Is This Love (Chapter 1)

Capture

Title: Is This Love? (Chapter 1)

Written by: Cecilia Gunadi

Length: Chaptered

Genre: Romance, School Life

Rating: T

Main cast:

−      Kim Do Yeon

−      Xi Luhan

−      Yoo Ji Ae

−      Oh Sehun

Disclaimer: Cerita ini murni dari pikiran saya sendiri, jadi tolong jangan diplagiatin ya ^^ sebelumnya saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada readers sekalian. Saya sudah pernah mengirimkan ff buatan saya dengan judul yang sama dengan ff ini ke exofanfiction.wordpress.com. Tetapi kali ini isinya berbeda. Saya minta maaf karena adanya perubahan alur cerita juga cast perempuannya. Setelah ini, tidak akan ada lagi perubahan. Ff ini sudah pernah saya kirimkan ke exofanfictionindonesia.wordpress.com. Jeongmal mianhae T_T

AN: Semua cast milik Tuhan dan orangtua mereka masing-masing. Ini ff pertama saya ‘-‘) hmm, sebenarnya sebelumnya sudah pernah buat ff juga, tapi ternyata ceritanya putus ditengah jalan /? maaf kalau posternya menyedihkan alias tidak bagus ._. saya tidak pandai membuat poster. Langsung aja deh ^^ komentar readers sangat dibutuhkan ‘-‘)b

HAPPY READING! ^^

Doyeon’s POV

“Kim Do Yeon!!!” teriak seorang yeoja. Aku buru-buru melepas headphone yang ku kenakan. Ku lihat wajahnya yang sedang menahan kesal. Ini berarti bukan hanya baru sekali ia memanggilku.

“Aah, mianhae Jiae-ah. Aku tidak dengar daritadi kamu memanggilku.”

“Makanya jangan terlalu fokus dengan buku-bukumu itu!”. Baru saja aku akan menjawab, Jiae langsung menambahi, “harusnya kamu langsung keluar kelas. Bukan berdiam diri disini.”

Aku terbingung-bingung mendengar gerutuannya. Bukankah aku tidak mendengar panggilannya karena tadi aku mengenakan headphone? Lalu mengapa ia menyangkutpautkan kegiatan membacaku? Aku langsung menyimpan headphone yang tadi ku kenakan ke dalam tas ungu kesayanganku.

Kajja kita ke kantin!” ajakku pada Jiae.

Setibanya dikantin, kami langsung menghampiri salah satu tempat yang telah diduduki oleh seorang namja.

“Luhan!” teriak Jiae kepada namja itu sambil melambaikan tangannya. Lama-lama aku bisa tuli kalau dia terus-menerus berteriak seperti itu.

“Bisakah kamu tidak berteriak? Kita dilihatin yang lainnya tau!” gerutu Luhan setelah kami sampai ditempat yang didudukinya. Aku mengangguk-angguk sebagai tanda setuju dengan perkataan Luhan barusan. Jiae langsung mempoutkan bibirnya. Dan seperti biasanya, mereka akan beradu mulut seperti anak kecil, sedangkan aku−yang cenderung pendiam−hanya menonton mereka sambil sesekali tersenyum singkat.

“Aku ke perpustakaan dulu ya. Kalian makan duluan saja,” pamitku yang ternyata menghentikan kegiatan adu mulut mereka.

Saat akan beranjak pergi, ada yang menahan pergelangan tanganku. “Hati-hati, Yeon-ah. Jangan lupa kembali untuk menyelesaikan makan siangmu,” kata namja yang menahan pergelangan tanganku sambil tersenyum. Yap, siapa lagi namja itu kalau bukan Luhan? Betapa beruntungnya aku bisa memiliki sahabat seperti Luhan, juga seperti Jiae tentunya. Mereka sangat baik dan perhatian padaku. Entah apa yang membuat aku yang cenderung lebih pendiam ini bisa bersahabat dengan 2 makhluk menggemaskan−yang rasanya paling bawel−seperti Jiae dan Luhan. Aku membalas perkataannya dengan anggukan kecil sambil tersenyum. Setelah melambaikan tanganku pada Jiae dan Luhan, aku langsung menuju ke perpustakaan.

“Permisi…” kataku sambil mengetuk pintu perpustakaan. Setelah mendapat anggukan−yang mengisyaratkanku untuk masuk−dari petugas perpustakaan, aku langsung menghampiri sebuah rak buku yang terletak dipaling belakang ruang perpustakaan. Aku mengambil beberapa novel dari rak buku itu. Pandanganku terhenti pada sebuah novel dengan sampul hijau bertuliskan “Permainan Maut” disamping novel itu. Aah, novel itu pastilah lanjutan dari novel Pengurus MOS Harus Mati−novel karangan Lexie Xu yang baru saja ku baca minggu lalu. Sayangnya, postur tubuhku yang kecil dan tidak terlalu tinggi ini menyulitkanku untuk mengambil novel yang letaknya dirak buku bagian paling atas itu. Aku berjalan ke arah meja perpustakaan, mencoba menemui petugas perpustakaan untuk meminta tolong. Ternyata disini tidak ada siapa-siapa. Pengurus perpustakaan yang tadi juga tidak ada. Mungkin ia sedang ke toilet. Aku menunggu petugas perpustakaan itu datang.

5 menit…

8 menit…

13 menit…

Apa yang petugas perpustakaan itu lakukan, eoh? Bahkan sekarang sudah hampir 15 menit aku menunggunya tapi ia tidak juga menampakkan diri. Kurasakan ponsel yang ada disaku seragam sekolahku bergetar. Ternyata ada pesan masuk.

From: Jiae

Yeon-ah, kamu dimana? Ppalli.. Kita ada kelas musik setelah jam makan siang, ingat?

Aku menepuk pelan jidatku. Untung saja Jiae mengingatkanku. Nanti sajalah aku pinjam novel yang tidak bisa kuraih itu. Aku menuliskan “Kim Do Yeon” dikolom ‘nama peminjam’ dan judul beberapa novel−yang tadi kupinjam−dikolom ‘judul buku’ pada buku peminjaman. Setelahnya, aku bergegas pergi ke kantin untuk menyelesaikan makan siangku.

BUGH

Beberapa novel yang tadinya aku bawa dalam dekapanku, sekarang jatuh berserakan dilantai. Aku segera menunduk dan mengambil novel-novel itu. Setelah novel-novel itu kembali dalam dekapanku, aku berdiri dan menatap namja yang baru saja bertabrakkan denganku. Ia balas menatapku dengan muka datar. Mungkin saja aku yang tidak sengaja menabraknya karena terlalu fokus dengan novel-novel yang ku bawa. Karena dipandangi dengan tatapan tidak enak seperti itu, aku cepat-cepat meminta maaf.

Mianhae,” kataku. Ia hanya memandangiku sebentar, kemudian berlalu meninggalkanku begitu saja tanpa berucap sepatah katapun. Aku baru tau ada namja sesombong itu. Bahkan aku sendiri tidak tau siapa yang dengan tidak sengaja menabrak duluan. Bisa saja sebenarnya ini adalah salah namja itu. Jangankan menolongku mengambil novel-novelku, meminta maaf saja tidak. Aku menghembuskan nafas pelan dan segera pergi ke kantin.

“Yak! Kamu darimana, Yeon-ah?” ucap Luhan ketika melihatku datang dengan mendekap beberapa novel.

“Perpustakaan. Bukankah tadi aku sudah bilang padamu?” jawabku.

“Kenapa lama sekali?” tanya Jiae.

“Petugas diperpustakaan lupa dimana ia meletakkan buku peminjaman. Jadi aku harus membantunya mencari buku itu,” jawabku asal-asalan. Jiae hanya meng-oh-kan perkataanku barusan.

“Cepat habiskan makan siangmu. Sebentar lagi kelas musik akan segera dimulai,” kata Luhan mengingatkan.

Aah, aku sudah kehilangan nafsu makanku. Lagipula, mana bisa aku menghabiskan makananku dalam waktu kurang dari 8 menit.

“Tidak usah. Aku akan memakannya nanti, setelah kelas musik selesai,” kataku.

“Tidak boleh, Yeon-ah. Cepat habiskan makananmu sekarang!” perintah Luhan.

“Mana bisa aku menghabiskan makanan ini dalam waktu singkat. Sudahlah, nanti saja setelah kelas musik selesai. Kajja!” ajakku pada Jiae dan Luhan sambil memasukkan beberapa novel yang tadi kupinjam kedalam tasku.

>>> SKIP

Aku membereskan buku dan alat tulisku. Dikelas ini hanya ada aku seorang diri. Para murid telah meninggalkan kelas musik dari kira-kira 15 menit yang lalu, kecuali aku. Hanya aku yang tetap tinggal dikelas ini untuk menyelesaikan tugas yang tadi diberikan seonsaengnim. Andai saja tadi aku lebih fokus, pasti aku bisa menyelesaikan tugas dari seonsaengnim lebih cepat dan tidak perlu terlambat pulang seperti ini. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Langit mulai gelap dan ternyata sekolah ini sudah sangat sepi. Hmm, sepertinya disekolah ini sudah tidak ada siapa-siapa lagi selain aku. Tapi, aku merasa seperti ada yang memperhatikanku. Aku menghentikan langkahku dan meneliti koridor sekolah. Ternyata tidak ada siapa-siapa. Mungkin hanya perasaanku saja. Baru saja akan melanjutkan langkahku, kurasakan ada yang menepuk pundakku. Aku berbalik dan mendapati sosok Luhan berdiri dibelakangku.

“Yak! Kamu mengagetkanku tau,” protesku.

Mianhae, Yeon-ah,” jawabnya sambil terkekeh.

“Kamu belum pulang?” tanyaku. Ia hanya menggeleng menanggapi pertanyaanku. Tiba-tiba ia menggenggam tanganku. Aku menoleh dan mendapatinya tersenyum. Senyumnya mempesona sekali. Aku baru menyadari satu hal setelah hampir 2 tahun bersahabat dengannya, ia sangat tampan. Ku lihat ia mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang dibawanya, seperti kotak makan. Ia menyodorkan kotak makan itu padaku.

Waeyo?” tanyaku kebingungan.

“Kamu belum makan kan? Babo! Kenapa makananmu kamu buang?” tanyanya yang sukses membuat mataku membulat.

“I.. Itu.. Aku han…”

“Nafsu makan atau tidak, kamu tetap harus makan. Bagaimana jika kamu jatuh sakit hanya karena tidak makan?” potongnya yang sepertinya sudah tau jawaban apa yang sebelumnya akan kulontarkan.

Gomawo, Lulu-ya. Kamu saja yang memakannya.”

Aniya. Cepat makan ini,” jawabnya yang langsung mendapat gelengan dariku.

“Aku yang akan menyuapkanmu. Aaaa…” ucap Luhan sambil menyodorkan sendok yang dipegangnya ke mulutku. Aku hanya diam tanpa membuka mulutku. Aku tidak pernah disuapi seperti ini. Pernah sih, tapi itukan dulu, saat aku masih kecil.

“Yak! Yeon-ah, ayo buka mulutmu,” ucapnya lagi. Aku menggeleng untuk yang kedua kalinya.

“Kamu mau aku suapkan dengan ini?” tanyanya dengan muka polos sambil menunjuk bibirnya. Apa maksud perkataan namja ini? Aah, aku yakin wajahku sudah seperti kepiting rebus sekarang.

TUK!

Aku langsung mendaratkan jitakan pelan dikepalanya.

“Aww.. Appo,” rintih Luhan sambil memegang kepalanya yang baru saja mendapat hadiah dariku.

“Siapa suruh kamu melontarkan pertanyaan gila seperti itu!” kesalku.

“Siapa juga yang menyuruhmu tidak mau makan? Ayolah, aku hanya tidak ingin kamu sakit,” katanya dengan wajah memelas.

“Aah, arraseo.” kataku akhirnya, yang langsung mengembangkan senyum di wajahnya.

Kajja!” ajaknya setelah aku menyelesaikan makanku.

“Kemana?”

“Pulang. Apa kamu ingin menginap disini?” tanyanya sambil mengacak-acak lembut rambutku. Seketika itu juga jantungku langsung bekerja dengan cepat, tidak seperti biasanya.

“Yeon-ah, waeyo?” tanyanya lagi. Aku langsung menggeleng dan menundukkan kepalaku. Tiba-tiba saja tangannya sudah berada didaguku. Ia mengangkat daguku dan menatapku tepat di mataku.

“Lu-ya, ayo kita pulang,” ajakku sambil melepas tangannya dari daguku. Ia hanya mengangguk lalu tersenyum. Selama perjalanan menuju ke apartmentku, kami hanya diam.

Aku tidak tinggal dirumah. Aku tinggal di apartment pemberian appa. Orangtuaku tidak tinggal bersamaku. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Jadi, aku meminta mereka untuk membelikanku apartment saja. Aku bisa lebih bebas dan lebih mandiri. Selain itu, aku jadi tidak perlu mendekam dirumah mewah berukuran besar seorang diri.

Aku memasuki kamarku yang langsung memperlihatkan dunia ungu. Aku sangat menyukai warna ungu. Hampir semua barang-barangku berwarna ungu. Kamarku cukup luas, bahkan dikamarku ada satu rak buku berukuran besar yang tentunya berwarna ungu. Seperti yang kalian tau, aku sangat gemar membaca. Jadi tidak heran dikamarku ada rak buku sebesar itu. Setelah mandi dan mengerjakan tugas Biologiku, aku beranjak ke kasur. Aku meraih ponselku dan mendapati adanya pesan masuk.

 

From: Luhan

Yeon-ah…

Tidak biasanya Luhan mengirimiku pesan seperti ini. Biasanya, isi pesannya to the point.

 

To: Luhan

Waeyo?

 

From: Luhan

Aku tidak bisa tidur ._.

Aku merasa ada yang berbeda dari Luhan. Ini sangat tidak biasanya, apalagi pesannya hanya memberitahuku bahwa ia tidak bisa tidur.

 

To: Luhan

Tumben sekali kamu mengirimiku pesan seperti itu. Apa kamu tidak bisa tidur karena memikirkanku?

Aku tersentak. Pesan macam apa yang baru saja aku kirim, eoh? Bahkan aku tidak pernah se-pede itu. Pikiranku langsung mengarah pada kejadian tadi, saat dimana ia mengucapkan kalimat yang membuatnya mendapatkan jitakan dariku. Sebenarnya, aku sangat ingin mengangguk menanggapi pertanyaannya tadi. Huaaa, apa yang baru saja aku pikirkan?

Hmm, apa aku jatuh cinta pada seorang Xi Luhan? Memang bukan hanya baru sekali aku merasakan ini, tapi entah mengapa, hari ini hatiku menegaskan bahwa aku memang menyukainya.

 

From: Luhan

Siapa yang tahan tidak memikirkan yeoja manis sepertimu? ^^v

Aku tersenyum membaca pesannya barusan. Sepertinya, aku memang menyukainya. Mengapa baru sekarang aku menyadarinya?

 

To: Luhan

Kamu menyebalkan =_= aku tidur dulu, ne.

 

From: Luhan

Aku serius 😛

Ne. Jaljayo, Yeon-ah ^^

Baru saja aku akan meletakkan ponselku, benda itu kembali bergetar. Kembali ku dapati adanya pesan masuk.

 

From: Luhan

Besok temui aku ditaman belakang setelah jam pulang sekolah ^^

Ada apa ya? Aku sudah sangat mengantuk. Tanpa membalas pesannya, aku meletakkan ponselku dan langsung tertidur dengan nyenyaknya.

TBC

 

8 pemikiran pada “Is This Love (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s