Heir & Heiress (Chapter 5)

JUDUL: HEIR & HEIRESS, Chapter 5: First Love. First Heartbreak.

RATING: PG-15 | GENRE: SCHOOL LIFE, ROMANCE, A LIL BIT ANGST | LENGTH: MULTI CHAPTER | AUTHOR : NANDANI P (@nandaniptr) & SAGITA T (@sagitrp) |MAIN CAST&SUPPORTING CAST : YOON HAERA (OC), OH SEHUN(EXO-K), LUHAN (EXO-M), SOOJUNG (F(X)). & the others, find by your own.

SUMMARY:

The story about Cold-hearted Heir & Heiress. Terjebak dalam sangkar emas. Arranged marriage yang sudah biasa terjadi dalam kalangan kelas atas seperti mereka. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menurut. Hari tetap berjalan seperti biasa. Namun, semuanya berubah disaat salah satu menemukan jalan menuju kebebasan di depan matanya, perasaan yang mulai berubah, dan hidup mereka yang menjadi semakin rumit.

Everything ended by a choice.

 

A Little CHIT&CHATS From Author:

@sagitrp: Annyeong Haseyo! Sudah chapter 5 yaa, waah sudah ditengah jalan nih hehe *grinz* Mager banget bikin chapter ini sebenernya *sigh* walaupun kami berusaha sesering mungkin ketemuan untuk bahas FF ini dan fangirling akhirnya jadi juga yaa~ FF ini berkali-kali melakukan proses editing sana-sini, jadi mohon maaf apabila ada kekurangan-kekurangan pada chapter ini. Terimakasih juga kare sudah setia ngikutin Heir & Heiress sampai chapter ini *deep bow sama Tao*

COMMENTS & LIKES R HIGHLY APPRECIATED!

Mind to visit & follow our blog? At http://www.beautywolfff.wordpress.com

NO PLAGIARISM OR BASH. Kritik&saran ditunggu, don’t be silent readers. Enjoy! *cheers*

 1377344880971

YOON HAERA’S POV

1 Year Passed.

Kehidupanku berjalan seperti biasanya. Dengan rutinitas yang itu-itu saja tanpa ada perubahan berarti. Selama satu tahun inilah yang menentukan semuanya.

Aku semakin sering berkumpul bersama Sehun, Soojung, dan terkadang Luhan-oppa. Aku selalu menantikan kehadirannya, entah mengapa. Aku merindukan ceritanya dan leluconnya yang terkadang tidak lucu. Dan tawanya yang khas, calm. Oh  atau dengan kebiasaannya saat ia diam dan sedang berpikir untuk menjawab soal latihan saat sedang bersama kami. Semuanya. Tolong jangan katakan aku aneh karena aku sendiri pun tidak tahu alasannya merindukan itu semua.

Tapi akhir-akhir ini ia disibukkan dengan urusan ujian dan segala macamnya yang membuatnya jarang berkumpul lagi bersama kami. Aku berusaha bersabar. Menanti cerita tentang pengalaman barunya.

Sampai ujian itu tiba, dan Luhan mendapatkan hasil yang cukup memuaskan.

Akhirnya, kita telah tiba di penghujung musim dingin. Bulan Februari. Angin berhembus kencang sampai menusuk ke tulang. Aku dan Sehun melangkah pelan di jalan setapak menuju aula sekolah dimana sedang diadakan upacara kelulusan murid-murid kelas 3. Hari ini aku benar-benar tidak ingin banyak berbicara. Kami berjalan dalam hening. Sesekali aku berhenti untuk sekedar membenarkan syal yang terlilit di leherku. Sehun ikut berhenti. Dengan sabar ia menanti dan tetap menungguku. Aku menoleh ke arahnya dan menunduk meminta maaf. Seperti berbicara dalam bahasa isyarat, ia hanya mengangguk. Paham dengan maksudku. Hidup hampir satu tahun bersamanya membuat kami memahami satu sama lain tanpa berkomunikasi langsung, meskipun dalam keheningan dan hanya lewat tatapan mata atau senyuman, kami sama-sama mengerti.

Sehun hanya membalas dengan tambahan senyum mengiyakan.

Lalu setelah itu kami akan berjalan lagi seperti tadi. Tetap tanpa suara.

Sesampainya di aula sekolah, disana sudah ramai dengan adanya keluarga siswa dan semua kerabat dekatnya. Kudapati Luhan sedang berdiri dan bernyanyi dengan khidmat bersama para siswa lainnya. Saat semua urusan sudah selesai, mereka saling berpelukan, berbincang kecil dan berfoto bersama untuk terakhir kalinya sebagai kenang-kenangan. Luhan melihatku dan Sehun lalu melambaikan tangannya dengan semangat. Setelah selesai berbicara bersama teman sebelahnya, ia segera bangkit dan mendatangiku.

Chukhae!” Aku tersenyum dan memberikan selamat padanya.

“Ah, jeongmal gamsahamnida, Haera-ya. Dan Sehun-ah. Terimakasih banyak sudah menyempatkan hadir.” Ia balas tersenyum lalu memeluk kami berdua.

Rasanya pipiku berubah menjadi semakin panas.

“Mana Soojung?” Luhan menoleh ke kanan kiri dan sekitarnya, namun ia tidak mendapati ada Soojung dimanapun.

“Maaf dia tidak bisa hadir, hyung. Karena dia sedang ada urusan di luar negeri. Ia menitipkan salam untukmu.” Sehun menjawab, lalu memberikan buket bunga mawar pada Luhan.

Arraseo. Ucapkan salam balik untuknya.” Luhan menanggapi lagi.

“Mau melanjutkan sekolah kemana kau Luhan-oppa?” Tanyaku. Luhan membalas dengan menggeleng-gelengkan kepala.

“Aku ingin sekali mencoba Seoul University. Tapi entahlah. Sepertinya akan sulit.” Ia tertawa kecil.

Sehun menepuk bahunya pelan dan mencoba memberi semangat, “Aku tahu kau pasti bisa Hyung. Kau kakak kebanggaanku.”

Luhan memeluk Sehun untuk kedua kalinya dan berterimakasih berkali-kali.

“Doakan aku.”

Aku hanya tersenyum menatap mereka berdua. Mempunyai saudara itu, menyenangkan ya?

 

****************

 

Aku pulang berdua dengan Sehun lagi. Kami melewati jalan setapak yang tadi kami lalui. Aku dan Sehun berhenti sejenak di bawah pohon-pohon dan tanah yang diselimuti salju tebal yang berwarna putih bersih. Sembari menunggu jemputan, Sehun mulai mengajakku berbicara.

“Bagaimana denganmu, Haera-ya? Kau mau kuliah dimana?” Tanya Sehun.

“Aku ingin mendapatkan beasiswa ke luar negeri.” Jawabku. “Kau tahu? ada lomba menulis cerita tingkat Internasional. Hadiahnya benar-benar menarik. Kuliah dengan beasiswa penuh sampai lulus di Jerman.” Tambahku, sedikit bercerita dengan semangat.

“Bagus sekali! Kau tidak mengikuti lomba itu? Benar-benar kesempatan emas bukan?”

Aku terdiam, dan mulai menengadahkan tanganku. Setelah itu menghela napas panjang sembari menangkap butiran-butiran salju yang tersisa dan jatuh dari atas pohon. Jeda sejenak, lalu aku menoleh ke arah Sehun lagi, dan hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaannya tadi.

Lebih baik kualihkan pembicaraan, dan balik bertanya padanya.

“Ah, Sehun-ah, bagaimana denganmu?”

“Hm…Aku? aku ingin masuk ke Seoul University. Sama seperti Luhan-hyung.”

Aku menoleh dan menatapnya lama.

“Ada apa? Apa ada yang salah?” Ia yang sadar sedang dilirik, menoleh dan membalas tatapanku.

“Tidak. Aku harap semoga keinginanmu terkabul.”

“Kau juga.”

Tiba-tiba ada cahaya lampu dari kejauhan. Mobil Sehun tiba. Kami segera naik dan mulai kembali diam dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Memikirkan masa depan.

 

Hari ini hari Sabtu. Dua minggu sejak kelulusan Luhan-oppa. Terdengar suara hujan rintik-rintik di luar. Cuaca tetap dingin menusuk walaupun suhu sudah mulai naik karena ini adalah bulan Maret, dimana Korea sudah memasuki musim semi. Aku sedang berbaring santai di perpustakaan pribadiku di salah satu sudut ternyaman disana sambil menyalakan penghangat ruangan. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Disana Sehun sudah berdiri dan mengintip dari luar. Aku menyuruhnya masuk. Ia lalu melangkah dan mengambil tempat duduk di sebelahku. Aku ikut bangun dan menegakkan senderan bahuku.

“Aku mengetuk pintu berkali-kali dan tidak ada jawaban. Jadi aku langsung kesini. Mianhae. Aku sudah lancang.”

“Tidak masalah. Memangnya ada keperluan apa?”

“Ini, Luhan-hyung mengundang kita semua besok ke kafe dekat sekolah. Tempat kita biasanya. Sekalian berkumpul untuk merayakan keberhasilannya masuk Seoul University. Bagaimana? Ia juga mengatakan ada berita penting untuk kita semua.” Sehun menjelaskan panjang lebar. Aku menajamkan pendengaran.

Berita penting? Ada apa?

“Boleh saja. Sudah lama juga kita tidak bertemu dengannya.” Aku menjawab datar. Sehun mengangguk-angguk saja.

“Tak kusangka, dia yang bandel seperti itu berhasil memasuki Universitas paling bergengsi di kota ini.” Sehun tertawa mengingat-ingat kelakuan hyung-nya itu.

“Yah, benar. Semua orang bisa berubah, Sehun-ah.” Aku mengatakannya sambil kembali menekuni bacaan di tanganku. Sehun menoleh dan menatap lama ke judul buku yang sedang kubaca.

“Begitu menyenangkannya ya membaca buku?” Ia mengambil salah satu buku di rak dan berbaring tepat di sebelahku. Matanya mulai membaca satu persatu kata di dalam buku tersebut dengan mimik serius.

Uh-huh. Kurasa begitu. Kau bisa benar-benar jadi orang yang berbeda saat membaca buku. Kau akan terhanyut dalam cerita itu hingga kadang sampai tersenyum-tersenyum sendiri ataupun wajahmu bisa menjadi sedih. Tergantung cerita dalam buku itu. Bahkan dunia dalam buku lebih menyenangkan… daripada duniaku sendiri.” Aku memberikan alasanku padanya dan tertawa mendengar perkataanku sendiri di akhir. Sehun melirikku sedikit lalu bangkit sambil membenarkan rambutnya yang acak-acakan. Ia meletakkan buku yang ia ambil kembali di rak.

“Ah I see. Kau benar-benar true geek, Haera-ya”

“Ah, tidak. That awesome true geek, tepatnya. Kau benar-benar luar biasa.” Dia menambahkan. Tersungging senyum kecil di bibirnya. “Aku duluan.” Lalu ia segera melangkah keluar meninggalkan ruangan ini.

That awesome true geek ya.”

Aku mengulang lagi sebutan yang Sehun berikan padaku. Bagus juga.

 

**********

Esoknya, aku mulai mempersiapkan diri. Sudah lama aku tidak bertemu dengan Luhan-oppa dan ini membuatku sedikit over-excited. Mungkin ia hendak menceritakan pengalaman barunya lagi pada kami? Ah ini benar-benar membuatku tidak sabar.

Aku  memakai setelan kasual dengan jaket dan celana jeans serta baju berwarna kuning cerah. Dari luar, sudah terdengar suara ketukan pintu tiga kali. Yang pasti itu adalah Sehun.

Aku keluar dari kamar dan menyapanya.

Mian. Aku sudah siap. Ayo berangkat.” Aku mengambil salah satu sneakers berwarna merah tua di rak sepatu dan memakainya. Sehun mengambil kunci mobil. Kami berdua pamit bersama ke Ayah dan Ibu Sehun. Tak lupa Nyonya Oh memberinya peringatan untuk berhati-hati di jalan. Kami mengangguk-angguk mengerti. Lalu segera melangkah lurus ke arah mobil. Sehun membukakan pintu untuk mempersilahkan aku naik.

The best of you. Gamsahamnida, Sehun-ah.” Aku tersenyum dan segera masuk. Ia membalas dengan senyuman jahil lalu memperagakan diri dengan membungkukkan badan seperti pelayan-pelayan di restoran pada umumnya. Setelah itu ia menutup pintunya pelan lalu memasuki kursi pengemudi.

“Kita harus menjemput Soojung dulu.” Sehun mulai menyalakan gas. Mobil meluncur dengan mulus ke rumah Soojung. Sesampainya disana, ia sudah bersiap di luar gerbang dan tanpa basa-basi langsung memasuki jok belakang. Ia menyapa kami dengan sumringah. Hari ini Soojung terlihat amat cantik dengan floral dress dan sepatu pumps berwarna merah. Sepanjang perjalanan ke kafe tempat janjian, kami saling bercerita. Bukan kami tepatnya, mereka, Sehun dan Soojung. Mereka mendominasi pembicaraan dengan membahas hal yang tidak aku mengerti. Aku hanya diam menatap jalanan di depan dan sesekali  bertanya pada mereka. Keadaan ini berlangsung terus hingga tiba di tempat tujuan.

Aku segera turun dan melangkah memasuki kafe. Disana Luhan sudah duduk sendirian sambil memegang handphone. Saat melihat kami, ia segera menyuruh kami duduk di sebelahnya dan mulai memanggil pelayan untuk memesan sesuatu. Setelah selesai semua urusan, kami hanya tinggal menunggu.

Chukhae Luhan-hyung! Kau hebat.” Sehun menepuk bahu Luhan, yang dibalas dengan senyuman bangga.

Ahh jinjja. Aku juga tidak mengira. Tapi hasil akhirnya benar-benar diluar ekspektasiku.” Ia tertawa. Lalu menoleh ke arah Soojung.

“Kemana saja kau, sepertinya sedang sibuk sekali.”

“Maafkan aku Luhan-oppa. Aku sedang ada urusan keluarga dan benar-benar mendesak. Jadi aku kemarin harus pergi ke Amerika saat kelulusanmu. Aku benar-benar minta maaf.”

“Tidak apa-apa, Soojung-ah. Urusan keluargamu sudah beres semua kan?”

Ne. semua sudah beres, oppa. Selamat juga untuk keberhasilanmu.” Soojung tersenyum. Aku yang sedari tadi hanya diam melihat mereka bertiga, lalu mulai bersuara.

“Aku juga ingin mengucapkan selamat, Luhan-oppa. Chukhae!

“Ah kau, terimakasih banyak, Haera-ya!” Ia membalas dengan senyum mengembang. Rasanya wajahku mulai menghangat.

“Ada berita penting apa yang hendak kau sampaikan pada kami?” Aku bertanya penasaran.

“Hampir saja aku lupa. Aku akan mengenalkan kalian dengan seseorang…Aku sedang menunggunya dan, nah itu dia sudah datang.” Ia berdiri lalu mulai menunjuk satu arah di belakang kami.

Serentak kami semua menoleh dan mendapati seorang perempuan mungil berlari dengan agak tergesa. Rambutnya yang dikuncir kuda bergoyang-goyang kecil seiring dengan langkahnya. Ia benar-benar manis. Kulitnya putih bersih dan pipinya merah merona.

“Maafkan aku terlambat, Luhan!” Ia berjejer di sebelah Luhan dan membungkukkan badan berkali-kali untuk meminta maaf. Sorot mata Luhan mulai berubah. Ia mulai tersenyum hangat dan menepuk pundak perempuan itu dengan tertawa kecil.

“Tidak apa-apa. Aku ingin mengenalkan perempuan ini dengan kalian. Dia…kekasihku. Namanya Hwang Mirae. Kami sudah sekitar seminggu berpacaran, dan maaf aku tidak mengatakan ini sebelumnya karena kupikir ini akan menjadi kejutan untuk kalian.”

Mataku membulat kaget, dan tiba-tiba badanku melemas. Terdiam beberapa saat.

Aku merasakan sedikit heart attack yang cukup menyakitkan. Saat melihat pandangan Luhan yang berseri-seri dan senyumnya yang berbeda, aku langsung menyadarinya dari awal saat ia pertama kali datang, bahwa perempuan ini benar-benar perempuan yang istimewa untuknya. Entah dalam artian apa.

Tapi sekarang aku mengerti. Perempuan yang sedang tersenyum lebar dan berdiri di hadapanku inilah yang berhasil mendapatkan hati Luhan.

Dan… entahlah. Aku cukup shock dengan kenyataan ini.

Mengapa?

 

Tiba-tiba dalam sepersekian detik itu, seperti rentetan rol film yang diputar secara acak, terbayang semua ceritanya dan semua aktivitas yang ia lewati bersamaku. Semua perkataannya dan perasaan aneh yang melandaku namun tidak pernah kuhiraukan jika berdekatan dengannya.

Setelah melewati kurun waktu satu tahun, aku baru saja menyadari saat ini dan detik ini juga bahwa..

Aku menyukainya.

 

Kau terlambat, Haera.

 

Kukira aku menyayanginya sebagai kakak saja, tidak lebih. Tapi sepertinya lain. Perasaanku mengatakan bahwa aku menyukainya sebagai laki-laki. Saat ia mengenalkan perempuan itu sebagai kekasihnya, aku tidak bisa mengingkari lagi bahwa aku merasa sedikit cemburu?

Ah tidak. Sekarang aku mulai merasa sedih.

Kurasa sikapku mulai berubah menjadi aneh. Berdiri diam mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku harus mengembalikan keadaan seperti semula.

Keep calm, Haera. Keep calm.

 

OH SEHUN’S POV

Kekasih?

Luhan-hyung sudah mempunyai pacar? Dan aku tidak mengetahuinya?

Bagaimana bisa. Aku benar-benar dekat dengannya dan aku tidak menyadari itu sama sekali. Ia terlihat seperti biasanya. Kami tetap saling menghubungi tapi tak kusangka, ternyata ia diam-diam menghanyutkan.

Saat Luhan-hyung mengenalkan kekasihnya itu pada kami, aku melirik sedikit ke arah Haera, disana terlukis ekspresi wajah yang menyiratkan keterkejutan yang amat sangat. Matanya membulat dan mulutnya terkatup. Diam seribu bahasa dan hanya bisa berdiri mematung. Dari matanya saja aku mengetahuinya.

Haera menyukai Luhan-hyung. Ini pasti.

Aku bisa memastikannya sendiri. Ia mulai bergerak-gerak gelisah dan sedikit awkward. Aku tahu ia benar-benar patah hati saat mengetahui berita ini.

Melihatnya terdiam seperti itu, aku juga seperti bisa merasakan kesedihannya yang mendalam. Haera adalah tipikal orang yang susah sekali untuk jatuh cinta. Lihat saja pembawaannya yang cuek. Sama sepertiku. Entah Tuhan memang sedang mempermainkan kami atau tidak atau Dewa Cupid saja yang memang melakukan kesalahan dalam tugas untuk menembakkan panahnya ke orang yang benar.

Sekalinya Haera jatuh cinta, kebetulan first love-nya adalah kakak sepupuku sendiri.

Dunia memang terkadang tidak adil. Aku yang jatuh cinta padanya. Dan mengapa yang mendapatkan hatinya itu malah saudaraku sendiri?

TO BE CONTINUED…

16 pemikiran pada “Heir & Heiress (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s