100 Paper Cranes (Chapter 2)

Title: 100 Paper Cranes

Chapter 2: He scared me to death!

Summary:

”Something that you must know is,

I hate boys. I hate men. I hate them. They’re just full of lies.

And, I hate liars too.

–Kim Chaerin

Pertemuan tidak terduga. Chanyeol, seorang mahasiswa populer, player kelas atas dan Chaerin, kalangan terkucilkan yang amat membenci laki-laki.

Usaha keras. Perasaan yang mulai berubah. Penantian. Kesabaran penuh.

Pada akhirnya, mereka harus mengakui bahwa takdir Tuhan-lah yang memang berkuasa atas segalanya.

Akankah mereka berhasil menggapai kebahagiaan mereka sendiri?

 

Author: npt. @nandaniptr | Main Cast: Park Chanyeol (EXO-K), Kim Chaerin (OC) | Support Cast: Find by Your Own. | Genre: Drama, Romance, Angst | Duration/Length: Chaptered|Rating: PG-15

Disclaimer:

Maybe there are some fanfics that have the same title like mine. But the idea of this fanfic is totally original by me. Enjoy reading & cheers. No plagiarism and bash.

Comments & Likes are highly appreciated!

Xoxo, npt.

 100 PAPER CRANES 2 POSTER

GO AWAY!

Apa dia tidak menyadari bahwa dirinya sendiri adalah laki-laki yang menakutkan?

Memang benar, tidak setiap hari ia datang kesini. Mungkin hanya sekitar tiga atau dua hari sekali. Tapi sekalinya ia datang, ia akan menenteng tas kameranya di bahu, memperhatikanku dengan cukup lama, lalu mengeluarkan kameranya dan menggerak-gerakkan lensanya yang diarahkan pas ke arahku, lalu setelah itu ia akan memandang hasil fotonya dan tersenyum sendiri.

Dari balik topeng badut ini, kau kira aku tidak bisa melihatnya?

Aku agak sedikit risih melihat lelaki itu disana. Dan yang paling ekstrem, ia bertindak seperti stalker. Mengikutiku kemanapun aku pergi. Menghalangi jalanku, seperti yang ia lakukan kemarin hanya untuk mengetahui namaku. Serta hal-hal aneh lainnya.

Memang tidak parah dan belum mencapai titik dimana aku harus mengambil langkah seribu dan berpindah tempat karena ia melakukan hal-hal yang nyeleneh padaku. Tapi, kau tahu aku mulai sedikit takut.

Ada kalanya dimana aku mulai meneliti lagi raut wajahnya. Sebenarnya ia cukup tampan. Matanya yang berwarna cokelat terang selalu berbinar ceria saat melihatku. Perawakannya tinggi dan atletis. Rambutnya berwarna hitam acak-acakan kontras dengan kulit putihnya. Laki-laki itu senang sekali tersenyum dan memamerkan deretan gigi putihnya. Ia seperti mengingatkanku dengan seseorang. Suaranya yang cukup khas dan berat selalu memanggil namaku sambil senyum lebar dan melambaikan tangannya. Lihat, aku bahkan sampai hafal dengan kebiasaannya yang membuatku was-was itu.

Biarpun ia tampan dan what-so-ever its called. Tapi lebih baik aku memilih untuk membuatnya menjauh dariku. Sejauh mungkin. Aku benci laki-laki.

 

Aku sudah cukup kenyang dengan cerita-cerita khayalan seperti Putri Salju, Putri Tidur, Beauty and The Beast serta sebangsanya itu. Apalagi cerita tentang gadis miskin yang dipersunting seorang Pangeran yang jatuh cinta dalam satu malam di acara dansa dengannya, menikah hanya karena sepatunya yang terjatuh itu pas di kakinya. Benar-benar dongeng yang tidak masuk akal. Cinderella berhasil membuatku mengernyitkan dahi. Hahaha, are you kidding me? Mana ada cerita seperti itu, yang di akhir cerita selalu diakhiri dengan kata-kata penutup ‘Happily ever after’. End up bersama seorang pangeran tampan dan tinggal di istana yang megah. Aku tahu hidup tidak semulus itu.

Ada saatnya kita harus menerima takdir yang berbeda dari apa yang kita inginkan.

Aku bukan dari kalangan keluarga tingkat atas. Hidupku tidak indah seperti dongeng-dongeng itu. Malah bisa dibilang agak berantakan hanya karena ayahku yang seorang pengecut. Ia lari meninggalkanku bersama Ibu dan adik perempuanku untuk hidup sendiri dan lebih memilih tinggal bersama perempuan muda yang lebih cantik, menurutnya.—Huh apanya? Dia benar-benar jelek. Ayah memang bodoh.

Untungnya, Ibuku adalah wanita yang tegar. Ia berusaha tetap tersenyum dan tetap bersemangat melanjutkan hidup. Beliau rajin sekali menasihatiku agar jangan membenci ayahku.

“Chaerin-ah. Kau tidak boleh membenci ayahmu seperti itu. Maafkanlah dia. Bagaimanapun juga itu adalah ayahmu, dan kau harus menerimanya.” Aku hanya mendengus mendengar nasihat Ibuku yang berkali-kali ia ucapkan. Sulit eomma. Kau tahu itu.

Ibuku selalu berusaha keras  menghidupi aku dan adikku dengan bekerja bersusah-payah. Terkadang hatiku ikut pecah berkeping-keping saat tengah malam aku terbangun dan mendengar suara isakan ibuku dari kamar sebelah. Pagi hari saat aku melihat keadaannya, beliau sudah berdiri di dapur. Matanya agak sedikit bengkak. Tapi ia tetap menyiapkan sarapan kami dan tersenyum lebar. Aku membalas senyumnya pahit.

Karena aku sangat amat menyayangi ibuku, aku berusaha agar tidak pernah mengecewakannya. Belajar sekeras mungkin, bersaing menjadi yang nomor satu di kelas, mengejar beberapa beasiswa, bekerja serabutan dimanapun untuk membantu penghasilan keluargaku. Terkadang juga aku menjadi guru privat, atau bekerja part-time sebagai barista di coffee shop*. Dan setiap sore aku menghibur diriku sendiri dengan datang ke sudut jalanan dekat taman. Bermain bersama anak-anak dan mengajari mereka berbagai macam hal. Menyamar memakai kostum badut. Tidak peduli pandangan orang. I’m used to it—Sudah terbiasa.

Aku menyukai anak-anak karena mereka lucu. Aku mungkin sinis dan sedikit tidak berperasaan. Tapi aku tidak akan bersikap begitu pada anak kecil. Mereka harus mempunyai masa depan yang cerah, tidak boleh sepertiku.

**********

Lihatlah, laki-laki itu datang lagi. Untuk yang kesekian kalinya.

Aku meliriknya kesal. Ia tetap tidak menyerah rupanya. Padahal aku sudah mengucapkan kata ‘pergi’ dengan nada yang kubuat menjadi terdengar sekejam mungkin, mengucapkan berbagai kata-kata yang kurasa cukup untuk menyakiti hatinya dan bisa membuatnya pergi, ditambahi dengan pandangan mata yang siap menerkamnya. Namun ia tidak juga jera.

“Hei Chaerin! Aku datang lagi.”

Aku pura-pura tidak mendengarkan dan terus merapikan kostumku. Ia menepuk bahuku pelan. Terasa aliran listrik kecil mengalir di bahuku. Sontak aku menepis tangannya kasar dan memandangnya tajam.

“Cukup. Jangan pernah sentuh aku.”

“Ya…Calm down, Chaerin-ssi. Ini sudah kali keberapa kita bertemu dan kau masih saja seperti itu. Tenang saja, aku tidak akan berbuat hal buruk padamu. Kau tidak usah takut padaku.” Ia berkata sambil tertawa kecil.

Aku melengos. Berusaha menulikan telingaku. Ia berjalan ke sebelah kiriku, bersender di meja dan memasukkan tangannya ke saku. Ia seperti merogoh sesuatu di kantongnya.

Tak lama kemudian ia menyerahkan selembar cetakan foto padaku. Aku hanya diam tak mengacuhkan. Ia mulai gemas dan menggoyang-goyangkan lagi foto itu tepat di depan wajahku.

Hei. Itu aku kan?

Di foto itu terlihat sosok diriku yang sedang tersenyum sambil memegang gantungan kunci pemberian Gae In, salah satu anak kecil yang sering datang untuk bermain bersamaku di sini. Benar-benar fokus. Semua dibelakangku blur. Ini foto yang sangat indah, seperti memang khusus dipotret hanya untukku. Aku bahkan tidak tahu aku bisa tersenyum seperti itu.

Lalu ia mulai mengeluarkan lagi sekitar lima foto dari kantongnya. Dan yang membuatku membelalakkan mata, semua-muanya adalah fotoku. Dengan ekspresi yang berbeda-beda tentunya. Semuanya menakjubkan.

Aku tercekat.

Kutolehkan kepalaku untuk melihatnya dan berusaha mengolah kata-kata yang tersangkut di tenggorokanku. Menghela napas sekali, lalu memandang matanya.

“Siapa yang memperbolehkanmu mengambil foto-foto ini?” Intonasi nadaku mulai menurun namun tidak menghilangkan unsur sinisme di dalamnya. Tidak ada gunanya menggunakan emosi terus-terusan pada laki-laki ini, karena pada akhirnya dia juga tidak akan mengindahkannya. Menghabis-habiskan tenaga saja.

Mianhae. Tanganku bergerak sendiri menekan tombol shutter di kamera. Sepertinya kameraku suka padamu.” Laki-laki yang kutahu bernama Park Chanyeol itu tertawa kecil. Aku menatapnya tajam.

“Bawa saja foto-fotomu itu, aku tidak peduli.” Kubuang foto-foto hingga berserakan di tanah. Segera aku menghilang dari hadapannya dan melangkah pulang.

Kulirikkan ekor mataku sedikit ke belakang dan melihat laki-laki itu ternyata memunguti satu persatu kertas fotonya. Aku mengernyitkan dahi lalu kembali menatap depan.

Ternyata, Chanyeol tetap mengikutiku dari belakang. Ia bersiul-siul pelan sambil memandang sekelilingnya. Kertas fotonya yang berjumlah 6 buah sudah lengkap berada di genggaman tangan kanannya. Entah kakinya yang terlalu panjang atau jalanku yang terlalu lambat, ia selalu berhasil berjalan tepat di sebelahku. Kami berjejer seperti seorang pasangan sekarang. Ugh.

“Kau sepertinya benar-benar disayangi oleh anak-anak di sekitar sini, Chaerin.” Ia membuka percakapan. Aku tetap diam tidak memperdulikan. Ia melanjutkan lagi. “Mereka lucu sekali. Polos. Belum mengerti arti hidup yang sesungguhnya.”

“Memang kau mengerti?” Aku menyahuti sarkastis. Kesal. Seperti ia mengerti arti hidup saja.

Chanyeol tersenyum kecil melihatku menanggapi perkataannya. “Aku senang ternyata paling tidak kau mendengarkan aku berbicara.”

Aku mengalihkan pandangan kesal. Pabo. Mengapa kau tidak bisa menahan dirimu dan tetap diam, Chaerin!?

“Sebetulnya aku juga tidak mengerti arti hidup, dan tujuan hidupku. Tapi aku tahu pasti, aku mencintai fotografi. Sangat.” Ia tetap membalas sahutan sarkastisku tadi. Aku tetap berjalan dalam diam sambil memandang lurus ke depan.

Tetapi saat Chanyeol mengatakan tentang minatnya, mau tak mau refleks pikiranku langsung melayang jauh.

Berbicara mengenai minat. Aku mencintai dunia tulis-menulis. Karena usaha kerasku belajar bertahun-tahun, aku baru saja berhasil mendapatkan beasiswa full hingga lulus di Universitas yang cukup terkenal di Seoul dalam bidang ilmu komunikasi. Disana aku harus belajar dengan rajin karena beasiswa menuntutku untuk menjadi yang terbaik tanpa cela. Aku belajar giat dan memperdalam ilmuku hingga tidak pernah memperhatikan sekitar.

Aku hanya mempunyai satu, satu saja teman dekatku di kuliah.

Rata-rata teman-temanku itu mengetahui siapa aku, begitupun sebaliknya. Jika mereka membahas mengenai senior dan lain-lainnya. Aku hanya bisa diam karena memang aku tidak mengetahui apa-apa tentang itu. Karena itulah aku agak sedikit terkucilkan oleh mereka, karena aku tidak aktif dalam kegiatan. Aku juga memilih untuk menghindari keramaian. Ilmuku hanya dalam teori saja, sementara praktekku nol besar.

Kembali ke dunia ini lagi. Lelaki di sebelahku ini, Mengapa ia tidak pergi saja dan tetap berjalan bersamaku?—Aku tetap memandang lurus ke depan, sesekali mencuri pandang dengan meliriknya.

“Kau tahu tidak, Chaerin? Aku cukup terkejut saat melihatmu hari Minggu kemarin dipeluk oleh anak-anak itu. Kau benar-benar hebat. Sepertinya mereka semua amat menyayangimu.” Chanyeol berkata lagi untuk kesekian kalinya. Seperti berbicara dengan angin, tidak ada respon berarti dariku.

Akhirnya karena kecanggungan yang tidak membuatnya nyaman, iapun ikut memilih untuk diam. Namun langkahnya tetap mengikuti langkah kakiku.

“Kau pergi saja.” Aku berkata dingin padanya. Ia menggeleng dan terus berjalan. Sampai akhirnya aku sampai di depan belokan menuju gang kecil di rumahku, ia tetap terdiam di tempat.

This guy scared me to death…God.

Sebelum aku hendak mengusirnya lagi. Terlihat dari jauh adik perempuanku—Chaejin. Ia berjalan dengan tas tersampir di bahunya. Sepertinya baru pulang sekolah. Ia melihatku dan melambaikan tangannya semangat. Lalu berlari kecil mendatangiku.

“Hai eonni! Kau baru pulang?” Ia menyapaku semangat.

“Darimana saja kau?”

“Ah, ini, aku baru saja belajar bersama di rumah sahabatku. Dan kau biasanya tidak pulang jam segini.” Ia menanggapi. Lalu pandangannya beralih ke lelaki di sebelahku. Chanyeol tersenyum ramah dan membungkukkan kepala untuk memberi salam.

“Siapa ini, eonni?” Chaejin terlihat bingung. Lalu sepersekian detik kemudian pandangan matanya berubah, ia tersenyum. “Apa mungkin dia kekasihmu? Arraseo…” Adikku satu-satunya itu mulai menggodaku dan menyenggol bahuku keras. Aku memelototkan mata.

“Tidak. Aku bahkan tidak mengerti siapa dia.” Ucapku pedas. Lalu segera kulanjutkan lagi kalimatku yang belum selesai. “Dan kau, lebih baik pergi sekarang. Jangan pernah mengikutiku lagi.” Kutujukan kata-kataku itu pada Chanyeol. Ia diam saja namun wajahnya tetap tidak memperlihatkan ekspresi marah atau apapun itu. Ia tersenyum kalem, kemudian membuka mulutnya dan berbicara.

“Aku mengerti. Hati-hati, Chaerin..dan kau..”

“Chaejin.” Adikku menyambar cepat.

“Ah ya, Chaejin. Aku pulang dulu. Sampai bertemu lagi” Ia membentuk gestur tangan ‘see ya’ dengan jari tengah dan telunjuk yang dirapatkan menjadi satu. Tersenyum lebar. Lalu berbalik, dan berlari pulang. Langit sudah mulai gelap. Aku memandangnya dari kejauhan.

“Ia cukup tampan, eonni. Sungguh.” Chaejin berkata santai, membuyarkan suasana.

“Tidak. Tidak sama sekali.” Jawabku singkat tanpa memperdulikannya lagi. Lalu aku meneruskan jalan kembali ke rumah. Adikku mengekor dari belakang.

“Jangan seperti itu, eonni, awas jika kau terkena batunya nanti.” Ia tertawa puas lalu mulai berlari mendahuluiku untuk melindungi kepalanya dari jitakan kerasku.

Huh, dasar kau Chaejin. Awas kau!

Aku berhenti dan menoleh lagi ke belakang.

Aku harap semoga besok laki-laki tidak datang lagi kesini.

 

**********

“Chaerin-ah!”

Itu pasti suara cempreng Younha. Terlihat dari kejauhan seorang gadis cantik berlari-lari kecil ke arahku. Inilah satu-satunya teman dekatku di kuliah. Park Younha.  Ia termasuk jajaran perempuan populer di universitasku. Cukup menonjol di antara mahasiswa junior. Semua orang bahkan sepertinya mengetahui dirinya. Ia pintar bersosialisasi dan aktif dalam berbagai kegiatan, berkebalikan denganku.

Jika bisa dikatakan, Younha benar-benar cantik secara alami, Tuhan yang membuatnya seperti itu. Rambutnya pendek berwarna hitam dengan highlight merah yang tanpa disisir pun sudah jatuh sendiri dengan indah di bahunya. Postur tubuhnya cukup tinggi bagi rata-rata perempuan sebayanya. Anehnya, perempuan populer ini malah dekat denganku, si kuper tanpa teman. Dan ia sepertinya tidak mempermasalahkan itu.

Meskipun kami cukup dekat, kami jarang bercerita mengenai masalah mendalam seperti masalah keluarga dan lainnya. Memang aku dan Younha belum terlalu lama saling mengenal karena baru sekitar 3 bulan kami mulai memasuki kuliah. Karena itu jika dibilang ‘sahabat’, aku agak ragu. Ah, tidak. Sebenarnya yang jarang bercerita itu aku. Bukan dia. Mungkin memang aku orang yang agak tertutup untuk masalah pribadi.

 

“Ada apa?” Aku meletakkan buku yang sedang kubaca di sebelah kursiku dan membetulkan letak kacamataku yang agak miring, lalu memasang telinga baik-baik tentang apa saja yang hendak ia katakana sekarang.

“Kau akan datang kan?” Ia memulai pembicaraan dengan bertanya seperti memastikan.

“Hah? Kemana?” Aku mengernyitkan dahiku bingung. Benar-benar lupa.

“Ke rumahku besok. Acara ulang tahun kakak perempuanku, ingat? Jangan katakan kau lupa, karena kau sudah berjanji padaku kau pasti akan datang.” Younha mengambil tempat duduk tepat di sebelahku. Ia menoleh dan menatapku dengan pandangan mengancam.

“Kosongkan semua jadwalmu, oke? Setiap aku mengajakmu ke rumahku kau pasti beralasan sibuk. Kali ini kau harus datang..” Ia memberi jeda sebentar, setelah itu melanjutkan kalimatnya. “Tidak menerima penolakan. Kalau kau tidak datang aku akan marah padamu.”

Mianhae, Younha-ya. Aku benar-benar lupa.” Aku menepuk dahiku. “Tapi, tenang saja, besok aku tidak ada kegiatan apa-apa.” Aku berusaha menenangkannya.

Ia mengangguk-angguk.

“Nah, baguslah. Aku akan menjemputmu besok.” Younha berkata mantap.

 

**********

 

Disinilah aku berada sekarang. Di rumah bertingkat tiga milik Park Younha, sahabatku yang nyaris sempurna. Ia berasal dari keluarga yang berkecukupan dan rumahnya benar-benar besar. Aku tiba-tiba merasa minder tak tertahankan.

“Ah, selamat datang Chaerin.” Nyonya Park menyambutku dengan bersahabat di ruang tamu. Aku mengangguk sopan dan membungkukkan badan untuk membalas salamnya. Segera kulangkahkan kaki dengan kikuk masuk ke rumahnya mengikuti langkah Younha. Di ruangan depan sudah ada rombongan keluarga bersiap-siap dengan kue tar di meja dengan lilin tertancap angka 2 dan 4. Kakak perempuannya berumur 24 tahun ternyata. Berbeda 4 tahun dengan Younha. Aku merasa agak sedikit bersalah karena tidak mengetahui keluarganya dengan baik karena aku jarang mendengarkan saat Younha bercerita tentang keluarganya. Sibuk sendiri memikirkan betapa sempurnanya hidup Younha. Ia terlihat amat bahagia. Dan aku agak sedikit iri dengannya.

Younha tetap melanjutkan langkahnya sampai ke ruang makan. Ternyata disana, di sudut kanan ruangan itu sudah berdiri dua orang. Perempuan cantik dengan rambut digelung ke atas yang sedang berbicara seru dengan laki-laki yang membelakangiku. Mereka membawa gelas tinggi berisi wine. Kutebak perempuan itu adalah Park Yuri, kakak perempuan Younha. Ia pernah memberitahuku sekali. Dan laki-laki itu, memakai pakaian resmi jas hitam dan berambut hitam, mungkin dia kakak laki-laki Younha. Kalau tidak salah Younha pernah juga sekilas mengatakan bahwa ia mempunyai kakak laki-laki juga yang menjadi seniornya juga di kuliah. Sekilas saja karena aku tidak pernah bertanya lebih lanjut padanya. Sampai sekarang aku tidak mengetahui yang mana kakak laki-laki Younha. Sudah kukatakan aku tidak peduli dengan senior dan hal-hal lain selain pelajaran.

Eonni! Oppa!” Younha memanggil nama kakaknya dengan sedikit keras. Kakak perempuannya melambaikan tangan sambil tersenyum. Lalu tangannya mengisyaratkan kami untuk mendekati tempatnya. Younha menarik tanganku mengikutinya. Mendengar teriakan Younha, laki-laki yang sedaritadi memunggungi kami itu juga ikut menoleh.

 

Tidak.

Seketika aku membeku.

Eonni, oppa, perkenalkan ini temanku, Kim Chaerin.” Younha mengenalkan aku kepada mereka. Kakak perempuannya mengangguk kecil sambil tersenyum.

Sementara kakak laki-lakinya hanya diam. Sama persis seperti yang kulakukan sekarang. Membatu.

Setelah terdiam cukup lama. Kami seperti tersadar. Lelaki itu lalu berdeham dan tersenyum kecil.

 

“Uhm, dunia benar-benar sempit bukan, Chaerin-ssi?”

Mengapa dari semua probabilitas yang ada di dunia ini, dan mengapa dari semua manusia yang ada di muka bumi ini, yang menjadi kakak laki-laki dari teman dekatku sendiri adalah dia?

“Kau..”

To be continued

***

Annyeong~

Finally, I already finished chapter 2! Kkkk.

Well ada bagian dimana Chaerin dijelaskan bekerja sebagai barista di sebuah kedai kopi.

*Barista itu apa sih?

Menurut sumber dari Internet, barista adalah orang yang bertugas meracik dan membuat kopi di coffee shop. Barista harus memiliki kemampuan khusus dalam pekerjaannya sebagai peracik kopi dan juga diperkuat wawasan tentang berbagai macam biji kopi.

Nah. I hope you’ll like it! I enjoyed much when I made this chapter hehe.

Terimakasih sudah susah-susah menyempatkan waktu untuk membaca! Don’t forget to leave a comment below here! Because ur comments are important for me>< Wait patiently for the next chapter ya, luv luv.

 

14 pemikiran pada “100 Paper Cranes (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s