It’s Hurt

Title : It’s Hurt | Author @ferrinamd  | Genre : Fluff, Sweet | Rating : Teen |

Length : Oneshoot | Main Cast :Huang Zi Tao ( Tao – EXO M)

 

September, 3rd 2013

Melihat orang yang kalian cintai kesakitan membuat hati terasa nyeri. Bagaimana tidak? Lyn melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri. Tao terjatuh kesakitan saat melompat pada lompat halang rintang mewakili timnya. Sebelumnya ia sudah beberapa kali tak sengaja membenturkan pinggangnya saat akan mendemonstrasikan lompatannya. Saat ketiga kalinya, dia tak bisa bangun. Sesaat dia akan melompat, Lyn sudah menangkap gelagat tidak beres dengan pria China itu. Terlebih dia selalu memegang pinggangnya. Tidak tahu karena apa, tapi yang jelas pasti Tao merasakan sakit menjalar di belakang tubuhnya. Lyn kaget, dia langsung berdiri dari bangku penonton bersama dengan fans EXO lainnya. Melihat dari jauh keadaan Tao saat ini. 

Lyn masih bisa melihat walau agak kabur karena jauhnya jarak dirinya dengan Tao. Badan tinggi Tao langsung dibantu berdiri dan dipapah oleh Luhan dan Suho datang menghampirinya di tempat. Disusul oleh Xiumin dan juga member EXO. Semua orang yang merupakan artis-artis dari manajemen lain melihat dengan prihatin.  Mereka membawa Tao ke pinggir lapangan. Ditidurkannya lelaki itu, sengaja untuk memberikan pertolongan pertama untuk cedera punggungnya. Beberapa dari mereka menghampiri Tao, menatap keadaan pria yang berprofesi sama dengan mereka. Hingga ia dipapah kembali oleh Kris, leader EXO-M dan Sehun membawa Tao ke ruang ganti.

Lyn menautkan kedua jarinya, berdoa, memohon pada Tuhan semoga Tao kembali pulih. Ia sangat menyesal tidak bisa ikut membantu Tao. Keadaan memaksa mereka berdua tidak dipertemukan di waktu keduanya saling membutuhkan. Rasanya Lyn seperti kekasih yang tidak tahu diri. Tapi apa daya, dia hanya bisa pasrah. Selanjutnya, mungkin ia akan datang ke dorm EXO. Bagaimanapun caranya dia harus bisa masuk ke apartemen mereka.

Selang beberapa menit berlangsung, fans EXO masih cemas menanti keadaan Tao dan member EXO yang tidak juga muncul setelah insiden tadi. Setidaknya ada yang memberi kejelasan berhubungan dengan kesehatan Rapper EXO M tersebut. Tanpa diduga, orang-orang disekeliling Lyn berteriak memanggil nama Tao, serta berdiri menyoraki nama pria China itu. Lyn ikut berdiri, dan memang benar Tao datang dibantu oleh Xiumin. Masih setia setelah insiden tersebut. Membuat semua fans terisak menatap keadaan Tao yang tidak memungkinkan dirinya untuk berdiri tegak. Sesampainya dekat tribun tempat fans EXO dikumpulkan di satu tempat itu. Tao melepas tautan tangannya pada leher Xiumin. Berusaha berdiri tegak, sambil tersenyum pasrah. Wajahnya memerah, lantas keluarlah air mata dari sudut matanya. Kepala Tao tertunduk dalam. Menghapus air mata yang mengalir begitu saja menjalari kedua pipinya.

ULJIMA ! ULJIMA!” teriak Lyn spontan. Kepala Tao tertengadah mencari sumber suara itu. Akhirnya kedua mata mereka bertemu. Sorakan kembali terdengar “Uljima ! Uljima!” teriak beberapa fans yang ada disini. Dari mereka ada yang ikut menangis. Hal yang sama dirasakan Lyn. Tao masih menatapnya. Dia tahu pria itu memandangnya dalam. Lyn menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mengecilkan suara tangisan yang sebenarnya tidak akan terdengar oleh siapapun. Karena suara teriakan di tribun lainnya beradu dengan tempat Lyn berdiri. Tao tersenyum padanya. Kemudian beralih melambaikan tangan pada semua fans EXO disini. Meskipun ramainya suasana gelanggang olahraga , semua gadis-gadis disini masih bisa mendengar Tao berbicara serius, sambil terisak pelan. Dia meminta maaf pada semua fans EXO yang datang mendukung EXO sepenuh hati. Setelah itu Tao melambaikan tangan ke semuanya. Xiumin pun melakukan hal yang sama, seketika itu juga Kris datang menghampiri mereka berdua dengan melambaikan tangan pada semua fans yang datang. Leader EXO-M Iini menebar senyumnya mengucapkan terima kasih pada fans yang sudah sedia datang. Lyn hanya terkekeh di sela tangisannya. Mereka bertiga akhirnya pergi, membungkukan badan di depan semua fans. Tao menatap Lyn sebelum pergi. Tersenyum hangat  pada Lyn. Wajahnya memerah, bibirnya bergerak berbicara padanya. “Don’t Cry.” Begitu ucapan yang dia tahu ditujukan padanya. Lyn tahu kalau pria itu mengatakan hal tersebut. Lalu dia berlalu pergi. Dengan merangkul Xiumin yang masih setia membantunya berjalan.

Selesai acara berlangsung, Lyn terburu keluar kerumunan orang-orang yang masih berada di tribun. Lyn terus berjalan mengarahkan dirinya menuju ruang ganti masih berada dalam lingkup gelanggang olahraga tempat ia berada sekarang.

Menuju kesana tidak mudah. Sangat ramai dengan orang berlalu-lalang. Tak jarang berjalan ke ruang ganti ia beberapa kali berpas-pasan dengan artis-artis bintang tamu dalam acara Idol Star Athletic Champions. Ternyata Dewi Fortuna berpihak padanya. Ketika sudah hampir sampai ke tempat tujuannya. Jangan heran kalau Lyn begitu tahu seluk beluk seluruh gelanggang ini. Sebab ia memperhatikan betul orang-orang yang keluar masuk dan tentunya tidak jauh dari toilet yang tadi ia singgahi.

Lyn bertemu dengan Luhan yang sangat ia kenal di EXO-M. kakak terdekat Tao dalam grup itu. Pria cantik itu juga mengetahui siapa Lyn sebenarnya. Segera saja Lyn berlari kecil, hingga memperkecil jarak antara dirinya dengan Luhan yang tengah berjalan berlawan arah.

“Luhan gege.” Satu kali panggilan tidak terdengar. “Luhan gege.” Masih juga Luhan tidak mendengar. Akhirnya ketiga kali Lyn memanggil pria itu menoleh pada suara yang dibuat Lyn. Wajah Luhan seketika kaget melihat kedatangan Lyn yang menurut dia mendadak. Bagaimana mungkin gadis seperti Lyn bisa masuk ke dalam area private para artis.

“Lyn, kamu kenapa bisa kemari?” tanya Luhan menggunakan bahasa mandarin agar tak mudah bagi yang mendengar pembicaraan mereka. Lyn menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ketahuan basah oleh Luhan sendiri.

“Aku sengaja kesini. Mau melihat Tao? Gimana keadaan dia? aku mau melihatnya, ge,” desak Lyn menggoyangkan lengan kiri Luhan. Memohon dengan amat sangat dengan pria berambut blonde ini. Luhan berpikir sejenak memikirkan seribu kemungkinan jika dia mengijinkan Lyn untuk bertemu kekasihnya itu. Masalahnya dia ditugaskan untuk menemani Tao selagi yang lainnya berganti baju. Jadi dia dan Tao akan berberes terakhir setelah semuanya selesai merapikan segala keperluan mereka sendiri. Namun ia rasa tidak salah memberikan kesempatan gadis China ini untuk bertemu Tao. Karena dia sangat tahu hubungan kedua anak tersebut jarang bertemu. Sekalinya bertemu selalu dengan insiden yang tidak terduga. Sangat menguji mental kedua orang pasangan tersebut.

“Baik, aku ijinkan kau masuk. Tapi aku harus menemanimu selama kamu bertemu dengan Tao. Takut-takut kalau ada orang masuk ke ruang ganti kami. Dan melihat kalian berdua dalam satu ruangan. Akan ada masalah baru,” jelas Luhan. Tentunya Lyn mengangguk dengan semangat dan senang yang tak terkira. Hingga tak menyadari dia sendiri meloncat kegirangan menunjukkan ekspresinya.

“Pasti. Apapun syaratnya aku akan turuti. Terima kasih, gege.” Luhan mengangguk sambil terkekeh pelan melihat tingkah gadis berumur dua puluh tahun ini.

“Ayo, aku antar.” Luhan mengajak Lyn untuk ikuti langkahnya. Banyak yang memperhatikan mereka berdua. Terlebih dengan Luhan yang membawa orang asing. Tapi pria itu menyikapinya dengan tersenyum dan menjawab sekenanya. Tidak mau berbuntut panjang, mereka terburu dan akhirnya sampai ke dalam ruangan ganti khusus EXO, Henry juga.

Lyn menerobos masuk. Setelah Luhan membuka pintu dan memintanya segera masuk. Pandangan pertama yang dilihat Lyn. Sosok pria yang sedang tertidur lelap di atas sofa yang memanjang. Tubuh tingginya terbaring aman. Lyn langsung melangkah melihat Tao yang masih tertidur. “Apa dia tertidur?” Lyn beralih menatap Luhan saat ikut mendekati magnae EXO-M ini.

“Iya, sepertinya aku datang tidak tepat waktu. Mungkin lebih baik aku pulang saja.” Lyn berdiri. Dia jadi tidak enak hati jika harus membangunkan Tao hanya untuk sekedar memeriksa keadaannya. Tao pasti butuh istirahat cukup untuk memulihkan cederanya.

“Jangan ! aku sudah mengijinkanmu kemari. Kamu tidak tahu terima kasih, Lyn,” sindir Luhan setengah bercanda pada Lyn. Perempuan itu hanya menghela napas. Sedetik kemudian, Tao bereaksi membuka kedua matanya. Merasa terganggu dengan suara berisik yang ia dengar dari jarak dekat. Luhan agak menjauh memandang reaksi Tao bergerak menatap Luhan dan akhirnya beralih pada Lyn yang menatapnya sendu.

Seketika Tao bangun, belum dalam kondisi duduk sempurna. Dia sudah meringis merasakan sakit menjalar pada pinggangnya. Sontak Lyn mendekat, memegang leher dan juga punggung Tao. Memaksa pria ini untuk kembali berbaring. Luhan pun ikut bereaksi. Walaupun tetap Lyn yang memegang peran penting untuk memegang Tao sekarang. “Jangan bangun dulu, Tao. Pinggangmu masih bermasalah,” ujar Luhan memperingati ‘adik’nya tersebut.

“Benar, kata gege. Kau harus berbaring.” Lyn menarik kedua tangannya begitu Tao terbaring aman di atas sofa empuk. Tao menoleh kepada Lyn. Memicingkan matanya, perjelas pandanganya terhadap sosok perempuan di dekatnya sekarang.

“Lyn, kenapa kamu bisa kemari?” tanya Tao heran. Jelas saja, dia tidak mungkin bisa percaya jika Lyn berhasil memasuki ruang ganti yang pasti dijaga oleh staff acara yang dia bintangi. Luhan bergerak menuju tempat tas tergeletak berderet di atas meja. Mengambil botol mineral kemudian diserahkan pada Lyn. “Minumlah, itu milik Tao.” Memberikan air minum untuk gadis ini. Pasti dia lelah berlari mencari tempat akhirnya sampai kemari.

“Aku bertemu dengan anak ini tadi di dekat toilet. Entah kenapa dia bisa dengan lancarnya menuju kesini.” Lyn mengerucutkan bibirnya mendengar penuturan Luhan yang terkesan mengintimidasinya. Walaupun ia juga tahu pria terpaut tiga tahun dengannya ini tengah bercanda.  Karena senyum nakal tak lepas dari wajah Luhan sejak tadi.

“Gadis pemberani. Aku tidak menyangka sebelumnya Lyn akan kesini,” sahut Tao menggelengkan kepalanya. Lyn memilih untuk meneguk air dalam botol mineral pemberian Luhan dalam tiga kali tegukan.

“Aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kamu kenapa-napa. Kamu tidak tahu aku sejak awal melihatmu bermain, aku terus berdoa. Aku menganggap diriku tidak berarti apa-apa melihat kekasinya sendiri kesakitan seperti itu.” Tanpa sadar, Lyn menumpahkan perasaannya pada Tao yang saat ini terperangah melihat reaksi Lyn. Sebegitu khawatir Lyn padanya. Seharusnya Tao tahu, sejak kenal Lyn. Seiring waktu berjalan Tao semakin menyadari gadis ini sangat menyayanginya, lebih dari dia menyayangi Lyn. Di sisi lain, dia bersyukur Lyn peduli dan memperhatikannya sejauh itu.

“Sewaktu kamu datang ke tribun fans EXO. Aku ada disana, dan kamu melihatku Tao. Kamu menangis, kamu berbicara. Aku jadi  tidak berguna melihatmu seperti itu.” Lyn makin terisak mengekuarkan isi hatinya. Tak peduli Luhan yang mengamatinya dengan pandangan aneh. Yang ia lakukan sekarang, menunjukkan dirinya menyayangi Tao, mencintai pria ini.

“Stop ! cukup. Kamu kesini bukan buat marah-marah kan.”

“Aku khawatir sama keadaan kamu,” ucap Lyn memejamkan matanya. Menahan tangis yang masih keluar. Tao berusaha bangun walaupun hanya setengah terduduk dari tidurnya. Meraih tangan Lyn mendekat padanya. Lalu memeluk kekasihnya, meletakkan kepala Lyn tepat di lekuk lehernya. Mendekap erat tubuh ramping gadis ini.

Ulijima, kenapa kamu menangis? Mau menyaingi aku?” Lyn memukul pelan dada Tao. Pria itu meledeknya alih-alih berusaha menghibur Lyn. Luhan diam-diam bergerak menjauh keluar ruang ganti. Tao melihatnya hanya tergelak, beralih masih memeluk gadisnya.

“Kamu jahat,”

“Kenapa jahat?”

“Kamu selalu membuatku khawatir,” ucap Lyn polos. Tao tertawa (lagi) mendengar perkataan Lyn.

“Itu berarti kamu mencintaiku. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku.” Tao mengusak rambut Lyn hingga setengah berantakan. Lyn mnggerutu dan menjauhi dirinya dari Tao. Melepas pelukan pria Cina itu , kemudian merapikan rambutnya. Lagi-lagi Tao mengacak rambut Lyn.

“Taoooo~” pekik Lyn kesal. Heran dengan Tao, meskipun cedera masih menderanya. Tak menghalangi sikapnya yang usil.

         Tao berusaha memposisikan dirinya untuk duduk. Berusaha melihat kekasihnya lebih dekat. Jika berbaring seperti ini. Tidak leluasa baginya. Dengan sigap Lyn memapah Tao. Memegang punggung dan merangkul bahu tegap Tao.

“Tao, kamu masih belum sembuh. Jangan macam-macam. Lebih baik kamu berbaring. Tidak usah banyak bergerak.” Lyn menatap reaksi Tao yang meringis karena ketahuan dia memaksakan dirinya sendiri.

“Kamu memang keras kepala. Aku selalu tidak habis pikir dengan sikap kolotmu itu. Jangan memaksakan diri. Aku tidak mau kamu menyakiti dirimu sendiri.” Lyn menghela napas. Lyn teringat sesuatu, tangannya mengambil kotak terbungkus kertas coklat.

“Bukalah.” Lyn menyodorkan pada Tao. Tampak kebingungan dari wajahnya. Namun ia menurut untuk membuka bungkusan dari Lyn. Ternyata kekasihnya ini memberikan gantungan berbentuk boneka panda kecil. Tao mengamatinya takjub. Dia tidak terlalu suka dengan panda. Banyak orang menyebut dia seperti panda karena kantung mata miliknya yang terlihat seperti mata panda.

“Kamu suka? Aku harap kamu suka dengan pemberianku.”

“Ini lucu, aku suka,” ucap Tao masih memegang gantungan panda dari Lyn. Lalu beralih memandang mata jernih Lyn. Adu pandang terjadi seketika. Suasana kaku kembali menyeruak tatkala Tao menggenggam kedua tangan Lyn. Kekasihnya hanya termenung mengamati gerak-gerik Tao yang baginya selalu tidak bisa dia baca selama berhubungan dengannya.

“Terima kasih kamu sudah datang, maaf aku selalu membuatmu khawatir, membuatmu cemas, dan takut. Tapi dibalik itu semua, aku merasa kalau aku harus melakukan hal semampu yang aku bisa. Jangan sampai menyerah sedikitpun.” Lyn menggeleng kuat. Dia tidak ingin prianya merasa terganggu karena sikap berlebihannya. Tidak dipungkiri, dia selalu khawatir dengan segala kegiatan seorang idol yang super sibuk. Jika sudah menyangkut kesehatan Tao yang terkadang mengganggu.

Lyn memegang wajah Tao dengan kedua tangannya. Mengamati wajah lelah Tao dalam diam. Merasakan perih yang baginya tak terkira. Bingung dengan hatinya yang tiba-tiba menjadi lebih sensitive untuk malam ini. Tao hanya memejamkan mata merasakan sentuhan Lyn. Tangan Lyn yang menjalar menyusuri setiap lekuk wajah pria China ini.

“Aku mencintaimu, sungguh,” bisik Lyn pelan. Namun Tao sangat jelas mendengarnya. Dia tersenyum masih terpejam.

“Aku juga mencintaimu,” balas Tao. Tidak tahu kalau Lyn menangis (lagi) dalam diam. Berusaha menahan segala kesedihanya. Lyn mengikuti kata hatinya yang berbicara, mengeluarkan seluruh perasaannya. Kepala Lyn bergerak memperkecil jarak dengan wajah tampan Tao. Mendekatkan bibirnya menyentuh bibir tipis Tao. Tanpa menyadari ada kekuatan bagi Lyn untuk memberanikan diri melakukan hal tersebut.

Ciuman itu singkat, namun sungguh membekas bagi Tao. Dia masih kaget apa yang dilakukan Lyn. Sejauh hubungan mereka, Lyn yang selalu melihat keromantisan yang Tao buat dalam masa pacaran mereka. Sekarang Lyn lebih dulu melakukannya. Perempuan di depannya hanya tertunduk setelah melakukan adegan ciuman yang ia buat. Kedua pipinya merah padam membuat Tao gemas. Sehingga menaikkan dagu Lyn,sampai pandangan mereka beradu.

“Kau belajar mencium dari siapa? Aku tidak pernah menciummu, kau bilang kamu tidak mau sebelum kita menikah. Sekarang, kau yang memulai,” canda Tao. Lyn menutupi wajahnya menahan malu amat sangat mendalam. Rasanya ia ingin benar-benar pulang dan menutupi seluruh wajahnya dengan selimut tebal.

“Sudah Tao, aku lebih baik pulang,” rengek Lyn menatap Tao yang memasang death glare miliknya.

“Baiklah, kamu boleh pulang. Sebelum itu, kamu harus menciumku dulu.”

“Cium? Dimana? Tadikan__”

“Itu tidak terasa apa-apa. Aku mau yang serius,” ucap Tao polos. Merengek layaknya anak kecil meminta permen padanya ibunya.

“Tidak, aku tidak mau. Aku mau pulang.” Lyn beranjak dari duduknya, hendak mengkah keluar ruangan. Kalau berlama-lama, ia bisa ketahuan oleh orang-orang. Sayangnya, Tuhan memiliki rencana lain. Tao menahan tangan Lyn, sampai menariknya mendekat. Otomatis gadis ini terjatuh ke dalam pelukan Tao. Ciuman kembali tak terhindarkan. Tao menyentuh bibir Lyn dengan bibir miliknya. Kedua tangan Lyn menopang tubuhnya agar tidak menindih tubuh Tao.

Sedetik kemudian, Lyn melepas pelukan Tao. Memaksanya untuk berdiri tegap merapikan rambut dan penampilan sebelum ia keluar. Tao berusaha berdiri, mengantar kekasihnya hingga pergi dari sini. Suasana menjadi hening, “Aku mau pulang, kamu jaga kesehatan.” Lyn berjalan mendekati pintu. Tao berjalan di belakangnya. Lyn  kembali berbalik, menatap Tao dengan memasang wajah sendu.

“Aku mencintaimu, dan aku merindukanmu. I love you~” Lyn maju selangkah menggapai tubuh Tao. Sekali lagi ia berani melakukan hal ini atas kehendak hatinya. Memeluk pria ini sehingga ia nyaman dalam dekapan tubuhnya. Tangan Lyn mengusap lembut punggung Tao. Dalam hati, ia berbisik agar pria yang dicintainya cepat sembuh. Dia sudah mulai terbiasa dengan kesehatan Tao yang terganggu akibat cedera. Tapi sekarang ia lebih berdoa jika Tao sehat kembali.

“Aku mencintamu,” ucap Tao setengah berbisik. Membalas pelukan Lyn. Tidak lama hanya sekejap. Mereka melepas pelukan satu sama lain. Sadar bahwa waktu mereka tidak banyak.

“Jangan lupa tetap hubungi aku,” ujar Tao. Lyn mengangguk menanggapinya sambil membentuk tangannya dengan telepon ke telinga. Pria itu terkekeh, lantas mengusap lembut rambut Lyn.

“Pulang sana, sebelum ketahuan yang lain.” Tao merangkul Lyn menuntunnya ke daun pintu yang terbuka. Sekali lagi, Lyn mencium Tao. Tidak di bibir melainkan di pipi kanan Tao. Mengejutkan Tao, telebih gadis itu langsung keluar tanpa mengucapkan apapun.

“Lyn~” pekik Tao keluar dari ruang. Kerumunan orang masih berlalu lalang di lorong. Tao tersenyum kikuk saat orang yang lewat menatapnya heran.

“Tao, kenapa kau keluar?” Suho menghampirinya, mendapati Tao bergerak keluar ruangan. Sebelumnya sudah ia peringati. Agar magnae EXO M ini, istirahat sebentar saja di dalam. Selama yang lain berganti pakaian. Di belakang Suho, sudah ada Kris, Sehun, Kai, Baekhyun, Xiumin, dan juga Luhan. Mereka berlari menyusul Suho sedang berbicara pada Tao.

“Cepat ganti bajumu. Kita ke dorm sekarang,” suruh Kris menepuk bahu Tao. Lalu masuk ke dalam ruangan diikuti member lainnya.

Kkeut~

Iklan

3 pemikiran pada “It’s Hurt

    • thank you for reading my story. hihi. aku pake sudut pandang pertama jadi agak membingungkan huehehe. mereka pasangan yang romantis :”) makasiiii ;3;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s