Foreigners (Chapter 5)

Foreigners Part 5

 

Author : Pradesi

Cast : Byun Baekhyun, Sunghyo, Oh Sehun

Genre : Fantasy, Romance

Length : Chapter

–          pradesidavinci.wordpress.com

 

“apa yang kau lakukan?” tanya Sunghyo. Sorot matanya mengungkapkan kebingungan yang sangat. Tapi laki laki itu tetap menyeretnya. “hey apa yang kau lakukan?” Sunghyo mencoba melepaskan genggaman laki laki itu. Tapi ia tidak bisa.

Mereka sampai pada sebuah danau. Danau yang sangat sepi. Sunghyo menautkan alisnya. Kenapa Baekhyun membawanya kesini. Sementara laki laki itu melepaskan tangan Sunghyo, lalu menatapnya dalam.

“pergi”

“apa?” pekik Sunghyo pelan. “aku bilang pergi” Sunghyo tidak bisa berkata apapun saat Baekhyun mendorongnya. “pergi, dan jangan kembali”

Jantungnya tertohok, seketika laki laki menjauh dari pandangannya. Sunghyo menunduk , air matanya menetes perlahan. Hatinya benar benar hancur, entah kenapa ia merasa sebagai orang yang paling bersalah.

“apa yang aku lakukan?” ucapnya menyesal. Sunghyo mengusap air matanya. Menatap Baekhyun yang berjalan menjauhinya seiring dengan derap langkah yang semakin pudar. Sekali lagi..ia membuat laki laki itu membencinya. Ah tidak..memang sejak awal Baekhyun tidak menyukainya sama sekali kan?

Cuacanya benar benar dingin, sementara Sunghyo sedang memakai gaun malam. Sunghyo menggosokkan tangannya, meniupnya pelan dan sebagainya, ia merasa kedinginan. Pikirannya hanya tertuju pada perkataan Baekhyun tadi.

2 – 3 kalimat yang bisa membuatnya putus asa. Ia juga tidak tahu kenapa merasakan perih di hatinya saat Baekhyun mengatakan hal itu. Lalu apa sebenarnya yang bisa membuatnya terlihat baik di depan Baekhyun..apa memang semua tentangnya sangat mengesalkan Baekhyun.

“haaahhhh…”

Desahnya panjang. Sunghyo melangkahkan kakinya ke suatu tempat. Awalnya ia tidak tahu tempat apa ini. Tapi matanya menatap sederetan bunga matahari yang indah. Sunghyo kaget.

“kenapa banyak sekali bunga matahari?” tanyanya kecil. Walaupun ia yakin tidak akan ada yang bisa menjawabnya. “apa bunga ini memang..sangat berharga?” kini Sunghyo memperhatikan bunga itu. Ia memetik bunga itu , hanya memetik dan seperti tersihir tubuhnya melemas.

Sunghyo perlahan memegang kepalanya, terasa sangat pusing. Sunghyo terjatuh bersamaan dengan bunga yang ia petik. “argghh..” erangnya tertahan. Sunghyo merasakan sesuatu berusaha memasukinya.

“kenapa kau suka sekali dengan bunga ini hyo-ah?”

“memangnya kenapa? Bunga ini mengingatkanku padamu oppa”

Deg…deg…

Sunghyo memegang erat dadanya, berdetak puluhan kali lipat. Ia seperti mendengar suara yang ia sendiri tidak tahu berasal dari mana. “alasan yang konyol” jantungnya seperti tidak berdetak lagi. Sunghyo merasakan tubuhnya ringan, seperti gravitasi tidak bisa menariknya kembali. Tubuhnya terlalu rapuh, kepalanya yang terasa sakit perlahan mati rasa. Dan ia hanya merasakan kegelapan di matanya.

__

“kenapa kau lama sekali?” tanya seseorang. Laki laki tinggi itu memainkan tangannya membentuk serpihan serpihan api yang tidak biasa dimainkan. “kau menungguku?” tanya Luhan. Ia berjalan ke bangkunya. Tepat di hadapan laki laki itu.

“hyung, kau memanggilku lalu mengabaikanku begitu saja?” tanya laki laki itu sambil menghentikan permainannya dan menatap Luhan. “em…mianhae, tadi aku sedang ada urusan sedikit” ucapnya santai.

“hyung, jangan bilang kau memiliki seorang wanita?”

“hey! Aku tidak sepertimu Kris, aku tadi memang memiliki urusan sebentar” bantah Luhan, kali ini ia menghindari tatapan laki laki itu. Menurutnya diantara semua donsaengnya , hanya Kris lah yang mampu membuatnya tidak bisa berkutik hanya dengan menatapnya. Luhan juga sangat herannn..kenapa Kris bisa diciptakan dengan tatapan menusuk seperti itu.

“ah sudahlah, jangan dibicarakan lagi. Lagipula aku memanggilmu kesini untuk membicarakan hal penting”

Kris kembali menyender pada sofa yang ia duduki. “memangnya apa?” tanyanya santai sambil memainkan bunga bunga api itu lagi. Membuat Luhan menghela nafas , ternyata sifat dingin Kris belum juga bisa berubah.

“begini, kau masih ingat kan dengan kejadian itu..maksudku saat kita dilarang untuk tinggal di Planet itu?” tanya Luhan.

Kris menghentikan permainannya, ia menatap Luhan sebentar sebelum akhirnya mengangguk. “ah sudah kutebak, aku ingin menawarkan padamu untuk membalas dendam” Luhan menampilkan senyumannya. Kris menghembuskan nafasnya. “aku sudah tidak memikirkan itu lagi hyung, lagipula itu tidak berdampak pada kehidupanku sama sekali”

Senyum Luhan hilang seketika, ia menatap donsaengnya itu tidak percaya. “bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?” tanyanya tidak percaya. “aku sudah bosan hyung, aku bosan berurusan dengan mereka, aku ingin mengatur hidupku sendiri”

“tidak bisa begitu Kris, kau tidak ingat bagaimana sikap mereka pada kita? Kau tidak..ingat saat kita diusir dan tidak mendapat apa yang harusnya kita miliki?” Kris memutar bola matanya, “yang seharusnya?”

“bukankah benar? Kita yang seharusnya memimpin planet itu, kekuatan kita jauh diatas mereka dan dengan segampang itu mereka mengacuhkan kita hanya karena masalah kecil” Kris menundukkan kepalanya, memang benar semenjak itu keluarganya diusir begitu saja, hanya karena tetua mereka melanggar peraturan yang menurutnya tidak teralu berbahaya.

“hanya saja..semuanya sudah takdir hyung, memimpin planet itu bukan takdir kita”

Luhan terkekeh mendengarkan perkataan Kris. “takdir? Ayolah takdir itu hanya bualan, kita bisa mengubahnya Kris. Lagipula takdir mereka bukankah sudah tiada sekarang” Kris berjengit. “apa maksudmu hyung?”

“apa kau tahu nona Sunghyo ?”

“ah ya, bukankah dia anak dari mister Dennis?” Luhan mengangguk. “dia adalah takdir dari planet exo”

Perkataan Luhan sontak membuat Kris terkejut. “takdir?”

“benar, dia adalah masa depan Planet ini, dan kau tahu sekarang gadis itu sudah tidak ada, jadi bukankah takdir itu bukan 100 persen benar”

__

Baekhyun menatap pintu dihadapannya dengan malas. Malas jika ia membuka pintu ini lalu mendapat 1000 pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Baekhyun mendengus pelan, dengan terpaksa ia membukanya. “kemana saja kau baekhyun-ah?” benar, semua prediksinya benar. Baru saja ia memasuki rumah ini ia sudah ditanyai oleh 4 orang yang sedang berdiri di hadapannya.

“hanya ..

“hanya menuruti keinginanmu sendiri? Benar kan?” ucap Suho menyudutkannya. Baekhyun tidak bisa bergeming, entah kenapa saat ini ia juga bingung dengan perilakunya.

“aku lelah hyung” Baekhyun melangkah melewati 4 orang itu namun tangan seseorang menghalanginya. “Baekhyun-ah kau tidak bisa seperti itu, kau tahu sendiri jika Sunghyo adalah wanita, seberapa besar kesalahannya tidak sepantasnya–”

“tidak, kesalahannya sudah fatal chanyeol-ah, dia..tidak bisa dimaafkan dengan mudah”

“hyung” pekik Kai pelan. “jadi kau benar benar..”

“aku tidak sampai menyakitinya, dia masih hidup” ucap Baekhyun dingin, ia menghempaskan tangan Chanyeol dan pergi begitu saja. Membuat ke-empat orang itu heran. Bagaimana bisa Baekhyun seperti itu.

“hyung aku khawatir dengan Baekhyun hyung, aku takut terjadi sesuatu padanya” ucap Kyungsoo. Suho mengangguk paham. “sekarang yang terpenting adalah keadaan Sunghyo, aku yakin Baekhyun membawanya tidak jauh dari sini”

“ah bagaimana jika kita mencarinya sekarang hyung” ucap Kai yang langsung disetujui Kyungsoo dan Chanyeol. “baiklah, kalian carilah Sunghyo, aku yang akan menenangkan Baekhyun” perkataan Suho membuat Kai, Kyungsoo dan Chanyeol segera bergegas pergi. Sementara Suho hanya bisa menghela nafasnya panjang.

_

(Flahsback)

“kenapa kau tidak mau bertemu dengannya nak?” Sunghyo menitikkan air matanya. Ia meremas spreinya saat sakit itu tiba tiba datang. “ak aku” Eommanya memeluk badan Sunghyo. Disamping mereka seseorang dengan badan tegap tengah menunduk, menyembunyikan wajah sedihnya.

“appa tolong jangan beritahu Baekhyun oppa” laki laki itu mengangguk. Ia memandang Sunghyo miris. Selama beberapa hari ini Sunghyo mengalami penyakit aneh. Appa dan eommanya tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, karena penyakit ini pun tidak mereka ketahui apa penyebabnya.

“sunghyo-ah, baekhyun..dia perlu mengetahuinya”

“jangann! Appa aku mohon” Sunghyo mencoba menggapai tangan laki laki itu saat laki laki itu hendak pergi. “sunghyo-ah” pekiknya pelan menggenggam tangan Sunghyo yang terasa beku. “appa aku mohon” lirih Sunghyo.

Air mata gadis itu semakin keluar dari matanya. “Sunghyo” eommanya semakin memeluk gadis itu. Rasa sakitnya sedikit hilang, Sunghyo tersenyum. Ia tidak bisa melihat kedua orang tuanya menderita. Ia tidak ingin membagi penderitaannya.

“kau tahu Baekhyun menunggumu diluar, dia setia menunggumu hari ke hari” tutur eommanya. Sunghyo hanya bisa menatap kosong. Tidak perlu waktu lama untuk menyadari betapa cintanya laki laki itu padanya. Tidak perlu banyak waktu untuk menyadari kalau sekarang…dialah yang telah membuat laki laki itu sedih.

“setiap hari ia datang hanya untuk menanyakan keadaanmu Sunghyo, eomma sangat kasihan padanya” Sunghyo menunduk. Hatinya sangat perih, walau bagaimanapun ia tidak ingin laki laki itu tahu keadaannya sekarang.

“Baekhyun dia–

“Sunghyo” suara itu membuat keduanya serentak menoleh. Menatap sesosok laki laki yang tengah berdiri di dekat pintu. “oppa, sehun oppa” Sunghyo menatap laki laki itu terkejut. Tidak biasanya Sehun datang sepagi ini.

“sepertinya eomma harus meninggalkan kalian berdua” eomma Sunghyo lantas pergi. Sunghyo menatap Sehun yang sedari tadi hanya tersenyum padanya. “kau kenapa oppa?” tanya Sunghyo pelan, suaranya hampir serak karena tenggorokkannya pun merasakan sakit yang sama.

“bagaimana kalau kita jalan jalan?” Sunghyo menggeleng. Membuat Sehun menghembuskan nafasnya putus asa.

“oppa kau kan tahu aku tidak bisa keluar, aku ini…sudah seperti orang yang tidak waras” Sunghyo menunduk dalam. Sehun adalah sahabatnya, dan hanya Sehunlah yang selama ini menemaninya. Sebenarnya ia juga mengharapkan sosok Baekhyun ada disampingnya–membantunya menghadapi saat saat tersulitnya.

Tapi entah kenapa ia tidak mau membuat laki laki itu ikut menderita bersamanya.

“tentu saja bisa hyo-ah, kau kan bisa memakai ini” Sehun mengeluarkan sebuah jaket, sangat tebal sampai sampai bisa menutupi seluruh tubuh Sunghyo. “sehun oppa t-ta-tapi–

“jangan menolak hyo-ah, aku jamin kau bisa kajja” Sehun menarik Sunghyo. Sunghyo yang awalnya menolak sekarang hanya bisa menyetujui Sehun. Lagipula ia percaya pada Sehun pasti bisa menjaganya.

“kau bisa lihat kan hyo-ah ini indah sekali” Sunghyo mengangguk. Sementara sehun mengeratkan genggamannya pada bahu Sunghyo. “sayang sekali ya, padahal hari ini cerah” Sunghyo menunduk.

“hyo-ah, kau harus yakin suatu saat penyakitmu akan sembuh” Sehun tersenyum, ia memeluk gadis itu. Sedih, hatinya hancur melihat gadis yang dicintainya menderita. Bahkan untuk keluarpun susah. Sunghyo, ia menderita penyakit aneh yang membuatnya anti terhadap–sinar matahari.

Setiap melihat , ah jangankan melihat terkena sinar mataharipun ia pasti akan seperti orang yang tidak waras. Sunghyo pasti akan berlari jauh, badannya seakan remuk ketika bertemu dengan sinar matahari. Jangan berfikir bahwa Sunghyo adalah vampire, karena ia bukan mahluk penghisap darah.

Ia hanya takut, walaupun ia ingin. Tapi badannya menoleh hal itu. Belum lagi setiap pagi badannya akan menggigil dan memucat. Dan disaat itu Sunghyo akan kehilangan banyak darahnya, pendarahan yang hebat dan selalu dialaminya.

“hyung sepertinya kau harus pergi dari sini, kau tau kan Sunghyo..dia tidak mau bertemu denganmu” samar samar Sunghyo bisa mendengar percakapan Sehun dan…Baekhyun. Saat itu ia hampir saja telat kembali ke rumah dan bertemu dengan Baekhyun.

“memangnya kenapa? Aku ini tunangannya kenapa aku tidak bisa  bertemu dengannya?” Sunghyo menggigit bibir bawahnya. Sakit, tapi hal ini untuk meredam tangisnya. Ia bisa melihat Baekhyun yang mencoba menerobos dan Sehun yang terus menghalanginya.

Apa ia orang jahat?

Sunghyo menunduk, air matanya menetes perlahan. Membuat gaunnya basah. Ia benar benar orang jahat. Sampai kapanpun ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri karena telah menyakiti Baekhyun.

“hyung, dengarlah dia tidak ingin bertemu denganmu”

Deg… Sunghyo memegang dadanya. Ia menangis sesenggukan. Tidak tahan melihat wajah Baekhyun yang sedih mendengar hal itu.

.

.

“oppa, maafkan aku. Aku teralu jahat padamu oppa. Sampai kapanpun aku bahkan tidak akan memaafkan diriku sendiri. Oppa, aku tidak tahan lagi, aku teralu rendah untuk jadi pendampingmu. Jangankan kau, aku saja sudah jijik dengan diriku sendiri. Tolong jangan menangis karenaku nanti oppa, karena aku akan meninggalkanmu. Oppa , semoga kau akan menemukan penggantiku nantinya. Aku akan senang melihat kalian dari sana, dari alam yang aku tidak tahu dimana”

Baekhyun termenung, ia sedang berada tepat di samping jendelanya. Hembusan angin malam menerpa wajahnya. Perlahan kenangan itu terulang lagi, disaat ia menerima surat dari Sunghyo. Disaat ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa bahkan disaat terakhir Sunghyo. Ia ingin menyalahkan dirinya sendiri.

“Baekhyun-ah”

“hyung, kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?” Suho mendengus. Ia masuk ke kamar Baekhyun duduk di bangku yang ada disamping kasurnya. “kau pikir aku mau menunggu jawaban ‘aku tidak mau diganggu hyung’ darimu hah?”

“aku mengerti..lalu apa yang mau kau lakukan disini hyung? Jika kau ingin membicarakan tentang gadis itu sebaiknya lupakan” Baekhyun menghempaskan dirinya di kasur, menelungkup dan menyembunyikan wajahnya di bantal. Sementara Suho hanya bisa menggeleng melihat kelakukan Baekhyun.

“aku memang ingin membicarakan gadis itu, hey..kau tidak boleh seenak hati mengabaikannya baekhyun-ah” Suho bisa mendengar erangan kesal dari Baekhyun. Walaupun kedengarannya tidak jelas.

“dengarkan aku, gadis itu. Tetua memintaku untuk menjaganya, bukan hanya aku tapi kita ber-enam, walaupun Sehun tidak ada bersama kita”

“keunde, lalu?”

“lalu gadis itu disini, dia lupa ingatan kau ingat? Tapi matanya, garis wajahnya dia benar benar mirip dengan Sunghyo” Baekhyun mengangkat wajahnya. Ia menatap Suho dengan tatapan dingin. “hyung aku tidak suka kau kaitkan gadis itu dengan sunghyoku”

“ya..kau kira aku suka mengkaitkan kedua hal itu, Baekhyun ah, percaya atau tidak, kau sadari atau tidak bahwa ada yang aneh dengan gadis itu, aku tidak tahu dan juga tidak menafsir kau merasakan hal yang sama denganku, tapi   aku merasa bahwa Sunghyo masih ada”

Baekhyun memejamkan matanya. Ia berusaha tidak mencerna apa yang dikatakan Suho, menurutnya itu memang tidak benar. Tapi…

“Baekhyun-ah aku memang tidak percaya dengan reinkarnasi, tapi bukan berarti itu tidak benar kan, ahhh aku hanya ingin mengatakan hal itu padamu, setelah itu aku tidak akan memaksamu lagi”

Suara derap langkah Suho semakin menjauh. Baekhyun membuka matanya. Ada perasaan tersendiri di benaknya. Tiba tiba saja kenangan saat Sunghyonya dan Sunghyo tersenyum hadir begitu saja. “haaahhh” Baekhyun meremas rambutnya frustasi. “kenapa kau ada disini hyo-ah? Apa kau benar benar masih ada”

“ah tidak tidak, itu bukan dirimu hyo-ah, aku tidak akan mempercayainya”

_

Sunghyo mengerjapkan matanya. Badannya seakan remuk. Tapi tempatnya berada sekarang jauh lebih hangat. Ia menatap interior kamar ini, dipenuhi dengan warna gold yang tenang ,membuatnya sulit untuk mendeskripsikan perasaan sejuk dan damai berada di ruangan ini.

“kau sudah bangun?” Sunghyo membulatkan matanya. “mister dennis??” laki laki itu tersenyum. Sunghyo bangun dan duduk di senderan tempat tidur. “aku dimana?” tanyanya melihat kamar asing.

“kau ada di kamar putriku” Sunghyo menatap mister Dennis yang tersenyum, tapi ia bisa merasakan kesedihan disana. “putrimu?”

“benar, putriku. Tapi dia sudah lama meninggal” Sunghyo tertohok.

“m-maaf sudah mengingatkanmu mister” ucap Sunghyo menunduk. “gwaenchanna, ngomong ngomong kenapa kau ada ditempat itu, malam malam?”

“ah itu..aku..”
“pasti karena Baekhyun kan?” Sunghyo merutuki dirinya sendiri. Ia baru ingat jika Dennis bisa membaca pikiran. “sebenarnya bukan sepenuhnya salahnya”

“hahaha kau tidak perlu sungkan sungkan memberi tahuku, anggap saja aku ini…ayahmu” kekeh kecil mister Dennis. Membuat Sunghyo merasa senang. Ia tidak pernah melihat sisi lain Mister Dennis. Entah kenapa ada perasaan aneh dibenaknya.

_

Malam semakin larut, dan suara dari burung hantu dan aungan serigala terdengar sampai ruangan ini. Seseorang di dalamnya seakan tidak pernah takut dengan suasana seperti ini. Ia seperti sudah biasa mendengarnya. Suasana yang mencekam dan menakutkan membuat orang lain bisa mati karena sensasi aneh yang diciptakan.

“kau tidak tidur?” tanya Luhan , ia menatap adiknya yang sedang memainkan kucingnya. “aku tidak mengantuk”

“dasar aneh” ucap laki laki itu dingin. Ia meninggalkan adiknya di sana dan kembali ke kamarnya. Suasana gothic menghiasi seluruh permukaan kamar ini. Perabotan dan segalanya hampir semua bernuansa abad ke 70-an eropa.

Ia memandang ke luar jendela, manik matanya bertemu dengan bulan yang hampir menampakkan seluruh sinarnya. Ada senyuman sinis di wajahnya. Lalu dengan sekali dorongan tubuhnya sudah terhempas jauh ke luar. Tidak sakit sama sekali karena Luhan segera mendarat denga benar.

Ia menyusuri pepohonan yang tajam menjulang ke langit, membuat tempat gelap ini semakin gelap, tidak membiarkan sedikitpun cahaya yang masuk. “kenapa kau ada disini hyung?” laki laki dengan baju tanpa lengan itu menyapanya. Luhan sudah berada di dekat sungai, ia duduk di batu besar terdekat. Memandang laki laki dengan pakaian yang lusuh dan tak terurus-seperti biasanya.

“kenapa? Aku hanya ingin mengunjungimu” Luhan tersenyum, membuat laki laki itu heran dan menautkan alisnya. “ah kau pasti sudah menebak” lanjut Luhan. “aku kesini karena ingin membicarakan sesuatu padamu”

“aku sudah tahu” kata laki laki itu. “kau tak pernah datang ke sini dengan sukarela, pasti ada sesuatu yang mendesak” laki laki itu berdecak kesal, mengingta hyungnya yang satu itu tak pernah memikirkannya sama sekali.

“tapi ini sangat penting” tungkas Luhan. Ia beranjak mendekati laki laki yang sedang memukul mukulkan kayu digenangan air, membuat beberapa cipratan. “tapi hentikan dulu perbuatan konyolmu” ucap Luhan pedis.

Laki laki itu menghela nafasnya, ia kesal. “cepat katakan”

“aku ingin kau membantuku..

_

Sudah 2 hari setelah kejadian itu.

Sunghyo memandang tempat ini, tidak jauh berbeda dengan rumah yang dulu ditempatinya dengan ke-5 orang itu. Matanya menyiratkan kesedihan, kenapa ia bisa dengan mudahnya dibuang. Untung saja ada Dennis, jika tidak Sunghyo tidak akan bisa memikirkan nasibnya yang malang.

“aneh” desisnya pelan. Aroma itu tercium ladi di hidungnya. Ia begitu hapal dan sedetik kemudian ia sadar. “kenapa bunga ini ada disini juga?” Sunghyo memandang hamparan luas tanaman bunga matahari. Ia masih belum tahu apa penyebab bunga ini sampai digemari hampir semua penduduk di planet ini.

“kenapa kau begitu penasaran?” Sunghyo menoleh ke belakang, tersenyum menatap senyuman hangat Dennis. “mister” ucapnya pelan. Dennis memegang salah satu bunga. “bunga ini sangat indah” Sunghyo mengangguk membenarkan.

“kau apakah benar benar masih mempertanyakan alasan bunga ini digemari?”

“n-ne?” tanya Sunghyo, ia masih bingung mengontrol pikirannya bersama dengan Dennis. Dennis bisa membaca pikiran. Laki laki separuh baya itu memetik salah satu bunga lalu menaruhnya begitu saja di tangan Sunghyo.

“apa ini?”

“simpan saja”

Dennis berlalu meninggalkan Sunghyo yang masih terpaku. Ia menatap bunga itu. Walaupun terasa aneh tapi ia tetap menyimpannya.

_

“apa yang terjadi?” suara derap langkah kaki terhenti seiring dengan laki laki berjas putih itu duduk di salah satu sofa club malam. “sedang memikirkan sesuatu” Kris menyesap kembali minuman, ia menatap laki laki berjas putih itu sambil menyunggingkan senyuman singkat.

Mata laki laki berjas putih terhenti di deretan botol botol yang tampak kosong, ia menghela nafas pelan. Lalu berbicara sinis. “kau minum 5 botol, sangat menyedihkan” Kris menghentikan minumnya, moodnya sedang tidak baik.

“pantas saja terasa dingin, ternyata kau datang hyung”

“kau baru menyadari aku datang?” laki laki itu xiumin menanyakan, ia tampak terkejut. Pantas saja dari tadi Kris tidak berekspresi apapun. “aku tahu kau sedang mabuk”

“aku memang kuat minum, kau kan tahu, aku hanya…memikirkan Luhan hyung”

“ada apa dengannya?” tanya xiumin, ia mengambil salah satu botol dan menuangkan ke gelasnya yang sebelumnya sudah terisi es. Suasana clubbing yang berisik membuatnya bersemangat, ditambah lagi music yang mengalun keras dan orang orang yang asik dengan dunianya sendiri.

“dia..menawariku sesuatu” ucap Kris, tatapannya kosong. “apa itu?”

“tentang masa depan kita, memimpin planet itu” Xiumin hampir saja tersedak. Matanya membulat sempurna. “mwo? Planet itu..haha dia sedang menghayal”

“itulah yang aku pikirkan sekarang hyung, tapi perkataan Luhan hyung sepertinya tidak main main” Xiumin mengangguk. “aku akan menemuinya besok, ah lebih baik kita menikmati malam ini, jangan terus terusan berfikir tentang itu”

_

Baekhyun memejamkan matanya, ia tidak bisa benar benar terlelap. Pikirannya kalut, selalu saja bayangan gadis itu muncul setiap ia ingin terlelap, tanpa bisa ia kontrol. “haahh..” desahnya panjang. Ia beranjak, percuma saja tidur jika pikiran pikiran itu menghantuinya.

Matanya menatap jendela yang terbuka, ia dapat merasakan cahaya bulan tepat mengenai wajahnya. Terasa hangat, walau tak sehangat cahaya matahari. Rasa sesak mengalir di seluruh persendiannya dan berakhir pada jantungnya yang berdetak ratusan kali lipat. Ia memukul pelan dadanya.

Senyum itu, ia masih mengingatnya, saat gadis yang paling ia cintai datang padanya dan selalu menemaninya. Senyum itu membuat hidupnya kian berubah, lebih berwarna dan bermakna. Tapi siapa sangka jika ia kehilangan semua itu.

Hidupnya sudah seperti mayat. Tidak ada kekuatan sama sekali, hanya penyesalan yang beruntun yang selalu membuatnya putus asa.

“kau bodoh” ia tersentak, matanya menoleh ke bawah dari jendelanya. “kau”

“bukankah kau begitu bodoh”

Ia mengeram pelan, menatap orang yang berada di sana. “cepat kebawah” “mengapa?” tanya Baekhyun dingin. Ia baru saja ingin menutup jendelanya saat sebuah ucapan membuatnya terdiam.

“aku akan menceritakan tentang Sunghyo, semuanya, keluarlah”

_

Sunghyo melihat langit langit kamar, sangat indah menurutnya. Kamar ini seperti kamar seorang putri di istana. Semua furniture dan cat dinding berlapiskan warna emas. Memang bukan hal yang menakjubkan, tapi cukup membuatnya tenang ketika memperhatikan cahaya tersendiri yang ditimbulkan warna itu.

Ia memeluk bantal dan seketika itu matanya menatap bunga matahari yang tadi diberikan Dennis. Bunga itu juga sedikit berwarna emas. Sejenak ia berfikir, mungkinkah anak mister Dennis menyukai warna itu.

Malam semakin larut, matanya terpejam sedikit merasakan kantuk di sekujur tubuhnya. Ia terlelap.

Angin sejuk membawanya menyusuri taman ini. Bunga matahari seakan menjadi pemandangan wajib disini. Sunghyo melangkah, kakinya yang telanjang membuatnya bisa merasakan dinginnya embun pagi yang sejuk.

“du..du …du..

Sunghyo kaget, ia menatap gadis yang sedang bersenandung tak jauh dari tempatnya. Sekarang, sedang memainkan bunga matahari, memetiknya lalu menata rapi di tangannya, membentuk bucket indah. Gadis itu membelakanginya.

“hei..”

Sapa Sunghyo pelan, gadis itu terlihat diam sebentar, menyadari seseorang yang memanggilnya. Gadis itu perlahan berbalik. Sunghyo terhenyak.

“k-k-kau” gadis itu tersenyum kecil, Sunghyo menutup mulutnya menyadari siapa gadis itu. “kau..”

“aku” gadis itu menunjuk dirinya. Sunghyo terkejut setengah mati, tubuhnya lemas dan terduduk di rerumputan basah. “kau tidak apa apa?” gadis itu mendekatinya, Sunghyo merasakan detak jantungnya berpacu cepat. Saat gadis itu dengan tiba tiba menyentuh dahinya.

Tangan halus gadis itu membuatnya terdiam sebentar. “kau tidak sakit, apa kau..

“tidak..tidak apa apa hanya sedikit terkejut”

Gadis itu mengulurkan tangannya, bermaksud membantu Sunghyo.

Gadis itu menolongnya bangun. “aku Sunghyo” kata gadis itu pelan. Sunghyo hanya terpaku, bibirnya seakan membeku, menatapi gadis itu dari bawah sampai ujung rambutnya. Menyadari bahwa kecantikan gadis ini yang sebenarnya beratus kali lipat lebih cantik dibandingkan lukisan itu.

“aku..

“aku tahu”

Sunghyo sontak kaget, “kau..tahu siapa aku”

“iya benar” Sunghyo mengernyit. Gadis itu hanya bisa tersenyum. “kau adalah aku, aku tahu semuanya” gadis itu berlari kecil meninggalkan Sunghyo yang terpaku disana. Bibirnya kelu, dadanya sesak.

Ketika ia mencoba melangkah , ia merasakan sesuatu yang mengganjal jalannya. Bunga matahari itu ada disana. Ia menunduk mengambilnya, lalu sebuah peristiwa memenuhi otaknya.

_

“apa yang ingin kau katakan?” laki laki itu merapikan jaketnya, ia tersenyum pelan. Menatap sinis Baekhyun. “apa untungnya menjauhiku hyung, jika pada akhirnya kita tetap akan bersama” Baekhyun terkekeh. Ia menatap orang itu. “kau yang membuat semuanya begini”

“aku? Benarkah? Lalu kau tidak salah sama sekali?” laki laki itu terduduk di rerumputan. Memandangi langit malam dengan bulan yang hampir sepenuhnya terlihat. “lihat hyung, sebentar lagi akan purnama”

“…”

“hyung, aku ingat janjiku, aku akan menceritakan tentang Sunghyo” ucap laki laki itu akhirnya. Baekhyun sedikit mendengus. Ia duduk disamping laki laki itu. “ceritakanlah”

“hyung, apa kau mencintai sunghyo?” tanya laki laki itu. “cih, apa kau bodoh? Selama ini apa yang kau lihat dariku dan sunghyo?” tanya Baekhyun. “begitu lebih baik” ucap laki laki itu, Sehun.

“kuharap kau akan tetap mencintainya”

“itu pasti”

“hyung” Sehun menarik nafasnya, sebelum semuanya ia ceritakan. “Sunghyo juga sangat mencintaimu” lanjutnya. Sehun merutuki dirinya, mengatakan sesuatu yang menyakitkannya. “dia hanya menganggapku temannya selama ini, dihatinya hanya ada kau, walaupun aku mencoba meyakinkannya, tapi tetap saja dia lebih memilihmu”

Baekhyun terdiam, memberikan kesempatan pada Sehun. “aku selalu menderita saat melihatnya bersamamu hyung, karena sunghyo adalah temanku bahkan sejak kami kecil, tapi dia mencintaimu pada akhirnya, sangat miris”

“hyung, saat itu Sunghyo sakit ia menderita, bukan keputusan yang tepat saat ia memilih menjauhimu, tapi..dia rasa itu yang terbaik. Saat itu aku yang bersamanya. Penyakitnya sangat aneh, tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakit itu, saat pagi ia akan berlindung sebisanya dari cahaya matahari, dan malam hari ia akan lemas, badannya bahkan rapuh, untuk bicarapun sangat susah, yang aku tahu Sunghyo telah meninggal saat ia sedang duduk di taman belakang rumahnya”

Hening, Baekhyun masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia mulai mengingat Sunghyo lagi. Kematiannya pun begitu janggal.

“hyung, apa kau tahu dimana Sunghyo ah maksudku gadis itu berada?” tanya Sehun tiba tiba. Baekhyun menatapnya kaget. “kenapa..kau tiba tiba menanyakan hal itu?”

“i-itu ah tidak, hanya ingin mengetahuinya saja” kata Sehun. Wajahnya tersenyum aneh. “aku tidak tahu” ucap Baekhyun dingin. “hyung” pekik Sehun saat tiba tiba Baekhyun beranjak. “aku belum selesai bicara padamu”

“apa? Aku sedang malas bicara, aku lelah”

“hyung, aku ingin mengatakan padamu satu hal” teriak Sehun lagi. Baekhyun berbalik. “cepat katakan”

Sehun diam sebentar. Ia menatap Baekhyun dengan wajah sedih.

“aku..aku… aku hanya ingin kau menjauhinya hyung, aku menyukainya”

_

“maafkan kami mister, aku hanya sedikit lalai” Suho menunduk. Mister Dennis hanya bisa tersenyum. Walaupun pikiran Suho saat ini sangat kacau, ini berarti ia telah melalaikan tugasnya untuk melindungi Sunghyo.

“tidak apa, aku hanya ingin kau menjaganya, jangan teralu mengkhawatirkan Sunghyo” Suho tersenyum kikuk. “apa aku boleh membawanya ke rumah itu?” tanya Suho meminta persetujuan.

Mister Dennis tampak berfikit, sebelum akhirnya mengangguk.

_

Seryung membungkam mulutnya. Ia masih tetap bertahan. Dihadapannya Luhan sedang menjejalkan sesuatu. “kenapa kau tidak mau makan?” tanya Luhan sorot matanyanya menatap Seryung kesal, sesaat itu Seryung juga menatapnya penuh kebencian.

“kenapa kau masih mengurusku? Kenapa kau tak membunuhku saja sekalian”

“cih” Luhan mendengus, ia menatap Seryung lalu menaruh piring dengan roti disana. “aku tidak akan membunuhmu, belum saatnya” Seryung mati matiian menahan kekesalannya. “aku hanya ingin mengatakan padamu, bahwa semuanya baru dimulai, bukankah itu tandanya kau masih harus menikmati hari harimu?”

Luhan tertawa mengejek. “kau..” Seryung menarik tangannya, sia sia. Ikatan itu malah semakin menyiksanya.

“oppa~”

Sierra , gadis itu sudah berdiri di ambang pintu. “waeyo?” tanya Luhan. Ia sekarang beranjak dan menjauhi Seryung. “ada yang ingin bertemu denganmu” mendengar itu Luhan langsung saja pergi. Sedangkan Sierra ia memandang Seryung aneh.

“wae? Kenapa memandangku seperti itu?” tanya Seryung. Ia cukup kesal dengan kakak beradik itu, yang sama menyebalkannya. “ani, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu” ucap Sierra. Ia perlahan duduk di bangku, menatap Seryung tajam.

“apa kau ada hubungan dengan Kai oppa?” pertanyaan Sierra itu membuat Seryung terdiam. “kenapa hanya diam?”

“kenapa aku harus menjawabnya?” ucap Seryung tak kalah ketus dengan ucapan Sierra sebelumnya. “Kai, dia bukan siapa siapa untukku” perkataan Seryung membuat Sierra menatapnya menyelidik.

“tidak mungkin” Sierra berjalan mendekati Seryung. “ah mungkin saja, lagipula kau tidak ada apa apanya jika dibandingkan denganku” Sierra berjalan berbalik dan menutup pintu ruangan itu dengan keras.

“mwo? Apa yang dia katakan” Seryung masih memikirkan perkataan Sierra, tiba tiba saja gadis itu menyinggung hal yang tidak ingin dibahasnya. Dan kenapa juga gadis itu sengaja membandingkannya dengan dirinya sendiri.

_

“kenapa dengannya hyung?” Kyungsoo memandang Sunghyo dengan penasaran. Sorot mata Sunghyo terlihat kosong. Sedari tadi Sunghyo tidak banya bicara. Sesekali mengucapkan 1..2 kata. Selebihnya hanya tersenyum kaku menanggapi pertanyaan Suho.

“aku tidak tahu, apa ini semua karena..”

Seketika itu mata semuanya memandang Baekhyun yang baru saja datang ke ruangan itu. Baekhyun menatap Sunghyo sebentar, sedangkan Sunghyo tidak memandangnya sedikitpun. Bohong jika mengatakan Baekhyun tidak memikirkan gadis itu.

“kau yang paling bertanggung jawab atas semua ini, dan kau baru datang” Suho mendesis pelan, sedangkan Baekhyun hanya dingin menanggapinya. “itu..baguslah dia sudah kembali” Baekhyun kembali menatap Sunghyo.

“bagus? Kau tahu berapa tingkat kegugupanku berbicara dengan mister Dennis, dia adalah..”

“hyung!” Chanyeol menyenggol lengan Suho,sekedar mengingatkan atas apa yang ingin Suho katakan. Baekhyun hanya bisa menghela nafasnya, sedari tadi ia hanya bisa pasrah menjadi objek yang disalahkan-walaupun ia memang mengaku salah, tapi semua itu menyudutkannya.

Ia menatap gadis itu, sedari tadi Sunghyo hanya menatap lurus. Baekhyun sedkit kaget, karena sekarang gadis itu menjadi diam. Padahal sebelumnya ia sudah membayangkan luapan penuh kekesalan dari Sunghyo-tapi ternyata tidak ada sama sekali.

_

Sedari tadi Baekhyun hanya menatap gadis itu. Ia berdiri di ambang pintu, sedangkan Sunghyo sedang berada di taman belakang rumah. “apa dia baik baik saja?” tanya Baekhyun pelan. Sunghyo tidak pernah sedikitpun menyapanya, dan itu sudah membuatnya yakin bahwa gadis itu pasti membencinya.

Baekhyun sedikit bersembunyi saat tiba tiba Kai sudah berada disana. Matanya terus menatap kedatangan Kai yang tiba tiba. Kai duduk di bangku yang sama dengan Sunghyo, Kai menyapa Sunghyo dan Sunghyo menjawabnya. Sedikit membuatnya kaget, karena perubahan sikap Sunghyo.

Baekhyun menyalahi dirinya sendiri, ia merasa kesal. Kenapa disaat seperti ini jantungnya seperti tercabik cabik. Ada perasaan tidak rela saat Sunghyo hanya dingin padanya, dan untuk laki laki lain gadis itu tersenyum hangat.

###

“kau sendirian?” Sunghyo mengangguk. Kai tersenyum padanya. “apa kau marah pada Baekhyun hyung?” tanya Kai. Sunghyo menunduk, ia malas menjawab pertanyaan itu. “tidak” jawab Sunghyo pelan.

“kau sendiri oppa? Kenapa kau ke tempat ini?” tanya Sunghyo. Kai menghela nafasnya. “ada sesuatu yang mengganjal pikiranku” kata Kai lemas. Sunghyo menautkan alisnya. “apa maksudmu?” tanyanya sekali lagi.

“aku hanya merasa bimbang, disatu sisi ada seseorang yang aku rindukan, dan disisi lain ada seseorang yang mampu mengisi kekosongan hatiku” Kai menatap langit, matanya yang sendu perlahan terlihat berkaca kaca. Jantungnya terasa berat sekali, seperti ada sesuatu yang membuat dadanya sesak.

“oppa”

“hem?” tanya Kai, ia menoleh pada Sunghyo, mencoba tersenyum walaupun terkesan dipaksakan. “aku juga mengalaminya” jawab Sunghyo. Kai merasa kaget, tapi enggan meresponnya. “aku juga pernah merasakan hal yang sama, disaat aku harus bersama orang yang aku cintai, atau aku harus meninggalkannya demi kebaikannya”

Sunghyo menyender. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Tapi ia mengatakan hal itu pada Kai, mungkin akan sedikit mengurangi bebannya. “percayalah oppa, semuanya pasti akan terselesaikan”

Kai tersenyum. “darimana kau mendapat semua itu, kau sekarang tampak berbeda, apa sejak kejadian itu?” tanya Kai. Sunghyo menggeleng. “ani, aku hanya baru menyadari suatu hal. Walaupun tidak mungkin, tapi aku yakin semuanya pasti akan terselesaikan.

###

Sementara Baekhyun masih mengawasi keduanya. Matanya tidak bisa lepas dari keakraban Kai dan Sunghyo. Baekhyun ingin sekali mengetahui apa yang mereka bicarakan. Tapi ia tidak mampu pergi kesana.

“aku hanya ingin kau menjauhinya hyung, aku menyukainya” Seketika ia mengingat perkataan Sehun padanya. Baekhyun meremas otakknya, ia merasa bingung dengan perasaannya sendiri.

__

Ruangan ini dipenuhi 6 orang laki laki, dan seorang gadis yang tengah bermanja manja dengan kucing coklat kesayangannya. Meski begitu suasananya menjadi hening, mereka sibuk dengan pikiran masing masing.

“kau ada disini” Luhan menatap seorang laki laki. Dengan bros di jasnya. Dan matanya menatap Luhan dingin. “aku mendengar dari Kris, sepertinya ada sesuatu yang pasti akan kau beritahu padaku, maka dari itu aku datang”

Laki laki itu Xiumin, menyunggingkan senyum jokernya. Ya, wajahnya yang seperti Joker membuatnya memiliki senyum khas yang terbilang seram. Belum lagi aura yang ia pancarkan, seperti membekukan sekujur tubuh.

“memang benar, aku hanya ingin memberikan pelajaran yang sangat berharga pada mereka” Luhan menatap Sehun kilas, Sehun hanya bisa menundukkan kepalanya. “hyung, kenapa kau membawanya ikut? Bukankah akan menyusahkan kita saja” Lay, pria berambut pirang itu mengatakan sesuatu sambil menatap Sehun sinis.

“anio, dia adalah bagian dari kita” Luhan menepuk bahu Sehun. Sorot mata Sehun mengungkapkan kebingungan. “bukankah begitu?” tanya Luhan menuntut, wajahnya hanya dipenuhi senyuman. Lalu Sehun mengangguk, ia memaksakan senyuman.

“begitu” jawab Kris dingin. “kalau begitu aku akan pergi, aku masih punya banyak kegiatan” Kris langsung melenggang pergi dari ruangan itu.

“kenapa dia?” tanya Luhan menatap kepergian Kris kesal. “akhir akhir ini ia sering sekali pergi ke clubbing, aku tidak tahu mengapa” jawab Xiumin. Luhan mendesah kesal. “ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu” luhan menatap Sehun, Sehun hanya bisa mengangguk- lagi.

Sementara Xiumin , Lay , dan Tao hanya bisa menatapnya bingung. Tingkah Luhan begitu aneh, untuk apa ia mengajak Sehun. Padahal ia tahu sendiri Sehun berada di posisi mana yang tak semestinya ia ajak.

__

“hyung” Kyungsoo menyenggol lengan Suho pelan. “wae?” tanya Suho. Kyungsoo menunjuk nunjuk kai yang sedang tidak bernafsu dengan makanannya. “kenapa dia hyung?” tanya Kyungsoo. Akhir akhir ini Kai memang senang menyendiri, dan ia juga seperti tidak ada mood pada semua hal.

“mollayo, dia sangat aneh” Suho melanjutkan makannya.

Ditempat yang sama Baekhyun tampak sedkit melihat pada Sunghyo. Gadis itu belum menyapanya sedikitpun. Gadis itu masih terlihat tenang, makan dengan lahap. Chanyeol yang melihat gelagat aneh Baekhyun hanya bisa bingung. “yak aw” Baekhyun memegang jarinya. Ia meniup niup pelan, jarinya yang baru saja ia lukai.

“apa begitu seriusnya kau menatap sunghyo sampai tidak mengetahui yang mana daging yang mana jarimu” Chanyeol hanya bisa terkekeh pelan. Sedangkan Baekhyun mendengus kesal, Suho dan Kyungsoo menatapnya curiga.

“wae?” tanya Baekhyun dingin, ia mencoba melanjutkan makannya lagi.

“hyung, aku akan pergi” seketika semua orang heran melihat Kai yang beranjak dari duduknya tiba tiba. “yak kau mau kemana?” tanya Suho. Tapi percuma saja Kai sudah menghilang dari sana, kekuatannya memang teleportasi dan semuanya hanya bisa menghela nafas. Kai aneh sekali.

“ah hyung aku lupa” kata Kyungsoo tiba tiba. “apa lagi?”

“aku ada keperluan, untuk hari ini mungkin aku akan kembali ke seoul, aku ingin bertemu dengan appa dan eomma” Kyungsoo juga beranjak. Dari semua dari mereka, hanya Kyungsoolah yang memiliki keluarga berasal dari kaum biasa, atau manusia.

__

“aku tidak menyangka kau ternyata berkomplotan dengan mereka” Sehun memainkan daun daun disana. Ia menatap seseorang disana dengan tatapan sendu. “apa ? tidak usah menatapku dengan tatapan seperti itu, aku tak akan terpengaruh” Seryung kembali membuang mukanya.
“aku juga tidak ada pilihan”

Jawab Sehun membuat Seryung kaget. “aku tidak bisa memilih, aku rasa jika kau ada diposisiku kau pasti akan melakukan hal yang sama”

“tidak” ucap Seryung dingin. “bagaimana bisa aku mengkhianati mereka? Aku tidak sekotor itu”

Sehun tertawa pelan. “benar, semua perkataanmu benar, aku memang sangat kotor. Menampar diriku sendiri dengan mengkhianati mereka. Tapi ini semua karena aku memiliki perasaan”

“apa maksudmu?”

“aku rasa kau tak akan pernah tahu, aku juga punya perasaan. Aku berhak memiliki semua yang harus aku miliki. Dan semuanya ternyata bukan takdirku, bukankah itu tidak adil?”

Seryung menautkan alisnya.

“aku hanya ingin mengatakan bahwa semuanya baru saja dimulai, aku bahkan akan menjalankan rencana yang baru kami susun. Aku pastikan kau akan bertemu dengan sahabat sahabatmu”

“yak..apa maksudmu?” pekik Seryung kesal. Sehun hanya menyunggingkan senyumnya. “Sunghyo kau akan bertemu dengannya, disini” Sehun beranjak dari duduknya, tidak memperdulikan teriakan Seryung memanggilnya.

“maaf” ucapnya pelan, setelah menutup pintu ruangan itu.

__

Kai memandang kastil itu. Ia menundukkan kepalanya. “aku pasti akan menyelamatkanmu” ucap Kai pelan. Ia berjalan mundur ketika melihat seseorang yang baru saja keluar dari sana. “Sehun” Kai tidak menyangka bahwa donsaengnya ada di tempat itu.

Sehun tampak terdiam sebentar. Kai merasa bingung, dan takut. Takut jika Sehun sadar Kai ada disana. Sehun menoleh , itu membuat Kai spontan sembunyi di semak semak. Tapi ternyata tidak Sehun memandang bangunan itu hampa. Dari sorot matanya ia tampak sedih dan bingung. Dan setelah itu Sehun meninggalkan tempat itu, bersama dengan angin yang membawanya.

Kai keluar dari persembunyiannya. “kenapa dia ada disini?” tanyanya tak jelas. Berbagai pikiran menerpa otaknya. “apa mungkin dia…

__

“Kyungsoo” Ny dan Tuan Kim memeluknya hangat. “kau baru datang” perempuan separuh baya itu tersenyum. “appa, eomma aku merindukan kalian” kedua orang tuanya tersenyum hangat. Selama ini Kyungsoo selalu beralasan menyelesaikan studinya di Jerman agar orang tuanya tidak menaruh curiga.

“hyung” senyumnya mengembang lagi menatap hyungnya yang baru saja tiba. “kau sudah datang” orang itu tersenyum. Kyungsoo menatap hyungnya , Kim Jongdae. Begitulah nama itu terdengar tidak sama dengan namanya.

Kyungsoo memang bukan anak kandung keluarga ini. Ayah dan ibu kandungnya sudah lama meningal dan sekarang Ny dan Tn Kim selaku sahabat dari orang tua kandungnya bersedia merawatnya.

Sedangkan kakaknya Kim Jongdae, adalah seorang pengusaha kaya raya mengikuti jejak ayah angkatnya.

_

Kyungsoo menghempaskan tubuhnya di kasur, sudah lama ia tidak menikmati hal seperti ini. Kamarnya yang nyaman dengan warna biru menjadi warna dominan. Ia menatap keluar jendela. Taman yang luas dengan view pantai membuat matanya nyaman.

Ia memang diangkat di keluarga yang kaya raya. “Hyojin” matanya menangkap siluet seseorang yang tampaknya sedang bermain pasir. Karena sadar jika teriakannya tidak didengar maka Kyungsoo memutuskan untuk kebawah.

“oppa” Hyojin tampak terkejut dengan kedatangan Kyungsoo. Ia tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya saat laki laki itu tersenyum. “kau ternyata masih tetap sama, suka sekali ke pantai”

“oppa kapan kau kembali?” tanya Hyojin. “baru tadi” “aish, jinjjayo? Aku tidak sempat menyambutmu” Hyojin bersungut sedangkan Kyungsoo hanya bisa mengacak rambut wanita itu pelan. “kau ini”

Mereka tidak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya. Orang itu mengepalkan tangannya. Membuat kayu pohon di hadapannya terbakar hangus. Dan untung saja tidak menimbulkan suara yang keras.

_

Malamnya..

Sunghyo belum sepenuhnya terlelap dikamarnya. Ia sesekali membenahkan letak tidurnya. Matanya menatap bunga matahari yang hampir layu itu. Ia teringat semua kenangan yang ia lihat. Matanya terpejam merasakan rasa sesak di dadanya.

“kau harus mengatakan hal itu padanya sunghyo-ah, sebelum terlambat” suara itu. Ia terbangun. Menatap sekeliling kamarnya. Tidak menemukan sang pemilik suara. Akhir akhir ini ia memang sering kali mendengar suara aneh, suara seseorang yang menyuruhnya melakukan sesuatu yang membuatnya kebingungan.

Sunghyo mengatur nafasnya. Ia mengeratkan selimut. Badannya entah kenapa kedinginan. Angin itu membuatnya melihat lagi, jendela kamarnya masih terbuka bahkan sangat lebar sehingga menerbangkan gorden dan jelas membuat suhu luar masuk begitu saja ke kamarnya.

Sunghyo berjalan gontai ingin menutup jendelanya. Sebelum sebuah tangan menggapai tangannya. “oppa” pekik nya pelan. Menatap seseorang di luar jendelanya, tepatnya di balkon lantai 2.

“apa yang kau lakukan malam malam begini?” tanya Sunghyo. Laki laki itu menatapnya sendu, membuat Sunghyo mengingat kejadian itu lagi.

“aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” laki laki itu Sehun menatapnya sambil tetap tersenyum. Sunghyo terhenyak, “ta…pi ini sudah malam” jawabnya ragu ragu. Sehun menariknya pelan membuat Sunghyo terpaksa mengikutinya.

“apa kau percaya padaku?”

“apa maksudmu oppa?”

“apa kau percaya aku akan berbuat hal yang baik padamu?” tanya Sehun lagi. Sunghyo menautkan alisnya. “kenapa aku harus percaya? Aku yakin oppa akan berbuat baik padaku”

“benarkah?” Sunghyo mengangguk. “kalau begitu ikutlah denganku sunghyo-a”

“oppa apa yang kau lakukan?” Sunghyo menatap Sehun gelisah, ketika laki laki itu berjalan mendekatinya. “akh”

__

“akh” Baekhyun terbangun. Erangan itu seakan membuatnya sadar. Ia menatap sekeliling kamar. Merasakan perasaan aneh yang menderanya. Baekhyun menyingkap selimutnya. Berjalan keluar kamarnya.

Entah kenapa kakinya ini membawanya ke hadapan sebuah kamar. Baekhyun mengulurkan tangannya mencoba mengetuk pintu itu. “sunghyo” ucapnya pelan. “..” tidak ada jawaban. Baekhyun menepuk pipinya, meratapi tingkahnya yang konyol. Tentu saja tidak ada jawaban sekarang kan sudah malam. Semua orang pasti tengah tertidur.

Baekhyun melangkahkan kakinya menjauh. Tapi entah kenapa ia berbalik lagi, pikirannya kacau. “Sunghyo-ah kau sudah tidur?” tanyanya pelan. Ia menggengam ganggang pintu. Klik.. pintu itu perlahan terbukan.

Baekhyun kaget melihat pintu yang tidak terkunci. Ia membukanya perlahan. “Sunghyo” matanya membulat tidak menemukan gadis itu disana. “Sunghyo-ah kau dimana?” Baekhyun tampak cemas.

Kekhawatirannya bertambah ketika jendela kamar itu terbuka lebar. Ia melihat keluar jendela, tapi sama sekali tidak menemukan Sunghyo.

__

“eung..” Sunghyo menggeliat pelan. Ia masih memejamkan matanya, karena sejujurnya ia masih mengantuk. Perasaannya berubah berdebar, ia membuka matanya dan melihat seseorang membelakanginya.

“kau sudah bangun” orang itu mengucapkan tanpa melihatnya. Sunghyo mengucek matanya dan menatap orang itu lagi. “oppa kau kah itu?” tanya Sunghyo, ia sekilas melihat kamar ah bukan, ini bukanlah kamarnya. Lalu ia dimana?

“aku dimana oppa?” laki laki itu berbalik. Ia menatap Sunghyo sendu. “maafkan aku sunghyo” laki laki itu menunduk membuat Sunghyo sontak terkejut. “sehun oppa? Apa yang terjadi?” Sunghyo mendekati Sehun.

Perlahan Sehun menatapnya, lalu tanpa sebab Sehun memeluknya. Hangat, selama beberapa menit Sunghyo masih diam. Badannya terasa kaku, entah kenapa ia membiarkan laki laki itu memeluknya. “kenapa..kenapa kau minta maaf?” ucap Sunghyo.

“karena aku bersalah”

Sunghyo mengerutkan dahinya. Ia balas memeluk Sehun hanya untuk menenangkan laki laki itu. “aku yang paling jahat” kata Sehun lagi, perkataannya terkesan datar, hampir seperti lirihan. Sunghyo merasakan sesak didadanya.

“jangan berkata seperti itu” ucap Sunghyo. Sehun melepaskan pelukannya. “aku harus pergi” katanya lalu mengambil mantel di kursi terdekat. Meninggalkan Sunghyo yang hanya terdiam disana. “sunghyo-ah” Sehun berbalik sebelum ia menutup pintu. “aku minta, kau untuk tidak meninggalkan tempat ini sebelum semuanya selesai”

Blamm..

Sunghyo sibuk dengan pikirannya. Sebelum semuanya selesai. Apa maksud perkataan Sehun, kenapa tiba tiba ia meminta maaf lalu pergi. Dan dimana Sunghyo berada sekarang??

_

“apa yang terjadi hyung?” Kai yang baru datang hanya bisa bingung melihat Suho yang terlihat tidak tenang. “Sunghyo dia…menghilang” “mwo?” Kai terkejut. “dimana Baekhyun hyung?” tanyanya. “ah tidak, bukan karena dia kai”

Chanyeol menatap Baekhyun yang berada tidak jauh dari sana. “Baekhyun sepertinya terlihat menyedihkan” kata Chanyeol. “benar, kenapa dia yang terlihat begitu sedih” Suho masih penuh dengan semua pikiran yang mengganjal di otaknya. “apa yang harus aku katakan pada Dennis, dia pasti akan marah” desisnya frustasi.

“kita pasti akan menemukannya hyung” ucap Kai, matanya menatap kilas Baekhyun. Hyungnya yang satu itu terlihat tidak beres.
“ada yang aku ingin katakan padamu hyung” Suho sontak kaget. “ada apa?” tanyanya pada Kai.

“itu aku melihat..

“HYUNGG!!!!”

Suara teriakan itu membuat mereka semua kaget. Suho, Kai, Chanyeol dan Baekhyun sontak keluar. Disana Kyungsoo tengah kelelahan. Nafasnya tidak teratur. “apa yang terjadi?” tanya Chanyeol. Suho yang ada disana menyodorkan gelas yang berisi air pada Kyungsoo. “ah gomawo hyung”

“sekarang ceritakanlah”

“begini..tadi aku mendengar berita. Ini aneh, ada salah satu murid di sekolah kita yang mati dengan tidak wajar hyung” semuanya terlihat kaget. “b-ba gaimana bisa?” tanya Kai yang tidak mengerti dengan kejadian itu.

“ah aku juga tidak tahu”

“baiklah kita sebaiknya kesana sekarang”

__

Suasana hiruk pikuk memenuhi sekolah ini. Para Siswa-siswi sibuk membahas kejadian yang sangat aneh. Bagaimana seorang siswi disana yang mati begitu saja. Bahkan mereka menemukan murid itu seperti kehilangan nyawanya, karena tubuhnya tak sedikitpun terluka.

“aneh sekali” kata seorang siswa. “benar, sebelumnya Jiyoo tidak pernah sakit ataupun apa”

Kyungsoo dan yang lainnya yang baru datang hanya bisa mendengar semua itu dengan miris. Menatap mayat yang baru saja dibawa oleh petugas lainnya keluar dari sekolah. “ini aneh” gumam Kai. “kenapa tak ada satupun luka ditubuh gadis itu”

“apa pembunuhnya memakai cara lain mungkin dengan racun”

“tidak, tidak ada busa dimulutnya ataupun darah, itu bukan racun” Chanyeol mengangguk paham dengan perkataan Baekhyun. “lalu menurutmu apa penyebabnya?” tanya Chanyeol. “entahlah”

__

“kenapa kau menyuruhku ke tempat ini?” Baekhyun mendesah pelan. Menatap laki laki dihadapannya. “kata katamu mirip sekali dengan sunghyo” kata laki laki itu santai. “kenapa membawa namanya?”

“tidak, aku hanya mengingat putriku” Baekhyun mengerutkan dahinya.

“aku tahu kau sudah merasakan sesuatu yang aneh pada gadis itu” Kali ini Dennis duduk dihadapannya. “apa maksudmu?” tanya Baekhyun, masih terkesan dingin. “apa kau masih mencintai putriku?” pertanyaan itu membuatnya tertohok.

“pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku..masih” Baekhyun terlihat lemah. Ia tentunya masih mengingat Sunghyo bahkan mencintainya. “gadis itu adalah Sunghyo” perkataan Dennis membuat aliran darahnya seakan tercekat. “gadis itu..”

“benar, ini memang aneh. Tapi dia benar benar anakku, dia Sunghyo.” Baekhyun terpaku. Kenyataannya selama ini ia membenci gadis itu, karena selalu mengingatkannya pada Sunghyo, tapi kenapa dia…ternyata adalah gadis yang ia cintai selama ini.

“apa maksudmu? Ini terasa janggal”

“dengarkan aku, seberapapun kau mengelak, semuanya adalah kenyataan. Baekhyun kau tahu kenapa Sunghyo meninggal, itu bukan kehendaknya dan kehendak langit. Ia masih harus hidup. Maka dari itu semuanya terjadi. Ia adalah manusia sekarang. Aku yakin kau akan bingung, tapi Sunghyo masih hidup, dia masih ada”

Baekhyun meremas rambutnya, pikirannya berkecambuk. Dan seketika itu perasaan aneh memenuhi sel sel tubuhnya. Dan tak terasa air matanya jatuh, membayangkan bagaimana rasanya orang yang ia cintai ternyata masih ada.

“Baekhyun, maafkan aku. Akupun bukan ayah yang baik, atau mungkin aku bukan ayahnya lagi. Tapi Sunghyo..dia masih hidup.”

“bagaimana aku percaya ini semua? Semuanya sangat aneh? Kenapa ini bisa terjadi” Baekhyun menghentakkan kakinya. Memukul dirinya sendiri yang seperti orang bodoh. “jangan menyiksa dirimu, takdir adalah takdir, tak ada seorangpun yang tahu, tak ada seorangpun yang salah”

“karena kau tidak sepenuhnya ditakdirkan bersatu untuknya, kau adalah matahari sedangkan Sunghyo adalah bulan, kalian tidak akan bersatu untuk bersama. Tapi kalian ditakdirkan untuk memenuhi kekurangan kalian masing masing”

__

“kau sudah siap?” Suho menepuk pundak Baekhyun. Baekhyun mengangguk. Ia mengambil semua persiapannya. Dibelakangnya sudah banyak yang menanti. “tak apa , semuanya pasti akan selesai”

“benar” Baekhyun menguatkan dirinya. Hari ini , adalah hari yang paling membuatnya tegang. Baekhyun menatap langit, apa langit masih akan terus bersamanya? Apa sinar matahari akan terus meneranginya? Karena waktu hanyalah waktu, semuanya pasti akan berlalu bukan?

To Be Continued…

Iklan

7 pemikiran pada “Foreigners (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s