Give it To Me (Teaser)

FANFICTION :

Give it To Me /Teaser/

By : ArNy KIMTaemin

Cast : Han Jiu—EXO-M’s Kris

Genre : Romance

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Main Song : GIVE IT TO ME—SISTAR

Have been posted : @Itsourdream.wordpress.com

Disc : The casts are belonged to The GOD, and for EXO-K’s Kris, belonged to © SME. But, Own this story The plot is MINE!!!

A/N : Haloohaa~ author aneh bin ajaib balik lagi. Ada yang kangen?*PDakut*. Hehe, siapa tau aja ada yang kangen, atau paling tidak masih mengenalku. Huhuhu, sebelumnya aku mau minta maaf. Mungkin ada yang masih ingat atau ada yang udah lupa dengan FF ‘Blue Prince’ yang pernah kukirim keblog ini. Kalo masih ingat, Alhamdulillah dan makasih untuk kalian, tapi kalo gak ingat juga gapapa. Aku hanya mau minta maaf karena amsih belum bisa ngepublish kelanjutannya (chapt 3 ya?/Lupa) soalnya lagi sibuk sama urusan sekolah yang menjelang tingkat akhir nih.. maaf ya. Tapi, saat ini aku masih terus berusaha nulis walaupun belum siap J

Baiklah, bicara tentang FF kali ini. Well, ini memang tidak bisa dikatakan ‘Teaser’. Tapi aku lupa apa nama genre yang lebih panjang dari Teaser dan –jauh- lebih pendek dari 1shoot. Entah ficlet atau apa.. Jadilah begini ini^^ Hmm? Apa lagi yak? Kenapa bisa lahir cerita ini? Gak ada penelaahan (?) khusus waktu ingin buat. Hanya kepikiran aja.. FF ini untuk adik tercintaku, Rifa, yang sudah diterima sebagai mahasiswi ‘tekhnik sipil’ lhoo *pamer.com* (selamat ya.. ntar kalo aku buat rumah aku suruh kamu yang buat dah. Tapi ntar.. kalo sekarang selokan didepan rumahku yang peru dibuat. Bisakah? #PLAK) Karena perjanjian yang berisi kesepakatan (caiyaah kata-katanya) bahwa aku akan membuatkan Fanfiction untuk Rifa gak kelar2 sampe sekarang.. yaudah.. aku buat deh cerita ini. Setelah menghabiskan waktu dua jam untuk mengandung, mengeram (?) cerita ini dipikiranku.. akhirnya lahir dah ne cerite kedunie.. kalau ada yang gak ngerti dibilangin aja. Jujur aje, aye sendiri juga kadang2 gak ngerti ama cerite yang aye buat sendiri. Kalau kalian senang, Alhamdulillah.. kalau gak juga gak apa-apa. Tapi tolong jangan nge-Bash ya..*ditimpuk reader* Ok dah, langsung dibaca aja ^^

IT’S MINE! DON’T BASH!!! DON’T COPY!!!

{}–{}–{}

 

 GITM

 

I Don’t Need a Man!

Egoiskah aku merasakan itu? Tidak! Aku yakin aku tidak salah, apalagi egois! Aku hanya mencoba menerapkan prinsip yang mampu membuat diriku sendiri bertahan sebagai seorang wanita dizaman serba mengerikan ini. Tentu saja mengerikan, dan berbahaya.  Bagaimana bisa segala adat, kebiasaan, dan tindakan yang terjadi dizaman dulu kini terjadi lagi sekarang? Bukankah saat ini sudah emansipasi wanita? Lalu mengapa aku masih terkekang? Apa aku ini hewan peliharaan yang seenaknya diatur dan diajari sesuka hati untuk sekedar menyenangkan sang pemilik? Dan ‘pria’? Jangan pernah menyebut kata itu didepanku. Aku benci. Terutama jika dia harus menjadi majikanku. Aku takkan pernah sudi. Dia pula yang menjadi alasan utama mengapa aku membenci duniaku sendiri. Hey! Siapa yang butuh mereka jika hanya bisa menyakiti perasaan kaum hawa sepertiku?

I Need a Girl to be My Special Women ^^

Aku tidak mengerti mengapa ia menolakku, sementara banyak wanita yang terus berusaha melakukan

banyak cara hanya untuk bisa menarik,  paling tidak sedikit, perhatianku. Anehnya, aku semakin tidak mengerti dengan diriku sendiri. Kenyataan yang kudapati, setiap aku memandang hanya ada gadis itu yang terlihat olehku. Ia menjadi sosok yang diam-diam mencuri perhatianku. Waktu-ku habis percuma untuk memikirkannya. Aku tidak bisa melihat dan merasakan apapun selain dia. Gadis yang berbeda. Dan entah sejak kapan, aku mulai menyadari  bahwa aku membutuhkannya. Setulus hati kukatakan, aku mencintainya. Tapi, mengapa ia terus menjauh? Dan, bagaimana bisa dia sebegitu benci terhadapku? Untuk sekedar memalingkan wajahnya agar bisa menatapku saja, ia bahkan tidak pernah bisa melakukan hal itu.

Tidak ada kalimat ‘membutuhkan pria’ dalam kamus Han Jiu. Berbagai pengalaman pahit dihidupnya mengajarkan ia untuk selalu memasang tanda ‘bahaya’ tiap melihat salah satu dari makhluk ciptaan Tuhan yang terkenal dengan ketampanannya. Ayah, kakak kelas, teman-teman pria satu sekolahnya sejak sekolah dasar.. semua dari mereka selalu saja membawa kenangan manis yang berakhir menyakitkan untuknya. Lahir dari keluarga tidak berkecukupan disebuah desa terdalam di Incheon, memiliki ayah yang akan dengan senang hati menjualnya pada rentenir karena terlilit hutang yang tak mampu dibayar, dan sikap semena-mena ayahnya sehingga secara tidak langsung justru ia yang menjadi tulang punggung keluarga mereka, malah mendatangkan makian dan ejekan dari para tetangga untuk Jiu. Bahkan teman-teman sekelasnya, terutama yang pria, terus mengolok-olok dan mempermainkan Jiu. Mengetahui bahwa ia adalah anak dari seorang penjudi bodoh yang selalu kalah saat bertaruh, dan kenyataan bahwa dia hanyalah seorang gadis kecil dengan gerobak sampah yang mulai menjadi alat pekerjaan tetapnya sejak berumur empat tahun.

Hingga berusia 20 tahun, alasannya untuk bisa terus bertahan hidup hanya satu. Kebahagiaan. Butuh perjuangan berat dimana akhirnya ia berhasil menemukan jalan untuk mencapai itu. Keberadaan orang tua baru yang mengangkatnya sebagai anak telah sedikit banyak menenggelamkan rentetan masa lalu kelam yang ia miliki. Namun, apa Tuhan bermaksud mempermainkannya? Saat Jiu merasa ‘kesempurnaan’ itu hampir mendekat padanya, seseorang yang justru masuk dalam list ‘pria nomor satu yang ingin dijauhi’ mencoba memasuki kehidupan pribadinya. Mengikat mereka dalam sebuah tali suci, yang bagi Jiu, justru menjadi tali yang akan membawanya dengan mudah terjerumus dalam lautan neraka.

Cara apa lagi yang harus ia terapkan agar pria itu berhenti menatapnya?

………

“Aku tidak butuh pria. Karena itulah, aku sama sekali tidak membutuhkanmu, Tuan Wu.”

Wu Yi Fan tersenyum mendengar ucapan dari seorang wanita berjarak satu meter didepannya. Wanita yang sudah ia klaim sebagai ‘miliknya’ itu berlipat tangan didepan dada dengan sorot mata yang menatap tajam pada satu sudut lantai.

“Kau benar-benar tidak bisa mengubah keputusanmu, Jiu-ya?”

Gadis itu mendesah keras. Lagi-lagi mengalihkan pandangannya, kali ini ia menatap keluar melalui jendela kaca besar disebelah kanannya. Bibir gadis itu yang bergerak-gerak lucu tanpa suara—seperti sedang mengomel— membuat Wu Yi Fan ingin sekali mencubit pipinya yang chubby. Mungkin bisa sedikit menghapus perasaan miris yang semula pria itu rasakan karena kembali menyadari bahwa istrinya sendiri masih belum bisa menatap kearahnya.

“Aku menghormatimu. Karena kau anak dari paman dan bibi Wu. Tapi aku tetap tidak bisa—” Kata-kata Han Jiu tersendat karena saat ia menggeser sedikit posisi kepalanya ke samping, wajah paling tampan yang pernah ia lihat semasa hidupnya—berulang kali ia menepis pikiran itu—, sudah berhadapan kurang dari satu cm dari wajahnya. Tidak, ini bukan pertama kali. Pria itu sudah terlalu sering melakukan hal seperti itu padanya. Sama seperti sekarang.. lagi-lagi pria itu berhasil membuatnya tak mampu bergerak bahkan untuk sekedar mengerjapkan kelopak mata.

Sementara itu, Wu Yi Fan yang sangat gemas melihat rona merah dipipi Han Jiu, mulai menarik ujung bibirnya. Sejak pertama kali bertemu, gadis manis itu sudah terang-terangan menolak kehadirannya. Tapi, bagaimana bisa ia berbohong tidak membutuhkan pria sementara sekarang.. jelas-jelas ia butuh dirinya yang bisa membuat pipi gadis itu tidak terus-menerus kaku seperti mayat hidup.

“Kau terlihat cantik seperti ini, kau tau?” Suara renyah Wu Yi Fan terdengar lembut ditelinga Jiu, membuat mata gadis itu sedikit melebar, namun susah payah menahan dirinya untuk tidak menatap bola mata pria tampan itu secara langsung. Dan, oh! Apa darahnya membeku? Jiu merasa rasa dingin menusuk tulangnya? Bahkan sistem saraf yang khusus bekerja pada penglihatan tak mengizinkannya untuk mengalihkan pandangan dari mata sipit Wu Yi Fan yang menatapnya begitu teduh.

Han Jiu menggeser duduknya kebelakang dengan reaksi gugup yang sengaja ditutupinya, tapi saat punggungnya membentur kepala sofa, Ia terkesiap. Dan SHIT! Tak ada yang bisa ia lakukan saat pria bertubuh tinggi didepannya itu menundukkan kepala dan menyatukan bibir mereka secara perlahan, memberikan sentuhan yang terlalu lembut dan basah bagi Jiu. Sial, kenapa ia merasakan debaran itu lagi? Sama seperti malam pertama mereka yang akhirnya berakhir dengan pengalahan Wu Yi Fan untuk tidak tidur satu kamar dengannya.

Deg! Deg! Deg!

Kedua tangan Jiu meremas sofa karena merasa debaran tadi makin menguasai tubuhnya. Seperti Wu Yi Fan yang entah sejak kapan mulai menguasi seluruh permukaan wajahnya untuk pria itu ciumi dan memberikan hembusan nafas menggoda disana. Membuat tubuh mungil Jiu berulang kali menegang dan akhirnya bergidik karena merasa seolah tersengat. Tangannya ingin sekali teralih untuk mendorong dada Wu Yi Fan, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dua tangannya sudah mencapai rambut pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu sejak satu bulan yang lalu. Ia meremas udara disana, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak meremas rambut pria itu.

Brengsek! Pria itu pasti sudah sering melakukannya pada mantan-mantan pacarnya dulu–yang menurut Jiu hanya orang-orang bodoh karena terlalu menyerahkan diri mereka pada seorang pria. Apalagi pria semacam Wu Yi Fan. Businessman muda yang terkenal dengan ketampanan, kepintaran, dan kelihaiannya dalam begonta ganti pasangan cantik yang semuanya terdiri dari wanita berkelas—. Kalau tidak, bagaimana mungkin Wu Yi Fan bisa begitu pandai memberikan sensasi berbeda untuk Jiu. Mentransfer suatu rasa yang tidak pernah gadis itu rasakan.. atau suatu rasa yang telah menggantikan perasaan cintanya pada Kim Jong In, pria yang telah mencampakkannya dulu.

Han Jiu menggigit bibir bawahnya saat merasa telinganya kegelian berkat gigitan pelan yang dilakukan Wu Yi Fan. Kali ini ada yang berbeda. Jika setiap malam, Wu Yi Fan hanya mencoba mencuri ciumannya—entah itu saat Jiu tidur, namun gadis itu sempat merasakannya beberapa kali—kali ini pria itu lebih berani melakukan hal lain yang lebih jauh dan dalam. Hal lain yang sudah sangat membuat Jiu kehilangan akal. Karena sekarang, gadis itu justru menginginkan sesuatu yang ‘lebih’ dari sekedar hembusan dan gigitan di daun telinga-nya.

Bibir Wu Yi Fan sudah berpindah di kulit bagian bawah telinga Jiu, mengecup tempat itu sebanyak sepuluh kali sebelum mulai bergerak lagi menyusuri arena lain yang berada semakin kedepan. Saat, Jiu menjenjangkan lehernya—ia benar-benar sudah gila karena mengizinkan orang yang ia benci dengan mudah menguasi tubuhnya—, Wu Yi Fan menyentuhkan bibir lembutnya sangat lama tepat di leher bagian tengah Jiu. Tangan gadis itu mulai turun, meremas bahu suaminya yang masih memakai kemeja kantor berwarna putih.

“Kau berbohong.”

Han Jiu tersentak keras, menyebabkan kedua matanya  yang entah sejak kapan terpejam erat, terbuka perlahan-lahan. Indera yang sudah berkaca-kaca itu melebar tatkala menyadari bahwa Wu Yi fan sudah menarik wajah pria itu untuk menjauh dari wajahnya dan kini menyunggingkan seulas senyum penuh kemenangan. Hati Jiu berdesir perih, Wu Yi Fan hanya mempermainkannya!

Agar Wu Yi Fan tak melihat airmata yang sudah bergulir turun di mata Jiu yang mulai memerah, gadis itu mengalihkan wajahnya kesamping, namun.. sekali lagi.. untuk ketujuh puluh satu kali dihari itu, tubuhnya membeku dengan perlakuan Wu Yi Fan. Suaminya itu baru saja menahan wajahnya dan memberi dua kali kecupan singkat di sudut bibir Jiu. Membuat gadis itu mematung tanpa berkedip satu detikpun.

Wu Yi Fan menatap lembut istrinya sambil menyingkirkan helaian-helaian rambut Jiu yang menggangu pemandangannya untuk lebih leluasa menatap gadis itu. Ia menundukkan badan agar bisa menyeimbangkan wajahnya dengan wajah Jiu, lalu berkata dengan nada penuh penegasan. “Kau berbohong padaku. Kau bilang tidak butuh aku, tapi tubuhmu jelas-jelas membutuhkanku, hm?”

Akhirnya Jiu bisa mengerjap. Tapi, penafasannya yang kini menjadi masalah. Ia tidak bisa mencium apapun kecuali aroma wangi khas tubuh Wu Yi Fan yang semakin lama semakin mendekat. Hingga ujung hidung mancung milik pria itu sudah menyentuh ujung hidung Jiu. Tangan pria itu entah sejak kapan berada diatas kedua bahunya, menekan bagian tubuh itu dengan keras, memberikan kesan paksaan. “Kau mungkin tidak menyadarinya, Jiu-ya. Kau sudah menjadi ‘milikku’ dari sejak kau lahir kedunia ini. Begitupula sebaliknya. Sekarang kau bisa menolakku. Tapi saat kau mulai jatuh cinta padaku nanti, kupastikan kau tidak akan pernah berhenti menjadi Nyonya Wu.. berhati-hatilah! Aku selalu serius dengan apa yang kukatakan.”

 

FINISH…

Continue to Part One ^^

 

Iklan

22 pemikiran pada “Give it To Me (Teaser)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s