The Real Destiny (Chapter 7/END)

The Real Destiny

Title                 : The Real Destiny (Chapter 7) – [END]

Author             : @claraKHB

Rating             : T

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Romance, School Life

Main Cast        : Park Ji Eun

Xi Luhan

Other Cast       : Kim Jong In

And Other

DC                    : FF ini milik author dan jangan sampai meng-copast FF ini tanpa izin. RCL, gomawo ^^ maaf untuk typo(s). Happy reading.

Note                  : Bagi yang belum sempat baca chapter 1-6, ini aku kasih linknya^^

Chap 1: https://exofanfiction.wordpress.com/2013/08/13/the-real-destiny-chapter-1/

Chap 2: https://exofanfiction.wordpress.com/2013/08/22/the-real-destiny-chapter-2/

Chap 3: https://exofanfiction.wordpress.com/2013/08/31/the-real-destiny-chapter-3/

Chap 4: https://exofanfiction.wordpress.com/2013/09/14/the-real-destiny-chapter-4/

Chap 5: https://exofanfiction.wordpress.com/2013/10/15/the-real-destiny-chapter-5/

Chap 6: https://exofanfiction.wordpress.com/2013/10/23/the-real-destiny-chapter-6/

 

Review:

“Igeo~” ucap Luhan sembari memberikan boneka tersebut pada JI Eun.

“Yeey, gomawo~” jawab Ji Eun dan langsung memeluk boneka besar itu.

“Kajja kita ke tempat lain!” sahut Luhan bersemangat.

“Ne~”

Mereka pun berjalan melewati sepanjang jalan di Jinan dengan canda tawa. Entahlah, Ji Eun merasa begitu tenang dan nyaman berada di dekat Luhan. Ia tidak akan melupakan hari ini, hari yang menjadi saksi bahwa ia berhasil mengalahkan lara hatinya dan memilih untuk mengabaikan luka lamanya, Jong In.

‘Aku menyukaimu. Anni, aku mencintaimu Xi Luhan.’

 

 

———————————————–

Aku tidak pernah menyangka akan seperih ini rasanya. Entah mana yang harus kupilih? Persahabatankah? Perasaankukah? Atau… lebih baik aku berlari dengan menyisakan semua pertanyaan ini?

———————————————————————————–

~~~ The Real Destiny ~~~

(Author POV)

Sepasang mata sedang bergerilya menatap kebahagiaan dua insan yang sedang di mabuk cinta dan menghabiskan waktu-waktu paling ceria dalam hidup mereka. Dari tatapan matanya tersirat kebencian yang amat besar akan kebersamaan ‘calon pasangan’ tersebut.

Kim Jong In.

“Jadi ini yang kau maksud? Aku tak peduli jika harus menjadi rendah karena keegoisanku, yang aku tahu aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu. Park Ji Eun!” ujarnya dalam hati.

Di lain kondisi justru seorang Park Ji Eun hanya menganggap apa yang terjadi padanya kemarin hanyalah sebuah ujian. Dapatkah ia menolak Kim Jong In yang sangat ia cintai dulu bahkan sampai sekarang masih terbesit sedikit perasaan sayang padanya? Dan ia menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri?

‘Ya, aku mampu.’

“Ji Eun-ah~ tunggu disini sebentar. Aku harus menelepon seseorang.” Ucap Luhan seraya bangkit berdiri dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“Emhem. Yeojachingu?”  tanya Ji Eun dengan sedikit menggoda Luhan.

“Geurae aniya!” dalih Luhan secepat mungkin dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Pergilah. Aku akan menunggu disini.”

“Baiklah. Ingat, jangan kemana-mana.”

“Aku janji.” Ujar Ji Eun dengan selingan senyum yang terlalu manis itu.

Luhan pun meninggalkan Ji Eun di bangku taman.  Ji Eun memandang ke sekeliling taman. Ia tak pernah menyangka bahwa bunga sakura yang sedang bermekaran saat ini terlihat begitu indah. Namun, dirinya ternyata lebih indah, pikirnya. Ya, Xi Luhan ternyata lebih indah dari seribu bunga sakura yang bermekaran saat ini.

“Gomawo Xi Luhan.” Lirih Ji Eun kemudian tersenyum lepas.

Ia mengingat suatu hal. Kemarin Kim Jong In telah mencuri ciuman pertamanya. Jemarinya bergerak menyentuh bibir tipisnya. Namun ia tak menyadari bahwa sebenarnya ciuman pertamanya bukanlah dengan Jong In, melainkan dengan Luhan.

—– Flashback —–

Luhan menatap gadis yang sedang terbaring lemah di UKS saat ini. Gadis itu tertidur karena sedang sakit. Ya, Luhan begitu khawatir.

“Apa kau sakit?” lirih Luhan begitu pelan takut jika membangunkan gadis dihadapannya saat ini.

Setelah menunggu beberapa saat ia pun telah terlelap. Setengah jam ia tertidur dengan tangan yang menggenggam erat tangan Ji Eun. Namun saat ia terbangun, wajahnya nampak sedikit pucat dan khawatir.

“Hh.. setidaknya aku masih bisa melihatmu di dunia nyata, bukan?” ucapnya dan kemudian mendekatkan wajahnya keara Ji Eun.

Chu~

Ia pun mempertemukan bibirnya dengan bibir ranum milik gadis yang ia cintai itu. Sebuah kecupan singkat diman Ji Eun tak mengetahuinya dan hanya Luhanlah yang tahu.

Ia pun melangkah keluar ruang UKS dan kembali ke kelas.

—– Flashback End —–

 

Saat Ji Eun sedang menunggu Luhan yang belum juga kembali, tiba-tiba seseorang merangkul bahunya dari belakang.

“Eoh? Luhan?” tanya Ji Eun yang belum berani menghadap belakang karena begitu gugup. Dia pikir orang itu adalah Luhan.

“Anni.” Begitu orang tersebut membalikkan tubuh Ji Eun dan menghadapnya, mata Ji Eun membulat penuh dan terkejut.

“Jong In?” dan yang ditanyai hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Ji Eun melanjutkan pertanyaannya.

“Kau sendirian, bukan? Jadi aku akan menemanimu disini. Duduklah.” Jawab Jong In santai dan mempersilakan Ji Eun untuk duduk kembali.

“Tidak perlu. Aku hanya sedang menunggu seseorang.”

“Xi Luhan itu? Pria yang merebut perhatianmu yang semestinya untukku itu? Benar?” Jong In kini menatap nanar kearah Ji Eun.

“Apa ada yang salah disini? Aku telah berjanji untuk mengubur masa laluku dalam-dalam. Jadi jangan buat diriku mengubah keputusanku tersebut. Aku.. aku akan pergi sekarang.” saat Ji Eun hendak pergi, tiba-tiba suara berat Jong In menghentikan langkahnya.

“Kau belum menyukainya, Ji Eun.” Dengan napas yang menderu, Ji Eun membalikkan badannya dan kembali menatap tajam kearah Jong In.

“Apa yang kau tahu tentangku? Kau tidak tahu apa-apa. Jadi, hentikan omong kosongmu itu, Kim Jong In.”

“Aku tahu, maka dari itu aku mengatakannya. Aku salah telah melukai hatimu yang jelas-jelas saat dulu mengharapkanku. Aku salah telah menyia-nyiakan persaanmu begitu saja. Aku salah karena telah membuatmu menanggung semua rasa sakit hati karenaku seorang diri. Kumohon, maafkan aku.” Ujar Jong In yang mulai melembutkan tatapan mata serta suaranya terhadap Ji Eun.

“Aku telah memaafkanmu, Jong In. Tapi, kalau kau mengatakan hal ini untuk membuatku mengubah keputusanku, kau tidak berhasil. Maaf~ karena di hatiku saat ini hanya tertinggal seorang Xi Luhan yang aku inginkan, bukan lagi Kim Jong In.” kini ganti Ji Eun yang menjelaskan.

Dengan sigap, Jong In menarik lengan Ji Eun yang ternyata telah menitikkan air mata di pipinya dan memeluknya erat.

“Jika aku punya mesin waktu, aku akan mengembalikan semua dari awal dan mengambil kesempatan berharga itu. Kumohon jangan abaikan aku, Ji Eun~”

“Park Ji…”

“Lu.. Luhan?”

 

(Luhan POV)

Dua buah ice cream kini telah di tangan. Kurasa dia akan memilih yang rasa cokelat ini. Seharusnya aku pesan yang rasa cokelat saja semuanya. Ah, tak apalah.

“Park Ji…”

Ucapanku berhenti, begitupun langkahku. Napasku terasa begitu tercekat saat ini. Apakah yang aku lihat saat ini adalah yang sesungguhnya? Duniaku seakan berhenti di waktu ini juga. Mataku terasa panas dan seakan ingin mengeluarkan cairan dari dalamnya.

Tak terasa kini kedua tanganku mengepal kuat sehingga membuat dua buah ice cream cone yang kubawa sejak tadi menjadi remuk dan hancur.

“Lu.. Luhan?”

Seketika kulihat Ji Eun yang menggelengkan kepalanya dan melihatku dengan tatapan yang seolah berkata ‘ini bukan seperti yang kau pikirkan’. Kulihat pula kini tubuh seorang laki-laki yang memeluk Ji Eun tengah berbalik.

“Kau.. Xi Luhan?”

“Lalu?” setenang mungkin kujawab pertanyaannya yang kutahu dirinya adalah seorang Kim Jong In.

“Apa yang kau lakukan? Merebut segala perhatian Ji Eun yang semestinya untukku?” kutatap lurus ke manik matanya.

“Hh.. Kau yang terlalu bodoh, Jong In. Kau telah menyia-nyiakan perhatiannya selama dua tahun ini. Dan kini kau menyalahkanku? Dimana jiwa laki-lakimu?”

“Kau! Kalau kau mau melihat jiwa laki-lakiku, mari kita selesaikan ini secara laki-laki!”

“Andwae! Kau tidak boleh melakukannya, Luhan. Kumohon.” Aku menoleh kearah Ji Eun yang berusaha mencegahku.

“Dengan senang hati.” Namun segera kutatap kembali Jong In seraya tersenyum.

 

(Author POV)

‘Bukk!’

Dengan segera Jong In memukul wajah Luhan dan mulai menghajarnya.

“Hentikan! Kumohon hentikan!” pekik Ji Eun yang sama sekali tidak dihiraukan keduanya.

Mulanya Luhan dapat menghindar dari pukulan Jong In yang bertubi-tubi. Namun karena memang dirinya tak ahli dalam berkelahi, berbeda dengan Jong In yang merupakan anggota taekwondo, ia pun kehabisan tenaga dan mulai tumbang ke tanah.

“Luhan! Gwenchana?” Ji Eun menghampiri Luhan dan membersihkan darah di sudut bibir Luhan dengan jemarinya yang lentik.

“Kaupikir aku kenapa? Bodoh. Tentu aku tak apa.” Sentak Luhan seraya menepis tangan Ji Eun ditengah kondisinya yang mulai melemah.

Melihat Luhan yang mengatakan hal itu demi mendapatkan dirinya membuat hati Ji Eun tersayat begitu dalam. Entah apa yang sedang dipikirkan Luhan, gadis itu menganggap laki-laki dihadapannya kini begitu bodoh karena telah menerima tantangan Jong In.

“Kau yang bodoh! Kau tak bisa berkelahi. Jangan teruskan! Kumohon hentikan!” Ji Eun mulai mengalirkan cairan bening dan menganak sungai di pipinya.

Tanpa menjawab permohonan Ji Eun, Luhan kembali bangkit dan melawan Jong In. Ji Eun tak mampu mengatakan apapun, lidahnya terlalu kelu untuk berkutik.

“Kau masih punya tenaga ‘kan, Kim Jong In?” tanya Luhan menantang Jong In.

“Kau belum menyerah rupanya? Hh. Kau mengambil keputusan yang salah.”

Dan mereka pun kembali beradu otot dengan berkelahi. Ji Eun yang masih terduduk lemas tak berani sedikit pun menoleh ke belakang dan menyaksikan perkelahian antara orang yang dulu ia cintai dengan yang ia cintai saat ini.

Perkelahian ini berlangsung cukup lama karena Luhan yang tak mau menyerah dan kondisi sudut taman yang tak terpantau banyak orang dan patroli yang bertugas.

Hingga akhirnya Ji Eun mendengar suara tubuh yang terjatuh begitu keras.

“Kau tak akan mampu!” cerca Jong In pada lawannya, Luhan.

“Apa katamu?” Luhan mencoba bangkit namun tubuhnya terlalu lemah sehingga membuatnya kembali tersungkur ke tanah.

“Hentikan.. kumohon hentikan..” lirih Ji Eun disela-sela tangisannya.

“Aku terlalu takut menyaksikan ini. Jadi kumohon kalian.. berhentilah berkelahi seperti anak kecil!”

“Park Ji Eun?” Jong In menyahuti.

“Kubilang hentikan!” pekik Ji Eun.

Ji Eun kemudian bangkit berdiri dan dengan tungkai yang terasa lemah ia mulai melangkah pergi. Namun sedetik kemudian ia menghentikan langkah kakinya.

“Kim Jong In~ kumohon jangan perlakukan hal ini lagi padanya. Aku benci  melihat semua ini. Dan sekali lagi aku katakan, aku tidak lagi mencintaimu. Kau bukanlah seseorang yang aku nantikan saat ini. Karena aku..”

Nampak bahu Ji Eun naik kemudian turun karena menghela napas pelan sebelum kembali berucap.

“Aku menyukainya. Anni, aku mencintainya. Xi Luhan.”

Setelah berucap demikian, Ji Eun pun melangkahkan kakinya menjauh dari medan perkelahian sengit itu. Keduanya masih termangu dan tak berkutik terlebih Luhan hingga akhirnya Jong In membuka mulutnya.

“Hh.. sekuat apapun aku berusaha aku tetap saja kalah. Kali ini aku tak akan memaksa dan egois padanya.” Suara Jong In terdengar parau di telinga Luhan.

“Kau?” Luhan memastikan apa yang ia dengar  barusan.

“Namun jika suatu saat kudapati hatinya terluka karenamu, maka aku tidak akan segan-segan menghabisimu dan merebutnya darimu. Kau mengerti?” ucap Jong In kemudian membantu Luhan berdiri. Setelahnya, ia mulai meninggalkan Luhan seorang diri yang masih mematung tak percaya.

“Park Ji Eun? Kau mencintaiku?” lirihnya dengan suara serak.

Dan dengan sisa-sisa tenaganya, Luhan berlari kecil mencari keberadaan Ji Eun. Ia yakin, gadis itu belum terlalu jauh untuk ditemukan.

Benar saja, kini nampak Ji Eun yang sedang duduk dengan kepala yang tertunduk menatap tanah di halte bus. Hati Luhan lega karena berhasil menemukannya.

“Kau menangis karena perasaanmu atau menangisiku, nona Park?”

Ji Eun menengadahkan kepalanya dan melihat samar kearah sumber suara karena air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.

“Micheoseo?” ucap Ji Eun dengan ekspresi datarnya.

“Maksudmu? Apa yang kau katakan?”

“Apa kau sudah gila menantangnya seperti itu? Apa kau ingin terlihat seperti seorang pahlawan? Begitukah?”

“Dengarkan aku dulu…” jawab Luhan seraya tangannya menyentuh pundak Ji Eun. Namun dengan cepat gadis itu menangkisnya.

“Aku tidak mau dengar apapun darimu. Kau saja tidak mau mendengarkan aku.”

“Park Ji Eun~” kini tangan Luhan beralih menyentuh kedua pipi Ji Eun. Dan itu berhasil membuat darah Ji Eun berdesir yang kemudian membuat kedua pipinya memerah dan memanas seperti udang rebus.

“Ap.. apa yang kau lakukan?” Ji Eun bertanya dengan terbata-bata.

“Aku bukan ingin terlihat seperti seorang pahlawan. Justru kau telah membuatku seperti seorang pecundang yang memohon pertolongan dari seorang gadis.  Apa itu tidak lucu? Menggelikan bagiku, dan mungkin juga bagi Jong In. Namun yang ingin kukatakan padamu… Kau. Kau telah curang dengan mencuri start.” Ujar Luhan.

“Maksudmu?”

“Aku menyukainya. Anni, aku mencintainya. Xi Luhan.  Begitu, ‘kan?”  mendengar pernyataan Luhan barusan membuat pipi Ji Eun semakin memerah karena malu.

“Le.. Lepaskan!” ucap Ji Eun berdalih seraya tangannya melepaskan tangan Luhan yang masih menyentuh kedua pipinya lembut..

“Seharusnya kata-kata itu harus terucap dari mulutku, Park Ji Eun. Kata-kata itu milikku dan hanya kutujukan pada satu orang. Kau.”

“Lalu?”

“Aku mengatakan ini hanya sekali dan tak akan kuulangi, jadi dengarkanlah baik-baik.”

Luhan mengambil napas panjang sebelum akhirnya berucap. Matanya memancarkan ketulusan dan pandangan penuh kedamaian didapatkan Ji Eun di sana.

“Aku menyukaimu. Anni, aku mencintaimu Park Ji Eun.”

Entah apa namanya, mungkin saat ini hati Ji Eun sedang melonjak kegirangan mendengar pernyataan Luhan yang begitu akrab di telinganya. Dengan tersenyum, Ji Eun membalas ucapan Luhan.

“Dan kau pernah berhutang padaku. Saat itu kau bilang suatu saat aku akan mengetahui alasanmu diam-diam mengikutiku dan selalu ada di dekatku saat aku merasa begitu kacau. Apa maksudmu?”

“Bukankah kau sudah mendengarnya? Karena aku mencintaimu. Dangsineun jeongmal saranghamnida, Park Ji Eun.” Tegas Luhan kepada Ji Eun.

“Benarkah?” Ji Eun tak menyangka bahwa seseorang yang ia nanti-natikan bukanlah Kim Jong In, melainkan Luhan. Hanya saja ia tak pernah menyadari itu. Sesuatu yang nyata yang benar-benar ada untuknya, bukan fiksi bukan sekedar karakter seperti di dongeng belaka.

Luhan mendekat dan memperkecil jarak antara mereka berdua hingga akhirnya tiada jarak diantara mereka.

“Jangan pernah ragukan diriku… saranghae~” ucap Luhan pelan dan..

Chu~

Bibir mereka bertemu untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini keduanya dalam keadaan sadar dan benar-benar tahu apa yang mereka lakukan.

Sebuah kecupan yang begitu tulus dan tidak ada nafsu di dalamnya. Suatu kecupan yang menandakan awal dari kisah cinta bahagia kedua insan yang yakin bahwa mereka bertemu saat ini bukan karena suatu kebetulan, melainkan Tuhan yang mempertemukan mereka berdua untuk bersama.

—–

‘Inikah yang dinamakan akhir bahagia pada setiap kisah? Akhir bahagia yang kupikir hanya kutemukan dalam kisah di setiap dongeng? Akhir bahagia yang kupikir tak akan pernah kuraih?

Ini indah.. bahkan terlampau indah. Tuhan memang adil, Ia tak pernah membuat rencana yang buruk. Ia selalu menyediakan jalan keluar pada setiap masalah, hanya bagaimana kita yang mengambil jalan itu dan menyelesaikannya.

Aku yakin, dialah yang benar-benar untukku. My real destiny.’

~~~ The End ~~~

Finally! Thanks to God, because of Him i can complete this fanfiction and to all my bestfriend especially @ekaputDN @mahnurma and surely @nhararava ! thank you guys and to my eonnie @chemaindoka thanks for all you’ve give to me.

To every admins who with the kindness of heart want to publish my ff^^

And everything to all readers ! 😀 JEONGMAL GOMAWO ~ you’re the best chingu!!

And don’t forget to follow my blog : claraaprillia.wordpress.com , thankyou :*

Iklan

25 pemikiran pada “The Real Destiny (Chapter 7/END)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s