Blue

Blue

Author : @indahwonwon | Genre : School Life, Teen, Sad, Hurt  | Length : Ficlet (about 1.547 words)

| Rating : General | Main cast : Ami (OC), Kim Jong In/Kai (EXO’s Kai) |

Author’s Notes :

Annyeooooooooong~ Thanks for publishing my story. I’m back again guys!!  This is it! Sebelumnya aku udah pernah posting tulisan ini di personal blog aku dan dengan maincast originalnya kodok tersayang myMino dan aku share disini dengan maincast lain yang ga lain si kkamjong. Serius ini idenya absud banget so semoga kalian enjoy bacanya ._.

Like usual, I need your comment because your comment like Oxygen, guys. And don’t be a silent reader please ^^

                                                                        Enjoy!!               

 

.

.

.

 

Blue

 

Perasaanku padamu, entah bisa terbalas atau tidak. Setiap kali memikirkannya, yang kurasakan hanyalah perasaan berdosa. Perasaan sedih. Perasaan mengharu biru.

 

.

.

.

 

Pagi ini, hari pertama tahun ajaran baru di mulai dan sekarang aku melangkahkan kaki menuju sekolah baruku. Langkahku terhenti saat melihat sosoknya, sosok anak lelaki bertubuh tinggi melangkah hanya beberapa meter di depanku menuju tempat yang sama dengan yang akan ku tuju sekarang, Neul-Paran High School. Aku berusaha menyusulnya, aku mempercepat langkah dengan sedikit berlari.

“Jongin! Kim Jongin!” Anak lelaki itu berhenti saat aku berhasil meraih sedikit ujung lengan jas sekolahnya, ia pun menoleh ke arahku.

“Mulai hari ini kita satu sekolah, ya!” Aku melanjutkan kata-kataku sambil sedikit terengah.

“Hmm.. Kau.” Ia menjawab dengan nada datar.

”Kita tak pernah satu sekolah sampai sekolah menengah, dan sekarang aku sangat senang akhirnya bisa satu sekolah denganmu.”

“Ya, aku tak percaya kau bisa di terima di sekolah ini.”

“Kenapa? Tidak sulit kok.”

Aku berbohong, aku sangat ingin masuk sekolah yang sama dengannya bahkan sejak dulu sehingga aku belajar mati-matian. Bahkan aku meminta pada ibu untuk mendatangkan sepuluh guru privat khusus hanya untuk mengajariku. Karena, aku ingin selalu berada di sisinya, di sisi Kim jongin.

Dia anak lelaki bertubuh tinggi dengan sikap yang begitu dingin, Jongin adalah lelaki yang amat sangat kucintai.

“Kenapa kau harus satu sekolah denganku?” Ia tetap menjawab tanpa ada ekspresi sedikitpun.

Aish! Selalu saja dingin, “Ada masalah?” Aku menjawab dengan sedikit ketus. Tapi, aku harus tetap merahasiakan perasaanku.

“Karena harus satu sekolah dengan sepupu itu akan sangat menyusahkan.”

“Jadi menurutmu aku ini menyusahkan, begitu?” Aku menjawab dengan ekspresi malas.

Ya, kami adalah sepupu. Sepupu yang sebaya dan tak bisa di pungkiri anak lelaki yang terlanjur aku cintai sejak kecil adalah sepupuku. Walaupun sebenarnya kami bukanlah sepupu dekat, tapi kenyataan bahwa kami sepupu sangatlah bertentangan dengan perasaan cintaku padanya.

“Ami..”

“Hmm?” Aku sedikit terkejut karena ia tiba-tiba memanggil namaku.

“Di sekolah jangan terlalu dekat denganku!”

 

APA?

Perkataan kejam apa itu?

Kenapa kau begitu tega berucap seperti itu padaku.

Kau selalu saja dingin!

Padahal dulu dimasa kecil kau jauh lebih baik.

Tetapi aku mencintaimu.

Sangat mencintaimu lebih dari apapun.

 

“Dan berhenti memanggilku Jongin saat di sekolah,”

Ia berlalu begitu saja meninggalkanku yang mematung di depan gerbang sekolah masih berusaha mencerna dialog terakhir darinya yang menurutku kejam.

 

.

.

.

 

“Jangan mendekatiku!..”

Tapi bagaimana mungkin, kalau ternyata takdir membawa kami untuk berada di satu kelas. Bagaimana mungkin aku bisa menghindar darinya? Aku tak tahu apakah harus bahagia atau sedih karena aku akhirnya bisa satu kelas dan aku yakin, dia tak akan mau bicara denganku.

 

Aku melangkahkan kaki menuju kelas baruku, kelas 1-1. Kelas yang sama dengan yang di dapat Jongin.

“Hmm.. Apa ini kelasku? Kenapa bisa ramai sekali?” Aku bergumam pada diri sendiri. Aku melihat papan nama yang ada di atas pintu untuk memastikan apakah ruangan yang sesak dengan anak-anak perempuan yang menumpuk di depan pintu ini adalah benar-benar ruang kelas baruku.

“Benar, ini kelas 1-1 dan aku tak mungkin salah ruangan, tapi kenapa bisa begitu ramai? Ada apa ini?” Aku berusaha menerobos ke dalam kerumunan untuk melihat ke dalam kelas baruku ini apa yang sebenarnya terjadi sehingga menyebabkan kerumunan tak jelas di depan pintu.

 

“Kyaaa! Ia tampan sekali!” Seorang anak perempuan berteriak tepat di sebelah telinga kiriku dan ini cukup membuat telingaku berdenging.

“Permisi, aku mau lewat.” Aku menyeru pada sekelompok anak perempuan yang tepat berada di depanku yang berdiri berjejer seperti membuat sebuah blokade yang sulit di tembus.

“Yaa! Kai oppa tampan sekali!” Seorang anak perempuan lain yang tepat berada di belakangku berteriak.

Jadi, semua anak perempuan ini berkerumun hanya untuk Jongin?

Akhirnya aku bisa menembus kerumunan yang mulai menggila, kulihat sosok yang sedari tadi di elu-elukan hanya duduk mematung di sisi belakang kelas dan tak sedikitpun menggubris setiap teriakkan para anak perempuan yang masih saja sibuk menyoraki namanya, bahkan menolehkan kepala pun tidak.

Aku melangkahkan kaki menuju kearah anak lelaki itu dan berhenti satu meter di depannya. Ia menoleh kearahku, hanya beberapa detik dan ia lantas membuang pandangan dengan malas, memalingkan wajahnya.

Lama-lama perlakuan menyebalnya mulai menyulut rasa kesalku,

“Apa boleh buat, kita kan berada di kelas yang sama. Jadi ini bukan kesalahanku. Jongin-ah, jika kau punya masalah dengan ku, katakan dengan jelas! Kau bilang aku menyusahkanmu, tapi apa yang sebenarnya membuatmu susah?”

Emosiku tak bisa tertahan lagi, aku memakinya tepat di depan kerumunan ‘penggemar’nya.

Ia tetap saja tak menggubris makianku, tetap bersikukuh dengan sikap dinginnya, sekarang ia malah memasang earphonenya dan asik mendengarkan lagu dari iPod kesayangannya.

 

.

.

.

 

“Hei kau! Bisa ikut kami sebentar?”

“Hah?”

Tiba-tiba sekelompok anak perempuan menarik lenganku kasar dan menyeretku keluar dari ruang kelas.

Apa yang terjadi? Ada apa ini!

“Kalian siapa?”

“YA! Kau! Kenapa kau terlihat begitu akrab dengan Kai oppa?” Seorang anak perempuan berambut hitam panjang membentakku.

“Ya! Kau siapanya? Kekasihnya? Kau begitu sok akrab padanya. Kami tak bisa terima.” Seorang anak perempuan lain berambut pirang yang berada di belakangnya berteriak kearahku.

“Kami tak akan membiarkanmu atau siapapun yang maju sendiri untuk mendekati Kai oppa!” Seorang anak perempuan lain berbicara tepat di telinga kananku.

“Dan kau juga memanggil Kai oppa dengan begitu akrab. Siapa kau sebenarnya?” Secara mendadak seseorang yang ada di belakangku menjambak rambutku dan itu cukup menyakitkan.

“Aku..”

“APA!? Dia masih berani menjawab?”

“Dasar kau perempuan tak tahu aturan!”

Anak perempuan berambut hitam tadi mulai mengarahkan tangan kanannya kearahku, tetapi untunglah aku berhasil lepas dari cengkraman mereka.

Aku berlari tanpa arah untuk menghindari amukan para anak perempuan yang mulai menggila itu, tapi apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sudah tersudut, aku tak bisa lari kemana-mana. Aku tepat tersudut di bawah tangga dan tak ada ruang lagi untukku meloloskan diri.

Saat aku merasa benar-benar sudah tersusut, aku hanya bisa memejamkan mataku dan berharap mereka tak melakukan sesuatu hal yang buruk padaku.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah lengan menggenggam tangan kananku dan menarikku.

“Ya tuhan! Tolong aku!” Aku hanya bisa memohon dalam hati.

Aku terkesiap saat lengan tadi menarik tubuhku kedalam dekapannya,

“Hentikan. Jangan ganggu dia.”

Suara ini, apa benar suara ini suaranya, apa dia yang menyelamatkanku dari para anak perempuan yang menggila ini?

Aku beranikan membuka mata, wajahku hanya berjarak sepuluh senti dari wajahnya. Aku bisa melihat setiap lekukkan wajahnya dari jarak sedekat ini. Dia benar-benar sempurna.

“Aku tahu akan begini jadinya. Padahal aku tak mau berurusan denganmu.” Ia berkata padaku tanpa menoleh ke arahku.

“Kai oppa, siapa anak perempuan itu?”

“Ada hubungan apa oppa dengan anak perempuan itu?” Pertanyaan dari para anak perempuan yang menggila itu bertubi-tubi menghampiri Jongin.

“Dia.. Sepupuku.” Ia menjawab tanpa ekspresi.

Apa ini bukan mimpi? Dia benar-benar melindungiku, walaupun sebenarnya hatiku terasa sakit mendengar kata-kata jahatnya itu. Tetapi, sampai sekarangpun lengannya dan kata-kata kejamnya.. Masih melindungiku.

 

.

.

.

 

Selalu saja seperti ini. Kenapa kau harus selalu membutuhkanku? Kenapa harus selalu aku yang melindungimu? Kenapa kau harus selalu butuh aku lindungi?

Bahkan aku berubah dingin, kejam, tidak berperasaan alasannya hanya satu. Kau. Tapi kenapa kau masih tak juga menjauh dariku.

Sejak dulu aku selalu belajar sangat keras dan memilih masuk sekolah unggulan dengan alasan agar kau tak bisa ikut masuk sekolah yang sama denganku, karena aku tahu kau tak akan bisa. Dan kenapa kau harus dengan bodohnya berusaha memasuki sekolah yang sama denganku. Aku bahkan sangat tahu bagaimana usahamu untuk masuk sekolah yang sama denganku, kau selalu belajar mati-matian dengan keras bahkan sangat keras. Aku sudah berusaha untuk selalu menjaga jarak denganmu dan sekali lagi kau selalu berlari mendekat ke arahku. Satu langkah aku menjauhimu, kau malah berlari ke arahku.

Aku lelah selalu membohongi perasaan. Aku selalu berusaha mengunakan otakku untuk berfikir mengenai keadaan kita. Berusaha tak mengunaan hati dan perasaan. Karena ini begitu salah. Kau sepupuku dan aku sudah terlampau jauh jatuh mencintaimu bahkan semenjak dulu saat pertama kali kau selalu membelaku dari anak-anak yang sering mencelaku.

Aku benci mengenai fakta bahwa kita adalah saudara. Aku benci setiap kau memanggil namaku dengan panggilan kecilku, karena itu selalu mengingatkanku mengenai status kita. Dan aku benci karena aku tak bisa membencimu sedetikpun..

            “Ami.. Aku cinta padamu,”   

 

.

.

.

 

Aku masih mendekapnya dekat, berusaha melindunginya dari bully-an sekelompok gadis yang terobsesi padaku.

“Dia.. Sepupuku,”

Bahkan kalimat pendek itu terlalu sulit untuk diucapkan. Setiap kata itu muncul dari mulutku, seperti ada pisau kasat mata yang menggores kulitku. Begitu perih.

Rasanya, ingin sekali detik ini aku berteriak di hadapannya kalau aku mencintainya seperti seorang lelaki pada seorang perempuan. Bukan seorang saudara.

Aku hanya harus tetap membuatmu bisa membenciku..

 

.

.

.

 

Kkeut!

Oke, thanks for reading my story till the end guys. Hope you enjoy it ^^

Jangan jadi siders ya guys ^^

Komentar, kritik dan saran yang membangun dari seluruh reader-deul sangat ditunggu.

*deep bow*

30 pemikiran pada “Blue

  1. Uooh..
    sukaa 😀

    dulu aku pernah baca manga yg kaya gini, (suka sama sepupu sendiri) tp lupa judulnya, trus akhirnya mereka jadian setelah banyak bgt pertimbangan,gapeduli orang mw ngomong apa yg penting mereka bisa bahagia,. Hohoho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s