pesan singkat untuknya.
“Yeobbo, jangan lupa makan… J”

 

Hana pov end

 

SKIP

 

Sehun pov

 

Aku merasa tidak enak sendiri dengan Hana noona, aku sering pulang larut minggu ini, dan jarang untuk sekedar makan malam. Apa aku suami yang keterlaluan? Sejujurnya aku mulai menerima kehadirannya dihidupku sebagai pendamping hidupku. Ternyata dia yeoja yang baik, sopan, pintar dan cantik. Kecantikkannya menurun dari ibunya yang merupakan orang Indonesia, begitu juga dengan sikapnya. Apa semua gadis Indonesia mempunya sopan santun yang baik seperti dia? Kalau iya, aku ingin menjodohkan Luhan hyung dengan gadis Indonesia juga. Hahaha.. *abaikan. –“

 

@Sehun&Hana’s house

 

Aku baru sampai dirumah jam 11 malam, aku membuka pintu depan dengan hati-hati karena aku tahu kebiasaan Hana noona yang selalu menungguku sampai tertidur di sofa ruang depan.

“Kau tak berubah, apa kau tak kedinginan?” ucapku pelan pada diriku sendiri, tak ingin membangunkannya.

Saat aku selesai menggendongnya menuju kamar, aku menuju ruang makan. Aku sengaja tidak makan di dorm bersama hyungdeul tadi, karena aku tahu noona pasti sudah memasakkan untukku tanpa aku minta. Dan tebakanku benar, makanan favoritku sudah tersaji diats meja makan dengan sticky notes berwarna putih disampingnya. Aku hanya bisa tersenyum melihat perhatiannya lewat pesan ini. ‘Noona, kau membuatku mulai mencintaimu’ gumamku disela-sela makan malam-sendiri-ku.

Pelan namun pasti, aku meyakini hatiku mulai menyukai Hana noona, namun aku masih merasa canggung bila harus memanggilnya ‘chagi’ ataupun ‘yeobo’ didepannya. Sekali lagi aneh bukan?

Seusai makan, aku menuju kamarku yang sekaligus kamar Hana noona juga tentunya. Aku melihat wajah cantik nan teduh itu. Betapa beruntungnya aku karena calon anak-anakku kelak lahir dari Rahim seorang wanita yang berkepribadian dewasa dan keibuan. Namun, sekali lagi, aku masih canggung. Canggung untuk melakukan apapun yang bekaitan dengannya. Kupandangi raut wajah itu lekat, sangat lekat hingga kurasakan hembusan hangat nafasnya. Kami tak pernah sedekat ini sebelumnya. Dan dia ternyata lebih cantik saat tertidur, sungguh.

Chu~

Kukecup keningnya lembut sebagai ucapan selamat tidur, kuharap dia tak bangun atas sikapku barusan.

“Jaljayo yeobo…”

 

Sehun pov end

 

Skip time

 

Hana pov

 

Hari ini aku pulang kerja lebih awal. Sesampai dirumah aku menyiapkan makanan untuk aku dan Sehun karena dia berjanji tidak pulang larut hari ini. Jarang-jarangkan kami bisa makan malam berdua.

Saat aku sudah selesai menyiapkan makanan bel rumah pun berbunyi. Ternyata Sehun sudah pulang saat kubukakan pintu. Namun raut mukanya pucat sekali dan itu membuatku sangat khawatir.

“Yeobo, kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat sekali.” Tanyaku khawatir setelah dia melangkahkan kakinya masuk kerumah.

“Ne noona, mungkin aku kecapekan.” Ucapnya dengan nada yang lemah. Aku tahu dia sedang sakit saat ini.

“Ayo kuantar kekamar. Istirahatlah, kau terlalu banyak latihan untuk persiapan comeback minggu ini.” Ucapku sembari membantunya berjalan dengan melingkarkan lengan kananku dipinggangnya.

“Apakah tadi yang mengantar Manager?” tanyaku saat membantunya duduk ditepi ranjang.

“Ani, tadi Suho hyung yang mengantarku, dia khawatir dengan keadaanku dan dia juga minta maaf karena tidak bisa mampir.” Jelasnya sembari melepas jaket yang ia kenakan. Aku membantu melepas kaos kaki yang masih menempel dikaki jenjangnya.

“Ne, gwenchana. Aku mengerti, aku tau dia tidak ingin dikejar-kejar netizen ataupun fangirl.”

“Hyung juga titip salam untukmu noona.”

Aku yang diajak bicarapun hanya tersenyum simpul sembari memberikannya baju ganti.

“jika sudah selesai ganti baju, berbaringlah ditempat tidur, aku akan membawakan makanan.” Ucapku dan dia hanya mengangguk pelan.

 

~ ~ ~

 

“Kenapa noona membawakan makananku kesini?” tanyanya polos, sungguh aku gemas setiap melihat ekspresinya yang seperti itu.

“Berbaring saja, aku akan menyuapimu. Aku tahu yeobo sedang sakit, jadi tolong istirahat.” Jelasku, dan dia hanya membalas dengan anggukan.

Aku tak bermaksud cari perhatian didepannya, namun menurutku ini sudah tugasku sebagai seorang istri. Dan hal ini sangatlah wajar jika kulakukan. Aku ingin memastikan dia selalu baik-baik saja.

 

Hana pov end

 

Sehun pov

‘Tuhan, baik sekali istriku ini. Namun kenapa aku belum mampu membalas kebaikannya? Mengapa aku selalu canggung. Terimaksih telah memilihkan dia untukku Tuhan. Terimakasih appa, eomma.’

“Noona, kenapa kau perhatian padaku?” tanyaku pelan. Kulihat ekspresi wajahnya berubah kecewa.

“M.. Mianhae. Apa kau tidak suka?” tanyanya ragu, dia meletakkan sendok di piring yang akan disuapkan kemulutku.

“Anhi,, anhi. Aku hanya bertanya. Aku hanya heran, iya, itu saja.” Jelasku mencoba untuk tidak melukainya. Bodohnya diriku berkata seperti itu.

“Aku hanya ingin menjadi istri yang baik. Ya, itu saja.” Ucapnya dengan memberikan senyum manis kepadaku, lesung pipinya terukir jelas diwajahnya.

Dan aku, aku hanya diam memaknai tiap kata yang diucapkannya barusan. Dia, yeoja yang selalu berusaha menjadi istri yang baik, istri dari namja bernama Oh Sehun. Aku, aku adalah suaminya, yang bahkan belum berusaha untuk menjadi suami yang baik. Tuhan, biarkanlah aku berusaha menjadi suami yang baik untuknya, mulai sekarang.

Aku mulai mengingat semua perhatiannya padaku, mulai dari hal-hal kecil seperti menyiapkan air panas, baju ganti hingga sarapan untukku. Mengantarkan makanan untukku dan hyungdeul sewaktu aku tidak bisa pulang. Selalu bertanya keadaanku, memijat kakiku sewaktu aku capek selesai latihan hingga saat aku sakit seperti sekarang, dia pula yang mengkompres keningku dengan air hangat.

 

Skip time

 

2 hari setelah itu, aku kembali pulang dengan keadaan kaki yang terkilir akibat latihanku yang terlalu keras. Meski tak seperti Kai hyung apabila dia terkena cedera. Dan aku sengaja tidak memberitahukan keadaanku pada Hana noona, aku tahu dia pasti akan sangat khawatir. Namun, Suho hyung memaksaku untuk pulang, jadi dia lagi yang mengantarku pulang.

Ting tong

Tak lama bel bebunyi, Hana noona muncul dari balik pintu.

“Hana-shi, aku mengantarkan Sehun pulang, kakinya sempat terkilir tadi. Tolong jaga dia.” Ucap Suho hyung, aku hanya diam membisu kulihat raut wajah cantiknya berubah menjadi khawatir.

“Ahh, Ne oppa. Gomawo sudah mengantarkannya pulang.”

“Oh iya, maaf aku tidak bisa mampir lagi. Annyeong Hana-shi.” Ucap Suho hyung dengan senyum angelic miliknya.

“Ne oppa, gwenchana. Annyeong.” Ucapnya, setelah melihat Suho hyung mengendarai mobilnya sampai hilang diujung jalan, noona membantuku berjalan masuk.

 

“Kenapa yeobo tidak memberitahuku?” tanyanya khawatir, atau lebih tepatnya mengomel saat aku sudah berbaring di tempat tidurku. Aku sempat membisu, tak tahu apa yang harus kuucapkan.

“Apa karena kau tidak mau membuatku khawatir?” lanjutnya sembari memijat kakiku pelan.

Skakmat.

Pertanyaannya barusan memang benar, 100% benar. Aku yang ditanya hanya mengangguk pelan, masih dengan keadaan bibirku yang membisu. Mungkin dia menganggapku sebagai sosok yang dingin sekarang. Tapi, memang beginilah aku.

“Yeobo, kau tahu, sebagai istri aku berhak tahu keadaanmu. Dan aku tidak bermaksud overprotektif terhadapmu. Mianhae, jika selama ini kau menganggapku overprotektif terhadapmu.” Jelasnya panjang lebar dengan masih memijat kakiku, sentuhan tangannya hangat sekali, seolah menyalurkan kasih sayangnya ke tubuhku. Dan itu adalah jawaban diluar dugaan yang keluar dari bibir manisnnya. Aku,, merasa bersalah.

“Aa,, anhi. Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin membuatmu terus-terusan khawatir kepadaku. Noona, seharusnya aku yang minta maaf. Mianhae…” akhirnya kata-kata itu keluar dari bibirku. Aku menggenggam tangan kanannya hangat, mencoba meyakinkannya. Kutatap matanya lekat, tak pernah aku menatapnya se-intens ini.

“emm,, n…ne. gwenchana yeobo.” Ujarnya sembari menepis tanganku dan memalingkan pandangannya, aku melihat semburat merah jambu diwajahnya. Manis sekali.

“yeobo, bisakah aku meminta satu hal” lanjutnya, entah apa yang akan dia katakan itu membuatku penasaran.

“Apa? Katakan saja noona.”

“Bisakah yeobo tidak memanggilku noona. Aku ingin yeobo menganggapku sebagai istri, bukan kakak.” Jelasnya dengan masih melanjutkan memijat kakiku. Tuhan, bagaimana mungkin dia bisa berfikir seperti itu. Salahku juga memang, kenapa canggung memanggilnya chagi ataupun yeobo.

Tapi sekarang, aku memberanikan diri untuk mengucapkan kata itu. Memberikannya kepastian bahwa aku tidak menganggapnya sebagai kakak perempuanku. “Mianhae yeobo. Bukan maksudku seperti itu.” Ucapku pelan dan sekarang aku heran, entah keberanian dari mana aku bisa mengucapkan kata ‘yeobo’ didepannya untuk yang pertama kali. Dan dia, hanya menjawab dengan anggukan, aku tahu senyum manis itu mengembang diwajahnya meski ia tutupi.

Aku tak berhenti sampai disitu. Aku meraih tangannya lagi, menariknya untuk mendekat kearahku. Masih kutatapnya lekat, kulihat dia menundukkan wajahnya, dan aku tahu dia sedang menyembunyikan rasa malunya.

“Yeobo…” panggilku sambil mengangkat dagunya, masih kutatap lekat sepasang manik itu. Sang empunya hanya terdiam, terkejut atas sikapku barusan.

“terima kasih sudah memberiku kasih sayang selama ini. Mulai sekarang, aku akan berusaha menjadi suami yang baik dan perhatian untukmu.” Dia hanya mengangguk dan tersenyum lagi. Aku tahu dia sedang bahagia saat ini. Dan aku semakin mendakatkan wajahnya kearahku, dia sempat menolak, namun aku lebih kuat darinya. Aku menarik tangannya kearahku, dan tangan kiriku melingkar di pinggang mungilnya. Menahan agar dia tak menjauh dariku, kuangkat dagunya saat dia memalingkan wajahnya lagi. Semakin kudekatkan wajahnya, sampai aku melihat jelas tiap garis wajahnya, dan bibir merah muda itu…

 

Chu~

 

Kukecup bibir manis itu lama, tulus, tanpa nafsu ditiap sentuhanku.

“Saranghaeyeo, nae yeobo…” ucapku saat aku melepaskan ciuman kami. Semburat merah muda terlihat jelas sekarang, bahkan lebih dari yang tadi. Mungkin dia terkejut dengan ciuman yang aku berikan barusan, buktinya dia tidak merespons ucapanku dan lebih memilih menundukkan wajahnya.

“Yeobo, sepertinya kakiku sudah baikan. Aku mandi dulu ya, kau bersiaplah.” Ujarku supaya dia tak berlama-lama mematung seperti itu.
“Bersiap untuk apa?” tanyanya polos. ‘hahahaha,,’ aku hanya bisa tertawa dalam hati.

“melakukan hal yang belum pernah kita lakukan sebulan ini” ucapku dengan smirk evil andalanku. Dia hanya menatapku dengan ekspresi terkejut dan aku melanjutkan langkah kakiku menuju kamar mandi. Aku tahu dia pasti mengerti akan ucapanku barusan. 😀

 

END

43 pemikiran pada “Nae Yeobo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s