Hard To Be Love (Chapter 6) : Special Engangement Party

Hard To Be Love Chapter 6 : Special Engangement Party

AUTHOR                    : Shailee Jay ^^ @mrskim_lbert98

CAST                           : Choi Ryeo Na/Ryeonie/Shailee Choi (OC) ; Kim Jong In/Kkamjong/Kai (EXO-K) ; Kang Shin Kyung/Kyungie (OC) ; Oh Se Hoon/Sehun (EXO-K) ; Lee Chae Ri/Chaeri (OC) ;  Kim Joon Myun/Suho (EXO-K)

OTHER CAST           : Byun Baek Hyun/Baek Hyun (EXO-K) ; Park Chan Yeol/Chanyeol (EXO-K) ; Wu Yi Fan/Kris (EXO-M) ; Xi Lu Han/Lu Han (EXO-M) ; Choi Si Won (SJ) ; Choi Soo Young (SNSD) ; Kim Jong Dae (EXO-M) ; Seo Jeo Hyun (SNSD)

RATING                     : PG 15+ or NC 17

LENGTH                    : Chaptered / Series Fic

GENRE                       : Romance  ;  Humor (maybe)  ;  AU (School, Friendship, Family ; Smut

 

Annyeooooooooooooonggg!!!!!! *teriak pake toa* *ngga ada yg nyaut -_-*

Aku balik lagi bawa fanfic Hard To Be Love yg cast nya kece-kece sama kayak authoooor 😀

Makasih yg udah ngomen di chap sebelumnya, komen –yang emang ngga banyak—itu bikin motivasi author nambah! 😀

Ohiya, author cuma pengen ngasih tau aja kalo Kai, Suho, Sehun, Baekhyun, dan Chanyeol itu member EXO yang sebenarnya dan 7 member lainnya author jadiin pemain yang lain hehe #ngerti ngga readers? O.O

Maaf banget kalo ada adegan yang bikin readers ngga tahan bacanya =( *krekes* Buat yang udah nunggu lanjutan fanfic ini silahkan nikmati aja sepuasnya yaaaaaa =))))

Sekian dan terimakasih…….. *turun dari podium* #GUBRAKK!! *jatoh* *ngga ada yang nolongin* /miris/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Previous chapter…

Dengan perasaan kesal, Sehun berjalan santai kearah pintu. Ingin mengetahui siapa yang berani mengganggu kegiatan langka yang baru saja dilakukannya bersama Shinkyung. Tapi, ia besyukur. Untung saja ada orang yang datang. Kalau tidak? Ah, hampir saja aku mau mengambilnya, pikirnya dalam hati.

Sehun membuka pintu apatemennya yang besar itu. Sebenarnya ia ingin memarahi orang yang mengganggunya ini. Tapi tiba-tiba saja keinginan yang tadinya sudah bulat itu menciut. Tergantikan oleh perasaan kaget yang luar biasa alaynya. Membuat Sehun menganga lebar dan melototkan matanya setelah ia membuka pintu besarnya itu—melihat sesuatu yang sebenarnya mungkin bisa dibilang tidak mungkin. Entah apa yang ia lihat, tapi ia menyebutkan sebuah nama. Nickname.

“Kkamjong…”

–V–

Flashback

 

Ryeona’s POV

–FLASHBACK—

5 Hours Ago

Kim Family’s House, 09.00 KST

 

Demi apapun.. apa aku harus melakukan hal ini? Yang benar saja, mana mungkin aku mau mengerjakan ini semua. Aish, dasar appa! Kenapa makin kesini dia makin menyuruhku hal yang tidak-tidak? Membuatku kesal saja! Aish!!

Dan sekarang aku disini. Dipintu neraka yang seharusnya dijaga oleh Malaikat Malik. Tapi untunglah, mungkin hari ini Malaikat Malik sedang libur, jadi beliau tidak menjaga rumah –yang seperti neraka bagiku—ini. Baiklah, cukup sudah imajinasiku tentang neraka ini, karena sesungguhnya rumah ini tidak seperti neraka. Bahkan hampir mendekati surga. Ini adalah rumah yang selalu kuimpikan. Tapi, sayangnya rumah idamanku ini adalah RUMAH NAMJA BERKEPALA DUA ITUUUUU!!!! Sungguh, aku tidak ingin masuk kedalam rumah ini (>̯┌┐<)

Tapi apa boleh buat? Jika appa tahu kalau aku tidak bertemu dengan ‘CAMER’ku –yang ada dirumah ini— pasti dia akan marah besar. Bisa-bisa aku dikurung selama seminggu, atau sebulan, atau mungkin lebih dari itu untuk menebus kesalahanku ini.

Hey, tunggu dulu. Jika saja pikiranku ini benar, berarti acara pertunanganku dan ‘namja itu’ akan ditunda. Berarti aku bisa menyisihkan waktu untuk kabur dari rumah agar pertunangan ini dibatalkan. Iya, kan? Benar, kan? Aish, Choi Ryeo Na, kau sangat jenius!!

Baiklah, hal pertama yang harus aku lakukan adalah ‘keluar dari rumah ini tanpa mengeluarkan bunyi sedikit pun’.

“Oke, aku siap! Hana, du, se—“

CEKLEK…

“Eo? Ryeonie? Omonaaa!!”

Oh, shit! Aku ketahuan!!! Gyaaaaaahhh!!!!

Bagaimana ini? Apa aku harus membalikkan badanku dan tersenyum? Aish, itu adalah jalan satu-satunya. Ya Tuhan, aku pasrah. Aku menyerahkan segalanya pada-Mu.

“A-Annyeonghaseyo, eomonim. Ini aku Ryeona hehehe.”

Ya ampun, Ryeo! Kenapa kau harus menyengir kuda dihadapan ‘CAMER’mu ini hah?! Aish, paboya!

“Yeobo! Ada Ryeonie! Aigoo, kau semakin cantik saja. Padahal baru beberapa hari tidak melihatmu,” ucap Kim eomonim sambil memelukku erat.

“Ehehehe~”

Baiklah, aku speechless. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ya Tuhaaaannn?!!

“Eoh! Ya ampun, Ryeonie! Kenapa kau tidak bilang-bilang dulu mau kesini? Kami kan belum mempersiapkan apapun untukmu,” ucap Kim abeonim sambil memelukku juga, setelah Kim eomonim melepaskan pelukannya.

Sungguh, dipeluk oleh mereka berdua serasa mereka adalah orangtua kedua setelah eoma dan appa bagiku.

“Ah, gwaenchana, abeonim. Lagipula aku mau mampir kesini saja, sekalian olahraga pagi tadi hehehe~”

Lagi-lagi, nyengir tidak jelas. Apakah itu yang bisa kau lakukan, Ryeo?! PABO!!

“Oh, begitukah? Baiklah, ayo masuk kedalam!”

“Ah, ne. Kamsahabnida,” ucapku lalu membungkuk hormat pada mereka berdua. Mereka hanya tersenyum melihatku.

Tanpa menunggu apapun lagi, mereka berdua menuntunku masuk kedalam rumah. Kenapa aura ‘neraka’ yang tadi sempat aku rasakan—dalam imajinasiku—seketika berubah menjadi aura surga yang begitu memikat. Rasanya begitu tenang berada diantara mereka. Sama seperti saat aku, eoma, dan appa bersatu menjadi keluarga. Hey, kenapa tiba-tiba saja aku ingin mereka jadi orangtuaku juga? Aigoo, kau pasti sedang berimajinasi, Ryeonie!

Aku benar-benar tidak menyesal masuk kerumah ini. Disini begitu rapi dan bersih, sama seperti rumahku. Begitu nyaman.

“Ryeo, kau belum mandi ya?”

“Eh?”

Kenapa… tiba-tiba eomonim berbicara seperti itu padaku? Apa tubuhku bau? Apa aku terlihat kucel, kusam, dan kusut? Ya Tuhan, kesalahan apa lagi yang aku perbuat sehingga Engkau menjadikanku berada disituasi memalukan seperti ini?

“Kau belum mandi ‘kan? Mandilah dulu dikamar Jongin, lalu pakai saja baju yang ada dikamarnya. Aku takut kau tidak nyaman dengan baju penuh keringat seperti itu, nanti bisa-bisa kau gatal-gatal, sayang.”

“Ne? Ah, ne,” karena bingung aku jawab saja iya -.-

“Kamarnya ada dilantai dua, jika kau ingin istirahat, istirahat dulu saja disana ya.”

“Ne, eomonim.”

“Selamat beristirahat, Ryeonie!” ucap mereka berdua sambil tersenyum kearahku. Perasaan itu datang kembali. Perasaan dimana aku ingin mereka berdua menjadi orangtua keduaku.

Aku membungkuk, berpamit untuk beristirahat pada mereka. Lalu aku berjalan menuju lantai atas rumah ini.

Ryeo, kau pasti sudah gila jika menginginkan itu terjadi. Mana mungkin aku menginginkan mereka menjadi orangtua keduaku? Jika aku ingin itu semua terjadi, maka aku harus melakukan sesuatu terlebih dahulu.

Kumantapkan hatiku untuk tidak berpikir lebih jauh dari ini. Bisa-bisa aku meminta hal yang memalukan pada eoma dan appa. Hal yang sebelumnya sudah aku tolak mentah-mentah. Hal yang… tidak mungkin aku inginkan saat berada didunia ini.

Aku memasuki sebuah kamar. Aku bingung kamar Jongin yang mana, jadi aku mantapkan untuk memasuki berbagai kamar dilantai dua ini satu persatu.

Aku berjalan menelusuri kamar yang boleh dibilang besar ini. Tadi dari luar aku melihat sebuah poster. Aku mendekati poster itu agar bisa melihat lebih jelas. Tunggu dulu.. apakah itu poster… poster jumbo SNSD?!! Mwoya?! Apa benar itu….?

Ya ampun, kamar siapa ini? Tanyaku dalam hati.

Kuedarkan pandanganku kekanan. Bukankah itu gambar Kim Jong In? Kenapa ada di…

“Aaaah, jadi ini kamarnya?” gumamku.

Entah kenapa aku menampilkan sebuah smirk.

Ehehehe, tak kusangka rivalku tersayang ini ternyata seorang fanboy. SNSD pula,  bukankah mereka sunbae-nya di SM? Aigooooo, ini adalah harta karun untukmu, Ryeo. Wkwkwkwk.

“Hmmppft—“

Ya ampun, aku ingin tertawa! XD

 

Several minutes later…

Aku keluar dari kamar mandi—dikamar Jongin. Well, Kim eomonim benar juga. Makin lama aku memelihara keringatku—yang memang tidak bau—itu makin banyak kuman yang akan melekat dibadanku. Dan kuman-kuman jelek itu sukses membuat badanku gatal-gatal, sama seperti yang Kim eomonim katakan sebelumnya.

“Huh, apa jadinya jika seorang Shailee Jay ‘budugan’? Sungguh tak terbayang -.-“

Setelah keluar dari kamar mandi, aku berjalan menuju lemari besar yang ada dikamar ini. Wow, besar sekali lemarinya, aku yakin kalau aku bisa bersembunyi didalamnya. Ah, bahkan aku dan Shinkyung pun pasti akan muat didalam situ. Aish, bagaimana mungkin ‘dia’ mempunyai lemari yang begitu besar seperti ini? Bahkan aku pun tidak mempunyai lemari sebesar tubuhku.

“Itu karena kau orangnya dermawan dan tidak pernah membuang uang hanya untuk hal yang tidak berguna, Ryeo!” ucapku, memantapkan diriku, memuji diriku, berusaha untuk tidak iri dengan keadaan rivalku yang serba ‘WOW’ itu.

Kubuka lemari superbig itu. Aku penasaran, apa isi lemarinya ya?

CEKLEK…

Dan…

“Eeeehhh?!!”

So Nyeo Shi Dae… everywhere!

Omonaaa… Aku mangap-mangap, tidak bisa berkata apapun. Mulutku menganga, kepalaku bergerak kesana kemari, mataku menelusuri lemari dihadapanku ini. Dan, setelah aku kaget dengan gambar-gambar, poster, dan majalah bercover SNSD, aku kembali dikejutkan dengan adanya…

“Igae mwoya?!” ucapku tak percaya.

Fotoku. Bagaimana mungkin ia… Ya Tuhan, ini adalah fotoku yang paling mengesankan! Fotoku disaat aku berada di Kanada, saat menjadi selebriti baru. Bahkan aku masih ingat tanggal foto ini diambil. Kenapa dia…!!

Baiklah, aku tidak ingin mencoba bersabar lagi. Bagaimana mungkin foto kesayanganku yang penuh dengan memori bahagia itu rusak?! Dengan gambar bunny disekitar wajahku. Dengan pig nose dihidungku yang mancung itu. Dan juga bibirku… kenapa ada bibir bebek difotoku iniiii?!!

KIM JONG IIIIINNNNN!!!!!!

Demi apapun, Ya Tuhan! Kenapa dia berbuat seperti ini pada fotokuuuu?!!! (>̯┌┐<)

“Jeongmal! Jinjja!! Niga shirheo!! KIM JONG IN SHIRHEOOO!!!” teriakku.

Hahh… hahh.. hahh.. Cukup! Aku makin membencinya! Aish!!

Kuambil fotoku yang sudah jelek itu, menyimpannya diatas tasku. Tanpa pikir panjang, aku mengambil spidol dan pulpen yang ada ditasku. Persiapanku jika ada fans yang meminta tandatanganku ini sangat berguna. Tak menyesal aku membawa alat tulis ini.

Aku menaiki kasur king size ini dengan hentakkan kaki yang yahh.. mungkin diluar batas kekuatan manusia. Itu karena aku sedang kesal. Dan aku kesal karena namja itu!! Aish!!

Dengan masih berbalut handuk, aku mencoret-coret gambar KAI yang begitu besar yang berada diujung kepala tempat tidur. Well, kuakui kamar ini begitu bagus dengan stylenya yang sudah kubilang ‘WOW’ sebelumnya, tapi dengan adanya picture bercorak KIM JONG IN dikamar ini membuat pikiran baikku barusan luntur begitu saja. Aish, melihat wajahnya yang ‘sok’ cool ini membuatku ingin muntah saja. -.-

“Yosh! Mari kita uji keterampilan Shailee Jay hari ini!”

Dan.. aku mulai menggambar sambil bersenandung kecil. Menyanyikan lagu favoritku dengan artis Calvin Max. Ahh, membayangkan wajahnya yang imut tapi dewasa itu membuat aku melayang-layang.

Dia terlalu tua untukmu, Shailee.

Eh, Kris? Kenapa tiba-tiba ada suara Kris yang berbicara seperti itu? Ah, aku baru ingat kalau Kris menolak mentah-mentah jika aku berteman atau hanya sekedar berkenalan dengan namja bernama Calvin Max itu. Padahal dia adalah namja idamanku.

Aku ingat saat pertama kali kita bertemu. Memang agak memalukan sih pada awalnya. Tapi akhirnya kami begitu dekat. Hingga akhirnya Kris mengetahui hal itu dan melarangku untuk kembali bertemu dengan namja itu. Huh, bahkan namanya pun aku baru tahu beberapa bulan ini. Profesinya juga.

“Dasar Kris. Dia kan tipe namja yang pas untukku. Kenapa aku tidak boleh bergaul dengan namja tipeku? Huft!”

Aku masih bersenandung sambil menggambar beberapa bunny dan pig nose diwajahnya yang JELEK itu. Aish, puas sekali aku menyebutnya jelek. Wkwkwk.

“Tattararaaaaa… Inilah hasil karya pribadi Shailee Jay. Gambar paling keren dan paling unik sejagad raya!! Huahahaha!!”

Aku kembali melengkapi ‘gambar keren dan unik’ku di foto superbig ini.

“Eits, aku lupa!”

Kutambahkan nama dan tandatanganku dibagian bawah foto. Tepat dikanan bawah fotonya kutulis pesanku untuknya. Disana tertulis,

‘Dear, My Lovely Kim Jong In. Ini adalah hadiah termanis untukku =))

P.S  Semoga kau menjadi rival abadi untukku XP’

“Kkeuuuuuuttt! Woahhh! Karyamu begitu menakjubkan Shailee Jay! Kkk~”

Aku turun dari kasur milik Jongin ini. Aigoo, aku baru sadar kalau handuk yang kupakai ini sangat kecil.

“Aish, kenapa handuk semua pria begitu kecil?”

Tanpa pikir panjang aku melepas handuk kecil itu dan taraaa! Aku sukses telanjang bulat. Baiklah, tak apa. Lagipula tak ada siapa-siapa disini. Jadi aku bebaaaaaass!!

BRUKK…

Aku menghempaskan tubuhku dikasur king size ini. Hmm, sangat nyaman.

Aku memejamkan mataku dan setelah itu aku masuk kealam bawah sadarku.

 

!@#$%^Engangement Party^%$#@!

 

 

Kubuka mataku. Mencoba untuk kembali kealam kesadaranku. Mengumpulkan kembali tenaga untuk bangun.

“Eodi?”

Aku bertanya pada diriku sendiri. Padahal aku sudah tahu pasti dimana aku berada. Dikamar Jongin.

“Jongin?” gumamku.

Aish, kenapa aku memanggil namanya? Apa aku gila? Aku mengucek-ngucek mataku yang masih berkunang-kunang ini.

TOK.. TOK.. TOK..

“Ryeonie, kau sudah bangun, sayang?”

Kim eomonim?

“Kau turunlah kebawah, aku akan mempersiapkan makan siang untukmu!”

“Ne, kamsahabnida!” gumamku.

Aku bangun. Mengguliat sebentar lalu berjalan menuju kaca disampingbuffetdikamar ini. Setelah sampai didepan kaca yang menampilkan full body itu, mataku membulat sempurna. Dilengkapi dengan mulutku yang juga menganga sempurna.

Aku telanjang?!

Ya Tuhan! Kenapa aku bisa lupa kalau aku belum memakai baju?! Astaga!

Tanpa berpikir lagi aku membuka lemari besar disampingnya dan mengambil shirt dan celana training yang sudah pasti milik Jongin, lalu memakainya dengan sedikit terburu-buru.

Setelah memakai baju tak berstyle ini aku beringsut menuju kaca full body disebelahnya. Dan… oh ayolah, orang lain yang melihatnya saja pasti akan mengira bahwa aku ini adalah yeoja tak berstyle. Apalagi aku sendiri yang memakainya? Aku lebih memilih diam dikamar ini sambil telanjang daripada harus memakai baju-baju yang tidak memliki style ini.

Well, mungkin terlalu berlebihan jika dibilang tidak berstyle. Tapi sungguh, style dari baju-baju yang berada dilemari ini tidak selevel dengan style baju-baju yang ada dirumahku. Dengan kata lain, style of Kim Jong In isno match with my style.

Baiklah, apa boleh buat? Kim eomonim pasti sudah menungguku daritadi. Hey, tunggu dulu, bukankah tadi dia bilang makan siang? Bukankah masih jam 10 pagi?

Kuedarkan pandanganku mencari jam dinding. Dan saat aku menemukannya, mataku kembali membulat.

“Jam satu?!!”

Dengan terburu-buru aku membuka pintu kamar yang ternyata sudah terkunci secara otomatis, sehingga orang yang ada diluar tidak bisa membuka pintu kamar ini kecuali orang yang ada didalamnya. Namun, sebelum aku keluar dari kamar ini, kurasa ada sesuatu yang mengawasiku. Sesuatu? Brrr.. Aish, itu semua membuatku merinding!

CEKLEK… BLAM…

Aku keluar dari kamar Jongin dan langsung turun kelantai dasar. Tak kuhiraukan rasa penasaranku tentang ‘sesuatu’ yang mengawasiku tadi. Huh, mungkin saja itu hanya perasaanku saja.

Disana kulihat Kim eomonim sedang berkutat dengan celemek dan pisau ditangannya. Ya Tuhan, kenapa aku membiarkan dirinya mempersiapkan makan siang untukku? Seharusnya aku yang membuatkannya makan siang, bukan terbalik seperti ini. Aish, Ryeona paboya!

“Mmm, eomonim, biar aku saja yang masak. Kau pasti lelah mengurus rumah sendirian, mumpung aku ada disini biar aku saja yang masak”, ucapku sambil mencoba mengambil celemek dan pisau yang ada ditangan Kim eomonim.

“Eits, andwae! Sebaiknya kau saja yang istirahat. Duduk sana!”, suruh Kim eomonim.

“Eomoniiiim, ayolaaah. Hmm, bagaimana jika aku membantumu? Ayolaaaaahh!”, rengekku.

Entah kenapa aku benar-benar ingin membantu bahkan menggantikannya memasak. Entahlah, firasat keibuanku datang secara tiba-tiba.

“Huh, arraseo. Aku akan mengijinkanmu. Hanya untuk kali ini! Arra!”

“Ah, n-ne, eomonim,” jawabku spontan. Well, meskipun aku kurang berbakat dalam memasak, tapi aku benar-benar ingin membantunya.

Cius! #IniAuthor

Akupun memakai celemek cadangan milik Kim eomonim yang ada dilaci disamping meja dapur. Lalu aku kembali dan mulai membantu Kim eomonim.

“Ini, bagi 4 lalu potong panjang tipis. Kita akan membuat kimchi spesial ala Mrs. Kim, kesukaan Jongin.”

Hah? Namja itu..?

“Jeongmalyo?”

“Ne. Dia menyukai kimchi bikinan eomonim. Karena rasanya berbeda jauh dengan kimchi yang ada dipasaran.”

“Ohya? Kenapa bisa seperti itu, eomonim?”

“Hehehe, ada bumbu rahasia yang eomonim masukkan. Khusus untuuk Jongin seorang. Aku akan mengajarimu, tapi nanti setelah kau menjadi istri sah Jongin huehehe,” ucap Kim eomonim sambil menekankan kata ‘istri sah Jongin’.

Oh well, lagipula siapa yang mau jadi istri namja tengik seperti Jongin? Ngga ada yang mau kali -_-

Aku memotong lobak putih yang eomonim kasih tadi. Sedikit susah karena lobaknya dingin, habis dari kulkas sih.

Setelah memotong dan membuatnya panjang tipis, aku menyerahkan hasil potonganku itu pada eomonim. Dia berdecak, entah kagum entah kenapa? Tapi, aku yakin kalau hasil potonganku ini masih acak-acakan. Yah, namanya juga pemula ‘kan?

“Tidak buruk. Kau hanya perlu mengukurnya, agar sama semua.”

“Ne? Ah, syukurlah tidak terlalu buruk.”

“Iya, sekarang bantu aku memotong lauk nya. Jangan terlalu tipis dan jangan terlalu lebar.”

Dan… seketika hening…….

Kami berdua terhanyut pada perjaan masing-masing. Aku ingin mengajak eomonim mengobrol, tapi aku tidak tahu topik apa yang cocok untuk dibicarakan.

“Emm, eom—“

TING… TONG.. TING… TONG…

“Ada yang datang?”, tanya eomonim.

“Iya, sepertinya. Siapa ya, eomonim?”

“Hmm, entahlah. Biar eomonim buka dulu,” ucap eomonim sambilmencucui tangannya di westafel.

Aku mencegahnya. “Eh, eomonim, biar aku saja yang membuka pintunya. Lagipula hanya tamu ini. Tunggu sebentar ya!”

Kim eomonim mengangguk. Tanpa menunggu apapun lagi, aku melangkah menuju pintu utama.

Siapa yang datang? Pikirku.

TING.. TONG…

“Sebentar!” ujarku. Aish, tamu ini tidak sabaran sekali -_-“

CEKLEK…

“Annyeonghase—Neo?!!”

“Neo?!”

Mataku membulat dengan sendirinya. Bagaimana… bagaimana mungkin namja ini… namja tengik ini bisa ada di—? Kenapa bisa??

“Eoh? Jongin-a! Joomyun-a! Kenapa kalian pulang?”

Tiba-tiba saja Kim abeonim sudah ada dibelakangku. Dengan reflek aku mempersilahkan mereka semua untuk bereuni ria(?). Tunggu, dulu, eomonim dan abeonim tidak tahu kalau anak-anaknya ini akan pulang? Lantas, kenapa mereka…?

“Ayo masuk! Eomma dan Ryeonie sedang menyiapkan makan siang. Kebetulan sekali!” ucap eomonim.

Tanpa menunggu apapun lagi mereka semua pun masuk kedalam rumah. Menyisakan aku sendiri didepan pintu. Huft…. -.-

Kututup pintu depan dengan pelan. Aku menghela nafas dengan berat. Biarlah, mereka sedang melepas rindu satu sama lain, jadi maklumlah. Aku melangkahkan kakiku kedalam juga, tepatnya kedapur sih. Aku ingin melanjutkan acara masakku yang tertunda tadi. Gara-gara namja itu! -.-

“Eo, Ryeonie! Kemarilah! Kita bincang-bincang dulu sebentar!”

Kulirik sekilas kearah abeonim. Dia melambaikan tangannya agar aku segera duduk bersama dengannya dan juga yang lainnya.

“Ah, ne. Biar eomonim saja yang meneruskannya. Kau disini saja temani mereka mengobrol ya?” ucap eomonim sambil meninggalkan kami—abeonim, Kkamjong, dan Suho oppa disini. Dan sekarang, aku bingung.

Aku duduk disamping abeonim. Yah, memang sekarang aku sedang dekat dengan keluarga Jongin yang satu ini. Kulirik satu-satunya namja yang sekarang ada didepanku. Kuberikan tatapan tajam padanya. Plus dengan wajahku yang menampakkan ingin sekali memakannya. Kulihat namja itu bergidik, ketakutan mungkin. Entahlah, yang penting aku sedikit terhibur dengan keadaannya yang ‘sepertinya’ takut dengan kehadiranku disini. Terlihat sekali dari laganya yang gelagapan sekarang.

“Emm, Ryeonie, Jongin-a, apa kalian siap dengan pesta pertunangan kalian minggu ini?”

JLEB!

Dengan rasa seperti orang yang habis ditusuk oleh beribu-ribu panah. Ditambah dengan ratusan samurai dan puluhan pisau dapur. Aku hanya bisa melongo dan setelah itu aku hanya bisa terkekeh tidak jelas. Hingga menampakkan wajah bingung dari seorang Kim Jong In yang saat itu sedang ada dihadapanku.

“Emm, appa.. bisakah.. kita undur pertunangan ini? Atau—“

“Cukup Kim Jong In, jangan lagi-lagi kau membantah perintah appa yang satu ini. Dan juga, sangat tidak sopan apabila berbicara hal seperti itu secara terang-terangan didepan calon anae-mu ini. Iya ‘kan, Ryeo?”

“Ehehehehe~”

Nyengir kuda sambil terkekeh dengan tidak jelas lagi. Bahkan jika harus dihitung, aku tidak bisa menghitungnya dengan jari. Dan lagi-lagi, Jongin menatapku dengan wajah bingungnya.

Is there something wrong with him? Or with me? I don’t think so.

Tak lama kemudian, Kim eomonim muncul sambil memberi info bahwa makan siang alias lunch telah tiba. Akhirnya….

Tapi, semua tidak berakhir. Karena apa? Karena Kim eomonim dan Kim abeonim terus saja mendesak ‘kami berdua’ untuk membicarakan tentang pertunangan yang katanya akan dilaksanakan 5 hari lagi. Huh, bahkan aku saja baru mengetahui hari pertunangan ‘kami’. Aish! Menjijikkan sekali jika aku berbicara seperti itu. ‘PERTUNANGAN KAMI’? Hueeekkk!!!

Kulihat Jongin melahap makan siangnya dengan tenang. Namja ini, bagaimana mungkin dia bisa setenang itu sedangkan aku sedari tadi tidak bisa mendiamkan kakiku yang ada dibawah meja. Benar-benar punya kelainan.

“Emm, Ryeonie, kapan kau kembali ke Kanada? Apa dalam waktu dekat ini?” tanya Suho oppa, kurasa ini kali pertama ia berbicara padaku.

“Hmm, mungkin bulan ini, oppa. Managerku memberikanku cuti hanya satu bulan. Setelahnya aku harus kembali dan mengurus jadwal syuting baruku.” Jelasku pada Suho oppa.

“Oh ya? Kau membintangi film apa sekarang?”

“Filmnya sedikit thriller, eomonim. Tentang serigala dan manusia yang terikat oleh satu perasaan. Judulnya Shiver.”

“Wah, sepertinya seru! Berapa episode?”

“Ini film perdana, abeonim. Bukan drama. Di Kanada, drama tidak begitu laku.”

“Ooh, begitukah? Aigoo, selain bermain CF, kau juga membintangi film dan reality show lainnya?”

“Yap, itu benar sekali. Aku juga diterima disalah satu agen bakat untuk menjadi juri diacara live-nya nanti. Karena sekarang masih audisi. Mungkin tahun ini, aku akan benar-benar sibuk apabila aku sukses disemua perkerjaan yang datang kepadaku itu. Mohon do’anya ya, semuanya.”

“Aigoo, tentu saja, Ryeonie. Kita ‘kan akan menjadi keluarga utuh nantinya. Tenang saja, jika ada sesuatu hubungi saja kami semua. Kita akan selalu ada untukmu.” ujar Kim eomonim. Disertai anggukan dan acungan jempol dari Suho oppa dan Kim abeonim.

“Terima kasih, terima kasih banyak, semuanya.”

Aku terharu. Benar-benar speechless saat mendengar semua ini. Perlakuan mereka padaku tidak secanggung yang aku bayangkan. Dalam waktu beberapa jam saja kami semua dapat bercanda dan berbagi cerita bersama. Benar-benar keluarga yang bahagia. Yah, meskipun aku dan Jongin masih tidak mendapat kontak satu sama lain. -.-“

Setelah acara makan siang selesai, aku membantu Kim eomonim membereskan meja makan. Meskipun ia melarangku dan tidak mengijinkanku. Tapi, entah kenapa aku ingin membantunya. Apa aku sudah menganggapnya sebagai mertua?? Aniya!! Aku menganggapnya sebagai eomaku yang kedua. Hanya itu, tidak lebih. Oke, terserah. Aku pusing.

Aku berjalan pelan menuju balkon diruang tengah. Hahh, aku ingin menghirup udara segar. Didalam sangat sumpek. Aku merasa punggungku membawa beban kemana-mana. Huft, kenapa hidupku susah sekali? Padahal aku kira dengan menjadi model dan artis terkenal aku bisa hidup bahagia tanpa masalah yang menimpaku. Tapi ternyata…. aku salah besar. Salah total. Semua perhitunganku meleset dan menjebakku disituasi seperti ini. Benar-benar membuatku gila.

Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa pertunangan ini… Aish! Kenapa namja sialan itu tidak bisa berakting atau semacamnya? Bisa saja kan dia membual dan membuat alasan sederhana seperti ‘ia sibuk dengan pekerjaannya yang akan segera comeback’ atau meminta pada orangtuanya dan orangtuaku untuk menunda pertunangan ini hingga ia menjadi bintang besar nanti.

Benar-benar kau, Kim Jong In! Kau tidak mempunyai bakat dalam dunia akting!

 

Author’s POV

Tanpa Ryeona sadari, Jongin sedari tadi memperhatikannya yang sedang mengibaskan tangannya ke udara. Seperti orang yang berpidato. Ditambah dengan kakinya yang selalu membuat tubuhnya bergerak kesana-kemari. Mondar-mandir tak tentu arah, sambil bibirnya yang merah muda itu menggumamkan sesuatu. Perlahan bibir Jongin yang seksi itu menyunggingkan senyum.

Dengan langkah pelan namun pasti dengan tujuannya, Jongin menghampiri Ryeona yang saat itu masih dalam keadaan yang sama. Namun, tiba-tiba Ryeona menghentikan aktivitasnya yang tidak tentu itu setelah menyadari bahwa Jongin berjalan mendekatinya. Melirik Jongin yang sudah berada didepannya.

“Kenapa kau kemari?”

Jongin terdiam. Harus menjawab apa? “Ini kan rumahku, kau—“

“Berani sekali kau menampakkan dirimu setelah kau membiarkan kiamat menghampiri kita berdua! Tidak, bukan, menghampiriku! Kau membiarkan kiamat menghampiriku, menyiksaku secara perlahan! Tidakkah kau menyadari itu?” potong Ryeona.

Jongin terkesiap. Semarah itukah, Ryeona padanya? Sebesar itukah kesalahan yang ia perbuat? Sefatal inikah akibatnya?

“Ha? Lihatlah dirimu. Kau tak mempunyai satu katapun untukku kan? Itu berarti… kau mengakui kesalahanmu! Kesalahan yang berasal darimu! Dirimu yang seperti ini membuatku muak! Membuatku muak dengan keberadaanmu yang lemah dan tidak bisa apa-apa!! Seperti sekarang ini!! ARGH!!!”

Ryeona meluapkan kekesalannya yang sudah memuncak. Membuat Jongin berdiam diri dengan rasa bersalahnya. Tapi….

‘Kenapa jadi aku?? Kenapa aku…??’ pikir Jongin.

Jongin berpikir sebaliknya. Mengapa ia yang disalahkan? Mengapa ia yang harus bekerja untuk Ryeona? Apakah Ryeona pikir hidupnya tidak kelam saat ini? Apa Ryeona tahu betapa kesalnya ia kepada orangtuanya mendengar kata ‘perjodohan’ ini? Apa ia harus menanggungnya sendirian? Kenapa wanita begitu egois?? ARGH!!

“Apa? Kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu?” tanya Ryeona. Merasa heran dengan tatapan Jongin yang ia rasa berbeda dengan yang sebelumnya.

“Heh, kau tahu? Apa yang aku rasakan saat ini? Apakah kau tidak berpikir, siapa yang menjadi pemeran antagonis disini? Jika ada yang bertanya padaku, maka aku akan langsung menjawab KAU. Namamu dan nama panggung ‘Shailee Jay’mu itu! Kau pikir apa yang telah kau lakukan untuk membatalkan perjodohan bodoh dan konyol ini, hah?! Apa?! Apa yang telah kau korbankan??!”

Jongin menarik nafasnya yang memburu. Emosinya sudah mencapai puncak, membuat ia tidak bisa lagi meredam kemarahannya itu. Ryeona hanya memandangnya dengan sebeleah mata. Kernyitan menghiasi wajah cantiknya. Bingung dengan sikap Jongin yang tiba-tiba berubah menjadi ‘galak’ seperti ini.

“M-mwo?”

“Apa yang aku rasakan saat menerima kenyataan bahwa kita, KAU dan AKU, dijodohkan? DI-JO-DOH-KAN. Tak pernah terbayang olehku jika orangtuaku akan memilih yeoja sepertimu. Egois, ambisius, keras kepala, dan selalu menyalahkan orang. Sifatmu yang seperti inilah yang membuatku muak. Tahukah kau, bahwa aku, bisa saja membuatmu menangis dengan satu kata. Mu-rah-an. Ya, kau murahan. Sangat murahan. Kau tahu kenapa? Murahan disini adalah karena kau, sifatmu yang rendah dan tidak dapat dipandang orang itu, yang selalu membuat diriku berpikiran negatif tentangmu. Semua yang ada pada dirimu, membuatku muak!!”

Ryeona membelalakkan matanya. Bibirnya membuka sambil menampilkan seringaian kecut. Ia mendengus. Apa ini? Apa yang namja itu bicarakan sekarang? Mu-rah-an? Yang benar saja, apa yang dipikirkan namja itu? Membuatnya menangis? Ya, sukses. Sukses besar.

Ryeona menitikkan air matanya. Entah kenapa ia mengeluarkan air matanya yang sudah jelas sangat jarang ia keluarkan itu, bahkan terhitung tidak pernah. Tapi kenapa? Kenapa ia harus… harus tunduk dan lemah pada kata-kata Jongin—yang memang harus ia akui—menusuk hatinya itu. Tapi ia tidak boleh seperti ini. Ini benar-benar membuatnya……. benar-benar lemah.

Jongin kaget. Ryeona menitikkan air matanya. Ini adalah pertama kalinya melihat Ryeona—yang notabene musuh sejatinya—menangis seperti ini. Tiba-tiba, ia diselimuti rasa bersalah. Kenapa semua ini? Padahal ia benar-benar muak dengan sikap Ryeona yang selalu menyalahkan dirinya. Memojokkannya dalam hal perjodohan mereka. Tapi kenapa, melihat Ryeona menundukkan kepalanya dan… menangis karenanya, benar-benar membuat dirinya menyesal.

Perlahan tapi pasti, Jongin mengulurkan tangannya. Menarik perlahan dagu Ryeona untuk menghadap wajahnya. Jongin semakin kaget ketika melihat mata Ryeona yang selalu berbinar-binar dan cerah itu menjadi merah. Ini semua kesalahannya.

Jongin menangkupkan kedua tangannya kewajah Ryeona. Menghapus air mata Ryeona yang masih mengalir, menghapus jejak air mata itu dengan lembut. Ia menatap dalam mata Ryeona yang memerah itu. Menatapnya dengan intens, mencoba untuk membuat kontak batin antara mereka berdua.Perlahan, Jongin mendekatkan wajah mereka berdua. Menarik wajah Ryeona mendekat, dan menempelkan kedua bibir mereka.

“Mianhae.” Bisiknya lembut.

Ryeona membulatkan matanya. Kaget. Tentu saja. Bukankah mereka sedang bertengkar? Tapi kenapa? Jongin?

Jongin menggerakkan bibirnya diatas bibir Ryeona. Melumat bibir Ryeona dengan lembut dan perlahan. Mencoba menikmati setiap daerah bibir Ryeona yang manis dan seksi itu.

Ryeona terdiam. Apa yang harus ia lakukan? Ia memejamkan matanya dan mencoba menikmati perlakuan Jongin.

Jongin memperdalam ciumannya. Menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Mencari posisi yang nyaman untuk berciuman dengan calon anae-nya itu. Ia terus melumat dan mengecup bibir Ryeona. Menghisap dan memasukkan seluruh bagiannya kedalam mulutnya. Melahap habis bibir Ryeona tersebut. Jongin mencoba untuk memasukkan lidahnya kedalam mulut Ryeona. Ingin mengakses lebih bibir merah muda itu.

Ryeona pun memberikan ijin pada Jongin. Entah sadar atau tidak, yang pasti sekarang.. mereka tengah berpelukan. Jongin mengelus pinggang dan punggung Ryeona, sedangkan Ryeona mengalungkan tangannya dileher Jongin. Menarik Jongin agar memperdalam ciumannya.

Perang lidah antara mereka tak berlangsung lama. Disebabkan karena Jongin yang mengakhirinya. Ia tidak ingin lepas kendali. Ia tidak ingin melakukan hal yang tidak wajar pada yeoja ini. Yeoja yang selalu membuatnya melirik hanya dengan satu gerakannya yang lucu, atau tingkahnya yang selalu over-acting.

Jongin masih memeluk pinggang Ryeona, merapatkan tubuh mereka berdua. Membuat jantung mereka berdetak tak karuan, saling bersahutan. Begitu juga Ryeona yang masih memeluk leher Jongin. Begitu mesra.

Dengan nafas yang terengah, mereka saling bertatapan. Kembali mengikat batin antara mereka.

“Mengapa.. hhh.. kau melakukan… hh… ini??” tanya Ryeona tiba-tiba. Dengan nafanya yang masih tidak teratur.

Jongin tercekat. Benar. Apa yang ia lakukan? Mencaci maki, merendahkan, membuat Ryeona menangis, namun akhirnya ia… memberikan yeoja itu sebuah ciuman manis?? Dan bahkan permintaan maaf yang meluncur saja dari mulutnya. Apakah dia gila??

Dengan kesadarannya yang semakin pulih. Ia berlari menjauhi Ryeona yang masih terengah dan bingung dengan sikap Jongin yang terus berubah-ubah.

‘Apa-apaan ini semua?’ pikir Ryeona.

 

–END OF FLASHBACK—

 

 

!@#$%^Engangement Party^%$#@!

 

Kai’s POV

Present…

Sehun’s Apartment, 14.07 KST

Sekarang aku duduk menunduk didepan kedua insan yang sedang menatapku dalam. Seorang namja dan seorang yeoja. Yap, disinilah aku, diapartemen Sehun. Setelah melakukan hal nista pada Ryeona, aku langsung melarikan diriku ketempat ini. Well, hanya disini satu-satu tempat yang bisa kujadikan tempat berpijak selama aku kabur. Karena kebetulan sekali Sehun sedang berada diapartemennya.

Sehun menatapku dengan mata elangnya. Kenapa? Ada apa? Apa aku salah datang kemari? Dan… hey, siapa yeoja itu? Sepertinya aku mengenalnya. Tunggu dulu… OMO!! Bukankah itu Kang Shin Kyung?? Teman sekelasku sekaligus sahabat karib Ryeona dulu?? Kenapa dia bisa ada disini dan… kenapa bajunya itu??

“Ekhem! Jadi… bisakah kau jelaskan apa maksudmu datang kemari, hyung?” tanya Sehun.

Omo! Kenapa nada bicaranya ketus seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan?

“Emm, aku hanya—“

“Hanya apa, hyung?” Tuh kan. Apa salahku? Kenapa ia menjadi sensitif seperti ini?

“Aku tidak bisa menceritakannya, Sehun-a. Ini masalah pribadiku. Mian.”

“Right! Kau datang kemari dengan tiba-tiba, menghancurkan acaraku, dan tidak memberikan alasan yang pasti kenapa kau tiba-tiba kemari dan—“

“Eh, tunggu!! Kenapa kau bisa ada disini? Kau… sejak kapan kau mengenal Sehun?” tanyaku pada Shinkyung. Bukan pada Sehun.

Aku benar-benar penasaran kenapa yeoja ini bisa ada disini? Dan kenapa atmosfer diruangan ini begitu panas. Sungguh mencurigakan.

“Jangan bilang kalian—“

“Hai, Jong In! Lama tak bertemu! Hehe.” Kulihat Shinkyung memperlihatkan gigi serinya. Kenapa aku berpikir bahwa, dia dan…

“Kenapa kalian bisa saling mengenal?? Kyungie, dia siapamu hah?”

Oh, hampir saja kulupakan si Sehun itu. Mwoya? Kyungie? Jinjja! O.O

“Dia adalah teman sekelasku di Senior High School dulu.” Ungkap Shinkyung.

“Jinjjaya?? Kau tak bohong kan? Dia bukan mantanmu kan?” Ia berhenti sekejap, memperhatikanku dari atas sampai bawah. “Eheiii~ Lagipula, tidak mungkin kau mempunyai kekasih seperti si Kkamjong ini.”

“Mwoya? Jadi kalian, benar-benar mempunyai hubungan?? Omo! Ya, Kang Shin Kyung! Jangan bilang kau dan dia sudah ‘berhubungan’? Jangan percaya pada makhluk ini, dia begitu mengerikan pada wanita. Apalagi wanita polos sepertimu.” Ujarku jahil. Kulihat Sehun menamparku lewat telepatinya.

“YA!! Kau juga tidak becus menjaga wanitamu. Kau kesini pasti gara-gara ribut dengan ‘calon anae’mu itu kan? Iya kan?? Mengaku sajalah. Oh, lagipula jika kau tidak mengakupun sudah tertulis jelas dijidatmu yang lapang itu. Hahaha.”

“YAA!! Jaga bicaramu, evil!!”

“Omo! Pasti yang Sehun bicarakan itu… Ryeonie kan??” tebak Shinkyung. Aku terdiam.

“Mwo? Ryeonie nugu?” tanya Sehun dengan tampang polosnya. Dasar pabo, sok tahu urusan orang sih. Padahal dia juga tidak tahu siapa calon anaeku itu.

“Eish, bahkan kaupun tidak tahu? Dasar bodoh! Ryeonie… aniya, Choi Ryeo Na adalah teman sekelas Jong In dan juga teman sekelasku dulu. Mereka saling bermusuhan, tapi entah karena keajaiban apa mereka dijodohkan. Memang, jodoh itu tidak kemana. Ternyata sudah ada didepan mata.” Jelas Shinkyung. Benar-benar yeoja ini. Kenapa dia membongkar statusku pada evil ini?? Jinjja!! >_< #Shinkyungnyaember-.-b

“Hei, Kang Shin Kyung, siapa yang kau sebut jodoh hah? Bahkan aku dan dia pun belum menikah, bertunangan pun belum.”

“Tapi acara pertunangan kalian sudah dipersiapkan bukan? Kenapa kau masih mengelaknya Kim Jong In?”

“Aish, darimana kau tahu berita itu?” tanyaku langsung karena tidak menyangka bahwa Shinkyung mengetahui rencana keluargaku yang akan segera menggelar pertunangan antara aku dan yeoja itu.

“Hihi, tadi pagi aku bertemu dengan Ryeonie ditaman. Kebetulan sekali dia ada disana, aku kira dia masih ada di Kanada. Tapi mukanya muram sekali, dan setelah kutelusuri lebih dalam melalui ceritanya ternyata—“

“Ya sudah. Tak usah dibahas. Aku tahu apa kelanjutannya.” Potongku. Aku tidak ingin mendengar lanjutan dari cerita Shinkyung karena aku sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yeoja itu pasti akan ember dan menceritakan masalahnya—yang menyangkut diriku—pada Shinkyung. Semuanya. Dan itu pasti. Huh, dasar, yeoja ember.

“Hei, hei, tunggu dulu. Apa selanjutnya? Kenapa kau potong, Kkamjong? Aku kan mau tahu kelanjutannya!”

Ohya, dan sekarang masalahku bertambah satu. Yaitu dengan adanya evil maknae satu ini. Argh! Bikin aku pusing saja!!

“Berisik kau! Sudah tahu aku sedang pusing. Dan sudah tahu kalau aku kesini karena masalahku dengan yeoja itu, kenapa kau masih saja menggangguku dengan ocehanmu yang tidak penting itu ha?!” amukku. Sumpah, kesabaranku hampir diluar batas. Maafkan aku, Sehun-a. Aku sedang ingin menenangkan diriku.

“Stop, Sehun-a. Akan aku ceritakan yang sebenarnya. Jongin butuh waktu untuk mendinginkan pikirannya. Ayo.” Bisik Shinkyung pada Sehun. Ah, untunglah ada yang mengerti keadaanku saat ini. Tidak rugi juga diriku mempunyai teman yang tidak lain adalah sahabat yeoja itu. Huft.

Akhirnya Shinkyung menarik Sehun dan mereka berduapun pergi meninggalkanku. Aku tak tahu mereka pergi kemana karena aku telah memejamkan mataku. Sama seperti yang dikatakan Shinkyung tadi, aku harus mendinginkan pikiranku. Menenangkan pikiranku.

Aku memejamkan mata dan melenggangkan kepalaku kebantalan sofa. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara samar. “Ahh—Sehunaaahh!!”

AISH!! JINJJA!!!

“YAK!! JANGAN MENGGANGGUKU DENGAN SUARA SEPERTI ITU!!”

Dan… hening. -.-

 

!@#$%^Engangement Party^%$#@!

 

Ryeona’s POV

Choi Family’s House

The day before Engangement Party.. 20.19 KST

 

“Ryeonie? Kau didalam? Makan malam sudah siap. Cepat turun!” suruh eomma.

Ah, jinjja! Aku sedang malas untuk keluar dari kamar. Hidupku akan berakhir setelah tengah malam ini. Dan aku ingin menikmati saat-saat terakhir masa singleku.

“Shailee…” panggil Kris.

Hah, managerku yang satu ini juga… sama saja. Sejak perjodohan konyol ini ada, Kris tidak pernah ada dipihakku lagi. Dia sudah menjadi anak buah eomma dan appa. Padahal dia kan managerku. Memangnya dia manager  orangtuaku apa? Bukan kan? Jinjja!!

“Ayolah, Kris. Tak bisakah kau ada dipihakku? Kali ini saja. Aku tidak ingin keluar kamar untuk malam ini. Tolong mengerti aku, Kris.”

Kris terdiam. Dan tak lama kemudian aku mendengar pintu kamarku dibuka, dan ditutup kembali. Mungkin Kris keluar.

Ya, aku meminta Kris untuk menemaniku malam ini. Tapi ternyata, keadaannya yang berada disini membuat suasana hatiku makin kacau. Itu karena pengkhianatannya padaku. Ia sudah berani menentang perintah dan kemauanku, dan beralih pada kemauan orangtuaku. Semakin lama seperti ini, akan kupecat dia dan kujadikan dia manager orangtuaku. Agar dia bisa menyiksaku secara perlahan nantinya.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamarku dibuka dan ditutup kembali.

“Shailee, cepatlah makan. Aku membawakanmu makan malam.”

Apa?? Makan malam??

Aku beranjak duduk dari kasurku. Menatap Kris dengan tidak percaya. Kenapa dia harus membawakanku makan malam? Aku hanya memintanya untuk menemaniku malam ini, itu saja. Aku tidak pernah menyuruhnya untuk membawakanku makan malam atau menyuruhku untuk makan malam.

“Ayolah, nanti kau bisa sakit. Aku tidak ingin kau sakit. Kau tahu itu kan?” ujar Kris, memelas.

Oh, baiklah.

Aku menggeser dudukku, dan membawa makan malam yang telah dibawakan oleh Kris. Lengkap dengan meja kecilnya.

Huh, bagaimanapun dia mengkhianatiku, tapi dia masih mengerti bagaimana cara untuk membujukku agar aku mau makan. Memang managerku yang paling hebat.

Suap demi suap aku masukkan kedalam mulutku.

CEKLEK…

Pintupun terbuka. Menampakkan eomma dan appa yang terlihat sudah kenyang dengan makan malam mereka. Berbeda denganku yang sama sekali tidak ingin melihat muka mereka. Biarkanlah aku menambah dosaku untuk kali ini.

“Hai, sayang. Kenapa kau tak mau makan malam bersama kami?” tanya eomma sambil mencium puncak kepalaku.

“Aku sedang malas keluar kamar, eomma. Mianhae.”

Meskipun aku kesal pada orangtuaku, tapi aku masih mempunyai rasa bersalah. Yah, salah satunya adalah ini. Tak biasanya aku marah seperti ini pada orangtuaku. Membuatku merasa berdosa.

“Arraseo. Kau harus makan ya. Dan segera tidur… untuk acara besok.” Ujar appa, sebelum meninggalkanku dan Kris dalam keheningan.

Tanganku terhenti. Nafsu makanku hilang sudah. Hanya dengan satu kata, yaitu ‘besok’. Entah itu akan ada acara atau peringatan, yang penting aku sedang tidak ingin memikirkan besok. Aku sedang ingin memikirkan hari ini, malam ini. Malam terakhirku sebagai yeoja single. Dan besok… ah, sudah kubilang kalau aku tidak ingin memikirkannya bukan?

Kugerakkan kembali tanganku. Well, lagipula benar kata appa. Aku harus siap untuk esok hari. Karena apapun yang terjadi, aku harus bisa menghadapi semua ini. Aku tidak mungkin keluar kamar dalam keadaan seperti orang yang busung lapar.

Aku meletakkan nampan bekas makananku dimeja kecil disamping kasurku. Dan dengan sigap, Kris mengambil nampan tersebut.

“Kris, aku saja yang meletakkannya nanti didapur. Kau temani aku tidur saja.”

Kris tidak berbicara apa-apa lagi. Ia mengerti keadaanku saat ini, dan langsung menemaniku tidur.

Ia menyelimutiku dan menyanyikanku lullaby. Suaranya yang bass itu sangat tidak cocok untuk menyanyikan lagu-lagu ballad, sehingga suaranya itu membuatku tertawa sebelum tidur. Dan dengan polosnya ia bertanya,”Why?”

“Hmm? Nothing. Just… keep singing. Hmmff!”

Diapun kembali bernyanyi. Lama kelamaan aku terlarut dalam suara bass-nya itu. Membuat mataku perlahan-lahan menutup dan akhirnya masuk kealam bawah sadarku.

Harapanku malam ini adalah… semoga besok menjadi hari yang terbaik untukku. Amin.

 

At the same time…

Kai’s POV

Kim Family’s House

 

Kurebahkan tubuhku dikasur. Hahh, malam ini adalah malam terakhir. Ya, besok adalah acara pertunanganku dengan Ryeona. Salah satu langkah awal pengikatan hubungan resmi antara dua orang yang saling mencintai. Langkah awal untuk memulai pendekatan antar batin masing-masing. Langkah awal menuju kejenjang yang lebih tinggi.

Terdengar suara gaduh dari luar. Aku yakin bahwa mereka sedang mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk besok. Kenapa harus rumahku yang menjadi tempat pertunangan ini? Ini bisa saja membuatku tidak nyaman untuk berada dirumah sendiri.

Oh, ayolah. Aku dan yeoja pabo itu tidak saling mencintai. Dan bahkan aku tidak pernah terbayang bagaimana jadinya apabila aku dan dia memasuki hubungan yang lebih dari sekedar bertunangan. Dan aku juga tidak pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya apabila acara pertunangan besok akan terjadi. Ditambah kejadian beberapa hari yang lalu yang membuatku harus kabur keapartemen Sehun—yang saat itu sedang ‘berhubungan’ dengan Shinkyung. Dan juga, kenapa aku harus meminta maaf atas kesalahan yang tidak aku perbuat?

Aku yakin, saat aku bertemu dengannya besok, dia pasti akan menanyakan hal itu dan meminta penjelasan padaku. Well, bukankah dia orangnya mudah penasaran dan juga keras kepala? Apalagi pada sesuatu yang menyangkut harga dirinya itu. Benar-benar, aku harus berpikir kembali apabila ingin hidup berdua dengannya. Bisa-bisa aku mati muda sambil meninggalkan karirku didunia entertainment. Meninggalkan EXO dan meninggalkan yeoja-yeoja seksi yang menjadi sunbae-ku di SME itu.

Hah, berpikir tentang besok membuat kepalaku sakit dan pusing tujuh kepayang. Sungguh, aku ingin mempunyai Time Machine agar waktu berhenti walau hanya untuk sekejap. Aku tidak ingin waktu terus bergilir dan dengan cepat menuju hari esok. Itu akan membuatku frustasi.

Dan juga, aku masih gugup kejutan besok untuk yeoja itu. Ia pasti akan terkaget-kaget mengetahui aku melakukan hal yang mencengangkan. Hal yang sudah pasti tidak mungkin aku lakukan didepan umum. Tapi…

Tapi, bagaimanapun, aku harus siap bukan? Aku tidak ingin mengecewakan orangtuaku. Dan juga… member dan fansku.

Lebih baik, aku berdo’a agar hari esok menjadi hari yang terbaik dan menjadi hari yang sudah seharusnya terjadi atas kehendak Tuhan. Amin.

 

Author’s POV

Begitulah sikap individu mereka yang masih saja ingin mengingkari kenyataan. Kenyataan bahwa esok hari mereka akan dipersatukan secara resmi oleh acara pertunangan. Mungkin akan menjadi hal yang tabu apabila mereka membayangkan pernikahan. Karena nyatanya mereka belum mempunyai hubungan apa-apa. Mereka masih berstatus calon. Baru mau, baru akan, dan baru saja akan menjadi sepasang orang yang akan saling mencintai baik hidup atau mati.

Tapi tetap saja, diri mereka masing-masing—yang telah tumbuh secara alami sebagai musuh—tidak ingin mempermasalahkan perjodohan atau pertunangan atau bahkan pernikahan ini. Dan hanya ingin hidup sebagaimana mestinya. Hidup sebagai sepasang rival yang abadi.

Mereka masih bersikap seolah-olah masa depan masih jauh, padahal masa depan mereka sudah didepan mata. Mata mereka berdua telah tertutup, dan mereka masing-masing membayangkan apa yang akan terjadi besok hari. Membayangkan hal yang sebaliknya dari apa yang harusnya terjadi. Masih dengan topik ‘pembatalan acara pertunangan esok hari’.

Namun, bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘Ingatlah, bahkan kebaikan bisa datang dari kegelapan’? Mungkin saja semua ini adalah awal dari pertumbuhan hidup mereka. Pertumbuhan cinta mereka yang baru tumbuh sebesar pucuk bunga mawar. Yang mungkin saja lama kelamaan akan terus tumbuh hingga menjadi bunga mawar seutuhnya yang harum dan bersinar dibawah sang surya.

Dalam lelapnya tidur mereka, dalam dinginnya hawa malam, dalam kekalutan diri mereka, mereka masih bisa hidup bersama meskipun kepercayaan belum sepenuhnya tumbuh untuk mereka masing-masing. Namun, yakinlah, siapa yang akan tahu setelah pertunangan yang akan dilaksanakan esok hari membuat mereka lebih memahami diri satu sama lain? Semuanya, ada ditangan Tuhan.

!@#$%^Engangement Party^%$#@!

 

Kim Family’s House

Engangement Party… 10.00 KST

 

Dengan balutan kemeja bermodel tuxedo, Jongin menampakkan dirinya didepan cermin fullbody.

“Tak kusangka aku mempunyai dongsaeng setampan dirimu.”

Seseorang bersetelan hampir sama dengan Jongin masuk keruangannya dan langsung memberikannya pelukan hangat.

“Gomawo, hyung. Aku juga tidak pernah sadar bahwa aku setampan ini.” guraunya. Tak lama kemudian Sehun masuk dan memberikannya pelukan hangat sama seperti yang diberikan Suho.

Suho menepuk bahu namja itu pelan. Memberikan semangat dan dukungan secara tidak langsung. Jongin hanya mengangguk dan berjalan pelan keluar ruangan. Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk hari ini. Dan dia harus siap, apapun yang terjadi. Meskipun hatinya masih kalut dengan keputusannya sendiri.

Suho mendorong pelan punggung Jongin, mengisyaratkan namja itu agar ia segera turun kebawah—tempat pertunangan dilaksanakan—dan menyapa para tamu sebelum acara dimulai.

Tak berbeda jauh dengan Ryeona yang sedang ditemani oleh Shinkyung—sahabatnya—dan juga eommanya sendiri. Ia menatap bayangannya yang seperti bidadari dicermin. Ini bukan seperti dirinya, ia terlalu cantik untuk memakai gaun berwarna merah cerah yang terlihat elegan dan seksi ditubuhnya. Dan dibalik wajah muramnya, semuanya… sempurna.

“Kau sudah siap? Jongin pasti sudah menunggu dibawah. Kita akan segera memulai acaranya.” Ucap Sooyoung—eomma Ryeona.

Ryeona tak bergeming, ia masih menatap pantulan mayanya.

“Aku akan kebawah, menyusulah ketika dirimu sudah siap. Tapi jangan terlalu lama.” Ucapnya lagi, dan meninggalkan Ryeona bersama Shinkyung.

Air mata berkumpul dikantung matanya. Shinkyung memberikan pelukan pada Ryeona. Ia tahu bahwa sahabatnya ini teralu tertekan. Tapi, ada daya? Semuanya akan terjadi hari ini. Dan seharusnya ia tidak perlu mengelaknya lagi. Hanya perlu menjalankannya saja. Meskipun pemikiran itu egois.

“Kau tahu? Aku merasa aku akan menikah dengan ahjusshi gendut, hitam, dan berotak mesum.” Ryeona tersenyum kecut. Ia bergurau, namun Shinkyung tahu bahwa Ryeona sedang menyampaikan ketidaksukaannya terhadap acara ini.

“Iya, aku tahu rasanya seperti apa. Apapun yang menjadi keputusanmu, aku akan mendukungnya. Aku akan selalu ada disisimu, Ryeonie.”

Ryeona tertawa masam. “Kau bercanda? Aku tidak akan merubah keputusanku.” Ia menegakkan dirinya, berdiri dan menghadap cermin mayanya. “Aku akan bertunangan dengan namja pabo bernama Kim Jong In itu. Bahkan kalau perlu, aku akan menikahinya secara sah.”

Cand macam apa ini? Pikir Shinkyung. “Kau… serius?” tanya Shinkyung hati-hati. Biasanya, Ryeona yang notabene sahabatnya ini akan berani berbicara kebenaran. Apakah yang ia katakan sekarang juga merupakan kebenaran? Maksudnya, apa benar ia juga rela menikahi Jongin?

“Tentu saja. Aku akan… mencoba mencintainya.” Ucap Ryeona tegas.

Shinkyung menatap Ryeona dengan perasaan kagum. “Aku mendo’akanmu, Ryeonie. Semangat!”

“Nee~!!”

Senyuman tuluspun berkembang diwajah cantik milik Ryeona. Ia pun berjalan dengan semangat menuju tempat pertunangan. Ya, ia harus memantapkan dirinya. Untuk masa sekarang, masa depan, dan selamanya.

Jongin sedang menerima tamu yang tak lain adalah saudara jauhnya yang berasal dari China. Ia menyambut semua tamu dengan ramah dan bahagia. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia pun memiliki sisi kebahagiaan untuk hari ini. Untuk acara ini.

“Selamat, hyung! Ternyata tak lama lagi kau akan menikah. Aku jadi iri!” ucap anak kecil berusia 8 tahun dengan aksen Chinanya. Ia adalah saudara Jongin yang paling dekat dengannya.

“Hyunwoo-ya, kau itu masih kecil. Kau harus sukses dulu sehingga kau akan mendapatkan putrimu sendiri. Belajarlah yang baik, hm?” ujar Jongin sambil mengacak rambut Hyunwoo (Hyunwoo adalah nama Koreanya). Membuat anak itu mendengus kesal karenanya.

“Oh? Apakah itu calon anae-mu, hyung?” tanya Hyunwoo sambil menunjuk kesuatu arah dibelakang Jongin.

Jongin pun membalikkan badannya dan harus diakui bahwa debaran jantungnya tiba-tiba tidak stabil. Yap, tidak stabil saat melihat ‘putri’nya menuruni tangga dengan gerakan anggunnya. Membuat Jongin terpaku dan sulit untuk bernapas. Terasa kerongkongannya tersumbat sesuatu. Entah apa itu, tapi… kenapa yeoja pabo itu cantik sekali dengan balutan gaun merah seksi bertali spaghetti itu? Riasan wajahnya yang natural dan rambutnya yang diikat oleh bunga mawar merah senada dengan gaunnya membuat aura seksi dalam yeoja itu menguar sampai kepenjuru hatinya.

Dengan otomatis, kakinya melangkah pelan menuju yeoja itu. menghiraukan pertanyaan Hyunwoo. Ia menghampiri calon anaenya. Membuat yeoja itu agak kaget karena Jongin tiba-tiba saja mengulurkan tangannya, mengajaknya untuk berjalan bersama. Para tamu undangan dan keluarga yang berada ditempat melihat keromantisan itu dan mulut mereka hanya bisa mengucapkan sepatah kata ‘ahh’ atau ‘ohh’ saking kagumnya. Sangat romantis.

Tak dapat dipungkiri bahwa Ryeona senang dengan ajakan Jongin yang menurutnya romantis itu. Ia pun menerima uluran tangan Jongin dan menuruni tangga dengan bantuan kecil dari Jongin. Seperti Cinderella dalam sehari, ia menemukan pangerannya. Ia ingin bersama pengerannya itu dan hidup bahagia selamanya. Bisakah itu terjadi? Tentu saja, tidak ada yang tidak mungkin, bukan?

Dengan perlahan, mereka melangkah bersama menuju tengah pesta. Ingin berdansa? Entahlah. Rasanya tidak ada musik yang bisa mengiringi mereka berdua. Tak terasa senyum berkembang dengan alami diwajah mereka.

Ryeona mengangkat gaunnya yang panjang dengan tangan kirinya. Ia baru menyadari bahwa gaun yang dipakainya sedikit membuatnya risih dan membuatnya susah berjalan, menyamai langkah Jongin. Jongin menuntunnya pelan, ia mengerti keadaan Ryeona yang penuh kerisihan itu. Hingga akhirnya mereka ditengah kerumunan tamu yang datang.

Mereka berhenti. Jongin tiba-tiba menunduk dan berlutut didepan Ryeona. Ryeona yang saat itu gugup semakin salah tingkah ketika Jongin berlutut sambil memegang sebelah tangannya.

Ada apa ini? Jangan bilang dia akan mempermalukan dirinya dengan melamarku seperti ini? Eh? Apa dia akan melamarku?

My princess, Ms. Choi, putra dari saudara Choi Si Won, anak tunggal dari saudara Choi Soo Young. Seorang aktris dan model cantik yang menarik perhatianku lebih dari 3 tahun ini. Maukah kau menjadi tunanganku, menjadi istriku kelak, menjadi ibu dari anak-anakku dimasa depan? Maukah kau menerimaku menjadi… pasangan abadimu, my rival?”

Mulutnya terbuka, ingin mengucapkan kata-kata untuk memprotes. Apa yang dilakukan namja ini? Adakah yang ingin memberikan penjelasan? Tidak. Ini sangat tidak masuk akal. Ia mengatakan hal yang sangat tidak mungkin untuk terjadi.

Kami akan bertunangan? Ya. Tapi, apa-apaan penjelasannya itu? Ia mengatakan bahwa aku telah menarik perhatiannya lebih dari 3 tahun? Dan, apa? Bahkan dia menambahkan kata istri dan ibu disana. Aku rivalnya. Dan dia melamarku, didepan para tamu yang datang. Dan juga, kami bertunangan hanya untuk mematuhi orangtua kami masing-masing. Aku tidak mungkin—

Tangisanpun jatuh dari pelupuk mata Ryeona. Ia memandang tangannya yang digenggam oleh Jongin. Begitu hangat… dan nyaman. Perasaannya juga terasa nyaman meskipun pikirannya sangat kalut.

Bodoh! Bodoh! Dia menunggumu! Cepat beri jawaban, kau gadis bodoh!

“Ya. Ya! Aku mau! Aku ingin menjadi tunanganmu, menjadi istrimu, dan menjadi ibu bagi anak kita kelak! Aku mau!” pekiknya. Jongin sedikit tersentak dengan jawaban Ryeona yang penuh makna tersebut.

Akhirnya, ia pun tersenyum sambil mengeluarkan kotak kecil berisi cincin pertunangan mereka. Melepasnya dari jepitan antara busa berwarna merah, dan melingkarkannya dijari manis Ryeona. Perlahan, ingin membuat sang yeoja menikmati momen mereka ini. Terdengar suara riuh menyelimuti mereka. Berbagai siulan dan tepuk tangan gembira.

Ia mendongkak, melihat ekspresi Ryeona. Gadis itu masih menangis dan terisak. Jongin beranjak dan langsung memeluknya, mencoba menenangkannya.

“Hey, ini adalah momen bahagia. Seharusnya kau menikmatinya dengan menciumku. Bukan malah menangis seperti ini. Aku baru tahu kau cengeng. Hahaha.” Goda Jongin sambil mengusap pipi merona Ryeona yang penuh dengan bulir mutiara.

“Yak!” Ryeona memukul pelan bahu Jongin. “Aku ini menangis terharu tahu! Aku juga baru tahu kalau kau bisa menggombal seperti itu. Darimana kau belajar merayu hah?”

“Oh, tidak. Aku tidak pernah belajar merayu dan aku tidak merayumu. Aku juga tidak menggombal, itu semua tulus dari hatiku yang paling dalam. Kau harus memujiku.”

“Oh, baiklah, Mr. Kim. Kaulah satu-satunya orang yang bisa membuatku jengkel setengah mati, dengan gayamu yang elegan, tatapanmu yang luar biasa mematikan, dan juga suaramu yang berat dan seksi itu.” ujar Ryeona.

“Hey, ngomong-ngomong tentang seksi… Ekhem! Kau sangat seksi hari ini.” ucap Jongin. Lalu ia berbisik, “Bahkan aku bisa melihat payudaramu yang seperti melon itu. Hahahaha!”

“Yak! Kurang ajar kau! Bukankah kau baru melamarku?! Kenapa kau jadi—“

“Stop!” Jongin meraih tangan Ryeona dan menariknya hingga tubuh mereka menempel satu sama lain. “Apakah kau tdiak malu dengan para tamu yang sedang menonton adegan gratis ini? Kita sedang menjadi artis sekarang, Ms. Choi.” Ucap Jongin.

Ryeona terkesiap. “Lalu kenapa kau terus membuatku kesal hah? Dasar namja pabo!” pekik Ryeona sambil meninggalkan Jongin.

Namun, Jongin menariknya dan bibirnya mendarat halus dibibir Ryeona. Pas. Dan tidak butuh perubahan lagi. Sekali lagi, suara tepuk tangan dan pekikan para tamu menggelegar disekitar ruangan.

Ryeona memberontak dan melepas ciuman yang agak tiba-tiba—memang tiba-tiba—itu. Dan memberikan Jongin tatapan mencela. “Kau gila hah?!”

Jongin kembali merapatkan tubuh mereka, sangat pas. Ryeona kembali terkesiap, dalam diam ia mengutuk Jongin. “Aku gila karenamu, Mrs. Kim.”

Ryeona membelalakan matanya ketika Jongin kembali menghujaninya dengan ciuman-ciuman kilat. Tepuk tangan kembali terdengar, namun sayup-sayup Ryeona mendengar Jongin berbisik. “Kurasa, aku mulai mencintaimu, Ryeona.”

Dan akhirnya, Jongin memberikan ciuman dalam yang sebenarnya dan pelukan hangat pada Ryeona. Tunangannya. Calon istrinya, dan calon ibu dari anaknya. Ya. Mereka telah bertunangan. Mungkin ini adalah tahap utama dalam sebuah hubungan pada umumnya. Namun untuk mereka, ini bukanlah sebuah awal. Ini adalah tahap lanjutan dari hal yang telah terjadi dalam 3 tahun lebih mereka.

Sejujurnya, Ryeona mulai menerimanya sebagai pasangan hidupnya, bukan sebagai rival lagi. Hari-hari mereka saat menjadi rival merupakan hari-hari yang patut dikenang karena mereka mungkin akan melepas momen rival mereka. Dan masih banyak yang akan mereka lewati setelah acara yang penuh momen bahagia bagi mereka ini. Mereka harus berjuang agar mereka dapat mencapai tujuan masing-masing. Ya, kisah mereka masih berada ditengah jalan. Akhirnya, dalam pelukan Jongin, Ryeona mengangguk kecil, setuju dengan bisikan Jongin itu.

Aku juga… mulai mencintaimu, Jongin.

.

.

.

.

T.o B.e C.o.n.t.i.n.u.e.d Guys! ^^

 

FUAAAAAAAHHHH~!!! X) Akhirnya chapter 6 beres juga. Ini udah berapa bulan ye? O.O Mianhae, readers, aku lagi kagak ada ide nih. Sebenernya jalan ceritanya udah ada, tinggal disambung-sambungin aja. Tapi, mau nyambungin pake apa kalo bukan pake ide? =.=” Salahin idenya tuh, kagak muncul-muncul aja. Stocknya jadi abis kan -.-“ Ohiya! Salahin juga si SECRET ADMIRER yang masih aja bikin kepala author pusing ya XD

Makasih banget masih ada yang nunggu epep gue ini. Sekali lagi maaf BGT kalo ada kesalahan dalam penulisan alias TYPO atau mungkin ceritanya yang makin lama makin gaje aja. Tapi cius deh, otak aku baru bisa bikin imajinasi yadong sampai sini. Kalau kalau ada yang mau ngomen makasih BGT deh =3 Itung2 biar chapter selanjutnya aku bisa memperbaiki lagi kesalahan yang ada disini dan dichap sebelumnya.

Hmm, gimana nih sama KaiRyeo di chapter ini? Ceritanya masih kurang? Atau yadongnya? -_-“ #dasarotakyadong. Jujur aja, author lebih suka chapter sebelumnya daripada chapter yang ini. Ciusan deh. Keren-keren gimana gitu. Serasa bukan bikinan author, serasa bikinan pengarang novel yang udah laris gitu. Wkwkwk. Yah, namanya juga imajinasi orang enggak seberapa, masih aja kurang kalo imajinasi gue mah -.-v

Tadinya aku mau masukin adegan yadong, tapi ternyata serasa kagok(?). Makanya author pindahin aja ke chapter selanjutnya nanti, kalo ada yang mau ini dilanjutin, hehe. Tapi tenang aja kok, pasti author lanjutin, Cuma waktunya engga terbatas, heheheheheheheheh XD

Okay, author bukan pengen bikin kalian penasaran atau pengen menarik kalian biar baca nih epep, tapi author cuma pengen ngasih INFO aja buat chapter selanjutnya. Kalau boleh, author minta sarannya dums, mau berupa komentar manis atau pedes juga kagak apa-apa, huehehehehe XD

Gomawo BGT yah, yang udah baca ^^ *bow**bow**bow**bow**bow*

#AWOOOOOOO~!! A– SARANGHAEYOOOOOUUUU~!!! XD *digampar si-A d-_-b*

 

 

73 pemikiran pada “Hard To Be Love (Chapter 6) : Special Engangement Party

  1. Oohh sungguh keren. Ciiee yang sekarang statusnya berubah.. Pan enakkan gitu. Entahlah kalo bagian yadong enggak ada ujungnya kalo dibahas, ngerasa kurang kurang kurang aja 😀 ditunggu chapter selanjutnya. (y) Fighting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s