One Person (Chapter 2)

Title : One Person (Sequel ‘a lot of love, in every silence’)

Author : phyokyo

Genre : Sad, Romance

Rating : PG

Length : 2/2

Main Cast : Do Kyungsoo, and other that you can find it later

Recommended song : EXO – Lucky, 316 – All About You, Acoustic Collabo – Waiting for You

Note : Beginilah yang bisa saya buat semampunya. Maaf kalo mengecewakan. Maaf kalo lama. Maaf kalo ceritanya banyak yang gak nyambung. Dan maaf, saya harus mengatakan, Happy reading!

ALOLIES Part 1 : https://exofanfiction.wordpress.com/2013/07/19/a-lot-of-love-in-every-silence-part-1/#more-14499

ALOLIES Part 2 : https://exofanfiction.wordpress.com/2013/08/19/a-lot-of-love-in-every-silence-chapter-2/

One Peson Part 1 : https://exofanfiction.wordpress.com/2013/12/11/one-person-chapter-1/

Capture

&&&

Mata Kyungsoo segera membulat dengan sempurna begitu ia melihat wajah gadis itu. Seketika Kyungsoo merasa pusing dikepalanya menghilang. Ia masih terduduk sambil menatap gadis yang kini tengah berlarian. Wajah itu. Kyungsoo tak perlu berfikir lebih lama untuk mengingat siapa gadis pemilik pipi bulat itu. Hanya satu yang amat begitu dikenalnya, dan orang itu ada di seberangnya saat ini.

“Naeri?”

 

Kyungsoo merasakan jantungnya kini berdetak lebih cepat. Ia juga bisa merasakan hembusan angin semilir yang bertiup, menyejukkan tubuh berkeringatnya. Dan seperti pada film-film romansa lainnya, Kyungsoo pun bisa merasakan tubuhnya yang turut melayang. Ringan, dan begitu menyenangkan. Ia tidak menyangka takdir akan begitu cepat mempertemukannya dengan Naeri.

Sebuah lengkungan bahagia segera terukir dan menghiasi wajah Kyungsoo yang berseri. Ia segera bangkit dan berjalan dengan langkah kaki yang amat tergesa.

Tak lebih dari 3 langkah dan Kyungsoo segera menghentikan langkahnya. Ia kini hanya menatap gadis itu dari kejauhan. Tak ada lagi hembusan angin sejuk yang meniupnya, dan tak ada lagi sensasi melayang seperti yang ia rasakan beberapa detik lalu. Semua niatan dan impian indahnya selama ini, seakan luruh tak bersisa.

Gadis itu memang tersenyum. Dan seharusnya Kyungsoo merasa senang bisa melihat senyum ceria diwajah gadis itu, senyum yang bahkan belum pernah ia lihat semasa SMA dulu. Namun nyatanya, yang ia rasakan justru hanyalah rasa sakit. Sakit yang amat sangat dalam hatinya. Menusuk, membuat nafasnya serasa tercekat.

Senyum itu bukanlah untuk dirinya.

“Ia terlihat jauh lebih baik sekarang.”

Seorang pemuda kini berdiri dihadapan Naeri. Ia terlihat menempelkan sebelah telapak tangannya pada dahi Naeri dan menggenggam tangan gadis itu dengan sebelah tangan lainnya. Raut wajahnya yang mengernyit tampak seolah ia sangat mengkhawatirkan gadis itu. Namun sesaat setelah itu, nampak keduanya saling melempar senyum dan tertawa bersama.

Hanya beberapa menit yang singkat, namun mampu membuat nyawa Kyungsoo serasa melayang. Kyungsoo lantas membalikkan tubuhnya dan berjalan lunglai saat kedua orang itu akhirnya pergi kearah lain.

“Karena aku mencintaimu..”

Hanyalah sebuah kalimat dalam mimpinya. Mimpi. Mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.

&&&

I waited and waited for you and I cried a lot
Because I know it won’t work even if we meet again
I waited and waited for you
I really hate you so much
But I hate myself for still crying and laughing because of you alone

(Davichi – It’s Because I Miss You Today)

Naeri menatap sketchbook lusuh ditangannya. Perlahan, ia membuka lembar demi lembar buku itu dengan hati-hati. Kertas yang telah mengeriting menandakan kalau buku itu pernah terguyur oleh air hujan. Walaupun begitu, ia masih dapat melihat dengan jelas sketsa-sketsanya dalam buku itu. Tidak luntur, karena sketsa itu memang dibuat dengan menggunakan pensil.

Sekelebat bayangan tentang semua kenangan semasa SMA dulu kembali muncul dibenaknya. Tentang bagaimana rasanya ia memendam rasa sukanya pada seorang laki-laki selama 3 tahun. Tentang bagaimana rasa cemburunya ia saat laki-laki itu bersama gadis lain. Dan tentang semua kenangan-kenangannya tentang laki-laki itu.

“I’m still waiting for you… Kyungsoo, kembalilah, dan aku berjanji akan mengungkapkan semuanya padamu.”

Naeri menyeka sudut matanya yang terasa basah. Ia lantas menutup buku sketsanya, dan menaruhnya diatas nakas. Ia kemudian meraih selimutnya dan mulai memejamkan mata.

&&&

Lagi-lagi wajah gadis itu. Berkali-kali Kyungsoo memejamkan matanya, namun wajah gadis itu kembali terbayang di pikirannya. Senyumannya bahkan telah melekat kuat dalam pikiran Kyungsoo, seolah ia telah menginjak permen karet dan sulit untuk di lepaskan.

Kyungsoo menggeleng dengan kuat saat pikiran bodoh itu kembali terbayang di otaknya.

“Ini tidak mungkin..”

Kenyataan bahwa gadis itu telah memiliki seorang kekasih membuat Kyungsoo resah seharian ini. Ia terus menerus mencoret lembar kertas music yang dibuatnya lalu meremasnya. Membuatnya menjadi bola kertas dan melemparnya ke sudut kamar.

“Untuk apa aku kembali? Dan kalau keadaannya seperti, untuk apa aku harus mengungkapkannya? Semuanya sia-sia..” gumam Kyungsoo pada langit-langit putih yang dipandanginya sejak tadi.

“Dia terlihat bahagia.. Mungkin ia juga sudah melupakanku.. Kurasa, akan lebih baik jika aku menjauh. Atau bahkan tidak perlu untuk menemuinya lagi.” Kyungsoo terlihat menimbang-nimbang pada pemikiran yang cukup menyulitkannya saat ini.

“Yah, benar.. mungkin itu lebih baik..” Kyungsoo menghela nafasnya panjang.  Ia lantas membenarkan letak bantalnya dan memejamkan mata.

&&&

though I save my words that I love you

I can’t save my heart for you

though I’m calling you continuously

the name that I really want to call

(Davichi – One Person)

 

Naeri tersenyum sambil menyapa beberapa mahasiswa yang berlalu lalang di sekitar koridor. Semua orang kini telah menerimanya dengan baik. Tak ada lagi tatapan aneh yang ditujukan padanya atas penampilan ‘musim dingin’ nya. Mereka telah terbiasa melihatnya,walaupun mereka  tidak tahu pasti alasan kenapa ia selalu memakai pakaian tebal itu. Dan ia sendiri juga tidak akan mengatakan alasan tersebut pada mereka. Cukup ia, Suho oppa, seluruh keluarganya dan Tuhan saja yang tahu alasan itu.

“Kyungsoo-ssi.”

Langkah Naeri mendadak terhenti. Ia tertegun selama beberapa detik, meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia dengar tidak salah. Ia lantas menghembuskan nafasnya dan kembali berjalan begitu sadar ada begitu banyak nama ‘Kyungsoo’ di negara ini, dan bukan hanya satu orang yang jelas-jelas tidak akan kembali ke Korea.

“Ne?”

“Bisa tolong aku untuk mengoreksi ini?”

Naeri menghentikan langkahnya lagi dan kembali tertegun. Suara itu. Ia dapat mendengar dengan jelas suara itu saat ini. Walaupun hanya satu kata yang ia dengar, namun ia yakin, ia tidak mungkin lupa dengan suara itu. Suara yang begitu khas. Suara yang begitu ia rindukan selama ini..

Tanpa sadar Naeri memutar tubuhnya. Dua orang pemuda tengah berdiri di depannya. Hanya berjarak 5 meter, dan tentu ia masih dapat mendengar dengan jelas suara dua pemuda itu saat ini.

“Ini lagu yang bagus. Nadanya pasti menarik. Kurasa tidak ada yang salah dalam penulisannya.”

“Baiklah, terima kasih Kyungsoo-ssi..” Kyungsoo tersenyum singkat pada laki-laki itu, lantas membalikkan tubuhnya membelakangi Naeri.

Naeri mengangkat tangannya dan menelungkupkannya didada. Ia lantas memejamkan matanya, mencoba merasakan detak jantungnya yang kini berdetak begitu kencang. Tanpa sadar, sebuah lengkungan bahagia terukir dibibirnya. Sudah sekian lama sejak ia merasakan debaran seperti ini 5 tahun yang lalu. Debaran yang membuat dirinya serasa melayang. Debaran yang membuat bibirnya tak pernah bosan untuk selalu tersenyum. Debaran yang membuatnya lupa akan dirinya sendiri..

“Kyungsoo..” Panggil Naeri lirih, membuat laki-laki itu kembali memutar tubuhnya saat mendengar suara seseorang memanggilnya.

Deg

“Naeri?”

Kyungsoo membulatkan matanya, ia terhenyak. Tak siap dengan suasana yang awkward seperti ini. Namun Kyungsoo berusaha bersikap tenang. Seperti apa yang direncanakannya semalam. Ia hanya tak ingin mengganggu gadis itu.

“Itukah kau?” Naeri merasakan daerah sekitarwajahnya terasa panas saat ini. Ia yakin, tak lama lagi air matanya pasti akan tumpah.

“…”

Tak terdengar jawaban dari mulut Kyungsoo. Laki-laki itu tetap diam dan hanya menatap Naeri datar. Tak ada sedikitpun ekspresi yang Naeri harapkan pada wajah laki-laki itu atas pertemuan pertama mereka setelah 5 tahun lamanya.

“Jawab aku.”

Kyungsoo masih menatap gadis itu lurus. Setelah satu helaan nafas singkat, ia pun memberanikan diri untuk menjawab.

“Ne, aku Kyungsoo. Do Kyungsoo. Senang bertemu denganmu lagi, Hwang Naeri.”

Setelah satu kalimat singkat yang ia dengar, laki-laki itu membalikkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Naeri.

“K-Kyungsoo…” Naeri terisak. Ia benar-benar bisa merasakan rasa sakit yang amat sangat didalam hatinya saat ini. Sama seperti saat sebelumnya. saat ia hanya mampu memendam perasaannya pada laki-laki itu.

Setelah sekian lama, hanya itukah yang harus aku dengar?

Hanya itukah yang bisa aku lihat?

Dan hanya ‘ini’kah yang harus aku rasakan?

Kenapa semakin sakit?

Naeri mengangkat sebelah tangannya lalu menyeka setetes air mata di pelipisnya dengan ibu jari.

“I feel like.. I’m waiting for something, that isn’t going to happen..”

 

&&&

Sebotol air dingin segera habis ditenggak oleh Kyungsoo. Ia menghapus asal sisa air dibibirnya lantas melempar pandangannya keluar jendela. Satu helaan nafas yang panjang, cukup untuk membuat Kyungsoo merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Ia kesal. Kesal pada dirinya sendiri. Sejak ia bertemu dengan Naeri tadi pagi, pikirannya menjadi tidak karuan. Entah kenapa ia merasa sangat jahat terhadap Naeri. Ucapannya, atau sikapnya tadi benar-benar diluar kemauannya.

“Kenapa aku harus bersikap seperti itu?”

Kyungsoo menatap botol kosong ditangannya, “Hanya karena laki-laki itu, aku harus menjauhkan diriku dari Naeri? Lagi?”

Tangannya mulai memain-mainkan botol kosong itu. Alisnya mengernyit, menandakan kalau ia sedang berfikir keras saat ini. Pertanyaan ‘bagaimana dan kenapa ia harus meninggalkan gadis itu?’ bergelut dalam otaknya. Dengan sedikit bisikan-bisikan kecil dihatinya yang membuatnya semakin berfikir cukup lama untuk menimbang-nimbang hasil dari setiap pemikirannya.

“Tidak. Tidak untuk yang kesekian kalinya. Dia takdirku.”

 

&&&

Ne imo, aku sedang mencarinya.”

Ne, sebentar lagi aku aku menemukannya.”

“Agak berangin. Tapi tenang saja imo, Aku tahu ia anak yang penurut. Ia tidak akan melepas jaketnya..”

Ye, akan aku kabari lagi nanti.”

‘Pip’

Suho menghela nafasnya lagi. Tidak seperti biasanya Naeri pergi tanpa izin darinya. Hampir 1 jam ia menunggu Naeri ditaman kampus tanpa kecurigaan sedikit pun. Biasanya, instingnya akan dengan sendirinya memberi tahukan apa-apa yang terjadi dengan gadis itu. Bahkan hatinya sendiri telah diatur untuk dapat merasakan apa yang gadis itu rasakan. Namun entah kenapa, naluri malaikat milik Suho seolah tak peka untuk hari ini.

“Sungai Han lagi… Tak cukupkah ia merasa trauma atas kematiannya? Gadis itu benar-benar..”

Seperti radar, Suho kini tahu dimana gadis itu berada. Instingnya perlahan mulai pulih dan kini ia bisa merasakan apa yang gadis itu rasakan.

“Sakit sekali. Apa yang terjadi padanya?” Tanpa terasa sebutir air mata menetes mengenai lengan Suho yang tengah memegang kendali mobil. Ia mengangkat sebelah tangannya, lalu menempelkannya didada. Jemari tangannya kini meremas erat kemeja putihnya. Nafasnya yang sesak ditambah rasa sakit yang menusuk, membuat Suho meringis kesakitan.

“Astaga.. Ini k-kenapa.. ssakit sekali..” Suho menyeka air matanya yang mulai mengalir dengan deras. Semenjak ia ditugaskan untuk menjaga Naeri, air matanya menjadi sering tak terkendali. Memang bukan ia yang mengendalikan, tapi Naeri. Dibalik senyum ceria yang ia berikan untuk banyak orang, Suho tahu, diam-diam gadis itu sering sekali menangis dimalam hari. Gadis itu memang mudah sekali untuk menangis. Entah apa yang membuatnya menangis karena Suho tidak dapat mengetahui siapa-siapa yang Naeri tengah fikirkan. Sekali lagi, kemampuannya hanya terbatas pada apa yang gadis itu rasakan dan dimana gadis itu berada.

Suho telah sampai di trotoar yang bersebelahan dengan sungai Han. Ia masih mengemudikan mobilnya dengan sebelah tangan saat beberapa orang tiba-tiba mulai berlarian kesana kemari sambil menutupi kepalanya dengan tangan. Selama beberapa detik, Suho tidak sadar dengan apa yang terjadi disekelilingnya, namun begitu matanya menatap kaca mobilnya yang tertutup oleh rintikan air, ia baru sadar kalau saat ini hujan mulai turun.

“Astaga!”

Suho bisa merasakan jantungnya kini berdetak dua kali lebih cepat. Ia segera menginjak kencang gas mobilnya, menghasilkan decitan yang khas pada aspal saat karet ban mobilnya mendadak berputar dengan cepat.

Suho masih mengendarai mobilnya sambil menatap ke trotoar di sepanjang sungai Han. Seharusnya ia sudah menemukan gadis itu sejak 5 menit yang lalu, namun hujan yang deras diluar sana semakin mempersulit penglihatannya.

Suho menyipitkan matanya saat tak sengaja matanya menangkap sosok gadis berjaket tebal yang terduduk sambil memeluk kedua lututnya. Ia segera menginjak rem mobilnya, membuka pintu mobilnya dan segera berlari menghampiri gadis itu.

“NAERI YA!”

Gadis itu menoleh. Dengan sedikit kemampuan penglihatannya yang tersisa, Naeri tetap dapat mengenali laki-laki yang tengah berlari kearahnya. Ia ingin berteriak memanggil ‘Suho oppa’  sekeras mungkin, namun belum sempat ia bersuara, ia kembali menepuk-nepuk dadanya. Batuk-batuk hebat yang menyerangnya membuatnya semakin sulit bernafas.

Naeri mengangkat pandangannya yang mulai kabur saat sepasang sepatu berdiri tepat dihadapannya.

“Oppa..”

Suho terhenyak. Ia bisa melihat bercak-bercak kemerahan diwajah gadis itu sekarang. Ini pertama kalinya Suho melihat gadis itu dalam keadaan buruk seperti ini. “Apakah Naeri  akan selalu seperti ini?”

Suho berhasil menggendong Naeri diatas kedua lengannya. Ia lantas berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Namun langkahnya mendadak terhenti saat tangan dingin Naeri menyentuh lengan Suho, membuat Suho mengernyit marah karena gadis itu ternyata tidak menggunakan sarung tangannya.

Naeri tak mempedulikan tatapan marah Suho padanya saat ini. Ia tetap menatap lekat mata Suho, seolah mengatakan kalau ‘aku baik-baik saja dan kau tidak perlu khawatir’. Hanya sesaat dan tubuh gadis itu segera terkulai lemah dalam gendongan Suho.

“Naeri ya! Ireonayo! Naeri ya!!”

Suho menggoyang-goyangkan tubuh Naeri sesaat.Tak ingin membuang waktu, Suho segera berlari sekuat tenaga menuju mobilnya.

Suho memang selalu paham dengan tatapan Naeri padanya. Namun untuk kali ini, ia tidak dapat mempercayai tatapan itu sama sekali. Bahkan tak sedikitpun ia melihat kata ‘baik-baik saja’ dalam diri Naeri…

&&&

2 minggu…

Sudah 2 minggu berlalu sejak aku bertemu dengan Naeri saat itu. Tapi, dimana ia sekarang? Kenapa aku tidak pernah melihatnya lagi?

Mungkinkah itu karena pertemuan kita?

Mungkinkah itu karena kau tak ingin melihatku lagi?

Atau mungkin karena kau merasa sakit hati atas ucapanku waktu itu dan mencoba menghindar dariku juga?

Kyungsoo memandang kesekeliling kampusnya. Mencari sosok gadis bertubuh kecil dengan pipi merona yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Namun tak sengaja matanya bertemu dengan mata laki-laki yang tengah mengintainya dari kejauhan. Laki-laki dengan senyuman yang khas, laki-laki yang ia tahu selama ini adalah kekasih dari Hwang Naeri. Suho. Ia masih ingat betul nama laki-laki itu, karena suara—panggilan—itu adalah suara yang pertama kali didengarnya dari Naeri. Dan saat ini, Suho tengah menatapnya tajam.

Kyungsoo segera mengalihkan pandangannya dan berjalan meninggalkan tempat itu. Sudah lebih dari 4 hari yang lalu Suho menatapnya seperti itu. Entah apa yang membuat Suho hingga ia selalu menatap Kyungsoo seperti itu. Membuat Kyungsoo benar-benar merasa tak nyaman.

Kyungsoo menduduki sebuah tempat duduk yang bersebelahan dengan pohon besar yang teduh. Tempat duduk yang cukup nyaman. Kyungsoo merasa lega setelah mendapatkan tempat duduk yang tepat untuk istirahatnya siang ini—dan untuk menjauh dari intaian Suho. Tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang dan cukup teduh untuk sekedar istirahat sambil menikmati makan siang praktisnya.

“Kau.. Pasti Kyungsoo.”

Kyungsoo terlonjak kaget begitu mendengar suara laki-laki dari sebelah kanannya. Ia menoleh dan mendongak menatap laki-laki yang kini berdiri disampingnya. Suho hanya tersenyum dan segera duduk disamping Kyungsoo dengan tenang.

“Ya benar, kau pasti Kyungsoo. Do Kyungsoo.” Suho meyakinkan dirinya sendiri.

“Darimana kau tahu namaku?”

“Hwang Naeri.” Suho tersenyum tipis begitu ia menyebut nama Naeri.

Kyungsoo mengangguk-angguk paham. Namun sedetik kemudian ia menoleh pada Suho lagi. Ia masih tidak paham kenapa Naeri memberi tahukan namanya pada laki-laki disampingnya ini.

“Hmm ya.. kekasihnya…”

“Aku bukan kekasihnya. Aku hanya.. pelindung baginya.” Kyungsoo membelalakkan matanya kaget. Ia bahkan belum menanyakan hal itu namun Suho sudah menjawabnya lebih dulu.

“Ini, untukmu..” Sebelum Kyungsoo berkata lagi, Suho segera menyodorkan sebuah buku lusuh dihadapan Kyungsoo.Kyungsoo menatap buku ditangannya sesaat. Ia tertegun. Ia merasa pernah melihat buku ini sebelumnya, namun ia lupa dimana ia pernah melihat buku itu.

“Ini sketchbook Naeri. Kau tidak ingat?”

Suho seolah bisa membaca pikirannya saat ini. Laki-laki itu kini menatap lurus kedepan tanpa mengindahkan tatapan Kyungsoo yang menatapnya bingung saat ini.

“Gadis itu begitu merindukanmu. Ia bahkan selalu menyebut namamu disetiap mimpinya. Dan selama aku bersamanya, selalu dan hampir setiap saat wajahmu selalu menghiasi layar 10 inch itu. Begitu juga namamu. Dan dari semua itulah aku tahu semuanya.” Kyungsoo tahu siapa yang dimaksud Suho dengan ‘Gadis itu’. Ia kini hanya menatap kosong sketchbook lusuh ditangannya.

“Entah apa yang membuatmu begitu spesial dimatanya, namun harus aku akui, aku iri padamu..”

Kyungsoo menoleh. Matanya kini menatap Suho dari ujung kaki hingga kepala. Sedikit heran karena laki-laki disebelahnya ini selalu tampak tersenyum. Apapun yang dikatakannya, apapun yang dirasakannya, laki-laki itu pasti tersenyum. Dia malaikat atau apa? Hey, harusnya aku yang iri padamu..”

Kyungsoo lantas memperhatikan buku itu dengan seksama. Lembarannya yang mengeriting dan warnanya yang telah kusam, terlihat seperti sebuah buku kuno yang menyimpan banyak misteri didalamnya.

“Bukalah.” Perintah Suho

Perlahan Kyungsoo membuka lembar demi lembar berkeriting dari buku itu. Sedikit takut kalau saja ia tak sengaja merusaknya.

Untuk lelaki yang selalu memenuhi imajinasiku..

Do Kyungsoo

 

Kyungsoo menggenggam erat sisi-sisi buku itu. Entah kenapa lembar demi lembar buku itu sungguh menyakitkan baginya. Jika saja tidak ada kalimat kalau ‘laki-laki tidak pantas untuk menangis’ maka  ia akan benar-benar menangis saat ini. Selama beberapa menit dalam keheningan yang membiarkannya melihat semua sketsa menyedihkan dari sketchbook itu, cukup membuat dadanya terasa sesak saat ini. Kyungsoo lantas menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

Semuanya. Semua yang tergambar di kertas itu adalah dirinya. Bahkan semua hal-hal yang ia sendiri tidak ingat sama sekali. Semua tergambar, semua terungkap, semua yang selama ini ia tidak tahu.

“Menangislah. Hanya ada aku disini. Kau tidak perlu malu. Jangan buat dirimu semakin tersiksa.”

Suara Suho membuatnya kini benar-benar menangis. Kyungsoo menundukkan kepalanya dengan berpangku pada tangan yang masih menggenggam sketchbook lusuh itu. Ia menangis. Untuk pertama kalinya Kyungsoo menangis karena seorang gadis.

“Dia sedang terbaring lemah dirumah sakit sekarang. Sudah lebih dari 2 minggu ia disana. Menghabiskan waktunya dengan melamun dan hanya bermain-main dengan tab gambarnya. Entah bermain atau membuat sketsa, yang pasti, ia tidak pernah mau keluar dari ruangan itu.”

“Gadis itu menderita sebuah penyakit langka. Bukan penyakit yang parah seperti kanker atau tumor ganas lainnya, yang membuat penderitanya mati dalam jangka waktu tertentu. Namun penyakit ini juga mampu membuatnya mati jika penanganannya tidak cepat.” Jelas Suho.

Cold Urticraria. Kau pernah mendengar tentang penyakit itu?” Kyungsoo menggeleng pelan.

“Cold Urticraria adalah sebuah penyakit alergi terhadap cuaca dingin. Sedikit saja angin dingin bertiup mengenai permukaan kulitnya, maka penyakit itu akan timbul. Bukan hanya bercak merah layaknya alergi biasa, namun ia juga akan mengalami sesak nafas disertai dengan batuk kering yang membuatnya semakin sulit bernafas. Oleh karena itu, ia selalu memakai pakaian tebal kemanapun ia pergi.”

Kyungsoo tiba-tiba saja teringat saat ia pertama kali melihat gadis itu yang berlari menghampiri Suho. Gadis itu memang memakai jaket tebal, namun Kyungsoo hanya berfikir kalau itu hanya demam biasa.

“Dan ia pernah mengalami kematian karena penyakit itu. 2 bulan yang lalu..”

“2 bulan yang lalu? Mati?” Kyungsoo menoleh pada Suho, ia mengernyit. 2 bulan yang lalu? Bukankah itu terakhir kalinya aku menghubungi Naeri?

“Ya mati. Namun keajaiban terjadi padanya. Entah apa yang Tuhan rencanakan padanya, ia kini kembali hidup.”

“Dan setelah ia dinyatakan kembali hidup, ia mengalami koma selama 1 bulan lebih lamanya. Lagi-lagi, kematian hampir saja merengut nyawanya. Dan lagi-lagi, Tuhan membiarkannya untuk hidup.”

“Ia pernah mengatakan padaku, kalau seseorang pernah memanggilnya saat ia koma dan membuatnya merasa ingin hidup kembali.”

“Ketika aku tanya siapa yang pernah memanggilnya, ia menjawab tidak tahu. Namun aku yakin, kalau yang memanggilnya itu adalah orang yang sangat ia ingin temui sampai saat ini.”

“Seseorang yang namanya selalu ia sebut disetiap tidurnya. Seseorang yang memenuhi kertas gambarnya. Dan juga seseorang yang membuatnya kini terbaring lemah dirumah sakit..” Suho menghela nafasnya.

“Kyungsoo, aku rasa itu kau..”

Kyungsoo merasakan tubuhnya mendadak kaku. Ia membelalakkan matanya lebar-lebar. Sesak, di tambah dengan peluh yang  kini terlihat di keningnya. Bersamaan dengan otaknya yang mulai bekerja dengan keras, berusaha mengurai satu demi satu benang-benang kusut di kepalanya.

Kyungsoo kembali menatap halaman terakhir sketchbook itu. Halaman tanpa gambar, namun tertera dengan rapi sebuah gaya tulisan khas seorang perempuan.

Hanya dengan berada didekatmu, aku bahagia. Jadi biarkanlah aku untuk tetap berada disisimu. Tak cukup lama, hanya sampai batas waktu yang Tuhan telah tentukan untukku..

Maafkan aku Kyungsoo.. Jika saja aku tahu kalau kau juga mencintaiku, maka aku tak akan pernah bersikap seperti itu padamu. Dan jika 5 tahun tak cukup untuk membalas apa yang kau rasakan dulu, maka aku rela menunggumu untuk 5 tahun kedepan lagi. Agar tak ada satu diantara kita yang tersakiti untuk yang kedua kalinya lagi.

Aku mencintaimu, Do Kyungsoo.. Dan aku harap, aku dapat menjadi satu orang yang berharga dalam hidupmu. Satu orang yang menjadi takdirmu. Dan satu orang yang mencintaimu dengan tulus.

*Hwang Naeri*

&&&

 The person I loved so much left me
The love that I thought would last forever left me

The person I loved severely left me
The love that I thought would always be by my side left

The person that made me laugh, made me cry
The pain grew as great as the happiness

(Acoustic Collabo – Waiting for You)

“Kau tunggu disini. Aku akan kembali beberapa menit lagi. Jangan berdiri dari tempatmu sebelum aku kembali.” Naeri mengangguk menuruti perintah Suho. Laki-laki itu lantas menepuk pundak Naeri dan berlari meninggalkannya. Suho bilang, ia meninggalkan sesuatu diruangan kelasnya. Dan karena itu, ia harus meninggalkan Naeri sendirian ditaman kampus.

Naeri menatap layar tab dihadapannya. Seperti biasa, ia mulai menyibukkan dirinya sendiri dengan pen stylus ditangannya, mencoba membuat beberapa sketch yang memenuhi imajinasinya saat ini.

“Oppa.. Lama sekali sih..” Naeri mengeluh sambil menghapus dengan kasar sketsanya. Ia lantas mengangkat kepalanya dan menatap lurus kedepan. Tepat diujung sana, seorang laki-laki tengah menatapnya dari kejauhan. Tak ingin mengiyakan kata hatinya, Naeri mengalihkan pandangannya menatap layar tab dihadapannya.

Gambar sketsa wajah seorang lelaki. Naeri bahkan tidak menyadari apa yang digambarnya sejak tadi. Ia memejamkan matanya dan kembali menatap layar.

“Kenapa wajah ini lagi..” Naeri mendesah kesal dan berniat menghapus seluruh sketsa yang dibuatnya. Namun saat ia ingin menghapus, tangannya malah mengarah pada galeri, membuka seluruh hasil sketsanya.

Semua. Hampir semuanya adalah sketsa wajah laki-laki itu. Naeri menelan air liurnya dan mulai membuka satu persatu sketsanya disana. Tanpa ia sadari, semua yang menjadi imajinasinya selama ini adalah laki-laki itu. Laki-laki yang kini berdiri dihadapannya..

“Kau disini rupanya..” Naeri tersentak begitu mendengar suara rendah seorang laki-laki. Suara yang khas. Suara seorang laki-laki yang wajahnya kini terpampang jelas dilayar tab miliknya.

“Kau kemana saja? Kau tahu? Selama 2 minggu ini, aku selalu menunggumu disini. Suho hyung bilang, kau selalu menunggunya ditaman. Ternyata benar..” Kyungsoo tersenyum ramah walaupun ia tahu  Naeri tidak sedang melihat wajahnya saat ini.

Naeri perlahan mengangkat pandangannya ke atas, mencoba memberanikan diri untuk menatap laki-laki yang kini berdiri dihadapannya.

….

“Kyungsoo..” panggil Naeri pelan, bahkan hampir tidak terdengar sama sekali ditelinga Kyungsoo. Naeri kembali menunduk dan menatap gambar di layar tabnya. Persis. Persis seperti apa yang digambarnya.

“Kau masih mengingatku?”

‘Kenapa? Kenapa wajahnya sama persis seperti  di gambarku? Apakah aku bermimpi? Atau khayalanku terlalu baik sehingga aku seolah benar-benar melihat wajahnya?

Naeri mendongakkan kepalanya lagi, terpaku menatap wajah seseorang yang kini tersenyum padanya.

Kyungsoo mendudukkan dirinya disamping Naeri. Ia menoleh dan menatap gadis yang masih menatapnya tak percaya.

“Maaf..” Ucap Kyungsoo lirih. Naeri terdiam sambil menatap kosong layar tabnya.

“Maafkan aku..” Ucap Kyungsoo lagi.

“Tidak cukup.” Kyungsoo membelalakkan matanya saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Naeri.

“Hanya dengan maaf? Tidak cukup.”

“Kau fikir 5 tahun itu sebentar? Jangan karena kau menungguku selama 10 tahun dan kau merasa paling tersakiti saat ini. Aku.. Jauh lebih merasakan sakit ketimbang kau.” Kyungsoo benar-benar tak menyangka dengan ucapan Naeri padanya saat ini.

“Hati wanita jauh lebih rapuh.” Kyungsoo menatap lurus jalanan didepannya. Baru kali ini ia mendapat makian dari seorang gadis.

Naeri tersenyum. Ia memasukkan kembali tabnya kedalam tas, dan berdiri. “Terima kasih sudah membuatku hidup kembali seperti saat ini. Sampai nanti..”

….

Grep

 

Kyungsoo menarik lengan Naeri dan memeluknya dalam satu kali gerakan.

“Haruskah aku mengatakan ‘jangan pergi’ lagi padamu?”

“Haruskah aku melihat linangan air dimatamu untuk dapat memelukmu seperti saat itu?”

“Haruskah aku mengejar-ngejarmu dipadang bunga matahari hanya untuk mendengar kalimat ‘aku mencintaimu’?”

Naeri melepas pelukannya dan menatap Kyungsoo. “Tidak.”

Kyungsoo mengernyit, “Lalu?

“Bernyanyilah. Maka aku akan memaafkan semuanya.”

“Hanya itu?”

“Sombong sekali.”

Kyungsoo menarik nafasnya dalam-dalam, melihat kesekeliling dan mulai bernyanyi.

Gateun narae taeeonaseo, gateun eoneoro mareul haeseo

Cham haenguniya, cham dahaengiya

Sesange dangyeonhan geon eobseo

….

Suara indah Kyungsoo membuat beberapa mahasiswa berkumpul mengelilinginya. Tak ayal tepukan tangan dari Naeri dan para penonton pun mengiringi nyanyian Kyungsoo.

Neoui ireumeul bureugo, neoui soneul jabado doeneun na

Buseojineun haessareun naman bichuna

Na ireoke haengbokhaedo dwae?

Naui ireumeul bureugo naui eokkaee gidae oneun neo

Jeo haneurui haessareun, neoman bichuna

Neo geureoke nunbusyeodo dwae?

So lucky, my love so lucky to have you

So lucky to be your love..

(EXO – Lucky)

Tepukan tangan yang meriah menjadi akhir dari lagu yang Kyungsoo nyanyikan. Suho, tersenyum menatap semburat bahagia diwajah Naeri dan Kyungsoo. Tugasnya telah selesai, dan ia harus kembali. Seolah telepati, Kyungsoo dan Naeri menoleh bersamaan kearah Suho.

“Annyeong oppa! Gomawo!” Naeri tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Suho.

Kyungsoo yang tidak mengerti apa-apa hanya menatap Naeri bingung. “Kenapa kau melambaikan tangan? Memangnya hyung mau kemana?”

Naeri tersenyum penuh teka-teki, “Nanti kujelaskan..”

Kyungsoo mengedikkan bahunya dan kembali menoleh kearah Suho. Ia segera mengernyit saat tak mendapati Suho lagi diujung sana.

“Suho hyung—‘

“Nanti kujelaskan.. Tenang saja..” Potong Naeri. Ia tersenyum geli saat melihat ekspresi wajah Kyungsoo yang berubah menegang.

“Gomawo, Suho oppa..”

 

Continued on Epilog Part~

 

Banyak yang gaje ya pasti?

Kok ini begini? tapi kenapa itu tadi begitu ya? Kok begono sih? Pasti ceritanya banyak banget yang ngaco-,-

Alurnya berantakan. Diksinya ancur. Gaje. Dan semua teman2nya ‘ngga jelas’ ngumpul di ff ini. hhh…-,-

Berikan aku kritik dan saran kalian! ^^

Iklan

14 pemikiran pada “One Person (Chapter 2)

  1. semoga happy ending ^^. akhirnya mereka sama sama stelah banyak kejadian tragis. jangan-jangan suho itu malaikat beneran? plis thor epilognya jangan dibuat sedih. mereka baru aja ketemu. gak sabar nunggu lanjutannya . keep writing^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s