He and Your Life

Tittle: He and Your Life

Author: Ruby

Length: Oneshoot

Genre: Sad

Rating: All Age

Cast: Do Kyungsoo, You

Bocah itu dulu hanya seorang bocah laki-laki biasa. Bocah yang selalu ingin bermain sesuka hatinya. Bocah yang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Bocah yang selalu digandeng olehmu setiap dirimu pergi dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih. Sampai dia mengenal arti sebuah kehilangan. 

Sebenarnya dia sudah sangat lama kehilanganmu. Penyakit yang merenggutmu darinya ibarat pengecut yang datang mengendap-ngendap dan mulai menggerogotimu dari dalam. Menghabiskan cahaya hidupmu perlahan-lahan, hingga semakin hari kedua matamu meredup dan kulitmu semakin pucat.

Sementara dirimu dicuri sedikit demi sedikit darinya, ketakutan si bocah pun semakin bertambah. Dia takut kehilanganmu sepenuhnya. Dia ingin kau tetap disisinya. Dia tak punya saudara lagi, meski dia menyayangi ayahnya, namun ia lebih menyayangi dirimu. Tak terbayang olehnya menjalani hidup tanpa dirimu.

Bocah lelaki bernama Kyungsoo itu berusaha sekuat tenaga agar kau tetap hidup. Dia berdoa. Dia berusaha menjadi anak baik, agar kau tidak dihukum karena kesalahannya. Dia berusaha tidak berisik saat berjalan di dalam rumah dan memelankan suaranya saat sedang bermain perang-perangan dengan boneka-boneka tentaranya. Dia menyusun aktivitasnya sendiri, dan dicobanya mematuhi apa yang telah ia susun, sebab sebagian dirinya percaya bahwa nasibmu tergantung tindakan-tindakan yang dilakukannya. Kalau melangkah selalu menggunakan kaki kanan terlebih dahulu, baru kaki kiri.  Dia selalu menghitung sampai dua puluh saat sedang menggosok gigi, dan berhenti saat hitungan sudah selesai. Dia selalu memutar keran air hingga jumlah tertentu, bilangan ganjil tidak baik, bilangan genap baik. Dengan cara demikian Kyungsoo berusaha membantu mempertahankan hidupmu.

Setiap hari sepulang sekolah, Kyungsoo duduk di samping tempat tidurmu, sesekali mengajakmu bicara kalau kau sedang cukup sehat. Tapi biasanya ia hanya memandangimu tertidur, dan menghitung setiap hembusan napasmu yang terengah-engah, dalam hati berusaha menguatkanmu agar tetap disisinya. Seringkali dia membawa buku untuk dibaca, dan kalau kau sedang terjaga dan kepalamu tidak begitu sakit, kau akan meminta Kyungsoo membaca keras-keras untukmu.

“Kyungsoo a~, maukah kamu membacakan sebuah cerita untukku?” katamu dengan suara begitu parau.

“Ne Umma, Umma mau aku membaca cerita apa?” jawab Kyungsoo dengan suara sehalus mungkin seakan-akan kau akan menghilang jika suaranya lebih keras lagi.

“Cerita yang biasa kau ceritakan padaku, bacakanlah dengan suara yang keras.”

Kyungsoo pun membacakan cerita yang selalu kau suka, cerita yang jauh lebih tua seperti mitos, legenda, dongeng, cerita tentang kastil dan pertempuran dan binatang-binatang aneh yang bisa berbicara. Kyungsoo tidak pernah merasa keberatan. Meski pada usia tiga belas dia bukan lagi anak kecil sepenuhnya, dia masih menyukai cerita seperti ini, dan kesukaannya pada cerita ini semakin besar karena kau senang mendengar dia membacakannya.

Sebelum kau jatuh sakit, kau sering bercerita untuk Kyungsoo, dan Kyungsoo akan mendengarkanmu dengan penuh perhatian. Seakan suaramu bagaikan lagu yang menarik perhatiannya, lagu yang senantiasa mengungkapkan melodi-melodi baru, atau perubahan-perubahan halus yang belum pernah terdengar. Saat Kyungsoo makin besar, dan musik jadi semakin penting untuknya, dia tidak lagi menganggap suaramu seperti lagu, melainkan lebih seperti simfoni, penuh variasi tak terhingga, menyangkut tema-tema yang luar biasa, dan melodi yang berubah-ubah seperti suasana hati dan keinginannya.

Segala hal-hal baik selalu Kyungsoo lakukan, belum pernah sekalipun ia melanggarnya. Namun itu semua tak cukup. Hari itu seberapa besar ia tak menginginkannya, seberapa besar dia menolak kedatangannya, hari itu tetap datang menemuinya.

Kyungsoo tak kan pernah lupa hari itu. Dia sedang bersekolah, belajar kata-kata dalam Bahasa Inggris, hingga kepala sekolah membuka pintu ruang kelas dan menghampiri guru bahasa Inggrisnya Kihoon Songsaenim. Kepala sekolah membisikkan sesuatu pada Kihoon Songsaenim dan Kihoon Songsaenim mengangguk dengan mimik serius. Ketika dia membalikkan badan, matanya bertemu dengan mata Kyungsoo, dan suaranya begitu lembut ketika berbicara.

“Kyungsoo, kamu boleh pulang lebih cepat, lekas rapikan alat tulismu dan pergilah bersama kepala sekolah”

Kyungsoo terdiam sesaat, “Baik songsaenim.”

Kyungsoo langsung tahu apa yang terjadi. Dia sudah tahu bahkan sebelum kepala sekolah membawanya ke kantor kepala sekolah. Dia sudah tahu sebelum ia diberikan secangkir teh dingin. Dia sudah tahu sebelum kepala sekolah berdiri didekatnya dengan sikap lembut. Dia sudah tahu sebelum cangkir itu menyentuh bibirnya dan kata-kata itu diucapkan.

“Uri Kyungsoo, sulit bagi untuk mengatakan ini, maafkan aku untuk mengatakannya langsung, aku tidak bisa melakukan basa-basi. Ibumu beberapa waktu yang lalu sudah pergi, meninggalkan kita semua.”

Dia sudah menyiapkan diri sebaik mungkin untuk mendengarnya, namun tetap saja teh yang dingin itu serasa membakar mulutnya, mengingatkannnya bahwa dia masih hidup sedangkan kau kini sudah jauh dari jangkauannya. Dan bulir-bulir air mata merebak dan jatuh perlahan-lahan membasahi pipinya. Kyungsoo menangis. Menangis begitu keras karena dia malu atas kegagalannya untuk mempertahankanmu disinya.

END

Iklan

10 pemikiran pada “He and Your Life

  1. Gue kirain gue temen maen dia dari kecil, ga taunya jadi nyokapnya.. ffnya bagus, sedih juga, tapi terlalu singkat buat nyeritain kisah d.o sama nyokapnya.. semangat ruchan!!^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s