My Childish Appa

my childish appa cover

Author : loveyeollie (Park Cung San)

Main cast: Oh Sehun, Oh Nana (OC), Yoonjae (OC)

Genre: Comedy, Fluff, Family

Leght: Oneshot

Dimata orang-orang, ia seperti kakakku..

Dimataku, ia adalah ayah terhebatku..

Udara sejuk dari air conditoner  menggelitik tubuh Sehun yang terbungkus selimut tebal. Ia masih meringkuk di atas ranjangnya, tertidur pulas. Dengkuran-dengkuran kecilnya sesekali terdengar.

Dengkuran itu kemudian terhenti bersamaan dengan ditariknya selimut yang membungkus tubuhnya oleh seseorang. Dingin itu kini menyerang tubuh Sehun yang hanya mengenakan kaus tipis dan celana pendek.

“Bangun, sayang.” Suara lembut seorang wanita membangunkannya.

Sehun mengerjapkan matanya, wajahnya terlihat kusut. Ia bangkit perlahan merubah posisi menjadi duduk sambil menggaruk-garuk asal rambutnya. Siapa yang berani membangunkan Oh Sehun di tengah udara dingin seperti ini? Tentu saja istri tercintanya—Yoonjae.

Susah payah ia mengumpulkan kesadarannya dengan mata setengah terbuka. “Jam berapa ini?” tanyanya dengan suara serak—nyawanya saja bahkan belum terkupul semuanya.

“5 pagi.” Jawab Yoonjae enteng. Seketika mata Sehun mebelalak.

Apa?!

Jam 5 pagi?!

Yoonjae, kau gila?!

Untuk apa dia membangunkanku sepagi ini? Sehun mengumpat dalam hati. Ia benci bangun pagi. Tidak, ia tidak benci bangun pagi. Tapi tidak sepagi ini! Ia masih ingin melanjutkan tidurnya, dan bangun saat langit sudah mulai cerah, saat burung-burung berkicau, dan cahaya matahari pagi menyilaukan matanya dari celah-celah jendela kamar.

“Untuk apa membangunkanku sepagi ini, Yoonjae?” ucap Sehun malas. Ia kembali merebahkan tubuhnya ke belakang. Ranjang ini terlalu nyaman untuk kutinggalkan, batinnya.

Yoonjae mendekati Sehun. Dingin itu masih menusuk.

Ia duduk di sebelah Sehun yang sedang meringkuk memeluk guling. “Maafkan aku, sayang. Tapi aku harus pergi pagi ini.”

Sehun kembali bangkit, menatap Yoonjae yang sudah berpakaian rapi lengkap dengan mantel coklatnya.

“Kau mau kemana?”

“Baru saja ibu menelepon, adik sepupuku baru saja melahirkan. Dia butuh seseorang untuk menemaninya di rumah sakit.”

“Sepagi ini?” Sehun melotot.

Ibu mertuanya sudah gila. Ya, gila. Ia membuat istri dari Oh Sehun harus pergi sepagi ini.

Yoonjae mengangguk. “Kuserahkan Nana padamu, jaga dia baik-baik.”

“Hei, a—“

Belum sempat Sehun melanjutkan kalimatnya, Yoonjae mendaratkan ciuman lembut di bibir Sehun.

“Aku pergi dulu, ya.” Yoonjae melenggang menjauhi Sehun yang mematung, menyambar tasnya sebelum menghilang dari pandangan Sehun.

Arrggh! Sungguh menyebalkan, harus bangun sepagi ini. Bahkan Nana masih tidur di kamarnya. Sedangkan aku? Aku kehilangan waktu tidurku! Dan lagi, aku harus mengurus Nana tanpa Yoonjae! Untuk mengurus diriku saja aku butuh bantuan orang lain, dan sekarang di tambah mengurus puteri kecilku, Nana. Semoga aku tidak meracuni Nana hari ini, atau menyisir rambutnya hingga kusut.

Sehun menguap lebar lalu berjalan dengan langkah gontai, menyambar remote AC dan mematikannya. Kini udara terasa lebih hangat.

Kepalanya menyeruak dari balik pintu kamar Nana, puteri kecilnya masih tertidur pulas sambil memeluk boneka teddy bear kesayangannya. Sebuah senyuman terkulas di wajah Sehun. Nana sangat mirip dengannya, bisa dibilang Nana adalah Sehun versi perempuan. Dagunya lancip, bibirnya yang kecil, matanya yang sipit, sangat mirip dengan ayahnya.

Mata Sehun tertuju pada sebuah note yang  tertempel di pintu lemari pakaian Nana. Ia mendekati note itu dan membacanya perlahan.

Siapkan seragam Nana, semuanya ada di dalam lemari..

Jangan lupa sarapannya, dia suka nasi goreng dan telur mata sapi setengah matang..

Ikat rambutnya dengan rapi. Jangan sampai kusut!!

Jangan lupa menjemputnya..

Dan jangan buat rumah berantakan, Sayangku!

 

Apa-apaan? Bisa-bisa aku tidak kerja hari ini. Oh Yoonjae, Demi Tuhan! Aku bersumpah bukannya aku tidak mau mengurus Nana, tapi kau tahu sendiri aku bahkan kesulitan mengurus diriku sendiri.

Oh Sehun yang malang..

Ia tak punya pilihan lain, semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Nana.. Semoga..

*

“Selamat pagi, ayah!” Jerit seorang anak perempuan yang masih mengenakan piyama kuning pastelnya. Ia berlari dan memeluk Sehun yang sedang berkutat di dapur, tentu saja membuatkan Nana sarapan.

Sehun merasakan tangan-tangan kecil itu memeluknya dari belakang. Ia meninggalkan pan-nya sebentar dan berbalik badan memeluk Nana, putri kecilnya.

“Hei, selamat pagi tuan puteri.” Ucapnya sambil mengecup pipi Nana yang lalu terkikik geli.

Wajah Nana yang semula ceria jadi melorot, menyadari ada sesuatu yang kurang pagi ini. Ayahnya memakai apron bergambar strawberry, memasak sarapan untuknya, dan bangun lebih awal darinya. Kenapa seluruh tugas yang seharusnya dilakukan oleh ibu malah dilakukan ayah? Benar, Dimana ibu? Kenapa sosoknya tidak ada pagi ini?

“Ayah? Dimana ibu?”

“Dia pergi tadi pagi untuk menjaga bibimu yang baru saja melahirkan.”

“Benarkah? Jadi hari ini aku akan bersama ayah seharian?”

Sehun mengangguk.

“Yaaay!” Sorak Nana. “Ayah akan mengantarkan sekolah sekaligus menjemputku?” tanyanya lagi.

Sehun kembali mengangguk.

“Yaaayyy!” Sorak Nana lagi, sambil melompat-lompat riang.

Sehun menghela nafas panjang.

Oh Nana, semoga hari ini ayah bisa menjagamu dengan baik..

“Sayang, kau bisa mandi sendiri kan? Ayah masih harus menyelesaikan sarapan.”

“Tenang saja. Aku biasa mandi sendiri, yah.” Gadis kecil berumur 5 tahun itu menyiratkan senyuman yang menampakkan gigi-gigi kecilnya, lalu melenggang pergi menuju kamar mandi.

Bau apa ini?

Seperti ada yang terbakar..

Hei!! Telurnya hampir gosonggg!

Sehun cepat-cepat mematikan kompor dan mengangkat telur itu dari pan.

Ahh.. kekacauan pagi ini nampaknya sudah dimulai.

Oh Sehun yang malang..

*

Ayah dan anak itu kemudian masuk ke dalam mobil sedan hitam milik Sehun. Nana sudah tampak rapi dengan seragam sekolahnya, rambutnya dibiarkan terurai—lebih baik, daripada harus pergi ke sekolah dengan rambut kusut karena ayahnya—dan sebuah bando merah muda menghiasi kepalanya, menambah aksen manis.

Bagaimana dengan Sehun? Jangan tanya. Kaus putih dibalut kemeja kotak-kotak merah, jeans hitam panjang dan sneakers putih. Rambutnya masih terlihat sedikit berantakan, dia mandi tapi tidak menyisir rambutnya. Ia tak ingin Nana terlambat hanya karena rambutnya.

Well, dia selalu tampan mengenakan apapun, masih seperti pria single. Tak heran, jika orang-orang menganggapnya adalah kakak Nana.

Mobil sedan itu melaju meninggalkan rumah Sehun menuju sekolah Nana. Sehun mengambil ponselnya dan mencari nomor Jongin di kontaknya. ia menyelipkan ponselnya diantara bahu dan telinga, sementara kedua tangannya sibuk menyetir. Nada sambung terus terdengar hingga Jongin mengangkat teleponnya.

“Hallo?”

Hyung, aku tidak pergi bekerja hari ini. Aku harus mengurus Nana sendirian.”

“Apa? Kemana Yoonjae? Kalian bertengkar?”

“Tidak, ia hanya pergi menemani sepupunya yang baru saja melahirkan.”

“Ouh.. Baiklah. Akan kusampaikan pada bos. Jagalah Nana dengan baik.”

“Hmm. Sudah dulu ya, aku sedang menyetir.” Sehun mematikan teleponnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemeja kotak-kotaknya.

See?  Seorang Oh Sehun bahkan harus mengambil libur kerja untuk mengurus anaknya. Padahal tanpa libur pun, ia tetap bisa menjaga Nana. Ia tak ingin pikirannya terbagi, ia harus berkonsentrasi pada Nana.

*

Mereka sudah sampai di sekolah Nana, gadis kecil itu menggendong tasnya, Sehun melayangkan kecupan lembut di kening Nana sebelum Nana keluar dari mobil.

“Sampai bertemu nanti siang.” Ujar Sehun. Nana hanya membalas dengan senyuman.

Sehun membuka kaca mobil supaya Nana bisa melihat wajahnya dari luar. Ia melambaikan tangan pada Sehun yang berada di dalam mobil, kemudian berjalan masuk ke dalam areal sekolah.

Sehun menutup kaca dan melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Nana.

*

Rumah tampak berantakan, perabotan kotor, baju kotor, bungkus makanan berserakan. Pening menyerang kepalanya, dia butuh Yoonjae. Yoonjae? Kau dimana?!

Ia mulai menggulung lengan kemejanya, memunguti bungkus makanan yang berserakan. Kemudian memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci, memasukkan deterjen lalu menghidupkan mesin cucinya.

Sehun memakai sarung tangan untuk mencuci piring dan mengambil botol sabun cuci piring. Oh, shit! Sabunnya habis. Bagaimana ini?

Ia memutar bola matanya, kemudian ia berlari mengambil sesuatu. Bukan Oh Sehun namanya jika tidak melakukan tindakan bodoh dan ceroboh.

Benar saja! Di tangannya kini sudah terdapat sebungkus deterjen. Mau apa dia?

“Gunakan ini saja, lagipula fungsinya sama-sama untuk mebersihkan.” Ucapnya sambil menuangkan beberapa sendok deterjen ke dalam sebuah wadah, mengisinya dengan air, mencelupkan spons dan meremas-remasnya hingga mengeluarkan busa. Spons penuh busa itu kemudian digunakannya untuk membersihkan seluruh perabotan kotor.

Dia benar-benar sudah gila, apa susahnya pergi ke mini market dekat rumahnya untuk membeli sabun cuci piring.

Sehun sudah selesai dengan semua pekerjaan rumahnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa empuk di ruang tamu. Titik-titik keringat membasahi tengkukny. ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10 siang.

Gawat! Aku harus menjemput Nana.

Sehun menyambar kunci mobil lalu pergi menuju sekolah Nana.

*

Kenapa sepi? Apa semuanya sudah pulang? Jangan-jangan aku telat menjemput Nana. Bagaimana ini?

Oh Sehun, seharusnya tak perlu panik. Apa gunanya satpam di sekolah? Dasar bodoh.

Sudah 30 menit dia menunggu. Sehun meremas-remas ujung kemejanya, celingukan dari dalam mobilnya. Matanya terus tertuju pada sekolah Nana. Kenapa sepi sekali ya? Ah, sebaiknya ku tanyakan pada satpam saja. Kenapa tidak kau lakukan dari tadi Oh Sehun!

Sehun menghampiri seorang satpam yang sedang berjaga. “Pak, sekolah ini sudah pulang daritadi kan? Apa kau lihat seorang gadis kecil yang mirip denganku, rambutnya hitam lurus dan terurai, ia mengenakan bando merah muda. Kau melihatnya?”

Satpam itu tertawa. “Nak, adikmu masih belajar di dalam kelas. Kau menjeput lebih awal 30 menit.”

Sehun melongo seperti orang bodoh. Dia benar-benar bodoh. Ternyata Nana belum pulang, pantas saja sepi.

Hei! Adik? Satpam itu mengira Nana adalah adikku? Oke, aku bahagia ternyata wajahku masih terlihat muda, tapi aku adalah ayahnya! Setidak pantas itukah aku menjadi seorang ayah untuk Nana?

“Terima kasih.” Ucap Sehun datar. “Hei pak, aku ini seorang ayah dari Oh Nana. Aku bukan kakaknya.” Tambahnya lagi datar.

Satpam itu mengernyitkan alisnya. “Maaf, kukira kau belum menikah.”

Sehun mengangguk, memaklumi satpam itu. Wajahnya memang baby face. Kadang ia menyukai itu, tapi terkadang tidak. Seperti saat ini, ingin rasanya ia membuktikan bahwa ia pantas disebut ayah.

*

Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan berakhirnya jam sekolah. Murid-murid berhamburan keluar dari kelasnya, berlomba-lomba menuju orang tua mereka yang menjemput. Aku memanjangkan leher, mencari sosok Nana diantara murid-murid itu.

Itu dia!

Mata kami bertemu, Nana berlari ke arahku.

“Ayaaah!” Serunya sambil memelukku.

“Kau sepertinya gembira sekali.” Ucapku.

“Tentu saja! Ini pertama kalinya ayah menjemputku, dan tidak terlambat.” Ucapnya riang.

“Siapa yang tega membuat seorang tuan puteri secantik dirimu menunggu?” godaku sambil menggandeng tangan mungil Nana menuju mobil.

Kami melaju pergi meninggalkan sekolah Nana. Hari ini matahari bersinar cukup terik, cuaca yang bagus untuk menikmati waktuku bersama Nana. Hari dimana hanya ada ayah dan anak perempuannya. Bukankah itu menyenangkan?

“Nana, kita tidak langsung pulang, ya.”

“Kita mau kemana, yah?”

“Jalaaaan-jalaaaan!!” Teriak Sehun.

“Yaaaay! Jalan-jalan dengan ayah!” Nana ikut berteriak.

Mereka terlihat bersemangat, mengobrol sepanjang jalan dan sering kali Nana tertawa geli karena Sehun. Menikmati perjalan mereka hingga akhirnya tiba disebuah departement store.

Sehun menggandeng tangan mungil Nana memasuki gedung berlantai 20 itu. Nana terlihat sangat bersemangat, mereka memang jarang pergi bersama. Lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Dan hari ini adalah hari dimana mereka pergi bersama kembali.

Tempat yang mereka tuju tidak lain dan tidak bukan adalah gamezone. Tempat paling ribut dan paling ramai yang ada di dalam gedung berlantai 20 itu.

Mata Nana berbinar-binar melihat mesin-mesin mainan itu menyala, mengeluarkan suara, dan berkelap-kelip. Rasanya tak sabar untuk memainkannya.

“Ayo, yah! Kita main!” Serunya sambil menarik lengan kemeja Sehun.

“Baiklah, ayah beli koin dulu. Sehun mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan menukarnya dengan koin.

Nana menarik lengan Sehun menuju sebuah mesin mainan berisikan boneka-boneka. Sebuah teddy bear  besar menjadi incarannya. Matanya terus tertuju pada boneka itu.

Menyadari hal itu, Sehun memasukkan koin dan menggerakkan mesin itu untuk mengambil boneka itu. Nana memperhatikan, ayah dan anak itu tampak serius. Wajah mereka bagai pinang dibelah dua! Menampakkan ekspresi yang sama dengan bentuk wajah yang sama.

Sedikit lagi.. yakk.. sedikit lagi—

Gagal.

Sehun mencoba lagi.

Gagal.

Sekali lagi.

Gagal.

Mungkin sekali lagi.

Dan..

GAGAL.

Sehun mencoba terus-menerus hingga koinnya habis. Wajah Nana tampak kecewa, itu terlihat jelas. Sehun tahu itu pasti menyakitkan, ia tak ingin putrinya kecewa.

“Tunggu disini.” Ucapnya pada Nana kemudian berlari menuju tempat pembelian koin dan kembali lagi dengan tangan yang penuh dengan koin. Seketika raut wajah Nana berubah ceria kembali, bersemangat kembali.

Sehun mencoba sekali lagi.

Dan..

Gagal.

Mencoba lagi.

Tetap gagal.

Koin di tangannya semakin berkurang, hingga tersisa kepingan terakhir.

“Nana, percaya pada ayah. Kita akan dapatkan tuan teddy bear itu!” ucapnya bersemangat.

“Ayah.. jika gagal. Aku takkan sedih.” Ucap Nana pelan, dia tau ayahnya berusaha keras. Walaupun ia ingin sekali boneka itu.

“Ssstt.. ayah berkonsentrasi.”

Nana beralih memandang boneka yang mulai terjepit, mesih itu mengangkatnya perlahan.. dan.. dan.. Dapat! Boneka itu terguling keluar dari mesinnya.

“Yaaaay!” Sorak Nana gembira. Sehun memberikan boneka itu pada putrinya, Nana meraih boneka  setinggi 1 meter itu dan memeluknya erat.

Sehun tersenyum puas melihat Nana yang bahagia, dadanya sesak akan kebahagiaan. Tak percuma ia mengeluarkan banyak uang dan menghabiskan waktunya berkutat dengan mesin penangkap boneka ini. Semuanya terbayar dengan tawa riang Nana.

Sehun berjongkok di depan Nana yang memeluk boneka barunya itu.

“Kau senang?”

“Sangat! Terima kasih, ayah!” Nana mencium pipi Sehun lembut. Sehun hanya tertawa geli.

Mereka sesaat menjadi pusat perhatian di arena permainan itu. Bagaimana tidak? Melihat ayah muda bersama anak perempuannya menghabiskan waktu bersama di depan mesin penangkap boneka, ditambah lagi ayah muda itu berhasil mendapatkan boneka yang diinginkan anaknya.

Sehun merasakan haus di tenggorokannya. Ia butuh minum, Nana juga. Mereka berjalan melewati lorong pusat perbelanjaan menuju food court. Sehun membeli segelas cola untuknya dan beberapa scoop es krim untuk Nana. Dingin mengalir di tenggorokkan mereka, menghapus haus.

Mereka duduk di sebuah kursi bersama tuan teddy bear yang baru saja di dapatkan Sehun untuk putrinya.

Nana makan dengan sangat berantakan, es krim mengotori mulut dan pipinya, tangannya, dan.. Oh tidak! Baju seragam Nana juga. Yoonjae bisa marah dan membunuhku, seharusnya aku membawakan baju ganti untuk Nana.

Sehun panik.

“Na, tunggu disini. Ayah akan mencarikan tisu.” Sehun berlari menuju stan es krim tadi dan kembali dengan beberapa lembar tisu di tangannya.

Mengelap wajah dan tangan Nana yang belepotan es krim, lalu menggosok-gosok noda es krim pada baju Nana.

Shit!

Bukannya hilang, noda itu semakin melebar. Sehun berhenti menggosoknya. Ah, biarkanlah. Noda itu bisa kucuci sebelum Yoonjae pulang.

“Ayah.. aku ingin pipis.” Ucap Nana sambil meletakkan cup es krim yang sudah kosong.

Sehun bangkit dari kursinya. “Ayo, ayo kita harus cepat ke toilet.”

“Tapi ayah, aku tidak bisa berjalan sambil menahan pipis. Aku bisa ngompol.

Wajah Nana berubah cemas, hasrat ingin pipisnya terus menggelitik. Sehun memutar bola matanya, jika ia harus menggendong Nana, bagaimana dengan tuan teddy bear  yang besar? Meninggalkannya disini? Mungkin kali ini Nana yang akan membunuhku dengan tangisan hebatnya.

Sehun berjongkok, supaya Nana bisa naik ke punggungnya. “Ayo naik ke punggung ayah.”

“lalu tuan teddy?” Nana naik ke punggung ayahnya.

Sehun bangkit dengan Nana yang sudah berada di punggungnya. Sebelah tangannya menjaga Nana di belakang dan yang sebelah lagi mengapit boneka beruang  besar itu diantara pinggang dan tangannya.

Ia berjalan menuju toilet, tentu saja bersama Nana dan bonekanya. Gadis-gadis muda berseragam sekolah berbisik-bisik sambil melihat ke arahnya, ibu-ibu muda yang sedang berbelanja juga terlihat memperhatikan. Sehun bangga bisa menggendong putri kecilnya yang cantik, tak ada masalah baginya.

O..o..

Sehun mempunyai masalah saat tiba di depan toilet.

Pria? Wanita?

Tentu Nana adalah wanita, tapi masalahnya adalah Nana tidak berani pipis sendirian di toilet umum. God! Apa yang harus kulakukan?

Aku tidak mungkin masuk ke dalam toilet wanita, itu gila! Oke, Sehun memang gila, tapi tidak sampai batas itu.

Tidak ada pilihan lain selain membawa Nana masuk ke toilet pria, Sehun akan menutup mata putrinya saat masuk ke dalam toilet. Itu tidak akan jadi masalah.

Dan mereka pun kembali dari toilet pria dengan selamat. Nana tidak jadi mengompol, tuan teddy masih tetap bersama mereka, dan Sehun tidak perlu di lempari heels, tas tangan, atau lipstick karena masuk ke dalam toilet wanita.

*

Masih di dalam departement store, mereka kini sedang berjalan diantara baju-baju anak. Siapa tahu ada baju yang cocok untuk Nana. Nana berjalan mengikuti Sehun yang menggendong masih tuan teddy dari belakang sambil. Ia mengamati baju-baju manis yang tergantung, warnanya memang menggoda mata.

Jika Nana punya kartu kredit, ia pasti sudah pulang dengan banyak tas belanjaan di tangannya, membuka pintu rumah dengan kaki kemudian merebahkan tubuhnya di sofa dan berkata: shopping hari ini melelahkan.

Oke kembali pada ayah, anak perempuan, dan boneka beruang. Sehun terus berjalan, matanya tertuju pada sebuah dress simple berwarna biru muda di ujung sana. Sepertinya sangat cocok untuk Nana.

Sehun mengambil dres  itu, membolak-balik, memperhatikan detailnya lalu tersenyum. Pas! Ia membalikkan tubuhnya, hendak mengukur dress di tangannya itu di tubuh Nana. “Nana, lihat ini. coba—“ Kalimat Sehun berhenti.

Senyuman di wajahnya luntur.

Tuan teddy melorot dari kepitannya dan jatuh ke lantai. Begitu juga dengan dress kecil yang di pegangnya.

Nana tidak ada..

Dimana Nana?!

Nana hilang?!

“Nana..” panggil Sehun setengah melamun. “Nana! Nana! Oh Nana!” Sehun menjerit-jerit. Menarik perhatian semua orang yang ada disana. Sehun tidak peduli! Panik mendera kepalanya.

Sehun mencari di antara baju-baju, dengan gusar menyibakkan baju-baju itu. Tidak ada, Nana tidak ada. Bagaimana ini? Dimana Nana?

Sehun berlari kesana kemari, menjambak rambutnya. Wajahnya seperti orang frustasi. Otaknya tak dapat berfikir jernih. Ia kelelahan mencari Nana diantara baju-baju itu. Nihil. Nana tetap tidak dapat ditemukan.

Ia berjongkok tepat dimana tuan teddy tergeletak di lantai, memeluknya erat dan terisak. “Nana.. Kau dimana?”

Seorang pelayan departement store lalu mendekatinya.

“Maaf, tuan?”

Sehun menoleh ke arahnya. “Nona, tolonglah. Putriku hilang. Tadi dia disini bersamaku. Bersama tuan teddy  juga.” Ia bangkit dan wajahnya sudah basah karena air mata.

Pelayan itu tersenyum, mencoba menenangkan Sehun. “Tuan, coba anda hubungi bagian informasi kami. Mungkin anak anda sedang bersama dengan salah satu pegawai kami.”

Bravo!  Kenapa tidak terpikirkan olehku? Oh Sehun, kau harus bisa belajar menenangkan dirimu terlebih dahulu.

Sehun berlari menuruni eskalator, bersama boneka beruang besar. Melewati orang-orang sekaligus menyesakkan orang-orang itu dengan boneka besar di tangannya.

Nana.. Tunggu ayah..

Ayah akan menemukanmu..

Ia tiba tepat di bagian informasi di lantai dasar, tidak ada Nana. Ah, setidaknya aku harus menanyakannya dulu.

Didekatinya seorang petugas informasi. “Uhm.. Nona. Apa kau melihat putriku? Rambutnya panjang lurus, memakai seragam sekolah bernoda es krim, dan memakai bando merah muda.” Sehun menjelaskan.

“Maaf tuan, tapi baru saja anak itu pergi dengan seseorang yang mengaku sebagai pamannya. Wajah mereka terlihat mirip, jadi aku percaya.” Jawab petugas informasi itu.

“APAAAAA??!!!” Pekik Sehun. “Kau membiarkan anakku pergi dengan orang lain?! Aku ayahnya!!” Sehun merasa dunianya runtuh. Seharusnya jika ia lebih cepat, Nana tidak akan diculik atau dibawa oleh orang lain.

Orang-orang memperhatikan seorang pria menggendong boneka beruang besar berteriak di meja informasi dan petugas informasi yang berwajah pucat.

Wajah imut Sehun berubah drastis, ia mirip monster. Mata merah, rambut berantakan, wajah kusut, ditambah teriakan seram.

“Ma-maafkan aku tuan. Tapi putrimu sendiri yang memanggil orang itu ketika lewat di depan meja informasi.” Ujar petugas informasi berwajah pucat itu.

Sehun semakin frustasi, ia kembali menangis. Kakinya terasa lemas.

Nana.. kau pergi kemana?

Apa dia diculik?

 

Siapa yang bersamanya saat ini? Kuharap bukan pedagang gulali di depan sekolahnya..

 

Tidak! Tidak bisa! Aku harus temukan Nana sendiri..

 

Harus!


Baru saja Sehun bangkit dan hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba suara cempreng seorang gadis kecil terdengar dari kejauhan.

“Ayaaaahh!”

Sehun membalikkan tubuhnya, matanya menangkap sosok putri kecilnya—Nana—sedang berlari ke arahnya. Wajah Sehun seketika berubah, segala kepanikan dan ketakutan itu hilang. Ia yakin tidak bermimpi, putri kecilnya kembali. Mereka berpelukan erat, erat sekali.

Sehun menangis sesenggukkan di balik pelukan Nana.

“Maafkan ayah. Maafkan ayah, Nana. Ayah tidak menjagamu dengan baik. Maafkan ayah.” Sehun terus terisak.

Ia merasakan jitakan di kepalanya, sakit. Nana memukulnya? Tidak mungkin. Ia menengadahkan kepalanya, menangkap sosok pria berwajah familiar.

“Luhan hyung!” Sehun tersentak melepaskan pelukan Nana.

“Hei, balita! Hanya menangis yang bisa kau lakukan?” bentak Luhan.

“Aku bukan balita, rusa tua! Aku juga tidak hanya menangis, aku mencari Nana yang hilang.” Sehun membela diri.

“Yang hilang itu kau! Bukan Nana! Bahkan ia berjalan sendirian di tengah area penuh baju dan kehilangan ayahnya, jadi ia mencari seorang pegawai untuk mengantarnya ke bagian informasi, untuk menemukan ayahnya. Kau benar-benar..” Oceh Luhan.

Sehun tertunduk. “Aku hanya sedang mencarikan dress untuknya..”

Matanya memandang putri kecilnya yang sedang menggenggam segelas bubble tea. Ia tak percaya ini terjadi padanya, putri kecilnya yang pintar sedangkan dirinya yang bodoh. Sehun kembali menitikkan air mata, Luhan jadi tidak tega.

“Kau benar, hyung.. Aku bodoh, aku seperti anak kecil, aku bahkan tak pantas disebut ayah..” Sehun terisak.

Nana menarik kemejanya. “Ayah.. jangan menangis. Aku disini. Aku hanya pergi sebentar bersama paman Luhan membeli bubble tea. Ayah mau?” ia menyodorkan segelas bubble tea yang dipeganggnya pada Sehun.

Sehun tertawa, ia mengusap air mata itu dengan punggung tangannya dan menerima segelas bubble tea yang diberikan Nana. Menyedotnya.

“Sehun, jaga Nana baik-baik lain kali. Kau sudah menjadi ayah yang baik untuknya, ia bercerita padaku tadi. Dia bilang dia senang pergi denganmu, dia senang mempunyai ayah sepertimu. Bahkan dia bilang kau rela tidak pergi ke kantor demi Nana.” Luhan tersenyum.

Sehun terpaku mendengar kata-kata Luhan. Kata-kata yang menusuk jantungnya, tidak terasa sakit melainkan indah.

Dia senang pergi denganmu..

Dia senang mempunyai ayah sepertimu..

Kalimat itu, merupakan kata terindah yang pernah ia dengar. Rasanya ingin menangis, tapi diurungkannya melihat wajah Nana yang sangat ceria. Dia tidak menangis, sungguh putriku yang hebat.

“Terima kasih, hyung. Kau sudah menjaga Nana..” ucap Sehun.

Luhan tersenyum tulus dan pergi meninggalkan mereka berdua lebih dulu, katanya ia akan menjemput Xingli yang sedang les mandarin.

*

Langit sudah berubah warna menjadi jingga, Sehun dan Nana melewati jalan raya menuju rumah tercinta. Berbelok di ujung jalan dan akhirnya sampai.

Sebelum turun dari mobil..

“Ayah, terima kasih. Aku senang hari ini.” Sehun tertegun mendengar kalimat yang keluar dari bibir mungil Nana. “Walaupun bajuku kotor dan ayah tiba-tiba menghilang.. aku suka hari ini. Seru sekali. Dan terima kasih sudah mendapatkan tuan teddy untukku juga menggendongku menuju toilet.. Ayah hebat, aku sayang ayaaaaah.” Nana melompat ke pangkuan Sehun dan memeluknya erat.

Sehun memeluk Nana erat, ia merasakan dadanya dipenuhi berjuta kebahagiaan, ingin meledak, ingin menangis. Sehun mencium lembut pipi Nana yang membuat Nana terkekeh geli.

“Ayah juga sayang padamu..”

Sehun memang bukan sosok ayah yang cerdas dan gagah..

 

Bukan ayah yang berwibawa dan dewasa..

 

Tapi Sehun selalu ingin membahagiakan putri kecilnya..

 

Tak peduli ia terlihat bodoh, gila, atau idiot..

Ia hanya peduli Nana, hanya ingin Nana bahagia..

 

hanya ingin Nana bangga punya ayah sepertinya..

 

END

 

 

Sehunnie little angel, Oh Nana

Gimana readers? Ingin punya appa seperti Sehun? 😀

Aku sih pengennya punya suami yang kayak Sehun *plakkk

Hahaha.. silahkan di komen ya, maaf sekali jika ada yang gak nyambung dan kurang berkenan di hati.

Caooo~

65 pemikiran pada “My Childish Appa

  1. iyaa pengen punya ayah yg ganteng dan imut kayak sehun
    haha akhirnya sehun mendapati pelajatan menjadi seoranh ayaahh
    cerita yg maniiss dari seoranh ayah dan anak
    aku suka ceritanya hihi

  2. aku nangis, pengen punya ayah kaya sehun gk perlu ganteng imut atau sebagainya cukup dia mau berusaha membahagiakan anaknya dgn cara apapun tdk peduli dia kelihatan bodoh sekalipun dia mau membahagiakan anaknya :’) pgn kaya gitu, iri, karena kenyataannya aku gk pny-gk tau-siapa sosok ayahku. hehehe yg pasti bahagia pny ayah seperti oh sehoon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s