Chanyeol Appa! (Chapter 3)

Part 3

 

Tittle    : Chanyeol Appa!

Part  3 : “Welcome My Daughter” 

Lenght : Chaptered

Rating  : PG 13+

Genre : Comedy, Romance and Family

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Twitter : @JiRa_deeFA

Main Cast : ChanYeol EXO-K (Park Chan Yeol)

                     Hwayoung (Ryu Hwayoung)

                     Baek Hyun EXO-K (Byun Baek Hyun)

                     Ara Hello Venus (Yoo Ara)

                     Suho EXO (Kim Joon Myun)

                     Aleyna Yilmaz Ulzzang Baby (Park Shin Hye)

Cuap-cuap Author : Ini FF kedua setelah FF ‘100 Ducks’ rampung di selesaikan. Author amatiran ini ingin berterima kasih bagi yang sudah baca di part sebelumnya. Tinggalin jejak setelah baca ya ^^, baik itu berupa kritik maupun saran, atau yang lainnya. Don’t be Silent Reader. Thank you.

Read and Comment.

====================================================================

@Apartemen

            Gadis kecil bermata bulat dan berambut hitam bergelombang berdiri dengan melipat kedua tangannya didepan sebuah pintu apartemen. Kulitnya yang putih mulus terasa panas akibat sengatan matahari. Sesekali ia membetulkan rambutnya yang terhiasi bando pita polkadot. Wajahnya sama sekali tidak tersenyum, karena lututnya terasa pegal, dari tadi ia terus melompat untuk dapat meraih bel pintu yang tingginya melebihi dirinya.

            Di dalam kamar apartemen, Chanyeol sedang fokus di depan laptop dan berusaha mengabaikan pencetan bel yang tidak berhenti dari tadi. Merasa berang, ia keluar untuk memeriksa siapa yang mebuat gaduh konsentrasinya. Ia membuka pintu dan melihat seorang gadis kecil di hadapannya dengan sebuah koper berwarna pink yang di atasnya terdapat sebuah tas kecil berbentuk ‘shaun the sheep’. 

Nuguseyo?” tanyanya sambil bersandar di samping pintu dengan kacamata di taruh di atas kepalanya.

Tidak ada jawaban darinya, gadis itu malah melemparkan tas ‘shaun the sheep’nya tepat ke dada Chanyeol. Dengan mata terbelalak Chanyeol menangkapnya. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, tanpa permisi gadis kecil itu masuk dan menyuruhnya untuk memasukkan koper miliknya.

 “Nuguseyo?” geramnya.

Gadis itu berbalik dan menyibakkan rambut panjangnya.

“Apa karena sudah lebih dari tiga tahun tidak berjumpa, lalu kau lupa siapa aku?. Tanpa berpikir panjang, kau beri aku nama seperti aktris favoritmu. Tidak ingat?. Kalau begitu, perkenalkan. Naneun Park Shin Hye imnida. Sudah ingatkah?, Appa?”

Appa?, sebuah kosa kata yang menyadarkan Chanyeol dari tidurnya. Sebuah kata yang berasal dari mimpi buruknya dan membuatnya hampir gila. Tiga tahun delapan bulan bukanlah waktu yang singkat. Terbiasa dengan kehidupan selama itu hanya sendirian, membuatnya merasa nyaman hingga melupakan kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan tentang dirinya yang menikah dan memiliki seorang putri.

Ia memandang putrinya yang duduk manis di sofa. Ia benci sekali melihat wajah itu, wajah yang begitu mirip dengannya.

            “Eomma dimana?” tanyanya sambil membereskan barang-barang milik Shin Hye.

            “Seperti biasa di Ilsan. Katanya dia sudah dapat pekerjaan. Hari ini hari pertamanya”

            Tatapan mata Shin Hye terlempar ke setiap sudut ruangan. Semua sudut di penuhi oleh kertas-kertas dan buku-buku yang berserakan. Jaring laba-laba yang sudah menebal di langit-langit. Dan debu tebal yang menyelimuti kursi dan meja. Tempat ini lebih pantas di sebut gudang dari pada sebuah apartemen.

            Shin Hye lalu menunduk ke bahwa tempat tidur Chanyeol. Ia mengambil sesuatu dari sana dan menuju ke dapur untuk menghampiri Chanyeol yang sedang membuat banana juice dan toast untuknya.

            Brukk…Shin Hye membanting beberapa majalah dengan cover ‘bikini girls’ di atas meja makan.

            “Kau baca majalah seperti ini?” tanyanya kesal.

            Seketika wajah Chanyeol berubah merah, lantaran marah, malu dan kesal. Majalah yang selalu di sembunyikannya. Majalah yang dilihatnya sebagai penghibur ketika sedang depresi berat.

            “Daebak!. Pantas saja kau belum lulus kuliah!”

            “Ini punya teman appa!. Jangan sembarangan menuduh!”

            “Appa?, sejak kapan kau jadi ayahku?”

            “Lalu?, menurutmu aku siapa?. Pengasuhmu?. Ya!, kau tidak di ajarkan sopan santun oleh ibumu?. Dasar Hwayoung tidak becus!”

            “Kau mengatai ibuku?. Berani sekali anak kecil yang tidak bertanggung jawab sepertimu mengatai ibuku. Kau mau ku adukan pada ibumu?, agar uang bulananmu di potong?” tantang Shin Hye.

            Saat itu juga, rasanya Chanyeol ingin memasukannya ke dalam kulkas dan mengirimnya ke kutub selatan, agar mati membeku. Emosinya memuncak ia masuk ke kamar dan memabanting pintu. Sementara Shin Hye aneh melihat Chanyeol yang tiba-tiba marah. Tidak tergambarkan hubungan antara anak dan ayah dari mereka.

            Tak berapa lama kemudian, bel pintu berbunyi. Chanyeol langsung membukanya. Raut wajah senang tergambar di wajahnya. Akhirnya sahabatnya Byun Baek Hyun datang. Ia langsung menariknya ke dalam kamar. Belum sempat Baek Hyun bertanya sesuatu. Chanyeol langsung berlutut di hadapannya.

            “Bantu aku!. Aku mohon bantu aku!. Kalau begini caranya, jangankan untuk menyelesaikan skripsi. Untuk bernafaspun aku tak mampu. Tolong bantu aku!”

            Seperti dapat membaca apa yang ada di fikiran Chanyeol, Baek Hyun buru-buru menjawab ‘tidak’.

            “Kau menyuruhku menjaga putrimu?. Tidak!.”

            “Baek, aku tau kau begitu tampan. Wajahmu bagai malaikat. Tolong aku!. Kau tau sendiri kan?. Uang bulananku pas-pasan. Lagi pula, kau kan banyak uang. Kau hanya perlu mencari pengasuh baginya”

            “Sihreo!. Diluar sana orang bisa mengurus sampai tujuh orang anak. Kau hanya punya satu saja, mengapa rasanya begitu repot. Sudahlah, aku ada kencan”

            Seperti di drama, Chanyeol mencegat Baek Hyun pergi dengan menggenggam tangannya erat dan memberikan tatapan begitu miris. Ia berharap belas kasih dari sahabatnya.

            “Ok!. Hanya untuk hari ini” pasrah Baek Hyun yanh tidak tega melihat puppy eyes Chanyeol.

            Di balik pintu Shin Hye mendengar semua percakapan Chanyeol dan Baek Hyun. Shin Hye menatap Baek Hyun yang keluar dengan tatapan kesal.

            “Annyeong…” sapa Baek Hyun.

            “Jangan sok akrab!” balasnya, lalu menatap Chanyeol yang keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi.

            “Kau bersama Baek Hyun samchon, appa ada kepeluan di kampus. Nanti appa jemut” jelas Chanyeol.

            “Kau mau menjualku?”

            “Mwo?. Ya!, walaupun aku menjualmu, kau tidak akan laku. Tidak ada orang yang mau dengan anak cerewet sepertimu. Jangan nakal!. Appa pergi dulu”.

            Baek Hyun menatap wajah Shin Hye yang kelihatan kesal seperti ingin menangis.

            “Heol!. Appa macam apa dia!.” gerutunya. Baek Hyun lalu menarik tangannya.

***

            Didalam mobil Baek Hyun berusaha membuat Shin Hye tersenyum. Baek Hyun berusaha memberikan pengertian padanya. Suasana terlalu diam, Baek Hyun menghidupkan lagu Crayon Pop untuk membangkitkan situasi. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, wajah Shin Hye semakin kesal, ia sampai menutup kedua telinganya.

            “Ice cream?” tawar Baek imut saat melihat toko ice cream di samping jalan.

            “Satu banding sepuluh juta anak di dunia tidak menyukai ice cream. Dan aku termasuk yang ‘satu’ itu” jawabnya.

            Baek Hyun tersenyum, nada saat Shin Hye marah begitu mirip dengan Chanyeol.

            “Senyum?. Jangan sok tampan” ketusnya lagi. Kali ini Baek Hyun benar-benar kehabisan kata-kata. Perasaannya mulai tidak enak. Bagaimana ia bisa kencan dengan lancar kalau ada bocah kecil yang mulutnya lebih tajam dari pisau yang sudah di asah seribu kali. Bulu kuduknya merinding memikirkannya.

@Love Café

            Tak terhitung lagi berapa kali sudah gadis ber-eyeliner tebal itu menatap wajahnya di cermin. Dress mini berwarna lavender dan memperlihatkan belahan dada, membuatnya terlihat lumayan cantik. Namun lebih tepatnya ‘sexy’.

            “Oppa, kau milikku hari ini” gumamnya saat melihat cermin.

            Gemerincing bel berbunyi, gadis itu langsung melirik siapa yang datang. Ternyata Baek Hyun dan seorang anak kecil yang tidak di kenalnya. “Nugu?” batinnya. Dari jauh Baek Hyun telah melempar senyuman mautnya. Membuat gadis bernama Yoon Mi itu, tersipu malu.

            “Nuguseyo oppa?. Auu…kyeowo…” Yoon Mi ber-aegyo sambil mencubit pipi Shin Hye nakal.

            “Sepupuku” jawabnya asal sambil mengedipkan mata ke arah Shin Hye. Mata Baek Hyun tak bisa fokus lantaran baju Yoon Mi yang terlalu terbuka. Sehingga tatapannya tak bisa tepat ke wajahnya, naluri laki-lakinya mengarahkan matanya pada belahan dadanya.

            “Mau merayuku?, kau kira, kau yang paling sexy?. Sayangnya tidak mempan” batin Baek Hyun berbicara.

            “Adik manis mau makan apa?. Biar eonni yang pesan” Yoon Mi berusaha kelihatan baik di hadapan Baek Hyun. Shin Hye menunjuk asal menu makanan.

            Sudah hampir satu jam Yoon Mi tak henti-hentinya berbicara. Dari mulai menunjukkan aegyonya dan sesekali mengibaskan rambutnya untuk menarik perhatian Baek Hyun. Baek Hyun sendiri hanya mengangguk sambil tersenyum terpaksa.

            “Aku mau pulang” potong Shin Hye saat Yoon Mi sedang bercerita tentang temannya.

            “Tunggu sebentar ya” jelas Baek Hyun.

            “Oppa, jangan pulang dulu. Oppa sih, bawa-bawa dia. Kan jadinya terganggu” sahut Yoon Mi menatap Shin Hye kesal.

            “Kau sebodoh itu?” Shin Hye bertanya pada Baek Hyun.

            “Lihat, saat tersenyum wajahnya terlalu ketat, ia tidak bisa tertawa terlalu banyak. Bibirnya terlalu besar dan aneh untuk di katakan sexy. Ukuran kedua matanya tidak sama. Hidungnya mancung kecil seperti nenek sihir. Tidakkah dia terlalu aneh untuk seorang gadis?. Dia palsu!”

            “MWO??. Kau anak kecil tidak tahu sopan santun. Kau mau menantangku?. Oppa, lihat dia!” Yoon Mi mengadu pada Baek Hyun. Namun Baek Hyun pura-pura tidak mendengarkan apapun, ia tetap meneguk segelas americanonya.

            “Eonni, aku doakan operasi kali ini berhasil. Kaja samchon!

            Seluruh isi café menertawai Yoon Mi, andaikan semua benda mati di tempat itu hidup mereka pasti akan tertawa sampai terguling-guling.

***

            Baek Hyun duduk di kursi kemudi dan menyalakan mobilnya. Tangan kanannya memegang setir kemudi, dan yang sebelah kirinya menutup mulutnya. Ia menatap Shin Hye dan mengingat lagi kejadian tadi, sontak tawa keras keluar dari mulutnya. Ia sampai geleng-geleng kepala. Sungguh sulit di percaya anak umur enam tahun berbicara seperti itu.

            “Andai saja kau bukan anak kecil, aku sudah jatuh cinta padamu”

            “Maaf aku tidak tertarik pada laki-laki playboy yang suka bermain api” tegas Shin Hye.

            “Siapa yang mengajarimu?”

            “Eomma bilang, kalau ada laki-laki yang merayuku. Maka aku harus jawab, ‘aku tidak tertarik pada laki-laki yang ketampanannya tidak bisa di sejajarkan dengan kecantikanku’, atau ‘kau masih sangat jauh dari tipeku’, atau ‘aku tidak tertarik pada laki-laki playboy yang suka bermain api’.”

            “Wuah!. Ibumu mengajari hal seperti itu?. Ibumu benar-benat hebat.”

***

@IT Company

            Pagi telah berganti menjadi malam. Walaupun hanya pegawai bawahan, pekerjaan Hwayoung bukanlah pekerjaan yang mudah. Dari mulai membantu menfotocopy laporan yang menggunung, mengeprint bahan milik atasan sampai menyiapkan ruang untuk rapat. Hari ini bagitu panjang dan lelah baginya.

            Lampu di ruang rapat telah di matikan, Hwayoung masuk ke dalam untuk merapikan kursi-kursi dan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

            “Shin Hye-ya, bogoshippo. Bogoshippo. Shin Hye-ya…” gumamnya. Ia merasa hampa tanpa Shin Hye di sisinya.

            Sebuah suara langkah kaki mengusik kerjanya. Dan tiba-tiba ada sebuah tangan memegang punggungnya dari belakang. Sontak, ia bereriak dengan kencang.

            “Andweeeeeeeeeee……………”

            “Kau tidak apa-apa?” tanya seseorang yang lalu menghidupkan lampu dengan nada khawatir. Saat Hwayoung menoleh ke belakang, ternyata ia Kim Joon Myun, manajer divisi satu di perusahaan ini. Refleks ia langsung memberi salam dan membungkuk hormat.

            “Maaf sudah membuatmu terkejut” katanya.

            “Tidak apa-apa”

            “Sudah malam, pulanglah. Dari tadi saya mendengar ada suara menyebut nama Shin Hye terus. Karena penasaran makanya saya masuk ruanganan ini. Penggemar Park Shin Hye?”

            “Animida bag gwanrija (pak manager), itu nama anak saya” ujarnya.

            “Pulanglah, putrimu pasti menunggumu di rumah”

            “Terima kasih, tapi dia sedang di Seoul bersama ayahnya”

            “Benarkah?. Kalau begitu saya duluan. Hati-hati!. Ada hantu!. Saya hanya bercanda” senyum Joon Myun yang menepuk tangannya pada pundak Hwayoung.

            Hwayoung menunduk hormat pada manager perusahaannya. Ia menarik napas panjang, berusaha menghirup aroma managernya. Ia tak henti-hentinya mengagumi wajahnya.

***

            Joon Myun mengeluarkan kunci mobilnya, saat tangannya membuka pintu mobil wajahnya mengadah ke atas. Ia menatap sebuah lampu masih bersinar. Ia hanya geleng-geleng kepala saja.

            Kim Joon Myun tamatan S2 telekomunikasi U.S. Ia mendapat gelar magister di usianya yang masih 24 tahun. Dan langsung di jadikan manager divisi tanpa tes. Banyak perusahaan ingin merekrutnya, karena thesisnya yang sangat bagus.

            Masih lekat diingatannya hari dimana Hwayoung mengikuti interview. Hwayoung di hadapkan pertanyaan berat oleh wakil direktur perusahaan tentang kinerja seorang wanita yang memiliki anak.

            “Apapun yang terjadi, putriku tetap prioritas yang utama. Jika kalian bertanya, mengapa aku ingin mencari uang?. Jawabannya adalah baik pria maupun wanita harus bekerja untuk keluarga mereka. Aku tidak memahami apa yang orang tua lain lalui untuk membesarkan anaknya dan juga aku tidak mengetahui bagaimana perusahaan ini berjalan. Tapi tanggung jawab seorang ibu tidak hanya membesarkan anak mereka dirumah. Jika anda di posisi saya, anda akan mengatakan hal serupa. Terima kasih”

            Kata-kata Hwayoung yang membuka hati nuraninya membuatnya menjadi penasaran.

            “Menarik!” gumamnya.

***

@Chanyeol’s Apartement

            Baek Hyun menatap layar handphonenya yang menunjukkan pukul 10 malam. Berpuluh kali ia mencoba menghubungi Chanyeol, namun tak ada jawaban darinya. Hati dan perutnya sama-sama tak karuan. Ia merasa kasihan melihat Shin Hye yang duduk diam di sofa menunggu Chanyeol pulang.

            “Dasar anak itu!” gerutu Baek Hyun.

            “Shin Hye-ya, kita makan yuk!” bujuknya.

            Lagi-lagi, Shin Hye menggelengkan kepalanya.

            “Jebal Shin Hye-ya!, jangan seperti ini. Kita makan yuk!”

            “Aku mau tidur” jawab Shin Hye dengan raut wajah yang sedih.

            Perasaan Baek Hyun campur aduk. Ia merasa tak tega melihat Shin Hye, namun tak ada yang dapat ia lakukan selain membereskan tempat tidur bagi Shin Hye. Setelah Shin Hye membaringkan tubuhnya, ia menarik selimut dan mengusap pipinya.

            “Tidur yang nyenyak!” gumamnya pada Shin Hye yang telah terlelap.

            “AKU PULANG!!”

            Suara Chanyeol terdengar, buru-buru Baek Hyun menghampirinya.

            “Ja..jan…., aku bawa jajangmyun. Ayo makan!” kata Chanyeol yang sedang membuka sepatunya.

            “Aish, kau punya hati tidak sih?. Shin Hye sampai tertidur menunggumu pulang”

            “Dia sudah tidur?” tanya Chanyeol yang berbinar-binar.

            “Baguslah!” sambungnya.

            “Ya!, dimana hati nuranimu?. Dia tertidur dengan perut kosong. Kau ayahnya bukan sih?. Auh!. Lama-lama bisa gila aku!. Aku mau pulang!”

            Setelah Baek Hyun pulang, Chanyeol langsung duduk untuk menyantap jajangmyun yang di belinya.

            “Hmm…mashita!” gumamnya.

            Saat asyik-asyiknya makan, ia merasa bulu kuduknya berdiri, seperti ada yang menatapnya dengan aura hitam.

            “Heol…, ayah macam apa dia?. Bahkan tidak menanyaiku sudah makan atau belum!” kesal Shin Hye yang berdiri di depan pintu kamar.

            “Salah sendiri!. Kenapa kau tidak mau makan saat di ajak Baek Hyun samchon. Dia itu orang kaya, pasti makanan yang di belinya lebih enak. Ya, kau bodoh sekali tidak mengambil kesempatan”

            Shin Hye bukannya melawan balik, ia malah tertawa sinis.

            “Benar-benar seperti pengemis. Kenapa aku harus mengambil kesempatan?. Aku punya banyak uang. Bukan sepertimu!”

            “Heh!. Dari mana uangmu?. Kalau bukan dari ibuku?”

            “Lalu?. Kau cemburu?, ah…aku tau, kau cemburu karena ibumu lebih menyayangiku kan?. Buktinya ibumu memberiku uang lebih banyak darimu”

            “Ya…baru kali ini aku melihat anak kecil yang menyebalkan sedunia!”

            “Ya?. Baru hari ini kita berjumpa kau memanggilku ‘ya’?. Akan aku laporkan pada ibumu!, biar kau tahu rasanya bagaimana tidak punya rumah!” ancam Shin Hye.

            “Lapor!. Kau kira aku takut?”

            Shin Hye dan Chanyeol saling bertatapan, seperti di atas arena ring tinju.

To Be Continued…

50 pemikiran pada “Chanyeol Appa! (Chapter 3)

  1. Uwaa Shin Hye masih kecil tapi pikirannya udah dewasa banget..
    Bikin gemes ajah…
    Maap baru coment di chapt 3 ini… Hehehe…
    Izin Baca next chapt dulu ne thor..

  2. Astaga! Shin hye masih kecil tpi kata2 tajem banget! Sumpah!
    Apa lagi waktu baekkie lagi kecan. Astaga! Ngakak bacanya… XD
    Yeol! Kau benar2 TEGA! Meski pun shin hye perkataannya tajam tpi dia itu tetep anak kecil…
    Oh iya. Thor maaf yah… Aku baru komen di chap ini :(. Maaf aku udah jadi sider di chap 1 dan 2…
    Aku janji bakalan komen di chap selanjutnya! Keep writing!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s