Sunrise Never Rise (Chapter 1)

sunrise-never-rise-cover2

 

Tittle : Sunrise Never Rise Part 1

Author : Miss. Park

Genre : Romance

Lengt : Chapterd

Rate : All Age

Main Cast : Kris EXO M as Wu Yifan/Kevin Wu

Choi daeun (oc)

Other cast : EXO K Kai as Kim Jongin

EXO K Suho as Kim Joonmyun

Song Mira (oc)

FB/Twitter : Siti Rahayuningtyas/@LeeYeppeo1004

 

o0o

“Bagaimana kabarmu?”.

Aku tersenyum pahit sambil menunduk memperhatikan daun-daun kering yg tergeletak di dekat kakiku. Bingung harus menjawab apa. Bisa dibilang kehidupanku berubah 360⁰ semenjak kehadiran Song Mira.

“Yah seperti yg kau lihat”. Hanya itu yg terlontar dari mulutku. 

“Daeun-ah, aku…”.

“Aku minta maaf”. Potongku.

“Lupakan. Itu sudah berlalu. Lagi pula itu juga bukan salahmu”.

“Aku tau. Maka dari itu aku minta maaf, karenaku juga kau jadi terlibat dalam masalah ini”.

Tidak ada jawaban, Jongin hanya terkekeh. Memangnya ada yg lucu ya?

“Ada apa? Memangnya ada yg lucu?”.

“Ani. Aku hanya ingat sewaktu kita sekolah dulu. Ini tempat favoritmu, pertama kali aku melihatmu kau menangis sambil bersandar di pohon ini. Lalu, esoknya aku tidak sengaja meihatmu marah-marah, esoknya lagi kau terlihat senyum-senyum sendiri. Aku pikir kau itu gadis gila yg hampir setiap hari moodnya selalu berubah dengan cepat”.

“Kita sudah kenal cukup lama semenjak kejadian kau tidak sengaja melempar bola basket dan sialnay mengenai kepalaku. Rasanya sudah lama sekali ya”.

“Eum”.

Aku ingat betul pertemuanku dengan Jongin yg dibilang tidak mengenakkan. Ditambah lagi pria jangkung yg selalu menatapku seolah ingin memangsaku. Tapi mengingatnya, aku hatiku semakin sakit sekaligus merindukannya.

“Astaga! Jam berapa ini?”. Aku terlonjak dan langsung beranjak dari dudukanku. Hampir saja lupa. Niat awalku pergi bekerja dan tanpa sadar aku tiba di sini dan itu artinya aku terlambat!

“Pukul 10, wae?”.

“Aku terlambat bekerja. Jongin~ah, aku pergi dulu lain kali kita bertemu ya. Annyeong”.

Aku berlari sambil melambaikan tangan pada Jongin yg masih berdiri di posisinya tadi. Maaf Jongin aku meninggalkanmu.

.

Ketika sampai di kantor tempat dimana aku bekerja, aku langsung bergegas menaiki lift menuju lantai 5 ruangan dimana aku bekerja. Dan untungnya hari ini aku selamat. Bosku menghubungiku kalau dia datang terlambat karena ada urusan mendadak. Ish, kalau begitu harusnya aku lebih lama saja mengobrol dengan Jongin.

Tapi tak apalah, setidaknya aku selamat dan bosku tidak tau kalau sekretarsnya ini datang terlambat haha. Kusandarkan tubuhku sambil mengerjakan berkas-berkas penting sebelum di tanda tangani bosku. Baru saja aku duduk, sudah dihadapkan dengan beberpa pekerjaan yg cukup membuat tanganku keriting dan mataku rabun.

Saat akan mengambil ponselku, mataku tertuju pada sebuah bingkai foto yg didalamnya terdapat fotoku dan juga…. mantan tunanganku. Menyedihkan bukan sampai saat ini aku masih menyimpan foto itu, menyimpan rasa cintaku yg masih ada sampai saat ini pada pria itu dan yg lebih menyedihkan lagi aku berharap kami bisa bersama lagi.

“Apa saatnya aku benar-benar harus melupakanmu… Wu Yifan?”. Gumamku. Tak terasa air mataku mengalir. Tidak, aku tidak boleh menangis. Tapi aku yakin, sebuanya akan terungkap siapa yg salah dan siapa yg benar. Song Mira, tunggu waktu yg tepat untuk aku membalasmu.

.

Sepulang bekerja seperti biasa aku langsung merapihkan rumahku yg sedikit berantakan. Lelah memang tapi mau bagaimana lagi. Dan juga karena lusa aku harus ikut perjalanan dinas bersama bos dan juga beberapa karyawan ke China, tidak ada salanya kan bersih-bersih rumah yg otomatis selama satu minggu aku terlantarkan.

Tinggal sendiri memang membuatku kerepotan pada awalnya. Yg biasanya urusan memasak dan memberihkan rumah dikerjakan pembantu, tapi ini semua aku yg kerjakan. Melelahkan. Disaat seperti ini aku jadi merindukan eomma dan appa.

Aku masih sering mengunjungi mereka, tapi kalau Mira sedang tidak ada di rumah. Bukan aku takut, tapi aku malas melihat wajah gadis licik itu. Dengan enaknya dia sekarang menjabat sebagai manager di perusahaan appa. Sedangkan aku? Aku yg notabene anak kandung keluarga Choi malah mencari kerja di luar. Aku tidak marah pada appa, hanya saja Song Mira yg selalu bermulut manis dan dengan mudahnya menghasut kedua orang tuaku sampai sekarang.

Kulihat jam dinding menunjukkan jam 8 malam. Aku baru ingat aku belum makan malam dan parahnya lagi aku kehabisan stok bahan makanan. Lebih baik aku makan di kedai dekat apartemen saja. Lebih praktis dan tentunya aku tidak perlu memasak. Yah, hitung-hitung sekaligus jalan-jalan.

.

“Ahjumma, aku pesan ddeokboki satu dan juga soju”.

Aku menoleh pada seorang pria yg suaranya sangat aku kenal.

“Jongin?”.

“Daeun? Kita bertemu lagi. Kebetulan sekali, kau sendiri?”.

“Eum”.

Jongin langsung duduk disebelahku dan menuangkan soju yg baru saja di antar oleh pelayan kedai lalu meminumnya dalam sekali tenggak.

“Sudah pesan makanan?”.

“Sudah. Oh ya Jongin~ah, maaf tadi aku meninggalkanmu begitu saja. Aku lupa kalau aku harus bekerja, untungnya bosku datang sedikit siang jadi aku selamat”.

“Bos? Ayahmu? Kenapa harus canggung kalau bosmu itu ayah sendiri?”.

Jongin terkekeh. Benar, dia belum tau kehidupanku sekarang. Saat Song Mira merampas semuanya dariku. “Ani, bukan ayahku. Tapi orang lain”.

Pria disebelahku ini mengerutkan alisnya. Aku bingung harus memulai dari mana. Memang sejak SMA dulu salah satu teman dekatku adalah Jongin dan aku selalu menceritakan hampir semua masalahku padanya. Mulai dari perubahan sikap Song Mira dan juga kedua orang tuaku, masalah hubunganku dengan pria-pria yg dekat denganku dan lain-lain.

Tapi masalah Mira ingin merebut harta orang tuaku, Jongin tidak tau karena saat itu terjadi kami sudah lulus SMA dan selanjutnya, aku tidak pernah bertemu Jongin lagi karena dia harus meneruskan kuliahnya di Amerika.

2 buah mangkuk berisi penuh ddeokboki pesanan kami tiba dan itu membuatku tersadar dari lamunanku.

“Sebaiknya kita makan dulu, nanti akan aku ceritakan”.

“Kau benar, aku sudah lapar”.

Author PoV

Keduanya terdiam setelah pembicaraan panjang yg Daeun ceritakan pada Jongin. Daeun memainkan kakinya di antara pasir-pasir mengukir sebuah nama dengan kakinya. Nama pria yg sampai saat ini masih di cintainya.

 “Maaf, aku pergi setelah itu. Bukan melarikan diri tapi…. Orang tuaku mendadak sakit di Amerika dan mengharuskanku pergi, maaf”.

“Gwenchana. Mungkin dengan cara seperti itu Tuhan menunjukkan kalau kami tidak berjodoh”.

“Aku yakin dia masih mencintaimu”.

Daeun tersenyum miris mengingat apakah pria yg waktu itu hampir menjadi suaminya tu masih mencintainya setelah ia termakan oleh omongan Song Mira?

“Kuharap begitu. Tapi yg jelas sekarang aku harus kembali merebut semua apa yg menjadi hakku”.

“Eum, kau harus mendapatkan hakmu sebagai pewaris tunggal perusahaan keluarga Choi, dan juga sebagai calon istri dari…. Wu Yifan”.

.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang, maaf merepotkanmu”.

“Gwenchana, asal kau yg selalu merepotkanku itu tidak masalah bagiku”.

Keduanya tersenyum. Dihatinya Jongin berharap Daeun benar-benar melupakan Yifan dan menyadari perasaannya selama ini dapanya. Tapi sepertinya gadis itu sudah menutup hatinya untuk pria lain selain Yifan.

“Masuklah, diluar dingin”.

Daeun mengangguk lalu berbalik hendak memasuki loby apartemennya. Tapi langkahnya terhenti, ia ingat sesuatu. Ia pun membalikkan badannya.

“Jongin~ah, lusa aku ada perjalanan bisnis ke China. Doakan aku jika suatu saat nanati disana aku bertemu dengan Yifan”.

Hanya itu. Setelahnya Daeun kembali memasuki loby apartemen dan menaiki lift. Ada rasa sesak di dada Jongin ketika tau bahwa gadis yg selama ini ia cintai diam-diam masih sangat mencintai dan bahkan berharap mantan tunangannya itu kembali.

Dengan menahan rasa kecewanya, Jongin menaiki mobilnya dan memacunya dengan kecepatan tinggi. Ia kesal dan kecewa. Tapi untuk marah pada gadis itu saja sulit karena rasa cintanya yg begitu mendalam. Seharusnya ini jad kesempatan bagus untuknya mendapatkan hati Daeun, tapi tidak semudah itu. Daeun masih mencintai pria keturunan China-Kanada itu.

Tainan, China.

Tayih Landis Hotel Taina.

Daeun PoV

Aku baru saja tiba di China, ah tepatnya di Hotel tempat aku, bos dan 4 orang karyawan menginap selama satu mingu di sini. Perjalan singkat namun melelahkan. Ini bukan pertama kalinya aku ke China karena… yah pria itu memang orang China. Jadi mau tak mau dia sering mengajakku ke China. Tapi kali ini berbeda, yg mengajakku adalah bosku dan tentunya untuk tugas kantor.

Entah kenapa aku merasa gugup. Aku berharap bisa bertemu dengan Yifan di sini. Tapi apa mungkin? Dan lebih pentingnya lagi apa mungkin dia mau bertemu denganku dan memaafkanku?

Aish, ini membuatku gila.

“Daeun~ah, kenapa sajangnim mengdakan perjalanan bisnis ini selama sau minggu? Apa tidak terlalu lama?”.

Gain, teman satu kamarku membuatku terdadar dari lamunanmu. “Nde? Ah, sebenarnya kita hanya akan bertemu klien utama kita dalam meeting besok pagi, besoknya lagi kita akan melihat sudah sejauh mana cabang perusahaan yg baru dibangun di China. Kalau kulihat dari jadwal hanya itu”.

“Lalu 4 hari kedepan?”.

“Oh iya, sajangnim member kita liburan di sini”.

“Wah, akhirnya kita dapat liburan gratis. Sajangnim memang baik. Oh ya, apa kau pernah melihat sajangnim membawa seorang wanita ke ruangannya?”.

Aku mengerutkan keningku bingung. Ku raih bantal empuk dan kutumpukan kepalaku di bantal sambil tetap focus pada obrolan kami yg terlibang tidak terlalu penting.

“Kenapa kau menanyakan itu padaku?”.

“Eiiy,, kau itu kan sekretarisnya dan selalu mengekornya kemanapun sajangnim pergi jadi otomatis kau tau kan?”.

“Sepertinya tidak. Memangnya kenapa? Kau menyukai sajangnim? Ku akui sajangnim itu tampan dan juga pintar, tapi dia bukan tipeku”.

Tiba-tiba pikiranku menerawang jauh dan entah kenapa sosok pria itu muncul di hadapnku dengan senyum khasnya sambil mengulurkan tanganya. Benarkah itu kau?

“Yifan!”. Ku rentangkan tanganku kedepan berusaha menggapai tangannya. Tapi…

“Nde? Ku bilang apa tadi? Yifan? Nugu?”.

Aku tersadar saat suara Gain memanggilku berbrengan dengan hilangnya sosok pria yg aku rindukan itu. Aish, lagi-lagi aku berhalusinasi.

“N..nde? Ada apa?”.

“Baru saja kau menyebut nama Yifan, siapa dia? Pacarmu?”.

“Ah, ani. Bukan… bukan siapa-siapa. Oh ya, apa kau ingin keluar malam ini? Mumpung jadwal kosong”. Aku sedikit salah tingkah saat Gain menyadari aku menyebut nama itu.

“Aku lelah, kau saja taka pa kan?”.

“Eum. Kalau begitu aku pergi dulu, nanti akan aku belikan makanan untukmu”.

“Arasseo”.

.

Sudah lama aku tidak berkunjung ke tempat ini. Untunglah belum terlalu malam jadi setidaknya aku masih bisa menikmati malam disini. Syukurlah aku mendapat bos yg begitu baik. Sebenarnya aku berharap bosku itu appa, tapi… ah sudahlah. Toh dengan bekerja sebagai sekretaris diperusahaan besar aku masih bisa hidup enak.

Mataku terus memandangi jalan kota Tainan yg terbilang cukup ramai ini hingga aku menghentikan langkahku di depan sebuah bangunan yg di dalamnya terdapat 3 buat mannequin yg mengenakan gaun pengantin. Aku ingat ini tempatku dan Yifan sempat memesan gaun pengantin untuk pernikahan kami. Dan gaun itu… masih tersimpan rapi di rumah orang tuaku.

Kakiku melangkah semakin dekat dengan dinding kaca butik itu, menempelkan kedua telapak tanganku pada kaca itu. Senyum miris terlihat jelas di pantulan bayangan kaca. Andai waktu bisa di putar dan Song Mira tidak hadir dalam keluarga kami, mungkin aku sudah hidup bahagia sekarang ini.

Sudah cukup bermelas diri, aku pun memutuskan untuk melanjutkan langkah kakiku menuju sebuah kedai makanan di pinggir jalan. Berkeliaran di China tidak membuatku sulit dan tersasar. Kemampuan berbahasa mandarinku cukup bagus jadi tidak sulit untuk berkomunikasi di sini. Setelah selelsai membeli makanan, kuputuskan untuk kembali ke hotel, untunglah aku berjalan belum jauh.

.

Hari kedua perjalanan bisnisku selesai setelah pemantauan terhadap cabang baru perusahaan tempatku bekerja dan artinya aku dan juga beberapa karyawan bisa mendapatkan liburan besok, gratis. Saat ini kami sedang makan siang bersama di sebuah restoran.

Ah aku lupa mengenalkan bosku, dia adalah pria muda dan tampan bernama Kim Joonmyun. Usanya 27 tahun dan dia masih single. Entahlah apa yg membuat bosku itu masih senang dengan kesendiriannya. Jujur aku mengagumi pria yg sedang duduk dihadapanku. Tapi tetap saja yg aku cintai adalah pria keturunan China-Kanada itu, dan itu tidak akan berubah walau ada ribuan pria yg melebihinya.

“Yifan oppa!”.

Makanan yg sempat aku kunyah langsung saja kutelan. Tubuhku terasa kaku dan mati rasa. Nama itu… dan suara itu aku kenal. Mungkinkah?

Dengan rasa penasaran yg cukup tinggi, aku membalikkan badanku dan mataku terbelalak ketika melihat gadis yg kukenal sebagai adik tiriku itu berjalan anggun mengahmpiri pria tinggi yg sedang duduk dengan angkuhnya. Benar, itu… Wu Yifan dan Song Mira.

Apa yg mereka lakukan di sini? Mira berhasil menipu Yifan? Aku semakin tercengang saat melihat Mira dengan santainya mencium pipi Yifan dan pria itu malah tersenyum padanya. Dadaku sesak seketika. Apa di pasokan oksigen di sini mulai menipis? Kenapa untuk bernafas rasanya sulit sekali? Sesak.

“Daeun ssi, ada apa?”.

Kurasakan hangat tangan seseorang di permukaan tanganku dan saat aku menyadarinya ternyata Joonmyun sajangnim berusaha menyadarkanku.

“Ah, nde? Ani, sajangnim. Bukan apa-apa”.

Joonmyun sajangnim mengangguk seolah mengerti. Kupaksakan senyum sebisa mungkin walau itu sulit. Mataku mulai mengabur. Oh tidak! Jangan di sini daeun~ah. Itu akan sangat memalukan dan jika aku menangis makan teman-temanku akan heboh lalu kemungkinan besar Yifan mengetahui aku ada di sini.

“Eh, sajangnim dan lainnya maaf kurasa aku kurang enak badan. Aku kembali ke hotel lebih dulu”.

“Eh? Kita bahkan baru setengah jam di sini dan kau sudah mau kembali ke hotel? Ayolah habiskan dulu makananmu”. Gain berusaha membujukku untuk kembali duduk, tapi aku tetap menahan tubuhku untuk berdiri.

“Maaf. Mungkin lain kali, aku pusing”.

“Ya sudah, biarkan nona Choi istirahat, mungkin dia kelelahan. Pergilah dan istirahat yg cukup”. Joonmyun sajangnim akhirnya mengizinkanku di tambah dengan senyumnya yg bisa membuatku meleleh jika saja suasana hatiku sedang baik.

“Ne. kalau begitu aku permisi”.

Aku berjalan terburu-buru berusaha menghindar dari Yifan dan mungkin setibanya di hotel aku akan menangis sekeras-kerasnya. Oh Tuhan, sebenarnya aku ingin terus melihat wajahnya, tapi ada yg membuatku megurungkan niatku untuk tetap bertahan di tempat itu. Keberadaan Song Mira dan ketakutanku jika Yifan sudah benar-benar tidak ingin melihatku lagi.

Bernar saja, setibanya di hotel tangisku pecah. Hatiku sakit, sesak.

“Wu Yifan! Kau membuatku gila! Kenapa kau pergi begitu saja dan membatalkan pernikahan kita tanpa mendengar penjelasan yg sebenarnya dariku? KENAPA? KENAPA??!!”.

Emosiku tidak terkontrol sampai-sampai tanpa sadar ranjang hotel yg awalnya terlihat rapi sekarang sudah bernatakan. Bantal, guling dan selimut berhamburan di lantai.

“Kau jahat! KAU JAHAT SONG MIRA! INI SEMUA GARA-GARA KAU! Aku bersumpah akan membalas semua yg telah kau lakuakan terhadap keluargaku dan juga aku! ARGH…!!”.

.

Hari ini aku benar-benar malas untuk keluar dari kamar hotel, tapi karena Gain memaksaku mengantarnya berkeliling terpaksa aku menurutinya. Kami menyusuri jalan kota dengan senang. Oke hanya Gain saja, tidak denganku. Jujur aku takut bertemu Yifan.

Oh ayolah Choi Daeun, bukankah dengan kedatanganku kesini kau berharap bisa bertemu dengan Yifan? Tapi kenapa jadi begini?

“Bodoh, bodoh, bodoh!”. Kupukul kepalaku merutuki kebodohanku itu. Masa bodo orang berpikir aku ini gila atau apa. Yang pasti aku benar-benar bingung.

“Ada apa?”.

Aku tersadar saat Gain menatapku bingung. “Ah, ani. Kajja, kita lenajutkan perjalanan”.

Gain mengangguk lalu kembali melanjutkan langkahnya. Aku hanya mengikutinya dari belakang tanpa minat sama sekali. Kulihat Gain memasuki sebuah toko yg menjual pernak-pernik lucu. Dasar anak ini, harusnya aku bisa liburan dengan tenang tapi malah aku yg jadi pemandu wisatanya. Menyebalkan.

Kuputuskan untuk menunggu Gain diluar toko dan duduk bersandar di kursi panjang yg tersedia di depan toko itu. Mataku terus menatap ke sekeliling jalan. Cukup ramai karena ini memang hari kerja. Sampai pada akhirnya pandanganku tertuju pada sebuah toko ice cream tempat biasa aku dan Yifan biasa istirahat jika sedang berkunjung ke tempat ini.

Tanpa di komando, kakiku melangkah menyebrangi jalan trotoar dan memasuki kedai ice cream itu. Sudah lama.

“Selamat datang. Mau pesan ice cream apa nona?”. Tanya salah seoang pelayan kedai itu ramah.

“Aku ingin satu ice cream coklat”.

“Baiklah tunggu sebentar nona akan saya buatkan”.

Aku mengangguk lalu duduk di kursi counter ice cream itu. Tidak ada yg berubah sama sekali. Masih seperti waktu itu.

“Selamat datang”.

“Satu ice cream coklat!”.

Sekujur tubuhku menegang tatkala mendengar suara yg begitu aku kenal, suara yg sangat aku rindukan. Aku menoleh kesampingku dan…

BINGO!

“Wu… Wu Yifan?”.

Laki-laki yg kusebut namanya itu mengalihkana padangannya yg awalnya melihat daftar menu yg terpajang di dinding, langsung menatapku dengan ekspresi…. Datar.

“Maaf, apa kau mengenalku?”. Jawabnya dingin dan itu langsung membuatku semakin membeku. Tidak mungkin. Tidak mungkin dia melupakanku. Tidak boleh.

“Kau… tidak mengenalku? Kau melupakanku?”.

“Nona ini pesanan anda, dan ini tuan pesanan and. Masing-masing harganya….”.

Belum sempat pelayan itu menyebutkan berapa harganya, aku langsung memberikan beberpa lembar uang seharga 2 ice cream yg memang aku masih ingat berapa harganya.

“Ini, ambil saja uangnya. Kami tidak jadi pesan”. Ujarku pada pelayan itu.

Saat aku akan memulai pembicaraanku lagi, sosok itu sudah pergi keluar kedai. Langsung saja aku mengejar ‘oksigenku’ yg sudah lama aku tidak kulihat. Beruntuk Yifan belum jauh pergi.

“Wu Yifan! Yak! WU YIFAN BERHENTI!”. Laki-laki itupun menghentikan langkah lebarnya tanpa membalikkan tubuhnya sama sekali. Segera kutarik sebelah tangannya agar aku dapat melihat wajahnya.

Ya Tuhan, dia tidak berubah. Tetap terlihat seperti Yifan ku yg dulu, hanya saja mungkin aku sudah tidak ada lagi di hatinya.

“Kau ingat aku? Kau tau namaku?”. Tanyaku pada Yifan dengan suara bergetar menahan rasa kecewaku.

“Memang apa yg perlu di ingat?”. Jawabnya ketus.

Sakit. Sakit sekali.

Air mataku meleleh seketika mendengar jawabannya yg terkesan bahwa aku adalah sampah yg tidak dibutuhkan lagi dan harus dibuang.

“Kau jahat sekali! Kau menyakitiku!”. Kupukul dada bidangnya sambil menangis sejadinya.

“Memangnya kau pikir siapa yg menyakitiku lebih dulu, huh?”. Mataku terbelalak tak menyangka Yifan akan berkata seperti itu. Tapi dia tidak tau yg sebenarnya terjadi. Dia telah di bohongi oleh Mira.

“Mwo? Dari mana kau bisa menyimpulkan kalau aku yg menyakitimu? Katakan!”.

“Cih! Jangan berpura-pura tidak tau. Selama ini kau berselingkuh dengan Jongin dan asal kau ingat, aku dan Mira melihat Jongin menggendongmu masuk ke apartemennya. Dan yg perlu kau tau, Kim Jongin mencintaimu! Dia memiliki perasaan khusus padamu!”.

Sempat shock ketika Yifan bilang kalau Jongin mencintaiku. Tidak mungkin. Dia itu temanku. Aku tau bukan hanya itu alasana Yifan membatalkan pernikahan. Masih banyak lagi dan tentunya itu hanya ulah Song Mira yg memfitnahku habis-habisan.

“Tidak mungkin. Dia hanya temanku”.

“Oh ya? Apakah pantas jika seorang teman berani mencium bibir gadis yg jelas-jelas sudah bertunangan dan akan menikah?”.

“Mwo?”.

Jongin menciumku? Kapan?

“Kaget? Takut rahasiamu terbongkar?”. Yifan memandangku sinis. Sungguh ini pertama kalinya aku melihat Yifan bersikap seperti ini. Sangat menyeramkan dan juga…. menyakitkan.

“Ani. Untuk apa aku merahasiakan sesuatu padamu?”.

“Masih menyangkal!”.

Untuk sesaat kami terdiam. Aku masih terus menatap Yifan yg membuang muka. Sebesar itukah pengaruh Song Mira sampai kau bisa seperti ini Wu Yifan?

“Kevin oppa!”.

Lagi-lagi suara itu. Song Mira. Entah datang dari mana tiba-tiba dia sudah ada di hadapan kami.

“Oppa, sedang apa kau disini?”. Mira bergelayut manjaa di lengan Yifan. Ini membuatku muak.

Menyadari keberadaanku, Mira langsung menghampiriku. Aku yakin dia akan memulai actingnya.

“Oh onnie, kau disini? Astaga aku tidak menyangka, aku sangat merindukanmu”. Mira langsung memelukku. Dan tentunya di tambah dengan bisikan jahatnya.

“Senang bertemu denganmu Choi Daeun! Bagaimana? Kau puasa dengan semua yg kulakukan? Dan sekarang tunanganmu, oh bukan. Mantan tunanganmu sudah bersatu denganku!”.

Kudorong tubuh Mira melepaskan pelukannya dan mentapnya sengit.

“Wanita ular! Pergi kau dari hadapanku!”. Ujarku. Mira hanya menanggapi dengan ekspresi sok memelas.

“Onnie, kenapa bicara seperti itu? Kau marah padaku karena Kevin oppa sudah bersamaku dan akan bertunangan denganku?”.

Author PoV

Daeun yg sejak tadi menatap sini Mira kini terlihat shock dengan ucapan Mira, begitu pula dengan Yifan yg sejak tadi memilih diam seketika ikut menatap Mira bingung.

“Bertunangan?”.

“Iya. Benar kan oppa?”. Mira kembali menggelayuti lengan Yifan. Yifan memang dekat dengan Mira setelah keberhasilan gadis itu menghasut laki-laki yg seharusnya jadi kakak iparnya itu, tapi diantara mereka sebenarnya tidak ada hubungan apapun selain teman.

“Sebenarnya….”.

Yifan belum sempat bicara namun Mira segera memotongnya. “Oh ya, aku lupa. Bukankah kita harus menemui ibumu hari ini? Kajja. Onnie, maaf kami harus pergi padahal aku masih merindukanmu, kalau begitu kami pergi dulu. Jaga dirimu kakaku tersayang”. Ujarnya penuh penekanan di kalimat terakhir.

Sepeninggal Mira dan Yifan, Daeun masih berdiri mematung. Dia tidak menyangka akan semakin parah keadaannya. Bahkan sampai Mira dan Yifan akan bertunangan.

“BERENGSEK KALIAN SEMUA!!”. Teriak Daeun pada kedua orang tadi. Semua orang yg berjalan menatap aneh Daeun namu tidak ia pedulikan. Bahkan ia lupa tujuan awal dia keluar kamar hotel untuk mengantar Gain jalan-jalan.

“Choi Daeun! Kemana saja kau? Aku mencari….! Yak! Waegeurae?”.

Gain mengguncang kedua bahu Daeun namun ditepisnya. “Aku mau pulang!”. Daeun menyeka air matanya dengan punggung tangannya seperti anak kecil.

“Yak! Sebenarnya ada apa?”.

“Aku ingin pulang ke Korea sekarang juga Park Gain!”. Bentak Daeun.

“Ne. Kajja, kita ke hotel untuk merapihkan baju-bajumu”.

.

Sudah seminggu sejak kepulanganku dari China dan juga pertemuanku dengan Yifan yg berbuntut pertengkaran. Seperti tidak ada semangat hidup. Seperti hari ini, sajangnim sudah3 kali memergokiku menatap kosong pada layar monitor di depanku. Pikiranku melayang jauh. Masa-masa bahagia bersama orang itu masih saja terus terlintas di otakku walau bagaimanapun caranya aku melupakannya.

Bagus! Wu Yifan sudah meracuni otakku. Oh tapi aku tidak boleh seperti ini terus. Aku harus berhenti mengingatnya dan bahkan mengaharapkannya kembali seperti dulu. Itu mustahil. Yg harus aku lakukan sekarang adalah melupakannya dan membuktikan kebusukan Song Mira.

“Nona Choi”.

Author Pov

“Nona Choi”.

Daeun tersadar dari lamunannya dan mendapati bosny kini berdiri di hadapannya. Astaga, aku akan mati kali ini. Batin Daeun.

“Nde? Maaf sajangnim aku tidak bermaksud mengabaikan pekerjaan, hanya saja….”.

“Hahaha… kau mengira aku akan menegurmu untuk yg ke empat kalinya?”.

Mulut Daeun sukses menganga lebar mendapati tanggapan bosnya itu berbeda dengan yg tadi.

“Ma…maksdu anda?”.

“Coba lihat jam berapa sekarang”.

Buru-buru Daeun melihat jam digital yg terpajang rapih di meja kerjanya. Pukul 6 sore dan sudah waktunya pulang kerja kan. Daeun menepuk dahinya menyadari kalau ia sudah membuang-buang waktu dengan hanya memikirkan laki-laki yg bahkan belum tentu memikirkannya.

“Bodoh kau Choi Daeun! Maafkan aku sajangnim, aku tidak tau”.

“Gwencahan. Bereskan barang-barangmu lalu pulang. Oh ya, apa kau membawa mobil hari ini?”.

“Ah, tidak. Aku sedang malas menyetir jadi hari ini naik bus”.

“Oh. Ya sudah, aku tunggu. Kita pulang bersama”.

“Nde? Anio, aku bisa naik bus. Aku takut merepotkan anda”.

“Sama sekali tidak. Atau jangan-jangan takut kekasihmu cemburu?”.

Daeun diam. Kekasih? Dia sama sekali tidak punya kekasih saat ini. Dan mengenai tawaran bosnya itu, bukannya tidak mau, hanya saja takut ada gossip tidak enak kalau para karyawan tau dia pulang bersama bosnya sendiri.

“Mwo? Em… maksudku, aku tidak punya kekasih. Tapi…”.

“Sudahlah, kajja”.

Tanpa disangka-sangka Bosnya itu sudah lebih dulu mengambil tasnya yg tergeletak di atas meja. Mau tak mau Daeun mengikuti langkah kaki pria yg sudah lama menjadi atasannya itu.

Benar saja dugaannya, banyak mata para karyawan yg kebanyakan hendak keluar dari gedung perkantoran itu memandang aneh mereka berdua. Daeun hanya bisa menunduk diam. Mungkin hal yg biasa jika setiap harinya Daeun selalu mengekor bosnya setiap ada tugas atau pekerjaan lainnya. Tapi kali ini berbeda. Dengan santai laki-laki di depannya ini berjalan sambil menenteng tas tangan Daeun, dan berikutnya mereka memasuki mabil yg sama tanpa ada supir yg mengantar.

Tidak ada pembicaraan sama sekali selama perjalanan. Keduanya hanya diam. Daeun lebih memilih sibuk menatap jalan kota yg mulai terlihat gelap. Sedangkan laki-laki di sampingnya tentu saja focus menyetir.

Drrt….

Ponsel di tasnya bergetar, segera ia mengecek siapa yg menghubunginya. Raut wajahnya tiba-tiba saja menegang kesa ketika tau siapa yg mengubunginya. Daeun menimbang-nimbang apa harus menjawabnya atau tidak. Kalau ia tidak menjawabnya maka ia akan di anggap pengecut.

“Kenapa tidak dijawab?”.

“nde?”. Daeun menoleh ke sebelah kirinya dan langsung mendapat serangan senyum manis dari bosnya itu. “ne. Yeoboseo?”.

“Oh halo kakaku. Bagaimana kabarmu?”.

Sebisa mungkin Daeun menahan emosinya agar tidak berteriak pada gadis yg sedang berbicara dengannya itu.

“Jangan basa-basi, ada apa?”. Jawab Daeun ketus.

“Woo… sabar Choi Daeun onnie. Aku hanya ingin bertemu denganmu sekarang juga di Blossom café, kau bisa?”.

“Aku sibuk!”.

“Jadi kau takut? Atau,,, oh aku tau. Kau mau eomma dan appa semakin menderita kan? Baiklah, bersenang-senanglah dan tak lama lagi kau akan mendengar kabar kalau semua aset kekayaan keluarga Choi akan jatuh ke tanganku dan kalian jatuh miskin. Ah, ada lagi yg harus kau tau. Appa sakit, sekarang dia tidak sadarkan diri di rumah sakit”.

“Mwo?”.

                                               

                                                                                To be continued

Iklan

2 pemikiran pada “Sunrise Never Rise (Chapter 1)

  1. kyyaa, benerean deh song mira itu bener-bener rubah huft..
    kesel abis sama song mira si rubah itu, next thor buat song mira nya menderita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s