Flower Love (Chapter 1)

FLOWER LOVE [Part 1]

flower love

Tittle : FLOWER LOVE

Author : CHJ ( @BaekCHJ )

Genre : Romance, Hurt

Length : Two Shoot

Rated : M (WARNING!)

Main Cast : KAI (EXO-K), Park Eunji (Fiction)

 

 

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka murni dari pemikiran gila Author CHJ . Jika ada kesamaan tempat dan karakter semua tidak disengaja.

NO PLAGIAT.

SIDER GET OUT!

 

Jadilah Good Reader yang tentunya akan meninggalkan jejak ^^

Well…

Happy Reading lah. Jangan lupa Comment.

Comment’an kalian adalah kekuatan buat Author :’)

Gomawo *bow

 

cerita ini juga pernah dipublish di website pribadi Author

choihajin.wordpress.com

 

 

HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!!

 

 

 

 

HAPPY READING ^-^

 

 

Lady,

Ojik nae Saranghae..

Let me become the rain..

Come down

And wash away your tears…

 

~oOo~

 

FLOWER LOVE Part 1

***

“Akhh..”

 

Gadis itu menjerit tertahan saat merasakan benda asing yang mencoba untuk memasukinya. Ini pertama kali baginya. Dengan segenap kekuatan, ia mencoba menahan sesuatu yang sakit itu. Matanya mulai berkaca-kaca karena menurutnya hal itu memang benar-benar sakit. Ia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan semua itu.

 

“Aku.. mencintaimu..”

 

 

Seorang pria yang tengah berada di atasnya membisikan sesuatu yang tentu saja akan membuat gadis manapun yang mendengarnya akan luluh seketika, –termasuk dirinya.

 

Gadis itu membuka matanya perlahan saat mendengar penuturan yang dilontarkan oleh kekasihnya itu, seorang pria yang telah mengambil segalanya, semua miliknya.

 

Semuanya..

Tanpa tersisa.

 

Ia tahu bahwa ini terlarang dan tidak benar. Orang tuanya tidak pernah mengajarkannya untuk seperti itu. Ia tahu ini salah, namun Cinta telah membutakan hatinya. Ia tidak perduli.

 

Ia mempercayai kekasihnya..

Kekasih yang baru beberapa bulan ini dikenalnya..

Belahan jiwanya..

 

 

~oOo~

 

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden kamar dengan nuansa soft pink itu. Gadis yang tengah meringkuk damai itu, sedikit demi sedikit mulai merasa terusik dengan kedatangan cahaya matahari yang dengan lancang masuk mengganggu tidur indahnya.

 

Ia menggeliat pelan. Tangannya meraba ke samping tempat tidurnya, mencari seseorang di sana. Seseorang yang sedari malam terus ia peluk –kekasihnya, belahan jiwanya.

 

Dengan mata yang masih terpejam, jemari tangannya yang indah terus bergerak mencari seseorang itu.

 

Kosong

 

Seseorang yang sangat ia kagumi dan ia cintai kini tak ada lagi di sampingnya –di tempat tidurnya. Namja itu menghilang begitu saja tanpa sepatah katapun setelah ia merenggut semuanya semalam.

 

Gadis itu seketika bangkit, terduduk dengan selimut yang ia naikkan untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang. Ia meraba dadanya yang terasa sesak dan sakit. Mencoba menyingkirkan segala hal-hal negative yang ada di pikirannya saat ini.

 

Tak mampu ia tahan lagi, cairan bening dengan sendirinya lolos mengalir dari kedua mata coklatnya itu.

Namja itu kenapa pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun?

 

 

Dia –Park Eunji,

Menangis sejadi jadinya masih pada posisinya semula di atas ranjang.

Ia terluka..

Sangat terluka..

 

 

 

~oOo~

 

Pagi ini suasana kampus Seoul University cukup ramai. Banyak mahasiswa baru yang sudah mulai aktif menjalankan perkuliahan mereka.

 

Di sana –Park Eunji duduk sendirian pada kursi yang melingkar di bawah pohon akasia di pinggiran halaman –termenung menatap ke jalanan yang dipenuhi oleh lalu lalang mahasiswa lain. Tatapan gadis itu terkesan kosong dan hampa, seolah tak ada kehidupan lagi di dalamnya.

 

Entah sudah keberapa kali Ia kembali meraih I-phone yang memang sedari tadi ada di samping kiri tubuhnya, kembali memeriksa kalau kalau sang kekasih membalas segala pesan-pesan yang telah ia kirimkan beberapa hari ini yang tak kunjung jua dibalas.

 

Entah pula sudah keberapa kalinya gadis itu mendesah pasrah. Tak ada satupun balasan pesan dari orang yang dinanti itu. Ia sudah kelimpungan tak tahu lagi harus berbuat apa. Namja itu begitu berpengaruh baginya, bagi kehidupannya, dan bagi masa depannya. Namja itu segalanya bagi Park Eunji.

 

“Eunji-ah..”

Gadis itu tak merespon sama sekali panggilan yang ditujukan padanya. Pikirannya sudah menerawang jauh entah ke mana.

 

Merasa tidak diperdulikan oleh Eunji, orang itu –lebih tepatnya namja itu langsung menghampirinya.

 

“YA!” Namja itu menepuk bahu Eunji mencoba menyadarkannya.

 

“Eoh..” Merasa dikagetkan Eunji mulai sadar dari penerawangannya.

 

“Mwoaneunggoya? (Apa yang kau lakukan?)” Tanya namja itu. Eunji kembali memasang wajah datar.

 

Merasa kembali diabaikan, namja itu segera menarik pergelangan tangan Eunji dan langsung menyeret gadis itu pergi dari tempat duduknya.

 

“YA! YA! Mwoaneunggoya~ YA! Pukk pukk pukk” Gadis itu berteriak-teriak serta memukul lengan namja yang tengah menariknya itu. Ia merasa tidak terima telah diperlakukan seperti itu.

 

“Mwol?” Namja itu berhenti dan berbalik menghadap Eunji.

 

“Lepaskan aku!” Perintahnya.

 

Mata Eunji sudah berkilat marah. Namja itu datang di saat yang tidak tepat. Suasana hatinya sangat buruk saat ini. Ia sedang tidak ingin bermain-main dengan namja itu. Sungguh bukan saat yang tepat.

 

“Kau tidak lihat ini sudah jam berapa eoh? Pabo! Tukk!” satu jitakan mulus mendarat di atas kepala Eunji. Gadis itu meringis pelan.

 

Baiklah, sebenarnya namja itu hanya ingin mengingatkan Eunji saja bahwa waktu perkuliahan akan segera di mulai, namun sedari tadi gadis itu malah terus melamun di bawah pohon. Maka dengan sangat terpaksa namja itu menyeret pergelangan tangannya agar segera memasuki ruangan perkuliahan. Kai si namja itu –sahabat baik Eunji.

 

 

~oOo~

 

Ini sudah memasuki bulan kedua, Eunji masih terus mencoba menghubungi kekasihnya itu walaupun keadaannya masih tetap sama tidak pernah dibalas. Wajahnya semakin hari semakin murung, ia sudah tidak bersemangat lagi menjalani hidup. Bahkan ia pun sudah jarang menghadiri perkuliahan. Entahlah, ia sudah merasa putus asa, hidupnya tak berarti lagi.

 

Semua berawal dari 2minggu yang lalu ketika ia baru menyadari siklus bulananya terlambat dari tanggal yang biasanya. Awalnya ia mengira hanya terlambat, mungkin beberapa hari lagi juga akan datang. Ia mencoba membuang prasangka negative yang sebenarnya selalu bermunculan dalam benaknya.

 

Namun sudah hampir 2 bulan siklus itu tak pernah datang. Dengan sekuat hati, ia memberanikan diri untuk mengecek kepastian-kepastian yang selalu bermunculan dalam benaknya selama ini.

 

Tangan dan tubuhnya bergetar hebat, test pack itu menujukkan 2garis merahnya yang menandakan bahwa ia positif tengah mengandung.

 

Mengandung?

 

 

Benar, ia tengah mengandung. Bukankah ia pernah melakukan sesuatu yang terlarang saat itu? Benar, dan sekaranglah balasannya.

 

Eunji kembali menangis dan menjerit. Ia berdiam diri di bawah shower yang terus menyala sedari tadi sambil memukul mukul perutnya yang masih rata. Tak perduli betapa dinginnya cuaca saat ini, tak terpikirkan lagi olehnya.

 

Bagaimana bisa ia menyerahkan semuanya pada namja itu? Namja yang baru beberapa bulan dikenalnya. Bagaimana bisa dengan semudah itu ia tergoda akan rayuan manis seorang Cho Kyuhyun namja paling tampan se-kampus? Ya, Ia terlalu lugu. Sungguh gadis yang masih lugu. Penyesalan memang selalu datang di akhir, Eunji terlambat menyadari. Ia benar-benar menyesali perbuatannya.

 

Bagi Eunji Ini terlalu sakit..

Sangat sakit…

 

 

~oOo~

 

Ini adalah hari dimana untuk pertama kalinya ia kembali berangkat ke perkuliahan setelah 3 minggu membolos. Dengan wajah kusut ia memberanikan diri untuk tetap mengikuti perkuliahan. 3 minggu lamanya memang belum cukup untuk membuatnya sedikit tenang, namun bukankah mengikuti perkuliahan juga penting untuk masa depannya dan calon anaknya kelak?

 

Dengan langkah gontai, ia memasuki ruang perkuliahannya. Meski telah 3 minggu lamanya tak berkuliah, tak banyak orang-orang yang memperhatikannya saat ini. Tapi tidak dengan 1 orang yang tengah duduk di kursi paling depan. Seorang namja yang menaruh hati padanya. Mata itu seketika berbinar saat Eunji memasuki ruangan –meski Eunji tidak menyadari itu.

 

Eunji terus berjalan melewati orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tak biasanya mengambil tempat duduk paling belakang meski masih ada barisan depan yang kosong.

 

Ia belum bisa dan belum mampu kembali ke kehidupan normalnya. Semuanya sudah berubah sekarang.

 

Eunji sakit.

Luar dan dalam..

 

 

***

 

 

 

Eunji masih belum mengetahui seorang namja yang sedari tadi terus memperhatikannya, bahkan namja itu sekarang telah menghampirinya. Namun tatapan matanya masih tetap saja kosong, tak memperhatikan kedatangan namja itu.

 

“Eunji-ah, mengapa wajahmu pucat sekali eoh? Apa 3 minggu ini kau sakit?” Tanya namja itu. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir.

 

“Jangan ganggu aku Kai, pergilah..” usirnya.

Ia selalu merasa terganggu jika ada orang di sekelilingnya. Entahlah. Gadis itu sekarang lebih suka menyendiri.

 

“Eyyhh, kau sinis sekali. Kau banyak berubah Park Eunji. Ada apa denganmu?” lagi-lagi namja yang dipanggil Kai itu kembali bertanya.

Gadis itu mendesah berat.

 

“Sudah kubilang jangan ganggu aku. Pergi!” kali ini ia menjawab dengan nada yang lebih ketus dari sebelumnya.

 

“Wohohoho~ arraseo arraseo nakkanda~ (baiklah aku pergi)” Kai segera menghindar.

 

“Sinis sekali, mungkin dia sedang datang bulan..” Omel Kai yang masih terdengar jelas di telinga Eunji.

 

 

DEG

 

 

Hati Eunji serasa ditusuk puluhan jarum mendengar itu.

 

“Aku bahkan tidak datang bulan lagi sejak 2bulan yang lalu Kai..” lirih gadis itu dalam hati. Wajahnya kembali murung.

 

 

 

 

~oOo~

 

 

Eunji meringkuk sendirian di tempat tidurnya. Wajahnya terlihat begitu pucat. Tidak ada orang lain di sini. Ia hanya tinggal sendirian di apartement. Sudah beberapa hari makannya tidak teratur. Perutnya selalu merasa mual terutama di pagi hari. Dirinya terlalu stress sampai tak nafsu makan. Ia lebih banyak melamun dan termenung memikirkan nasibnya.

 

‘Aku.. harus bagaimana?’ lirihnya dalam hati. Pikirannya sudah buntu. Ia tidak tahu cara melangkah dengan benar.

 

Ting tong..

 

 

Suara bel apartment menginterupsinya untuk bangun. Sebenarnya ia begitu lelah untuk berjalan, namun ia khawatir jika yang datang itu adalah perkara penting.

 

Dengan langkah gontai, ia mencoba membuka pintu –memastikan siapa yang datang bertamu. Namun saat ia membuka pintu, tidak ada seorangpun di sana. Ia mencoba melihat ke sekeliling memastikan siapa yang menekan bel apartmentnya tadi –nihil. Tidak ada siapapun di sana.

 

 

Kressekk..

 

 

Kakinya yang ramping merasa tengah menginjak sesuatu. Langsung matanya ia tujukan ke arah kakinya. Disana –sebuket bunga Lily putih yang wangi telah terpampang indah tepat di depan pintu. Sebelumnya ia tidak menyadari adanya bunga itu karena ia terlalu terfokus pada siapa yang datang.

 

Keadaan bunga itu masih bagus, ia tak sempat menginjak bunga itu hanya baru bungkus plastiknya saja.

 

Ia meraih bunga yang tergeletak di hadapannya, mencoba memeriksa siapa pengirim bunga ini.

Tidak ada nama pengirim..

 

Slekkk..

 

 

Sehelai kertas dari buket bunga itu terjatuh ke lantai. Eunji mengambilnya kemudian membaca tulisan yang tertera pada kertas.

‘Jaga kesehatan Princess. Aku mencintaimu Park Eunji ^^’

 

Eunji kembali membolak balik buket bunga itu mencoba mencari siapa nama si pengirim.

 

Nihil..

 

Bunga ini dari anonym..

 

Entah siapa yang mengirimnya, ia hanya berharap kekasihnyalah yang telah melakukan semua itu.

Ya, kekasihnya..

Cho Kyuhyun…

 

Eunji kembali masuk ke dalam apartment, menutup pintu dengan pelan dan kembali memasuki kamarnya. Ia tidak menyadari bahwa masih ada sesorang di sana yang sedari tadi mengintainya. Orang itu tersenyum sekilas melihat Eunji membawa bunga itu masuk.

 

“Bunga yang cantik..” Senyum terukir di bibir Eunji. Ia mencoba mencium wangi bunga-bunga itu sebelum meletakkan bunga kiriman si anonym di atas meja rias kamarnya. Ia meletakkan bunga itu di dalam vas yang sudah berisi air agar bunga itu tetap segar untuk beberapa hari ke depan

.

Well..

Sejenak ia dapat melupakan masalah besarnya.

 

Dering I-phone berbunyi. Eunji segera mengambil I-phone yang sedari tadi memang tergeletak di nakas tempat tidur. Alisnya mengernyit sejenak saat mengetahui siapa si penelepon.

 

“Yeobseyo? Eo eomma?”

 

“…”

 

“Gwaenchanayo, eomma waegeuraeyo? (Aku baik-baik saja, ada apa eomma?)”

 

“…”

 

“NE? kesini?” ia sedikit mengeraskan suaranya.

 

“…”

 

“Araseo eomma..Neee, annyeong” FLIP

 

 

 

~oOo~

 

 

Tak terasa kini pagi kembali menyapa. Suara burung-burung beterbangan kian terdengar seolah menyambut pagi yang begitu terang benderang menebarkan sinar kehangatan setelah malam yang dingin. Orang –orang telah kembali ke aktifitas masing-masing mencari kesibukan, tertawa gembira seolah tiada beban yang mereka rasakan.

 

Namun tidak bagi Eunji. Baginya hari tetaplah seperti biasanya. Seperti biasanya disaat ia harus memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya, untuk masa depannya. Mau tak mau, bukankah semakin lama perutnya akan kian membesar juga? Sampai kapan ia akan menutupi ini? Dan sampai kapan juga kekasihnya akan memberinya kabar bahagia dan bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat?

 

Eunji masih saja meringkuk di ranjangnya, enggan bergerak sedikitpun. Harusnya ia bersiap-siap untuk segera berangkat ke kampus, namun mata yang sembab akibat menangis semalaman membuatnya tak mungkin berangkat ke kampus sekarang. Kemarin sore ibunya menelpon akan datang, tentu saja itu membuat Eunji bingung dan semakin stress. Eunji tidak ingin ibunya mengetahui keadaannya saat ini. Ia tidak ingin menjadi beban bagi keluarganya.

 

Ya,

Eunji hancur sekarang..

Hancur berkeping-keping karena namja itu..

 

 

Ting tong..

 

 

Suara bell membuatnya tersadar dari lamunan buruknya.

 

 

Ting tong..

 

 

Bell kembali berbunyi. Sebenarnya ia enggan membuka pintu, karena ini masih pagi. Orang mana yang bertamu sepagi ini. lagipula itu pasti bukan ibunya yang datang karena ibunya akan tiba lusa.

 

 

Ting tong..

 

 

Lagi-lagi bell kembali berbunyi. Mau tak mau Eunji harus bangkit untuk memastikan siapa yang dengan seenaknya menekan bell itu berkali-kali. Dengan berat hati ia bangkit dan berjalan dengan gontai untuk membukakan pintu.

 

 

Cekklekk..

 

 

Ia menoleh ke kiri dan kekanan saat pintu telah terbuka. Kembali ia tak menemukan siapapun. Ingin sekali ia marah kepada orang yang mengerjainya di pagi hari seperti ini.

 

Kressekk..

 

Lagi-lagi ia menemukan sebuket bunga seperti kemarin tergeletak di depan pintu. Bunga yang sama, dan sepertinya dari pengirim yang sama. Di sana masih ada kertas yang bertuliskan:

 

‘Semangat untuk beraktifitas hari ini Princess. Aku mencintaimu, Park Eunji^^’

Namun tidak ada nama si pengirim.

 

Eunji menautkan alisnya bingung. Sebenarnya siapa orang yang mengirim bunga ini? Cho Kyuhyun kah?

Tapi rasanya tidak mungkin, mengingat namja itu tak pernah membalas semua pesan dan panggilan telponnya. Lagipula namja itu tidak pernah sekalipun menyebutnya dengan sebutan ‘Princess’.

 

Lalu siapa?

 

Eunji menyerah, ia tidak ingin memikirkan terlalu jauh siapa si pengirim itu. Beban hidupnya pun sudah terlalu banyak, jadi ia tidak ingin terlalu ambil pusing. Ia membawa buket bunga itu masuk kemudian menutup pintu. Masih tak ia ketahui bahwa si pengirim masih ada di sana, bersembunyi di balik dinding yang tak jauh dari pintu apartment dekat dengan tangga darurat.

 

Namja itu tersenyum.

 

“Aku mencintaimu Park Eunji..” gumam namja itu pelan masih dengan senyum yang terukir di bibirnya sebelum masuk dan menghilang di dalam lift.

 

 

 

~oOo~

 

Setelah berhasil keluar dari kawasan apartment Eunji, namja itu –Kai langsung melesatkan mobil spot hitamnya menuju ke kampus. Sudah dua hari ini hatinya selalu berbunga-bunga mengingat paket bunga yang telah ia kirimkan untuk pujaan hatinya selalu diterima oleh yeoja itu dengan baik.

 

Kai tahu bahwa Eunji tidak mengetahui bahwa dirinyalah yang mengirim bunga itu. Kai sengaja, ia ingin memberi kejutan. Atau bahkan ia masih malu untuk menyatakan langsung perasaannya pada Eunji?

 

Ya,

Kai menyukai gadis itu

Bahkan mencintainya..

 

Sudah 5 tahun ini perasaan itu ada. Bermula semenjak mereka satu kelas di SHS, dan dijadikan satu kelompok penelitian ilmiah. Kai begitu mengagumi sosok Eunji yang manis, periang serta cerdas. Kai tidak pernah mencatat pelajaran yang diajarkan, ia selalu meminjam buku catatan Eunji dengan beralasan ia tidak begitu menyukai gurunya. Kai hanya ingin mencoba mendekati Eunji meski sampai saat ini gadis itu tak pernah menyadarinya. Eunji adalah sang Putri idaman seorang Kai.

 

Kai cukup dekat dengan Eunji. Bahkan Ibu Kai merupakan sahabat baik dari Ibunya Eunji semenjak SD sampai kuliah. Semua terungkap saat Kai sering datang bermain ke rumah Eunji dan berinteraksi dengan keluarganya. Lama kelamaan mereka menjadi akrab, ditambah Kai dan Eunji satu kampus di Seol University yang di kepalai oleh ayah Kai sendiri, bahkan mereka satu kelas.

 

Namun gadis itu hanya menganggapnya tak lebih dari seorang sahabat, Kai tau dan sadar akan hal itu. Namun tekadnya tidak pernah padam sekalipun untuk mendapatkan gadis yang diinginkannya. Ia ingin agar Eunji melihatnya sebagai seorang namja –bukan sahabat. Cukup lama Kai bersabar akan sikap Eunji terhadapnya, kali ini ia tidak sanggup lagi. Satu hal yang tak diketahui Kai sampai saat ini, bahwa Eunji sudah memiliki kekasih.

 

Bukan tak disengaja Eunji merahasiakan kekasih barunya ini. Semua ini karena Eunji tidak ingin Kai berbuat masalah. Selama ini semua pria yang mencoba mendekati Eunji selalu disingkirkan oleh Kai, ia beranggapan bahwa para pria itu tidak ada yang cocok bagi Eunji. Eunji terkadang kesal dengan tingkah Kai yang terlalu protektif padanya. Maka dari itu ia merahasiakan kekasihnya.

 

 

***

 

 

Masih dengan senyum mengembang, Kai memasuki ruangan perkuliahan. Seperti biasa ia akan mengambil posisi duduk paling depan. Ia duduk menopang dagu pada tangan kirinya. Matanya menatap ke arah pintu masuk, menunggu seseorang tiba.

 

Hingga 30 menit lamanya, seseorang itu tak kunjung tiba. Ia mulai bosan kemudian mengecek I-Phone nya mencoba untuk menghubungi orang yang dimaksud. Namun, dosen sudah lebih dulu memasuki ruangan, membuatnya mengurungkan niat.

 

“Baiklah, setelah ini aku akan menelponmu Eunji-ah” Gumamnya pelan.

 

Selama pelajaran berlangsung, Kai benar-benar tidak bisa konsentrasi dengan benar. Ia hanya memikirkan Eunji Eunji dan Eunji.

 

‘Ada apa dengan gadis itu?’ batin Kai gusar.

 

Ia melirik jam tangannya. Mendesah pelan karena merasa bahwa waktu lama sekali berjalan. Ia ingin keluar dari ruangan sekarang juga. Pikirannya tidak tenang mengingat gadis yang dicintainya itu.

 

“Jeosonghamnida songsaengnim, aku minta izin keluar duluan. Ayah memintaku untuk pulang sekarang.” Kai mencoba beralasan. Ia benar-benar sudah tidak betah di dalam ruangan itu.

 

“Baiklah Jongin. Salam untuk tuan Kim.” Sahut dosen itu ramah.

 

Tentu saja,

Ayah Kai adalah seorang Rektor di universitas tersebut.

 

“Ne. Khamsahamnida songsaengnim, aku permisi” Ucap Kai ramah kemudian melesat keluar dan menuju ke parkiran mobilnya.

 

Kai melajukan mobilnya cepat tak seperti biasa. Ia kembali menuju ke apartment Eunji. Sedari tadi pikirannya gusar akan gadis itu. Entahlah, ia benar-benar memiliki firasat buruk.

 

Sudah 10 menit lamanya. Entah sudah berapa kali namja tampan itu menekan bell, namun tak ada sahutan atau bahkan gerak gerik dari orang di dalam untuk membukakkan pintu. Apakah Eunji tidak ada di dalam?

 

“Kalau dia pergi mengapa tidak masuk kuliah? Aishh..” Kai mengacak-acak rambutnya prustasi. Ia benar-benar mengkhawatirkan gadis itu.

 

Kai ingat password pintu apartment Eunji, karena dialah yang membuatnya. Tangannya segera meraih tombol password di bawah gagang pintu. Menekannya dengan hati hati.

 

Titt titt titt

 

 

Cekklekk..

 

Pintu berhasil terbuka. Dengan sangat hati-hati Kai memasuki ruangan apartment.

 

Sepi..

 

Suasana di ruangan begitu sepi dan gelap seperti tak ada kehidupan sama sekali. Kai menautkan alisnya bingung.

 

“Mengapa gelap sekali? Mana yeoja itu? Aishh” Kai menggerutu sembari mencari-cari orang yang dimaksud.

 

“Eunji-ah..” Panggilnya.

Tak ada sahutan.

 

Kai mencoba menyalakan lampu di ruang tamu utama, kemudian menuju dapur dan menyalakan lampunya berharap Eunji ada di sana.

 

“Eunji-ah..” Panggilnya lagi.

Namun nihil.

 

Kai beralih ke kamar. Ia tahu persis di mana kamar Eunji, bahkan ia sudah sangat sering berkunjung di tempat itu.

 

Cekklekk..

 

 

“Eun- “ Kalimatnya terpotong setelah mengetahui apa yang terjadi di dalam sana.

 

 

“PARK EUNJI !!!!!!” Ia berteriak panik melihat Eunji sudah terkulai lemah tak berdaya di bawah tempat tidur.

 

 

Gadis mungil itu tak sadarkan diri. Kai segera menghampirinya, membopong tubuh mungilnya dan membaringkannya di tempat tidur. Namja itu segera merogoh I-phone miliknya di saku celana kemudian memanggil dokter.

 

 

~oOo~

 

 

Eunji terbaring lemah masih tak sadarkan diri di tempat tidurnya. Sedari tadi Kai terus mondar-mandir tak karuan di luar kamar cemas memikirkan keadaan gadis itu. Kai belum berani menghubungi satupun kerabat Eunji jika belum mengetahui diagnosa dari dokter. Dokter masih memeriksa keadaan Eunji di dalam. Memberi sedikit suntikan dan memasang selang infuse di tubuhnya untuk asupan vitamin.

 

Kai segera menghambur menghampiri sang dokter ketika baru keluar dari kamar Eunji. Wajahnya begitu panik dan cemas. Namja tampan itu benar-benar khawatir.

 

“Bagaimana keadaannya uisanim?” Tanya Kai. Wajahnya benar-benar pucat, takut sesuatu yang buruk terjadi pada gadisnya.

 

“Tidak perlu khawatir. Selamat Tuan, istri anda tengah mengandung.”

 

DEG

 

 

Sang dokter dengan senyum sumringah mengungkapkan perihal sebenarnya keadaan Eunji. Beliau tidak tahu bahwa Kai bukanlah suami Eunji. Mata Kai membulat, rahangnya mengeras menahan gejolak dalam hatinya.

 

“Ne?”

 

Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Namja itu menautkan kedua alisnya dan mengerjap ngerjap matanya berkali-kali seolah tak menyangka bahwa Eunji benar-benar tengah mengandung.

 

“Baru berumur 2 bulan, Tuan. Ku sarankan agar ia lebih banyak istirahat dan makan makanan yang sehat agar bayinya juga sehat.”

 

“A-apakah itu b-benar?” Kai terbata, matanya mulai memerah.

 

“Iye. Sekali lagi selamat, Tuan. Jaga istrimu baik-baik. Kandungannya begitu lemah. Aku permisi dulu.” Ucap sang dokter menepuk pundak namja itu pelan sebelum akhirnya keluar dari apartment Eunji.

 

“Mwo? Hamil? Bagaimana…” Kai mencoba menahan amarahnya.

 

Ya,

Kai marah, begitu marah.

Yeoja yang sangat dicintainya, hamil?

 

 

“P-princess..” Panggilnya lirih. Ia benar-benar tak bisa mempercayai kenyataan ini.

 

“Bagaimana bisa? Hhhh.. siapa yang melakukannya Eunji-ah?” Kai tak dapat mengontrol emosinya kali ini. Matanya berkilat marah.

 

“EUNJI-AH!!!” ia mulai berteriak.

 

“ARRGHHHHHH!!!!!” kembali ia berteriak mengacak acak rambutnya prustasi.

 

“WAE???”

 

“Wae Park Eunji??? WAE?????”

 

BUKKK!

 

Namja itu memukul tembok di depannya. Mencoba mengalihkan amarah yang tengah mendera hatinya saat ini. Ini sulit untuk dicerna oleh akal sehatnya. Bagaimana bisa semua in terjadi pada gadisnya?

 

Namja itu terduduk lemas jatuh ke lantai. Ia persis seperti orang gila yang tengah berbicara dan berteriak-teriak sendiri. Ini benar-benar sulit baginya. Sangat sulit. Cairan bening terlihat di pelupuk matanya.

 

Kai menangis,

Menangisi Eunji..

 

Lama ia pada posisi itu. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berdiri dan berjalan gontai menuju ke dalam kamar Eunji. Namja tampan itu mengusap pipinya kasar dengan punggung tanganya.

 

Cekklekk

 

Eunji masih terbaring lemah tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Selang infus berada di samping kiri tubuhnya. Kai berjalan gontai menuju tempat Eunji berada. Ia mengepalkan tangannya kuat menahan gejolak yang ada. Matanya tak bisa sedikitpun lepas dari wajah Eunji yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Hati Kai yang paling dalam begitu sakit melihat keadaan Eunji yang sekarang ini. Lebih sakit dari sakit hatinya karena pengkhianatan Eunji padanya.

 

Kai duduk di samping tempat tidur, masih dengan memperhatikan wajah Eunji yang pucat. Bibir pinknya tak lagi pink seperti dulu. Pucat dan kering lebih mendominasi.

 

Entah apa yang mempengaruhinya, tangan kanan namja itu dengan sendirinya tergerak mengelus pipi kiri Eunji yang masih tertidur –mengusapnya pelan.

 

“Eomma..”

 

Sontak Kai menarik tangannya kembali dari pipi Eunji ketika melihat Eunji yang mengigau. Gadis itu mengigau dalam tidurnya. Terlihat jelas oleh Kai gadis itu tidak dalam keadaan tenang meski di dalam tidurnya sekalipun.

 

“Eomma.. hiks”

 

“Eomma mianhae.. mianhaeyo eomma~ hiks”

Dada Kai berdesir hebat melihat pemandangan di hadapannya. Entah mengapa hatinya begitu sakit melihat kejadian itu. Eunji menangis. Menangis dalam tidurnya. Meminta maaf kepada ibu tercintanya. Kepalanya bergerak kesana –kemari tak tenang.

 

“K-kai..” Eunji kembali meracau.

 

DEG

 

Mata Kai membulat seketika mendengar Eunji mengigaukan namanya di dalam tidurnya.

 

“Mianhae.. hiks” racaunya lagi.

 

Kai masih memandang wajah tak tenang yang masih terpejam itu dengan iba. Tangannya kembali meraih wajah Eunji, membelainya lembut, mencoba membantu agar gadis itu dapat kembali damai dalam tidurnya.

 

“Shuut shuut shuut..” desisnya pelan mencoba membuat gadis itu kembali tenang masih tetap membelai pipinya lembut. Perlakuan Kai cukup sukses membuat Eunji kembali tertidur damai..

 

Ada perasaan lega dalam hatinya. Eunji masih menganggap dirinya penting. Jika tidak, mengapa gadis itu memanggil namanya dan meminta maaf sambil menangis seperti itu? –batin Kai.

 

Kai melirik ke arah meja rias yang tak jauh dari ranjang Eunji. Matanya seketika membelalak ketika melihat beberapa tangkai bunga Lily putih yang terpajang indah di dalam vas bunga yang memang sudah berisi air.

 

Itu bunga pemberiannya..

Dan Eunji menyimpannya..

 

Kai bangkit menuju meja rias. Ia merasa tertarik akan sebuah kertas putih seperti sticky notes yang tertempel pada bagian luar vas yang berwarna hijau bening itu.

 

Bukan tertarik pada kertasnya, melainkan akan isi yang tertulis di dalamnya. Namja tampan itu menautkan alisnya ketika membaca isi dari tulisan tersebut.

 

‘Aku tidak tahu siapa sebenarnya dirimu. Tapi aku sungguh berterima kasih. Setidaknya masih ada kau yang mencintaiku, Mr Anonym. Ku kira semua orang telah meninggalkanku. Terima kasih karena kau mencintaiku..’

 

 

Kai tersenyum simpul. Entah mengapa kemarahan dan kekecewaan yang sedari tadi terus bergejolak di dalam hatinya sirna begitu saja setelah membaca tulisan itu.

 

Eunji mengharapkannya..

Mengharapkan ketulusan cintanya..

 

Sekarang Kai tahu, peristiwa ini pasti sangat sulit bagi Eunji. Eunji tentu tidak menginginkan hal ini terjadi. Itulah sebabnya beberapa bulan terakhir Eunji selalu terlihat murung. Akhirnya namja itu tahu alasannya sekarang.

 

Kai kembali duduk di samping tempat tidur Eunji, menatap wajah terlelap itu dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.

 

“Aku tidak tahu pasti alasanmu menjadi begini. Tapi aku tahu pasti jika kau juga tak menginginkannya.”

 

Kai terus berucap sendiri seolah tengah berbincang dengan gadis di hadapannya. Tangan kanannya kembali membelai lembut pipi gadis itu.

 

“Aku tahu, ini pasti sulit untukmu Eunji-ah..” Ucap Kai pelan agar tak menganggu tidur Eunji.

 

“Apa karena hal ini kau jadi berubah dan menghindariku?” Tanya Kai masih dengan suara pelan.

 

“Aku.. sangat sakit karena kau telah berkhianat seperti ini di belakangku Eunji-ah!” Kai mengepalkan tangannya kuat membuang muka ke arah lain.

 

Entah disengaja atau tidak, cairan bening mengalir begitu saja dari mata Eunji yang masih tertutup rapat –terus mengalir melewati pipinya yang putih.

 

Kai tersenyum miris. Namja itu mengusap pelan bekas buliran yang mengalir di pipi gadis itu.

 

“Tapi aku akan mencoba mengerti bahwa keadaanmu sekarang ini bukanlah kehendakmu.”

 

“Karena kau kehidupanku Eunji-ah, kebahagianku..”

 

Kemudian wajahnya mulai mendekat ke wajah Eunji, mencium pipinya lembut dan cukup lama –sarat akan ketulusan.

 

“Tidurlah yang nyenyak, aku akan menjagamu, Princess.” Ucapnya pelan setelah mencium gadis itu.

 

“Aku mencintaimu, Park Eunji.” Bisiknya kemudian tepat di telinga gadis yang masih tak sadarkan diri itu sebelum akhirnya bibirnya menyapu lembut bibir gadis itu. Sangat lembut seolah tak ingin melukainya. Betapa sedari dulu ia sangat ingin menyentuh bibir itu dengan bibirnya sendiri.

 

“Aku- aku akan membuatmu bahagia. Aku berjanji.”

 

 

~oOo~

 

 

Kai terbangun ketika ponselnya yang ada di saku celana bergetar tanda ada panggilan masuk. Namja itu mencoba merenggangkan otot-ototnya yang kaku dan terasa pegal akibat posisi tidurnya yang kurang nyaman. Ya, semalaman ia tidur di sofa kamar Eunji, menjaga gadis itu. Segera ia merogoh saku celananya melihat siapa yang menelpon. Namun saat ia akan menggeser layar untuk menerima, sambungannya sudah lebih dulu terputus. Namja itu mengedikkan bahunya tanda tak perduli. Ia melihat jam digital yang tertera pada ponselnya. Ini masih sangat pagi. Namja itu akhirnya bangkit keluar kamar dan menekan tombol ponsel entah memanggil siapa.

 

Pagi-pagi sekali Kai sudah bersiap-siap untuk pulang. Ia sengaja berencana untuk pergi pagi-pagi begini sebelum Eunji terbangun dan menyadari keberadaannya di apartment gadis itu. Sebelumnya ia sudah menyiapkan bubur hangat untuk sarapan Eunji saat ia terbangun nanti. Tentu bukan dirinya yang membuatkan, semuanya sudah ia pesan. Sudah pasti namja tampan itu tidak bisa memasak walau hanya sekedar membuat bubur.

 

Tak lupa Kai juga telah mengganti bunga Lily sebelumnya yang berwarna putih di dalam vas bening menjadi bunga Lily yang berwarna merah, sebelum akhirnya ia benar-benar pergi secara diam-diam dari apartment itu.

 

 

 

***

 

 

Eunji mengerjap-ngerjap matanya pelan. Mencoba membiasakan cahaya yang menyinari pandangannya. Gadis itu kemudian bangkit, matanya melihat ke sekeliling kamar. Ia menyentuh keningnya yang masih terasa berat, meringis pelan. Seingatnya kemarin ia merasa kepalanya begitu pusing dan berputar-putar. Gadis itu mengernyitkan alisnya ketika merasa ada sesuatu yang mengganjal di tangannya. Dengan segera ia mencabut selang infuse dari lengannya.

 

Kakinya yang ramping mencoba menyentuh lantai. Ia bingung bagaimana bisa ada selang infuse di tangannya? Bukankah ia sendirian di apartment ini? Lalu siapa yang menolongnya? Eommanya? Tidak mungkin. Eommanya akan tiba esok. Lalu siapa? –kira-kira itulah yang ada dalam benak Eunji sekarang.

 

Ada sesuatu yang menarik perhatian pandangannya di atas meja rias. Seketika tubuhnya bergerak mendekati tempat itu untuk memastikan.

 

‘Lily merah.. bukankah kemarin warnanya putih?’ gumamnya pelan.

 

‘Siapa.. yang-’

 

 

DEG

 

Ada secarik kertas berwarna merah muda beserta tulisan di dalamnya –tepat di vas bunganya seperti sticky note. Ia masih sangat ingat

benar bahwa dirinya juga pernah menempelkan kertas seperti itu sebelumnya di tempat yang sama. Tetapi sudah pasti dengan warna yang berbeda. Tangannya tergerak mencoba mengambil kertas itu dan membacanya.

‘Lekas sembuh, Princess. Aku mencintaimu, Park Eunji.. ^^’

Eunji menautkan kedua alisnya bingung. Lagi-lagi ia mendapatkan kiriman bunga dari Mr. Anonym. Tapi satu hal yang sangat mengganjal dipikirannya adalah, Bagaimana bisa Mr. Anonym memasuki apartmentnya? Padahal Eunji sangat berhati-hati dalam memberi tahukan kode password pintu apartmentnya pada orang lain.

 

Seingatnya diantara sahabat-sahabatnya yang lain, hanya Kai yang mengetahui password apartment karena namja itu sendiri yang membuatnya, dengan alasan ‘Agar kau selalu ingat denganku Eunji-ah’

 

Selain Kai, sudah pasti keluarganya juga diberitahu, diantaranya ada sang ibu, kemudian ayah, dan kakak laki-laki satu satunya Park Chanyeol.

 

Eunji benar-benar tidak menghiraukan hal itu. Ia tak ingin kepalanya kembali pusing. Ia harus makan sekarang.

Lagi-lagi dirinya dibuat kaget karena masakan sudah tersedia di meja makan. Gadis itu hanya mampu menautkan kedua alisnya bingung. Sebenarnya ia sangat ingin tahu tentang orang yang melakukan semua hal ini. Namun, beban pikirannya sudah sangat banyak, ia tak ingin ambil pusing dan ingin menikmatinya saja. Entah merngapa tak ada perasaan curiga sedikitpun terhadap Kai. Benar-benar gadis yang tidak peka.

 

 

~oOo~

 

 

 

Kai memakirkan mobil spotnya di garasi. Kemudian dengan tergesa-gesa memasuki rumahnya, mencari-cari sang ibu. Tidak biasanya hari-hari seperti ini ia pulang ke rumah. Namja itu biasanya menyempatkan diri untuk pulang hanya disaat weekend atau bahkan jika ada acara penting saja. Selebihnya ia lebih banyak menghabiskan waktu di apartment.

 

“Eomma.. eomma..”

Teriakannya terdengar di seluruh penjuru ruangan.

 

“Nee, Jongin-ah.. kau pulang nak?” teriak sang ibu yang terdengar dari arah dapur. Dengan gesit Kai langsung menuju ke arah dapur.

 

“Eomma.. ada yang ingin aku katakan.” Ucap Kai saat baru saja menemukan sosok sang ibu yang tengah mengaduk-aduk panci yang berisi sup. Bahkan nafas namja itu masih memburu akibat tergesa-gesa.

 

“Mwoneunde? (Apa itu?)” Sahut sang ibu masih dengan terfokus pada masakannya tanpa menolehkan pandangan ke arah putra semata wayangnya itu.

 

“Aku.. ingin menikah.” Sahut Kai mantap.

Dengan sigap sang ibu langsung menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah Kai. Menatap wajah anaknya dengan tatapan aneh dan sulit diartikan.

 

“Ne?” Sang ibu benar-benar tidak percaya akan penuturan putra tunggalnya yang tiba-tiba ingin segera menikah itu.

 

“Iye, aku ingin menikah eomma. Segera nikahkan aku.” Ucapnya lagi mantap tanpa keraguan sedikitpun.

 

Dapat dibayangkan betapa kagetnya sang ibu melihat tingkah luar biasa aneh dari sang putra tercinta. Ia menghampiri putranya yang masih berdiri di ambang pintu dapur, menyentuh dahi putranya sekilas.

 

“Tidak panas..” Ucapnya kemudian.

 

“Kau keracunan apa eoh? Mengapa tiba-tiba berbicara aneh seperti itu?”

Ibunya malah menganggap perkataan Kai sebagai lelucon saja.

 

“Eomma~ aku serius..” Rengek Kai manja.

 

“Eyyhh.. mana ada seorang namja yang ingin segera menikah masih bisa merengek seperti itu terhadap ibunya? Cihh..” Sang ibu balas mencibir.

 

“Eomma, aku serius. Segera nikahkan aku. Palli pallii..” Kai masih saja bersih keras minta dinikahkan.

 

“Arraseo arraseo putraku yang tampan. Bolehkah eomma tau kau ingin menikah dengan siapa eoh?”

Sahut sang ibu sembari mengusap pipi Kai pelan.

 

“Wanita malang mana yang begitu beruntung bisa menikahi putraku ini eoh eoh?”

Sang ibu mencoba menggoda putranya.

 

“Park Eunji.” Sahut Kai tanpa keraguan sedikitpun. Sontak ibunya terbelalak mendengar penuturan Kai yang luar biasa gila.

Ia tahu nama itu. Bahkan sangat hafal dengan nama itu.

 

“M-mwo?” Sang ibu menatapnya penuh ketidakpercayaan.

 

“Ne, nikahkan aku segera dengan Park Eunji.” Ulangnya lagi.

 

Seringaian terukir di bibir namja tampan itu. Ibunya masih saja mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya jika putra semata wayangnya ingin menikahi putri dari sahabat baiknya sendiri.

 

“W-wae?”

 

 

 

To be continued-

 

 

JANGAN LUPA COMMENT YEOROBUUUN *kisseusatusatu

comment kalian adalah kekuatan buat Author :’)

Kritik dan saran sangat Author harapkan disini

guna untuk kebaikan kita bersama *eh

NANTIKAN The Last Partnya Yeorobuuuun

Annyeong *bow

Iklan

49 pemikiran pada “Flower Love (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s