Miracle of Loveipop (Chapter 1)

 ,masm xa_副本

 Title          : “Miracle of Loveipop” (Chapter 1)

Author        : ChiMoss

Facebook  : Christine Morron

Twitter       : @AllRiseSilverCM

Genre         : AU, Romance, Family.

Rating         : PG-12

Leight         : Chapter

Cast             : *Choi Sangmi

                        *Byun Baekhyun

                        *Oh Sehun

Ost               : As One – Awkward Love

Ps           : Kalo ada tanda ‘@@@’ itu artinya set waktu berganti, antara masa lampau dan masa sekarang. ^^ arrachi? 😀

===============

[A Little about this story]

Author P.O.V

Ia berdiri disana beberapa saat. Memandangi seseorang yang sedari tadi sibuk melakukan sesuatu, tanpa menyadari ada orang lain yang tengah memperhatikannya. Tangannya meremas tali tasnya dan raut wajahnya menunjukan ketidaksukaannya akan tempat dan wanita paruh baya yang sedari tadi ia pandangi. Ia tidak yakin apa ia bisa benar-benar menjadi bagian dari mereka atau tidak? Ia tidak Yakin apa ia bisa menyayangi wanita itu dengan selayaknya atau tidak? Dan ia tidak yakin apa ia bisa betah berlama-lama ditempat ini.. Setelah merasa cukup mengamati Rumah yang akan ia tempati beberapa hari lagi, ia pun memutuskan untuk segera pulang. Dijalan pulang, ia melewati sebuah taman yang berada tepat dipinggir sungai, tak ada seorangpun disana. Matanya menyebar keseluruh sudut taman, mencari sesuatu yang mungkin berubah atau berbeda.

“Masih sama..”

gumamnya pelan. Ia lalu memutuskan untuk duduk sebentar di ayunan tua milik taman itu. Pandangannya lurus ke arah sungai. Cukup lama ia memandangi objek itu, tanpa melakukan apapun. ia hanya diam tak bergeming. Mencoba untuk memutar cerita lama, yang masih terekam baik dalam ingatannya. Ia menarik napas dalam-dalam. Yah.. Mungkin semua itu tidak akan pernah terulang lagi. Ia bangkit berdiri dan berputar untuk meninggalkan tempat ini. Beberapa langkah setelah itu, ia berhenti sejenak dan menatap lurus-lurus sebuah Pohon Tua yang berdiri sejajar dengannya. Ia tersenyum, meski bukan senyum bahagia seutuhnya. Ada luka yang tersirat  didalam nya. Sebuah luka yang mungkin tak akan pernah bisa terobati.

“oppa.. Aku kembali.” akhirnya dan berlalu dari tempat itu.

@@@

                                Sangmi tersenyum, senyum yang sangat manis. ia menutup wajahnya merasa malu akan apa yang sedang ia lihat. Seorang anak laki-laki tampak sedang bermain-main diseberang sana. Ia terus berkutat dengan bolanya, menendang-nendang ke sembarang arah dan berlari-lari menggiring bolanya. Anak laki-laki itu tampak senang dengan kegiatannya itu. Meski hanya bermain seorang diri, tapi tak ada guratan sedih atau apapun yang mencerminkan kesepian. Sebaliknya, ia menikmati hal itu dan selalu melakukan hal tersebut. Datang ke taman itu, bermain bola sendirian, lalu kembali kerumah. Aktivitas itu sudah menjadi kebiasaannya sejak lama, dan tanpa ia sadari Seorang gadis kecilpun telah menjadikan dirinya sebagai kebiasaan baru untuk  gadis itu. Sangmi, gadis kecil itu, selalu melakukan hal seperti apa yang ia lakukan sekarang ini. Tiap hari ia datang ke seberang taman, bersembunyi dibalik sebuah pohon tua untuk melihat anak itu, dan menunggu hingga anak laki-laki tersebut menyelesaikan kegiatannya. Gadis kecil ini akan duduk bersembunyi dibalik pohon dan mengintip dari seberang jalan. ia tidak berani melihat anak itu dari jarak yang lebih dekat, takut anak itu tidak menyukainya atau bahkan menghindarinya. terpaksa, ia hanya bisa memandang dari jauh. Dan saat ini, sangmi sedang menjalani kebiasaannya. Keningnya mengernyit, ketika bola anak itu terlepas dari kendalinya. Bolanya menggelinding cukup jauh kali ini.  Mata sangmi bergerak mengikuti arah bola, disusul dengan derap langkah anak laki-laki itu. Bolanya masih terus menggelinding dan baru berhenti ditengah jalan umum. Anak itu tersenyum, dan tentunya sangmi pun ikut tersenyum melihatnya. Namun, tak berapa lama. Senyum nya hilang saat menemukan hal lain yang langsung mencegah saluran pernapasannya. Dari arah yang berlawanan dengan anak laki-laki itu, sebuah truk melaju dengan kencang, menerbangkan setiap helai dedaunan kering yang menutupi badan jalan. Napas sangmi tertahan, tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia ingin berteriak tapi ia rasa tak akan sempat lagi. Bola matanya bergantian memandangi kedua objek yang benar-benar menyita perhatiannya sekarang.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

4 detik..

5 detik..

CIIIITTTTTT….. gesekan rem truk menyeruak di seluruh tempat ini. dan.. BRUUKK!! ‘Sesuatu’ telah terjatuh. ia berhasil menyelamatkan anak laki-laki tadi. Sangmi berlari dan mendorong anak itu ke sisi jalan, menghindari truk yang hampir saja mengakhiri hidup Anak yang mungkin sudah menjadi Cinta Kecilnya. Dan sekarang, anak itu sedikit kesulitan bernapas karena sangmi menindihnya dari atas. Merasa keadaan sudah mulai terkendali, sangmi pun beringsut bangun dari tubuh anak itu. Keduannya mengibas-ngibaskan pakaian masing-masing, membersihkan debu-debu nakal yang menempel diseluruh tubuh. Anak itu memandang sangmi dengan pandangan yang tak terlalu benar untuk diartikan, tapi dari sorot matanya ada sesuatu yang baru dari dirinya sekarang..

“Gomaptta..”

 bibirnya ditekuk, melahirkan sebuah lukisan yang indah diwajahnya. Senyum manis yang selama ini hanya jadi khayalan pengantar tidur bagi sangmi. kini benar-benar ia dapatkan..

“eh?”

“apa itu terlalu canggung? Baik, aku akan mengulanginya.. Gomawo..”

Mata sangmi membulat, ia bisa menyerap seluruh keindahan anak laki-laki itu saat sebuah senyum kembali diberikan untuknya. Wajahnya memerah dan masing-masing pipinya hampir terbakar karena malu. Belum sempat ia menjawab atau berkata sesuatu, anak itu sudah mengambil gilirannya..

“Kau sudah menyelamatkan hidupku. Apa yang harus ku lakukan untuk membalasmu?”

“Apa?”

“beritahu aku, apa yang kau inginkan..”

Sedikit terkejut, tapi ide cemerlang dan merupakan keinginannya selama ini langsung menutupi pikirannya. Ia rasa, inilah saat yang tepat baginya..

“Kau.. jadikan aku milikmu dan temani aku bermain.”

Kali ini ia yang terkejut dengan ucapan sangmi, tapi tampaknya ia menyukai hal itu. Untuk kesekian kalinya ia tersenyum. Lebih dari itu, kali ini ia menggenggam tangan sangmi dan memberikannya sebuah lollipop pelangi pada gadis itu..

“baiklah.Kau adalah milikku sekarang..” ungkapnya.

@@@

Sekali lagi, sangmi mematut dirinya dikaca. Masih menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya. Ia rasa ia tidak mampu untuk melakukan hal itu, ia tidak punya keinginan sedikit pun untuk tinggal bersama mereka. Ia lebih memilih untuk tinggal seorang diri dari pada tinggal bersama mereka. 10 tahun, bukanlah waktu yang singkat. Bagaimana bisa ia datang, muncul didepan mereka  dan bisa menyayangi mereka seperti apa yang selayaknya ia lakukan. Ia bahkan tidak punya secuil cintapun untuk mereka, lebih dari itu dimata Sangmi mereka hanyalah orang asing. Bukan keluarganya sendiri. Drrtt..Drrtt.. ponselnya bergetar. Menampilkan sebuah panggilan masuk dari seseorang. Sangmi buru-buru mengangkatnya.

“yeoboseyo?” sapa sangmi terlebih dahulu.

“Yeoboseyo.. Aggassi, bagaimana? Sudah kau putuskan kapan kau akan pindah?”

“ah.. ne. Besok aku akan segera pindah kerumah mereka. Ku rasa aku sudah cukup mengamatinya selama seminggu ini.”

“Geurae. Apa yang Aggasi butuhkan? Biar nanti kupersiapkan..”

“Aniseumnida.. aku tidak membutuhkan apapun. aku hanya..” ‘tidak yakin bisa berbaur dengan mereka.’ Lanjut Sangmi dalam hati kecilnya.

“Mwoseumnikka? Katakan saja padaku..”

“Aniseumnida.. Aku hanya ingin segera menyatu dengan mereka.”

“oh.. kalau masalah itu, Nona tidak perlu khawatir. Cepat atau lambat, Nona pasti akan terbiasa dengan mereka.”

“nde.. o, pengacara Kim, tentang itu.. Hak warisan ku. bagaimana?”

“Kau tetap akan menerimanya setelah kau sudah menikah nanti..” itulah yang tak Sangmi harapkan. Bagaimana bisa ia mendapatkan haknya setelah menikah nanti? Appa.. kenapa kau lakukan ini? Batin sangmi berbicara. Ia bahkan tidak pernah mencintai siapa pun, ah bukan, ia bahkan tidak pernah bisa mencintai siapapun selain pria itu. Dan ia rasa, ia sudah tidak punya lagi hal yang disebut cinta itu. Bagaimana ia bisa menikah kalau hal yang mendasari semua itu tidak dimilikinya..? sangmi masih berada dalam lamunannya, dan baru sadar saat Pengacara Kim Memanggilnya untuk kelima kalinya.

“Arra.. ya sudah. Ku tutup telponnya sekarang.” akhirnya dan langsung menekan tombol merah disudut bawah ponsel. Setelah itu, ia meraih origami yang sudah ia lipat menyerupai seekor burung dan dengan hati-hati diletakannya didalam sebuah kotak usang yang sangat besar berukuran 50cmx50cm bersama dengan beribu-ribu burung lain yang sudah ia lipat bertahun-tahun..

===============

Ia duduk disudut perpustakaan, menyilangkan kaki jenjangnya dan melipat tangannya tepat didepan dada. Masih memikirkan seseorang, seseorang yang penting untuk nya. Orang yang ia nantikan kedatangnnya bertahun-tahun, dan sekarang telah kembali.  ia berputar menghadap ke jendela disebelahnya, dan memandang ke  arah Taman diluar jendela seraya menyesap Kopi instan digenggamannya. Tepat saat itulah ia melihat orang itu. Orang itu duduk sendirian dibangku taman. Matanya sama sekali tak berkedip mengamati orang itu. Ia lalu merogoh saku jas sekolahnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Tangannya memainkan benda itu, kemudian menatap benda itu lekat-lekat dan akhirnya berkata..

“Choi Sangmi..akhirnya aku menemukan mu..”

===============

Keputusan itu kembali memenuhi pikirannya. Sungguh, ia khawatir kalau-kalau mereka tidak menerima kedatangannya. Dan yang lebih ia pikirkan, bagaimana jika ia sama sekali tidak bisa menyatu atau berbaur dengan keluarganya. Apa mereka bisa menerimanya dengan baik? Ia takut, ia tidak akan betah hidup bersama mereka. Sepertinya mereka hidup dalam perekonomi yang terbatas, dan selalu dipaksa untuk bekerja keras. Raut wajahnya kembali memaparkan ketidaksukaan dan kekhawatirannya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah melakukan apapun untuk orang lain. Jangankan orang lain, untuk dirinya saja ia tidak pernah. Setelah 10 tahun, ia harus datang kembali ke sana dan kembali bersatu dalam sebuah keluarga dengan mereka. Sulit, sangat sulit ini baginya. Selama ini ia tidak pernah bertemu ataupun saling sapa dengan keluarganya itu, setelah sekian lama ia hidup dalam kemewahan, setelah sekian lama ia hidup tanpa seorang ibu, kini.. keadaan membalikkan segalanya. Sangmi pun mau tak mau harus menerima semua ini dan menjalaninya. Sangmi merogoh saku jas seragamnya dan mengeluarkan sebuah kalung emas putih, berhiaskan mainan berbentuk anak laki-laki dengan separuh hati disisi tubuhnya. Kalung itu seperti memiliki pasangannya, tapi tidak pada sangmi. ia menatap lurus-lurus benda itu, dan memainkannya sebentar. Ingatan akan masa lalunya dengan seseorang yang berarti itu merayapi separuh pikirannya, namun langsung ia hilangkan dalam sesaat. Sedetik kemudian ia bangkit berdiri, memasukan kembali benda itu kedalam kantung jasnya dan melangkah pergi dalam hitungan detik. Namun, sesuatu yang salah telah terjadi. Sepertinya bukan pikirannya saja yang kacau, tapi indra perasanya pun mulai kacau. Ia tidak merasakan, bahwa benda yang ia anggap berharga itu, tidak benar-benar ia masukan ke dalam kantung jasnya dan kini telah ia jatuhkan begitu saja diatas rerumputan hijau taman sekolah ini.

@@@

Beberapa hari berlalu dengan cepatnya. Karena terbiasa bersama, Sangmi dan anak laki-laki itu pun mulai mengikat diri keduanya dengan erat. Sebuah ikatan yang indah dan punya arti dalam.. Teman. Hari sudah sore, matahari hampir mendekati akhirnya dan cahaya putih pun akan segera tiba. Sangmi dan anak laki-laki itu bersandar disebuah pohon besar pinggir sungai. Keduanya saling memandang dan terus tersenyum. napas mereka masih tersenggal, tubuhnya pun dibasahi keringat yang cukup banyak. Sangmi dan Anak itu baru saja menghentikan aksi kejar-kejaran mereka. Anak itu lalu mengeluarkan sebuah Lollipop dari saku celananya dan disodorkannya pada sangmi..

“igo..”

“dashi?”

“hm!”

Keduannya tertawa ringan. Tak lama setelah itu, sangmi pun ikut mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Rupanya ia mengeluarkan selembar kertas origami.

“Lipatkan sesuatu untukku..”

Anak laki-laki itupun menerima kertas origami tersebut, ia tersenyum sekali dan langsung bermain-main dengan benda itu. Setelah beberapa saat, ia menyerahkan kembali pada pemiliknya. Sangmi menatap benda itu sebentar lalu mengernyitkan keningnya.

“kenapa burung?”

“kau tidak suka?Aku menyukainya..”

“Aniyo, bukan begitu. Aku hanya ingin tau saja. Kau menyukainya? Kalau begitu aku juga menyukainya..”

“Aku ingin sepertinya..”

“eh?”

“Aku ingin menjadi burung.. aku ingin terbang di langit, membentangkan kedua sayap indahku dan melayang-layang diudara. Menyinggahi banyak tempat, lalu menemukan banyak hal baru yang menarik didunia ini..”

“kalau begitu, Aku akan menjadi sangkar. Aku akan menjadi tempat istirahatmu saat kau lelah, Aku akan melindungimu dan tidak akan membiarkan mu menemukan hal lain yang lebih menarik dari pada ku..”

Anak itu tertawa ringan, ia menatap sangmi dan mengelus puncak kepalanya lembut. Sangmi mengembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya. Ia terlihat begitu polos dan lucu.

“jika benar begitu.. jaga aku baik-baik, maka aku akan tetap bersamamu..”

“Ingat. Aku ini milikmu! Jangan pernah mencari seseorang yang lebih baik untuk mu.. karena aku lah yang terbaik untuk mu. Aku sudah menyelamatkan mu, itu artinya Tuhan mengijinkanmu hidup hanya untuk bertemu dengan ku. Jadi..”

Sangmi terdiam, mulutnya di bungkam oleh telapak tangan anak laki-laki tersebut. Lipatan-lipatan kecil tumbuh di dahinya, dan tatapan matanya menuntut penjelasan.

“YA! Gadis kecil.. berapa umur mu, huh? ‘Aku ini milikmu!’, ‘Jangan pernah mencari seseorang yang lebih baik untuk mu’, kenapa memerintahku anak kecil? Cepat katakan, berapa umurmu?”

“mwo? Tu-tujuh tahun. Wae geurae?”

“Kau 3 tahun lebih muda dariku. Aigoo.. kau bahkan menggunakan banmal saat berbicara dengan ku.. mulai sekarang, panggil aku oppa! Arrachi?”

“A..arra..Mianhae.”

“Gwaenchana..”

@@@

Sangmi sudah selesai merapikan semua barang-barangnya dan siap untuk meninggalkan hotel tempatnya menetap selama seminggu ini. Langit sudah berubah jingga, itu artinya sangmi harus lebih cepat sampai ke rumah barunya, agar tidak memberi kesan buruk pada awal pertemuan. Ia menekan ponselnya beberapa kali, dipandanginya sebuah foto dan dalam sekejap genangan kecil muncul dipelupuk matanya.. beberapa saat kemudian ia mendongak ke langit-langit kamar, membiarkan genangan itu kembali ke asalnya agar tidak tumpah diwajahnya. Setelah merasa cukup tenang, ia menarik kopernya dan keluar dari kamar tersebut.

Ia tiba disebuah rumah, rumah yang sudah ia amati akhir-akhir ini, beserta seluruh penghuninya. Bukan apa-apa, ia hanya ingin mengetahui bagaimana keadaan tempat ini, dan bagaimana ia bisa menyesuaikan dirinya nanti. Dan sekarang, sedikit banyak ia sudah cukup tau tentang semua itu. Tapi masih belum yakin, apa ia benar-benar bisa menyesuaikan diri dengan mudahnya? Sangmi tertegun menatap bangunan didepannya. Tanpa sadar, seorang lain juga tengah memperhatikan dia dan rumah itu bergantian. Sedetik kemudian keningnya mengeryit.

“Kau.. siapa?”

mendengar itu, sangmi refleks memutar arah pandangnya dan mendapati seorang wanita paruh baya yang tengah manatapnya dengan tatapan menyelidik. Mungkin dia ibuku.. batin sangmi.

“Perkenalkan.. aku Choi Sangmi. Aku datang untuk tinggal bersama ibuku..”

sangmi membungkuk, memberi salam dan seulas senyum. Wanita itu tampak terkejut mendengar ucapan sangmi. Tapi ia langsung mengalihkan pandangannya.

“masuklah, akan kutunjukan kamarmu..”

sangmi sedikit heran dengan kata-kata wanita ini. Hanya itu? Batin sangmi. Apa ibu kandungnya hanya menyambutnya dengan kalimat sesingkat itu? Sangmi menahan wanita itu..

“ah..jamkanman. Ajjumma, kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?”

kening wanita itu berkerut, tatapan matanya yang tajam diarahkan pada sangmi. Sangmi sedikit takut, tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun senyum itu sangat jelas dipaksakan.

“tenanglah.. aku sudah tidak punya hutang apapun. Jadi kau tidak perlu memberiku uang untuk membayar hutang-hutangku..”

bukan itu yang dimaksud sangmi. Ia pikir seharusnya wanita ini akan bilang, sangmi..aku merindukanmu. Atau sangmi..lama tidak bertemu.. Tapi, apa yang baru wanita paruh baya ini katakan padanya. Hutang? Untuk apa ia ucapkan masalah itu? Sama sekali tak ada hubungannya dengan kedatangan gadis ini. Sangmi sedikit kecewa.

“hey.. apa yang kau lakukan? Ayo masuk!” perintah wanita itu.

Sangmi pun menurut. Sangmi melangkah dengan hati-hati dan memperhatikan setiap sudut ruang pertama yang ia masuki dengan raut wajah yang menggambarkan ketidaksukaannya. Apa ini ruang tamunya? Batin sangmi. Matanya masih sibuk berputar-putar ke sekeliling ruangan. Tiba-tiba, seorang gadis kecil muncul dengan boneka beruang ditangannya. Ia mengusap matanya , dan berjalan ke arah mereka..

“eomma.. eonni tidak mau menemani ku bermain..”

dia..pasti Sangjin, Batin sangmi.Sangmi ingat, sewaktu appa dan eommanya bercerai. Sangmi memiliki seorang adik bayi yang baru lahir. Ia tau, waktu itu ia sangat senang dengan kehadiran adik kecilnya itu. Tapi, saat seperti itu tidak berlangsung lama. selang beberapa bulan kemudian appa membawanya ke indonesia. Dan eomma tetap tinggal bersama sangjin dan seorang eonninya. Pelan-pelan, ingatan masa lalunya muncul kembali dan membawanya menjelajahi kisah lama itu.

“Hyemi.. Hyemi..” teriak eomma sangmi. Sangmi hanya menatapnya penuh tanda tanya.

“Kenapa teriak-teriak sih? Tidak tau apa aku sedang sibuk? Huh?”

seseorang muncul dari arah sangjin tadi. Ia membawa sehelai serbet sembari membersihkan tangannya. Tapi aktivitasnya terhenti saat melihat sangmi.

“Siapa dia?”

“dia dongsaengmu, sangmi. Kenapa kau tidak menemani sangjin bermain, huh?”

“Aku sedang memasak eomma! Tentu saja tidak bisa menemaninya bermain. Ada-ada saja.. oh, suruh saja sangmi yang menemaninya bermain..”

“Ah.. benar juga. Sangmi, temani sangjin bermain sebentar. Aku akan mempersiapkan ikan untuk besok.”

“eh? Apa? aku..tidak pernah bermain dengan anak kecil sebelumnya..” ucap sangmi.

Gadis kecil itu tampak kecewa mendengar ucapannya, eomma dan hyemi nampak terkejut dengan jawaban yang sangmi berikan.mereka lalu saling meemandang satu sama lain, dan kembali menatap Sangmi takjub.

“tapi aku akan mencobanya untuk mu..”

lanjut sangmi yang langsung disambut tawa riang dari sangjin. Sangjin memeluknya erat, dan Sangmi tidak menyukai hal itu. Dia tidak suka dipeluk orang asing. Meskipun mereka tidak sepenuhnya orang asing,Tapi tetap saja, mereka baru untuk sangmi.

Ia meyapukan pandangannya keseluruh ruangan. Kamar ini terlalu kecil untuknya. Menurutnya, kamar mandinya yang dulu bahkan lebih besar dari kamar ini. Ia tidak mungkin bisa tidur nyenyak disini, dan satu lagi.. disini tidak ada lampu. Sangmi sangat benci gelap, ia tidak pernah melakukan apapun dalam kondisi gelap gulita. Bahkan, ia tidak pernah mematikan lampu kamarnya saat ia tidur. Tapi sekarang, meski tidak suka ataupun tidak ingin, keadaan memaksakannya untuk harus menerima kegelapan ini.

===============

Lollipop? Keningnya mengernyit saat mendapati sebuah lollipop dimejanya. Ia melihat kesekelilingnya. Hanya dia seorang diri, memang tidak ada siapapun. Hari ini, sangmi orang pertama yang masuk kelas. Sepertinya dia datang terlalu pagi. Ia mengambil lollipop tersebut, berniat memasukannya ke dalam tas. Namun, tak sempat ia lakukan saat matanya menemukan secarik kertas yang disobek asal. Sepertinya ini juga untukku.. gumam sangmi. Ia meraih potongan kertas itu, dan membacanya pelan.

“Selamat datang kembali ke Korea..”

ia membolak balik kertas itu, namun tak ditemukannya sesuatu yang ia cari. Tidak ada nama pengirim atau apapun yang merujuk kesana. Ia keluar kelas dan menyebarkan pandangannya, tak ada seorangpun. Hanya beberapa anak yang sepertinya juga baru datang, tapi mereka sama sekali tidak menampakan gerak-gerik yang mencurigakan dimata sangmi. Sangmi kembali menatap Lollipop dan kertas yang ada di kedua tangannya. Ia mengangkat bahu sekali, dan diputuskannya untuk menyimpan lollipop itu. Disaat yang sama, seseorang berjalan masuk kedalam kelas. Ia melewati sangmi, berjalan pelan dan menatap lurus kedepan. Sangmi tidak begitu memperdulikannya, namun Saat sangmi tak memperhatikannya, ia tampak tersenyum kecil dan manatap sangmi sekali.

@@@

                Tangisannya tumpah. Guratan-guratan sedih dan kecewa tampak jelas di wajah polosnya. Air mata, luapan sakit hatinya mengalir dengan tempo yang teratur. Seluruh wajahnya merah padam, tak luput dari hidungnya. Cairan bening pun turut merayap pelan dari kedua  lubang hidungnya. Ia masih menangis dan terus menangis di ayunan yang terikat kuat di dahan pohon tua itu. Tiba-tiba, ayunan yang sedari tadi ia duduki bergerak lembut dan mengayun halus. Sementara Sangmi masih menyalurkan rasa sakit hatinya, Anak laki-laki itu dengan hati-hati mengayunkan Ayunan itu, bermaksud untuk menghibur sangmi dan membuat perasaannya jadi lebih tenang. Sesaat kemudian, sangmi turun dari ayunan itu, ia memandang anak laki-laki itu dengan tatapan yang menyedihkan.

“oppa.. kenapa kau diam saja? kau tidak ingin tau kenapa aku menangis?”

“tenangkan dirimu. Lalu kita bicara.. aku akan mendengarkan mu sangmi-ah..”

“Aku.. oppa.. appa dan eomma, mereka bertengkar lagi. tapi kali ini, Appa menampar Eomma.. dan Eomma menyebut-nyebut kata cerai. Igo mwonde?”

“Ce..cerai?”

“nde. Itu.. apa hal yang mengerikan?”

“Aniya.. hanya saja.. jika mereka bercerai, maka mereka tidak akan bersama lagi. mereka akan berpisah sangmi-ya..”

“apa.. Eomma wa Appa akan tinggal terpisah dan tidak bertemu lagi?”

“Mungkin saja.. tapi kau jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Aku ada disini untukmu..”

“oppa.. aku ingin menangis.”

“Menangislah.. menangislah sangmi-ah, jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Aku akan menemani mu sampai kau tersenyum lagi..”

@@@

Choi SangMi P.O.V

                Tidak tau dimana? Tapi samar-samar aku melihat seorang gadis kecil menuliskan sesuatu dan menempelkan nya kepohon tua didepannya. Pandangan ku kabur beberapa saat, namun kembali aku melihat gadis tadi, ia mengambil sebuah origami dari pohon tua itu dan membacanya. Setelah itu, ia menulis sesuatu dan meletakkanya kembali. Ia mengambil sebuah..Lollipop? Aku menatap lagi gadis kecil itu, dan sesuatu yang sangat terang menembus retina ku, sesuatu yang terlalu terang itu menutupi pandanganku dan Beberapa detik kemudian, aku terbangun. Huh.. ternyata mimpi. Aku menarik napas panjang, dan merenggangkan tubuhku. Tapi, bayang-bayang mimpi itu muncul lagi. bertahun-tahun aku selalu memimpikan hal ini.. entah karena rindu atau hal lain. Aku tidak tau, aku tidak bisa mengartikan segala sesuatunya dengan baik. Tapi karena mimpi itu, aku jadi selalu bisa mengingatnya, dan mungkin selalu mencintai bayang-bayangnya. Yah.. selama ini aku tidak pernah melupakannya atau pun berkeinginan untuk melupakannya. Bagiku, tidak ada seorangpun yang semenarik dia dan setulus dia.. ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Walaupun aku mengenalnya saat masih bocah. Tapi aku bisa merasakan hal lain yang menarik darinya. Tidak tau sejak kapan aku menyukainya dan berharap untuk terus bersamanya, mungkin sejak hari dimana kami mulai saling berbalas pesan lewat burung-burung kertas itu. Ah..lollipop. benar Lollipop itu? Aku mengacak-ngacak tas ku mencari Lollipop yang ku dapatkan tadi pagi. Itu dia.. aku mengambil lollipop itu dan meraih kertas tadi. Kurasa lollipop itu mengingatkaku pada dirinya.. pelan-pelan aku membuka bungkusan lollipop tersebut dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, aku menatap benda itu sebentar mengingat-ingat dirinya dan lollipop yang selalu ia berikan padaku. Aku mulai menikmati kelembutan lollipop itu dengan perasaan yang campur aduk.

“oppa.. aku merindukanmu..” gumamku pelan. Aku berdiri mengambil tas ku dan bersiap untuk segera pulang. Namun, saat melewati pohon tua itu, sudut mataku menemukan sesuatu yang janggal. Bukan, tapi sesuatu yang baru.. dengan segera aku berjalan mendekati pohon tersebut dan menyentuh sebuah origami berbentuk burung yang diletakan ditubuh pohon tua tersebut. Aku berhenti menikmati lollipop itu sebentar dan membuka lipatan tadi.

Aku senang kau kembali, Choi sangmi . ^^

benda ini.. untukku? Aku tertegun, mataku menatap lurus-lurus ke tulisan dalam origami  itu dan semuanya tampak sedikit kabur. Lollipop itu terlepas dari genggaman ku bersamaan dengan Butiran-butiran kristal yang mengalir melewati pipiku, namun tak ku hiraukan. Yang ku pikirkan sekarang adalah Siapa yang menulis ini? Mungkin kah.. Dia.

“siapa..?” lirihku.

========TBC========

 

Iklan

7 pemikiran pada “Miracle of Loveipop (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s