Love is Only You (Chapter 1)

Title: Love is Only You

Author: Lee Kyeona (@aegyeon)

Genre: Romance

Length: Multichapter

Main Cast: Kim Jongin (Kai) & Kim Seolhyun (AOA)

Support Cast: other EXO and AOA member

Author’s note: Setelah FF yang Baby Don’t Cry yang udah lamaaaaaaaa banget dipost, akhirnya nih author babo balik lagi dan kali ini mencoba tantangan FF multichapter. Rate and comment please ^^

 

Love is Only You

                Kai’s POV:

 

“Aku akan menyatakan perasaanku padanya hari ini.”

“M-mwo?”

Seolhyun tertawa kecil dan menatapku malu. “Aku akan menyampaikan perasaanku pada Kris hari ini.”

Aku menatap gadis di depanku ini dengan tatapan tidak percaya. Gadis yang aku cintai… Ingin menyatakan perasaannya terhadap salah satu sahabatku.

“Benarkah? Good luck kalau begitu.”

Aku berusaha sebisa mungkin untuk nyengir seperti orang bodoh, seperti yang biasa kulakukan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa memasang topeng senyum palsuku. Aku hanya si bodoh yang berharap terlalu tinggi terhadap sesuatu yang tidak bisa kucapai.

Aku tau Seolhyun menyukai Kris hyung dan Seolhyun juga menganggapku tidak lebih dari seorang tetangga sekaligus teman sepermainannya. Tapi perasaanku padanya jauh melebihi itu.

Ya… Aku mencintainya. Aku mencintai orang yang selalu ada di sampingku sejak kecil, Kim Seolhyun.

Seolhyun memelukku singkat dan membisikkan terima kasih sebelum kembali masuk ke rumahnya. Aku masih sempat melambai padanya hingga pintu rumahnya tertutup.

Seolhyun-ah, mengapa kau tidak bisa melihatku? Aku ada di sini. Selalu di sini. Cobalah lihat aku…

 

 

Seolhyun POV:

 

“Gege!!”

Aku melambai dari kursi taman yang kududuki dan mataku bisa menangkap senyumnya ketika melihatku dan balas melambai. Aku mengagumi wajahnya yang bagaikan ukiran patung di museum sebelum kembali mengubah ekspresi wajahku seperti biasa.

“Annyeong, Seolhyun-ah.”

“Annyeong gege ^^”

“Ada apa kau memanggilku? Mana Kai?”

“Kai di rumah, tentu saja. Dia kan tidak perlu mengikutiku ke manapun.”

Aku memanyunkan bibirku dan Kris ge tertawa. Dia sempurna di mataku. Tawanya bagaikan bunyi lonceng surga di telingaku.

“Oh ya, kau mau bicara apa?”

“Itu… Umm…”

“Wae? Kau ada masalah? Kau ngambek dengan Kai?”

“Lagi-lagi Kai.”, gerutuku kesal dan melipat tangan di dadaku, pura-pura marah.

“Aigooo… Apa uri Seolhyun sekarang ngambek juga dengan gege?”, tangannya mengacak-acak rambutku.

“Gege jahat. Mengapa selalu berbicara tentang Kai. Gege tidak tertarik dengannya kan?”

“Uhh… Aku merasa terhina, Seolhyun-ah. Masa kau bilang gege yang paling tampan dan sempurna ini gay dengan maniac dance itu? Aku merasa tersinggung.”

Bibirku membentuk cengiran lebar melihat ekspresi wajahnya yang pura-pura kesakitan. Jantungku berdegup kencang ketika Kris ge tiba-tiba berhenti tertawa dan menatap mataku serius.

“Seolhyun-ah, sebenarnya aku juga ingin berbicara sesuatu padamu.”

Tidak… Tidak mungkin. Jangan bilang dia juga akan menembakku. Aigoo… Ottokhae? Aku bisa gila!!

“Ada apa ge?”

“Sebenarnya… Sebenarnya aku…”

“Ya?”

“Aku jadian dengan Hyejeong. Sorry jika aku baru memberitaumu sekarang.”

Petir seakan-akan menyambarku. Apa katanya? Kris ge… Pacaran dengan Hyejeong onnie? Hyejeong onnie??!!

“Hello. Down to earth, Seolhyun-ah.”

Aku tersentak dan menatapnya bingung. Ini… Tolong bilang bahwa ini hanya lelucon.

“Kau kaget sekali ya? Sorry. Hehe… Kok aku jadi membicarakan diriku sendiri? Kau tadi mau bicara apa sebenarnya? Aku dari tadi memotong pembicaraanmu terus.”

Aku tersenyum lebar dan berusaha sebisa mungkin menahan air mataku yang terancam membentuk sungai di pipiku.

“Tidak apa-apa kok ge. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam. Ini kan weekend. Tapi gege pasti ada janji kencan dengan Hyejeong onnie.”

“Well… Sebenarnya iya. Sorry Seolhyun-ah. Lain kali saja ya. Sebagai gantinya, aku akan traktir makan siang. Kajja.”

“Tidak perlu, Kris ge. Kai pasti sudah menunggu dan merengek minta makan di rumahku. Aku pergi dulu. Bye ge.”

Aku bangkit dari kursi yang kududuki dan melambai sebelum berlari dari taman yang penuh dengan daun yang berguguran. Air mata yang dari tadi kutahan langsung membasahi pipiku begitu punggungku menghadap Kris ge.

Sakit. Sesak rasanya. Orang yang aku cintai justru pacaran dengan teman yang sangat kusayangi.

Kai, di mana kau sekarang?

Tanganku menekan nomor 3 speed dial dan langsung terhubung dengan contact name ‘Babo Kai’

Kai, please angkat telefonnya. Aku membutuhkanmu.

Panggilanku terputus di deringan kedelapan. Kai, mengapa kau tidak mengangkat panggilanku. Di mana kau sekarang?

Kai aku membutuhkanmu…

 

 

Kai’s POV:

 

Tanganku hanya memencet tombol remote TV tanpa memperhatikan apa yang ditayangkan di TV. Berita, drama, sitcom, horror, komedi, semuanya terlewatkan tanpa satupun informasi yang masuk ke otakku. Pikiranku kacau. Hanya karena seorang gadis.

Kim Seolhyun, teganya kau membuat perasaanku kacau balau seperti ini.

“Kai, kau tidak tidur?”

“Aku tidak mengantuk, hyung.”

Kyungsoo hyung atau yang biasa dipanggil D.O hyung menghela nafas panjang dan ikut bergabung denganku di sofa panjang. Menjadi roommate-ku selama 2 tahun, membuat instingnya berjalan dan menepuk pundakku menenangkan.

“Seolhyun lagi kan?”

Aku mengangguk lemah dan dengan erangan pelan, aku mematikan TV dan mengusap wajahku frustasi.

“Seolhyun… Dia hari ini ingin menembak Kris hyung.”

“Kris hyung??!!”

“Aku tau dia menyukai Kris hyung tapi… Aku tidak akan bisa tahan jika melihat mereka bermesraan di depanku. Hyung, aku capek melihatnya dari jauh terus.”

Keluhanku terpotong ketika deringan nyaring telefon membuatku terlonjak. Siapa yang menelefon di tengah malam seperti ini.

“Yoboseyo?”

“…”

“Kai? Tunggu sebentar, ahjumma.”

“Kai, Juhyeon ahjumma ingin berbicara denganmu.”, bisik D.O hyung dan menyodorkan telefon ke arahku.

“Yoboseyo?”

“Kai, ini eomonim.”

“Ne eomonim. Ada apa telefon semalam ini?”

Aku dan Juhyeon ahjumma (eommanya Seolhyun) memang sangat dekat. Aku bahkan memanggil eomonim sedari kecil berhubung eomma dan appaku sudah pindah ke Daegu sejak aku SMA.

“Apa Seolhyun ada di tempatmu?”

“Seolhyun? Tadi dia sempat ke sini tadi siang tapi dia sudah kembali ke rumah. Sepertinya tadi dia bilang ingin bertemu dengan temannya. Waeyo eomonim?”

“Dia belum pulang sampai sekarang. Dan jika jam segini dia belum pulang, biasanya dia bermain di rumahmu.”

“Aku mengerti eomonim. Aku akan mencarinya sekarang.”

“Terima kasih, Kai.”

“Tidak masalah eomonim.”

“Ada apa, Kai?”, tanya D.O hyung begitu aku menghambur ke lemari dan menarik jaket hitamku.

“Seolhyun belum pulang dan aku harus mencarinya.”

“Kau mau memakai motorku?”

“Tidak hyung. Sepertinya aku tau dia ada di mana dan dia pasti pergi tidak jauh dari sini.”

“Cepat kembali. Udara musim gugur di malam hari cukup dingin.”

Aku mengangguk sebelum mengambil HP, dompet dan kunci sebelum berlari keluar. Sialan. Sudah malam begini tidak mungkin dia ada di taman lagi. Aku membuka layar HPku dan melihat 1 missed call dari Seolhyun. Tanganku menekan tombol call tapi tidak ada yang menjawab.

Kim Seolhyun, mengapa kau membuatku khawatir seperti ini?

“SEOLHYUN-AH!!”, teriakku sambil berlari menyusuri trotoar yang sepi.

“SEOLHYUN-AH, DI MANA KAU?? JAWAB AKU BODOH!!”

“Agasshi, sudahlah. Kau sudah mabuk berat.”

“Tidak ahjumma. Aku masih kuat kok.”

Aku menghentikan langkahku di depan sebuah kedai kecil di pinggir jalan ketika aku mendengar suara lemah yang familiar dari dalam. Tanganku membuka tirai yang menutupi kedai itu dan melihat Seolhyun dengan botol soju yang berserakan di depannya.

“Seolhyun-ah.”, teriakku lega dan berlutut di sampingnya.

“Kai? Hi. Apa yang kau lakukan di sini?”, tanyanya sambil tersenyum lebar dengan mata yang setengah terpejam.

Aku mengernyit ketika aroma soju yang kuat menyeruak keluar dari mulutnya.

“Kau gila. Kau sudah mabuk. Ayo pulang.”

“Tidak Kai. Aku tidak mabuk. Aku masih kuat kok.”

Tangannya menuangkan segelas soju lagi tapi langsung kurebut. Kepalanya menoleh ke arahku dan aku bisa melihat amarah terpancar dari matanya.

“Apa yang kau lakukan bodoh??!”, teriaknya kesal

“Kita pulang. Kau sudah mabuk.”

“Lepaskan tanganmu.”, bisiknya pelan namun tajam ketika aku menggenggam tangannya dan setengah menyeretnya keluar. Aku meletakkan beberapa lembar uang 10.000an won sebelum meninggalkan kedai.

“Aku bilang lepas!!”

Seolhyun memuntir tangannya dan berjalan terhuyung meninggalkan. Aku menangkapnya tepat sebelum dia ambruk dan wajahnya hampir menyentuh tanah.

“Lihat kan? Kau bahkan tidak bisa berjalan lurus sendiri.”, gumamku saat melihat matanya telah terpejam.

Aku menggendongnya di punggungku dan berjalan pulang. Tidak biasanya Seolhyun mabuk-mabukan seperti ini. Ralat. Ini baru pertama kalinya aku melihat Seolhyun mabuk. Aku tau dia memang kuat minum setiap kali ada pesta di club tapi tidak pernah sampai mabuk seperti ini.

“Sakit.”, erangnya dan aku mendengar isakan kecil.

“Gwaenchana?”

“Sakit sekali. Rasanya aku tidak bisa bernafas. Jongin-ah, kau di mana? Mengapa kau tidak menjawab telefonku? Mengapa kau tidak ada di saat aku membutuhkanmu? Mengapa kau tidak ada saat Kris ge meremukkanku.”

Aku tersenyum miris mendengar omelan dan tangisannya. Jadi aku hanya pelampiasannya saja? Hanya ada di saat dia sedih. Seolhyun-ah, aku selalu ada di sini setiap hari dan setiap kali kau membutuhkanku. Aku ada di saat kau tertawa bahkan saat kau menangis. Mengapa kau tidak pernah membuka matamu untukku, Seolhyun-ah?

“Hyung, buka pintunya.”, teriakku saat melihat lampu ruang tengah masih terbuka.

“Mengapa tidak buka sen- Astaga Seolhyun-ah. Apa yang terjadi dengannya?”

“Mabuk.”, gumamku dan membawanya ke kamar kosong di lantai 2.

“Kok bisa?”, tanya D.O hyung yang menyusulku ke atas.

“Sepertinya dia ditolak Kris hyung.”, gumamku dan menyelimutinya.

“Kau mencintai Seolhyun, Seolhyun mencintai Kris, dan Kris mencintai Hyeojeong. Untung Hyeojeong mencintai Kris jadi Kris happy ending.”

“Mwo?”, teriakku saat mendengar gumaman D.O hyung.

“Huh? Apa?”

“Kris hyung dan Hyejeong noona jadian?”

“Kau tidak tau?”

“Tidak. Kris hyung tidak memberitauku.”

“Belakangan ini kan kau tidak ikut lunch bareng. Rasanya baru 2 hari lalu mereka jadian. Belum lama sih.”

“Mengapa jadi rumit seperti ini?”

“Namanya juga perasaan manusia, Kai. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita terhadap perasaan orang lain.”, D.O hyung menepuk pundakku pelan sebelum keluar dari kamar.

Aku menatap Seolhyun yang masih terlelap. Wajahnya begitu mulus dan tidak bercela. Begitu indah dan sempurna.

Tanganku menggenggam tangannya dan aku menutup mataku, mencoba menghilangkan pusing yang menghantui kepalaku hingga akhirnya aku jatuh tertidur di samping Seolhyun.

Iklan

6 pemikiran pada “Love is Only You (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s