Anonymous Dad (Chapter 1)

Anonymous Dad – Chapter 1

 CYMERA_20130623_202503

Jung Jin Hyun (OC), Hwang Joo Yo (OC), Jung Su Hyun (OC), Jung Jae Hyun (OC), etc.

Romance, Drama, Family.

2013. nyoh.

Note: Please notice with the time!

***

Love makes time pass; time makes love pass.” –anon

***

Seoul, South Korea.

06.30 KST

Tuk, tuk, tuk.

Suara pisau mendominasi dapur kediaman keluarga kecil di daerah Namsan.

“Jae Hyun-ah! Jangan lari-lari terus! Hati-hati,” seorang ibu tunggal yang sedang memasak bubur, menasihati anaknya yang belum genap berumur lima tahun. Ia begitu khawatir dengan kesehatan anaknya, ia juga baru tahu kalau anaknya tersebut menderita asma, jadi takut akan terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.

Ne, eomma,” balas anak bernama Jae Hyun tersebut. Ia datang menghampiri ibunya kemudian menghambur ke pelukan ibunya tersebut.

Ibunya—Jin Hyun—sedang mengaduk nasi yang melembek, terkejut.

“Jangan buat eomma kaget Jae Hyun-ah, eomma sedang memasak bubur untuk Su Hyun,” kata Jin Hyun kemudian menaruh sendok sayur yang ada di tangannya lalu mencium kening Jae Hyun—anak laki-lakinya.

Eomma, aku boleh melihat Su Hyun kan?” pinta Jae Hyun seraya mengambilkan Jin Hyun mangkuk bubur—berusaha merayu.

Jin Hyun tersenyum simpul karena tingkah laku anaknya. Ia kemudian menggeleng sebagai jawaban.

Waeyo?” tanya Jae Hyun protes. Kemudian ia mengerucutkan bibirnya, bersedih.

Jin Hyun mengambil mangkuk yang ada di tangan Jae Hyun lalu berjongkok, menyamakan tinggi dengan anaknya. “Tidak jika kau belum mandi. Kita mandi, o?”

Jin Hyun mematikan kompor saat mendapat anggukan dari Jae Hyun. Ia berdiri kemudian menggendong anak lelakinya itu di punggung. “Jangan terlalu lama, o?” kali ini Jae Hyun yang meminta persetujuan.

Ye, nae aegi,” balas Jin Hyun sambil mencubit hidung Jae Hyun, lalu mereka berdua menuju ke arah kamar mandi sambil bersenandung lagu yang Jae Hyun sering nyanyikan di TK-nya.

Cklek

Eomma! Huaaang,” Jin Hyun dan Jae Hyun menoleh ke belakang—ke kamar Jin Hyun—saat mendengar rengekan Su Hyun, anak perempuannya, yang sedang berdiri di depan pintu.

Jin Hyun segera menurunkan Jae Hyun dari gendongannya. “Jae Hyun-ah, eomma ingin pergi melihat Su Hyun. Kalau kau anak pintar, kau bisa mandi sendiri, bukan?” ucap Jin Hyun.

Jae Hyun yang mengerti keadaan segera mengangguk dan melanjutkan jalan ke arah toilet.

Ne, Su Hyun-ah,” Jin Hyun berujar seraya berlari menuju kamar. Saat sudah sampai di depan kamar, Su Hyun segera memeluk Jin Hyun. Jin Hyun berjongkok untuk menyamai tinggi.

Eomma, aku mimpi buruk.”  Jae Hyun makin mengeratkan pelukannya saat ia berkata sambil terisak.

“Sssh, jangan menangis. Kau mimpi apa?” tanya Jin Hyun dengan sabar.

“Aku, aku mimpi tentang appa alien,” balas Su Hyun. Jin Hyun yang mendengar hal itu balas memeluk Su Hyun erat.

“Apa tadi malam kau membayangkan appa alien?” tanya Jin Hyun. Su Hyun mengangguk tanda mengiyakan.

Eomma jangan marah,” balas Su Hyun polos.

Ani, eomma tidak marah. Nah, sekarang lebih baik kau istirahat, cacarmu mulai bertambah banyak. Nanti eomma kembali lagi, o?”

Ne, eomma.”

***

Los Angeles, United State of America.

07.00 (America Standart Time)

Ya! What do you want, huh?” seorang pria—dengan ponsel di antara telinga dan tangannya—berteriak tidak suka kepada orang yang ada di seberang.

“Hyunnie,” wanita yang hampir menginjak usia empat puluh lima tahun yang ada di seberang berkata sabar.

Don’t call me like that! I hate it! To the point saja, sekarang apa maumu?”  kata pria itu kesal.

“Hyunnie. pulanglah,” balas ibu—bisa dibilang ibu tiri—tersebut lirih.

“Hey, my lovely step mother, aku senang di Amerika! Sudahlah jangan ganggu aku!” balas anak itu dingin.

Pria itu mendengar ibunya mendesah. Hening sesaat. Kemudian pria itu melanjutkan perkataannya. “Beri aku alasan agar aku bisa pulang.” ia terkejut setelah menyadari apa yang ia katakan. Tidak seperti biasanya ia seperti ini.

Menerima telephon ibunya pagi-pagi, kemudian dengan bodoh menanyakan  alasan ia pulang. Bukannya menolak seperti yang ia lakukan dua tahun terakhir.

Dasar bodoh, rutuknya menyesal.

Ia mendengar ibunya mendesah lagi, dan akhirnya ibunya itu angkat bicara. “Demi appamu,” ucap ibunya. Pria itu terperangah mendengar jawaban ibunya. Hanya itu saja. Tidak seperti biasanya. Memohon untuk pulang agar ia bisa melanjutkan pekerjaannya di Korea atau alasan konyol lainnya.

Belum membalas permintaan ibunya, nada sambung terputus satu arah.

What?!” ia memekik heran.

Hari ini tidak seperti biasanya. Biasanya ia yang akan marah-marah kemudian membiarkan ibu-tiri-nya berbicara sesuka hati tanpa ia dengar, lalu ia yang akan menutup telephone. Tetapi hari ini berbeda, ia mendengarkan ibunya berbicara, ibunya berbicara seperlunya, kemudian ibunya pula yang memutuskan sambungan telephon, berkebalikan tiga ratus enam puluh derajat dari hari-hari biasanya.

“Ada apa dengan hari ini?” ujarnya bingung lalu menaruh ponselnya di atas meja kerja.

“Perasaanku tidak enak,” lanjutnya berlalu ke kamar pribadinya.

***

Seoul, South Korea.

07.44 KST.

“Myung Soo-ya, aku sangat berterima kasih kepadamu,” ujar Jin Hyun seraya membungkuk dalam kepada temannya.

“Jin Hyun-ah! Sudahlah! Kau ini, seperti baru mengenalku saja,” ujar Myung Soo seraya menggendong Jae Hyun.

Ne, Jin Hyun-ssi.” Jae Hyun yang masih polos ikut berujar. Myung Soo dan Jin Hyun tertawa kecil melihat tingkah lucu Jae Hyun.

Sebenarnya hari ini Jin Hyun sangat sibuk. Jika Su Hyun tidak sakit cacar, ia akan pergi ke kantor, tetapi mengingat kembaran Jae Hyun itu sakit, ia tidak bisa meninggalkan Su Hyun sendirian dan bibi penjaga yang sedang cuti perihal anaknya melahirkan. Karena hal itu, ia tidak bisa mengantar Jae Hyun pergi ke TK-nya, dan akhirnya ia meminta teman baiknya yang memang bekerja menjadi guru TK di tempat Jae Hyun.

Mianhae, aku selalu saja merepotkanmu,” kata Jin Hyun tidak enak.

“Ah, aniyo! Jin Hyun-ah! Aku dan kau sudah berteman hampir dua puluh tahun! Kau kira membantumu begini saja aku tidak bisa?” balas Myung Soo.

Kemudian mereka berdua berlalu meinggalkan apartemen dengan senyum yang menempel di bibir. Tak lupa Jae Hyun melambai ke arah eommanya.

Bye-bye, eomma.” Jae Hyun berteriak setelah Myung Soo membisikan sesuatu di telinganya.

“Terima kasih banyak, Myung Soo-ya!” teriak Jin Hyun berterima kasih. “Hati-hati di jalan!”

Jin Hyun bersyukur karena sakit cacar yang Su Hyun rasakan tidak membuat dia rewel—siang-malam—seperti anak pada umumnya. Hanya saja, ia seperti kembali merawat Su Hyun kecil, yang pada malam harinya pasti akan terbangun dan menangis.

Eomma,” Su Hyun melenguh dalam tidurnya.

Ne, aegi,” balas Jin Hyun berbisik kemudian mengecup kening Su Hyun.

Setelah tadi Su Hyun terbangun karena mimpi buruk, Su Hyun kembali tertidur. Tetapi seharusnya, ia memakan buburnya terlebih dahulu, agar perutnya terisi. Tidak tega membangunkan Su Hyun, akhirnya Jin Hyun memutuskan untuk membereskan rumah. Belum sejengkal ia berdiri Su Hyun sudah menggumam.

Appa alien,”

Jin Hyun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak tega melihat Su Hyun yang terus-terusan mengigaukan ‘appa alien’-nya. Appa alien yang benar-benar tidak diketahui Jin Hyun dimana orang tersebut berada. Ia mencoba menahan tangisnya yang kerap kali hampir mengalir keluar saat mengetahui bahwa Su Hyun selalu mengigau tentang appa aliennya—yang Su Hyun sendiri tidak tahu bagaimana rupa appa aliennya itu. Bahkan yang membuat Jin Hyun tidak tahan adalah saat mengetahui bahwa Jae Hyun juga sering memanggil appa aliennya saat sedang sakit. Sama persis. Tingkah laku anak kembar.

“Jangan seperti ini, Su Hyun-ah. Kau hanya boleh menyebut eomma. Jangan appa,” ucap Jin Hyun lirih.  “Kau hanya punya eomma. Hanya eomma,”

***

London, United Kingdom.

09.33 (UK Standart Time)

3 years ago…

“Hyun-ah, kau sudah sadar?” kata seorang ibu yang sedang menukar aroma terapi yang ada di ruangan tersebut.

Tangan ibu itu bergetar saat mengetahui kalau anaknya sudah sadar dari koma selama tiga tahun. Dengan tergesa-gesa, beliau memencet tombol merah yang ada di dekat ranjang.

Appo,” ucap lelaki yang dipanggil Hyun oleh ibunya.

“Sabar nak. Dokter sebentar lagi akan datang,” ibu itu menggenggam tangan anaknya, berusaha memberi kekuatan.

Pintu ruang rawat pun terbuka dan memperlihatkan dua orang berjas putih. Ibu tersebut menghela napas lega saat melihat dua orang tersebut.

Ahjumma, tenang saja.” ucap salah seorang dokter—wanita. Ia memeluk ibu itu yang sudah mengalirkan air mata.

“Hyuna-ya, tolong bantu dia,” kata ibu itu memohon.

Dokter bernama Hyuna tersebut mengangguk dan membantu dokter Han yang sedang membantu lelaki yang baru saja sadar dari komanya itu.

Sedangkan dokter Han mengurus alat bantu yang terpasang di tubuh pria itu, kepalanya sangat sakit entah karena hal apa. Ia seperti mencari. Mencari sesuatu yang sepertinya hilang dalam memorinya.

Setelah ia rasa lelah, ia akhirnya terdiam. “Aku di mana?” tanya lelaki itu seraya melihat sekeliling.

Ibunya yang sangat khawatir menghampiri anak semata wayangnya itu. “Kau di rumah sakit, Hyun-ah,” balas ibu itu kemudian menggenggam kembali telapak tangan anaknya.

Nuguseyo?” balas lelaki itu dingin.

Ibu lelaki itu menangis makin dalam saat mengetahui anaknya tidak mengenalinya. Ya Tuhan. Apakah anaknya amnesia? Atau karena sudah koma selama tiga tahun? Jadi ia tidak mengingat kalau yang ada di depannya itu adalah ibunya. Ibunya melemas dan jatuh terduduk. Ia sangat sakit saat mengetahui anaknya itu tidak mengenalnya.

“Tolong dia Hyuna-ya, tolong dia” ujar ibu itu.

Hyuna yang sudah lama mengenal ahjumma itu mengajaknya bangkit dan pergi dari ruang rawat. “Aku akan bantu sebisa mungkin, ahjumma,”

***

Seoul, South Korea.

11.02 KST

“Jae Hyun-ah,” Myung Soo berjalan seraya memanggil Jae Hyun yang sedang bermain perosotan. “Pelan-pelan,” Myung Soo memegang tangan Jae Hyun yang sedang menaiki tangga perosotan.

“Ne?” tanggap Jae Hyun polos saat ia sudah duduk di atas perosotan. Jae Hyun menatap Myung Soo dengan mata besarnya.

“Mian, aku terlalu lama di kelas,” balas Myung Soo. Ia  berjalan sampai di ujung perosotan dan menunggu Jae Hyun agar meluncur.

“Ne, Myung Soo-ssi,” balas Jae Hyun.

Tidak sopan sebenarnya memanggil Myung Soo tanpa menggunakan embel-embel hyung atau ahjussi. Tetapi Myung Soo sendirilah yang membiarkan Jae Hyun memanggil namanya—agar terkesan seperti teman.

“Ayo, kita pulang,” ajak Myung Soo kemudian mengangkat tubuh Jae Hyun yang baru saja meluncur.

“Ne,” balas Jae Hyun kemudian menerima uluran tangan Myung Soo.

Myung Soo yang sedang menggendong Jae Hyun kemudian berjalan ke arah bangku taman untuk mengambil tas Jae Hyun yang tergeletak di sana. Saat tas Jae Hyun sudah di tangan, sebuah kertas meluncur jatuh. Jae Hyun yang tahu apa isi kertas itu menutup matanya. Myung Soo yang melihat tingkah aneh Jae Hyun segera berjongkok dan mengambil kertas tersebut. Dengan rasa penasaran yang mencapai puncak, Myung Soo segera membuka kertas tersebut. Ia melihat tulisan hangul yang masih acak-acakan dan banyak bekas-bekas hapusan di sana-sini.

“Appa alien?” Myung Soo menyebut dua kata yang ada di dalam kertas tersebut.

“Myung Soo-ssi, jangan marahi aku,” ucap Jae Hyun lalu menyembunyikan wajahnya di leher Myung Soo.

“Ani-yo, Jae Hyun-ah.” Myung Soo tahu, kalau Jae Hyun takut dirinya marah bila mengetahui Jae Hyun masih senang menggambar atau membayangkan appa alien.

“Gambar alienmu makin bagus, Jae Hyun-ah,” lanjut Myung Soo mulai berjalan meninggalkan taman bermain di TK. “Lain kali ajari aku,” tambah Myung Soo.

“Kau tidak marah?” Jae Hyun menampakkan kembali wajahnya setelah tahu bahwa Myung Soo tidak memarahinya.

“Untuk apa aku marah, Jae Hyun-ah?” ujar Myung Soo mencoba membuktikan kepada Jae Hyun bahwa ia tidak marah.

“Yeeeee~ Myung Soo-ssi tidak marah!” teriak Jae Hyun senang. Myung Soo hanya tersenyum kecil sebagai balasannya.

“Mau ku gendong di bahuku?” tanya Myung Soo.

“O!” balas Jae Hyun semangat. Kemudian Jae Hyun merasakan bahwa dirinya terangkat hingga melewati kepala Myung Soo dan berakhir dengan posisi duduk di atas bahu Myung Soo. Kemudian Jae Hyun merasa Myung Soo mulai berjalan kembali.

“Myung Soo-ssi baik,” ucap Jae Hyun kemudian mengecup kepala Myung Soo.

Myung Soo yang diperlakukan seperti itu oleh Jae Hyun memasang tampang kesal yang dibuat-buat.

“Kenapa Myung Soo-ssi tidak jadi appa saja?” Jae Hyun bertanya dengan polos.

DEG

Sesaat Myung Soo berhenti berjalan, ini bukan pertama kalinya ia ditanyakan pertanyaan seperti ini oleh anak-anak Jin Hyun. Su Hyun sang kembaranpun pernah menanyakan hal itu. Myung Soo kembali melanjutkan jalannya tanpa menjawab pertanyaan Jae Hyun. Saat ia diajukan pertanyaan seperti itu, pasti ia akan terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

“Jae Hyun-ah, mau es krim?”

***

Gyeonggi, South Korea.

13.55 KST

“Joo Yo-ya,” ujar seorang ibu memanggil. Siempunya nama menoleh ke arah suara ibu itu berasal kemudian tersenyum simpul.

“Ne, ahjumma,” balas wanita bernama Joo Yo sambil mengaduk sup yang ia buat lima belas menit yang lalu.

“Maaf, aku selalu merepotkanmu,” ucap ibu tersebut seraya menyiapkan piring dan segala macam peralatan untuk makan.

“Gwaenchana-yo, ahjumma. Ahjumma kan tinggal sendirian, ahjussi juga lebih sering ke Seoul,” balas Joo Yo ramah.

“Kuharap, Hyunnie menikah denganmu,” kata ibu tersebut membuat Joo Yo terkejut.

“Ne?” pekik Joo Yo tertahan. Apa yang harus ia katakan kalau sudah dihadapkan dengan pertanyaan atau pernyataan seperti ini?

“Ah, ahjumma, aku masih ingin bekerja,” ucap Joo Yo hampir menanggapi.

“Aku serius Joo Yo-ya,” ujar ibu tersebut dengan raut wajah tidak bercanda.

Hening selama beberap detik, hingga akhirnya ibu itulah yang memecah keheningan.

“Kau tahu? Hari ini aku menelepon Hyunnie? Dan reaksinya tidak seperti biasanya,”

“Benarkah? Seperti apa reaksinya?” tanya Joo Yo menanggapi.

“Biasanya ia hanya mendengarkanku berbicara dan tidak memberikan reaksi. Tetapi hari ini, ia memberikan reaksi,” kata ahjumma senang.

“Wah, tidak seperti biasanya,” balas Joo Yo menampakan wajah antusiasnya.

“Joo Yo-ya,” panggil ibu itu kemudian menghentikan aktifitasnya. Joo Yo menoleh lagi dan menghentikan pekerjaannya sebagai jawaban.

“Apa aku terlihat seperti ibu tiri yang jahat?” tanya ibu itu kemudian memutuskan untuk duduk di kursi meja makan.

“Ani-yo, ahjumma. Malah tidak terlihat sama sekali!” jawab Joo Yo mencoba menenangkan ibu tersebut. Ibu yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.

“Aku sangat sedih Joo Yo-ya! Terlebih tentang Hyunnie,” ucap ibu itu yang mulai mengeluarkan air mata.

“Ahjumma butuh bantuanku untuk berbicara dengannya? Mau aku bantu?” tanya Joo Yo menawarkan bantuan.

“Iya, aku butuh bantuanmu Joo Yo-ya,” jawab ibu itu kemudian berdiri untuk menatap mata Joo Yo. Hal itu ia lakukan agak lama.

“Tolong, menikahlah dengan Hyunnie,”

To Be Continue…

Preview next chapter:

“Maaf oppa, aku tidak bisa menikah denganmu,”

“Wae-yo?”

“Maaf oppa, aku tidak bisa. Myung Soo kemarin melamarku dan aku akan kembali hari ini juga ke Korea,”

—–

“Ada kerjaan?”

“Ah, ani. Aku hanya disuruh menjemput anak atasanku. Ia akan datang hari ini dari luar negeri.”

—–

“Saranghae-yo,”

“…hyun-ah,”

“Ne. Kau sedang sibuk, Nyonya …?”

—–

“Itu pasti Myung Soo-ssi!”

“Eomma!”

“Nuguse— yo?”

 

 

4 pemikiran pada “Anonymous Dad (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s